banner

24 Aug 2016

Kuis Spesial Agustus, Yuk Ikutan!

Sobat semua, meski Agustus tinggal seminggu lagi, tak mengapa ya kalau saya bikin kuis? 

Pertanyaannya tidak susah-susah amat, kok. Jawabannya juga, apalagi persyaratannya. Tak perlu like sana like sini, follow sana follow sini. 
Langsung saja, ya...


Ini nih pertanyaannya!
  1. Yakinkah Sobat sekalian bahwa alihteknologi di bidang perbukuan (misal dari buku cetak ke eBook) itu memang suatu kepastian agar buku tidak ditinggalkan?
  2. Bagaimana menghidupkan minat baca di masyarakat yang memang tidak memiliki tradisi membaca buku?
Silakan jawab pertanyaan Anda di kolom komentar disertai dengan identitas (jangan anonim). Jika tidak memiliki akun Google, bisa dengan memilih URL/Name.

Jawaban jangan panjang-panjang, maksimal sekitar 3 paragraf saja, ya...

Jawaban ditunggu maksimal 31 Agustus 2016, jam 24.00 WIB. Pengumuman 3 September 2016 di blog ini.

Saya akan memilih 5 jawaban terbaik, yang nanti akan mendapatkan paket buku dari sponsor.

Ayo, silakan ikut. Jangan hanya sekadar ingin menang, tetapi jawaban Anda sekalian bermanfaat sekali lho, sebagai salah satu cara menghidupkan ekosistem perbukuan di negeri ini.

Selamat berkuis ria!

23 Aug 2016

Gadis, Jangan Ragu Tentukan Maharmu!

Sejak saya kecil hingga sebentar lagi masuk kepala empat, dan telah menghadiri ratusan kali (atau ribuan?) pesta pernikahan, selalu saja saya menjumpai kalimat akad nikah seperti ini: "Saya nikahkan si Fulanah binti si Fulan dengan si Fulan bin Fulan dengan mahar seperangkat alat shalat dibayar tunai."

Seperangkat alat shalat, catat, Gals! Saya ini keluarga besar, delapan bersaudara, 7 di antaranya cewek. Dan kakak-kakak saya juga mahar nikahnya kebanyakan separangkat alat shalat. 

Perempuan Indonesia sepertinya termasuk tipe yang tidak kreatif dalam menentukan mahar. Ya, seperti saya sebut tadi, mayoritas perempuan menikah dengan mahar seperangkat alat shalat. Saya tidak sedang merendahkan mahar itu ya. Seperangkat alat shalat itu baguuus. Mungkin hikmahnya sang istri jadi rajin shalat. Meski saya ragu juga apakah para istri nyaman shalat menggunakan mukena tersebut. Ngg... gini, toko online saya kan pernah dapat order mencarikan mukena. Mukena ini gak cocok, yang lain nggak cocok, ternyata yang dicari mukena yang emang cakeeep banget dan mahal. Tapi terus terang, kalau saya dapat hadiah mukena seperti itu, saya pasti malah nggak khusyuk shalat. Mukena favorit saya jenis katun yang lembut dan dingin. Yang juga bisa dipakai menghapus air mata, sebab kalau shalat saya ini suka cengeng, hehe...

Eh, malah membicarakan berbagai jenis mukena. Kita sedang bicara mahar, ya, Sodara-Sodara. 

Islam sebenarnya memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada kaum perempuan untuk menentukan maharnya. Sebab, mahar alias mas kawin, adalah hak seorang perempuan yang harus dipenuhi oleh pria yang hendak menikahinya. Pada zaman jahiliyah, mahar menjadi milik keluarga si perempuan, dan seringkali  mirip sebuah transaksi "jual beli", di mana keluarga si perempuan menetapkan harga yang sangat tinggi yang harus ditebus si lelaki. Tetapi, dalam Islam, mahar merupakan pemberian sukarela, dan statusnya adalah mutlak miliki istri. Bahkan suami dan keluarga pun tak berhak mengambilnya, kecuali jika sang istri tersebut ridho.

Allah SWT berfirman, yang artinya “Dan berikanlah mahar (mas kawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (QS. An-Nisaa’: 4).

Begitu pentingnya mahar, maka jika kita amati dalam hadist-hadist tentang pernikahan, jika mendapat pertanyaan tentang pernikahan, Rasulullah selalu menanyakan mahar apa yang akan diberikan. Misalnya di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Pada suatu hari, ada seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah, namun Rasulullah tak segera menjawabnya. Lalu seorang lelaki meminta agar dia dinikahkan dengan perempuan tersebut. Rasulullah pun bertanya kepada lelaki tersebut.

“Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?” “Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya. “Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan apapun pun,” ujarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.”

Laki-laki itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini.”
“Apa yang dapat kau perbuat dengan sarungmu? Jika engkau memakainya berarti wanita ini tidak mendapat sarung itu. Dan jika dia memakainya berarti kamu tidak memakai sarung itu.”
Laki-laki itu pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut.

Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al-Qur`an?” “Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya. “Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Iya,” jawabnya. “Bila demikian, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur`an yang engkau hafal,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 1425)

Dari hadist tersebut, selain kita melihat bahwa mahar adalah sesuatu yang sangat penting, kita juga bisa mendapatkan pelajaran, bahwa mahar itu bisa beraneka macam. Sejarah mencatat aneka jenis mahar, mulai dari yang sangat mahal sampai yang sangat sederhana.

Mahar Muhammad SAW kepada Khadijah: 20 ekor unta. Subhanallah, berapa harga seekor unta? Seekor sapi untuk qurban saya satu ekor saat ini mencapai sekitar Rp 20.000.000,- bahkan lebih. Kita bisa membayangkan kini, betapa sejatinya Muhammad SAW itu sangat kaya. Dan beliau tahu, bahwa perempuan yang dinikahinya, Khadijah, adalah perempuan yang sangat mulia. Yang dijuluki "Penghulu Wanita Makkah", sehingga Muhammad SAW berusaha memuliakannya dengan mahar yang pantas.

Berapa mahar Muhammad SAW kepada Aisyah? Sang 500 dirham. Satu dirham sama dengan 1 dirham = 2,975 gram perak. Saat ini harga perak seberat itu sekitar Rp 65.000.  Jadi, kalau dikurs dengan nilai uang sekarang, mahar tersebut senilai sekitar Rp 32.500.000.

Menyadari bahwa mahar merupakan ujud eksistensi, izzah dan pemuliaan seorang lelakit terhadap calon istrinya, Ali bin Abi Thalib pernah merasa ragu untuk meminang Fatimah, karena dia tidak memiliki cukup uang. Berkali-kali dia harus berdebar kencang karena mendengar kabar bahwa Fatimah dipinang orang. Tak tanggung-tanggung, yang meminanga adalah Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Namun ternyata pinangan itu ditolak Rasulullah. Khawatir didahului orang, Ali nekad melamar Fatimah. Mahar Ali kepada Fatimah adalah baju besi (yang akhirnya dibeli oleh Usman dengan harga yang sangat mahaaal 400 dirham, dan uang sebesar itu diberikan Ali kepada Fatimah sebagai maharnya).

Jangan pingsan dulu, wahai kaum lelaki... uang sebesar itu, bagi para jomblo kita yang rata-rata penghasilannya masih standard UMR, tentu sangat berat. Dan sebenarnya, mahar tidak selalu berwujud uang.

Mahar Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim adalah keislaman Abu Thalhah. Ada juga mahar berupa sepasang sendal, cincin besi, bahkan hafalan/pengajaran Al-Quran, sebagaimana hadist yang saya cantumkan di atas.

Akan tetapi, tentu saja kaum lelaki jangan meremehkan mahar. Alaah, calon istriku mah, dikasih mukena aja udah mau dinikahi. Wong nggak dikasih apa-apa saja mau kok... Ealah, dimana ujud "kegagahanmu" wahai bujang! Bersikaplah sebagaimana Ali yang bekerja keras untuk mendapatkan mahar yang pantas untuk memuliakan Fatimah. Jangan bonek dong... bondo nekad. Hehe.

Dan kaum perempuan, ayo, kreatiflah menentukan mahar. Kalian boleh minta mahar seperangkat alat masak (bagi yang hobi masak), laptop dan modem (bagi yang senang online), buku (bagi yang hobi baca), mesin jahit, bahkan juga modal bikin warung makan atau toko online, hehe.

Dulu, saya minta mahar ke calon suami Kitab Tafsir Ibnu Katsir. Alhamdulillah, sangat bermanfaat bagi saya. Sampai saat ini, kitab itu masih terpajang rapi di rak buku. Kalau mau pinjam, suami izin dulu kepada saya, hehe...

Jika kaum lelaki harus melihat bagaimana para tauladannya mencoba memuliakan calon istrinya, kaum perempuan harus melihat hadist ini, "Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR Ahmad).

"Sebaik-baik perempuan adalah yang paling murah maharnya ” ( HR. ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad ).

Namun, tentu konteks hadist ini lebih tepat menjadi rujukan kaum perempuan dalam menentukan mahar, bukan legitimasi kaum pria saat hendak membayar mahar. Kata Aa Gym, lelaki memuliakan perempuan dengan mahar yang sebaik-baiknya, perempuan memuliakan dirinya dengan mahar yang semudah-mudahnya.

Bagi jomblo lelaki, ayo kerja keras untuk mengumpulkan mahar. Bagi kaum perempuan, ayo pikirkan, mahar apa yang bisa menjad "tali asih" alias pertautan cinta kasih sepanjang masa, namun tidak memberatkan calon suaminya.

20 Aug 2016

Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia

“Buku adalah jendela dunia," kata Bung Hatta. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Kamis 11/8 kemarin, bertempat Hotel Megaland Solo, sejumlah penerbit anggota Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) se-Jawa Tengah menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) Ke-8. Ir. H. Tomy Utomo Putro, MM (Intan Pariwara) yang sebelumnya menjabat sebagai ketua DPD Ikapi Jateng, terpilih secara sebagai ketua masa bakti 2016-2020, menggantikan ketua sebelumnya, H. Siswanto (Tiga Serangkai).

Selamat bertugas, Pak Tomy! Tentu tak ringan menjadi ketua Ikapi di masa-masa suram dunia perbukuan dan literasi seperti saat ini. Tapi saya yakin, dengan semangat membangun ekosistem dunia perbukuan yang kuat dan berakar, berbagai masalah yang mendera akan terselesaikan.

Berbagai Permasalahan Dunia Perbukuan

Di acara Musda yang juga dihadiri ketua Ikapi Pusat, Rosidayati Rozalina, dan Ketua Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Supriyatno, sejumlah wacana mengemuka. Bu Rosidayati, dalam pidato sambutannya menyebutkan banyak penerbit mengeluhkan buruknya laporan keuangan dari tahun ke tahun. Sementara, menurut Pak Supriyatno, Puskurbuk mendapatkan laporan bahwa beberapa penerbit yang buku-bukunya lolos penilaian, saat didatangi, ternyata telah "hilang." Kantornya berubah menjadi toko kelontong, toko pakaian bahkan warung mie ayam. Adapun Pak Tomy Utomo Putro menyebutkan fakta yang cukup membuat kening berkerut: dari 133 anggota Ikapi Jateng, hanya sekitar 30% yang masih bertahan. 

Saat Pak Tomy menyebut angka 133, rekan saya, Mbak Puji dari CV Seti Aji berbisik, "Dulu malah anggota Ikapi Jateng pernah sampai 500-an lho...." Saya kurang tahu persis, apakah ucapan Mbak Puji itu benar atau tidak. Tetapi saya memilih percaya, sebab CV Seti Aji merupakan salah satu penerbit yang aktif di Ikapi Jateng. Sementara, Indiva baru akhir-akhir ini terlibat dalam kegiatan Ikapi Jateng. 

Jika memang anggota Ikapi Jateng memang pernah mencapai 500-an, dan kemudian disebutkan tinggal sekitar 40-an, saya harus berpikir keras. Ada apa sebenarnya dengan Ikapi Jateng? Lantas, karena di Ikapi Jateng banyak ikon-ikon penerbit raksasa Indonesia, maka pertanyaan jadi mengembang, ada apa dengan Ikapi Pusat? Lalu semakin melebar, ada apa dengan perbukuan di Indonesia?

"Dalam perspektif saya, yang namanya Ikapi yang satu," ujar Bu Rosidayati, dalam pidatonya. "Satu Ikapi daerah tercoreng, semua kena. Ikapi Jateng, Ikapi DKI hanyalah penyebutan, dalam prakteknya Ikapi adalah satu tubuh."

Okay... jadi mari kita bahas salah satu bagian dari "tubuh" Ikapi yang bisa jadi merupakan gambaran dari tubuh besar Ikapi lainnya. Ikapi Jateng.

Seharusnya, Jateng adalah provinsi yang menjadi pelopor dalam masalah perbukuan, khususnya buku pelajaran. Sejumlah penerbit raksasa bermarkas di Jateng. Sebut saja Tiga Serangkai, yang buku-bukunya telah dipakai sejak saya belum lahir. Lalu Intan Pariwara Group. Divisi penerbitan Intan Pariwara sendiri cukup mendominasi pasar buku nasional, percetakannya, PT Macanan Jaya Cemerlang juga bisa dibilang salah satu yang terbesar di Jawa Tengah, bahkan nasional. Lalu ada Toha Putera, raksasa dari Semarang. Aneka Ilmu, Mediatama, Sindunata, Teguh Karya dan sebagainya. Indiva mah, cuma bayi mungil yang baru lahir dan belajar merangkak.

Sayangnya, berbagai kebijakan perbukuan yang dikeluarkan pemerintah, seperti penerbitan BSE, Pembatalan kurikulum 2013 beberapa waktu yang lalu, pembatasan LKS dan sebagainya, merupakan pukulan telak bagi anggota Ikapi Jateng yang mayoritas penerbit buku pelajaran dan LKS. Salah seorang sesepuh Ikapi Jateng, dalam ajang tersebut berkata, "Padahal, karena penerbitlah BSE edisi cetak bisa tersebar sampai Merauke, sampai pelosok-pelosok yang tak terjangkau akses internet. Kami rela meski diberi margin keuntungan sangat sedikit oleh pemerintah."

Sementara minat baca masyarakat di Jateng tak kunjung membaik, bahkan justru menurun. Pameran-pameran buku, kecuali di Solo yang masih lumayan ramai, selalu sepi pengunjung. Event-event literasi juga semakin meredup.Satu persatu toko buku pun gulung tikar alias tutup. Tampaknya, di daerah-daerah lain di Indonesia pun setali tiga uang. Di Jawa Timur, event perbukuan hanya meriah di kota Malang. Di kota lain sepi peminat. Di Jawa Barat, kecuali Bandung, juga sami mawon. Yang masih gegap gempita menyambut event perbukuan mungkin hanya daerah Jadebotabek. Cukup dimengerti, konon 70% uang negeri ini beredar di daerah tersebut. Daya beli masyarakat yang tinggi juga ditunjang dengan minat baca yang sudah bagus. Beberapa kali berkesempatan mengunjungi Jakarta Islamic Book Fair yang fenomenal itu, saya sampai berdecak kagum melihat para pengunjung yang memborong buku hingga bertas-tas, sesuatu yang jarang didapati di pameran-pameran buku di daerah.

Di luar itu, ancaman perubahan teknologi, semakin menambah runyam dunia perbukuan. Meskipun menurut Nicholas Carr dalam buku The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains, internet bisa mendangkalkan pikiran, pada kenyataannya, masyarakat lebih mengandalkan internet sebagai sumber pencarian informasi utama ketimbang mencari di buku. Bahkan pelajar, mahasiswa, penulis buku pun sekarang lebih senang merangkai berbagai informasi dangkal yang diperoleh dari internet ketimbang menyelam ke buku babon alias textbook untuk menemukan penjelasan yang lebih mendalam, atau melakukan wawancara secara serius dengan narasumber.Tak heran, kualitas tulisan dari hari ke hari pun makin cethek, sekadar copas sana copas sini, lalu diparafrase dan dipoles sedikit analitis biar tak terkesan plagiasi. Yah, mungkin itu juga yang membuat pembaca malas beli buku. Lha, penulisnya saja malas menggali informasi.

Di jalur distribusi buku, terjadi permasalahan yang tak kalah berat. Toko-toko buku satu per satu mati. Toko Buku Gramedia, sebagai jaringan toko buku terbesar di Indonesia, yang memang memiliki sumber daya keuangan, jaringan, fasilitas dan manusia yang relatif lebih unggul, mampu bertahan di iklim buku yang lesu, akhirnya menjadi saluran distribusi utama nyaris seluruh penerbit di Indonesia. Dalam satu pertemuan antara pihak Merchandising Division Jaringan TB Gramedia dengan para suplier, saya juga hadir di sana, pihak Gramedia menyebutkan bahwa sebulan sekitar dua ribu judul buku baru masuk ke Gramedia, sementara display terbatas. Perlu dipahami, bahwa setiap space di toko, memiliki "biaya" yang diperoleh dari rumus yang njelimet. Kasarnya, mereka akan rugi jika memajang buku yang ternyata tidak terjual. Maka, manajemen Toko pun memberlakukan mekanisme  retur yang sangat cepat. Setiap penerbit diberikan kesempatan sebulan untuk dipajang, jika tidak ada penjualan, buku akan dikurangi dalam bulan berikutnya, dan akan diretur seluruhnya jika tetap tak ada penjualan. Sebelumnya penerbit bisa optimal mendapatkan penjualan dengan masa display sekitar setahun lamanya, bahkan lebih.

Berbagai Usulan Solusi
Secara umum, dunia perbukuan di Indonesia memang sedang dipayungi awan tebal. Agar buku tak lenyap dari negeri ini, para pelaku perbukuan harus segera mengambil langkah-langkah sebagai berikut. 

Pertama, langkah dari pemerintah. Saat masih menjabat sebagai Mendikbud, Anies Baswedan menggencarkan ekosistem perbukuan sekolah. Buku-buku harus masuk ke sekolah sehingga terjadi interaksi yang baik antara siswa dengan pelaku perbukuan. Sejumlah aturan diterbitkan, misalnya Permendikbud No 23 Tahun 2015 yang mengatur tentang kegiatan sehari-hari di sekolah yang harus diterapkan, di antaranya membaca buku non-pelajaran 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, disusul dengan Permendikbud No 8 Tahun 2016 tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan. Pelaku Perbukuan berharap RUU Perbukuan yang saat ini masih dalam proses penggodokan bisa segera disahkan.

Selanjutnya pemerintah diharapkan cukup menjadi regulator, fasilitator, pembina, pengawas dan penilai saja dalam masalah perbukuan. Bukan justru ikut terlibat sebagai penerbit sebagaimana saat menerbitkan BSE yang secara fakta telah melemahkan banyak penerbit  buku pelajaran. Pemerintah juga diharapkan cukup matang dalam menggodok sebuah kebijakan, sehingga peristiwa semacam penerbitan Kurikulum 2013 yang kemudian dibatalkan tidak terjadi lagi. Anggaran untuk belanja buku ke penerbit sebaiknya juga dinaikkan, seiring dengan perbaikan sistem penilaian buku yang dilakukan pemerintah terhadap penerbit. 

Kedua, langkah dari pelaku utama industri perbukuan,  yaitu penerbit, penulis, distributor dan berbagai unsur yang saling terkait. Teknologi tidak bisa dijadikan kambing hitam, sebab perubahan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Industri buku harus secepatnya menerapkan alih teknologi. Buku fisik memang masih dibutuhkan masyarakat, akan tetapi, lambat laun buku fisik pasti akan berkurang. Penerbit harus mencoba berbagai platform, misalnya e-book. Ikapi perlu meng-upgrade anggota-anggotanya berbagai skill alih teknologi. Selain itu, dengan ekosistem perbukuan yang dikembangkan oleh pemerintah, penerbit harus agresif menawarkan produk-produknya. Tentu produk yang ditawarkan harus produk yang unggul, mendidik, memiliki performance yang bagus, dan harganya terjangkau.
Teknik marketing juga harus berubah. Menurut Kotler dan Keller (2009), memang telah terjadi perubahan secara revolusioner di dunia marketing dewasa ini. Filosofi marketing sudah bukan lagi berbasis produk, alias mencetak buku sebanyak-banyaknya sehingga bisa menjual dengan murah. Tetapi, marketing harus benar-benar mampu melihat, apa kebutuhan pasar, menjawab dengan produk yang berkualitas, dan mengkomunikasikan dengan baik produknya. Pasar sudah bergerak ke dunia cyber, maka penerbit harus mulai bergeser untuk melakukan komunikasi produk yang efektif di dunia cyber. Hingga saat ini, masih ada penerbit di Jateng yang belum memiliki website, akun media sosial, alih-alih memanfaatkannya dengan baik.

Ketiga, langkah berbagai unsur pelaku perbukuan seperti sekolah, perpustakaan dan masyarakat. Berbagai unsur ini, bersama dengan pemerintah dan pelaku industri perbukuan harus menyadari bahwa ekosistem buku harus dihidupkan. Sekolah bisa memotivasi siswanya agar program 15 menit bisa menjadi stimulus terbentuknya tradisi membaca. Perpustakaan tidak sekadar bangunan “mati” dengan rak-rak berisi buku, tetapi juga harus hidup dengan program-program yang menarik masyarakat.  Masyarakat pun seyogyanya menganggarkan dana untuk belanja buku. Jika mentradisikan baca buku kepada orang dewasa yang sudah telanjur asing dengan buku itu sulit, kita bisa memfasilitasi anak-anak kita, sehingga akan tumbuh generasi baru yang akrab dengan buku dan dunia literasi.

Dengan peran aktif semua pelaku perbukuan, saya meyakini bahwa ekosistem perbukuan akan benar-benar hidup, bukan hanya di sekolah dan perpustakaan, tetapi juga di keluarga, di taman-taman kota, halte-halte bus, rumah makan, terminal, stasiun, bandara dan sebagainya. Betapa indahnyadi seluruh sudut negeri ini tumbuh dan berkembang ekosistem buku yang rimbun dan kokoh. 

Sumber foto: www.freevectors.net

18 Aug 2016

Lomba Menulis Essay "Aku dan FLP" Hadiah Total Jutaan Rupiah

Apakah Anda adalah anggota, simpatisan atau pembaca buku-buku karya anggota FLP? Mari abadikan kenangan indah Anda saat berinteraksi dengan FLP dalam essay bertema "Aku dan FLP".

PERSYARATAN

Panjang tulisan sekitar 3000 sd 5000 karakter 
  1. Menggunakan bahasa naratif (bercerita)
  2. Dokumentasi berupa foto atau video mendapatkan nilai plus
  3. Posting essay Anda di blog Anda 
  4. Pasang logo FLP di kolom widget blog Anda, dan dilinkkan dengan www.flp.or.id, dan menautkan tulisan FLP ke www.flp.or.id
  5. Kirim URL posting beserta biodata dan alamat lengkap Anda ke flp.pusat@gmail.com dengan subject "Lomba Essay FLP" selambat-lambatnya 30 September 2016 jam 24.00 WIB
  6. Pemenang akan diumumkan di www.flp.or.id pada 15 Oktober 2016

HADIAH
1. Juara 1: Rp 750.000,- + piagam + paket sponsor
2. Juara 2: Rp 500.000 + piagam + paket sponsor
3. Juara 3: Rp 250.000 + piagam + paket sponsor

HADIAH HIBURAN
Paket sponsor untuk 5 pemenang
Lomba ini diselenggarakan oleh Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (BPP FLP).

13 Aug 2016

Full Day School: “Ummi, Abi, Aku Senang Sekolah di Sini”




“Nak, serius nih, Ummi mau tanya, kalian merasa berat nggak sih, sekolah Nur Hidayah?” suatu hari, saat perjalanan pulang menjemput anak-anak, saya bertanya kepada bocah-bocah kami. Nur Hidayah adalah nama sekolah anak-anak kami, yayasannya menaungi dari jenjang PAUD, SDIT, SMPIT hingga SMAIT.
“Kok nanyanya begitu?” Anis, anak sulung saya yang memang cukup kritis malah justru bertanya.
“Ya, sekadar nanya saja.”
“Kan nggak mungkin nanya tanpa ada alasan.”

Saya tersenyum. Selain kritis, si sulung ini memang logis orangnya.
“Ya, kan ada yang komentar di sana-sini, bahwa sekolah Full Day itu memberatkan. Memasung hak anak, anak jadi kehilangan waktu bermain, dan otak terus diperas untuk berpikir. Kalau memang kalian merasa terbeban, ya bilang aja. Ntar Ummi sama Abi bisa mencarikan sekolah lain yang tidak terlalu bikin capek.”
“Nggak, ah Mi… kadang aku memang capek, tapi aku senang sekolah di Nurhidayah. Jadi, jangan dipindah, ya Miii…”

“Kamu bagaimana, Rama?” tanyaku pada anak kedua, saat ini kelas 4 SD.
“Nggak mau pindaaaah… aku senang sekolah di sana.”
“Kamu Fan?”
Ifan, yang masih TK B memonyongkan bibirnya, “Nggak mau pindah!” ujarnya, cemberut.

Dear pembaca, dialog semacam itu bukan sekali dua kali terjadi. Tetapi secara berkala kami lakukan sebagai salah satu cara kami mengevaluasi hal-hal yang telah kami putuskan. Jadi, ketika pro kontra Full Day School mengemuka, saya dan suami hanya senyum santai, dan awalnya memilih tidak terlalu banyak komentar. Lha kami yang menjalani  saja baik-baik saja, kok. Sementara, saat saya melihat para alumni FDS, juga fine-fine aja. Malah saya melihat mayoritas dari mereka memiliki prestasi melejit, tanpa kehilangan kegairahannya sebagai anak muda. Banyak di antara mereka yang saat ini kuliah di Turki, Arab Saudi, Mesir, Singapura, dan sejumlah kampus favorit negeri ini. Ritme sekolah yang sudah padat, telah membuat mereka bermental kuat, tahan banting, tanpa merasa terbeban. Yang menarik, selain prestasi mereka bagus, mereka juga aktif dan menjadi pelopor di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Mereka pintar membagi waktu dan menentukan prioritas, serta terbiasa belajar multitasking. Saya kira itu terjadi salah satunya karena hasil dari gemblengan saat FDS.

Seorang kenalan saya yang anaknya diterima di sebuah kampus top di Asia yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang ketat dan berdisiplin tinggi, pernah berkata kepada saya, "Insya Allah anak saya mampu mengikuti ritme di sana, karena sudah terbiasa dengan ritme saat sekolah FDS."

Oke, bicara tentang beban atau tekanan, baca ya, artikel saya ini JANGAN TAKUT STRES

Stres itu ada dua jenis, stress positif (eustress) dan negative (distress). Eustress ini akan membuat seseorang kuat. Ibarat donat, adonannya harus dibanting-banting agar benar-benar kalis dan menghasilkan donat yang berkualitas. Di dekat rumah saya, ada beberapa orang yang mempersilakan pekarangan kosongnya dijadikan sarana olahraga anak-anak kampung. Tujuannya agar tanah menjadi keras karena diinjak-injak terus. Jadi, kalau nanti harus menguruk untuk dibangun, prosesnya lebih mudah, karena pondasi tanah sudah stabil.

Secara khusus, Daniel Goleman dalam bukunya yang spektakuler, Emotional Intelligence, memuji anak-anak China-Amerika yang ternyata memiliki prestasi yang jauh lebih bersinar dibanding anak-anak Amerika lain. Ternyata, anak-anak China-Amerika itu memang digodok dalam sistem pendidikan yang penuh disiplin dan ketat. Sementara, anak-anak Amerika lainnya terlihat begitu santai dan easy going.
Eustress ini perlu diprogram, tentu dengan dosis yang pas dengan anak, serta dengan kemasan yang menyenangkan. Sehingga anak-anak kita terbiasa dengan beban, dan akhirnya bisa bersahabat dengan beban, dan bahkan menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang menggairahkan. Betapa banyak warga negara ini yang menjadikan pekerjaan, tanggungjawab, target-target sebagai beban. Sehingga mereka akan menganggap tugas-tugas sebagai momok yang menakutkan. Walhasil, mereka akan ogah-ogahan dalam menjalani kewajibannya. Kerja malas, gaji ingin gede. Baru jam dua sore sudah korupsi waktu dengan main-main media sosial, sebentar-sebentar lirik jam, padahal jam pulang masih setengah lima. Berangkat pagi hanya untuk setor absen, habis itu kabur entah untuk urusan apa.

Silakan baca artikel saya: Anda Manusia Tipe X atau Y?

Jadi, menurut kami, Full Day School adalah sarana tepat untuk mendidik dan mengarahkan potensi anak, sekaligus mengantisipasi berbagai macam problematika yang mucul di lingkungan sekitar. Anda boleh bilang “FDS kan alasan ibu-bapak yang tidak punya waktu mengawasi anak-anak!” memang betul. Kami berdua, memiliki profesi yang mengharuskan berangkat pagi pulang sore hari. Kami memiliki tanggung jawab profesi yang harus ditunaikan, dan profesi tersebut juga menyangkut kebaikan masyarakat. Maka, jika kemudian ada lembaga yang menjawab kebutuhan kami, lalu kami sama-sama sepakat bekerjasama, why not?

Yang penting, jangan pernah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada institusi FDS, tanpa kita terlibat di dalamnya. Setiap orang tua punya keterbatasan, sehingga perlu bekerjasama dengan orang-orang ahli dalam mendidik anak-anaknya. Namun, orang tua juga memiliki keunggulan khas, yang juga harus diwariskan kepada anak-anak. Maka, carilah partner mendidik yang sevisi dan semisi, sehingga segala sesuatu akan berjalan lebih mudah.

Kerja sama mendidik anak-anak, bahkan dilakukan para ulama yang memiliki ilmu mumpuni. Kyai Asy’ari misalnya, setelah mendidik sendiri putranya, Hasyim, kemudian menyuruh Hasyim berguru pada sejumlah ulama baik di dalam maupun luar negeri. Demikian juga ulama-ulama lain, biasanya memiliki banyak guru yang berasal dari banyak daerah. Bahkan, Imam Syafii begitu menganjurkan kita agar merantau untuk mencari ilmu. “Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. ... Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan,” begitu kata beliau.

Kembali ke FDS ya… jadi, intinya saya sekeluarga cocok dengan FDS. Kami memiliki visi besar dengan pendidikan anak-anak kami. Bagi kami, cara agar visi itu terejawantah, ya mencari institusi FDS yang memiliki kesiapan tinggi dan sanggup bekerja sama dengan kami. Visi itu tentu sudah kami dialogkan kepada anak-anak, dan mereka, dengan pemikiran anak-anaknya, sudah mampu menangkap visi tersebut, dan mereka setuju. Bahkan kian enjoy dari hari ke hari.

Bukan berarti tak ada keluhan. Ya, anak-anak suka mengeluh capek. Terutama di awal-awal sekolah. Tetapi, setelah kami motivasi, mereka biasanya akan segar dan bersemangat kembali. Ya, ketika memutuskan untuk FDS, sebenarnya orangtua justru harus lebih aktif dan kian memperhatikan kemajuan-kemajuan dan tantangan-tantangan yang dihadapi anak.

Bukan Berarti FDS Cocok Untuk Semua Anak

Sekali lagi, kami cocok dengan konsep FDS. Akan tetapi, ketika wacana FDS digulirkan oleh Pak Menteri dan akan diwajibkan ke seluruh anak, saya terus terang terhentak. Serius, nih, Pak Menteri. FDS itu tidak mudah, lho. Tidak lantas karena guru sudah digaji dengan standard tinggi (yang lolos sertifikasi), maka mereka sanggup mengelola FDS lho. Gaji menurut saya bukan variabel yang paling mempengaruhi kesuksesan FDS. Tapi idealisme. Gaji guru-guru di sekolah anak-anak saya tak setinggi gaji guru PNS bersertifikasi, tetapi mereka begitu paham tanggung jawab mereka. Bahkan mereka dengan senang hati melayani diskusi dengan orang tua di grup WA hingga malam hari. Ya, di sekolah kami, setiap kelas memang memiliki grup WA sendiri, yang memungkinkan orangtua berkomunikasi secara intensif dengan guru. Ada 24 kelas di SD anak saya, masing-masing angkatan 4 kelas. Dan saya tidak mendengar keluhan dari kelas-kelas lain tentang interaksi mereka dengan guru-gurunya. Ini menunjukkan secara umum, mereka begitu terbuka dan komunikatif.

FDS juga menyangkut fasilitas. Sekolah yang nyaman, karena tak hanya untuk belajar, tetapi juga bermain. Peralatan yang lengkap, kurikulum yang moderat—seimbang antara hak otak, hak jiwa dan hak fisik. Konsep kerjasama dengan pihak orangtua. Sampai pada sistem katering yang minim komplain. Maaf, ini mahal harganya.

Ya, saya harus jujur, sekolah di FDS itu mahal. Tetapi, jer basuki mawa bea, begitu pepatah mengatakan. Karena saya dan suami memang sudah bertekad, ya bagaimana caranya kami harus bisa bayar. Kami akan bekerja lebih keras lagi agar mendapatkan dana yang cukup, dan mengurangi kebutuhan-kebutuhan lain yang menurut kami tak terlalu penting. Perabot rumah, perhiasan emas-emasan (emas beneran, eh), sering belanja baju baru, sepatu, tas, bagi kami tak penting.

Yang menarik, saya melihat beberapa keluarga yang secara ekonomi sebenarnya tidak terlalu berkecukupan, ternyata memiliki idealisme besar dengan menyekolahkan anak ke FDS.  Mereka benar-benar cermat dan hemat untuk pengeluaran lain. Alhamdulillah, beberapa institusi FDS sering memberlakukan subsidi silang.

Selain kesiapan pihak sekolah, kesiapan anak dan orang tua juga penting sekali. Semua anak punya tipe sendiri-sendiri, yang terbentuk bukan sekadar faktor genetis dan pola pengasuhan orang tua, tetapi juga lingkungan.

Jadi, full day school, half day school, home school, itu semua pilihan...  semua anak tidak sama. Kondisi yang melatari juga berbeda. Orang tua yang bijak akan memilihkan yang tepat untuk anak mereka. Indikasinya: anak enjoy, berkembang potensinya, sehat jasmani-rohani, kepentingan orang tua bisa diselaraskan... setuju?

9 Aug 2016

The Power of “CUEK”: Antara Blur dan Fokus

Bagaimana perasaan Anda jika suatu hari ketika sedang pergi bersama suami tercinta, tiba-tiba melihat sebuah tragedi kecelakaan. Anda sudah mewek dan ingin segera turun dari mobil dan menolong si korban. Tapi suami Anda melarang. “Sudah ada polisi yang mengurus, Abi sudah ditunggu banyak orang.”

Mungkin Anda akan menganggap suami Anda kejam. Akan tetapi, apa reaksi Anda jika setelah membersamai suami ke suatu tempat, ternyata memang sudah ada ratusan orang yang sedang menunggu dokter yang hendak memeriksanya dalam sebuah ajang bakti sosial. Dokter yang mereka tunggu adalah suami Anda itu.

Bagaimana perasaan ketika mengetahui ada sepasang suami istri terjebak di hujan badai di sebuah rumah gubuk yang jauh dari tetangga. Mereka berdua sama-sama kelaparan, sama-sama butuh makanan, tetapi hanya ada satu nasi bungkus. Apa reaksi Anda jika melihat ternyata dengan cueknya si suami memakan habis semua nasi bungkus itu?

Suami kejam! Tak berperasaan. Well, sangat masuk akal, logis.

Tetapi, apa reaksi Anda jika kemudian melihat si suami itu lari menerjang hujan, melintas jarak berkilo-kilometer, tetapi sejam kemudian datang membawa makanan yang cukup untuk beberapa hari? Lalu suami itu berkata, “Maaf, Mi..., jika makanan itu hanya kumakan separuh, Abi tak punya tenaga yang cukup untuk melakukan ini semua.”

Sekarang, saya ingin bertanya, bagaimana jika dalam kasus di atas, si suami tidak bisa bersikap CUEK?

Cuek, biasanya identik dengan sesuatu yang buruk. KBBI menerjemahkan cuek sebagai masa bodoh, alias tidak acuh, tidak menaruh perhatian. Orang yang tidak pedulian terhadap orang lain, biasanya disebut sebagai si cuek. Lawan dari cuek adalah penuh perhatian.

Tetapi, ketahuilah... dalam kehidupan, cuek itu kadang penting, dan terlalu penuh perhatian adakalanya kontraproduktif.

Para pakar manajemen sering mengajari kita skala prioritas. Bukankah itu berarti mereka mengajari kita untuk perhatian pada satu masalah, dan mencueki masalah yang lain? Dan karena kita juga dianjurkan fokus, berarti yang harus kita perhatikan seksama, secara mendetail, justru lebih sedikit, sementara yang harus kita “cueki” itu banyak.

Hm, oke... ada yang  merasa keberatan dengan istilah cuek, sudah terlanjur bermakna negatif alias terpeyorasi. Oke, bagaimana jika saya memakai istilah lain, yaitu BLUR

Terkadang, dalam memandang kehidupan, kita perlu memakai teknik "blur", mengaburkan kedetilan, sehingga pemandangan tampak nyaman dan teduh di mata. Sebab, teknik "contrast" itu bikin mata pedih dan waktu kita akan habis untuk mengamati satu per satu dengan detil. Cuek membuat sesuatu menjadi blur, sementara terlalu perhatian membuat semua tampak detil, kontrasnya terlihat jelas, alias fokus.

Menjadikan sesuatu menjadi lebih teduh itu memang nyaman. Buktinya, kalau berada di pantai, atau padang pasir yang sangat panas, manusia senang memakai kaca mata hitam. Bukankah kacamata hitam itu aslinya menghilangkan kedetilan, karena membuat pemandangan menjadi lebih "blur"?
Ini bukan soal mengubur dan mengabur fakta... ini soal bagaimana kita memaafkan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya kecil untuk konsen pada urusan-urusan besar.

Saya suka merasa kasihan kepada para detail-ers (bukan detailer obat ya, hehe), karena begitu mudah menghamburkan energi untuk memikirkan sesuatu dengan begitu mendalam, sementara itu tidak berkaitan langsung dengan kebaikan dan produktivitas kita.

Saya kasihan dengan para perfeksionis yang seharian bete, makan tak enak, tidur tak nyenyak akibat bertengkar dengan pasangan untuk sebab sepele: pasangan meletakkan handuk basah di kasur. Atau salah menaruh garam ke kopisusu.

Saya iba dengan para perfeksionis yang melihat bentuk tulisan miring sedikit saja, hidup serasa terkoyak dari harmoni. Pesan whatsapp atau BBM yang tak segera dibaca dianggap sebagai musnahnya segala asa.

Saya juga (pernah) menjadi detail-ers, saya juga (pernah) menjadi perfeksionis. Meski ya kadang ada hal-hal tertentu yang lupa atau lalai, alias tidak perfeksionis 100% (perfeksionis yang tidak perfect, catet yaa). Tetapi setelah merasakan "the power of CUEK" eh, “the power of ‘BLUR’” yang begitu nikmat, saya jadi ketagihan untuk menge-blur beberapa perkara.

Kadang, hidup memang akan terus berjalan dengan atau tanpa adanya kita. Dan kadang, permasalahan itu akan selesai tanpa kita perlu repot-repot menyelesaikan, alias sirna seiring waktu. Al waqtu juz'un minal 'ilaaj, kata pepatah. Waktu adalah bagian dari penyelesaian. Atau, kadang kita harus melihat sesuatu masalah dikerjakan oleh begitu banyak orang, sementara di tempat lain, kita bisa lebih banyak berkontribusi karena keberadaan kita sangat diperlukan.

So, kita perlu cuek dan meng-blur hal pertama, dan sangat perhatian dengan hal kedua.
Mungkin, kita perlu meniru cara kerja kamera. Kita akan mengatur fokus hingga mencapai kedetilan tertentu pada hal-hal yang kita memang merasa mampu dan berkaitan dengan hidup kita. Sementara, untuk hal-hal lain, kita perlu percaya kepada saudara kita yang diberikan kapasitas sesuai dengan bidangnya.

Jadi, mari kita nikmati "kecuekan" dan "keterbatasan" kita sebagai cara untuk survive dan menikmati hidup. Mari mainkan hidup kita dengan teknik kamera, sehingga kita tahu, kapan kita menge-blur, dan kapan memainkan fokus.

6 Aug 2016

Karena Tubuhmu Punya Hak Atasmu

Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan oleh meninggalnya seorang copywriter yang sangat mendadak setelah 30 jam kerja tanpa henti. "Spent the half night writing copy and finishing up a 23-page deck with a glass of vodka/red bull mix," tulis sang copywriter di akun twitternya sebelum meninggal. Saya membayangkan betapa si copywriter itu memiliki passion yang sangat tinggi di profesi yang dia geluti, dan tentu saja, workaholic.

Saya juga memiliki teman penulis yang sangat "gila" kerja. Pernah beliau memberikan sebuah naskah novel setebal sekitar seratus halaman ke penerbit tempat saya bekerja. Dan dia bilang, bahwa novel itu dia tulis dalam waktu dua hari non stop, nyaris tanpa tertidur kecuali hanya beberapa kejap. Teman saya tersebut memang luar biasa semangat kerjanya. Setelah kemudian melanglang buana di rimba kepenulisan, dia semakin larut dalam kerja ritme tingginya. Namun, beberapa tahun terakhir saya mendengar kesehatan beliau drop sekali, keluar masuk rumah sakit dan bahkan harus bedrest beberapa bulan. Padahal usianya saat ini belum 40 tahun.

Sementara, nasib seorang dalang yang berlokasi di Jawa Timur juga mengenaskan. Setelah semalam suntuk mendalang, paginya dia tak langsung beristirahat, namun meminum segelas besar kopi hitam pekat ditambah ciu (sejenis minuman keras). Nyawanya langsung melayang, dan baru diketahui beberapa hari kemudian, karena dia hidup seorang diri di rumahnya.

Ya, kematian itu takdir, kita tak bisa menghindarinya jika memang saatnya tiba. Akan tetapi, bagaimana cara kematian mendatangi seseorang, mari kita ambil pelajaran, dan sebisa mungkin kita hindarkan... 

Saat membuat tulisan ini, saya baru menerima kabar kematian seorang pemuda berusia 28 tahun, sebut saja Joni. Dia menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di kota Solo. Banyak orang terkejut, karena selain bahwa dia masih muda, masih lajang, terlihat sehat, belumnya tak pernah sakit serius. Sampai akhirnya dia mendadak pingsan dan dilarikan ke ICU. Ternyata liver dan ginjalnya kena. Dia sempat cuci darah, namun tim medis tak bisa menyelamatkan nyawanya.

Joni tinggal di Solo, bekerja di Jakarta. Solo-Jakarta sering dia tempuh dengan menggunakan motor. Ya, saat ini, bermotor dengan jarak sejauh itu tentu memang menjadi trend di kalangan anak-anak muda. Meski capeknya tentu luar biasa. Dan sebagai obat capek, alih-alih tidur atau istirahat, Joni justru sering mengonsumsi berbagai merek minuman berenergi dan obat kuat. Dia jarang makan makanan bergizi, kadang malah mengabaikan rasa lapar, merasa cukup dengan berbagai suplemen. Saat puasa kemarin, bahkan nyaris tiap sahur dia hanya makan mie instan, alasannya jarang ada warung buka. Oh, Joni yang malang... jika kau menyadari bahwa kebiasaan tak sehatmu itu membuat nyawamu melayang, mungkin kau akan waspada sejak dahulu.

Saya tak menampik, bahwa kadangkala saya pun bisa bekerja dengan durasi yang cukup lama. Lembur, begadang, kejar deadline. Saking enjoy-nya, saya kadang tak merasakan kelelahan. Rasa mengantuk saya hilangkan dengan meminum kopi. Alhamdulillah, sejauh ini belum tergoda untuk mengonsumsi minuman berenergi. Saya bersyukur, punya suami seorang dokter yang selalu peduli soal kesehatan. Doktrin beliau "Kalau lelah, istirahat!"

Ya, suami saya begitu konsisten dengan soal itu. Meski sering keluar kota dengan jarak menyopir sampai ratusan bahkan ribuan kilometer, beliau selalu berusaha untuk tidak menggunakan suplemen, meski sekadar kopi. "Pokoknya kalau ngantuk, ya mampir pom bensin, tidur." Kadang, saya jengkel juga dengan hal tersebut. "Mas, kalau ngantuk, ngopi dooong," begitu rajuk saya. Tapi beliau selalu bersikeras dengan komitmennya. Walhasil, akhirnya saya dan anak-anak menjadi terbiasa dengan pola beliau. Sampai-sampai orang tua di rumah pun hafal. Pernah kami berangkat dari Solo bakda isya, harusnya jam satu atau dua malam sudah sampai rumah ortu, eh ternyata baru jam tujuh pagi sampai. Ya itu dia, berhenti berkali-kali untuk tidur, plus menyempatkan sarapan di alun-alun Kota Purbalingga dulu. Hehe... soalnya anak-anak kelaparan berat.

Memang sih, kehidupan para pekerja kreatif itu relatif rawan terhadap bahaya kelelahan. Karena biasanya kerja free lance, dan kerjanya sesuai passion, seringkali terlalu enjoy dan bersemangat mengejar deadline. Hasilnya, alarm dari tubuh kita yang berdering-dering, saat tubuh minta diistirahatkan, tak kita dengarkan, kalah oleh tuntutan target.

Mari sobat, jangan sampai hal yang menimpa sosok-sosok di atas itu terulang kepada kita. Jaga kesehatan baik-baik. Sayangi tubuh kita. Istirahatlah jika lelah, jangan paksa tubuh bekerja terlalu keras. Jangan tertipu "sihir bugar" yang dijanjikan obat-obat kuat itu....

Saya sepakat dengan rekan saya, Benny Arnas, salah satu penulis produktif yang "antilembur", bahwa menjadi seorang penulis itu memang harus total, jangan tanggung-tanggung. Artinya, ketika kita ingin terjun di profesi tersebut, menceburlah sekalian, yang berarti kita punya jam kerja sebagaimana pekerja kantoran. Dengan cara seperti itu, kita terhindar dari himpitan beban kerja yang berlebihan. Misalnya, kita harus ngantor di siang hari, dan malam hari lembur menggarap naskah. Kudu pilih salah satu... ya, itu pilihan beraaaat. Apalagi jika pilihan menjadi penulis jelas kalah penghasilan dibanding pekerjaan lainnya. Tapi tak ada salahnya mencoba... hehe.

Intinya, mari kita perhatikan tubuh kita. Sebab, tubuh kita juga punya hak yang harus ditunaikan.

31 Jul 2016

Mengenal KH Sholeh Darat: Guru Para Ulama dan Pahlawan

Suatu hari saya melihat suami tampak asyik membaca novel. Begitu serius dan menikmati. Kadang-kadang beliau manggut-manggut seperti baru mendapatkan pencerahan. Tumben suami saya bisa tekun sekali membaca novel. Penasaran saya lirik judulnya “Penakluk Badai.” Oh, wajar, itu memang novel bagus. Novel tentang biografi KH Hasyim Asy’ari, pendiri Ormas Islam Terbesar di Indonesia. 

Meski pernah membaca banyak komentar positif tentang novel tersebut, saya belum membacanya. Maka, begitu novel tebal itu ada di tangan suami, segera saya nge-take giliran baca. Hanya butuh waktu tiga hari untuk mengkhatamkannya, tentu saja karena saya membacanya di sela-sela aktivitas saya yang lumayan padat.

Panggung sejarah negeri ini, ternyata bukan hanya milik Sukarno Hatta. Begitu kesan pertama yang membingkas kuat di benak saya. Ada banyaaaak sekali tokoh besar yang selama ini kurang dipublikasikan. Maka, novel tersebut menginspirasi saya untuk mulai membuat tulisan singkat tentang nama-nama yang memiliki jasa besar untuk negeri ini, namun kurang dikenal. Meski novel tersebut berkisah tentang KH Hasyim Asy’ari, saya akan memulai dari guru beliau yang fenomenal, yaitu Mbah Sholeh Darat.

Wahai pembaca, siapa di antara Anda yang mengenal nama Mbah Sholeh Darat? Mungkin ada beberapa yang sudah familiar, bahkan tahu betul sepak terjang beliau. Tapi, saya yakin, yang baru mendengar pun tak kalah banyak jumlahnya.

Ya, serius! KH Muhammad Sholeh bin Umar As-Shamarani, atau yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat (disebut Sholeh Darat karena beliau tinggal di kampung Melayu Darat, Semarang) adalah tokoh yang membuat saya sangat terkesan. Saya tahu, bahwa seorang  guru yang pintar, ikhlas dan bersahaja itu memiliki kemuliaan besar. Namun, guru yang berhasil mencetak nama-nama besar, guru besar, tokoh besar dan pahlawan besar, dia adalah guru yang luar biasa. Nah, Mbah Sholeh Darat ini, menurut saya merupakan satu dari sedikit guru yang luar biasa. 

Apa indikasinya? Hampir semua tokoh muslim yang hidup di zaman itu, ternyata pernah menjadi murid beliau. Selain KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah juga berguru pada beliau. Bagi saya, fakta ini menarik. Dua orang pendiri 2 ormas terbesar di negeri ini ternyata memiliki guru yang sama. Dalam novel ini bahkan diceritakan bahwa Darwis (nama kecil KH Ahmad Dahlan), ternyata bersahabat akrab dengan Hasyim saat berada di Ponpes Kyai Sholeh Darat. Hasyim sangat menghormati Darwis yang lebih tua darinya, begitu pun, Darwis sangat menyayangi Hasyim.

Begitu pula sejumlah nama ulama-ulama tersohor di tanah air seperti KH Mahfudz Tremas (pendiri Ponpes Tremas Pacitan, tempat mondok mantan presiden SBY), Kyai Idris (pendiri pondok pesantren Jamsaren, ponpes tertua di Solo), KH. Bisri Syamsuri (Pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang), KH. Zarkasyi (pendiri Ponpes An-Nawawi Purworejo), KH Munawir (Ponpes Krapyak Yogyakarta), dan KH Abdul Wahab Chasbullah (Ponpes Tambak Beras Jombang).

Guru RA KArtini
Jangan dilupakan juga, bahwa Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan pelopor pendidikan yang sangat terkenal itu, juga merupakan salah satu murid beliau. Kartini sangat terkesan, karena Kiai Sholeh mengajarinya terjemah dan tafsir Al-Quran, sesuatu yang selama ini sangat didambakan. Sejak kecil, Kartini merasa penasaran dengan terjemah Al-Quran, dan pernah menanyakan arti ayat-ayat Al-Quran kepada salah seorang gurunya. Bukannya diajari baik-baik, Kartini malah dimarahi dan dianggap kurang ajar.

Ketika saya mencoba browsing, ternyata Belanda saat itu memang melarang dilakukannya penerjemahan Al-Quran. Dan banyak ulama saat itu mengharamkan penerjemahan Al-Quran. Menurut mereka, Al-Quran itu sangat suci, sehingga dilarang diterjemahkan dalam bahasa apapun. Hal tersebut menjadi pertanyaan besar di benak Kartini, dan kegalauan hatinya dia curhatkan kepada sahabatnya, Stella. 

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Begitu petikan surat Kartini kepada Estell "Stella" Zeehandelaar.

Oleh karena itu, Kartini sangat terkesan ketika Kyai Sholeh ternyata mengajarinya sesuatu yang sangat dia cari selama ini. Sebanyak 13 juz terjemah Al-Quran dan tafsirnya, mulai dari Al-Fatihah hingga Ibrahim ditulis oleh Kyai Sholeh dan dihadiahkan kepada RA Kartini. Tafsir dan Terjemah itulah yang kemudian diberi judul Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an, yang merupakan kitab terjemah dan tafsir Al-Quran pertama di nusantara. 

RA Kartini sangat tertarik dan mempelajari dengan sebaik-baiknya hadiah dari sang guru tersebut. Kumpulan surat-surat beliau bahkan diberi judul “Door Duisternis Toot Licht” dan oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Sejatinya, kalimat itu berasal dari firman Allah “minadz-dzulumati illa nuur” yang terdapat dalam Al-Baqarah: 257.

Kisah bergurunya RA Kartini kepada Kyai Sholeh ini baru terbuka setelah diceritakan oleh cucu Kyai Sholeh Darat, Nyonya Fadhila Sholeh. Sumber DARI SINI.

Putera Sang Pejuang yang Produktif Menulis

Banyak orang menganggap keilmuan Mbah Sholeh Darat ini menyamai tokoh ulama besar  Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama asal Banten yang menjadi Imam di Masjidil Haram. Beliau lahir di Jepara, sekitar tahun 1820 /1235 H. Saat Perang Diponegoro pecah, beliau masih usia 5 tahun. Ayah beliau, KH Umar, adalah ulama yang bergabung bersama Pangeran Diponegoro saat perang melawan Belanda, dan mendapat medan pertempuran pesisir utara Pulau Jawa.

Kyai Umar mendidik puteranya untuk bisa menjadi ulama besar. Saat masih bocah, Kyai Umar menjadi guru untuk puteranya tersebut. Baru setelah beranjak remaja, Kyai Umar menyuruh sang putera berguru pada sejumlah ulama nusantara seperti Haji Muhammad Saleh Asnawi Kudus, Kyai Haji Ishaq Damaran, Kyai Haji Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni dan sebagainya, Kyai Sholeh pun pergi ke Mekah untuk berhaji dan menetap beberapa tahun untuk belajar agama. Di tanah suci, beliau berguru kepada banyak ulama besar seperti ulama-ulama besar, antara lain Syekh Muhammad al-Muqri, Syekh Muhammad ibn Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrawi, Sayyid Muhammad Salen ibn Sayyid Abdur Rahman az-Zawawi, Syekh Zahid, Syekh Umar asy-Syami, Syekh Yusuf al-Mishri dan lain-lain. 

Setelah sekian lama belajar di Mekah, Kyai Sholeh pun kemudian mengajar, khususnya sejumlah murid asal Melayu yang merantau untuk mencari ilmu di Mekah.

Sepulang dari Tanah Suci, beliau mendirikan pondok pesantren di Semarang, dan sejumlah murid berguru di sana. Murid-muridnya sebagian besar kemudian meneruskan jejak sebagai ulama besar, sebagaimana tersebut di atas.

Kyai Sholeh Darat juga merupakan seorang penulis yang produktif. Beliau menulis puluhan kitab, di antaranya Majmu’ah Asy-Syari’ah Al-Kafiyah li Al-Awam, Al-Hakim, Kitab Munjiyat, Kitab Batha’if At-Thaharah, dan Kitab Faidhir Rahman.

Peran penting beliau dalam sejarah adalah penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa, sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh Belanda. Penjajah itu khawatir jika ajaran Al-Quran dipahami oleh rakyat Indonesia, maka akan muncul bibit-bibit perlawanan terhadap mereka. Susah-payahnya Belanda meredam perlawanan Perang Diponegoro, Imam Bonjol dan kemudian Aceh membuat para ilmuwan Belanda mencoba mencari jawab, apa sebenarnya yang membuat mereka sedemikian kuat melakukan perlawanan. Jawabnya, karena internalisasi ajaran Al-Quran yang begitu kuat, khususnya dalam masalah Jihad fii Sabilillah.

Agar tidak dicurigai, penulisan terjemah Al-Quran pun dilakukan dengan huruf Arab Pegon, yaitu aksara Arab dengan bahasa Jawa. Inilah yang kemudian membuat kalangan Islam mulai memahami ajaran agamanya, dan kemudian mendasari mereka untuk melakukan pembelaan terhadap tanah airnya yang terjajah.

28 Jul 2016

Selamat Datang Prof Muhadjir, Tetaplah Berjuang Pak Anies!


Berbagai hal politik terkini, sering menjadi bahan perbincangan di keluarga saya. Khususnya antara saya dan suami, yang memutuskan untuk selalu update perkembangan politik yang terjadi baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Banyak alasan yang membuat kami tidak ingin cuek atau kudet, suatu saat saya jelaskan di lain kesempatan.

Nah, tema perbincangan kami yang terbaru adalah soal reshuffle kabinet. Ya, publik memang baru diramaikan dengan keluarnya sejumlah nama sekaligus masuknya nama-nama baru di jajaran kabinet. Reshuffle itu hak prerogatif presiden, dilindungi undang-undang. Jadi, menurut kami, sah-sah saja Presiden mau menunjuk, menggeser atau mengganti orang. Lha wong dalam ilmu sains juga berlaku prinsip “like dissolve like” lho. Maksudnya, senyawa polar hanya akan larut dalam senyawa polar. Senyawa nonpolar akan larut dalam senyawa nonpolar. Sedangkan senyawa polar tidak akan larut dalam senyawa nonpolar. Air itu polar, minyak itu non polar. Mereka tidak akan bisa saling “silaturahim” apalagi membentuk koalisi.

Nah, jadi kalau kemudian presiden mengadopsi teori tersebut dalam memilih kabinet, ya sumonggo mawon. Ente nggak usah ribut, hehe. Masalah kemudian ada eks minyak yang tiba-tiba menjadi air, nah itulah rahasia politik yang sulit dijabarkan oleh orang-orang berbasis sains seperti saya.
Eh, malah nggosipin presiden. Nggak enak, beliau kan mantan tetangga saya. Rumahnya cuma satu setengah kilometer jaraknya dari rumah saya, lho.

Nah, kembali ke perbincangan saat sarapan di rumah saya tadi pagi ya... saya rekam sedikit dan saya putar buat Anda.
"Aku sedih Pak Anies diganti," ujarku, saat sarapan pagi tadi.
"Diganti siapa, Mi?" tanya Syahidah, anak saya yang sulung. Nama panggilan dia sebenarnya Anis. Tapi biar membedakan dengan tokoh yang akan saya bahas, di posting ini saya tulis nama depannya saja.
"Prof. Muhajir. Rektor UMM."
"Kenapa Umi sedih Pak Anies diganti?"
"Karena Pak Anies orang baik."
"Emang penggantinya itu orang jahat?"

Glek. Saya terdiam. Celetukan lugu Anis membuat saya tertegun.
Ya, memang Presidenlah yang memilih menteri-menterinya. Tetapi semua tak akan terjadi jika Allah tidak berkehendak.

Nah, sekarang, mari kita lihat profil kedua orang tersebut.

Prof. Muhadjir
Sumber foto: www.timesindonesia.co.id
Prof. Dr. Drs. Muhadjir Effendiy, M.AP ... beliau lahir di Madiun 29 Juli 1956, putra dari Soeroja dan Sri Soebita. Lahir dari keluarga guru madrasah yang aktif berorganisasi. Saat kuliah, beliau aktif sebagai wartawan kampus, dan giat menghidupkan pers kampus. Beliau menempuh pendidikan sarjana muda di IAIN Malang, kemudian meraih gelar sarjana di IKIP Negeri Malang, pendidikan pascasarjana Universitas Gadjah Mada dengan gelar Magister Administrasi Publik (MAP) 1996. Kemudian pada 2008, Prof. Muhadjir berhasil menyelesaikan pendidikan strata tiga bidang sosiologi militer di Program Doktor Universitas Airlangga. Beliau juga menempuh pendidikan tambahan Visiting Program, Regional Security and Defense Policy, National Defense University, Washington D.C. dan Long term course, The Management for Higher Education, Victoria University, British Columbia, Canada.

Kalau dilihat dari pendidikannya, ya beliau ini sudah matang luar dalam. Nah, karir yang beliau tempuh juga tak lepas dari pendidikan. Selama 30 tahun (1986 s.d. 2016) beliau menjadi dosen di IKIP Malang (sekarang UM/Universitas Negeri Malang) dan menjadi Guru Besar Sosiologi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UM. Beliau juga menjabat rektor Universitas Muhamadiyah Malang tiga periode berturut-turut.

Dalam keorganisasian, sejak tahun 1975 beliau aktif di Muhammadiyah, sampai menduduki posisi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi pendidikan, penelitian dan pengembangan, dan kebudayaan. Ditunjuknya beliau sebagai mendikbud, meneruskan tradisi presiden-presiden sebelumnya, yang memberikan kesempatan kader terbaik Muhammadiyah untuk menduduki posisi tertinggi di dunia kependidikan ini.

Ya, kita harus jujur. Dalam dunia pendidikan, beliau sudah makan asam-garam begitu lama. Mari kita bersepakat bahwa beliau adalah salah satu kader terbaik di dunia pendidikan negeri ini.
Selamat datang di kabinet, Prof Muhajir. Tradisi Muhammadiyah menjadi mendikbud kembali dilanjut. Semoga semangat dan kiprah KH Ahmad Dahlan menjadi salah satu penguat langkahmu.

“Yang penting kunci belajar itu harus berpikiran terbuka dan beprasangka baik kepada siapapun.” – K.H. Ahmad Dahlan.

Anies Baswedan

Apa yang paling menarik dari figur beliau? Kalau saya tanya ke barisan ibu-ibu, jawabannya sungguh mengejutkan, “Beliau ganteng!” Nah, mungkinkah karena beliau ganteng ini, maka ketika nama beliau dicoret dari kabinet, banyak sekali yang merasa kehilangan?

Ah, tidak juga!

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D adalah tokoh yang “menyihir” publik dengan visi pendidikannya yang dahsyat. Gerakan Indonesia Mengajar, mendapat publikasi luas di berbagai media dan diapresiasi secara luas. Beliau dianggap sebagai sosok pembaharu yang memberi angin segar terhadap stagnasi pendidikan di Indonesia.

Dari segi pendidikan, profil beliau tak kalah cemerlang. Beliau lulus S1 dari Fakultas Ekonomi UGM, lalu mendapat beasiswa untuk kuliah master di bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park serta melanjutkan S3 di bidang ilmu politik di Northern Illinois University.

Beliau sempat berkarir sebagai peneliti dan koordinator proyek di Pusat Antar-Universitas Studi Ekonomi UGM; manajer riset di IPC, Inc. Chicago; direktur riset The Indonesian Institute; dan kemudian menjadi rektor Universitas Paramadina. Namun, yang paling membuat nama beliau “moncer” adalah ketika menggagas Gerakan Indonesia Mengajar, yang menempatkan sarjana-sarjana terbaik Indonesia ke daerah-daerah terpencil.

Antara Prof Muhadjir dan Anies Baswedan, P.Hd

Nah, dari profil yang saya cantumkan di atas, tampak jelas perbedaan keduanya. Prof Muhadjir adalah praktisi pendidikan, beliau sosok yang sangat berpengalaman, lebih senior, mengerti betul “sistematika, anatomi dan fisiologi”dunia pendidikan Indonesia. Beliau memang tidak terlampau dikenal publik Indonesia, mungkin karena gagasan-gagasan beliau memang tidak sebeda Anies Baswedan. Jika beliau menjadi Mendikbud, prediksi saya adalah beliau akan melanjutkan progres dari tokoh-tokoh pendidikan sebelumnya.

Pak Anies, beliau muda, talented, karimastik, dan penuh gagasan segar. Beliau orang hebat. Tetapi, akan terlalu banyak hal yang dia hadapi saat masuk ke sebuah sistem di mana sebelumnya beliau adalah “orang luar”. Apalagi, basis beliau ada riset. Beliau pastinya akan membuat banyak perubahan-perubahan, tetapi namanya inovator, beliau akan begitu kesulitan melakukan adaptasi-adaptasi dengan sesuatu yang sudah mapan.

Tetapi, tipikal beliau, tak akan kehabisan cara untuk mewujudkan visinya. Jadi, di dalam atau di luar sistem, Pak Anies akan selalu bergerak. Dan bisa jadi, di luar sistem akan membuat beliau lebih lincah, kreatif dan kelak beliau akan menjadi “legenda” bagi Indonesia.


25 Jul 2016

Mengintip Semesta dari Teleskop NASA, eh CASA

Matahari dari balik teleskop. Koleksi Pribadi.

Suasana Pondok Pesantren Modern Assalam, Pabelan, Kartosura, sore itu sangat ramai. Di bangunannya yang megah dan asri, wajah-wajah para orang tua santri baru tampak bersemangat mengantar putra-putrinya untuk mondok di sana. Saya, suami, lengkap dengan 4 bocah saya sudah stand by di masjid, menunggu Mas Muflih Arisa Adnan, salah satu alumni Assalam sekaligus pegiat CASA (Club Astronomy Santri Assalam--singkatanya terkesan mirip NASA yak, hehe), yang masih berstatus sebagai mahasiswa pasca sarjana jurusan Teknik Kimia King Fahd University of Petroleum & Minerals, Dahran, Saudi Arabia. Mas Adnan ini merupakan salah satu alumni santri Assalam yang mendapatkan kepercayaan ikut mengelola CASA.

Yup, itu dia Mas Adnan, yang ganteng seperti Ridho Roma (sst, dia masih saudara lho, dengan kami), sudah datang. Tak sabar anak-anak berjalan menuju Observatorium Assalam yang berlokasi di belakang Aula Assalam Center. “Kita akan naik ke lantai 6, yaa…,” ujar Mas Adnan. Wiiih, lantai 6 tanpa lift? Meski menggendong si kecil Fatihan, saya tetap bersemangat.

Untungnya, di setiap lantai, ada ruang-ruang ber-AC yang berisi aneka peralatan dan kegiatan para santri yang bergabung di CASA. Misalnya, di lantai 4, kami bisa melihat foto-foto hasil peneropongan para santri yang dicetak ukuran besar. Ada planet-planet, galaksi, nebula dan sebagainya. Subhanallah. Dari foto-foto yang terpajang, teori bumi datar yang akhir-akhir ini sedang rame “dipaksakan” untuk diyakini, patah sudah. Ustadz AR Sugeng Riyadi, Pembina CASA yang juga hadir di sana hanya tersenyum tipis saat saya bertanya soal isu bumi datar. “Nggak usah teori macam-macam, datang saja saat rukyah hilal jelang puasa, nanti terlihat bukti jelas sekali bahwa bumi bulat.”

Di lantai 5, kami akan meneropong matahari. “Apa nggak silau, Mas?” Tanya Rama, anak saya nomor dua, yang terlihat paling antusius.
Mas Adnan sedang merangkai teleskop. Foto: koleksi pribadi
“Pakai ini, Dik!” jawab Mas Adnan, sambil memperlihatkan benda bulat pipih. “Ini filter matahari. Kalau tanpa ini, kertas saja bisa terbakar, apalagi mata kita.”

Suami saya kemudian menjelaskan teknik membuat api dengan mengarahkan lensa ke matahari untuk membentuk titik api. Saya yang agak lupa-lupa ingat teori itu ikut manggut-manggut.

Mas Adnan pun merangkai teleskop yang telah dikalibrasi dan dimasuki database, sehingga lensanya dengan otomatis bisa bergerak mengikuti posisi matahari. “Nah, sudah siap nih, teleskopnya, siapa mau meneropog matahari?”

Anis dan Rama menjadi yang pertama, berebut mereka meneropong matahari. “Kok kayak telor ceplok, ya Mi!” teriak mereka, girang. Ipan cemberut karena tidak mendapatkan giliran pertama. Namun cemberutnya segera pudar setelah akhirnya dia berkesempatan meneropong.

Yeiiiy, akhirnya neropong jugaaa...
Satu persatu dari kami pun mencoba mencicipi kemewahan mengintip semesta, termasuk saya. Hmmm, matahari sedang bersih dari aneka spot. Berwarna orange cerah. Indah sekali. Mas Adnan kemudian menyarankan saya untuk memotret dengan menempelkan kamera HP ke teleskop. Oh, ternyata susah juga ya, mendapatkan foto yang bagus. HP selalu goyah, sehingga gambarnya hilang, atau pudar saat saya mencoba menjepretnya. Namun, setelah berusaha berkali-kali, akhirnya saya dapatkan juga foto yang lumayan bagus, meski apa yang saya lihat dari balik teleskop jelas jauuuuh lebih bagus
.
“Berapa harga satu teleskop ini, Mas?” tanyaku pada Mas Adnan, iseng.
“Sekitar 40 juta rupiah, Bulik,” jawabnya.

Wow! Lumayan mihil. Padahal tadi, di ruangan saya lihat ada beberapa kotak besi berisi rangkaian teleskop. Menurut Ustadz Sugeng, total dana yang dikucurkan untuk membuat Observatorium Assalam mencapai sekitar setengah Milyar. Itu belum gedungnya yang lantai enam. Untuk sebuah instansi swasta, pondok pesantren pula (tapi ponpesnya Assalam, lho…), dengan jenjang pendidikan hanya MTs dan SMA/MA/SMK, ini sebuah terobosan luar biasa. Sebuah perguruan tinggi saja belum tentu punya.
“Benar-benar sebuah idealisme yang luar biasa ya, Ustadz,” puji saya, salut.

“Ya, cara untuk mendekatkan diri santri dengan kemahabesaran Allah SWT, dengan seperti ini,” ujar Ustadz Sugeng. Ya, betul sekali. Sebab, ayat-ayat Allah, bukan hanya yang tertera di kitab suci, tetapi juga yang terbentang di alam semesta.

Mempelajari astronomi sungguh banyak memberi hikmah. “Anda tahu, kalender yang ada di rumah-rumah kita, dibuat dari pergerakan tiga benda langit, yaitu bulan, matahari dan bumi. Dan selama ini, tidak pernah salah. Ya, kecuali 10 hari di kalender Masehi yang pernah dihapus dari kalender untuk menyesuaikan diri.” Papar Ustadz Sugeng. “Jadi, dari 2016 tahun masehi, hanya membutuhkan penyesuaian 10 hari.”

“Sepuluh hari yang dihapus?” saya tertarik untuk menelisik lebih lanjut.

“Ya, 10 hari dihapus dari kalender yakni 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 di keesokan harinya.”

Ketika saya mencoba searching, memang pada Pada abad ke-16, equinox bergeser 10 hari, bulan baru bergeser 10 hari dari perhitungan kalender, sehingga berdasarkan Rekomendasi Paus Gregorius XIII: 10 hari dihapus dari kalender, 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 di keesokan harinya (sumber: KLIK SINI). Equinox adalah salah satu fenomena astronomi yang rutin, dua kali setahun. Fenomena Equinox muncul karena sumbu utara-selatan Bumi tidak tegak lurus terhadap garis lintasan orbit Bumi terhadap Matahari (sumber: KLIK SINI).

Keberadaan Observatorium Assalam memang cukup menarik perhatian publik Solo akhir-akhir ini. Khususnya jelang Ramadhan dan Syawal, Observatorium Assalam menjadi salah satu pihak yang paling banyak dijadikan rujukan terkait dengan rukyah hilal yang mereka lakukan menggunakan peralatan canggih yang mereka miliki.

“Kenapa tidak mengambil kuliah di bidang astronomi saja?” Tanya saya pada Mas Adnan yang S1 dan S2-nya justru mengambil Teknik Kimia.
“Kalau dia ambil astronomi, dia tidak akan belajar kimia,” gurau Ustadz Sugeng.
“Hobbi, seringkali membuat kita lebih “gila” mempelajari sesuatu, Bulik,” kata Adnan.
Hm… ini quotes yang harus berbalik ke saya. Saya juga tidak belajar sastra secara formal, tapi saya bisa gila-gilaan dalam menulis dan membaca karya-karya sastra.

Oke, sebuah sore yang tak akan terlupakan dalam hidup saya. Kami pun berpamitan kepada Mas Adnan dan Ustadz Sugeng. Anak-anak menuruni tangga dengan wajah cerah dan penuh semangat.
“Bi, sekarang cita-citaku tidak dokter lagi, tapi mau jadi astronot!” kata Ipan, anak ketiga kami (5 tahun), mantap. Suamiku hanya nyengir mendengar celoteh Ipan.