5 Feb 2016

Insiyah (Sebuah Kisah Sejati)

Ia selalu menjadi jamaah terakhir yang meninggalkan masjid samping rumahku. Tunduk, dalam, kadang terisak. Entah apa yang terbisikkan dari bibir yang keriput itu. Yang jelas, tentulah sebuah kalimat-kalimat mesra, yang ia senandungkan kepada Dzat yang menyelusupkan napas kehidupan dengan begitu lembut ke dalam tubuh ringkihnya.
Insiyah, nama perempuan itu. Orang-orang di kampungku memanggilnya ‘Mbah Insiyah’. Terus terang, karena aku dan keluarga termasuk orang baru di kampung ini, aku tak cukup dekat mengenalnya. Aku bahkan tak tahu di mana rumahnya. Yang kutahu, di saat-saat jam shalat, ia selalu datang ke masjid paling awal, dan pulang paling akhir.
Kulitnya yang berkeriut, anak-anak rambutnya yang memutih—yang terlihat di sela-sela kerudungnya, sepasang matanya yang cekung, telah memperlihatkan ketuaan. Sedangkan pakaiannya yang sangat sederhana, mukenanya yang lusuh, serta sajadahnya yang robek di sana-sini, memperlihatkan sebuah kemiskinan—yang tampaknya tak terlalu ia rasakan. Yah, mungkin karena mereguk madu kenikmatan saat berkhalwat dengan Rabb-nya, sesuatu yang menjadi kebiasaan di jam-jam shalat, telah membuat ia lupa pada kenikmatan duniawi.
Rasa cemburu sering terbersit, dan menjadikan sebuah niat buruk berkelintar di hatiku. Ayo, saingi Mbah Insiyah! Masak aktivis seperti aku, kalah lama berdzikir pasca shalat.
Pernah kelintar tak elok itu terejawantah dalam aksi nyata. Aku benar-benar terbakar iri, dan lantas mencoba menyainginya. Usai salam, aku baca semua wirid yang kuhapal, berdoa begitu lama, sampai  aku merasa tak ada lagi yang bisa kubaca. Suasana masjid sepi, dan aku rasa, persaingan itu telah kumenangkan. Aku pun menoleh ke sudut masjid, tempat Mbah Insiyah biasanya duduk berzikir. Kupikir dia telah pulang. Akan tetapi, sebuah tamparan keras di petala imajiku terasa menghantam pipiku. Telak.
Mbah Insiyah masih tenggelam dalam wirid. Berenang dalam lautan kenikmatan bermunajat di hadapan-Nya.
Aku takluk. Dan tak akan lagi mencoba bersaing dengannya.
Tak akan bisa. Kecuali jika aku berhasil meluruskan kembali niat yang bengkok itu.
* * *
Ramadhan tahun lalu, Mbah Insiyah tetap rajin—dan bahkan semakin rajin datang ke masjid. Usai tarawih, ia tak pulang, namun duduk di sudut masjid. Ia menatapku dan para ibu lainnya yang melingkari beberapa buah meja TPA yang ditata sedemikian rupa. Kami sedang melakukan acara tadarus, yang secara rutin tergelar di setiap malam ramadhan. Tatapan perempuan tua itu terlihat memancarkan sebuah penyesalan. Pandangan yang berkabut.
“Tidak ikut tadarus, Mbah?” tanyaku, dalam bahasa Jawa halus.
Mbah Insiyah menggeleng. “Saya tidak bisa membaca Al-Qur’an, Bu …” ujarnya, dengan sesal yang seakan bertalu-talu memukuli jiwanya.
Sebuah desiran halus segera kuusir cepat-cepat dari benakku. Jangan merasa menang dari Mbah Insiyah hanya karena beliau tak bisa membaca Al-Qur’an! Justru semestinya rasa malu semakin kuat merajam hatiku. Aku yang konon seorang da’iyah, masih kalah khusyuk dibandingkan seorang perempuan ringkih yang bahkan tak bisa membaca Al-Qur’an.
Tak mampu mengeja huruf-huruf Arab, tak lantas membuat Mbah Insiyah lekang dari area penuh lantunan firman Allah itu. Ia terlihat sangat berbahagia di dalam majelis tadarus Al-Qur’an, meskipun hanya dengan menyimak bacaan-bacaan kami. Sesekali, ia menyungging senyum. Sesekali merenung, dan menghela napas panjang.
Demikianlah, langit malam ramadhan menjadi saksi kehadiran perempuan tua, yang selalu datang paling awal, shalat dengan sangat khusyuk, berwirid, dan pulang di saat masjid sudah lengang, tanpa sesosok insan pun tertinggal.
Namun, di malam-malam pertengah Ramadhan, sosok Mbah Insiyah mendadak gaib dari masjid. Kucoba telusuri sosok-sosok putih berbalut mukena, mencoba menemukan wajah keriput yang selalu bersih dan bersinar lembut itu.
Tak ada.
Usai shalat, begitu salam, aku kembali mencarinya di antara barisan jamaah, mungkin beliau terlambat, dan ternyata sosoknya benar-benar tak kutemui.
Ada rasa kehilangan, yang semakin dalam, begitu di malam-malam selanjutnya pun, sosok itu kembali tak kutemui di masjid. Ada apa dengan Mbah Insiyah? Tak mungkin dengan sedemikian mudah ia meninggalkan sebuah kenikmatan ukhrawi yang sekian tahun ia reguk. Seorang abidah sejati, tak mungkin akan mampu meninggalkan mihrab yang telah begitu lekat dengan sanubarinya.
Mengapa, mengapa, mengapa? Pertanyaan itu terjawab ketika di suatu hari, terdengar ketukan di pintu rumahku. Seorang perempuan muda, berjilbab lusuh berdiri di depan pintu dengan wajah panik.
“Pak dokter ada?” tanyanya.
“Ya, ada, Mbak. Ada yang bisa dibantu?”
“Ibu saya sakit. Tubuhnya lemas sekali. Pak dokter bisa memeriksa Ibu di rumah saya?”
“Sebentar ya, Mbak!” aku masuk ke dalam, menggamit lengan suamiku. “Mas, ada pasien. Tetapi kondisi pasien lemah, jadi tidak bisa datang kesini. Mas bisa kan, datang ke rumah beliau?”
“Ya, Mi!” Jawab suamiku, yang memang lebih terbiasa memanggilku dengan sebutan Ummi. Maksudnya, Umminya anak-anak.
Suamiku beranjak keluar. Sejenak kudengar ia bercakap-cakap sejenak dengan perempuan itu. Suara itu semakin lama semakin menghilang, yang berarti beliau sudah semakin jauh meninggalkan rumah, menuju ke rumah pasien.
Beberapa saat kemudian, suami telah kembali. Ia memanggilku. “Dik, mau menjenguk Mbah Insiyah, tidak?”
Ada yang berdesir di dadaku mendengar nama itu disebut.
“Beliau sakit?” tanyaku.
“Iya, betul. Yang sakit itu tadi Mbah Insiyah. Dan yang datang kemari itu anak beliau.”
Mbah Insiyah sakit? Pantas, aku tak melihat sosoknya hadir di masjid.
“Sakit apa?”
“Gula. Dan ia juga punya luka. Penderita sakit gula, jika terkena luka, biasanya sulit sembuhnya.”
Ada sesuatu yang terasa dengan cepat menjalar di pembuluh darahku, dan naik hingga ubun-ubun. “Ayo, kita jenguk, Mas!” ajakku, semangat.
* * *
Seperti tak percaya ketika sepasang mataku berbenturan pada rumah tempat Mbah Insiyah bernaung. Sebuah gubuk dengan ukuran sekitar tiga kali lima meter. Berdinding anyaman bambu yang jarang-jarang, sehingga menyisakan sekian banyak rongga. Lantai hanya tanah yang dikeraskan. Sementara, dinding dan atap tak menyatu, sehingga jika hujan lebat bercampur angin mengguyur bumi—yang saat itu sangat sering terjadi—bisa dipastikan tempias deras memasuki ruangan. Belum udara malam nan menggigilkan sekujur tubuh. Ya, Allah … dalam kondisi rumah seperti itu, Mbah Insiyah yang renta terbaring sakit?
Ruangan terbagi menjadi tiga. Di ruang paling depan, berukuran sekitar satu kali dua meter, Mbah Insiyah tergeletak di atas dipan reot yang hanya dilapisi tikar rombeng. Tak ada selimut, kecuali selembar kain tipis nan kumal. Bau pesing khas ompol balita terasa begitu kuat. Mungkin anak perempuan Mbah Insiyah belum sempat mencuci kain itu, atau mungkin hanya itu satu-satunya kain yang mereka miliki, yang bisa mengirimkan sedikit kehangatan di tubuh renta itu.
Mataku berkaca-kaca. Terlebih, Mbah Insiyah tak sendiri tinggal disana. Ia numpang di rumah anak perempuannya, yang hidup dengan suami serta empat orang anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
Rumah sesempit itu, ditempati oleh tujuh orang! Betapa sumpeknya. Terbayang rumahku, yang meskipun tidak mewah, cukup lapang dan melegakan. Bukankah salah satu kenikmatan seorang hamba Allah adalah, ketika ia dianugerahi sebuah tempat tinggal nan lapang?
Aku begitu terbata-bata, memaki diri sendiri yang selama ini seperti acuh dengan keadaan itu. Bagaimana mungkin selama ini aku bisa tidur enak, makan berkecukupan—meski tentu tak bermewah-mewahan, sementara tak sampai berjarak limaratus meter dari rumahku, Mbah Insiyah dan keluarganya hidup jauh di bawah garis kemiskinan?
Tergesa aku pulang, mencari beberapa lembar selimut tebal, bantal, serta sembako. Aku antar barang-barang sekedarnya itu dengan rasa bersalah yang tak juga mampu pupus. Apalah arti sedikit bantuan ini untuk penderitaan keluarga beliau yang begitu akut?
Karena sakitnya sudah terlalu parah, akhirnya, Mbah Insiyah dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah, tetangga di sekitar kami memiliki perhatian yang cukup bagus. Ramai-ramai mereka menguruskan jamkesmas, sehingga biaya perawatan Mbah Insiyah bisa seratus persen digratiskan. Walhasil, nyaris sepanjang Ramadhan tahun itu, aku kehilangan sosok beliau, yang selalu menyejukkan masjid dengan wirid-wirid panjangnya. Dengan tatapan sejuknya saat ia mencoba menyimak bacaan tadarus kami.
* * *
Menjelang lebaran, Mbah Insiyah keluar dari rumah sakit. Aku mengucapkan puji syukur. Semoga beliau benar-benar sembuh—meski ini agak sulit, mengingat penyakit beliau ada gula—kembali sehat dan shalat di masjid. Aku sungguh merindukkan sosoknya saat khusyuk bertaqarub ilallah. Beliau menginspirasikan sebuah ketaatan seorang abidah yang mulia. Memotivasiku untuk segera menanggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawi, dan fokus bergelut pada nilai-nilai transedental. Yakinlah, untuk perempuan semuda aku, ini sesuatu yang sulit.
Ia memang hanya seorang perempuan tua miskin, yang bahkan tak bisa membaca Al-Qur’an. Tetapi bukankah keikhlasan itu bak minyak wangi? Meskipun ditutup-tutupi, ia akan menguar, melewati segala celah sempit, dan menjadikan sekitarnya dipenuhi keharuman sejati.
Sayang, harapan kami ternyata tinggal harapan. Kami semua mencoba menyayangi Mbah Insiyah, namun Allah yang memiliki segala bentuk kasih sayang, lebih menyayangi beliau.
Sore itu, anak perempuan Mbah Insiyah kembali datang ke rumah. Terbata-bata, ia melaporkan kepada suami saya, bahwa ibunya sudah dua hari ini tak mau menyantap makanan apapun. Sang ibu terbaring dengan tubuh lemas, mata terpejam, dan bahkan tak mampu mengangkat sepasang tangannya.
Aku dan suami mengikuti langkah tergesa-gesa anak perempuan Mbah Insiyah. Ya, di atas dipan reot itu, kulihat sosok itu tergeletak dengan wajah pucat lesi. Tubuhnya terasa dingin. Namun, paras itu, Ya Allah… begitu bersih.
“Kadar gulanya sangat tinggi,” ujar suamiku. “Beliau harus dirawat di rumah sakit!”
Mendengar ucapan suamiku, mendadak Mbah Insiyah membuka mata, lalu menggeleng pelan. Ia tak mau dibawa ke rumah sakit.
“Kalau begitu, saya beri obat saja, ya? Tapi obatnya diminum, ya Mbah?” ujar suami.
Mbah Insiyah tidak menjawab. Hanya saja, sebuah senyum indah tersungging di bibirnya yang keriput dan lesi.
Aku tak menyangka, itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya. Paginya, sebuah kabar duka kuterima. Mbah Insiyah, telah meninggal dunia.
Ada yang terasa dingin di dadaku. Sangat dingin …

* * *
Cerita tentang tentang Mbah Insiyah ternyata belum khatam. Terus berlanjut, sampai beberapa bulan sesudah kematiannya yang hanya beberapa hari usai lebaran. Saat suara embikan kambing dan lenguhan sapi yang hendak dijadikan hewan kurban memenuhi halaman masjid, kembali sebuah kisah unik berkelintar di memoriku.
“Pak Ahmad, ini ada dana yang dititipkan oleh almarhum Mbah Insiyah, senilai satu ekor kambing,” ujar Pak Jamin, pengurus takmir masjid. Ahmad adalah nama suamiku, yang juga pengurus takmir masjid.
“Maksud Pak Jamin?”
“Sebelum meninggal, Mbah Insiyah menitipkan uang ini kepada saya. Katanya, beliau ingin ikut qurban satu ekor kambing. Beliau menitipkan uang ini kepada saya, karena takut beliau keburu dipanggil Allah ….”
Sepasang mataku sungguh terasa panas. Ada cairan merembes, ingin menjebol bendungan air mata. Inikah tanda-tanda khusnul khatimah? Dipermudah untuk beramal shalih, meskipun dalam balutan kemiskinan yang begitu parah …
Semoga Allah merahmatimu, Mbah Insiyah …. Dan semoga aku bisa mengikuti jejak langkahmu yang begitu fasih menebar kebaikan di dunia ini.


_________________________________________________________
Paket Hemat
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.

Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493


Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.
Read more ...

24 Jan 2016

Lezatnya Wisata Bahari di Situs Geopark Internasional Pantai Siung-Wediombo

Tiba-tiba, saya merasakan atmosfer yang indah menyelimuti kami malam itu. Yakni saat Mobil MPV silver yang saya naiki bersama suami dan ketiga anak kami membelah jalanan yang naik turun di sepanjang bukit-bukit beraroma kapur dan pohon jati Pegunungan Sewu.

Dari Solo menuju Wonogiri dan kemudian memasuki daerah Tepus, Gunung Kidul, perjalanan begitu lancar, tanpa sedetik pun macet. Jalan teraspal mulus, sehingga kami bisa menikmati perjalanan nyaris tanpa gangguan akibat goncangan mobil. 

Sampai di pesisir, suara debur ombak yang lamat-lamat terdengar begitu magis, terlebih ketika dipadu dengan langit bertabur bintang dan bukit-bukit gamping yang membentuk bentang alam karst yang khas. Saat memasuki pos penjagaan di area Pantai Siung, saya menduga pos itu kosong, maklum sudah jam sebelas malam. Apalagi, saat itu juga bukan malam minggu. Malam sabtu tepatnya, dan esok pun bukan hari libur. Ternyata dugaan saya salah. Melihat kedatangan kami, dari arah pos yang masih benderang oleh lampu listrik tenaga surya itu, seorang lelaki muda keluar dan menyapa kami dengan hangat. “Selamat malam, Pak! Berapa orang?”

“Malam,” jawab suami saya. “Dua dewasa tiga anak, Mas.”

Lelaki muda itu menyebut sejumlah angka, dan suami saya dengan cepat membayar retribusi memasuki objek wisata. “Pantai ramai, nggak Mas?” Tanya suami saya, sambil mengecek tiket retribusi. Membandingkan nilai yang tercantum di tiket dengan sejumlah uang yang kami bayarkan. Kami memang memiliki kebiasaan semacam itu saat memasuki tempat-tempat pariwisata. Seringkali, kami harus membayar lebih mahal dari yang tercantum di tiket. Tetapi, saat itu, si petugas ternyata bersikap jujur, membuat kami menaruh respek seketika.

“Ramai, Pak. Ada beberapa kelompok mahasiswa yang camping di pantai.”

Saya tersenyum lega. Tadinya, saya khawatir jika tenda kami nantinya akan jadi satu-satunya onggokan tempat bernaung di hamparan pasir putih yang gelap. Meski suami mencoba meyakinkan saya bahwa Pantai Siung merupakan salah satu primadona para campers, saya tetap was-was. Kami memiliki kebiasaan yang tak lazim, yakni menyukai liburan di luar hari libur resmi. Biasanya kami memilih mengambil cuti, dan meluncur ke lokasi-lokasi wisata yang tengah sepi. Kesepian justru membuat kami menyatu dengan alam. Jumat-Sabtu adalah favorit kami, karena anak-anak kami bersekolah hanya hari senin hingga Jumat. Sabtu kadang masuk untuk kegiatan ekstra kurikuler, tetapi sering libur juga.

Tanpa kami minta, dengan manis dan meyakinkan, penjaga pos itu malah membuncahkan angan-angan kami dengan penjelasan tentang seluk-beluk Pantai Siung dan sekitarnya. Respek kami bertambah padanya. Beginilah semestinya seorang petugas, tak sekadar menjalankan apa yang menjadi kewajiban rutinnya, tetapi juga memiliki wawasan luas dan bisa berfungsi sebagai public relation yang andal. 

“Jika bapak berminat melakukan snorkeling, besok pagi coba ke Pantai Nglambor, Pak. Pantainya sangat bersih, alami, airnya tenang  dan dangkal. Selain snorkeling, bisa juga buat berenang. Lokasinya dekat dari sini, Pak. Nanti bapak lurus saja, sebelum masuk Pantai Siung ada pertigaan, Bapak belok kanan saja. Tapi, mobil nggak bisa sampai sana. Harus jalan kaki atau naik ojek.”

Mendengar kata snorkeling, saya langsung tertarik. Saya masih teringat dengan kemewahan menikmati alam bawah laut dengan terumbu karang dan ikan-ikan kecil hingga sedang aneka warna yang berenang-renang sehingga seolah-olah berada di akuarium raksasa saat snorkeling di Pantai Sadranan, sekitar 20 KM dari Pantai Siung ke arah barat. Namun, kegiatan seru itu tidak menjadi agenda kami. Maklum, kami membawa anak-anak. Jadi, kami pun terus melaju, menuruni jalan yang curam, menuju Pantai Siung.

Maka, sampailah kami di sebuah pantai yang… gelap. Gulungan ombak terlihat samar-samar, sedangkan titik lampu mercusuar terlihat di lepas pantai. Warung-warung kebanyakan tutup, hanya menyisakan satu dua yang menghadirkan cahaya dari lampu tenaga surya. Sementara, di hamparan pantai, beberapa tenda berdiri. Puluhan anak muda melingkari api unggun, menggenjreng gitar, bernyanyi riang.

Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu… hatiku damai, jiwaku tenang di sampingmu…

“Kok gelap sekali?” Tanya saya, agak merinding.
“Memang di sini gelap, Mi,” jawab anak sulung kami, Anis. Dia dan adiknya, Rama, memang pernah diajak camping di Pantai Siung beberapa waktu yang lalu. Rupanya dia begitu ketagihan dan terus menerus mendesak orang tuanya agar mengulang keseruan camping waktu itu. 
Satu kelebihan Pantai Siung adalah tempat parkir yang berdekatan dengan pantai. Jarak mobil dengan lokasi kami mendirikan tenda hanya sekitar lima meter. Ini sangat memudahkan saat kami harus bolak-balik mengambil peralatan.

Dibantu Anis dan Rama, suami saya mendirikan tenda. Angin berhembus sangat kencang, membuat tubuh Ifan, anak ketiga saya kedinginan. “Mi… dingiiiin!” katanya sambil memeluk saya. Tak tega, saya pun membuka jaket yang saya kenakan, dan melapiskan ke tubuh Ifan yang sudah memakai jaket lain.

Dengan pencahayaan dari lampu emergency, suasana menjadi cukup terang. Kami menolak dengan halus tawaran beberapa pedagang kayu bakar. Berapi unggun di malam pekat memang asyik, tapi kami sedang tidak berminat menjadi sangit. Untungnya, kayu bakar itu kemudian diborong anak-anak muda yang camping di sebelah tenda kami.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Bukannya tidur, kami malah asyik membikin mie rebus dengan kompor spiritus buatan suami saya. Anak-anak tampak menikmati kegiatan itu dengan gembira. Lima buah mie rebus, lima telur dan seikat sawi pun ludes kami santap. Suami saya menggelar tikar di atas pasir putih, lalu berbaring di atasnya. Saya dan Ifan memilih masuk tenda, namun dari pintu yang sengaja dibiarkan terbuka, kami menikmati debur suara dan gulungan ombak yang kali ini berwarna abu-abu pekat.

Saat terbaring di atas tikar yang melapisi pasir, rasa damai dan bahagia menguar dari setiap sel tubuh saya. Ah, betapa untuk menikmati indahnya hidup, seringkali kita tidak perlu harus bermewah-mewah di tempat megah. Cukup mencoba menyatu dengan semesta.

“Nak, sekarang kita sedang bermalam di hotel berbintang, lho…,” kata suamiku. “Bukan bintang tiga, empat atau lima. Lebih dari itu. Kita tidur di hotel bertrilyun bintang. Tuh, di langit!”
Anak-anak terbahak, dan saya tersenyum. Maka, saya pun mencoba menikmati suasana nyaman hotel bertrilyun bintang dengan memejamkan mata. Sejenak kemudian, saya terlelap.

Fajar yang Hilang dan Merpati yang Menagih Janji
Kemeriahan suasana pagi...
Sayangnya, kami gagal menangkap sunrise. Bukan karena molor, karena jam tiga pagi, kami bahkan telah terbangun. Pagi itu, fajar seakan tak melewati Pantai Siung, karena dari subuh menuju dhuha, kami tidak merasakan gradasi gelap menuju terang. Mungkin karena Pantai Siung ini dipagari bukit-bukit karang. 

Meski sedikit kecewa, kami tetap terhibur dengan suasana pagi yang cerah. Laut terlihat begitu biru, seperti halnya langit yang memayungi. Buih ombak mencium lembut pasir putih yang terhampar begitu bersih. Anis, Rama dan Ifan berkecimpung di pantai, memotret berbagai flora maupun fauna pantai yang khas. Sementara, saya memilih duduk di atas pasir, berselonjor, sambil menatap karang-karang yang terpajang begitu mempesona. Sebuah karang besar yang membentuk siung raksasa, lebih terlihat menonjol keindahannya dibanding karang-karang lain yang sebenarnya juga telah indah. Karang inilah yang menjadi asal muasal dinamainya pantai ini.

Pantai Siung adalah satu dari jajaran pantai berpasir putih di lingkungan karst Gunung Sewu yang terbentang dari Gunung Kidul, Wonogiri, hingga Pacitan.  Ada 33 situs yang terbentang di area yang meliputi tiga kabupaten dan 2 provinsi itu. Semuanya menjanjikan sebuah keindahan yang luar biasa.

33 situs di Gunung Sewu Global Geopark Indonesia... 
Situs-situs di Gunung Sewu ini ini membentuk bentang alam karst, yaitu ekosistem alam yang memiliki karakter yang spesifik  secara morfologi, geologi, maupun hidrogeologi. Bentang alam ini tersusun dari batuan karbonat dan memiliki sistem hidrologi dengan dominasi sungai-sungai bawah tanah yang merupakan hasil pelarutan batuan. Inilah yang membuat pada bentang alam karst terdapat gua-gua yang menawan, serta pantai-pantai dengan pasir putih, air jernih dan bukit-bukit karang yang gagah. Situs-situs tersebut juga merupakan objek riset yang sangat kaya untuk berbagai bidang ilmu, utamanya tentu geologi, ekologi, biologi laut, speleologi, termasuk arkheologi, budaya dan bahkan juga ekonomi. Dari 33 situs itu, hampir separuhnya telah saya kunjungi. Antara lain Pantai Baron, Sepanjang, Drini, Krakal-Slili-Sadranan, Siung, Wedhi Ombo dan Indrayanti di Gunung Kidul, serta Klayar, Teleng, dan Srau di Pacitan.

Baru-baru ini, tepatnya pada Sidang Biro Global Geopark Network (GGN), sebuah organisasi di bawah UNESCO, yang berlangsung pada 15-20 September 2015 di di Sanin, Kaigan, Jepang, Bentang Alam Karst Gunung Sewu dinobatkan sebagai geopark kelas dunia dengan nama Gunung Sewu Global Geopark Indonesia. Gunung Sewu adalah geopark kelas dunia kedua yang dimiliki Indonesia setelah Batur Global Geopark di Bali. Tentu kita perlu berbangga, karena di Indonesia, kita ternyata memiliki  geopark yang berstandard global.

Saya sendiri adalah seorang pecinta pantai. Wisata bahari adalah hobi saya, namun berwisata di situs-situs Gunung Sewu selalu menghadirkan pesona tersendiri. Beberapa situs bahkan terekam sebagai setting dalam sebuah novel saya, “Akik dan Penghimpun Senja.”

Suasana pagi kian ketika puluhan burung merpati terbang dan mendarat mulus di hamparan pasir depan tenda kami. Semula saya hanya iseng melemparkan secuil roti tawar ke beberapa burung merpati. Melihat antusiasme mereka saat berebut roti, akhirnya saya tergoda untuk melemparkan lebih banyak potongan roti tawar yang lain. Merpati-merpati itu kian mendekat, mata bulatnya terlihat sumringah, bak konstituen yang tengah diberi janji-janji calon politisi.

Puluhan burung merpati itu berhasil menghabiskan stok roti yang kami miliki. Saya tersenyum kecut kepada puluhan merpati itu, yang meloncat-loncat menunggu lemparan roti kembali. Mereka seakan tengah menagih janji. Janji yang tak bisa saya penuhi.

Abnormalitas WediOmbo yang Memikat
Sekitar jam sepuluh, setelah mandi dan berganti pakaian, kami memutuskan untuk membongkar tenda dan melanjutkan eksplorasi bahari kami ke Pantai Wediombo, yang bertetangga dengan Pantai Siung. Setelah memarkir mobil, kami menuruni tangga yang curam dan berjalan kaki sekitar dua ratus meter menuju pantai.

Saya sempat terheran-heran saat melihat dekorasi alam pantai ini. Aneh. Ya, aneh! Meski berada di bentang alam karst yang  ornamennya mestinya terdiri dari bebatuan gamping, ternyata saya mendapati bebatuan vulkanis. Bahkan di antara pasir-pasir putih, terhampar butiran-butiran batu kecil mirip dengan batu kali di lereng gunung berapi. Dalam bahasa Jawa, batu kecil disebut wedi, pantas pantai ini disebut sebagai Wediombo. Ombo sendiri artinya luas. Pantai ini memang luas sekali, dengan air jernih. Lumut-lumut menyelimuti bebatuan vulkanis yang berselang-seling dengan bebatuan karang berbaham batu gamping. 

Setelah membuka-buka referensi beberapa hari kemudian, keanehan saya terjawab. Memang terdapat fenomena yang sangat menarik di karena memiliki batu-batu karang yang merupakan batu vulkanis dari jenis riolit dan andesit. Menurut perkiraan, Teluk Wediombo ini dahulu merupakan bekas kawah gunung berapi yang tenggelam di bawah permukaan air laut . Jadi, bebatuan termasuk pasir yang berada di pantai ini adalah campuran antara gamping (khas bentang alam karst), organik (sisa-sisa organisme laut) dan juga pasir vulkanis. Ini tentu fenomena yang sangat menarik untuk para peneliti.
Melihat air laut yang jernih, meski sudah mandi dan rapi, kami tergoda untuk mencebur lagi ke laut. Dan … brrr, airnya dingiiin. Padahal saat itu sudah jam sepuluh pagi. Nyaman sekali ternyata, menikmati fasilitas yang disediakan alam.

Waktu beranjak begitu cepat. Meski masih ingin menghabiskan sekali lagi nge-camp di Wediombo, kami harus berdamai dengan seabrek kegiatan yang menunggu kami di kota Solo. Kami pun berkemas, mandi, makan siang dan pulang.

Namun kami tahu, separuh hati kami masih tertinggal di sana.

Read more ...

19 Jan 2016

Pesan Indah Mas Gagah: Islam Itu Cinta

Mas Gagah, diperankan oleh Hamas Syahid Izzudin, seorang penghafal Al-Quran dari Surabaya

"Penayangan KMGP di awal 2016 ini tepat waktu, mengingat anomali pemberitaan tentang Islam yang menyesatkan publik di tanah air maupun LN (luar negeri--ed.). Film ini memberi testimoni bahwa ISLAM ITU CINTA DAMAI, ISLAM ITU SEJUK DAN ISLAM ITU MEMBAWA RAHMAT BAGI SEKALIAN ALAM" 
(Sugiharto, Mantan Menteri Negara BUMN).
______________

Sebuah pesan masuk ke ponsel saya, beberapa hari sebelum penayangan gala premiere film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP The Movie). "FLP diundang ke gala premiere KMGP, siapa bisa hadir?" Hampir saja saya menjawab, "Saya!" jika tak segera sadar diri. Saya masih punya baby-boy usia sebulan, dan pelaksanaan gala premiere di Jakarta. Wuh, seandainya saya bisa melipat jarak Solo-Jakarta menjadi hanya beberapa kilometer... Ops, tak baik ya, berandai-andai.

Singkat kata, gala premiere berlangsung tanpa saya bisa hadir (ah, apalah artinya saya hehe). Tak menunggu pagi, beberapa sahabat yang hadir di acara tersebut, malam itu juga, 13 Januari 2015, langsung bertestimoni, baik lewat grup khusus WA, atau di media sosial. Mayoritas... eh, bukan mayoritas, malah semua, bertestimoni positif.

Ini testimoni Wiwiek Sulistyowati, penulis buku "Fun Cooking With Kids":  Sinematografinya keren, keindahan Ternate ter-capture dengan baik. Akting Gita keren dan natural banget. Dan endingnya itu loch, sumpah mengejutkan banget."

Sedangkan testimoni Etika Aisya Avicenna, penulis buku-buku spesialis remaja puteri berkomentar begini: "Cakep-cakep pemainnya. Ending filmnya bikin kepoooo... Akting pemainnya kece, apalagi Gita. Jadi pengin jadiin dia adik."

Komentar Mbak Rahmadiyanti Rusdi, manajer promosi Noura Book lebih heboh lagi: Pengen cubit-cubit Quino "Gita" Umar. Gemesiiin, mainnya baguuuss (soale cubit2 Hamas "Gagah" & Mas Aji "Yudhi" kan nggak boleee :D). Rasanya ini film dengan cameo terbanyaaak, dan cameonya juga bagus-bagus. Dari Mathias Muchus, Kang Epi, Joshua, Nungki Kusumastuti, sampai Virzha. Iya, Virzha si somebody that I used to know itu."

Kalau komentar Bunda Wirianingsih, Ibu dari 10 penghafal Qur'an, mantan anggota DPR-RI, Ketua Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA), testimoninya lain lagi. 

"Sudah lama saya merindukan hadirnya film alternatif yang menghibur namun sarat edukasi dan ramah keluarga. Film ditengarai turut berikan kontribusi terhadap cara pandang dan perilaku seseorang. Bahkan film itu sendiri merupakan refleksi dari sikap dan gagasan yang dihadirkan kepada masyarakat.

Film 'Ketika Mas Gagah Pergi' #KMGPTheMovie yang diangkat dari novel monumental karya Sastrawan muslimah Helvy Tiana Rosa dengan judul yang sama, hadir ke tengah masyarakat perfilman Indonesia untuk membuktikan bahwa film dibuat tidak melulu mengikuti selera pasar. Kitalah yang  membentuk selera pasar.

#KMGPTheMovie adalah film yang sarat edukasi dan ramah keluarga. Anak-anak aman menonton film ini. Bayangkan ada anak muda yang bisa berubah menjadi lebih baik , berkarya namun tetap menjaga agamanya. Sukses dan berkah, maju terus film-film alternatif. Selamat kepada para pejuang seni dan budaya Indonesia, Helvy, Asma Nadia, kang Abik, Hanum Rais dan kawan-kawan."

Jelas, saya terbakar cemburu, karena masih harus menunggu tanggal 21 Januari untuk bisa nonton film ini secara penuh. Sebelum ini, saya hanya bisa ngintip di trailer film di Youtube atau klip OST "Rabbanna" yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh Indah Nevertari. Saya memutar video-video itu berulang-ulang tanpa merasa bosan. Bocah-bocah di rumah juga ikut merasa penasaran. 

"Mi, itu film apa? Boleh nggak besok pas tayang biosko aku ikutan nonton?" tanya anak saya, Anis (11 tahun). Ketika saya bilang boleh, Rama (9 tahun) dan Ifan (5 tahun) spontan berteriak. "Aku ikutan Mi... boleh ya?"

Karena film ini bisa untuk segala umur, saya pun mengangguk. "Oke, kita nonton ramai-ramai. Baby Fatihan kita ajak juga."

"Horeee!" pecah deh teriakan anak-anak. Hebatnya, meski di hari yang sama, adalah penayangan perdana sebuah film anak-anak yang digawangi sebuah brand es krim, dan itu kesukaan mereka, ternyata anak-anak tetap memilih ikut nonton KMGP. Saya sih berpikir, ini kesempatan bagus untuk menyambung semangat generasi 90-an dengan generasi zaman sekarang.

* * *

Salah satu adegan di film Ketika Mas Gagah Pergi


Ada banyak testimoni tentang Film 'Ketika Mas Gagah Pergi' #KMGPTheMovie. Tapi, yang paling membuat saya tersentak adalah testimoni Bapak Sugiharto, Mantan Menteri Negara BUMN, seperti yang saya nukil di bagian paling atas tulisan ini. Ya, beberapa saat sebelum penayangan KMGP, hampir bersamaan meledak bom di dua kota yang menjadi jantung umat Islam dunia, yakni Jakarta dan Istambul. Seperti biasa, berbagai spekulasi merebak. Ujung-ujungnya, gerakan Islam garis keras kembali dituduh berada di belakang tragedi tersebut.

Selama ini, lewat tulisan-tulisan, status-status di media sosial, event-event kajian dan seminar, kita sudah gencar memberikan sanggahan. Islam bukan seperti itu. Islam itu damai, tidak identik dengan kekerasan. Tetapi, tampaknya di tengah gencarnya dan riuh rendahnya berbagai komentar negatif terhadap Islam, suara-suara sanggahan itu seperti begitu saja hilang ditelan gelombang besar prasangka negatif tersebut. Namun, lahirnya sebuah film dengan pesan yang sangat indah, seperti yang disebutkan oleh Bapak Sugiharto tersebut, bisa jadi kita tak sekadar memberikan sebuah pernyataan, tetapi juga menghadirkan secara visual lewat adegan-adegan yang indah. Orang akan tersadar bahwa Islam itu sejatinya penuh kedamaian dan kesejukan, tanpa harus merasa tengah digurui.
Usaha tim KMGP untuk bisa mewujudkan film KMGP The Movie sungguh sangat perlu dihargai dan diacungi jempol, bila perlu 4 jempol sekaligus. Mulai dari Bunda Helvy Tiana Rosa sebagai penulisnya, kemudian orang-orang hebat yang menyokong KMGP seperti Mas Tommy (suami Bunda Helvy), Mas Firmansyah (sutradara KMGP), Bunda Yulyani (ibunda Hamas Syahid), Bunda Hajar Ariyani (ibunda Izzah Ajrina), tim ACT, tim BSMI, komunitas FLP, komunitas Mata Sinema,komunitas ODOJ (one day one juz), Mom Hijabers dan sebagainya, semua berjuang keras, bahu membahu, menempuh jalan terjal dan berliku-liku (serius!). Suka duka, air mata, emosi, dan segala pengorbanan akhirnya menjelma dalam sebuah fim yang apik. Film yang memberi pesan sangat indah, seperti perkataan Mas Gagah: "Islam itu cinta..."


* * *
KMGP bercerita tentang Gagah (diperankan Hamas Izzudin), seorang pemuda yang tampan, cerdas, terpelajar yang memiliki adik bernama Gita (Aquino Umar), yang tomboy dan cuek. Meski begitu, keduanya saling menyayangi. Suatu hari, Gagah pergi ke Ternate untuk skripsi. Di sana, Gagah bertemu dengan Ustadz Ghufron (Salim A. Fillah). Dari Ustadz Ghufronlah Gagah mendapatkan pencerahan tentang keindahan Islam. Sepulang dari Ternate, Gagah berubah. Perubahan itu membuat Gita sangat benci, karena dia merasa Gagah begitu fanatik terhadap Islam.

Selain Hamas dan Gita, KMGP diperani oleh Izzah Ajrina, Masaji dan 30 artis senior seperti Matias Mutchus, Wulan Guritno, Joshua, Irfan Hakim, Vhirza Idol, Shireen Sungkar, dan sebagainya. Tampaknya baru pernah dalam sejarah, aktor-aktris yang biasanya menjadi peran utama, main bareng meski hanya sebagai cameo.

KMGP diadaptasi dari novel Helvy Tiana Rosa yang ditulis sejak 20 tahun silam, "Ketika Mas Gagah Pergi." Meski pesan-pesan agamanya kuat, film ini tidak menggurui, enak dilihat, dan kata para penonton gala premiere: dimanjakan dengan gambar-gambar yang indah. Mau bukti? Ayo nonton bersama-sama! Tanggal 21 Januari, KMGP akan tayang perdana di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Oke, mari kita sukseskan bersama film kita ini. Karena, seperti jargonnya, KMGP adalah: ini film kita, kita yang bikin, kita yang modalin, dunia yang nonton. Percayalah, kesuksesan KMGP akan sangat berefek positif terhadap perkembangan film-film dakwah di Indonesia.

Ditulis Afifah Afra (Sekjen Forum Lingkar Pena, salah satu komunitas pendukung KMGP The Movie).

_________________________________________________________
Paket Hemat
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Mei Hwa & Sang Pelintas Zaman
4. Kesturi dan Kepodang Kuning

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.



Read more ...

15 Jan 2016

Agnes Monica, Bom Sarinah dan Informasi Tanpa Kontemplasi

Dear kamu, kemarin dengar, kan… heboh-heboh mengenai artis beken bernama Agnes Monica? Ah, pasti bukan sekadar dengar. Kamu malah menjadi bagian dari orang-orang yang bereaksi keras menghujat Agnesmo. Apa-apaan, Lu Agnes… Lu melecehkan Islam, ya. Masak di bajumu yang seksi itu ada tulisan Arab?

Ya, kamu begitu emosional saat itu. Ketika saya membuka lini masa media sosial, berkali-kali kamu memosting sikap garangmu kepada Agnes. Lalu, saya membaca sebuah komentar di posting kamu itu. Komentar yang keren, menurutku.

“Memangnya Arab selalu identik dengan Islam? Arab bukan hanya dihuni oleh keturunan Nabi dan Sahabat yang shalih, tetapi juga ada keturunan Abu Lahab, Abu Jahal bahkan juga pembesar-pembesar Yahudi Bani Nadzir, Bani Quraidzah dan Bani Qainuqa yang mengkhianati dan memerangi Rasulullah. Lalu, bahasa apa yang mereka gunakan sehari-hari? Masak bahasa Inggris? Maaf, aku sedang tidak mengindentikan Agnes Monica dengan mereka ya… tetapi, siapapun boleh-boleh saja kok memakai bahasa Arab. Memang, Al Quran turun dalam bahasa Arab, dan dalam kepercayaan kaum muslimin, kelak di surga, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Tetapi, Arab tak identik dengan Islam.”

Sepertinya, kamu tersentak dengan komentar tersebut. Kegaranganmu pada Agnes Monica pun akhirnya menurun. Kamu tak lagi memosting kritik-kritik pedas kepada Agnes. Ya, meski saya tahu, kamu, seperti juga saya, pasti berharap agar artis ngetop itu bisa tampil lebih sopan. Yeaah, sebenarnya Agnes juga punya banyak kelebihan, kan? Dia pekerja keras, rajin berlatih, dan memiliki need of achievement yang tinggi. Coba dia bisa lebih memperbaiki busananya. Lebih sopan dan memegang adat-adat ketimuran, gitu, dong!

Well, itu kasus Agnesmo, ya….

Sekarang, saya juga ingin berkomentar tentang kasus yang baru saja terjadi, Bom Sarinah. Awal bom meledak, kamu dengan antusias men-share gambar-gambar seram tentang korban yang berlumuran darah. Kamu membikin status duka cita.  Lalu, dalam waktu tak sampai 24 jam, warna statusnya mendadak berubah 180 derajat. Kamu malah memposting status-status penuh canda, seolah-olah musibah itu hanya guyon belaka. Oke, mungkin kamu terpengaruh dengan opini publik yang mengajak para netizen untuk tidak takut terhadap teroris, karena tujuan teroris adalah menebar teror. Itu opini yang tidak salah. Tetapi, jika akhirnya opini #KamiTidakTakut itu akhirnya berubah menjadi status canda-canda, aduuuh, ada something yang perlu kita telisik.

Begitu mudah engkau berubah. Seperti lagu dangdut yang ngetop zaman saya bocah: "Ada angin barat, kau ikut ke barat. Ada angin timur, kau ikut ke timur." Kamu seperti bingung, hendak tertawa atau menangis. Keduanya jadi campur aduk. Yah, tertawa atau menangis memang wajar terjadi pada setiap orang, tetapi jika bilangan waktunya begitu singkat, kok kamu… maaf, ya… jadi mirip orang tak waras. Aduuh, maaf, ya… maaf.

Etapi… sepertinya ini bukan salah kamu semata, sih. Memang begitulah karakter media sosial, sangat cepat berubah. Mendadak, saya jadi ingat dengan ucapan Pak Suwarmin, Pimpinan Redaksi Solopos, saat saya dan teman satu angkatan di program Magister Manajemen yang tengah saya jalani berkunjung ke kantor beliau. Kata Pak Warmin, media online, termasuk medsos adalah reader choice. Sedangkan media cetak adalah editor choice. “Saya tetap menganggap media cetak adalah media yang lebih terhormat, karena semua berita yang dimuat melewati masa kontemplasi.” 

Yeaah, bisa dimengerti. Dalam media online, seringkali begitu berita dimuat, ternyata berita belum menggunakan narasumber terbaik, belum ada crosscheck, bahkan juga belum didiskusikan berbagai aspek yang mungkin muncul dengan penayangan berita tersebut. Karena tipenya reader choice, berita yang melejit juga sesuai selera pembaca. Maka, kata Pak Warmin, berita kedatangan Jokowi bisa dikalahkan dengan berita tentang tuyul atau berita tentang sinetron yang sedang ngetop. 

Jadi, sekarang paham, kan, mengapa website-website sekarang hobi banget membikin berita dan judul yang bombastis? Saya sampai sebel banget sama sebuah website penyedia layanan email, karena begitu buka beranda web tersebut, isinya berita-berita yang “nggak gue banget”. Mulai berita selingkuh, artis X pamer aurat, dan sebagainya. Berita itu, kadang ecek-ecek banget. Misal, ada artis yang hobi memamerkan tubuh yang telanjang di instagram dan bagaimana para netizen bereaksi. Aduh, duh … memori bisa jadi bak sampah informasi jika kebanyakan dipameri berita-berita seperti itu.

Ini berbeda dengan berita bertipe editor choice. Sebelum tayang, berita akan didalami, narasumber akan diteliti, tidak sekadar cover both side, tetapi cover all side. Bahkan semua aspek yang mungkin muncul juga akan diantisipasi. Kamu pasti memahami hal itu bukan? Sebuah novel, ketika hendak terbit, novel tersebut telah mengalami sekian kali proses editing. Pasti beda dengan tulisan yang begitu ketik selesai langsung dipublikasikan.

Meski kita mungkin bukan redaktur media tertentu, kita hanya seorang pengguna media sosial, yuk, terbiasa berkontemplasi dalam membuat status? Bahkan ketika hendak men-share sesuatu,  mem-broad-cast, me-retweet dan sejenisnya, pikirkan terlebih dahulu, apakah berita itu benar? Terapkan disiplin verifikasi. Lihat hal-hal yang ganjil, yang sekiranya akan jadi masalah jika kita sebarkan. Jika setelah kita verifikasi ternyata oke-oke saja, pikirkan pula, apa sih pentingnya berita itu di-share?

Eh, saya nulis begini, sebenarnya bukan berarti saya terbebas dari kesalahan lho. Justru karena saya pernah mengalami beberapa kali posting, baik status maupun blogging, bahkan juga artikel di media masa, yang tak melalui proses kontemplasi. Tulisan-tulisan mentah itu, menuai kritik, komentar maupun saran yang sebagian bikin kuping saya merah. Tetapi, ya, itulah risiko mempublish sesuatu yang tak matang. Nah, karena saya pernah merasakan rasa tak enak itu, saya pun berusaha mengingatkanmu. Semoga kamu nggak marah kepada saya. Yuk, ngeteh atau ngopi dulu!

_________________________________________________________
Paket Hemat
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Mei Hwa & Sang Pelintas Zaman
4. Kesturi dan Kepodang Kuning

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.

Read more ...

12 Jan 2016

Takbir Cinta Untuk Rooslina [Cerpen]

Sebuah Cerpen Afifah Afra

Suara beduk dari arah masjid, menyibak sunyi seiring teriakan riang belasan anak kecil yang berlarian dengan rambut basah bekas keramas. Besok pagi Ramadhan, dan kegembiraan mereka meluap hangat, mengimbas pada relung hatiku. Namun, ucapan Suryani, teman satu kontrakan yang juga berprofesi sebagai guru SD, membuat kebahagiaan itu sedikit tereduksi.

"Jadi, kau benar-benar tidak berniat pulang lebaran ini? Kau tak ingin bertemu dengan keluargamu? Kau tidak rindu pada mereka?"
Aku menggigit bibir. Semburat kerinduan, begitu dashyat mencelup jiwaku, Sur. Meskipun orangtuaku telah tiada, aku masih memiliki Yunita dengan kedua puteranya yang lucu-lucu, Erika yang tengah menanti kelahiran putera pertamanya, serta si bungsu Erman yang baru saja melepas masa lajangnya. Mereka adalah adik-adik yang kubesarkan dengan keringatku, apalagi ayah dan ibu meninggal saat mereka masih kecil. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku. Namun, ketika mereka memutuskan untuk menikah, sementara aku masih tetap melajang, bahkan hingga kini, kebahagiaan itu ternodai oleh luka yang mendalam. 

Mungkin aku memang terlalu picik, karena masalah jodoh, adalah mutlak urusan Allah. Aku harus mengakui, bahwa getir-getir kecemburan, selalu menjadi momok yang menodai setiap rendezvous kami. Aku tak ingin kefitrian lebaran, menjadi terkoyak hanya gara-gara aku tak sanggup menatap kebahagiaan rumah tangga ketiga adikku. Aku juga tak sanggup mendengarkan desas-desus miring yang senantiasa terlontar dari mulut-mulut usil para tetangga dan kerabatku.

"Ini dia, perawan tua yang tak laku!"
"Terlalu pemilih sih! Sok cantik dan sok alim. Nggak ngaca kali ya?!"
"Baru jadi bidan kampung, lagaknya sudah seperti Nyonya besar."
Maka, aku pun hanya menjawab rentet pertanyaan Suryani dengan desahan. "Tidak, Sur… aku memang tak hendak pulang. Aku merasa tentram di sini. Lagipula, ada beberapa pasienku yang HPL-nya sekitar lebaran. Kalau aku pulang, kasihan mereka, tak ada yang menolong saat melahirkan." 
Ada banyak penasaran terpancar dari wajah Suryani, namun aku merasa tak perlu mengobati penasaran itu dengan jawaban yang melegakan. "Maaf, Sur… aku mau mandi dulu. Keramas. Besok kan Ramadhan."
Suryani hanya bisa mengangkat bahu.

* * *

"Kata orang-orang, Bu Roslina tidak pulang saat lebaran ya?" suara lembut bernada bariton itu membuatku sedikit terkesima. Suara yang begitu menawan. Andai saja aku tidak tahu, siapa pemilik suara itu, pasti anganku telah melayang hingga menembus awan.

Dokter Kamajaya. Ia adalah lelaki dengan segenap kesempurnaan yang pernah kukenal di dunia ini. Ia tampan, cerdas dan menawan. Kebaikan hati serta semangat pengabdiannya, jangan ditanya. Jika ia bukan seorang yang tulus mendermakan baktinya untuk kemashlahatan ummat, mana mau ia ditugaskan sebagai PNS di pelosok. Ia memiliki masa depan cemerlang. Orangtuanya yang dokter spesialis kandungan, memiliki sebuah rumah sakit bersalin besar di Jakarta. 

Dokter Kamajaya adalah figur idaman setiap wanita, termasuk wanita berpredikat perawan tua dengan usia menembus angka 33 sepertiku. Namun, derajatnya yang terlalu tinggi, terutama bagi seorang bidan desa, membuat aku terpaksa memutus segala angan itu. Apalagi, kabarnya ia sudah bertunangan. Tak main-main, tunangannya adalah seorang selebritis jelita yang tengah naik daun dan sering muncul di layar televisi.

Siang itu, Dokter Kamajaya dan rombongan dari Puskesmas kecamatan, baru saja memberikan penyuluhan tentang flu burung ke masyarakat desaku. Sebagai salah satu bawahannya, aku tentu saja ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

"Dokter mendengar dari siapa?" tanyaku.
"Banyak yang cerita. Kabarnya, Bu Roslina lebih memberatkan pasien-pasien Ibu, ya?!"
Aku tergeragap. Ah, itu kan hanya alasanku saja. Terdengarnya sungguh mulia. Padahal, aku tak pulang karena kepengecutan belaka. Aku tak berani menerima kenyataan dengan dada lapang.
"Saya benar-benar salut…" Dokter Kamajaya menatapku dengan pandangan berbinar. "Jarang sekali aku bertemu dengan orang yang memiliki idealisme seperti Ibu. Kalau boleh tahu, sudah berapa lama Ibu bertugas di sini?"
"Hampir 5 tahun, Dok!"

"Ck… ck, hebaat! Saya sendiri, baru setahun ditempatkan, rasanya sudah tak tahan. Padahal di kota kecamatan. Sebenarnya, saya ingin bertahan lebih lama. Hanya saja, mungkin karena saya ini anak manja, butuh perjuangan keras untuk bertahan dalam idealisme itu."
"Bukankah di Jakarta, seorang dokter bisa lebih terjamin kehidupannya?" tanyaku. Aku ingat, salah seorang temanku yang juga seorang dokter, begitu lulus menjadi dokter di sebuah klinik di Jakarta. Sebulan, gajinya hampir 15 juta. 

"Bu Roslina, bukankah hidup itu tidak hanya untuk sekerat roti?" Dokter Kamajaya mengumbar senyum. "Prinsip itu juga kan, yang menggerakkan hati Bu Roslina untuk  bersedia ditugaskan di tempat terpencil seperti ini?"

Aku tercenung, karena baru kali ini aku mendapatkan suntikan semangat dari seseorang. Biasanya, orang-orang di sekitarku justru menebar kata-kata yang membuatku down. 
"Apa sih, yang kamu peroleh dari menjadi bidan di desa? Duit nggak ada, mau senang-senang nggak ada fasilitas… jangan terlalu sok pahlawanlah…"

Begitu kata mereka. Menyakitkan. Bagiku, menjadi seorang bidan adalah panggilan jiwa. Ucapan bijak Dokter Kamajaya, laksana setetes embun yang membasahi jiwa gersangku. Ah, betapa bahagia menjadi perempuan yang mendampingi lelaki sehebat dia…

* * *

Tak terasa, 30 hari telah berlalu. Kumandang takbir dari masjid-masjid, meriuhkan suasana malam. Alhamdulillah, Ramadhan berhasil kulalui dengan sukses. Kini, sebagaimana para warga di dusun ini, aku juga ikut-ikutan bersibuk ria menyiapkan segala pernik lebaran. Ketupat, opor, serta berbagai makanan kecil lainnya. Besok, aku yakin, di rumah kontrakanku yang kecil ini, tamu-tamu akan datang silih berganti, terutama puluhan remaja dan anak-anak di dusun yang selama ini memang sangat dekat denganku.

Setelah semua persiapan usai, aku pun merebahkan diri di kursi rotan ruang depan. Jendela dan pintu sengaja kubuka. Biasanya akan ada atraksi obor dari para pemuda yang lewat, sesuatu yang menarik, apalagi bagai desa yang belum terjamah aliran listrik.

"Bu Roslina… Bu… gawat… gawat!" tiba-tiba terdengar suara teriakan panik. Seorang lelaki muda masuk tergesa. Wajahnya mengandung bulir kecemasan yang bernas. "Jamilah, istri saya… hendak melahirkan. Tolong Bu… tolong!"

Bak tentara yang mendengar peluit komandan, aku pun sigap berkemas. Sejurus kemudian, langkah-langkahku telah mencipta gempa pada tanah yang kupijak. Rumah Jamilah lumayan jauh, sekitar 1 jam berjalan kaki, melewati hutan pinus dan beberapa sungai kecil. Hawa dingin pegunungan membuatku menggigil. Namun, kumandang takbir yang terdengar samar-samar, menyisipkan kehangatan tersendiri pada pori-pori tubuhku.

Ketika kujumpai, Jamilah terlihat sangat lemas. Keringat bercucuran, membasahi parasnya yang cantik.
"Sudah sejak hari kemarin terasa mau melahirkannya," lapor seorang perempuan setengah baya, "tetapi bayinya tidak juga lahir."

Aku mengecek jalan lahir Jamilah. Sudah bukaan enam. Namun, mataku sesaat terbelalak, ketika melihat cairan membasah di sekitar selangkangan Jamilah. Ya Allah, ketuban sudah pecah. Gawat! Kelahiran yang tidak normal bukanlah tugas seorang bidan. Jamilah harus dibedah cesar. Tetapi, di daerah terpencil seperti ini, siapa yang bisa melakukan bedah cesar? Sejenak aku terjebak kepanikan, meski secara lahir aku berusaha untuk tetap tenang.

Dokter Kamajaya! Aku mendesah, gugup. Dia memang hanya dokter umum. Tetapi paling tidak, ia lebih bisa menanggulangi masalah seperti ini daripada aku yang hanya seorang bidan. Apalagi, ayah dan ibu Dokter Kamajaya adalah spesialis kandungan. Mungkin ia telah banyak belajar dari orangtuanya.

"Tampaknya, Jamilah harus dibawa ke puskesmas di kecamatan. Saya tidak sanggup menolongnya…"
Lelaki muda itu, suami Jamilah merespon ucapanku dengan cepat. Beberapa saat kemudian, dengan ditandu, Jamilah dibawa ke kota kecamatan. Aku mengikuti perjalanan itu dengan dada penuh debar. Beruntunglah, ketika sampai di jalan besar, sebuah truk pengangkut getah pinus yang lewat mau memberikan tumpangan. Perjalanan menuju kota kecamatan pun bisa lebih dipersingkat.
Seperti dugaanku, Dokter Kamajaya pun terlihat gugup. 

"Keadaan sangat genting, Dok…," ujarku, mencoba meyakinkannya. "Tak mungkin Jamilah dibawa ke rumah sakit kabupaten. Ia sudah mengerang-ngerang kesakitan. Ketuban sudah pecah sekitar 4 jam yang lalu."

Dokter Kamajaya mengangguk-angguk. "Baiklah! Tetapi, Bu Roslina mau kan, membantu saya?!"
"Insya Allah Dok… yang kita pertaruhkan adalah nyawa pasien!"

Akhirnya, dengan sepenuh kenekadan, operasi itu pun digelar. Setelah membius Jamilah, kami pun mulai beraksi dengan membedah perut perempuan muda itu. Berbagai kekakuan serta ketegangan mewarnai, namun alhamdulillah… setelah bersusah payah, proses bedah itu pun purna.
Dokter Kamajaya menghela napas lega. Sembari membereskan berbagai peralatan yang masih berlumur darah, sesekali aku memperhatikannya. Tampak sekali, betapa kelelahan membayang di matanya. Kelelahan yang lebih disebabkan karena rasa tegang sepertinya. Saat itu, baru aku tersadar, mengapa sang dokter masih berada di rumah dinasnya yang terletak di samping puskesmas pada malam takbiran seperti ini? 

"Hampir saja saya pergi, Bu…," jawab sang dokter, ketika aku menanyakannya. "Mobil sudah saya persiapkan. Niatnya sih sejak kemarin, karena Papa dan Mama juga terus-terusan menelpon. Tetapi, nggak tahu, pasien selalu saja datang, bahkan jumlahnya semakin hari semakin banyak. Mungkin karena puasa, banyak yang terkena penyakit tipus atau magh."
"Kalau begitu, kami harus meminta maaf, karena telah mengganggu jadwal Dokter…" ujarku, menyesal.

"Tak apa. Ini sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter… Apa yang saya lakukan, belum ada apa-apanya dibanding dengan anda, Bu…"
Ketika mengucapkan kata-kata itu, ada semburat kebahagiaan memancar dari wajahnya yang rupawan. Sesaat aku terpana dalam keterpesonaan, meskipun kemudian aku segera tersadar, ia milik orang lain, Ros…

* * *

"Apakah pada saat malam takbir yang kudus seperti ini, kau tak ingin berada dalam sebuah suasana yang hangat bersama suami dan anak-anak?"

Aku tersentak mendengar pertanyaan itu. Bukan hanya karena muatan kata-katanya yang membius, namun juga penepisan batas formalitas yang ia lakukan. Sang dokter memanggilku dengan 'kau' bukan 'anda' atau 'ibu' seperti biasanya. 

"Jika selama ini ada lelaki yang mengagumi sepak terjangmu, serta mendambakan pendamping hidup yang kuat sepertimu, apakah kau bersedia menerimanya?"
"Ss… siapa lelaki itu? Adakah lelaki yang bersedia mendampingi hidupku?"
"Tentu saja ada. Dan lelaki itu adalah… aku!"
Dokter Kamajaya? Seperti terlindas setrum berkekuatan mega amper, aku terkesima. Bercandakah dia? Rasa letih yang membuncah setelah berjam-jam berjibaku menolong pasien, mendadak sirna tak berbekas. Dadaku berdebar kencang.

"Ketika Saras, tunanganku memutus hubungan hanya gara-gara tidak mau kuajak tinggal di desa ini, aku sudah tahu, kepada siapa sesungguhnya aku harus melabuhkan harapan. Pendamping hidupku, haruslah seorang pejuang siap mengabdi untuk ummat, bukan sosok manja yang terbiasa berenang dalam kesenangan. Setelah aku mengamati, sosok yang paling cocok untukku… adalah kau. Maukah kau menerimaku, agar malam-malam takbiranmu tak lagi sepi?"

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar…
Lailaaha illallaahu Allahu Akbar
Allahu Akbar walilaahilhamd…

Suara takbir yang masuk dalam gendangan telingaku, membuat aku tersentak dan membuka mata. Seberkas kunang-kunang membias di pelupuk mata. Ya Allah, aku ternyata bermimpi. Hanya mimpi. Namun… mimpi itu telah didahului sebuah peristiwa nyata, yakni percakapan pada malam yang kudus itu. Percakapan yang kemudian terulang secara sempurna saat sepasang mataku terpejam.
Aku bangkit dari tempat tidur, sebuah bed untuk pasien di salah satu kamar rawat inap puskesmas kecil itu, begitu pintu diketuk. Bergegas aku membukanya, dan sebuah senyum manis terlempar untukku.

"Ini mukena untukmu, Ros… kita shalat ied bersama-sama di lapangan. Ibu Jamilah sudah ada yang menemani. Ia dan bayinya sangat sehat."
"Alhamdulillah…" tak ada kata yang sanggup terlontar selain senandung puji kepada Allah, sang Rabbul Izzati.
"Usai shalat, bersiap-siaplah… Mama dan Papaku akan datang menjemputku dan calon menantunya…"

Semburat merah menghias wajahku. 
"Mengapa linglung? Ayo, mandilah… nanti keburu terlambat shalat."
Sebuah senyum kembali tergores, indah. Dan ragaku seperti terbang melayang… menembus awan. Allah ternyata selalu adil dalam membagikan kebahagiaan.




Read more ...

9 Jan 2016

Wuiih, Lomba Menulis Kementerian Pariwisata Total Hadiah Lima Ratus Juta Rupiah

Suatu pagi di Pantai Siung, Gunung Kidul...
Kabar gembira buat para wartawan, penulis lepas, dan juga Blogger… ini saatnya kita menjadi jutawan! Iya, kalau menanglah... kalau kalah, minimal jadi jutawan hati yang kaya dengan pengalaman, Hehe.

Senang sekali, karena untuk kesekian kali, pemerintah kita menyelenggarakan lomba kepenulisan dengan hadiah yang bikin merinding, saking besarnya. Ini berarti, profesi penulis dan insan media kian dihargai. Kali ini, total hadiah sebesar Rp 500.000.000 disediakan oleh Kementerian Pariwisata untuk pemenang “Lomba Penulisan Pariwisata dalam Rangka Hari Pers Nasional 2016”.

Iya, sih… 500 juta itu total hadiah. Tapi, pemenang pertama dari kompetisi keren ini, bakal mengantongi Rp 100.000.000. Lumayan kan, bisa buat nabung beli rumah. Kalau di luar kota Solo, malah sudah dapat rumah tipe 21 atau 36. Kalau di Solo, belum dapat, xixixi.

Lomba ini diselenggarakan untuk mendorong kecintaan masyarakat umum dan khususnya wartawan pada dunia bahari dan wisata Nusantara. Sebab, menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya, wartawan dan media adalah salah satu elemen penting dalam konsep pentahelix atau segilima yang dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata untuk mendorong dan meningkatkan sektor pariwisata di Tanah Air. Selain wartawan dan media, empat komponen lain dalam konsep pentahelix itu adalah akademisi, pengusaha, komunitas, dan pemerintah.

Berikut ini beberapa ketentuan lomba:

1. Peserta lomba adalah wartawan yang bekerja aktif dan diakui pada satu perusahaan media massa cetak atau media daring. Bisa juga penulis lepas yang menerbitkan karyanya di salah satu media massa atau media sosial, atau pemilik blog yang memublikasikan karyanya di blog pribadinya.

2. Peserta dapat memilih satu dari tiga tema yang disediakan panitia, yaitu: 
  • Pertama, Wisata Bahari yang berkaitan dengan kearifan lokal bersifat bahari yang meliputi aspek budaya, seperti ritual, tradisi, gaya hidup, mata pencarian, dan kuliner. 
  • Tema kedua, Wisata Halal yang berkaitan dengan program Kementerian Pariwisata menggarap wisata halal secara serius, diawali dengan prestasi Pemerintah NTB mendapat penghargaan World’s Best Halal Tourism Destination yang diadakan di Uni Emirat Arab. 
  • Tema terakhir, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Lombok Tengah yang merupakan potensi kekuatan pariwisata di NTB dan merupakan satu dari 10 destinasi  wisata baru yang dikembangkan pemerintah.
3. Karya tulis juga harus sudah disiarkan atau dipublikasikan di media massa atau media sosial (blog) pada kurun waktu Januari 2015-Januari 2016. Karya tulis dikirim melalui email pwi.pariwisata@gmail.com atau dalam amplop  tertutup dengan mencantumkan kode “Lomba Penulisan Pariwisata” di sudut kiri amplop dilengkapi dengan pemuatan di media (cetak, daring, blog) kepada: 

Panitia HPN 2016 
Gedung Dewan Pers Lantai 4, 
Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat 

Selambatnya tanggal 25 Januari 2016. Dan disertakan kopi pemuatan di media.

4. Pengumuman pemenang akan disampaikan di arena Hari Pers Nasional 2016 di Lombok pada Februari 2016


Read more ...

LIKE FANPAGE SAYA YUK!

Ingin Memfollow Blog Ini?

Google+ Followers

Copyright 2015 Afifah Afra. All rights reserved. Designed By Seo Blogger Templates