Anakku, Permata Hatiku

Anakku, izinkan Bunda menyemai harap atasmu... harap senyum lebar menatapmu yang tumbuh kuat di bawah payung langit, mengeja kehidupan dengan bijak bestari

Aku dan Kehidupan

Kehidupan senantiasa berjalan, jika kita diam, kehidupan yang akan menghantam hingga remuk redam...

Kesturi Dan Kepodang Kuning

Tatkala harmoni alam terengut oleh keserakahan Bani Adam...

Kabut di Puncak Lawu

Damai itu ada pada setiap sejukmu...

Puteraku, Ksatriaku

Berderap di atas kehidupan, menggagas kuatnya kepahlawanan...

Buku Terbaru: Sayap-Sayap Sakinah













Langit adalah laki-laki, dan bumi adalah wanita
Bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit
Apabila bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkannya
Apabila ia kekurangan kesegaran dan embun, langit memperbaharuinya
(Petikan Puisi Jalaluddin Rumi)

Saya termasuk penulis yang jarang menulis secara duet. Tercatat, dari sekian buku saya, hanya 3 buku duet saya, dan buku ini salah satunya. Riawani Elyta saya ajak menyumbang separuh pemikirannya dalam buku ini, karena saya menyukai gaya tulisan penulis asal Tanjung Pinang ini. Kegigihan Lyta, begitu panggilan akrabnya, juga membuat saya semakin tertarik mengajaknya berduet. Bayangkan, Lyta baru sekitar 5 tahun berkarir di dunia kepenulisan, memulai semua dari nol di usia awal 30-an. Tetapi, dalam tempo waktu 5 tahun, Lyta berhasil menerbitkan belasan judul buku, dan meraih beberapa penghargaan kepenulisan tingkat nasional. Bayangkan dengan proses perjalanan kepenulisan saya yang sudah dimulai 25 tahun silam!
Meski sudah mengenal Lyta saat dia menerbitkan buku perdananya "Tarapuccino" (direpublish menjadi "A Cup of Tarapuccino") di penerbit Indiva Media Kreasi, tahun 2008, memang kami baru mulai intens berdiskusi di dunia maya sejak setahun silam. Topik diskusi kami sangat luas, mulai dari obrolan santai hingga tema-tema serius seputar kepenulisan, dan kadang-kadang menyinggung masalah politik pula. Jadi, sepertinya sayang sekali, jika diskusi itu tak membuahkan karya. Maka, lahirlah karya perdana duet kami: Sayap-Sayap Sakinah.
Sayap-Sayap Sakinah, direncanakan merupakan buku pertama dari Seri Sayap Sakinah. Buku selanjutnya akan terus terbit, fokus pada buku-buku tentang pernikahan, kerumahtanggaan dan parenting untuk keluarga muda. Ya, keluarga muda. Karena kami sadar diri, bahwa kami memang masih cukup muda. Tahun ini, usia pernikahan saya memasuki tahun ke-11, dan Lyta tahun ke-12. Entah, jika kami sudah semakin tua, mungkin juga akan mengembangkan seri Sayap Sakinah ini sesuai dengan pengalaman hidup kami yang juga semakin banyak (ikon 'smile').

Sekolah Pranikah

Yang juga agak berbeda dengan buku-buku kami sebelumnya, Serial Sayap Sakinah ini, insya Allah kami akan melengkapi dengan forum online maupun offline yang kami namai "Sekolah Pranikah Sayap Sakinah." Siapapun yang telah membeli buku ini, berhak mengikuti forum tersebut. Forum ini merupakan bentuk komunikasi dua arah antara penulis dan pembaca buku ini. Informasi detil tentang forum ini bisa Anda lihat di link-link berikut: 
1. www.twitter.com/sayapsakinah
2. www.sayapsakinah.com
3. www.facebook.com/sayap.sakinah

Gambaran Isi Buku

Judul: Sayap-Sayap Sakinah
Penulis: Afifah Afra dan Riawani Elyta
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Harga: Rp 44.000,-

ISBN: 9786021614228

SINOPSIS
Langit adalah laki-laki, dan bumi adalah wanita
Bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit
Apabila bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkannya
Apabila ia kekurangan kesegaran dan embun, langit memperbaharuinya
(Petikan Puisi Jalaluddin Rumi)

Salah satu misteri terbesar dalam kehidupan ini adalah jodoh dan perjodohan. Nikah dan pernikahan. Kisah-kisah sejati yang menakjubkan seputar perjodohan, tergores begitu giras, tercetak begitu rancak, terlukis begitu manis. Masing-masing Bani Adam memiliki cerita sendiri. Dan biasanya, cerita-cerita itu terbingkai dalam sebuah keistimewaan yang mengesankan. Bagaimana dengan Anda? Pasti Anda memiliki kisah sendiri.
Dan, ibarat sebuah rajutan, jodoh dan nikah tentunya membutuhkan seperangkat peralatan dan bahan. Ilmu, pengalaman, berbagai persiapan, perlu digali sedalam-dalamnya. Terlebih, rajutan kehidupan pra dan pascapernikahan, tak selalu berupa sulaman indah. Ada kalanya membutuhkan perjuangan yang luar biasa.
Pernikahan bukan sekadar episode penyambung prosesi walimah, melainkan sebuah ibadah, yang mampu menggenapkan separuh dien sepasang muslim dan muslimah. Dan, inilah buku yang akan menuturkan proses menggapai sakinahmawaddah dan rahmah.
Buku ini terbagi atas dua fase: pra – pernikahan dan setelah menjalani pernikahan.
Pada bagian pra-pernikahan, pembaca akan diajak menelusuri persiapan sebelum memasuki gerbang pernikahan, mulai dari pencarian jodoh, pertimbangan penting sebelum menikah, hingga merencanakan walimah.
Pada bagian menjalani pernikahan pula, buku ini akan mengupas pernak-pernik berumah tangga dan solusinya, diantaranya tentang menghadapi tahun-tahun awal pernikahan, penyesuaian dengan pasangan, cinta dalam pernikahan, juga beberapa topik sensitif, seperti poligami dan tak kunjung berjodoh.
Dituturkan dalam bahasa yang ringan mengalir, buku ini akan menjadi sahabat anda yang hendak dan telah menikah. Bersama meraih hikmah, untuk menggapai pernikahan yang sakinah dan barokah. Sangat cocok untuk Anda yang hendak, sedang, atau telah menikah. Ditulis dengan gaya bercerita yang khas, membuat Anda tak harus mengerutkan jidat saat mencoba memahami manik-manik hikmahnya. Selamat membaca!

Pemesanan

Diskon 15% untuk pemesanan melalui fanpage ini. Harga Rp 44.000 bisa diperoleh hanya dengan Rp 37.500,- (belum ongkir). Pembelian minimal 3 eksemplar bebas ongkos kirim.
Cara pesan: SMS ke no HP 0878.3538.8493 dengan format:
Pesan_SS_Nama Pemesan_Alamat_Jumlah pemesanan
Misal: Pesan_SS_Suci Murni Lestari_Jl. Kesturi No 10 Solo_3 eksemplar

Jangan Malu Bilang Aku Tidak Tahu

Aku memang tidak tahu. Dan aku tak akan berusaha untuk sok tahu, karena kesoktahuanku, bisa jadi akan menyesatkanmu. Terlebih, seringkali kau menganggap aku adalah rembulan, yang bersinar menawan. Kau mungkin lupa, satu sisi terang rembulan, ternyata menyisakan sisi gelap di belakangnya. Rembulan tak bisa jadi panutan, terlebih, dia hanya ketitipan sinar mentari.
Terkadang, ketidaktahuan itu menjadi hijab yang menyelamatkan. Allah, Sang Pencipta Semesta memberikan keterbatasan, justru agar kita bisa hidup nyaman. Mata kita terbatas memandang, sebab jika mata kita mampu menembus segala benda, betapa takutnya kita karena bisa melihat tulang belulang mengerikan saat lewat di kuburan. Atau betapa ngerinya, karena saban melihat comberan, kita akan melihat jutaan kuman. Bahkan kita pun tak akan mampu minum dengan nyaman, karena secangkir air putih kita kira aman, ternyata ditempati pula oleh hewan renik yang menjijikkan.
Ketidaktahuan, seringkali menyelamatkan. Sementara, tahu yang hanya sesingkap, bisa membuat hidup jadi kalap. Kau tentu ingat kisah si kucing penjaga yang malang? Suatu hari, tuan si kucing dan istrinya hendak bepergian. Dititipkanlah anak mereka kepada si kucing. “Jagalah anakku baik-baik, ya?” Si kucing yang sangat taat itu menyanggupi.
Ternyata, apa yang terjadi? Saat si tuan pulang, dia melihat si kucing ada di beranda depan dengan tubuh bergelimang darah. Kilatan-kilatan prasangka menggosongkan logika, terjadilah mekanisme pembajakan emosi yang letal. Si tuan sangat marah, karena dikiranya si kucing barusan menerkam bayi mereka. Tanpa berpikir panjang, si tuan menghunus parang. Dibunuhnya si kucing penjaga.
Dan, alangkah kagetnya sang tuan, begitu masuk ke dalam, mereka melihat seekor ular tergeletak berlumur darah, dalam kondisi mati. Sementara si bayi segar bugar, tak ada luka sedikit pun. Histeris si tuan menubruk bangkai kucingnya. Sesal begitu kesat. Si kucing sudah berkelahi melawan ular yang hendak menggigit bayinya. Namun kesoktahuan si tuan telah membinasakan sang pahlawan.
Aku tidak tahu, bukan sebuah kalimat yang memalukan jika kita memang tak tahu. Bukankah Rasulullah SAW juga mengatakan begitu ketika ditanya oleh Malaikat Jibril, “Fa akhbirnii ‘anis-saa’ah—beri tahun aku tentang (kapan datangnya) hari kiamat!”
Jawab Rasul, “Mal mas-uulu ‘anha ya’lama minas-saa-il, yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Ya, Rasulullah tidak malu untuk menjawab tidak tahu atas pertanyaan yang dia memang tak tahu jawabannya, tanpa takut kehilangan pamor. Rasul tak akan merancang jawaban-jawaban semacam kiamat akan terjadi pada hari ke sembilan, bulan ke sembilan, tahun seribu seratus sembilan puluh sembilan!
“Aku tidak tahu”, sama sekali bukan sebuah frasa yang memalukan, jika kita memang tak tahu, bukankah begitu, Kawan. Kau pernah berkata dahulu, bahwa manusia terbagi menjadi empat tipe. Pertama: orang yang tahu bahwa dia tahu. Ini adalah orang yang memang memahami permasalahan secara mendalam, dan memandang dari segala sudut pandang. Orang seperti ini harus kita dekati, agar kita kecipratan pengetahuan dari beliau-beliau ini.
Kedua: orang yang tahu bahwa dia tidak tahu. Orang semacam ini juga terhormat, karena dia memahami dirinya sendiri, tidak sok tahu. Biasanya, orang tipe ini akan sangat menghargai orang-orang yang memang tahu. Dan, tenanglah! Orang-orang semacam ini, biasanya juga akan mencari tahu, dan suatu saat dia akan tahu pula.
Ketiga: orang yang tak tahu bahwa dia tahu. Ini tipe manusia minder. Punya pengetahuan, tetapi merasa tak konfiden. Terkadang, orang macam ini ‘mengesalkan’, tetapi jauh lebih mengesalkan adalah tipe keempat: orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Termasuk tipe ini—barangkali—adalah orang yang sebenarnya hanya sedikit tahu, tetapi merasa sangat tahu. Betapa berbahayanya jika dunia dikuasai oleh orang-orang semacam ini.
Ya, betul sekali, Kawan! Kita memang diminta berhati-hati dalam menyampaikan sebuah informasi. Bahkan, jika kita ‘tahu’ sesuatu pun, tidak lantas kita diperbolehkan mengumbar ketahuan itu. Karena, informasi yang dangkal dan tak pada konteksnya, seringkali justru menyesatkan. Ingat hadits ini?
Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Nabi Saw. bersabda: "Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang dia dengarkan." (HR.Muslim dan Abu Dawud).
Suatu saat Anda mendengar ibu dan ayah Anda bercakap-cakap tentang pembunuhan. Misalnya begini percakapannya. “Wah, si Darma ini benar-benar mental jagal. Dalam sehari, dengan tenang dia membunuh 10 jiwa.”
“Darma? Yang terlihat penakut itu?”
“Iya…, Darma yang penakut telah membunuh 10 jiwa.”
Anda tertarik dengan percakapan orang tua Anda. Lalu, di sekolah Anda akan bercerita, “Darma, tetangga saya, ternyata seorang pembunuh. Dia membunuh 10 orang….”
Maka, menyebarlah sebuah isu. Darma pembunuh. Telah membunuh 10 orang. Padahal, yang dimaksud oleh ayah Anda, Darma memang membunuh 10 jiwa, tetapi bukan jiwa manusia, melainkan jiwa ayam! Duh… duh….
Ketika masih lajang, saya juga pernah diisukan sudah menikah. Beberapa sahabat saya yang tinggal di luar kota protes keras, karena tidak diundang. Saya bingung sekali. Usut punya usut, ternyata ada karyawan di tempat saya bekerja saat itu, yang namanya mirip dengan saya dan memang baru saja menikah. Nah!
Konteks hadits tersebut memang sangat dahsyat, Kawan. Sekadar mendengar informasi, tanpa cek dan ricek serta melakukan proses pendalaman, seringkali justru membuat segala sesuatu menjadi kisruh. Bayangkan, jika Anda mendengar informasi dari dokter, bahwa harapan hidup si X tinggal 25%, dan Anda dengan bangganya mengatakan hal tersebut kepada si X!
Jadi, si Pendusta, dalam hadist tersebut, bukan hanya orang yang menyampaikan informasi yang salah, tetapi juga informasi yang tak terlalu dia pahami latar belakangnya; informasi yang sebenarnya rahasia tetap disebarkan juga; informasi yang masih sepotong-sepotong, dan sebagainya.
Saat ini, saya sering melihat teman-teman meng-RT dan men-share link yang dibacanya tanpa pendalaman. Apakah itu termasuk dalam kategori seperti termaktub di atas? Silakan ditelaah sendiri. Saya takut menjadi ‘sok tahu’ saat mengatakan bahwa para pelaku aktivitas di atas masuk kategori ‘pendusta’. Wallahu a’lam.
Catatan Ramadhan, 13 Juli 2014

Pilpres, dan Indonesia yang (Berpotensi) Terbelah

Ini mungkin tulisan yang kesekian yang Anda baca soal kegelisahan seorang warga negara terhadap fenomena yang sedang berlangsung akhir-akhir ini. Pilpres. Luar biasa gema hajatan yang satu ini. Bahkan hiruk pikuk Piala Dunia pun seakan tenggelam oleh kehadiran ajang ini. Demikian pula gema Ramadhan yang nyaris kalah oleh info copras-capres. Tak di warung angkringan, pos ronda, atau pun tempat nongkrong dunia maya—media sosial, semua terfokus pada hajatan ini.
“Baru kali ini sepanjang sejarah ber-facebook saya memblokir teman….”
“Kalau gerah dengan status-status saya, unfriend saja….”
“Ya ampuuun, kapan hiruk-pikuk ini berlalu. TL isinya copras-capres melulu.”
Jika Anda cermati lini masa di beberapa situs media sosial, kalimat-kalimat tersebut tampaknya cukup banyak distatuskan oleh para pengguna Medsos.
Ya, sekali lagi, suasana Pilpres kali ini memang sangat—jauh berbeda dengan ajang-ajang sejenis beberapa masa silam. Anda pasti sepakat, bahwa Pilpres 2014 ini memang panas. Mengalahkan hawa kemarau yang selalu bikin gerah. Pak Nasihin Masha, dalam kolom resonansi Republika, bahkan menyebut Pipres kali ini memang terpanas di sepanjang sejarah reformasi[1]. Nah, sepanjang umur saya yang tak terlalu tua (35 tahun tapi ngaku muda, hehe), Pilpres kali ini benar-benar paling panas. Tak hanya antar timses yang saling bertarung, tetapi para pengikutnya pun begitu. Yang mengenaskan, pertarungan itu bukan lagi pertarungan ide dan gagasan, tetapi seringkali justru pertarungan untuk hal-hal yang tidak relevan, semisal soal fisik, bahkan juga pasangan hidup.
Pak Nasihin menyebutkan 3 alasan, yakni 1) Pilpres hanya diikuti oleh dua kandidat; 2) pengelompokan politik yang secara historis selalu berhadapan; dan 3) pembelahan para jenderal purnawirawan yang seperti terjadi saat mereka masih aktif. Menurut Pak Nasihin, ketiga hal tersebut menyumbang peran besar terhadap pergesekan masyarakat kita. Dan Pak Nasihin menyebutkan, bahwa butuh katalisator yang bisa menyatukan dua kubu tersebut, yang disebutkan beliau sebagai sosok negarawan baru, sebagaimana Abraham Lincoln, presiden America Serikat paling legendaris.
Usai membaca tulisan Pak Nasihin, yang meskipun singkat namun sangat bernas itu, membuat saya berpikir cukup lama. Mengapa Pilpres hanya diikuti dua kandidat? Kemana sosok-sosok yang sebelum ini banyak beredar, seperti Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Pramono Edhie Wibowo, Gita Wiryawan, Wiranto, hingga Abu Rizal Bakrie. Keseriusan mereka tentu terlihat, bahkan di antara mereka ada yang sudah gencar beriklan.
Bisa jadi, Pileg yang ternyata menunjukkan tak ada parpol yang mendapatkan suara dominan (bahkan PDIP yang diprediksi akan menang mutlak karena sejak awal mengusung Jokowi sebagai capres pun ‘hanya’ mendapat suara di bawah 20%), akhirnya membuat elit-elit Parpol akhirnya berhitung kesempatan dan resiko. Akhirnya, terbentuklah dua kubu besar, yang secara hitung-hitungan kekuatan, terlihat seimbang. Pasangan Jokowi-JK didukung oleh empat parpol dengan memperoleh dukungan 39,97 persen suara atau 207 kursi DPR. Sementara  pasangan Prabowo-Hatta memperoleh dukungan 48,93 persen suara atau 292 kursi DPR. Meski suara untuk Pileg kadang tidak sama dengan Pilpres, dengan peta dukungan yang tak terlalu berbeda signifikan, memang kedua kubu itu relatif berimbang.
Dengan hanya ada dua kubu, biasanya pergesekan memang menjadi lebih kuat. Ini ditambah dengan kenyataan bahwa kubu-kubu itu, memang didukung oleh dua kelompok yang secara historis, menurut Pak Nasihin Masha, memang selalu berhadapan. Dalam hal ini, kubu Islam-Politik berhadapan dengan kubu nasionalis-sosialis. Gerindra, sebagai parpol asal Prabowo, sebenarnya juga masuk kategori Nasionalis. Demikian juga Golkar—dan Demokrat, yang baru-baru ini merapat ke kubu No. 1. Tetapi, jangan lupakan, bahwa 3 parpol pendukung Koalisi Merah Putih adalah parpol berbasis massa Muslim, yaitu PKS, PPP dan PAN.
Kubu Koalisi Merah Putih mengklaim dirinya mewakili Umat Islam, meski sebenarnya tak mutlak, karena di Kubu Jokowi juga didukung beberapa elemen yang bisa dikatakan mewakili muslim, seperti PKB. Akan tetapi, karena beberapa tokoh penting PKB juga bergabung di kubu Prabowo—seperti Mahfudz MD, bisa dikatakan masa PKB juga terpecah.
TERBELAH
Fenomena yang cukup menarik juga, adalah terbelahnya para jendral purnawirawan, yang menurut Pak Nasihin sama dengan pembelahan jendral pada saat masa aktifnya. Jika teman-teman mengamati, di tubuh TNI dikenal dengan istilah TNI Hijau dan TNI Merah Putih. Kedua kubu ini konon selalu bersaing memperebutkan hegemoni. TNI Hijau dikenal dekat dengan kalangan islam. Jendral-jendral yang masuk di kubu ini antara lain Prabowo, Kivlan Zein, Feisal Tanjung dll., sementara kubu merah putih antara lain LB Murdani,
Dalam Pilpres ini, jendral hijau merapat di kubu Prabowo, dan jendral merah putih merapat di kubu Jokowi. Maka, perang bintang pun sempat kita lihat di media-media beberapa hari yang lalu, menambah ‘serunya’ panggung Pilpres kali ini.
Ternyata, tak hanya para jendral purnawirawan yang terbelah. Ilmuwan, pers, bahkan tokoh agama pun terbelah. Tokoh-tokoh yang pada pemilu-pemilu sebelumnya tampak ‘malu-malu’, saat ini dengan terbuka menyatakan dukungannya, dan bahkan menggunakan simbol-simbol kandidatnya sebagai pic profil di akun-akun medsosnya.
Tak ayal, polarisasi dukungan ke kedua belah pihak pun terasa sangat kuat. Kedua pihak sama-sama mengaku saling menjadi korban fitnah, kampanye hitam dan sebagainya. Pendek kata, pertarungan dua kubu ini dalam menuju RI1 bisa dikatakan SANGAT SENGIT.
WASPADALAH!
Di satu sisi, fenomena ini tentu memperlihatkan ‘kegairahan’ politik masyarakat yang naik. Tetapi, di sisi lain, mencemaskan. John Sydenham Furnivall menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan masyarakat majemuk (plural society). Menurut J. S. Furnivall, masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam suatu keadaan politik. Kita tahu, di Indonesia ini, terdiri dari ratusan suku bangsa, bahasa, budaya, dan bahkan agama. Sementara, secara vertikal, Indonesia juga dihuni oleh masyarakat yang sadar atau tidak sadar menghidupkan sistem kelas sosial yang cukup kuat—ningrat dan rakyat jelata; ndoro dan kawula; bahkan juga stratifikasi berdasarkan pengalaman agama, semacam santri dan abangan.
Adapun menurut Cliford Geertz, masyarakat majemuk adalah merupakan masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri-sendiri, dalam mana masing-masing sub sistem terikat ke dalam oleh ikatan-ikatan yang bersifat primordial. Ikatan primordial, sesungguhnya sudah ‘dicoba’ dilenyapkan pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, tetapi entah mengapa, saat ini justru menjadi salah satu komoditas politik.
Lihatlah! Saat ini, alih-alih menyatukan, para tokoh politik bahkan melanggengkan dan seperti sengaja menonjolkan perbedaan itu. Ada capres yang mencoba menampilkan diri sebagai rakyat jelata, dan menuduh lawannya sebagai bermental ‘ndoro’. Sebaliknya, ada yang mengklaim kubunya lebih Islamis dan kubu lain kurang Islamis.
Masyarakat majemuk adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa kita tampik. Kemajemukan juga bukan lantas membuat kita berupaya menyeragamkan, karena perbedaan adalah rahmat. Saya pribadi menolak ide-ide pluralisme, karena yang beda tetaplah beda; keyakinan tetap keyakinan, tak bisa dipaksakan untuk melebur jadi satu. Akan tetapi, memang betul, bahwa pada sebuah masyarakat majemuk, diperlukan semacam common will—kehendak bersama—semacam keinginan untuk hidup bersama, beserta segenap aturan main yang adil. Rasulullah SAW, pernah mencontohkan ketika beliau menandatangani Piagam Madinah yang isinya merupakan perjanjian untuk hidup berdampingan secara damai dengan kalangan non muslim di Madinah. Meski akhirnya ada pengkhianatan Piagam Madinah di Kubu Yahudi, tetap saja  upaya membentuk semacam common will itu dicontohkan oleh Rasulullah.
Di lingkungan kampung saya sekarang ini, kultur masyarakatnya relatif lebih beragam, baik agama maupun etnik. Tetapi, saya dan keluarga bergaul tanpa membeda-bedakan agama. Kami tahu batas-batas aqidah, tetapi dalam soal muamalah—khususnya kemasyarakatan, kami tetap bergaul baik dengan tetangga yang keturunan Tionghoa, beragama Kristen, dan sebagainya. Kami juga memiliki beberapa klien yang beragama selain Islam, dan selama ini hubungan kami secara horizontal cukup baik.
Beberapa tahun terakhir ini, saya juga mencoba membina persahabatan dengan beberapa teman yang secara politik berbeda aliran, secara pemahaman agama berbeda, tetapi dengan sebuah common will, semua berjalan baik-baik saja.
Perbedaan, bukan sesuatu yang justru dijadikan sarana berpecah-belah, selama kita semua berupaya untuk menjembatani. Perbedaan, juga bukan untuk dihilangkan, karena yang beda itu unik. Kita hanya membutuhkan sebuah common will dan upaya kuat untuk konsisten dengan common will tersebut. Damai itu indah, bukan?






[1] http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/06/19/n7f2iq-kita-butuh-negarawan-baru

SUDAHLAH, SUDAH...

Syair untuk para pendukung fanatik presiden: kubu manapun :-)

Sudahlah sudah... kau punya mau, aku pun begitu
Kadang mauku dan maumu berbeda
Tak usah dipaksa
Tak usah saling memaksa

Kita bersahabat untuk selamanya
Bukan saat pemilihan presiden semata
Usai presiden naik takhta
Beliau akan sibuk dengan urusannya
Timses akan mendapat bagiannya

Sedangkan kita hanya bisa terpana
Meratapi hubungan persaudaraan kita
Yang seperti gelas pecah berserak belingnya
Tak dapat dilem dalam seketika...

Sudahlah, sudah… kau punya mau aku pun begitu
Kau kira aku tak gunakan otakku?
Sedang aku percaya, kau pasti gunakan otakmu
Aku tahu, kau selalu berpikir
Mestinya kau tahu aku juga berpikir
Kadang pikiran itu berbeda
Tenang-tenang saja…

Kau katakan, semua itu demi kebaikan bangsa
Tahukah kau, bangsa yang terbelah
Jauh lebih berbahaya
Bangsa yang terpecah
Sungguh menderita

Sudahlah, sudah…
Bulan di langit sana, terlalu indah untuk jadi saksi caci maki kita
Ramadan yang syahdu, terlalu mulia untuk kita abaikan
Karena kita sibuk saling beradu kata-kata

Sudahlah, sudah…
Mari berdamai saja
Kebaikan sebuah bangsa, bergantung rahmat-Nya
Dan rahmat itu, akan turun jika kita ber-ishlah jiwa
Mumpung sedang di bulan mulia
Yuk, saling bertanya kabar keimanan saja
Dan kita petikan semua kata
Yang akan buat amalan kita menguar percuma

Kreativitas, Epigonisme dan Plagiasi


Pernah pada suatu masa, ribuan tahun silam, para tukang ternyata lebih dihargai ketimbang para seniman. Berada di kubu terdepan penista para seniman adalah tokoh yang sangat berpengaruh di Yunani saat itu, Plato, yang mengusir semua sastrawan dan seniman dari negerinya. Murid Socrates ini sangat menganggap rendah para seniman dan sastrawan. Apa pasal? Menurut Plato, seni itu rendah, karena hanya merupakan sebuah mimesis-mimesos. Tiruan dari tiruan, jiplakan dari jiplakan. Realita adalah mimesis—jiplakan dari yang asli. Sedangkan seni adalah mimesis dari realita. Tukang dianggap lebih mulia, karena menciptakan realita, yang langsung menjiplak dari yang asli.
Bagi Plato yang sangat mengagungkan ide-ide, seniman sama sekali bukan pekerjaan yang berguna, dan Athena akan hancur jika dipenuhi para seniman. Terlebih, kata Plato, seniman hanya mengagung-agungkan emosi, dan karya-karya seni tak berefek kepada penguatan rasio. Maka, jika masyarakat kelewat banyak mengonsumsi seni, negara ideal tidak akan bisa terbentuk di Athena.
Hal inilah yang membuat banyak kalangan merasa heran. Mungkin Plato abai, bahwa saat meniru sebuah realita, seorang seniman pun sebenarnya sedang menciptakan sesuatu yang baru[1]. Inilah yang kemudian dikoreksi oleh murid Plato sendiri, yakni Aristoteles. Menurut Aristoteles, Plato membuat kekeliruan besar. Seni tidak menjerumuskan seseorang kepada kerendahan, justru seni sesungguhnya meluhurkan akal budi. Saat seorang seniman membuat karya, dia tidak sekadar menjiplak realita, tetapi juga sedang melakukan proses penciptaan (kreasi) sesuatu yang baru. Bahkan, seni juga bisa menjadi sebuah katarsis—penyucian jiwa. Jadi, kata Aristoteles, seni bukan sekadar copy.
Yang menarik, dalam perkembangan kemudian, berbagai kalangan justru mengatakan bahwa karya-karya Plato adalah termasuk dalam karya seni. Ternyata keterbatasan kita dalam memberikan definisi sering menjadi awalan kita dalam berpikir sempit.
Dan nyatanya, seni memang akhirnya berkembang. Seni bukan lagi sebuah proses mimesis. Di bidang seni rupa misalnya, pada abad ke-19, para seniman lukis di Perancis mulai menabrak aliran klasik berupa lukisan realisme/naturalisme. Mereka menciptakan lukisan jenis impresionisme yang menekankan pada impresi cahaya. Aliran impresionisme ini menjawab tantangan zaman seiring ditemukannya teknologi fotografi, yang pada saat itu disebut-sebut akan mematikan seni lukis.
Hal ini menunjukkan, bahwa seni memang lebih dari sekadar peniruan-peniruan dari sebuah realita. Mari kita lihat pada seni tari. Misalnya tari Blambangan Cakil yang berasal dari Jawa Tengah. Tari itu mengisahkan pertarungan Srikandi melawan Buto Cakil. Jika seni disebut sekadar mimesis, bagaimana mungkin ada sebuah gerakan bertarung yang begitu indah dan halus?

TEORI INTERTEKSTUAL

Pada zaman ini, di mana karya seni sudah menjadi sebuah komoditi, unsur orisinalitas mendadak menjadi permasalahan yang penting untuk dikaji. Terlebih, proses peniruan zaman sekarang sudah jauh berbeda dengan zaman Plato. Yang ditiru saat ini bukan lagi jiplakan realita, tetapi—dalam bahasa Plato—adalah ‘jiplakan dari jiplakan’.
Semakin menarik, ketika seorang filsuf Rusia, Mikhail Bakhtin mengemukakan sebuah teori bahwa sebuah teks sastra dipandang sebagai tulisan sisipan atau cangkokan pada kerangka teks-teks sastra lain, seperti tradisi, jenis sastra, parodi, acuan atau kutipan. Teori Bakhtin ini kemudian dikembangkan oleh Julia Kristeva menjadi sebuah teori yang disebut Intertekstual. Menurut Kristeva, tiap teks merupakan sebuah mozaik kutipan-kutipan; tiap teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks lain. Kristeva berpendapat bahwa setiap teks terjalin dari kutipan, peresapan, dan transformasi teks-teks lain. Sewaktu pengarang menulis, pengarang akan mengambil komponen-komponen teks yang lain sebagai bahan dasar untuk penciptaan karyanya. Semua itu disusun dan diberi warna dengan penyesuaian, dan jika perlu mungkin ditambah supaya menjadi sebuah karya yang utuh. Untuk lebih menegaskan pendapat itu, Kristeva mengajukan dua alasan. Pertama, pengarang adalah seorang pembaca teks sebelum menulis teks. Proses penulisan karya oleh seorang pengarang tidak bisa dihindarkan dari berbagai jenis rujukan, kutipan, dan pengaruh. Kedua, sebuah teks tersedia hanya melalui proses pembacaan. Kemungkinan adanya penerimaan atau penentangan terletak pada pengarang melalui  proses   pembacaan (Worton, 1990: 1).[2]
Alasan dari Kristeva dipandang sangat masuk akal. Terlebih, banyak sekali teori yang menyatakan bahwa antara membaca dan menulis memang memiliki hubungan yang sangat kuat. Bahkan, ada seorang penulis yang mengatakan bahwa 75% pekerjaan seorang penulis adalah membaca. Adapun menurut Ismail Marahimin, membaca adalah ‘tenaga dalam’ seorang penulis.[3]

BETULKAH TAK ADA IDE YANG BENAR-BENAR ORISINAL?

Mendalami teori Kristeva, akan membuat kita bertanya-tanya: betulkah kebaruan dalam sebuah karya itu memang benar-benar ada? Apakah orisinalitas itu memang ada?
Sebuah karya seni bermula dengan apa yang disebut oleh Alain Badiou—seorang pemikir Perancis, sebagai “kejadian” (atau l’événement). “Kejadian” itu seringkali cuma berlangsung sekilas; hadirnya pun misterius. Dan seringkali muncul dalam keadaan yang tak terduga-duga. Namun, kejadian ini bermakna sangat besar dari sebuah proses kreasi—baik dalam bidang seni, maupun bidang-bidang lain.
Hampir mirip dengan postulat Badiou barangkali adalah konsep ‘eureka’ Archimedes. Kita tentu tahu bagaimana seorang Archimedes berteriak “eureka!” dalam keadaan berendam di bak mandi dan berlari-lari dalam keadaan (maaf) telanjang, saat mendadak dia menemukan sebuah ide besar yang menjawab pertanyaan raja perihal keaslian emas yang melapisi mahkota sang raja.
Kita juga pernah mendengar bagaimana seorang Newton berhasil menemukan sebuah konsep besar yang menjadi awalan revolusi ilmu pengetahuan tentang teori Gravitasi hanya gara-gara buah apel yang jatuh dari pohonnya. Munculnya sebuah ide, memang seperti sebuah misteri tersendiri. Namun, jika kita memahami bagaimana sebuah kreasi muncul, sebenarnya proses ‘eureka!’ ini juga berawal proses kreatif yang panjang dari seorang penulis.
Proses penemuan ide ini mungkin akan menjawab pertanyaan di atas. Bisa jadi, memang tak ada yang benar-benar orisinal dalam sebuah karya. Akan tetapi, proses kreasi memang tidak ‘menuntut’ sesuatu yang benar-benar baru secara seratus persen.
Kreativitas, menurut The Liang Gie didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menciptakan penggabungan baru. Kreativitas akan sangat tergantung kepada pemikiran kreatif seseorang, yakni proses budi seseorang dalam menciptakan gagasan baru. Penggabungan baru itu dirumuskan oleh Haefele sebagai: A + B à C
Hal ini disebut sebagai proses bisosiasi, yakni yang menurut Arthur Koestler  didefinisikan sebagai pengatuan dua alur pemikiran yang sebelumnya tidak berkaitan.
Suatu saat, Anda melihat lem dan serutan/ serbuk gergaji. Maka muncullah kreativitas untuk menyatukan serbuk gergaji itu dengan lem, jadilah produk kayu lapis. Anda melihat sepatu, lantas melihat sepeda. Maka terciptalah sepatu roda. Anda melihat sampah plastik, lalu Anda melihat api. Terciptalah sebuah mesin yang memproduksi plastik daur ulang. Anda melihat ceramah agama di masjid, lalu Anda melihat orang bersenang-senang di sebuah cafe, maka terciptalah metode berceramah ala cafe, yakni ceramah yang sekaligus untuk memasukkan nilai-nilai agama, namun sekaligus menghibur.
Anda melihat ada tanaman tomat, serta tanaman kentang. Lalu Anda menyambungnya. Akar hingga bagian tengah adalah tanaman kentang, sedangkan bagian tengah hingga daun-daun adalah tanaman tomat. Hasilnya adalah sebuah tanaman yang bisa menghasilkan buah tomat sekaligus umbi kentang. Selain akan menghemat lahan, Anda juga akan lebih efesien dalam merawat tanaman tersebut.
Kreativitas juga bisa berupa merangkai dari banyak hal menjadi suatu hal baru. Persis seperti seorang anak kecil yang merangkai keping-keping puzzle menjadi sebuah bentuk yang utuh dan berwujud. Dan hakekat dari penciptaan yang dilakukan oleh manusia memang hanya sekadar merangkai, menggabungkan materi dengan bentuknya, begitu menurut Ibnu Rusyd. Penciptaan oleh manusia, bukanlah berasal dari sesuatu yang tiada, is not creatio ex nihilo. Bahan-bahan sudah tersebar di alam semesta, sebagian sudah tertulis di dalam buku-buku, sebagian belum. Imajinasi kitalah yang kemudian merangkainya menjadi sesuatu yang baru. Akan tetapi, ide awal dalam proses penciptaan inilah yang sesungguhnya menjadi hal terpenting dalam sebuah karya.
Proses kreatif seseorang itu sebenarnya juga merupakan pekerjaan yang tidak sim salabim. Menurut Herman Helmhotz dan George Wallas, proses kreatif yang terjadi dalam kepala kita bisa diringkas menjadi empat tahapan penting.
Persiapan: tahap di mana individu bersangkutan mengumpulkan pengetahuan, informasi atau data-data yang dijadikan bahan baku untuk penciptaannya. Tahap ini bisa memakan waktu belasan bahkan puluhan tahun.
Inkubasi: proses ketika kita menghadapi sebuah masalah yang membutuhkan pemecahan. Pengalaman dan pengetahuan sangat berperan aktif dalam hal ini, karena bagaimanapun juga kreativitas adalah kemampuan menciptakan kombinasi baru diatas struktur yang lama
Iluminasi: proses penemuan ide yang muncul ke permukaan. Proses inilah yang sering disebut sebagai insight, saat kita merasa menemukan sesuatu yang ‘cling’! Atau yang dalam bahasa Alain Badiou di atas disebut sebagai “kejadian” (atau l’événement)
Verifikasi: yakni proses penjabaran ide secara terperinci. Mungkin di sinilah teori intertekstual Julia Kristeva tersebut bermain. Kita mencari rujukan-rujukan, petikan-petikan dan seterusnya dari berbagai teks yang kita baca. Akan tetapi, tanpa 3 tahap yang berlangsung, mustahil kita bisa merangkai petikan-petikan itu menjadi sebuah kepingan peristiwa yang menarik.
Terlebih, yang akan dibagi oleh seorang seniman—termasuk sastrawan, adalah pengalaman estetik, pengalaman artistik. Menurut Gunawan Mohammad pengalaman artistik ketika menikmati sebuah karya seni, adalah sebuah situasi saat kita masuk ke dalam pengalaman yang mengalir, ibarat turun ke sebuah sungai yang tak kita ketahui apa namanya, tak kita ketahui di mana pula hilir dan hulunya. Yang kita ketahui adalah arus yang bergerak tak henti-hentinya, menampung rakit yang mungkin ke sebuah tujuan, tapi mungkin menampung anak yang berenang-renang tanpa arah.
Bisakah pengalaman estetik itu dirasakan dari sebuah karya yang hanya merupakan kumpulan rujukan-rujukan, tanpa adanya proses insight, tanpa adanya inkubasi, dan juga tak ada ruh yang masuk di dalam sebuah karya?

TERINSPIRASI, EPIGONISME DAN PLAGIASI

Dengan sedemikian rumitnya proses berkreasi, terbetiklah di benak, betapa lancangnya sosok yang hanya sekadar menjiplak karya penulis lain dan mengklaim sebagai karyanya sendiri.
Masalah inspirasi, tentu sah-sah saja dalam sebuah proses kreasi. Seperti yang saya kutip dari Ibnu Rusyd di atas: Penciptaan oleh manusia, bukanlah berasal dari sesuatu yang tiada, is not creatio ex nihilo. Yah, barangkali, kita sering merasa resah, karena kita ternyata mendapatkan sebuah ide setelah membaca karya orang lain. Pokok keresahan kita adalah, apa kita termasuk plagiator?
Josip Novakovich menjawab tegas, tidak! Dalam buku “Berguru Pada Sastrawan Dunia” (terbitan Kaifa), dia menganalogikan hal tersebut sebagai warisan. Ibaratnya kita adalah orang yang mandiri, namun mendadak kita mendadak mendapat warisan dari orangtua kita. Maka jika anda menerima warisan tersebut, anda akan terlihat bodoh jika menyangkal keberadaan orangtua dan kakek-nenek kita. Akan tetapi, untuk mendapatkan warisan, tentu kita harus menjadi ahli waris. Dan untuk menjadi ‘ahli waris’ kita harus bertekun dalam sebuah bidang yang sama, melakukan proses persiapan dan inkubasi. Tanpa hal tersebut, bahkan berpuluh-puluh kali kita membaca sebuah karya pun, kita tak mungkin akan mendapatkan proses ‘insight’.
Soal inspirasi karya, Josip Novakovich memberikan contoh Homer yang mengarang The Odyssey dan The Illiad yang berdasarkan laporan perang; Virgil yang menulis The Aeneid berdasarkan karya Homer; Dante menulis The Inferno yang diilhami dari The Aeneid dan seterusnya. Dan tidak ada yang mengatakan bahwa mereka adalah plagiat.
Tetapi, terinspirasi tentu sangat berbeda dengan epigonisme, apalagi plagiasi. Dalam KBBI, epigon dimaknai sebagai orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya; sedangkan plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dsb.) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb.) sendiri. Misalnya, menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri.
Beberapa pekerja kreatif menyebutkan bahwa epigon sesungguhnya hanya sedikit lebih baik daripada plagiat. Dan epigon juga bukan sesuatu yang baik. Beberapa praktik epigonisme yang sering kita lihat misalnya, dalam dalam soal merk. Seringkali produk-produk tertentu membuat merk yang mirip-mirip dengan merk yang sudah mapan. Misal, dulu zaman saya kecil ada merk sepatu EGEL, yang sepertinya merujuk pada EAGLE. Lalu, saat ini ada kue dengan merk ORIORIO yang pastinya merujuk pada OREO, dengan kemasan yang 90% sama. Saat novel karya Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta, meledak di pasaran beberapa tahun yang lalu, mendadak sebaris panjang judul-judul novel yang hampir mirip, dengan alur cerita dan cover yang juga sangat mirip, ikut membanjiri pasar… dan ikut laris.
Sepertinya, praktik-praktik epigonisme ini memang banyak sekali terjadi, hampir di semua lini kehidupan. Pernah dalam sebuah perjalanan, saya melihat sekitar satu lusin orang berjualan bensin di depan rumahnya dengan jarak satu sama lain tak sampai seratus meter. Demikian juga, ketika bisnis konter HP muncul, mendadak ratusan konter serupa bersembulan bak jamur di musim hujan.
Jadi, sekali lagi, bisa dikatakan, proses mimesis juga terjadi pada zaman sekarang. Hanya saja, jika zaman Plato mimesis itu menjiplak dari realita, maka mimesis zaman sekarang adalah menjiplak karya yang sudah ada. Jika Plato bangkit dari alam kubur, mungkin dia tak hanya akan mengusir para seniman, tetapi membunuhinya. Karena praktik epigonisme dan plagiarisme bukan lagi sekadar menjiplak jiplakan, tetapi menjiplak jiplakan yang juga merupakan sebuah jiplakan.

Afifah Afra. Lahir di Purbalingga, 18 Februari 1979. Tinggal di Kota Surakarta. Sehari-hari beraktivitas mengelola penerbit PT Indiva Media Kreasi, sekaligus juga bergiat di Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena sebagai Sekjen. Website: www.afifahafra.net. Akun Twitter: @afifahafra79.





[1] Luxemberg, Jan Van dkk. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (Diterjemahkan oleh Dick Hartoko).
[2] http://www.academia.edu/3485153/Teori_Intertekstual_Pengantar_
[3] Ismail Marahimin, 2001, Menulis Secara Populer, Pustaka Jaya, Jakarta