AHLAN WA SAHLAN, SELAMAT DATANG DI BLOG AFIFAH AFRA SEMOGA MEMBERI MANFAAT

Thursday, 23 May 2013

LUKA PADA WAJAHMU

Untukmu yang selalu membersitkan rindu di kalbu

Sedang ada luka di tubuhmu
Pastinya cukup perih,
Karena kulihat kau selalu meringis kesakitan
Luka kecil sebenarnya
Hanya, luka itu tepat di wajahmu

Luka itu membuatmu terlihat buruk,
Dan orang-orang menertawaimu.
Bisa jadi, cemooh itu yang sebenarnya bikin kau sakit
Karena luka itu, sebenarnya tak seberapa

Kau memang terlihat bopeng dengan luka itu
Karena itukah, kau tampak sibuk sekali mengurusi luka itu?
Menambal, mengompres, mencari obat.
Ya, kau terlihat sangat sibuk

Sunday, 19 May 2013

Pilih Mana: Penulis Buku vs Kreator Buku?


Beberapa hari terakhir, saya kehilangan konsentrasi untuk menulis teks panjang, baik fiksi maupun non fiksi. Padahal, ada dua atau tiga buku yang semestinya segera saya selesaikan agar bisa terbit di tahun ini, sesuai target. Banyak hal yang membuat saya susah mengarahkan pikiran pada pekerjaan yang sebenarnya telah sangat menyedot minat saya sejak kecil ini. Hiruk pikuk, bising dan ingar-bingar di sekitar, mulai dari pekerjaan kantor, urusan dengan beberapa agen ‘bermasalah’, perkembangan dunia perbukuan yang begitu dinamis, hingga kondisi perpolitikan yang memanas di tahun politik, membuat mau tidak mau saya harus melirik ke dunia luar. Oh, tidak melirik, malah mempelototinya dengan akomodasi minimal plus kacamata (hehe, lebay, ya?).
Dan itu, terus terang sering membuat saya kehabisan energi. Sebenarnya, saya bukan sama sekali tak memiliki waktu untuk menulis. Akan tetapi, konsentrasi yang terpecah, sering membuat pikiran saya berkelana entah kemana, dan sulit untuk melekat pada sebuah alur dan menyatu di dalamnya.

Tuesday, 14 May 2013

Minderan, Narsis, Atau Mengawang?

Coretan Afifah Afra

Kasus Pertama.

Suatu hari seorang remaja puteri curhat ke saya, menceritakan tentang keadaan dirinya yang seakan-akan nyaris tak punya keinginan dalam hidupnya. “Saya hidup untuk menjalankan apa yang dimaui orang tentang saya. Mulai dari sekolah, pekerjaan, bahkan terkadang sampai hal-hal kecil, saya selalu didikte orang lain. Apakah yang terjadi pada saya ini benar, Mbak? Tak adakah masalah yang mungkin timbul di kemudian hari?”

Remaja puteri itu, sebut saja namanya Marisa. Seorang gadis lugu. Sebenarnya dia cerdas, sering saat saya pancing-pancing, ternyata dia bisa mengeluarkan argumen yang out of the box. Setelah saya selusur, ternyata dia lahir dari keluarga yang cenderung otoriter.  Lantas, setelah dia bekerja, ternyata bos tempat dia bekerja juga tipikal otoriter. Maka, seperti konten curhat dia kepada saya, memang dia seakan-akan hidup tanpa kehendak pribadi.

Thursday, 9 May 2013

Menulis, Metode Belajar Total Ala Manusia


By Afifah Afra

Ketika pasukan Amerika Serikat menjatuhkan “Little Boy”, julukan bom atom yang dijatuhkan oleh pesawat pembom B-29 “Enola Gay” (dipimpin oleh Kol. Paul W. Tibbetts) di Hiroshima, 6 Agustus 1945, dan “Fat Man”, julukan untuk bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki, 9 Agustus 1945,  Hiroshima dan Nagasaki, dua kota terpenting si Jepang pun luluh lantak. Ratusan ribu orang meninggal, dan Jepang pun menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945. Ekonomi Jepang lumpuh, keadaan sosial-politik karut-marut, dan sebagai sebuah negeri, ibarat manusia yang tengah meregang nyawa, dalam keadaan rigor mortis alias sekarat.

Wednesday, 1 May 2013

Siti Ogah Demo May Day

Tak seperti biasa, Siti, buruh Pabrik Sepatu itu tak terlalu antusias meski penanggalan di rumahnya jelas-jelas menunjuk angka 1. Tepatnya 1 mei. Setahun silam, persis di tanggal yang sama, Siti bolos kerja, terjun ke jalan bersama teman-teman buruh, berdemonstrasi menuntut kesejahteraan buruh. Ya, memang sih, demo mereka dibilang cukup berhasil, UMR naik, meski tak setinggi harapan mereka. Demo yang cukup memakan korban, karena Siti harus rela dipotong gaji gara-gara kebijakan pabrik yang superketat. Potongan yang sudah besar, akan ditambah besar jika terbukti bolosnya pas May Day.
Tapi, hari ini, Siti benar-benar malas untuk pergi.
“Tumben nggak demo?” goda Wanti, yang cengar-cengir melihat gadis itu pagi-pagi sudah berada di pabrik.  “Ini satu Mei, lho, Sit.”
Tak menjawab, Siti hanya melengos.
“Lho, kok malah cemberut?”

Wednesday, 24 April 2013

Seorang Lelaki dan Selingkuh

(Sebuah Cerpen)
Afifah Afra

 Lelaki itu merapatkan jaket tipis kumalnya lekat-lekat hingga menempel ketat pada rusuk-rusuknya yang bertonjolan, ketika angin yang bertiup kencang itu menebarkan hawa dingin yang cukup menggigiti tulang sunsumnya. Ia menekuk lutut, menautkan pada perut seraya terus duduk meringkuk di dalam becaknya, mencoba menciptakan kehangatan di tengah badai yang semakin menderas.
“Dingin ya, Mas?” ujar Darman, yang sejak tadi klepas-klepus menyedot batang rokoknya di atas sadel becak yang terparkir di sampingnya. Ujung kretek yang tampak merah dengan kepulan asap yang bergumpal-gumpal sejujurnya membuat lelaki itu berkali-kali menelan ludah. Merokok di malam yang beku... sepertinya sangat nikmat. Setidaknya, pasti akan mampu membuat tubuhnya sedikit menghangat.