Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email
Selamat Datang di Catatan Afifah Afra
Berbagi membuat hidup lebih berarti
Berkarya membuat jiwa semakin kaya.
Selamat Datang di Catatan Afifah Afra...
Berbagi membuat hidup lebih berarti
Berkarya membuat jiwa kian kaya.
Selamat Datang di Catatan Afifah Afra...
Berbagi membuat hidup lebih berarti
Berkarya membuat jiwa kian kaya.
Selamat Datang di Catatan Afifah Afra...
Berbagi membuat hidup lebih berarti
Berkarya membuat jiwa kian kaya.

25 Jul 2016

Mengintip Semesta dari Teleskop NASA, eh CASA

Yeni Mulati Afifah Afra
Matahari dari balik teleskop. Koleksi Pribadi.

Suasana Pondok Pesantren Modern Assalam, Pabelan, Kartosura, sore itu sangat ramai. Di bangunannya yang megah dan asri, wajah-wajah para orang tua santri baru tampak bersemangat mengantar putra-putrinya untuk mondok di sana. Saya, suami, lengkap dengan 4 bocah saya sudah stand by di masjid, menunggu Mas Muflih Arisa Adnan, salah satu alumni Assalam sekaligus pegiat CASA (Club Astronomy Santri Assalam--singkatanya terkesan mirip NASA yak, hehe), yang masih berstatus sebagai mahasiswa pasca sarjana jurusan Teknik Kimia King Fahd University of Petroleum & Minerals, Dahran, Saudi Arabia. Mas Adnan ini merupakan salah satu alumni santri Assalam yang mendapatkan kepercayaan ikut mengelola CASA.

Yup, itu dia Mas Adnan, yang ganteng seperti Ridho Roma (sst, dia masih saudara lho, dengan kami), sudah datang. Tak sabar anak-anak berjalan menuju Observatorium Assalam yang berlokasi di belakang Aula Assalam Center. “Kita akan naik ke lantai 6, yaa…,” ujar Mas Adnan. Wiiih, lantai 6 tanpa lift? Meski menggendong si kecil Fatihan, saya tetap bersemangat.

Untungnya, di setiap lantai, ada ruang-ruang ber-AC yang berisi aneka peralatan dan kegiatan para santri yang bergabung di CASA. Misalnya, di lantai 4, kami bisa melihat foto-foto hasil peneropongan para santri yang dicetak ukuran besar. Ada planet-planet, galaksi, nebula dan sebagainya. Subhanallah. Dari foto-foto yang terpajang, teori bumi datar yang akhir-akhir ini sedang rame “dipaksakan” untuk diyakini, patah sudah. Ustadz AR Sugeng Riyadi, Pembina CASA yang juga hadir di sana hanya tersenyum tipis saat saya bertanya soal isu bumi datar. “Nggak usah teori macam-macam, datang saja saat rukyah hilal jelang puasa, nanti terlihat bukti jelas sekali bahwa bumi bulat.”

Di lantai 5, kami akan meneropong matahari. “Apa nggak silau, Mas?” Tanya Rama, anak saya nomor dua, yang terlihat paling antusius.
Mas Adnan sedang merangkai teleskop. Foto: koleksi pribadi
“Pakai ini, Dik!” jawab Mas Adnan, sambil memperlihatkan benda bulat pipih. “Ini filter matahari. Kalau tanpa ini, kertas saja bisa terbakar, apalagi mata kita.”

Suami saya kemudian menjelaskan teknik membuat api dengan mengarahkan lensa ke matahari untuk membentuk titik api. Saya yang agak lupa-lupa ingat teori itu ikut manggut-manggut.

Mas Adnan pun merangkai teleskop yang telah dikalibrasi dan dimasuki database, sehingga lensanya dengan otomatis bisa bergerak mengikuti posisi matahari. “Nah, sudah siap nih, teleskopnya, siapa mau meneropog matahari?”

Anis dan Rama menjadi yang pertama, berebut mereka meneropong matahari. “Kok kayak telor ceplok, ya Mi!” teriak mereka, girang. Ipan cemberut karena tidak mendapatkan giliran pertama. Namun cemberutnya segera pudar setelah akhirnya dia berkesempatan meneropong.

Yeiiiy, akhirnya neropong jugaaa...
Satu persatu dari kami pun mencoba mencicipi kemewahan mengintip semesta, termasuk saya. Hmmm, matahari sedang bersih dari aneka spot. Berwarna orange cerah. Indah sekali. Mas Adnan kemudian menyarankan saya untuk memotret dengan menempelkan kamera HP ke teleskop. Oh, ternyata susah juga ya, mendapatkan foto yang bagus. HP selalu goyah, sehingga gambarnya hilang, atau pudar saat saya mencoba menjepretnya. Namun, setelah berusaha berkali-kali, akhirnya saya dapatkan juga foto yang lumayan bagus, meski apa yang saya lihat dari balik teleskop jelas jauuuuh lebih bagus
.
“Berapa harga satu teleskop ini, Mas?” tanyaku pada Mas Adnan, iseng.
“Sekitar 40 juta rupiah, Bulik,” jawabnya.

Wow! Lumayan mihil. Padahal tadi, di ruangan saya lihat ada beberapa kotak besi berisi rangkaian teleskop. Menurut Ustadz Sugeng, total dana yang dikucurkan untuk membuat Observatorium Assalam mencapai sekitar setengah Milyar. Itu belum gedungnya yang lantai enam. Untuk sebuah instansi swasta, pondok pesantren pula (tapi ponpesnya Assalam, lho…), dengan jenjang pendidikan hanya MTs dan SMA/MA/SMK, ini sebuah terobosan luar biasa. Sebuah perguruan tinggi saja belum tentu punya.
“Benar-benar sebuah idealisme yang luar biasa ya, Ustadz,” puji saya, salut.

“Ya, cara untuk mendekatkan diri santri dengan kemahabesaran Allah SWT, dengan seperti ini,” ujar Ustadz Sugeng. Ya, betul sekali. Sebab, ayat-ayat Allah, bukan hanya yang tertera di kitab suci, tetapi juga yang terbentang di alam semesta.

Mempelajari astronomi sungguh banyak memberi hikmah. “Anda tahu, kalender yang ada di rumah-rumah kita, dibuat dari pergerakan tiga benda langit, yaitu bulan, matahari dan bumi. Dan selama ini, tidak pernah salah. Ya, kecuali 10 hari di kalender Masehi yang pernah dihapus dari kalender untuk menyesuaikan diri.” Papar Ustadz Sugeng. “Jadi, dari 2016 tahun masehi, hanya membutuhkan penyesuaian 10 hari.”

“Sepuluh hari yang dihapus?” saya tertarik untuk menelisik lebih lanjut.

“Ya, 10 hari dihapus dari kalender yakni 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 di keesokan harinya.”

Ketika saya mencoba searching, memang pada Pada abad ke-16, equinox bergeser 10 hari, bulan baru bergeser 10 hari dari perhitungan kalender, sehingga berdasarkan Rekomendasi Paus Gregorius XIII: 10 hari dihapus dari kalender, 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 di keesokan harinya (sumber: KLIK SINI). Equinox adalah salah satu fenomena astronomi yang rutin, dua kali setahun. Fenomena Equinox muncul karena sumbu utara-selatan Bumi tidak tegak lurus terhadap garis lintasan orbit Bumi terhadap Matahari (sumber: KLIK SINI).

Keberadaan Observatorium Assalam memang cukup menarik perhatian publik Solo akhir-akhir ini. Khususnya jelang Ramadhan dan Syawal, Observatorium Assalam menjadi salah satu pihak yang paling banyak dijadikan rujukan terkait dengan rukyah hilal yang mereka lakukan menggunakan peralatan canggih yang mereka miliki.

“Kenapa tidak mengambil kuliah di bidang astronomi saja?” Tanya saya pada Mas Adnan yang S1 dan S2-nya justru mengambil Teknik Kimia.
“Kalau dia ambil astronomi, dia tidak akan belajar kimia,” gurau Ustadz Sugeng.
“Hobbi, seringkali membuat kita lebih “gila” mempelajari sesuatu, Bulik,” kata Adnan.
Hm… ini quotes yang harus berbalik ke saya. Saya juga tidak belajar sastra secara formal, tapi saya bisa gila-gilaan dalam menulis dan membaca karya-karya sastra.

Oke, sebuah sore yang tak akan terlupakan dalam hidup saya. Kami pun berpamitan kepada Mas Adnan dan Ustadz Sugeng. Anak-anak menuruni tangga dengan wajah cerah dan penuh semangat.
“Bi, sekarang cita-citaku tidak dokter lagi, tapi mau jadi astronot!” kata Ipan, anak ketiga kami (5 tahun), mantap. Suamiku hanya nyengir mendengar celoteh Ipan.

23 Jul 2016

Monolog Seorang Bunda Kepada Anak-Anaknya

Yeni Mulati Afifah Afra

Anak-anakku, haruskah bunda menjelma jadi ayam betina
Gagah, buas dan selalu menatap penuh curiga
Menjaga telur-telurnya hingga menetas jadi makhluk jelita
Atau, haruskah bunda menjelma jadi serigala 
Yang lebih kuat dari serigala-serigala lainnya
Karena manusia adalah serigala bagi sesamanya
Begitu kata Thomas Hobbes, Anakku tercinta...

Bukannya ingin menghempas cinta dan segala keindahan
Bukannya ingin jadi si kejam tanpa perikemanusiaan
Bunda hanya tak tahu lagi bagaimana harus menjaga kalian
Kita hidup di alam yang kian anarkis, biadab, tuna kesopanan
Penculikan, penyiksaan, pelecehan, perkosaan, pembunuhan
Kini menjadi bayang-bayang yang menakutkan

Senyum yang membingkas, beraroma binatang buas
Mata yang menatap, dimuati jerat kesumat
Bumi yang damai, robek dijejali manusia bejat
Sementara, tuan-puan di sana, entah kenapa enggan beri jaminan
Sehingga makhluk lemah seperti kita, selalu dicekam ketakutan
Ataukah, mereka juga takut seperti apa yang kita rasakan?

Anakku, mari mendekat kemari, akan kupeluk kalian
Dengan sayap ayam betina Bunda, yang lindungi kalian
Dan dengan cakar serigala yang siap Bunda hujamkan
Kepada siapa saja yang akan robek kedamaian kalian

Solo23072016

--Selamat Hari Anak Nasional--
#SaveAnakIndonesia

@afifahafra79

22 Jul 2016

Musibah Bernama: The Loss of ‘Adab’

Yeni Mulati Afifah Afra
Suatu hari, saya stalking di wall seorang aktivis. Cukup lama waktu saya tersedot ke sana. Oh, ternyata sedang ada diskusi yang “panas” di sana. Belasan orang saling beradu argumentasi. Awalnya sih, terlihat ilmiah. Lama-lama jadi debat kusir. Dan akhirnya semakin kehilagan kendali sehingga keluarlah kalimat-kalimat yang tidak layak disampaikan. Perihnya, belasan orang tersebut ternyata bukan orang-orang bodoh. Mereka berilmu, dan aktif dalam pergerakan Islam di negeri ini. Kasus-kasus semacam itu tidak satu dua kali saya lihat. Adu argumen, adu dalil, bahkan adu fatwa dan adu jotos. Saling blokir, saling remove, juga saling melaporkan akun media sosial.

Di manakah letak Islam yang katanya damai, penuh kesejukan dan rahmatan lil ‘alamin? Mengapa begitu masuk ke sebuah organisasi keislaman, kita sepertinya sangat gerah melihat perbedaan dan dengan segera ingin “menghajarnya”? Demikian juga, seringkali kita tidak menghormati yang lebih tua, dan menabrak unggah-ungguh alias tata karma yang berlaku. Lisan kita terlalu mudah protes dan tajam, sampai-sampai tak sadar telah menyakiti orang lain.

Ada satu pemikiran menarik dari Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, tokoh pemikir muslim terkemuka sekaligus pendiri The International Institute of  Islamic Thought and Civiliation (ISTAC), Malaysia. Menurut beliau, bencana terbesar yang menimpa kaum muslimin adalah the loss of adab, alias  hilangnya adab. Adab merupakan syarat terbentuknya adil. Lawan dari adil adalah zalim. Jadi, hilangnya adab membuat kita cenderung tidak adil alias zalim. 

Dalam KBBI, adab didefinisikan sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, akhlak. Menurut para fuqaha, adab adalah melaksanakan sesuatu, berbahasa, bertingkah laku dengan benar dan bagus, dan senantiasa menghiasi diri dengan hiasan orang-orang yang memiliki keutamaan. Imam Bukhari bahkan menulis kitab khusus tentang adab berjudul al- Adab al-Mufrad yang berisi hadits-hadits Rasulullah tentang adab. 

Sedangkan menurut Prof Al-Attas sendiri, adab adalah amalan, tindakan, dan perbuatan yang benar.  “Adab is coming from hikmah,”  tulisnya. Adab lebih luas daripada akhlak, karena cakupan interaksinya juga lebih luas. 

KH Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa “syariat mewajibkan adab; barangsiapa tidak beradab, maka dia tidak bersyariat.” (Husaini, 2015: 170). 

Berabad-abad Islam berjaya di muka bumi karena para pejuangnya tidak meninggalkan adab. Adab membuat kaum muslim saling bersatu, dan lawan pun terpesona pada keindahannya. Segala sesuatu ada adabnya. Bahkan dalam masalah peperangan.

Namun, konsep adab kemudian rusak begitu kaum muslimin beriteraksi dengan konsep keilmuan ala barat. Masyarakat barat lebih menekankan nilai-nilai kehidupan pada kebebasan, individualisme, pragmatisme dan mendewakan logika dan ilmu sebagai solusi kehidupan. 

Konsep barat tersebut ‘berseteru’ dengan konsep adab dalam islam.  Sebab, dalam islam, adab lebih didahulukan dari ilmu.  Para salafus shalih mengajarkan kepada kita betapa adab adalah tanda tingginya ilmu, wara’ dan tawadhu’ seseorang.  Karena itulah, Imam Malik pernah menasihati seorang pemuda, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Imam Ibnul Mubarak berkata:  “Aku belajar adab selama 30 tahun, dan aku belajar ilmu selama 20 tahun.”

Sementara, Imam Ibnu Hanifah mengungkapkan, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.” 

Jika melihat fenomena saat ini, tampaknya pernyataan Prof Al-Attas di atas tak bisa kita bantah. Kita melihat jelas, bagaimana kaum muslimin saling menyerang, mengkafirkan, berkhianat, menelikung, menggembosi dan sebagainya. Kita hancur bukan karena diserang, namun karena saling berpecah belah dan membusuk. Ya, sedang ada sebuah bahaya besar menimpa kaum muslimin berupa  the loss of adab. Mari jangan hanya diam!




15 Jul 2016

Jilbab Traveler LSIK: Film Romance yang Bikin Baper

Yeni Mulati Afifah Afra
"Kamu mencuri mimpiku, dan aku suka...," ujar Rania Timur Samudra, sembari menatap syahdu ke arah lelaki berambut awut-awutan yang baru saja lepas dari frustasi yang mendalam di depannya. Tidak ada sentuhan fisik dalam adegan yang berlangsung di puncak bukit yang indah di Korea Selatan. Namun, suasana romans yang santun menguar dan menembus hingga ke tulang sumsum (sedikit lebay, hehe). Kalimat yang diucapkan Rania itu, ternyata merupakan inti dari film berdurasi sekitar dua jam ini... Lha, kok? Baca saja review sederhana ini untuk mendapat jawabannya, ya... nah, kalau ternyata dalam review ini belum didapatkan jawaban yang memuaskan, saya anjurkan Anda nonton filmnya, hehe. Soalnya, sebagai pe-review, ada etika tidak boleh bikin spoiler, getooo.

Pas memutuskan nonton film ini, saya memutuskan untuk tidak menyetel mindset pada ekspektasi berlebihan. Asal bisa mendapat pencerahan sekaligus hiburan yang segar, itu sudah cukup bagi saya. Sebab, kalau bicara selera, sejatinya saya menyukai film-film rumit dan detail, dengan tema-tema yang agak mikir, dan itu sulit saya dapatkan dari film-film dalam negeri. Karena Forum Lingkar Pena merupakan salah satu komunitas yang secara resmi mendukung film ini (logo FLP dipasang gede di akhir film lhooo...), plus rekomendasi dari teman-teman SuFi (Suka Film hehe) yang saya kantongi, itulah yang membuat film ini masuk pilihan saya. JTSLIK tetap tak tergantikan meski berbarengan dengan film ini ada sederet film lain. Sabtu Bersama Bapak dan Rudie Habibie, itu saingan beratnya. Film lain, saya kurang tertarik.

Hari Selasa, 12 Juli 2016, jam 11.00 saya mengajak anak sulung saya, Anis meluncur ke Bioskop, rencananya sih mau ambil show yang jam 12.00. Datang lebih awal karena lokasi bioskop 21 Solo Square ada di jalur utama yang dilewati arus balik, hampir dipastikan macet. Sampai di 21 Solo Square on time sih, tapi ternyata antre tiket lumayan wow, membentuk 3 "ular panjang" yang dibatasi tali oleh petugas. Kebanyakan para remaja yang mau nonton film-film macam ILY from 38.000 Ft  atau Koala Kumal, banyak juga penonton keluarga yang memilih Rudie Habibie dan Sabtu Bersama Bapak. Tapi studio 5 tempat JTSLIK diputar juga nyaris penuh. Lumayan juga... untuk mendapatkan 2 tiket saya harus nunggu 30 menit. 

"Film sudah jalan setengah jam, Bu," ujar petugas tiket sambil tersenyum ramah.
"Ambil show berikutnya saja, Mi," bisik Anis. Saya mengiyakan. Anis tertawa senang. Modus tuh anak! Sebab satu setengah jam menunggu, pasti akan kami gunakan untuk main ke Toko Buku Gramedia yang ada di lantai bawah bioskop. Dan memang benar dugaan Anis. Kami main ke sana, dan dia sukses merayu saya untuk membayari dua buku pilihannya.

Di Antara Dua Cinta
Oke, jadi akhirnya kami nonton show yang jam 14.15. Film dimulai dengan pembuka yang mengharukan, tentang tiga bocah bernama Tia, Rani dan Eron yang berkejaran dengan kereta api yang "membawa pergi mimpi-mimpi mereka". Haru, karena tiga bocah itu adalah sosok yang saya kenal baik di alam nyata. Tia adalah Helvy Tiana Rosa, Rani adalah Asmarani Rosalba (Asma Nadia) dan Eron adalah si bungsu. Ya, Jilbab Traveler Love Spark in Korea ini memang novel semi biografi dari Asma Nadia. "Jilbab Traveler" mungkin lebih tepat ditujukan sebagai julukan Asma Nadia, bocah yang sejak kecil sakit-sakitan karena memiliki masalah pada paru-paru, jantung, gegar otak, dan tumor, dan bahkan karena itu dia tidak mampu meraih gelar sarjana. Namun, kerja keras dan karya yang dihasilkan, dia mampu terbang mengelilingi 60 negara dan 288 kota di dunia. Tidak semua cerita di sini merupakan biografi, sebagian fiksi... atau mungkin impian Mbak Asma Nadia sendiri, hahaha.

Rania (diperankan dengan apik oleh Bunga Citra Lestari), penulis terkemuka Indonesia, sang jilbab traveler, memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena sang ayah sakit. Namun, begitu bertemu, sang ayah justru menyuruhnya pergi ke Kawah Ijen, Baluran dengan misi mencari sesuatu yang akan menjadi pelabuhan jiwa. Sang ayah sangat percaya, karena di sanalah dia bertemu dengan perempuan yang akhirnya dia nikahi dan menjadi ibu bagi Rania dan kedua kakaknya, Eron dan Tia.

Rania pun pergi ke Baluran. Dan begitu adegan berpindah ke sana, saya langsung dibuat terpana dengan pemandangan Kawah Ijen. Duh, bagaimana mungkin sebagai orang Indonesia saya belum menjelajahi tempat seeksotis itu? Masuk agenda deh... next time. Yaa... jika Rania bertemu cinta sejatinya di sana, setidaknya saya bisa menguatkan cinta sejati saya dengan kanda tercinta ... cieee.... :-D

Jadi, siapa sosok yang ditemui Rania di Baluran? Apakah fotografer asal Korea yang cuek berambut gondrong awut-awutan namun ganteng dan apa adanya bernama Hyun Geun (Morgan Oey) yang dia jumpai di sana? Atau Ilhan (Giring Ganesha), pemuda santun, dewasa dan baik hati yang menjemputnya untuk mengabarkan bahwa sang ayah telah tiada?

Konflik yang akhirnya berkembang di film ini memang akhirnya Rania yang terjebak pada dua lelaki yang sama-sama menginginkannya menjadikannya belahan jiwa. Siapa yang akhirnya Rania pilih? Si X. Tetapi, takdir dan dorongan hati membawa Rania menjatuhkan hati ke si Y. Salah satu "takdir" adalah ketika Rania akhirnya mendapat undangan mengikuti Writers in Residence di Gangwon, Korea Selatan. Gang Won, tempat indah di mana Rania menjelajahi keindahan alam di sana, tetapi juga harus berhadapan dengan sebuah kenyataan yang pahit.

Siapa X dan siapa Y? Akan terjawab ketika Anda menonton filmnya...

Berbagai Kelebihan
Bicara kelebihan, mungkin subjektif, alias berbeda-beda antara saya dengan pembaca sekalian. Nanti kita bisa saling sharing, ya.... tetapi, menurut saya, view alias pemandangan yang digeber di film ini menduduki pesona pertama, alias juara di mata saya. Selain pesona Baluran, pemandangan Gang Won, dari suasana kota, pedesaan, bukit, lembah hingga salju yang keren juga diumbar tanpa pelit. Begitu memanjakan mata. Setting yang indah bisa menjadi "wakil mata untuk memandang dan kaki untuk menjejak" bagi orang-orang seperti saya yang memiliki keterbatasan, di antaranya masih momong anak-anak kecil, untuk menjelajah dunia. 

Oke... itu soal view. Kedua, soal akting. Saya mengapresiasi Bunga Citra Lestari dan Morgan Oey yang cukup total dalam berakting. BCL sukses memerankan Rania yang cerdas, baik hati, santun dan agak peragu alias tidak berani mengambil keputusan. Morgan Oey sukses memerankan fotografer cuek yang apa adanya. Sementara aktifng Giring Ganesha agak datar, mungkin karena perannya sebagai Ilhan memang karakternya relatif  begitu-begitu saja.Namun, peran yang paling saya sukai justru Dewi Yul yang bahasa tubuhnya mampu dengan apik memerankan seorang ibu yang sangat memahami siapa anaknya. Sedangkan peran yang berhasil menyegarkan suasana adalah akting Ringgo Agus (sebagai Alvin) yang cukup mampu "mengatur suhu" film ini. Alvin yang kocak, seakan sebuah variabel mediasi, tak berperan langsung, namun keberadaannya cukup dominan, dan sukses membuat para penonton terus ger-geran sepanjang film  ditayangkan.

Jalan cerita film ini sebenarnya relatif "easy", khususnya bagi pecinta kerumitan dan plot yang kompleks macam saya. Tapi ke-easy-an itu bikin saya malah fokus menikmati plot, dan feel yang dibangun juga dapat. Bahasa gampangnya, saya ikut baper gitu... hehe.

Terakhir, pesan pesan dakwah film ini sebenarnya kental, tetapi terasa begitu smooth, tidak menggurui, manis. Misal isu tentang Palestina yang dikemas dalam sudut pandang seorang traveler. Jika dicermati, Palestina bahkan menjadi penentu dari keputusan Rania memilih Y. (Siapa Y? Sekali lagi, tonton saja filmnya, hehe...). Namun pentingnya nilai Palestina dalam film ini tidak diorasikan sebagaimana khotbah Jumat, akan tetapi berjalan begitu alami dan masuk dalam alur cerita ini. Begitu juga dengan bagaimana Hyun Geun yang akhirnya menyadari bahwa sebagai muslim alkohol itu haram, memilih meninggalkan soju (minuman keras khas Korea Selatan) yang selama ini menjadi tradisi dan sangat lekat dalam kehidupannya dan kehidupan masyarakat Korea Selatan pada umumnya. Berbagai isu yang menyerang Islam, juga dijawab oleh para penyambung lidah Islam di film itu, baik Rania maupun Hyun Geun, bahkan Alvin, dengan cerdas dan santun.

Beberapa Kritik dan Saran
Salah satu komentar dari seorang teman ketika saya mengajak sharing tentang film ini adalah: "Ini sekuel Assalamu'alaikum Beijing, harusnya judulnya Assalamu'alaikum Korea," begitu candanya. Maksudnya, film ini begitu banyak kemiripan dengan salah satu novel Asma Nadia yang difilmkan dan sempat booming itu, apalagi tokoh lelakinya juga diperankan Morgan Oey. 

Saya juga merasakan ada beberapa kejanggalan dalam logika. Pertama, merasa janggal dengan ibu-ibu yang diasuh oleh Ilhan dan Rania lewat sebuah organisasi pemberdayaan perempuan. Katanya Kejar Paket C, tapi kok pelajarannya latihan membaca? Kejar Paket C kan setara SMA. Berarti pesertanya harus lulusan SMP atau Kejar Paket B, yang pastinya harus sudah bisa membaca dan menulis dengan lancar.

Janggal yang selanjutnya adalah kemunculan Alfin sebagai staf kedutaan besar RI Korea yang ternyata menjadi guide Rania di acara Writers in Residence. Ya bisa aja sih, dilogis-logiskan. Misalnya, diam-diam Alfinlah yang ternyata merekomendasikan Rania untuk ikut Writers in Residence di Korsel. Tapi ini membuat alur dalam film ini terkesan Lo lagi Lo lagi..." Eh, ngomong-ngomong soal Writers in Residence di Korsel nih..., saya berdoa semua suatu saat menyusul Mbak Asma Nadia dan mbak Sinta Yudisia yang telah sukses jadi alumni program tersebut. Aminkan, dong! :-D

Saya juga agak menyayangkan tentang kurangnya sorotan aktivitas Rania sebagai penulis. Jarang ada tuh, profesi penulis diangkat dalam sebuah film. Mestinya berbagai isu pentig dunia kepenulisan dan literasi bisa dikampanyekan di film ini.

Lepas dari itu, menurut saya, "Jilbab Traveler Lovespark in Korea" ini sangat pantas ditonton, melebihi ekspektasi saya saat baru berencana nonton. Filmnya menghibur, alurnya bikin seger, view menarik dan kisah cintanya... dewasa. Maksudnya tidak childish

"Cinta itu rumit, ya Mi..." ujar Anis, yang memang sudah mulai menginjak usia ABG. 
"Tidak, asal kita memiliki cukup kebijaksanaan dan kedewasaan dalam menyikapi," ujar saya. Ya, cukup kebijaksanaan dan kedewasaan. Karena cinta itu adalah upaya membuat yang kita cintai senantiasa bahagia. Dan, cinta tak selalu harus memiliki.

Jadi, siapa yang akhirnya memiliki Rania? Hyun Geun atau Ilhan? Kalau Anda jadi Rania, Anda pilih siapa?

Yuk ah nonton segera. Keburu turun layar!

12 Jul 2016

Selamat Jalan, Neysa Nur Azlya

Yeni Mulati Afifah Afra
Sumber foto: kaltim.prokal.co

Anakku, Azlya... pasti kau tidak kenal siapa aku. Kita bahkan tak pernah bertemu. Aku dan orang tuamu pun tak pernah saling bersua. Namun, karena aku seorang ibu, dan ada salah satu anakku sebaya denganmu, aku merasa begitu dekat denganmu. Apalagi, kedua orangtuamu pun memiliki cita-cita dan visi hidup yang sama. Karena itu, izinkan aku menyebutmu sebagai anakku. Izinkan aku labuhkan rasa kasih dan sayangku. Meski aku sadar, di dunia ini, kita jelas tak akan bertemu. Ya, kau telah meninggalkan dunia. Kau telah tenang di alam sana....

Entah apa yang berada di benak sang pembunuh, sehingga tega melenyapkan nyawamu, Anakku. Padahal, kau hanya bocah lima tahun yang imut dan lugu. Ibarat kertas, kamu masih putih, bersih, tanpa coretan. Apa salahmu sehingga kau diperlakukan seperti itu? Iblis semacam apa yang merasuki jiwanya. Seandainya diizinkan, aku ingin membelah dadanya dan melihat, terbuat dari apa hatinya. Sampahkah? Kotoran binatangkah?

Pembunuh terkutuk! Laknat Allah untuknya.

Bisa kubayangkan betapa hancurnya perasaan orang tuamu, saat pada hari itu, Ahad 10 juli 2016, sekitar pukul 10.00 Wita, ditemukan jasad seorang anak perempuan berusia lima tahun yang ternyata jasadmu. Jangankan keluarga, aku sendiri merasa kelu, nyeri, tubuhku merinding dan perasaan seakan ditusuk-tusuk sembilu membaca berita itu. 

Menurut Situs Online Republika, jasadmu ditemukan di semak-semak dan tertutup dahan pohon kelapa. Di tangan sebelah kanan korban terdapat luka bakar yang cukup parah. Luka itu yang mengindikasikan bahwa kau adalah korban pembunuhan. Ya, kau dibunuh dan dibakar. Ya Rabb...

Neysa Nur Azlia, nama yang indah. Ketika memberi nama kepadamu, saat kau masih bayi mungil jelita, ayahmu, Ustadz Faturrahman, yang seorang aktivis dakwah di Sangkurilang, Kutai Timur pasti memiliki harapan yang sangat besar untukmu. Neysa, apakah berasal dari bahasa sansekerta Naisa yang artinya bayi istimewa? 

Azlya, harapan orang tuamu padamu pasti sangat besar. Tetapi, pembunuh terkutuk itu telah menghanguskan harapan itu semena-mena. Kau hilang sejak 7 Juli, siang pukul 11. 00 Wita. Pencarian dilakukan oleh keluarga dan masyarakat, namun begitu ditemuka, kau sudah tak bernyawa. Sesak dada ini mendengar berita itu.

Azlya... tidak ada masalah denganmu. Kamu masih seorang anak yang tanpa dosa. Kau akan langsung dimasukkan ke surga sebagaimana hadist Rasulullah, “Tiap-tiap anak orang Islam yang meninggal sebelum baligh akan dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan kelak, engkau akan memberikan syafa'at kepada orang tua yang engkau cintai, sebagaimana sabda Rasul dalam sebuah hadist qudsi: Allah SWT berfirman pada hari kiamat kepada anak-anak: "Masuklah kalian ke dalam surga!" Anak-anak itu berkata: "Ya Rabbi (kami menunggu) hingga ayah ibu kami masuk." Lalu mereka mendekati pintu surga! tapi tidak mau masuk ke dalamnya. Allah berfirman lagi: "Mengapa, Aku lihat mereka enggan masuk? Masuklah kalian kedalam surga!" Mereka menjawab: "Tetapi (bagaimana) orang tua kami?" Allah pun berfirman: "Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian." (Hadits Qudsi Riwayat Ahmad dari Syurahbil bin Syua'ah yang bersumber dari sahabat Nabi SAW).

Jadi, semoga kesabaran dari ayah bundamu akan cobaan ini, serta kasih sayang mereka kepadamu, menjadi jalan mereka berdua menyusulmu ke surga-Nya. Kau adalah salah satu harta terindah mereka di alam akhirat. Kau mungkin kelak akan menyambut mereka, dan saat itu kau telah menjadi bidadari surga. Kalian akan berkumpul, reuni bersama keluarga tanpa takut diteror manusia angkara yang tak memiliki rasa.

Namun, anakku, kasus yang menimpamu ini, tidak boleh berhenti begitu saja. Sebab, hampir semua ibu saat ini merasa cemas, khawatir, takut jika hal yang sama menimpa putera-puterinya. Negeri yang kata Multatuli merupakan untaian zamrud katulistiwa, dan kata Koes Plus merupakan kolam susu, akhir-akhir ini  berubah menjadi begitu menakutkan siapa saja, apalagi para anak. Mulai dari kasus pelecehan seksual, pencekokan terhadap narkoba, penghancuran moral dengan konten media porno, hingga hilangnya nyawa. Belum lekang dari ingatan kami tentang kasus terbunuhnya Angeline di Denpasar yang begitu tragis, sekarang, muncul lagi kasus serupa. Kasusmu, Azlya....

Kekerasan terhadap anak terjadi di mana-mana, membuat kami, para ibu terbebat nuansa horor yang pekat. Oh, dimana kami harus melindungi anak-anak kami, teman-temanmu yang polos dan lugu, Azlya... Kamu, dan mereka, anak-anak Indonesia, adalah calon penerus bangsa ini. Mereka harus hidup dengan penuh ceria, berbahagia, berkembang potensinya dalam lingkungan yang nyaman, aman, ramah, lembut, dan tenang. Bukan lingkungan yang keras, penuh angkara murka, teror dan berbagai praktik kekejaman dan kebiadaban.

Azlya... selamat jalan... doaku dan para bunda lain menyertaimu. Semoga kamu berbahagia di dunia yang penuh kedamaiaan. Semoga keluargamu diberikan ketabahan dan kesabaran.

Selanjutnya, semoga pelaku segera tertangkap dan dihukum seberat-beratnya. Agar orang yang akan melakukan hal yang sama, menjadi takut dan berpikir ulang.

Semoga sistem hukum negara dan perlindungan terhadap masyarakat kita semakin kuat, sehingga kita para orang tua tak dicekam rasa takut dan khawatir yang sangat.

Semoga pemerintah segera berbenah, bahwa anak-anak kita perlu dilindungi. Bukan saja dari ancaman kekerasa fisik, tetapi juga kekerasan psikis, seksual dan berbagai kekerasan lainnya.
Dan semoga masyarakat semakin tersadar dan gegas mengencangkan kepedulian. Selamatkan anak-anak Indonesia!

Allah, kepada-Mulah kami serahkan segalanya.

Seorang Bunda
Afra

27 Jun 2016

Mengukir Akhir

Yeni Mulati Afifah Afra
Mungkin cukup bisa dinalar, tatkala banyak orang yang justru pulas tertidur saat sesuatu mendekati akhir, sehingga yang tersisa hanya segelintir. Saya pun termasuk orang yang sulit beristiqomah mengerjakan sesuatu sampai akhir. Dahulu, saya pernah dinasihat oleh Om saya, untuk selalu mengerjakan sesuatu dengan tuntas. Sebab, sehebat apapun karyamu, kalau finishingnya jelek, ya tak akan memikat. Betapa enaknya kau membuat adonan donat, tanpa topping yang cakep, tanpa sentuhan akhir yang menawan, donatmu tak akan dilirik orang. Seberapa bagus ide-idemu, tanpa editing yang elok, karya akan terasa begitu berantakan.

Ya, banyak orang begitu bersemangat mengerjakan sesuatu di awal. Namun kurang konsisten. Berhangat-hangat kotoran ayam. Baru beberapa saat, kalor pun lenyap, tersisalah onggokan menjijikan. 

Seperti juga beramal di bulan Ramadhan. Lihatlah, di hari-hari pertama, masjid-masjid dibanjiri jamaah, seringkali takmir sampai harus menggelar tikar atau membuat tenda di halaman untuk menampung jamaah. Namun, berjalan satu pekan, jamaah mulai berkurang dan akhirnya kembali seperti sebelum bulan Ramadhan, sepi… Sementara, berkebalikan dengan masjid, mal-mal ramai, jamaah berhimpitan, rela antre bermeter puluhan hanya demi sekeranjang belanjaan berstatus diskonan.

Banyak orang melenakan akhir. Bosan, malas, atau... kehabisan tenaga. Ya, seperti kita mendaki gunung. Awalnya begitu gagah. Begitu melewati tanjakan-tanjakan, tenaga terkuras, akhirnya lemas. Dan kita kurang azzam untuk melakukan segala cara agar bisa sampai puncak, meski harus merangkak. 

Padahal, di akhir itulah penentuan status kita, tak hanya di mata manusia, tetapi juga di mata-Nya. Kau bisa saja menjadi bintang lari marathon saat start. Tetapi ketika kemudian kepayahan dan tidak bisa mencapai finish, kita tidak mungkin jadi juara. Kita mungkin punya masa lalu yang begitu cemerlang. Penuh amal gemilang. Tapi, apalah artinya semua itu jika kita menempuh akhir yang buruk.

Jangan lalai denga akhir, sebab itulah yang akan menjadikan nilai kita seperti, tak hanya di depan manusia, tetapi juga di mata-Nya. Kita mungkin punya riwayat hidup yang sungguh buruk. Terseok-seok saat mengambil ancang-ancang, berbekal seadanya, compang-camping bak kertas yang telah berlekak-lekuk. Tapi, kita akan tersenyum jika ternyata berhasil keluar dari gelapnya hidup dan menempuh akhir yang indah.

Terlebih jika akhir itu berarti akhir kehidupan. Allah berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (Adh-Dhuha: 4).

Jadi, mari kita mengukir akhir, tak peduli seberapa buruk awalanmu. Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata, "Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Untuk itu, jika kamu termasuk dari yang buruk dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan."

Mari raih sisa-sisa Ramadhan dengan sepenuh semangat dan kegembiraan. Mari mengukir akhir... 
Agar senyum tersungging di bibir... Sebab Kata Ibnu Taimiyah, "Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, dan bukan buruknya permulaan."

Sudilah kiranya Sobat membaca puisi sederhana saya ini di pungkasan renungan pendek ini.

MENGUKIR AKHIR

Sungguh, Tuan dan Puan
Inilah padang penuh berlian
Benderang, sungguh menawan
Membentang di muara Ramadhan

Sepuluh hari terakhir
Amalan akhiratmu, ayolah ukir
Hasrat dunia, sementara parkir
Agar tersenyum di hari akhir

Kurangi rehat
Perbanyak munajat
Jadikan sajadah alas jidat
dan lisan berbasah ayat

Mari mengukir akhir, Sahabat…

Solo, 27 Juni 2016

1 Jun 2016

Jangan Takut Stres!

Yeni Mulati Afifah Afra
Mari kita amati dua kasus ini.

KASUS 1: Ferry tampak kusut, kuyu, letih dan marah. Berkali-kali dia menulis sesuatu di atas kertas dan kemudian meremas-remasnya. Tak cukup diremas, tetapi juga dilemparkan ke keranjang sampah dekat kursinya. Berkali-kali dia menendang-nendang kaki meja, dan di puncak frustasinya, di bangkit dan membanting buku tebal yang sejak tadi tengah dia pelototi.

KASUS 2: Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.00. Bukannya mengantuk, mata Damar malah semakin terbuka lebar. Dia lahap buku tebal di depannya dengan bergairah. Sesekali dia membuat catatan-catatan di buku tulisnya. Rasa capek memang mulai terasa. Badan mulai lunglai. Tetapi, Damar benar-benar excited dengan apa yang tengah dilakukannya malam itu. Dia bergeming di tempatnya, sampai adzan subuh berkumandang.

* * *
Dua kasus tersebut, bisa jadi pencetusnya sama. Silakan tebak, kira-kira apa yang tengah mereka hadapi. Belajar untuk ujian, tugas presentasi, atau  sejenisnya. Dengan pencetus yang sama, mengapa ada dua respon yang berbeda? Keduanya sama-sama dihadapkan pada pemicu stres (stressor), tetapi, mengapa cara menghadapinya berbeda?

Menurut para pakar, stres bisa dibedakan menjadi dua, yaitu EUSTRESS dan DISTRESS (Quick & Quick,1984). 

Eustress, merupakan stres positif, stres yang kita butuhkan, stres yang konstruktif. Eustress mendorong manusia untuk meloncat lebih tinggi, berlatih lebih giat, bekerja lebih keras, melewati batas-batas normal, menjadi tidak biasa alias luar biasa. Stres semacam ini kita bergairah dan terpacu adrenalinnya. Stres semacam ini dibutuhkan agar kita semakin kuat, tahan banting dan memiliki daya tahan tinggi menghadapi berbagai topan-badai kehidupan.

Contohnya: stres saat mengejar deadline, stres saat kejar target, saat belajar jelang ujian. Stres ini akan berakhir dengan kepuasan yang luar biasa jika ternyata kita berhasil mendapatkan buah dari hasil kerja keras kita.

Distress, adalah stres yang negatif, stres buruk, bersifat merusak/desktruktif. Asal dari distress mungkin sama dengan eustress, tetapi respon kita menjadi negatif karena melibatkan emosi-emosi negatif. Misal, karena tekanan ujian, kita jadi gampang marah. Karena dikejar target, kita jadi uring-uringan dan sebagainya. Bisa juga sebabnya memang sesuatu yang membuat kita terjebak pada emosi negatif, misal pengalaman yang menyedihkan, ditipu, mengalami problematika yang berat dan sebagainya.

Bagaimana persepsi kita terhadap sebuah stressor (penyebab stres), akan sangat mempengaruhi jenis stres kita. Pribadi petarung, pemberani, bersikap terbuka, pantang menyerah, dan suka tantangan akan bisa mengelola stresnya menjadi sesuatu yang positif, meski stressor yang dihadapi termasuk berat. Sementara, pribadi yang manja, kurang fleksibel, tertutup, gampang menyerah, penakut, takut bertarung dan tak suka tantangan, akan sangat mudah merespon negatif stresor, seringan apapun.

Di contoh kasus di atas, meski stressor-nya sama, ternyata sikap Damar dan Ferry berbeda. Apa yang dialami Damar adalah EUSTRESS, sedang yang dialami Ferry adalah DISTRESS. Hal tersebut disebabkan karena Damar dan Ferry memiliki persepsi yang berbeda terhadap stressor. Persepsi dibentuk dari pengalaman hidup, yang mayoritas diperoleh lewat stimulus yang diterima panca indera. Damar, yang mungkin memiliki kepribadian positif, menganggap hidup adalah perjuangan, sehingga perlu dihadapi dengan semangat dan full power. Sementara, Ferry, bisa jadi memiliki kepribadian negatif, menganggap hidup adalah parade kemalasan dan bersantai-santai.

Ayo, jadi pribadi yang tangguh!
Hidup ini terlalu keras untuk dihadapi dengan kelembekan.

@afifahafra79

23 May 2016

Ramadhan, Raih 700 Lipat Kebaikan dengan ZISWAF-mu

Yeni Mulati Afifah Afra
Dear Sahabat, sebentar lagi, Ramadhan tiba. Bau harum dan kesegarannya telah terasa sejak saat ini. Keutamaan beramal di bulan itu sungguh luar biasa. Sangat rugi jika di bulan yang suci mulia ini, kita tidak mencoba meraup keberkahan yang menguar di mana-mana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.'” (HR. Muslim no.1151)

Sahabat, seperti biasa, setiap Bulan Ramadhan, saya berusaha membantu Sahabat sekalian yang ingin mensucikan hartanya dengan program ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf). Untuk Ramadhan ini, saya bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia, khususnya Cabang Solo. 

Apa saja jenis ZISWAF yang bisa diterima oleh Rumah Zakat?

Zakat Fitrah
Senilai 2,5 kg beras, saat ini dipatok Rp 30.000 (tetapi disesuaikan dengan konsumsi beras yang dipakai sehari-hari)

Fidyah
Sesuai dengan konsumsi makanan sehari-hari dalam satu hari. Misal Rp 30.000,-/hari

Infak
Disesuaikan dengan kerelaan dari Sobat semua, bisa Rp 50.000, Rp 100.000 dan seterusnya.

Program Senyum Ramadhan


  • Program Bingkisan Lebaran Keluarga (BLK): Rp 360.000/paket
  • Program Kado Lebaran Yatim (KLY): Rp 310.000/paket
  • Program Berbagi Buka Puasa: Rp 35.000/paket
  • Program Syiar Quran: Rp 170.000/paket
Zakat Profesi
Jika Anda memiliki profesi tertentu, dan gaji/penghasilan Anda telah mencapai nishab 520kg beras (sekitar Rp 5.200.000), maka wajib dikeluarkan zakatnya sekali, saat menerima penghasilan tersebut sebesar 2,5%



















Zakat Pertanian


















Zakat Emas

Zakat Perdagangan


Zakat Tabungan



















Bagaimana Cara Berdonasi?
Silakan Transfer ZISWAF Anda ke No. Rek tersebut:
1. Mandiri 132000 481 974 5 a.n. Yayasan Rumah Zakat Indonesia
2. BNI Syariah 155 555 5589 a.n. Yayasan Rumah Zakat Indonesia
3. BCA 094 301 6001 a.n. Yayasan Rumah Zakat Indonesia

Konfirmasikan donasi Anda via WA/SMS:
0878-3538-8493 (Angga)

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

11 May 2016

KAU BERTINGKAH, MAKA KAU ADA

Yeni Mulati Afifah Afra
By Afifah Afra
Di zaman sekarang, bertingkahlah,
Jangan takut akan dianggap payah
Meski kau bilang pancasila itu bebek nungging
Bukannya diburu dan digunjing
Kau malah jadi duta berkarir tinggi melenting
Kau bentak saja itu aparat,
Berlagaklah jadi anak pejabat
Jangan khawatir, kau tak akan disikat
Takkan dipetisi dan dihina dina
Malah mungkin kau akan jadi duta narkoba
Korupsi sajalah... kau akan jadi duta antikorupsi
Bajak bukulah, mungkin kau akan jadi duta literasi
Hajar saja lawan, kau akan jadi duta perdamaian
Ludahi sang teman, kau akan jadi duta persahabatan
Zaman kini, jika kau tak bertingkah,
Kau tak akan dipandang ada
Jadi bertingkahlah semau-maumu
Kecuali jika kau takut pada Sang Pengatur Hidupmu...
Solo09052016
@afifahafra79
Catatan Penulis:
Kalau sedang diamuk kesal, sebal, marah, jengkel, seringkali habis kata. Maka, berpuisi, membuat jiwa terasa lebih bahagia. Maafkan jika berpenggal kita ini menyulut amarahmu, Wahai Tuan. Tetapi, sungguh, apa yang kau lakukan, telah lebih dahulu menyulut amarah kami.

25 Apr 2016

Shima, Ratu Kalinyamat, Kartini dan Quo Vadis Perempuan Indonesia?

Yeni Mulati Afifah Afra
Pastinya bukan kebetulan belaka, jika tiga sosok perempuan yang menghias catatan sejarah ini ternyata berasal dari Jepara. Mereka adalah Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, Ratu Kalinyamat dan R.A. Kartini. Lokasi Kerajaan Kalingga memang masih menjadi perdebatan, akan tetapi bukti-bukti yang kuat menunjukkan bahwa ibu kota Kerajaan Kalingga, terletak di Kabupaten Jepara. Adapun Ratu Kalinyamat, atau Ratna Kencana, setelah meninggalnya sang ayah, yakni Sultan Trenggana, beliau memerintah di daerah Kalinyamat, Jepara. Sedangkan bukti-bukti bahwa R.A. Kartini berasal dari Jepara, sudah sangat terang benderang.

Mempelajari sejarah hanya dengan menghapal tahun demi tahun, adalah penyempitan cakrawala. Sebab, menurut Daniel Dakhidae (1980) sejarah lebih dari sekedar kronik (urutan kejadian berdasarkan waktu—pen.), karena dalam sejarah juga terkandung pikiran yang hidup dari dan tentang masa lampau. Tugas historiografi bukan saja mencari kebenaran masa lalu (what the past is really like), tetapi juga memperbandingkan peristiwa masa lalu itu dengan masa kini. Inilah yang disebut dengan dialog. Setiap kali dialog dengan sejarah dimatikan, maka sejarah bukan lagi sejarah, tetapi sekadar monolog yang menjadi legitimasi para penguasa.

Dari pemikiran Daniel Dakhidae atas makna sejarah, marilah kita melakukan proses dialog antara peristiwa masa lalu, khususnya catatan sejarah atas tiga perempuan istimewa tersebut. Pelacakan sejarah dimulai dengan kisah Shima yang melegenda. Beliau adalah sosok yang tegas, tak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Bahkan putranya sendiri pun tak luput dari hukuman keras karena kakinya menyentuh satu kantong emas yang sengaja diletakkan oleh raja dari negara lain untuk menguji kejujuran rakyat kerajaan Kalingga. Sejatinya, secara fisiologis, sistem hormonal perempuan berperan besar dalam pembentukan karakter perempuan yang lemah lembut, feminism, keibuan, dan cenderung subjektif, khususnya kepada sosok yang memiliki kedekatan afektif dengannya. Namun, dalam kisah ini Shima dengan integritas dan kapasitasnya sebagai pemimpin, berhasil menepis karakter khas perempuannya. Betapa bedanya dengan pemimpin saat ini yang sebagian lebih memberatkan membela kroninya ketimbang upaya penegakan hukum.

Kisah yang tak kalah menakjubkan terjadi pada Ratu Kalinyamat. Meski seorang perempuan, ternyata beliau pun memiliki ketegasan yang lebih dibandingkan dengan kaum lelaki saat itu. Terbukti dua kali beliau mengirim pasukan ke Malaka untuk membantu Sultan Johor melawan Portugis. Pengiriman pertama, menurut catatan sejarah, terdiri dari 4000 tentara yang diangkut dalam 40 kapal perang. Sementara, pengiriman kedua, Sang Ratu mengirim 300 kapal yang berisi 15.000 tentara. Sikap Ratu Kalinyamat terasa kontras dibandingkan para pemimpin kita yang dinilai banyak pihak kurang berani berkonfrontasi dengan negara asing, meski jelas-jelas negara kita dirugikan.

Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat tentu berbeda dengan R.A. Kartini. Mereka adalah leader, salah satu kapasitas yang harus dibuktikan adalah berani mengambil keputusan dan menanggung risiko. Sedangkan Kartini adalah pemikir. Buah pikirannya tak sekadar ditulis, tetapi juga dikirimkan ke teman-teman dekatnya, di antaranya Estelle "Stella" Zeehandelaar, serta Tuan dan Nyonya J.H. Abendanon. Proses korespondensi mereka merupakan sebuah proses diskusi yang menarik. Pemikiran RA Kartini itulah yang oleh Tuan J.H. Abendanon dikumpulkan dan dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht. Selanjutnya, oleh Balai Pustaka pada tahun 1922 diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.

Meski berbeda peran, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan R.A. Kartini, yang semua berasal dari Jepara, telah mengukir sejarah negeri ini dengan kiprahnya. Selain mereka, tak kurang-kurang tokoh perempuan menghias lembaran sejarah. Dalam masalah leadership dan semangat heroisme, kita mencatat nama Sultanah Safiatuddin, yang memerintah kerajaan Aceh selama 35 tahun dan ikut berperang melawan Portugis di Malaka. Juga Laksmana Malahayati, pemimpin angkatan laut Aceh, Nyi Ageng Serang, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan sebagainya. Sedangkan dalam jajaran tokoh-tokoh pemikir dan penggerak di bidang pendidikan, sosial dan budaya, terdapat nama Dewi Sartika, Rahmah el Yunusiyah, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Nyi Ahmad Dahlan dan sebagainya.
Proses dialog antara perempuan masa kini dengan para perempuan penggerak peradaban itu, harusnya lebih pada bagaimana meneladani mereka. Leadership, integritas, kemampuan mengambil risiko, budaya berliterasi, heroisme dan semangat pembelaan kaum tertindas, tradisi keilmuan yang baik, dan kesediaan berkorban untuk bangsa dan negara, mestinya menjadi obsesi setiap perempuan masa kini. Jika aksi semacam Ratu Kalinyamat tampak terlalu sulit, maka aksi yang lebih kongkrit seperti advokasi dan langkah-langkah memajukan kehidupan kaum perempuan sangatlah dinanti-nanti. 

Dari data Migrant Care misalnya, dalam  kurun waktu 2004-2014, tercatat 3 buruh migran Indonesia (2 di antaranya PRT migran) dieksekusi mati tanpa pembelaan berarti, 23 buruh migran Indonesia (mayoritas PRT migran) divonis mati dengan kekuatan hukum tetap, dan sekitar 265 lainnya dalam proses pengadilan dengan ancaman hukuman mati. Mayoritas dari mereka adalah kaum perempuan. Sementara, menurut data dari Kemenkes, berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007, angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia dari 228 per 100.000 kelahiran. Sebuah angka yang cukup tinggi. Di dunia pendidika, sekitar 9,36 % dari total perempuan di Indonesia, menurut Hasil Susenas 2012, juga masih buta huruf.  Padahal, angka melek huruf pada laki-laki adalah 95,87%. Permasalahan-permasalahan tersebut hanya sebagian kecil dari permasalah besar yang membelit kaum perempuan. 

Tetapi sayangnya, pembacaan atas sejarah ternyata masih sekadar kronik belaka. Kita tahu, setiap tanggal 21 April, diperingati Hari Kartini. Alih-alih mengejawantahkan semangat Kartini dalam mengadvokasi kaum perempuan, masyarakat saat ini hanya sekadar mengejar kemeriahan yang seringkali tanpa makna, misal lomba mengenakan sanggul, lomba kebaya dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa proses dialog antarwaktu ternyata baru menyentuh ranah kulit belaka, dan belum menjadi substansi. 

Demikian pula, penunjukkan kader-kader perempuan oleh berbagai partai politik untuk menduduki posisi tertentu, seringkali tidak dibarengi dengan penguatan kapasitas dan kapabilitas. Dalam Pemilu misalnya, ada kuota 30% untuk kaum perempuan. Tetapi nyatanya, tak banyak Parpol yang benar-benar mengutus kader perempuan terbaik untuk memenuhi kuota tersebut, entah karena Parpol itu tidak berhasil mendidik kader perempuanya untuk menjadi politisi yang hebat, atau entah faktor lainnya.

Tentu perempuan tak perlu menunggu uluran tangan pihak lain untuk bisa menjadi unggul. Perempuan harus berusaha sendiri menjadi maju, salah satunya melakukan dialog yang mendalam dengan catatan-catatan sejarah. Jika perempuan sendiri sudah malas melakukan upaya perbaikan diri, kita perlu bertanya: Quo Vadis Perempuan Indonesia?

Catatan: pernah dimuat di Solopos, 21 April 2016

20 Apr 2016

Dongeng yang Menjadi Buku

Yeni Mulati Afifah Afra
Alhamdulillah, di pertengahan tahun ini,  insya novel anak (novak) yang saya tulis, berjudul "Penculikan Sang Profesor" turun cetak dan beredar ke seluruh Indonesia. Mohon doa pula agar proyek perdana ini sukses ya..., amiin deh. Doa orang shalih kan mustajab. Saya berprasangka baik bahwa pembaca blog ini adalah orang-orang shalih :-) (amiin lagi).

Seperti yang satu tulis di page AFIFAH AFRA, meski saya sudah lama menjadi penulis, dan sudah ada lebih dari 50 judul buku terbit, serta hampir seratus cerpen plus artikel dimuat di berbagai media, rasanya tetap ada "sesuatu" yang beda dan juga unik. Apa saja bedanya? Dan di mana letak keunikannya?

Pertama, ‪#‎PenculikanSangProfesor‬ adalah novak perdana saya. Ketika saya mulai menjadi seorang ibu, dan sekarang sudah jadi ibu empat anak, sebenarnya saya sudah berangan-angan untuk menulis novak. Anak-anak saya juga sudah sejak lama meminta saya menulis novel untuk segmen anak. Tetapi, karena berbagai sebab, baru kali ini kesampaian. 

"Mi, asyik kan kalau yang aku baca itu karya Ummi sendiri," ujar Anis, anak pertama saya yang sepertinya paling mewarisi kesukaan saya menjadi "predator buku". Sejak TK, dia sudah membabat habis buku-buku, dan sampai usia 11 tahun, sudah ratusan buku dia khatamkan, bahkan mungkin lebih.

Kedua, proses kreatif #PenculikanSangProfesor terbilang unik. Sebagai ibu, saya meyakini bahwa mendongeng adalah kemampuan wajib yang kudu dimiliki seorang ibu. Ya, kita harus bersyukur atas kemampuan verbal yang Allah lebihkan kepada kaum perempuan dibanding kaum lelaki. Kata para pakar, perempuan menggunakan 20 ribu kata per hari, sementara lelaki hanya 7 ribu! Bayangkan jika suami kita adalah seseorang yang memiliki pekerjaan yang membutuhkan kemampuan verbal. Misal guru atau dosen, manajer yang kudu memimpin rapat, atau marketing yang harus banyak melakukan penawaran dan promosi produk. Begitu sampai ke rumah, 7000 kata sudah habis, tinggal tersisa lelahnya saja. Jadi, ibulah yang semestinya membawakan dongeng untuk anak-anaknya.

Nah, pada tahun 2012, saya pernah membawakan kisah ini sebagai dongeng pengantar tidur, tentu saja bersambung. Anak-anak sempat menjadikan masa-masa jelang tidur sebagai masa favorit karena menunggu dongeng ini. Setelah khatam, lagi-lagi anak-anak mendesak untuk dibukukan. 

Baiklah, Nak... saya tulis ya... meski perlahan-lahan. Alhamdulillah, tahun 2013, tulisan kelar. Tapi baru akhir 2015 saya serahkan ke editor Penerbit Indiva Media Kreasi. Alasannya... salah satunya, terus terang nih ya... saya ragu. Saya mungkin lebih dikenal sebagai penulis buku-buku yang terkesan agak "berat". Ya, kalau saya tanya ke teman-teman pembaca, rata-rata mereka mengasosiasikan nama Afifah Afra dengan ‪#‎DeWinst‬, ‪#‎DeLiefde‬, ‪#‎DaConspiracao‬ atau ‪#‎MeiHwa‬ ... Padahal, Afifah Afra juga menulis ‪#‎SerialElang‬ yang "kocak" dan meremaja, ‪#‎SerialMarabunta‬ yang heroik dan tetap dengan segmen remaja/dewasa muda. 

Namun, lagi-lagi saya didesak anak-anak yang ingin Umminya segera punya novak. Okey deh, Anak-anak... #PenculikanSangProfesor saya serahkan ke penerbit.

Ketiga, jujur... saat mencoba mengarang kisah ini, ingatan saya terbetot pada almarhum ayahanda saya. Masa kanak-kanak saya memang didominasi figur ayah. Beliaulah yang mengajak saya mengeksplorasi alam semesta. Jarang sekali beliau mengajak piknik ke tempat-tempat wisata. Tetapi beliau sering mengajak pergi ke hutan, ke sungai, memancing, menangkap belut dan sebagainya. Beliau juga yang memperkenalkan dan menanamkan tradisi literasi pada saya. Pola asuh Ayah kepada anak-anaknya inilah yang ingin saya adopsi untuk anak-anak saya, tentu saja dengan penyesuaian di sana-sini. 

Karena itu, dalam kisah ini, saya banyak mengeksplorasi alam semesta. Ya, kreativitas akan terbatasi jika pandangan kita setiap hari kita hanya berhadapan dengan tembok. Jika setiap hari anak hanya berkutat pada gadget. Oleh karenanya, saya sering mengajak anak-anak camping dan bermain sepuasnya di pantai maupun pegunungan. Alhamdulillah, suami ternyata memiliki kecenderungan yang sama dalam hal ini. Jadi, klop, deh!

Keempat, saya menyadari, bahwa kisah-kisah yang kita "asup" sesungguhnya berefek besar terhadap pembentukan karakter. Saya gemas dengan anak-anak sekarang yang lebih senang mempelototi gadget, menjadi individualis karena kelewat sering nge-game elektronik dan jarang bermain bersama kawan-kawan, cenderung manja dan kurang mandiri dan sebagainya. Maka, lewat buku ini saya mencoba mengajak anak-anak untuk menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan pemberani.

Jadi, siapa yang sebenarnya bisa membaca buku ini?
1. Anak-anak, usia 9 s.d. 14 tahun, ini segmen utama buku ini.
2. Orang dewasa, khususnya orang tua, sebagai bekal bercerita untuk anak-anaknya.
3. Siapa saja, yang berminat dengan dunia anak. Sebab, meskipun segmennya anak, setting, karakter dan diksi tetap saya garap serius.

Sinopsis #PenculikanSangProfesor bisa dibaca di sini SINOPSIS.

Telah beredar di seluruh Toko Buku Gramedia dan Togamas.

Harga Asli: Rp 34.000
Pemesanan bertandatangan hubungi Angga via SMS/WA 0878-3538-8493

15 Apr 2016

Penculikan Sang Profesor: Saatnya Terjun Ke Dunia Anak!

Yeni Mulati Afifah Afra
Haloooo, para ibu. Letakkan gadgetmu, matikan televisimu, lalu ajaklah putra-putri Anda tercinta untuk mengerumuni Anda. Saatnya bercerita!

Jangan sepelekan manfaat bercerita. Sebab, karakter anak bisa dibentuk dari berbagai cara, salah satunya adalah cerita yang diperoleh dari buku bacaan. Apa yang mereka baca, akan berkontribusi besar terhadap bagaimana perkembangan mental mereka. Menyadari hal tersebut, di tengah seabrek kesibukan, saya berusaha menyempatkan diri untuk mendongeng untuk anak-anak saya. Dan novak ini, adalah dongeng pertama yang menjelma menjadi buku. Apakah akan ada dongeng-dongeng lain yang juga akan berubah menjadi buku bacaan? Tunggu saja! Saya tahu, tak semua ibu bisa bercerita. Tetapi saya berharap semua ibu menyempatkan diri untuk bercerita. Kalaupun tidak secara langsung, bisa dengan menyodorkan novel anak ini, ehm!

Tema novak ini sangat sesuai dengan selera saya saat bocah hehe. Petualangan, detektif, hutan rimba, goa, sungai, alam semesta... tentu tidak tanpa disengaja. 

Seperti yang telah saya tulis di page saya Afifah Afra, terus terang, saya gemas dengan sebagian anak-anak sekarang yang kurang berani, cenderung cengeng dan agak manja. Khususnya anak-anak yang tumbuh di perkotaan, dan berasal dari keluarga terdidik dari kalangan menengah ke atas. Ya, mungkin polusi hawa kota telah membuat sel-sel tubuh mereka terpapar racun. Napas terengah, tubuh pun tak gagah. Ditambah objek pandangan kanan-kiri-atas-bawah yang semuanya dibatasi tembok, diam-diam daya fantasi, imajinasi dan jiwa petualangan pun dikebiri.

Kegemasan dan kegelisahan saya telah menjadi alasan kuat untuk menulis novel anak ini. Lewat buku ini, saya berharap imajinasi anak--khususnya anak-anak kota yang ruang hidupnya dibatasi tembok-tembok tinggi--terbuka luas. Bahwa semesta ini sungguh punya begitu banyak sisi-sisi yang menarik digali. Bahwa hidup itu tidak hanya sekadar serunya games di sebuah gadget.

Ayolah, Nak... eksplorasi alam semesta. Jadilah pemberani. Dan bercita-citalah setinggi langit yang saban hari kau pandangi!

Petualangan di Rimba Kamerun

Adalah Naufal Firdaus, bocah pintar, shalih dan pemberani yang harus meninggalkan sekolahnya di Solo dan mengikuti ayahnya terbang ke Afrika. Ayah Naufal, Profesor Adrian Firdaus adalah seorang ahli pembuat pesawat terbang. Beliau bekerja di sebuah pabrik pesawat terbang yang sahamnya dimiliki 3 negara: Jerman, Kamerun dan tentu saja Indonesia. Ya, karena nasionalisme yang begitu kuat di dada Sang Profesor, beliau menolak diajak bergabung di perusahaan-perusahaan lain meski gajinya jauh lebih besar.

Ssst... ternyata Al Hambra Corp, pabrik tersebut, berada di tengah rimba raya Kamerun, lho. Al Hambra merupakan sebuah kota kecil supermodern dengan fasilitas yang lengkap. Meski sekolahnya sangat keren, Naufal tidak betah. Murid-muridnya, yang berasal dari seluruh penjuru dunia banyak yang nakal. Bahkan bocah bule bertubuh raksasa, John begitu bersemangat mem-bullynya. Naufal frustasi dan sempat mogok sekolah.

Saat mogok sekolah, Naufal menemukan lobang rahasia yang menghubungkan kota Al Hambra dengan hutan rimba yang membentang di luar sana. Tak dinyana, di hutan rimba, Naufal malah bertemu gadis cilik berambut pirang bermata biru yang tomboy, cerdas namun sangat aneh dan misterius. Gadis yang dia sebut Miss No Name itu memiliki seekor monyet bernama Dido.

Tak dinyana pula, justru gadis kecil dan monyetnya itulah yang membantu Naufal saat berusaha menyelamatkan ayahnya yang diculik musuh-musuhnya. Eh, tapi... siapa sih sebenarnya Miss No Name itu? Yuk rasakan serunya petualangan Naufal dan rekan-rekannya dalam novel anak "Penculikan Sang Profesor".

Harga Rp 34.000
Pemesanan bertanda-tangan hubungi Angga (0878-3538-8493).

18 Mar 2016

Bagaimana Mereka Bertemu Belahan Jiwa #2

Yeni Mulati Afifah Afra


Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad
Kedua anak muda ini besar di rumah yang sama, dan dalam didikan Rasulullah SAW. Tumbuh besar, saling menyaksikan keutamaan masing-masing, membuat diam-diam Ali bin Abi Thalib tertarik kepada Fatimah. Tetapi, dia merasa terlalu miskin untuk melamar Fatimah. Dia pun bekerja keras untuk mencari mahar. Dan di tengah-tengah rasa ketidakpercayaan dirinya serta usaha kerasnya mengumpulkan mahar (yang tak juga terkumpul dalam jumlah cukup), satu persatu lelaki utama mencoba meminang Fatimah. Pertama Abu Bakar, lalu Umar bin Khatab. Alangkah terguncangnya hati Ali saat melihat peristiwa tersebut. Namun, alangkah leganya, karena Rasulullah ternyata menolak lamaran sahabat-sahabatnya yang mulia itu.

Akhirnya, Ali pun memberanikan diri melamar Fatimah. Ummu Salamah menceritakan betapa mengharukannya proses lamaran tersebut. 
Kata Ummu Salamah, "Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"

"Demi Allah," jawab Ali bin Abi Talib dengan jujur, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu, engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!"

Oleh Ali, baju besi itu dijual kepada Usman bin Affan, yang membelinya dengan harga sangat pantas, yaitu 400 dirham.
Wahai, pemuda, jangan pernah malu dengan keadaanmu. Bisa jadi, engkaulah sesungguhnya sosok yang ditunggu-tunggu oleh calon istri dan mertuamu, sebagaimana Rasulullah dan Fatimah menunggu-nunggu Ali bin Abi Thalib untuk melamar Fatimah.

Tsabit dan Istri yang “Buta-Bisu-Tuli-Lumpuh”
Pemuda bernama Tsabit bin Ibrahim akhirnya berhasil menemui pemilik pohon apel di Kufah yang apelnya dia makan tanpa berpikir panjang. Ya, saat melihat apel yang terjatuh, dia langsung menyantapnya, dan kemudian menyesal, karena dia belum meminta izin kepada pemiliknya. Setelah bertanya kepada penjaga kebun, ternyata rumah si pemilik kebun apel itu berjarak sekitar perjalanan sehari semalam dari Kufah.

Lelaki pemilik kebun itu sangat takjub dengan Tsabit yang rela menempuh perjalanan panjang hanya untuk meminta izin atas apel yang dimakannya. Lalu lelaki itu berkata. “Tidak, aku tidak menghalalkan apel itu kau makan. Kecuali, dengan satu syarat.”
“Apakah syarat itu?”
“Kau harus mengawini puteriku.”
“Tetapi, apakah karena saya hanya memakan separuh buah apel itu, saya harus mengawini puteri Anda?”

Si bapak tak menggubris protes Tsabit. “Dan, kau harus tahu, bahwa puteri saya memiliki banyak kekurangan. Dia itu buta, bisu, tuli… dan lumpuh.”
Tsabit tentu sangat terkejut. Dia sangat gugup dan ingin menolak. Tetapi, sang bapak tetap bersikeras dan tak mau menghalalkan buah apel itu kecuali Tsabit mau mengawini puterinya. Tsabit pun terpaksa mau menikah dengan gadis buta, bisu, tuli dan lumpuh itu. 
Namun, ketika dia mendatangi istrinya di kamar usai akad nikah, dia melihat istrinya ternyata normal, bahkan cantik jelita. 

“Aku dikatakan buta, karena tak pernah melihat sesuatu yang diharamkan Allah. Aku juga bisu, karena tak pernah mengucapkan sesuatu kecuali asma Allah dan sesuatu yang baik. Aku tuli, karena tak mau mendengarkan sesuatu yang dilarang. Dan aku juga lumpuh, karena tak mau mendekati sesuatu yang maksiat,” begitu jawab istrinya. 
Betapa bahagianya Tsabit, karena dengan cara yang tak terduga-duga, dia justru bertemu dengan istri yang sangat dicintainya. Sang istri memiliki paras yang sangat jelita, dan dia juga shalihah, sangat menjaga diri. Ternyata, buah dari perkawinan tersebut, adalah terlahirnya sesosok manusia luhur yang sangat berjasa terhadap dakwah Islamiyah. Ya, Tsabit dan istrinya, adalah ayah dan ibu dari Imam Abu Hanifah An Nukman bin Tsabit, salah seorang Imam Mazhab yang terkenal cerdas, shalih dan sangat cemerlang. (Diambil dari buku Sayap-Sayap Mawaddah).

Wahai pemuda shalih, dan muslimah shalihah … jangan khawatir masalah jodoh. Jika engkau menyibukkan diri untuk terus menerus beribadah dengan ikhlas, lalu berdoa agar diberikan jodoh yang baik, mungkin Allah akan menjawab doamu dengan cara yang begitu indah dan tak terduga-duga. 

Rasulullah SAW dan Maryam binti Imran
Anda mungkin bertanya-tanya, apakah mereka berjodoh? Bukankah mereka tak pernah bertemu selama di dunia? Ya, mereka tidak bertemu di dunia, akan tetapi mereka bertemu di akhirat, dan Allah SWT menikahkan Maryam dengan Rasulullah SAW.

Penderitaan Maryam selama di dunia sungguh luar biasa. Sebagai perempuan suci, dia diuji dengan kelahiran putranya, Isa bin Maryam. Kelahiran Isa berlangsung tanpa seorang pun penolong, ketika Maryam meninggalkan tanah kelahiran akibat ejekan dan teror dari masyarakat di sana yang menuduh Maryam sebagai pezina. Atas ujian hidupnya yang luar biasa itu, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).’” (QS. Ali Imran: 42).

Rasulullah juga bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853).

Dan Sobat, tahukah Anda, bahwa ketika di surga nanti, ternyata Rasulullah SAW akan dinikahkan dengan Maryam binti Imran? 

Dalam kitab Qashash Al-Anbiya, Ibnu Katsir menuliskan, Ibnu Asakir meriwayatkan, dari Muhammad bin Zakaria Al-Gallabi, dari Abbas bin Bakkar, dari Abu Bakar Al-Hudzali, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Khadijah sedang sakit sesaat menjelang ajalnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menemuinya dan berkata, “Wahai Khadijah, apabila kamu bertemu dengan madu-madumu, tolong kirimkan salamku untuk mereka.”
Khadijah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kamu pernah menikah sebelum menikah denganku?”
Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak pernah, tapi Allah telah menikahkanku dengan Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, dan Kultsum kakak perempuan Musa.”

Jadi, jika engkau tidak bertemu jodoh di dunia, asal kita terus menerus melakukan amalan shalih, insyaAllah di akhirat nanti engkau akan bertemu dengan jodoh kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.