Berbagi, cara kita memberi arti...

7 Apr 2015

On 13:46 by Yeni Mulati Afifah Afra in , , ,    1 comment

Sekalipun CINTA telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar
Namun jika CINTA kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang
Namun tanpa lidah, CINTA ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa gesa menuliskannya
Katakata pecah berkepingkeping saat sampai kepada CINTA
Dalam menguraikan CINTA, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam Lumpur
CINTA sendirilah yang menerangkan CINTA dan perCINTAan
(Jalaluddin Rumi)

Kata seorang guru saya, cinta adalah sesuatu yang sangat agung, dan sama sekali bukan sebuah perkara yang bisa dibikin main-main. Seperti air laut yang tak pernah kering, cinta juga nggak habis-habisnya menjadi bekal bertutur. Cinta juga telah setua usia bumi ini. Bahkan, pastinya lebih tua lagi. Allah SWT, sebagai Dzat terdahulu dan tidak ada yang mendahului, menamai dirinya dengan Al-Waduud yang berasal dari al-wudd, yaitu al-hubb, artinya “Cinta.” Allah adalah Sang Maha Pecinta. Dia menciptakan bumi dengan cinta. Mengatur alam semesta dengan cinta. Dan menganugerahkan rasa cinta kepada makhluk-makhluk-Nya.

Lebih dari itu, cinta bahkan menjadi salah satu dari tiga pilar ibadah. Dalam artian, ibadah kita nggak akan sempurna tanpa adanya cinta! Ya, karena kita tahu, bahwa ibadah di dalam Islam itu disokong oleh tiga pilar yaitu Khauf (rasa takut), Roja' (harapan) dan Mahabbah (cinta). Kita tidak boleh menjadikan ibadah kita cenderung pada satu pilar, dengan meninggalkan pilar yang lain. Dalam artian, ketiga pilar itu harus seimbang. Karena cinta adalah satu dari tiga pilar ibadah, padahal, tujuan manusia diciptakan, adalah untuk beribadah sebagaimana firman-Nya, “Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz –Dzariyat: 56 ).
Jika demikian adanya, makanya kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa salah satu tugas manusia diciptakan, adalah untuk bergelut dalam sebuah pemahaman dan pengamalan yang mendalam tentang makna sebuah cinta.
Kalau begitu, cinta bukan perkara duit recehan. Bahkan, kata Rumi di atas, pena pun selalu tergesa-gesa saat mengartikan kata cinta. Untungnya, saya nggak nulis pakai pena, tapi ngetik pakai keyboard, hehe … just kidding!

Jadi, Apa sih Definisi Cinta?
What’s the meaning of love? Kalau kata Rumi di atas, sih, love can not be defined. Tapi, nyatanya, manusia memang butuh penjelasan. So, akhirnya banyak pula pakar yang berusaha mendefinisikan, apa itu cinta. Berikut ini beberapa definisi cinta. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata CINTA dimaknai antara lain sebagai: 1. suka sekali; sayang benar; 2. kasih sekali; 3 ingin sekali; berharap sekali, rindu. Nah, pas buka-buka Oxford Learner’s Pocket Dictionary, di sana love dimaknai sebagai ‘strong liking or affection’. Artinya, kesukaan atau rasa sayang yang kuat.
Beberapa pakar atau tokoh, memiliki definisi cinta masing-masing. Misalnya:
Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting daripada kebahagiaan diri sendiri.” (H Jacson Brown, Jr., pengarang buku Life s Little Instruction).
"Cinta adalah ketertarikan hebat yang tidak masuk akal, agar sepasang jiwa mengupayakan kebersamaan sebagai pasangan yang menghasilkan keturunan yang melanjutkan kehidupan. Kasih sayang adalah keputusan sadar untuk menjadikan kebersamaan seseorang dengan pribadi pilihannya sebagai sahabat yang membesarkan kehidupan. Cinta bisa berlangsung sesaat, dan kasih sayanglah yang melanjutkannya sampai kapan pun." (Mario Teguh).

Cinta Menurut Ulama
Percaya, nggak, bahwa cinta yang dalam bahasa Arab disebut sebagai al-Hubb, dalam al-Quran sekurang-kurangnya disebut sebanyak 80 kali! Ini menunjukkan bahwa cinta memang sesuatu yang bermakna sangat luar biasa. Akan tetapi, cinta di dalam Al-Qur’an bermakna sangat luas. Mulai dari Cinta Allah kepada hamba-Nya, cinta hamba kepada rabbnya, cinta sesama manusia, bahkan juga cinta terhadap alam semesta.
Menurut Syaikh Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, seorang ulama terkemuka yang hidup pada Abad ke-13, dalam bahasa Arab, cinta adalah turunan dari kata mahabbah, yang berasal dari kata hubb. Sekarang, kamu jadi ngeh, ya … kalau ada seseorang yang memanggil kekasihnya dengan panggilan hubby. Ada lima makna kata untuk akar kata hubb. Apa aja?
Pertama, ash-shafa wa al-bayadh, yang artinya putih bersih. Orang sering menyebut bagian gigi yang putih bersih disebut habab al-asnan. Jadi, cinta yang keren, mestinya putih bersih, enggak mengandung noda. Kalau kecampur noda, cinta jadi tidak murni lagi.
Kedua, al-‘uluww wa azh-zhuhur, tinggi dan kelihatan. Bagian tertinggi dari air hujan yang deras disebut habab al-ma’i. Puncak gelas atau cawan disebut habab juga. Ini berarti, bahwa cinta adalah sesuatu yang ‘tinggi’ nilanya.
Ketiga, al-luzum wa wa ast-tsubut, yakni terus-menerus dan konsisten. Unta yang terus-menerus menelungkup, konsisten tidak bangkit-bangkit sering dikatakan habb al-ba’ir. Jadi, cinta itu adalah sesuatu yang berjalan secara terus-menerus. Bukan sekadar luapan besar banjir yang membawa energi besar (kadang merusak), namun dalam waktu singkat aliran itu lekang dan mengering. Sehingga, cinta sejati adalah cinta yang memiliki sumber mata air yang terus menerus mengeluarkan air.
Keempat, lubb, inti atau saripati sesuatu. Biji disebut habbah, karena itulah benih, asal, dan inti tanaman. Jantung hati, kekasih orang yang tercinta disebut habbat al-qalb. Cinta, juga bisa berupa saripati kehidupan. Banyak orang bertahan hidup karena ada cinta. Banyak yang mencoba menghilangkan hidup, saat merasa cintanya pergi. Yaelaah….
Kelima, al-hifzh wa al-imsak, menjaga dan menahan. Wadah untuk menyimpan dan menahan air agar tidak tumpah disebut hibb al-ma’i. Berarti, cinta adalah sesuatu yang menjaga kita dari segala sesuatu yang menghancurkan. Cinta adalah menyimpan dan menahan. Bukan justru mengobral dan membocorkan. Jika ada sesuatu yang baik, cinta akan menjaganya, membiarkan ia lestari, dan bukan justru menggemboskan dan membusukkan.

Passionate Love vs Companionate Love
Beberapa psikolog, antara lain Hatfied dan Rapson, sebagaimana dikutip oleh Wade & Tavris, mencoba membagi cinta menjadi dua macam cinta, yakni Passionate Love vs Companionate Love. Passionate Love, adalah cinta romantik. Cirinya, adanya emosi keintiman yang kuat dan ketertarikan seksual yang tinggi. Cinta ini, karena sangat didominasi emosi, bersifat subyektif, fluktuatif dan sangat dirangsang oleh panca indera. Subyektif, berarti satu orang berbeda dengan orang lain saat mengalami rasa cinta.
Cinta macam ini juga fluktuatif, berarti kadang kala gelombang cinta begitu tinggi, namun mendadak berubah sangat rendah. Dan, ia sangat ditentukan oleh panca indera. Cinta akan bergejolak dahsyat jika salah satu atau lebih dari panca indera kita, menangkap objek yang kita cintai itu. Jika ada orang yang mengatakan ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’ bisa dipastikan 99%, bahwa ini adalah cinta yang sifatnya passionate love.
Apakah cinta passionate itu dilarang dalam Islam? Sebenarnya nggak juga! Kita telah dianugerahi panca indera, dan dengan sendirinya kita akan bisa merasakan berbagai rangsangan dari luar tubuh kita. Misalnya, kita akan merasa kagum melihat ada cowok ganteng, atau cewek cantik. Adanya passion, alias gairah, alias syahwat, itu yang justru membikin hidup jadi indah. Nggak percaya? Lihat petikan ayat Al-Qur’an ini!
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan (syahwat) berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak[1]) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14).
Jadi, kecintaan yang emosional kepada lawan jenis, memang sesuatu yang fitrah. Cowok yang normal, ketika sudah mulai beranjak dewasa, ia akan tertarik kepada cewek, begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, cinta ini memang agak sulit dikendalikan. Kata para psikolog, cinta jenis ini bisa menyebabkan ketergantungan, alias kecanduan. Kata mereka, seperti yang saya kutip dari buku Psikologi tulisan Wade & Tavris, saraf-saraf yang berkaitan dengan passionate love, telah berkembang sejak manusia masih bayi. Contohnya, seorang bayi akan menangis meraung-raung saat ditinggal oleh ibunya.
Cinta ini dikendalikan oleh berbagai zat biokimiawi utamanya adalah hormon yang terdapat dalam tubuh, di antaranya endorphin, dopamine, phenyletilamine (PEA), serotonin, yang dihasilkan oleh otak. Ketika panca indera kita menangkap rangsang dari luar, misalnya mata melihat wajah cakepnya, telinga mendengar suara merdu si ‘dia’, kulit bersentuhan dengan kulitnya, hidung mencium wangi tubuhnya, dan lidah … (ehm, ini dilewati aja ya, takut menjurus ke pornografi), maka rangsang akan masuk ke otak, dan otak pun mengeluarkan hormon-hormon itu.
Jadi, attachment (ikatan) cinta jenis ini memang sangat fisiologis. Kalau kita sudah terhinggapi rasa cinta jenis ini, maka akan ada serangkaian reaksi yang sulit banget kita menej. Cinta gaya inilah yang disebut-sebut sebagai ‘dari mata turun ke hati.’ Kalau sudah melekat, gula jawa pun berasa cokelat. Dan, karena susah mengendalikannya jika sudah menempel di otak dan turun ke hati, satu-satunya cara adalah MENGHINDAR!
Companionate Love, berarti cinta persahabatan. Ini dicirikan adanya afeksi (rasa sayang), rasa percaya, dan perasaan tenteram saat bersama orang yang kita cintai. Tenteram lho! Bukan gejolak erotisme yang membara. Weleh … weleh! Beda dengan passionate love, cinta jenis ini lebih stabil, tenang, dan sudah tak lagi emosional. Oleh karenanya, cinta jenis ini biasanya berumur panjang, bahkan abadi. Cinta semacam ini biasanya ada pada sepasang sahabat yang memiliki kesamaan pandangan/visi dan terikat oleh komitmen kuat pada sesuatu. Misalnya, Rasulullah SAW dan Abu Bakar, yang dikenal sebagai pasangan sahabat yang sangat akrab. Rasulullah SAW biasa bermanja-manja bahkan tidur di pangkuan Abu Bakar Ash-Shidiq. Pasangan suami istri yang sudah mulai cukup lama membina rumah tangga juga biasanya memiliki cinta jenis ini, karena pada prinsipnya, seperti kata Mario Teguh di atas, cinta itu sesaat. Lalu kasih-sayanglah yang melanjutkannya.

Segitiga Cinta Dari Robert Sternberg
Ada pula istilah the triangular theory of love, alias teori segitiga cinta yang dicetuskan oleh Robert Stenrberg. Tak usah bertanya-tanya kenapa harus segitiga? Kenapa enggak segi seratus atau malah lingkaran aja? Karena sudah jelas, bahwa menurut beliau, cinta itu memiliki tiga dimensi, yakni hasrat (PASSION), keintiman/kedekatan/keakraban (INTIMACY), dan komitmen (COMMITMENT). Cinta yang sempurna, adalah cinta yang memadukan tiga jenis cinta ini.
Namun, tentu saja cinta menurut Sternberg ini sifatnya hanya bisa berlangsung pada manusia, lebih tepatnya pada sepasang suami istri. Artinya, sedahsyat apapun passionnya, seakrab apapun kedekatannya, tanpa ada ikatan komitmen berupa akad nikah, cinta itu masih belum lengkap. Fondasinya lemah. Ibarat membangun istana megah di atas air. Terkena sedikit gelombang saja, sudah ambruk dan tenggelam.

Itu cinta menurut para ahli. Sekarang, bagaimana menurut kamu?





109) Hewan-hewan dari jenis unta, sapi, kambing, dan biri-biri.

3 Apr 2015

On 17:41 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    8 comments
Apa kabar, Sobat? Semua kau baik-baik saja. Ya, meski itu cuma harapan saya semata. Saya tahu, kok, kadar kekecewaanmu mungkin sudah mengubun-ubun. Berkali-kali proyek yang kau gadang-gadang, menurutmu mengalami kegagalan. Hm, mungkin ini perkara sudut pandang aja, ya… kamu yang idealis, selalu ingin mendapatkan sesuatu yang sempurna. Sementara, apa yang kau capai, dalam kacamataku, sebenarnya sudah sangat baik.


Hm, tapi, baiklah… sebagai sahabat, saya tak ingin berdiam diri. Boleh ya, saya menghiburmu. Jangan anggap saya sok tahu dan sok pahlawan ya. 

Saya hanya ingin memotivasimu dengan sebuah teori motivasi yang dicetuskan oleh Victor Vroom. Beliau adalah seorang pakar manajemen dari Yale School of Management. Teorinya lebih dikenal dengan nama Expectancy Theory. Barangkali, teori ini cocok untuk sedikit mem-boost semangatmu, ya… semoga.

Menurut Pak Vroom, Besar kecilnya usaha kerja yang akan diperlihatkan oleh seseorang, tergantung pada bagaimana orang tersebut memandang kemungkinan keberhasilan dari tingkah lakunya itu dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Itu konsep dasarnya. Pak Vroom lalu mencetuskan sebuah rumus seperti ini.

M = E + I + V

M         = Motivation
E          = Expectancy
I           = Interest
V          = Value

Gampangnya, berapa besar tingkat motivasi kita, bergantung pada tiga komponen itu. Expectancy adalah seberapa besar pengharapan kita akan apa yang kita kerjakan. Misal, kita menulis sebuah novel, lalu kita berharap novel itu meledak di pasaran, best seller, dan mungkin difilmkan. Atau, kita mengikuti lomba karena hadiahnya gede, karena lombanya bergengsi, dan sebagainya. Karena harapan kita sangat besar, maka kita sangat termotivasi. Kita akan menulis dengan keranjingan, sampai melupakan yang lain.

Ada tipe-tipe tertentu yang menjadikan E sebagai sumber utama motivasi, sehingga E menduduki nilai dominan. Faktor lain bahkan seperti tidak ada maknanya. Motivasi kita 100, dan E pun akhirnya sebesar 100. Berarti, interest kita sebesar nol, dan Value pun sebesar nol. Aduuuh, ini bahaya sekali. Iya betul, jika harapan kamu berhasil terwujud. Kalau ternyata tidak? Motivasi kamu akan melorot berbanding lurus dengan kekecewaan yang kamu derita.

M0       = 100 + 0 + 0 = 100  (motivasi sebelum kejadian)
M1       = 0 + 0 + 0 = 0 (motivasi setelah kejadian)

Bahaya, karena kamu benar-benar bisa akan ngedrop, patah hati, kecewa berdarah-darah dan mungkin angkat pena, alias ogah nulis lagi.

Nah, tetapi motivasi bisa dibangun dari dua komponen yang lain. Interest, alias minat, alias passion. Interest bisa menyumbang motivasi dengan signifikan, lho. Kan pernah tuh, kita mendengar cerita tentang bagaimana para pendaki gunung yang bersusah payah menaklukkan puncak tertinggi di dunia. Mereka bahkan tidak dibayar, tidak diberikan “janji-janji surga”, tetapi karena interest mereka sangat tinggi, motivasi itu pun sangat tinggi. Talenta yang kita miliki, harus dibalut dengan passion, sehingga ketika kita melakukan sesuatu, itu benar-benar karena kita suka.

Terakhir, value. Alias nilai, alias norma. Sesuatu yang kita yakini, untuk tujuan apa kita melakukan sesuatu. Para ulama besar, banyak yang motivasinya benar-benar didominasi oleh faktor ini. Mereka tidak pernah menulis karena royalti atau semata hobi. Mereka menulis karena merasa bahwa itu bagian dari kewajibannya. Maka, mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyusun kitab-kitab yang akhirnya menjadi rujukan kaum muslimin, semata demi menyebarkan ilmu.

Bukankah amalan seseorang saat meninggal itu, terputus kecuali atas tiga hal: doa anak shaleh, ilmu yang bermanfaat dan shadaqoh jariyah? Kalau value kita kuat, kita tidak akan lagi mengatakan, “Ketimbang penulis, mending jadi artis.” Plis deh, penulis yang memiliki value kuat, tak seharusnya mengatakan hal itu. Okelah, kalau itu sekadar bercanda. Tetapi, kata orang bijak, perkataan itu sebagian dari doa, lho! Jadi, canda pun harus hati-hati.

Oke deh, kita manusia, ya! Bukan malaikat, hehe. Manusia pasti punya expectancy, dan bohong besar, jika ada manusia yang tidak kecewa jika usaha susah-payahnya ternyata tidak sesuai harapan. Kalau begitu, bagaimana jika kita menyeimbangkan saja ketiga komponen tersebut. Misalnya, E = 30%, I = 30% dan V = 40%. Nah, kalau ternyata harapan tidak sesuai kenyataan, kan derajat motivasi kita masih 70% tuh. 70% ini, kalau nilai di perguruan tinggi, masih masuk kategori B, lulus deh!

Pesan saya sih, ayo perkuat unsur I dan V, ketimbang “sekadar” E. Syukur-syukur, V yang dominan. Sebab, V pun sebenarnya bisa mengubah orientasi E kita. Gini lho, kalau kita memiliki value yang kuat, maka E kita pun akan seiring sejalan dengan value kita. Misal, expectancy kita adalah nulis untuk kebaikan, untuk mengajak orang menjadi semakin baik dan sebagainya. Saya yakin, jika itu yang kita alami, bisa jadi Motivasi kita akan selalu ON, 100% terus! Top, deh!

Yuk, mohon selalu agar kita senantiasa dibimbing menuju jalan-Nya.

Salam hangat

Afra

On 06:47 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    2 comments
Saat kecil dulu, usia SD, saya pernah membaca buku "Ikut Sang Surya Keliling Dunia." Itu salah satu buku favorit saya. Isinya kumpulan dongeng dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang hingga kini saya ingat, adalah dongeng dari Mesir: Keputusan Karakoush. Alkisah, Karakoush adalah seorang hakim yang sangat berkuasa di Mesir saat itu.

Suatu hari, seorang maling yang hendak memasuki sebuah rumah untuk mencuri, tergelincir dan terjatuh dari jendela hingga patah tulang. Tertatih-tatih si maling mendatangi dan  mengadu pada hakim kota, Karakoush. "Saya hendak mengadu kepada Anda. Pemilik rumah itu telah berbuat zalim kepadaku. Lihatlah, kaki ini patah!"
Karakoush dengan geram berteriak kepada anak buahnya. "Panggil pemilik rumah itu kesini!" 
Selang beberapa waktu, si pemilik rumah pun datang. Karakoush berteriak. "Kau telah bersalah, kau zalim, karena membuat jendela yang tidak kuat, sehingga orang ini terjatuh saat memanjat. Karena kesalahanmu itu, kau harus dipenjara!"
Si pemilik rumah, dengan menggigil ketakutan berkata. "Tuan Hakim, yang membuat jendela itu bukan saya, tetapi tukang kayu. Saya menggaji tukang itu dengan gaji besar agar dia bisa membuat jendela yang bagus, jadi, dia yang harus bertanggungjawab."
Karakoush mengangguk. "Baiklah, kalau begitu, kau kubebaskan. Sekarang, panggil si tukang kayu!"
Tukang kayu, yang sudah tahu betul karakter Karakoush yang memang sudah tersohor itu, langsung berkilah membela diri. "Tuan Hakim, sebenarnya saya sudah membuat jendela yang bagus dan kuat. Tetapi saat memaku jendela, seorang gadis cantik berbaju merah lewat,dan itu membuat saya tidak bisa berkonsentrasi. Gadis itu yang bersalah, bukan saya."
"Kalau begitu, panggil gadis itu, dia yang harus bertanggung jawab dan dipenjara!"
Si gadis datang dengan tenang.  Dia berkata lembut. "Tuan Hakim, ini semua bukan salah saya. Kecantikan ini dari Tuhan. Tetapi Anda tak bisa menghukum Tuhan. Jika ada yang bisa Anda hukum, dia adalah penjual kain merah yang saya pakai saat itu. Bukankah karena saya memakai kain merah, maka tukang kayu itu tidak bisa berkonsentrasi memaku jendela?"
"Seret penjual kain itu ke penjara!"
Seperti yang lain, si penjual kain berkilah, bahwa dia hanya mendapatkan kain dari si tukang celup. Karakoush pun memanggil si tukang celup. Berbeda dengan teman-temannya, si tukang celup tak pandai berdalih. Dia pun menurut saja ketika diseret ke penjara. Akan tetapi, ada masalah besar, karena si tukang celup itu ternyata sangat jangkung, sehingga penjara tak cukup untuknya.
"Kalau begitu, cari tukang celup yang lain, yang tubuhnya lebih pendek!"
Akhirnya, seorang tukang celup bertubuh pendek pun di penjara hari itu. Karakoush bangga, merasa telah menjadi seorang hakim yang baik.

30 Mar 2015

On 10:35 by Yeni Mulati Afifah Afra in    4 comments
PENGANTAR: Saat buka-buka file jadul, saya menemukan tulisan ini. Ada keterangan bahwa tulisan ini dibuat tahun 2004. Tulisan ini saya buat karena diminta Mas Ali Muakhir dari DAR Mizan, untuk dibukukan bersama para penulis-penulis lain. Jadi, inilah kisah perjodohan saya. Silakan dibaca, semoga bisa diambil hikmahnya :-)
__________________________________


Pas masih SMU dulu, saya benar-benar sangat ngeri dengan istilah perjodohan serta berbagai macam perniknya. Perjodohan? Bayangkan! Kok kesannya kuno banget, ya?! Kayak zamannya Sitti Nurbaya. Bagaimana jika saya dipaksa nikah sama Datuk Maringgih? Duda tua yang kaya raya tetapi tengilnya minta ampun. Hii, takut! Mending nggak usah nikah, deh?
So, bagaimana bentuk pernikahan yang saya inginkan saat itu? Yach, like the others, cari jodoh sendiri. Pacaran. Gagal dengan yang satu, cari yang lain. Kan bisa lebih bebas, begitu pikiran saya.
Tetapi, setelah saya aktif di pengajian kampus, mentor saya dalam soal agama bilang, bahwa dalam Islam itu tidak ada pacaran. Karena pacaran itu mendekatkan seseorang kepada zina. Padahal zina adalah termasuk dalam kategori dosa besar. Apalagi pacaran itu juga penuh dengan berbagai jenis kepura-puraan. Buang-buang energi, bikin ibadah nggak khusyu dan sebagainya.
Wah, gimana dong?!
“Trus, gimana caranya biar aku dapat suami?” Tanya saya waktu itu.
“Gampang!” Jawab beliau, enteng. “Dijodohin!”
Haaa?! Gubrak! Dijodohin? Kayak Sitti Nurbaya dong.
Eh, tetapi ternyata perjodohan yang dimaksud mentor saya itu, bukan sembarang perjodohan lho. Kok bisa? Coba deh, simak kisah ‘perjodohan indah’ antara saya dengan suami saya. Dijamin seru!

Dimulainya saat deg-degan

Ada sebuah kisah ‘ajaib’ tergores di lembar-lembar catatan harian sebelum saya menikah. Saat itu, saya sedang melintas di koridor Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Muwardi Surakarta. Seorang wanita pengamen yang menjadi binaan saya barusaja melahirkan di rumah sakit milik pemerintah tersebut. Karena ia juga mengidap penyakit TBC, Rumah Bersalin yang kami datangi menolak menangani proses kelahirannya. Jalan terbaik, masuk rumah sakit. Kalau ada komplikasi, penangannya kan lebih cepat, soalnya banyak dokter di berbagai spesialisasi yang bisa dilibatkan. Saya memang aktif di Seroja, sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan pinggiran.

Nah, dalam kondisi letih, serombongan mahasiswa profesi kedokteran (koas) tiba-tiba lewat. Nah, satu dari mereka adalah… sesosok pria yang melintas di depan saya. Pria itu memakai jas putih, berjalan dengan pandangan tertunduk.
Dan plass…!! Seperti ada aliran listrik berpuluh watt yang datangnya entah dari mana, hati saya mendadak kesetrum. Lalu sebuah pikiran tiba-tiba melintas, “Jangan-jangan ini calon suami saya, nich!”
Padahal, saya benar-benar belum mengenal, who is that man?
Tapi Sobat, lelaki itu…, ganteng juga lho! Kayak Aktor film India yang lagi nyebur di parit. Hehe…
Apakah ini sebuah firasat? Bisa jadi.

Surprais!!

Cerita seru saya berlanjut lagi, Saudara-saudara! Berjarak beberapa hari dari peristiwa aneh tersebut, saya dipanggil oleh guru ngaji saya. Suer, saat itu saya merasa biasa-biasa saja. Tidak punya firasat apapun saat itu. Padahal pertemuan saya dengan guru ngaji saya tersebut, adalah sebuah awalan dari peristiwa besar yang akan saya alami.
“Yen, ini ada ikhwan yang bermaksud menggenapkan separuh dien!”
What? Ikhwan?
Lantas sebuah amplop berwarna cokelat yang berisi ‘proposal nikah’ sang ikhwan pun kuterima. Dengan sepenuh gemetar, saya membuka proposal tersebut. Ada lembar bio data dengan berbaris tulisan yang cukup rapi untuk ukuran seorang ‘cowok’, beberapa lembar gambaran tradisi keluarga, proyeksi masa depan serta… selembar foto ukuran post card. Sekilas saya pun membaca lembaran-lembaran tersebut.
Ahmad Suprianto? Siapa dia? Nama itu tak ada dalam memori saya. Memang saya punya beberapa kenalan yang bernama Ahmad, di antaranya adalah suami seorang penjual rujak langganan saya di kampung, tetapi Ahmad-Ahmad yang saya kenal tersebut, bukanlah sosok yang biodatanya tengah saya pelajari. Sayangnya, profesi Ahmad yang ini bukannya penjual rujak, padahal saya hobi makan rujak lho… hehe.
Akhirnya, meskipun dengan malu-malu, saya pun meraih foto tersebut.
Rabbi…!! Nyaris saya berseru. Lelaki yang ada di foto itu, adalah sosok yang  saya jumpai di koridor RSU Muwardi beberapa hari yang lalu.

Ta’aruf Supersingkat

Dalam kondisi takjub, setelah memohon petunjuk kepada Yang Maha Pemberi Petunjuk, ternyata batin saya dikuatkan untuk menerima proposal nikah tersebut. Mulailah sebuah fase baru, yaitu perkenalan alias ta’aruf. Untuk proses ini, guru ngaji dan suaminya bersedia menjadi mediator. Kebetulan ta’aruf tersebut memang berlangsung di rumah beliau.
So, jangan bayangkan ta’aruf itu berlangsung di sebuah restoran yang romantis, dengan hidangan makan malam yang nikmat, alunan musik klasik, liukan nyala lilin dan aroma bunga mawar. Jangan pula dibayangkan saat ta’aruf kami cuma berduaan saja. Wah, itu namanya berkhalwat. Dua orang berlainan jenis, jika tengah menyendiri di sebuah tempat yang sepi, yang ketiganya adalah syetan.
Nah, saya benar-benar merasa panas dingin saat itu. Mau ketemu calon suami, euy! Padahal saya belum kenal sama sekali, siapa dia? Boro-boro kenal, dengar namanya saya tidak pernah. Kalau dia, mungkin sekali kenal. Paling tidak, pernah dengar nama saya. Kan saya ini lumayan terkenal, hehe…
Maka, pada sebuah hari yang gerimis, saya pun untuk pertama kali melihat sosoknya. Ya, ampuun, orangnya kurus sekali. Yang gede cuma matanya doang. Rajin puasa kali, ya?! Tapi sayangnya, dia nunduk terus. Jadi sia-sialah usaha saya untuk curi-curi pandang. Saya pikir, nggak ada salahnya kan, curi-curi pandang. Kalau tidak paham betul parasnya, bagaimana kalau pas nikah besok salah orang, keliru sama kakak atau ayahnya barangkali, kan barabe, ya?!
Saya sudah membayangkan sebuah ta’aruf yang panjang lebar, memakan waktu lama dan sebagainya. Because, kami kan sama-sama belum kenal. Apalagi, saya sering mendengar kisah-kisah ta’aruf yang lumayan heboh. Misalnya, ada calon suami yang sampai menguji kepada sang akhwat, berapa harga lombok, minyak atau tomat satu kilo; ada yang sampai meminta sang akhwat muraja’ah (mengulang hafalan) juz ‘amma; Ada juga yang menanyakan detail-detail keseharian, seperti warna kesukaan, makanan kesukaan dan sebagainya. So, saya pun telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan lumayan panik.
Tetapi apa yang terjadi, Saudara-saudara?! Cuma ada 3 butir pertanyaan dari dia yang saya jawab dengan singkat, serta 5 butir pertanyaan dari saya yang juga ia jawab dengan singkat pula. Apa yang kami tanya-jawabkan? Just hal-hal superprinsip, seperti, “Boleh nggak saya nanti kuliah lagi?” dan sebagainya.
But, meski cuma ada 8 pertanyaan yang bergulir, dan hanya memakan waktu kurang dari setengah jam, kami memutuskan untuk maju terus.

Ta’aruf Keluarga

Setelah proses ta’aruf pribadi, babak selanjutnya adalah ta’aruf keluarga. Rencananya, rombongan keluarga mas Ahmad (calon suami saya) akan datang ke rumah saya. Waah, persiapannya heboh betul! Sejak hari sebelumnya, ibu sudah belanja, dan saya yang disuruh memasak.
“Biar calon mertuamu tahu kalau kamu pinter masak!” begitu kata Ibu. Aku cuma garuk-garuk kepala yang memang rada gatal, habis belum keramas. Sebenarnya sih, saya tidak terlalu bisa memasak. Cuma karena sering disuruh membantu memasak, ya… bisalah, dikit-dikit.
Saat itu saya memasak sup, tumis sawi campur bakso dan ayam goreng. Tak lupa, ada juga sambal plus lalapnya.
Ta’aruf keluarga berjalan meriah. Soalnya, baik keluarga saya maupun keluarga Mas Ahmad, ternyata sama-sama senang ngobrol. Jika ada yang tidak banyak bicara saat itu, dia adalah saya sendiri, juga Mas Ahmad, tentu saja. Dari ta’aruf keluarga itu, ditetapkanlah hari pernikahan saya. 30 November 2003. Saya cuma bisa menelan ludah, satu setengah bulan lagi status saya berubah.
Nah, setelah ta’aruf, acaranya adalah makan-makan. Tahu tidak, masakan yang persiapkan dengan sepenuh hati itu ternyata… keasinan! Maka berbagai guyonan pun terlontar. “Wah, yang masak udah pengin nikah, nich…!!”
Nggak tahu deh, bagaimana paras saya saat itu. Merah, kuning, ijo?

Akhirnya, Hari Pernikahan Itu pun Tiba

Kami sepakat, pernikahan akan dilakukan dengan sederhana. Tetapi meskipun begitu, pelaksanaannya ternyata meriah juga. Apalagi, sebuah grup musik rebana di kampung saya juga ikut berpartisipasi membuat semaraknya acara.
Nah, Sobat… Kami melangsungkan akad nikah di Masjid Uswatun Hasanah dalam suasana yang penuh haru. Saat itu, jujur saja… saya menangis terisak-isak. Why? Yach, saya ngerasa ajaib saja. Hanya dengan ucapan “Ya Ahmad Supriyanto bin Noto Hadiwardoyo, aku nikahkan kau dengan anakku Yeni Mulati binti Sucipto dengan mas kawin Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, tunai!”
Yang disambut dengan ucapan, “Saya terima nikahnya Yeni Mulati binti Sucipto dengan mas kawin tersebut.”
Maka status saya resmi, menjadi istri orang! Artinya, seabrek hak dan kewajiban kini melekat di pundak saya. Dan saya harus hidup bersama seorang lelaki yang belum saya kenal sebelumnya.
That’s miracle! Iya, kan?

Dan kini... tiga bocah ceria dan lucu telah diamanahkan kepada kami.
Pernikahan dari perjodohan ternyata berbuah manis dan insya Allah barakah...

Dijodohin, Why Not?!

So, apa salahnya dijodohin? Saya juga objek perjodohan, tetapi pernikahan berlangsung dengan baik-baik saja tuh!
Tapi, nggak sembarang perjodohan kita terima lho. Ada syarat-syaratnya. Pertama, dari kita sendiri. Kita harus memiliki tujuan, bahwa pernikahan yang akan kita lakukan adalah dalam rangka menggapai keridhaan Allah. Bukan tujuan-tujuan lain, misalnya pengin kaya, takut dibilang perawan tua, dan sebagainya.
Kedua, dari pihak perantara, alias yang menjodohkan. Pihak ini harus benar-benar orang yang bisa kita percaya memiliki akhlak dan pemahaman agama yang bagus. Jika perantara kita orang yang benar-benar faqih, maka yakin deh… bahwa dia tidak akan sembarangan mencarikan jodoh buat kita. Masak kita akan dipilihkan pasangan yang berantakan. Iya nggak?
Ketiga, prosesnya tidak boleh ngawur. Harus berjalan sesuai syariah. Misalnya, saat ta’aruf, kita tidak boleh cuma berduaan sama calon. Terus kita juga wajib berkata jujur. Kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan calon kita apa adanya. Nah, beda banget kan sama pacaran. Dalam pacaran, yang ada kepura-puraan doang!
Keempat, kita harus yakin, bahwa semua orang pasti punya jodoh, karena Allah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Dan jodoh itu pasti selevel dengan kita. Artinya, jika kita orang baik, maka jodoh kita pasti juga baik. Jika kita orang yang bandel, jodoh kita pasti bandel. Makanya, biar kita bisa punya pasangan yang oke, kita juga harus oke duluan!
Terakhir, kita harus meyakini bahwa jodoh itu urusan Allah. Perjodohan itu hanya ikhtiar yang dilakukan oleh manusia. Dan kita tahu, sebaik-baik pembuat rencana, adalah Allah Rabbul ‘Izzati. Pernah ada seorang teman, prosesnya sudah sampai khitbah (lamaran), ternyata perjodohan itu gagal. Padahal baju pernikahan sudah disiapkan, dan undangan pun sedang dicetak. Kasihan dia…

Demikianlah…

Semoga kisah pernikahan saya bisa diambil hikmahnya. Amiin.

26 Mar 2015

On 16:02 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    1 comment
Kata orang bijak, hidup itu seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Akan tetapi, sebagian dari kita sering mengeluhkan tentang hidup yang selalu dalam  kesempitan. Hidup kita susah, rezeki cupet, suasana gersang, panas, gundah gulana dan serasa senantiasa bergelimang kesulitan. Rasa tertekan sering membuat kita gamang menghadapi kehidupan.

Oh, jangan berlarut-larut. Kisah ini mungkin akan menginspirasi Anda. Semoga.

Suatu hari, seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau mengadu kepada sang ulama. Jawab Al Hasan, "Beristighfarlah kepada Allah!"
Lalu, seorang yang lain datang dan mengeluhkan tentang kemiskinan, maka Al-Hasan berkata kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!"

Selanjutnya, orang lain datang dan berkata kepadanya, "Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!" Maka beliau mengatakan kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!"
Kemudian datanglah lagi yang mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!"



Keempat orang itu akhirnya bertemu dan saling bercerita. Mereka heran, mengapa Al-Hasan Al-Bashri memberikan jawaban yang sama untuk empat pertanyaan yang berbeda. Mereka pun kembali ke Al Hasan dan menanyakan hal tersebut.

Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, "Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’" (Q.S. Nuh: 10-12).

Istighfar adalah pembersih. Hati-hati yang berdebu, bernoda, bergelimang kotoran, akan terhapus oleh istighfar. Maka, jiwa dengan lidah yang selalu basah oleh istighfar tulus dari sanubari, ibarat kaca yang saban waktu dilap dengan pembersih. Cemerlang!

Karena itu, Rasulullah bersabda “Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah).

Siapa orang yang paling harus kita contoh dalam beristighfar. Beliau adalah Rasulullah SAW itu sendiri. Yang tak bergeser dari angka minimal seratus kali dalam sehari, padahal beliau adalah sosok yang telah dijamin masuk surga dan pribadi yang maksum.

Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali. (H.R. Muslim).

Jadi, mengapa tak segera kita basahi lidah kita dengan istighfar? Kita bersujud di sepertiga malam terakhir untuk memohonkan ampunan-Nya?


21 Mar 2015

On 15:21 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    8 comments
Segera terbit!

Sejak purba, senja mati dalam usia muda
Aku hanya mampu menggunting senja[1]
Menyimpannya di sudut hati
Dan membukanya saat aku tak tahu
Bagaimana obati penyakit rindu

SINOPSIS
Acintyacunyata[2]
Sunyi, sepi ... gelap abadi
tak peduli, terus menapak gagah
Satu demi satu langkah menjangkah
Satu demi satu misteri terpecah

Bagi sang kelana,
Hidup adalah mendedah zirah
Nan melangit di lengkung semesta
….
Sekelompok peneliti muda menelisik lurung-lurung gulita gua yang masih menyimpan seribu rahasia dengan harapan seluas samudra. Namun, elan yang membara harus berbenturan dengan amarah sang penghimpun akik. Nyawa pun menjadi taruhan. Tak ada yang bisa menahan, bahkan juga cinta sejati sang pengumpul senja.

Debur ombak pantai selatan, pantai yang penuh kenangan, pun menjadi saksi atas laranya harapan yang berbentur dengan kenyataan. Tetapi, semua toh akhirnya melarut dalam jingganya senja. Buktinya, dia mampu mengumpulkan empat ribu delapan ratus dua puluh tiga senja dalam hidupnya.

* * *

Novel ini sudah saya tulis sekitar satu setengah tahun yang lalu. Namun, seperti biasa, saya lebih senang membenamkan karya-karya saya di hard disk netbook saya. O, ya ... sebagai antisipasi, saya biasa menyimpan file-file penting saya di komputer lain pula. Biasanya di PC rumah, laptop suami, dan komputer kantor. Juga di drive-drive online. Saya tak mau cepat-cepat menerbitkan karya. Pokoknya, selalu merasa kecolongan dan ada yang terlewat saat naskah terlanjut terbit. Sering saya merasa gemas dengan buku yang sudah tercetak. Yah, kok gini... kan harusnya saya masih bisa memperhalus.... ahaha, sisa-sisa kemelankolikan saya ternyata masih ada, meski saya sudah berusaha untuk mengikisnya.

Pun dengan naskah ini. Satu tahun lebih mendekam di gudang naskah. Sampai mendadak batu akik menjadi ramai. Konon sih katanya gara-gara Barack Obama dihadiahi batu akik oleh SBY, batu akik mendadak melejit. Padahal, saat saya melakukan riset untuk menulis novel ini, harga akik sedang terjun bebas di pasaran.

Nah, nggak salah juga kan, memanfaatkan momen? Akhirnya, saya membaca ulang novel ini, lalu setelah mantap, saya serahkan ke tim Indiva Media Kreasi. Karena saat ini tim redaksi sedang sangat full job, akhirnya diputuskan menyerahkan proses editing kepada salah seorang rekan editor yang juga penulis dan blogger senior, Bang Aswi--Agus Wibowo. Dahulu, saat masih bekerja di Penerbit Era Intermedia, saya pernah mengurusi penerbitan buku beliau. Sekarang, giliran beliau yang mengurusi proses pracetak buku saya. Cover, seperti biasa saya serahkan kepada Mas Andi Rasydan, yang juga merancang cover-cover buku saya seperti De Winst, Sayap-Sayap Sakinah, Mei Hwa dan sebagainya.
Dan, setelah mendapat masukan dari sekitar 200 sahabat, baik lewat Twitter, Facebook maupun akun lain, terpilihlah cover pojok kanan bawah dengan sedikit revisi. Ini hasil cover fix-nya.

Bentang Alam Karts, Pantai dan Gua Nan Indah

Pantai Klayar... cakeeep! 
Bicara novel ini, tentu tak lepas dari kekaguman saya kepada bentang alam karts. Pada tahun 2005, saya diajak piknik suami ke Pantai Srau, Pacitan. Meski saya tidak asing dengan pantai, melihat keelokan Pantai Srau yang saat itu masih sangat sepi dan alami, saya nyaris terpekik karena takjub. Pantai yang sangat indah. Dengan batu-batu karang, binatang laut, pasir putih dan air yang sangat jernih. Mulai saat itu pula, saya mendadak jatuh cinta pada pantai karts. Saya mulai menjelajahi satu persatu pantai yang terbentang di sepanjang karts Sewu, mulai dari Gunung Kidul hingga Pacitan. 

Pantai Srau, foto tahun 2005

Ternyata, bukan hanya pantai. Bentang alam karts yang dari permukaan terlihat gersang, gundul dan penuh bukit-gunung kapur, ternyata menyimpan pesona di perut buminya. Ya, gua-gua karts ternyata sangat elok. Staklaktit dan staklakmit-nya menawan, seperti pilar-pilar istana raja-raja Eropa yang saya lihat di halaman buku-buku cerita bergambar.

Saya terpikat dengan alam karts yang menurut saya sangat eksotis. Terkhusus pantainya yang selalu mampu membuat saya terseret dalam sebuah pusaran cinta yang platonik. Kecintaan itu seperti menyusupkan ruh ke jemari saya. Dan, lahirlah novel ini. Saya sangat berterimakasih kepada suami saya, yang telah rela mengantar saya menjelajah kemana-mana, mulai dari Pantai Klayar, Pantai Srau, Goa Gong, juga Museum Karts di Pracimantoro, Wonogiri. Kepada tiga bocahku yang ikut mencintai pantai dan menikmati berpetualang bersama ayah-bundanya.

Saya juga berterimakasih kepada Adinda Shabrina Ws. yang cukup membantu dengan memberikan berbagai info tentang Pacitan. Juga kepada sahabat-sahabat penulis saya yang secara langsung maupun tidak langsung memberi support kepada saya untuk terus berkarya. Mbak Helvy Tiana Rosa, Mas Gola Gong, Teh Pipiet Senja, Mas Joni Ariadinata, Mbak Asma Nadia, Kang Abik, Mbak Intan Savitri, Kang Irfan Hidayatullah, Mbak Sinta Yudisia, Teh Maimon Herawati, Benny Arnas, Riawani Elyta, Octa NH, Asri Istiqomah, Irfan Abdul Aziz, Koko Nata, Ganjar Widiyoga, Naqiyyah Syam, Azzura Dayana, Mbak Dhani Pratiknyo, Leyla Hana, Marisa Agustina, Linda Satibi, Hendra Veejay, dan semua yang tak mampu saya sebut satu persatu. Tak lupa, para pembaca setia saya yang selalu menunggu karya-karya saya. Juga seluruh kru Penerbit Indiva Media Kreasi yang selalu kompak dan penuh semangat.

Kisah Penjelajah Gua, Penghimpun Senja, dan Kolektor Batu Akik

Adalah Fahira Azalea, mahasiswa cerdas yang tergila-gila kepada speleologi, alias ilmu tentang perguaan dan mencoba mengajukan dana penelitian ke sebuah NGO internasional. Tak dinyana, proposalnya di-acc olek NGO tersebut. Sayangnya, Fahira sendiri ternyata tidak memiliki pengalaman menyusuri gua-gua, terlebih gua yang menjadi objek penelitiannya, Luweng Jaran, gua dengan entrance vertikal yang membentang sepanjang 29 KM di daerah Pacitan. Mau tidak mau, Fahira harus meminta bantuan anak-anak pecinta alam, terkhusus leadernya, Anton.

Anton sendiri dikenal memiliki kepribadian negatif. Amburadul, temperamental, jarang kuliah, dan memilih sibuk menekuni dunia pecinta alam. Fahira harus berupaya keras untuk membujuk Anton, agar mau membantunya menjadi guide saat melakukan susur gua.

Sementara itu, di Pantai Klayar, Rinanti, sang penghimpun senja, selalu menunggu senja lewat di atas hamparan laut sebelum menutup warung kecilnya. Menikmati senja bagi Rinanti adalah salah satu cara untuk mengobati lukanya. Perkawinannya dengan Gunadi Hantayudha, seorang lelaki sakti mandraguna yang sering dimintai pertolongan orang-orang kaya--dari pengusaha hingga pejabat untuk memberikan tuah di batu-batu akik, nyaris kandas diterpa ketidakpastian. Gunadi, pemuda rupawan yang memilih menjadi dukun yang tersohor itu, lebih asyik menggauli pusaka-pusaka, jimat-jimat dan batu-batu  akiknya.

Rinanti nyaris kehilangan semangat dalam hidupnya. Sampai ketika pada suatu senja, seorang pemuda berambut gondrong berantakan, mendadak memintanya mendengarkan dia membaca puisi.

Aku dan jingga, bagai dua sisi keping rindu
Aku adalah sungai, jingga adalah lautan
Dan senja, adalah muara
Laut boleh jadi tak pernah bertemu sungai,
Meski dia merindu aliran airnya
Sungai boleh jadi tak pernah bertemu laut
Meski dia merindu kapal nan berlayar hingga ke hulu
Tetapi, pada sebuah muara
Sungai dan laut bertemu
Demikian pula, pada sebuah senja
Aku dan jingga memadu rindu
Hanya sejenak, tak mengapa
Sejak purba, senja mati dalam usia muda
Aku hanya mampu menggunting senja
Menyimpannya di sudut hati
Dan membukanya saat aku tak tahu
Bagaimana mengobati penyakit rindu
Akulah sang pengumpul senja

Siapa lelaki pembaca puisi itu? Dan apakah Fahira dan rombongannya berhasil menyelesaikan misinya meskipun mereka mengalami kesulitan luar biasa saat harus tersesat di gua yang misterius itu?

Alhamdulillah, novel bisa terbit sesuai jadwal. Untuk membantu teman-teman yang kesulitan mendapatkan toko buku, novel bisa dipesan secara online melalui www.tokobukuafra.com dan www.bookstore.indivamediakreasi.com
Informasi pemesanan dengan tanda tangan bisa menghubungi 0878.3538.8493 (Deasy) atau 0819.0471.5588 (Dira).




[1] kalimat menggunting senja terinspirasi dari cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, karya Seno Gumira Ajidarma
[2] Artinya sunyi, sepi, gelap abadi. Slogan yang banyak digunakan oleh para penyusur gua (caver)

12 Mar 2015

On 16:36 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    12 comments
Anda perempuan? Memiliki bisnis, meski baru tahap merintis? Yuk, bagi pengalaman Anda bersusah-payah membangun bisnis Anda. Yuk, ikuti audisi menulis bersama Afifah Afra dengan tema: “Women Entrepreneur.” 10 naskah terbaik akan diterbitkan bersama tulisan Afifah Afra di buku “Women Entrepreneur”, diterbitkan oleh Penerbit Indiva Media Kreasi.


Apa saja syaratnya?


1.      Anda perempuan, minimal berusia 17 tahun
2.      Memiliki bisnis apapun, asal halal
3.      Telah merintis bisnis itu minimal dua tahun (lebih disukai)
4.      Ceritakan pengalaman Anda, suka-duka, pahit-getir dan berbagai kisah menarik Anda saat merintis dan membangun bisnis tersebut.
5.      Bisa mengajak co writer (penulis pendamping, tidak harus ikut terlibat dalam bisnis Anda), dengan mencantumkan namanya. Misal: Suka Duka Membangun Rumah Makan "Ayam Kremes". Oleh: Faradila; Co Writer: Hastiany.
6.      Tulisan minimal 5 halaman, maksimal 10 halaman, kertas kuarto, spasi 1,5, font 12 Time New Roman
7.      Kirimkan tulisan tersebut ke email afifahafra@yahoo.com paling lambat 31 Mei 2015, dengan subyek AUDISI WOMEN ENTREPRENEUR.
8.      Peserta yang naskahnya terpilih akan mendapatkan honor, sertifikat dan hadiah dari sponsor.

9.      Follow akun twitter @afifahafra79 dan like fanpage www.facebook.com/afifahafrapenulis

Ditunggu ya…!!!