Berbagi tak akan membuat kita kehilangan arti. Berbagi, untuk kebahagiaan hakiki...

On 07:21 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Ketika saya memposting artikel Awas, Kesalahan Konsep di Usia 'Golden Age'! ada beberapa teman yang ingin memahami lebih jelas, apa sih yang dimaksud dengan usia Golden Age? Hm, saya sih sebenarnya tahu, sebagian dari teman-teman itu sudah paham sekali. Malah mungkin lebih pintar ketimbang saya. Jadi, ceritanya cuma mau ngetes saya saja, gitu xixixi.

Tetapi, karena memang mungkin ada yang belum tahu, dan nyata-nyatanya, saya juga sering melihat para ibu seperti menyia-nyiakan begitu saja periode emas ini terlewat dari putra-putrinya, maka saya pun mencoba mengobrak-abrik koleksi artikel saya. Nah, ketemu deh, artikel ini. Selamat membaca!

Kapan Anak Mengalami Golden Age?

Usia emas, sering dialamatkan pada keadaan di mana otak seorang manusia tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat, yaitu usia 0-3 tahun. Kita semua tahu, apa fungsi otak bagi tubuh manusia bukan? Apakah anda bisa membayangkan, bagaimana jika seseorang tidak memiliki otak? Ya, otak berfungsi untuk mengkoordinasi seluruh fungsi tubuh sehingga bisa berjalan dengan baik. Otak adalah pusat kecerdasan, karena di dalamnya kita menyimpan segala memori. Otak orang dewasa berbobot sekitar 1,5 kg. Di dalamnya terdapat sekitar 10 hingga 15 milyar sel saraf yang mampu membuat 10800 jalur! Kesimpangsiuran jalan-jalan di kota Jakarta bukan apa-apanya dibanding  yang bisa ditemui di otak.

Saking dahsyatnya kemampuan otak tersebut,  Richard Restak M.D, seorang ilmuwan, mengatakan bahwa otak manusia dapat menyimpan informasi yang lebih banyak daripada seluruh perpustakaan di dunia.[1] Pun jika seluruh sambungan telepon di dunia dikumpulkan, ternyata masih kalah dibanding dengan otak. Dengan demikian, sesungguhnya, manusia itu bisa menjadi sangat cerdas ... kecerdasan yang barangkali tidak akan terbayangkan sebelumnya.

Coba anda pikirkan! Pada tahun 1944, ketika perusahaan komputer IBM membuat komputer pertama di dunia, yakni Harvard Mark I, beratnya mencapai 5 ton dan terbuat dari kabel sepanjang 500 KM. Anda tahu berapa ukuran komputer tersebut? 2,4 x 15,3 meter persegi. Hampir separuh lapangan badminton! Bahkan Taufik Hidayat pun bisa berlatih mensmesh bulu angsa di atasnya. Namun 'hebatnya', dengan ukuran sebesar itu, ternyata si komputer hanya mampu menyimpan 72 angka. Bandingkan dengan yang terjadi sekarang! Di zaman kiwari ini, para pakar teknologi informasi berhasil menciptakan komputer yang bisa dijinjing kesana kemari dengan satu tangan, berupa laptop, yang ukurannya jauh lebih kecil, namun bisa menyimpan hingga belasan milyar angka pada hard-discnya. Telah terjadi pelipatgandaan kecepatan hingga ratusan juta kali pada teknologi itu. Dan inilah perubahan yang sangat drastis pada perkembangan otak manusia![2]

Apakah anda pernah membayangkan, seperti iklan sebuah susu, bahwa orang yang berhasil menemukan teknologi sehebat itu... adalah buah hati anda? Satu abad silam, orang pun mungkin tidak pernah membayangkan, jika jarak antara Jakarta dengan Surakarta, ternyata hanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Coba bandingkan dengan kisah penyerbuan pasukan Sultan Agung ke Batavia yang hanya menunggang kuda dan memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu! Pesawat terbang yang dulu tak terbayangkan oleh otak manusia—kecuali hanya dalam cerita-cerita fiksi, kini telah menjadi sarana transportasi yang umum dan relatif terjangkau. Apakah anda pernah membayangkan, masih meniru sebuah iklan susu, jika salah seorang insinyur yang terlibat dalam penciptaan pesawat jet supercanggih itu—atau bahkan pesawat luar angkasa yang mampu membawa manusia terbang ke planet lain—adalah anak anda?!

Tak usah hanya membayangkan, karena anda sebenarnya bisa mengikhtiarkan agar anak anda memiliki level kecerdasan yang mengagumkan. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan kepekaan otak anak pada masa golden age seoptimal mungkin.

Anda perlu tahu, bahwa sejak pembuahan hingga usia 5 bulan saat kehamilan, sel otak terus diproduksi. Nah, pada usia 5 bulan kehamilan tersebut, banyaknya sel otak seorang manusia telah ditentukan. Setelah itu, tak ada lagi sel otak yang dibuat! Kemudian, pada usia 20 minggu kehamilan hingga bayi lahir dan mencapai usia 2 tahun, sel-sel otak mengalami proses isolasi (meilinasi) yang berlangsung sangat pesat, untuk kemudian melambat dan sempurna pada usia 4 tahun. 

Selanjutnya, lewat usia 4 tahun hingga menjelang dewasa, proses yang terjadi pada sel-sel otak lebih banyak berupa proses pembentukan sinaps (hubungan antara satu sel otak dengan sel otak lain), yang juga terkait dengan proses kecerdasan. Kita akan bahas tentang mekanisme ini di lain kesempatan, ya....

Meilinasi Sel-Sel Otak

Apa itu meilinasi? Dalam buku How To Have A Smarter Baby, Dr. Sarah Ludington-Hoe dan Susan K. Golant membuat sebuah ilustrasi yang menarik, dengan menyamakan antara sel-sel otak tersebut dengan kabel listrik. Seberapa besar rasa frustasi para tukang listrik jika kabel-kabel listrik yang jumlahnya milyaran tersebut tidak dibungkus oleh isolator? Apa yang akan terjadi dengan kabel-kabel tersebut? Konsleting, tentu saja!

Ya, sel otak yang terdiri dari akson, badan sel dan dendrit itu memang diisolasi dengan semacam pembungkus yang disebut dengan meilin. Proses pembentukan meilin disebut dengan meilinasi. Pembungkus meilin tersebut, menyebabkan pancaran pesan pada sel-sel tersebut berlangsung segera dan efesien. Meilinasi memungkinkan adanya koordinasi dan pergerakan otot dengan cepat. Jika meilinasi berlangsung sempurna, maka seseorang akan bisa berpikir lebih cepat, dan itulah salah satu bentuk kecerdasan.

Selain termeilinasi, sel-sel otak itu juga tumbuh cepat. Ukuran dan kompleksitasnya berubah. Dendrit terbentuk, membentuk percabangan di sana-sini, badan sel membesar, dan akson pun bertambah panjang.

Pada usia 8 bulan kehamilan hingga kelahiran, berat otak bayi naik 2 kali lipat, dan mencapai 25% otak orang dewasa. Kondisi tersebut secara drastis terus berkembang, hingga pada usia 6 bulan, si bayi ternyata telah memiliki 50% otak orang dewasa. Usia 1 tahun, kapasitas otak telah mencapai 70% otak dewasa, dan pada usia 3 tahun, kapasitasnya telah mencapai 90% kapasitas maksimumnya. Inilah masa-masa yang disebut dengan nama golden age, usia emas. Pada masa ini, otak sangat peka dengan apa-apa yang terjadi di sekitarnya, sehingga baik rangsang negatif maupun positif, akan memberi andil yang sangat signifikan terhadap ‘cetakan’ yang di hasilkan.

Jadi, anda jangan heran, jika melihat ada anak usia 3 tahun, ternyata telah memiliki pemikiran yang mengalahkan orang dewasa, atau bisa menghafal sekian juz Al-Quran. Justru mulai mengajarkan anak sesuatu dari usia dini, sangatlah tepat, karena otak masih sangat peka terhadap stimulasi dari lingkungannya.

Tabel 1. Perkembangan Otak Manusia Pada Periode Emas

Usia
Kapasitas Otak
Saat lahir
25% otak dewasa
6 bulan
50% otak dewasa
1 tahun
70% otak dewasa
3 tahun
90% otak dewasa





[1] Wycoff, 2005 hal. 30
[2] Kompas, Minggu 13 Agustus 2006 hal. 18
On 08:36 by Yeni Mulati Afifah Afra in    6 comments
Anis Bukan Guguk, Anis Ikan....

Ketika anak saya yang pertama, Anis, berusia sekitar dua tahun, dia sangat menyukai sebuah lukisan bergambar ikan. Ada sembilan ikan, dengan ukuran yang beragam. Saking senangnya dengan lukisan itu, Anis, nama panggilan anak saya itu, sering memandangi lukisan itu melalui sepasang mata penuh binarnya. Lalu, dari bibir mungilnya, kalimat-kalimat cedalnya keluar.
Ni capa?” ia menunjuk ikan yang paling besar.
“Itu Ayah. Ayah ikan ...,” ujarku, asal. Bermaksud mencandainya.
“Ni, Bunda ikan?” tanyanya lagi, menunjuk satu ikan besar lainnya. Matanya membesar. 
Aku mengangguk sembari mengulum senyum. Merasakan betapa adegan ini sangat lucu. “Betul, Nak.”
“Ni ... Anis ikan?”
Kini aku mengerutkan kening. Anis ikan? O, o… Ya, aku paham. Dalam semesta pemikiran Anis, ketika ada Ayah, ada Bunda, pasti ada Anis.
“Ya, sayang ....”
“Ni, adek ikan?”
Anis saat itu belum punya adik, tetapi ia sudah tahu konsep adik. Bagi dia, anak yang lebih kecil darinya, adalah adik. Ia juga sering memanggil bayi-bayi tetangga dengan sebutan ‘adek’, mungkin ikut-ikutan para tetangga yang juga sering memanggil dengan sebutan itu. Ia juga tahu, bahwa ia tak punya kakak. Ia anak pertama.
“Ya, sayang,” aku mengangguk lagi.
Anis pun tertawa-tawa, sembari kembali menunjuk-nunjuk gambar tersebut. Mulutnya terus mengeluarkan suara kecil yang merdu. “Ni Ayah ikan, ni Bunda ikan, ni Anis ikan, ni … adek ikaaaan!” lalu ia bertepuk tangan saking senangnya.
Entah berapa kali  ia mengulangi hal tersebut.
Aku sungguh tak tahu, bahwa apa yang terjadi saat itu, ternyata tertanam di benak Anis, dan memasuki memori jangka panjangnya.
Ini terbukti pada beberapa hari berikutnya, saat Anis meminta ditemani buang air besar. Seperti biasa, ia menuju ke kamar mandi sembari menarik tanganku.
“Mi, ee’!” ujarnya. Aku pun mengantarkannya ke kamar mandi. Ia melangkah ke atas kakus dan buang air sembari berdiri.
“Anis, kok ee’-nya sambil berdiri?” tegurku. “Tahu ndak, yang ee’ sambil berdiri itu apa? Guguk itu ee’-nya berdiri, lho. Anis kan bukan guguk, Anis manusia, jadi ee’-nya sambil duduk, dong!”
Di luar dugaan, Anis menatapku dengan sinar mata menolak. “Bukan, Mi... Anis bukan guguk.”
“Iya, Anis kan manusia. Makanya ee’-nya jangan sambil berdiri.”
“Anis itu ikan Mi ... bukan manusia.”
Aku mengerutkan keningnya, bingung sesaat. Anis ikan ... mengapa bisa terucap perkataan itu dari bibir mungil itu.
Oh, aku menepuk jidat. Mendadak aku teringat dengan percakapan saat itu, tentang keluarga ikan. Tentang ayah ikan, bunda ikan, Anis ikan dan adek ikan. Semburat kesadaran seperti palu yang memukul kepalaku. Oh, ya Allah, ternyata apa yang kumaksud sekadar bercanda kemarin itu, telah membentuk sebuah logika yang keliru di benak Anis. Sesuatu yang kuanggap sebagai kelucuan anak kecil, telah menggoreskan pemahaman yang keliru. Celakanya, justru akulah yang menjadikan pemahaman itu salah.
Ketika Anis usai buang air kecil, cepat-cepat aku mencoba mengoreksi kesalahan itu. Kujelaskan bahwa Anis adalah manusia, bukan ikan. Kuperlihatkan gambar ikan, dan kujelaskan perbedaan ikan dengan manusia.
“Beda kan, antara ikan dengan manusia? Ikan tak punya tangan, tak punya kaki. Manusia punya.”
Otak anak, apalagi di usia-usia golden age seperti dia, ibarat kaset kosong yang menyerap berbagai informasi dengan sangat cepat. Kesalahan konsep yang terserap sejak dini, bisa menyebabkan ketersesatan di kemudian hari. Ibu yang bijak harus terus mendampinginya dan dengan sabar meluruskannya, bukan justru menjadikan sebagai sebuah komoditas humor belaka.
Menjadi ibu memang harus peka. Catat!

Baca juga artikel: Apa Itu Golden Age?

On 09:27 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    12 comments
Beberapa waktu yang lalu, saat Pemilu 2014, di media sosial cukup ramai didiskusikan perihal seorang caleg yang melakukan ritual berendam di sungai dengan alasan agar para pemilih tak bingung dan langsung menjatuhkan pilihan kepadanya.

Sebenarnya, permasalahan mistik dan klenik sudah bukan hal baru di jagad perpolitikan kita. Di sebuah pantai di daerah Cilacap terdapat bukit yang menurut masyarakat sekitar, sering menjadi tempat bertapa para pejabat dan politisi. Pada saat ajang pemilihan kepala desa pun, selain perang ide saat kampanye, hal-hal yang berbau mistik dan klenik sangat sering dipraktekkan. Seorang kenalan yang pernah mencalonkan diri sebagai kepala desa di sebuah kabupaten di barat Jawa Tengah, mengaku pernah pada saat shalat malam mendadak terjengkang tanpa ada sebab apapun. Setelah itu, beliau mendadak merasakan sekujur tubuhnya terasa sangat lemas. Menurut beliau, dia sedang diserang oleh lawannya dalam Pilkades dengan kekuatan gaib. "Untung saya rajin shalat tahajud, jika tidak, mungkin saya mati saat itu," tutur kenalan saya itu kepada saya. Mungkin, Anda juga pernah mendapatkan cerita-cerita semacam itu, bahkan lebih menyeramkan dari salah satu contoh yang saya sebut di atas.

Mistik, dalam KBBI diartikan sebagai hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia yang biasa. Adapun klenik adalah  kegiatan perdukunan (pengobatan dsb.) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang. Mistik dan klenik ini, tampaknya memang cukup mengakar subur di masyarakat kita. Masih ingatkah Anda dengan kisah Sumanto beberapa tahun silam dari Purbalingga, yang menyantap daging manusia demi mendapatkan ilmu hitam? Masa kecil saya pun tak lepas dari pengalaman berinteraksi dengan masyarakat yang sangat meyakini permasalahan tersebut.

Mistik dan Klenik Dalam Budaya Jawa
Yang cukup menarik untuk dikaji adalah, bahwa sebagian besar pelaku kegiatan mistik dan klenik itu justru berasal dari kaum muslimin, mayoritas penduduk di negeri ini. Dalam ajaran keislaman yang menekankan pada keesaan dzat Tuhan baik Tuhan sebagai pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta; maupun Tuhan sebagai satu-satunya yang diibadahi, bergantung pada makhluk selain Tuhan adalah perilaku yang sangat bertentangan. Bahkan menurut ulama, hal tersebut bisa mengeluarkan pelaku dari agamanya. Selain itu, ajaran agama Islam juga menekankan pentingnya kerja keras, ikhtiar, dan kemampuan untuk survive di samping doa. Ajaran-ajaran yang terkesan sim-salabim tak dikenal dalam agama tersebut.
Menurut Clifford Geertz, dalam buku “Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa”, sejatinya masyarakat Jawa memang terbagi dalam 3 golongan. Pada golongan abangan, praktik-praktik animisme dan dinamisme masih sangat kuat melekat. Pada golongan santri, pelaksanaan ajaran agama terlihat lebih murni. Sedangkan pada golongan priyayi, menurut Geertz cenderung pada Hinduisme. Saat ini, mungkin pembagian ketiga golongan itu mungkin sudah tak terlalu relevan, karena praktiknya kepriyayian sudah mulai memudar, kalangan santri sudah mulai merasuk lintas golongan—karena adanya proses dakwah, sedangkan abangan yang dalam buku Geertz lebih merupakan golongan para petani di desa, kini sudah mulai memegang tampuk kekuasaan. Akan tetapi, jika ingin dicermati, teori  Geertz ternyata masih bisa dijadikan sebagai bahan kajian.
Menurut Geertz, sesungguhnya Jawa memiliki ‘agama’ sendiri yang dia sebut sebagai ‘agama Jawa’. Islam, Hinduisme, dan tradisi animisme berbaur dalam satu sistem sosial, membentuk sebuah sistem kepercayaan sendiri.
Tentu bukan kapasitas saya untuk memberikan penilaian. Masalah keyakinan adalah hak paling asasi. Hanya saja, di alam modern seperti sekarang ini, di tengah kompleksitas kehidupan yang makin semerawut, sebenarnya kita membutuhkan sosok-sosok memiliki sistem keyakinan yang mantap. Keyakinan, ibarat sebuah bangunan, adalah pondasinya. Keyakinan akan memberi sugesti, motivasi yang luar biasa, dan mental yang kuat. Tentu akan sulit membayangkan, jika para pemimpin yang akan kita pilih, ternyata memiliki pondasi keyakinan yang tak mantap, karena masih mencampuradukkan sesuatu yang menjadi dasar dalam kehidupannya.

Malas Kerja Keras?
Lebih mengerikan lagi, jika praktik klenik dan mistik itu merupakan salah satu bentuk dari frustasi dan  kemalasan untuk melakukan kerja keras. Saat masih mahasiswa dan tengah menempuh perjalanan pulang kampung Semarang-Purbalingga, di daerah Wonosobo, seorang pelajar SMA putra naik, dan duduk di samping saya. Kami pun terlibat dalam obrolan yang seru. Pelajar itu dengan bangga menceritakan, bahwa dia sudah bisa membaca kunci jawaban soal-soal ujian dia dengan ilmu yang dia miliki.
Saya pun bertanya kepada pelajar tersebut, "Belajar ilmunya darimana, Dik?"
"Dari guru saya, Mbak."
Maksudnya, tentu guru dalam masalah 'kesaktian'. Saya tak terlalu heran. Memang banyak remaja sekarang yang mencoba-coba belajar ilmu gaib di luar pendidikan formal yang dia tempuh. Dulu, saat SMP, ada beberapa teman saya yang putra juga--konon belajar kekebalan. Entah mereka kebal betulan, saya tak pernah membuktikannya, hehe.
"Terus, kalau kamu sudah bisa membaca kunci jawabannya, berarti ujianmu selalu bagus nilainya, dong?"
"Iya, Mbak. Nilaiku bagus-bagus terus, padahal aku ndak pernah belajar."
"Dan... kamu puas? Puas dengan nilai-nilai yang kamu dapatkan tanpa bekerja keras?"
Pelajar SMA itu terdiam. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin dia terkejut dengan perkataan saya. Lepas dari apakah pelajar SMA itu berkata benar atau hanya sedang berbohong, saya katakan kepada pelajar itu, bahwa kenikmatan dalam hidup adalah ketika kita berhasil merasakan suka duka dan melibas tantangan.
Dalam teorinya, David McLelland, seorang Psikolog Sosial menyebutkan, bahwa manusia memiliki 3 jenis motivasi dalam melakukan sesuatu. Yang pertama, kebutuhan akan berafiliasi atau tergabung dalam sebuah kelompok (need of affiliation). Orang-orang semacam ini merasa bahwa ketika dia melakukan sesuatu adalah karena ingin mendapatkan banyak teman, atau sebaliknya, takut kehilangan teman dan sebagainya. Saat orang ikut kampanye sekadar untuk bersenang-senang dengan membleyer-bleyer motor, bisa jadi dia orang dengan tipe kebutuhan jenis ini.
Kedua, kebutuhan akan kekuasaan (need of power). Orang semacam ini akan menjadikan kekuasaan, kemegahan, kehebatan dan sejenisnya sebagai tujuan. Sangat senang ‘narsis’, terlihat ‘wow’ meski mungkin dalamnya sebenarnya rapuh. Mereka mengabaikan cara, proses, dan lebih berorientasi pada hasil, sehingga bagi mereka, cara itu tak penting.
Ketiga, kebutuhan akan prestasi (need of achievement). Inilah yang menurut McLelland sangat penting dimiliki oleh setiap orang. Orang yang butuh berprestasi akan sangat menghargai proses, menyenangi kerja keras, dan bahkan menjadi momen-momen menghadapi tantangan sebagai momen terpenting dalam hidupnya. Mendapatkan prestasi bagi mereka bukan permasalahan mendapatkan piala dan penghargaan, tetapi lebih bahwa dia mendapatkan pengakuan atas hasil kerja kerasnya.
Nah, sekarang kita bisa mengakar. Apakah orang-orang yang mengambil jalan pintas dengan perdukunan itu merupakan orang yang menghargai proses dan menyenangi bergulat dalam sebuah kerja keras yang membutuhkan strategi, kepintaran dan kreativitas? [AFRA].
On 20:54 by Yeni Mulati Afifah Afra in    13 comments
Sebuah Cerpen Afifah Afra

Ketika ia diseret menghadapku, tak ada selirat gagap pun tersirat. Meski nasibnya kini ibarat sumbu petasan yang dirambati api. Tinggal menunggu saat-saat singkat untuk meledak menjadi serpihan tiada makna.
Selembar surat pemecatan, sebentar lagi akan menamatkan riwayatnya. Jika karena itu surat ijin praktik pun dicabut, rotasi bumi baginya benar-benar telah purna.
Kutatap ia seksama. Lelaki muda, dengan netra bulat seperti bola. Wajah seputih santan, dan bersih selaik kain yang dibentang dari pencucian.
“Anda tahu, apa kesalahan Anda?”
“Tidak,” jawabnya, setenang hamparan telaga. “Bahkan sampai detik ini pun, saya tak mampu meraba, apa sebenarnya salah saya.”
“Semua telah sebenderang langit siang. Anda melanggar aturan.”
“Boleh saya tahu, aturan mana yang saya langgar?”
“Ruang itu, VVIP. Sedangkan pasienmu, kelas tiga. Anda akan membangkrutkan rumah sakit jika segala gembel dimasukkan ke ruang itu.”
 “Saya telah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan,” ujarnya lirih, namun tegas. “Ini keadaan darurat. Dua puluh orang tertimbun longsor. Sebelas orang meninggal, sembilan luka-luka. Bangsal dijejali pasien. Hanya ada satu kamar kosong, VVIP 1. Ruang yang cukup luas untuk menampung sembilan pasien....”
“Tetapi kau tahu, VVIP 1 itu bukan untuk pasien kelas gembel!” suaraku meninggi. Emosiku membajak otak.
“Tak mungkin saya mendirikan tenda darurat jika masih ada ruang yang bisa dimanfaatkan.”
“Anda tahu, berapat tarif VVIP 1 sehari? Tak hanya kamar, perawatan dan obat-obatan yang dipakai pun kelas VVIP 1. Itu tidak akan terjangkau oleh pasien dari keluarga miskin!”
“Akan ada yang menanggung biaya perawatan mereka.”
“Pemerintah, maksudmu?” ejekku. “Tahukah kau, klaim kita atas pasien Askeskin tahun lalu saya belum dibayar. Kaupikir, menjalankan operasional rumah sakit tak butuh biaya? Lebih dari itu, Dokter Yusuf, kau tentunya tahu bahwa VVIP 1 sudah diboking sejak dua bulan silam.”
 “Ya, desas-desus itu, siapa yang tak tahu. Bupati yang memboking kamar itu, bukan? Saya tak tahu, apa alasan Bupati memboking kamar itu. Akan tetapi, saya melihat kamar itu selalu kosong.”
“Meski kosong, beliau tetap membayar tarif kamar dengan tertib.”
“Ini aturan aneh. Di mana-mana, kamar rumah sakit itu untuk merawat pasien. Bukan vila yang bisa digunakan istirahat sewaktu-waktu.”
“Kau banyak mulut, Dokter...! Dan, kau telah melanggar aturan. Atas kesalahanmu itu, kau dipecat!”
“Jika karena membela idealisme lantas saya dipecat, tentu pemecatan ini membanggakan! Pemecatan ini tak akan membuat saya hancur. Justru Anda, Dokter Prahasta... Anda yang akan hancur! Mungkin bukan karier atau materi. Namun, hati nurani Anda!”
Lelaki itu berdiri, tegak. Tatapannya bak sepasang mata tombak.
“Dan, ini membuat saya sungguh merasa kecewa. Saya telah kehilangan sosok idealis yang selama ini saya kagumi. Karena itu, tak perlu lagi kusimpan buku ini di tas saya!”
Ia meletakkan sebuah buku kecil bersampul plastik yang kusam dan renta di atas meja. Lalu ia berbalik, melangkah, sangat gagah.
Seperginya, mataku terpicing ke arah buku kecil itu. Selirat desir menyusup relung. Aku mengenal buku itu. Oleh karenanya, desir itu membadai, terhempas semburan adrenalin, gemparkan jejaring nadiku. Aku terjajar. Punggungku membentur sandaran singgasana empukku.
Tanpa menyentuh buku itu pun, sungguh aku telah mengerti, apa tulisan yang berderet menggoresi lembaran itu. Sibakan-sibakan halaman itu berkelindan dalam benakku. Menjadi sebuah gerakan slow motion, namun berkekuatan penuh, yang pelan-pelan meremukkan segala kekokohanku.
Halaman 32 ...

“Dia sudah mau mati!” teriakku, “Profesor harus menanganinya!”
“Maaf, saya ada rapat penting... menkes akan berkunjung, jadi...”
“Jadi, rapat lebih Anda dahulukan daripada menolong pasien  yang tengah sekarat?”
“Bukankah ia hanya seorang gelandangan?”
Bugh! Tinju itu bersarang di dagu Profesor.
Rumah sakit ribut. Sosok itu, ko-as yang baru berusia 23 tahun, diskors, nyaris di-DO jika saja nasib mujur tidak sedang menyambangi. Karena, justru yang membela agar ia tak di-DO, adalah profesor itu sendiri.
“Saya senang dengan semangat mudamu, Nak!” puji profesor itu, yang bahkan memberi nilai A untuk stase interna. “Orang-orang sepertimulah yang akan menjaga kemurnian visi kita.”

Meski sosok itu telah pergi, ada yang tertinggal di ruangan ini. Sepasang tatapan setajam bayonet, yang sepertinya ia lekatkan di buku kusam itu. Jantungku seakan tengah dicacah-cacah oleh tatapan itu. Lantas, aku terlontar dari alam nyata, dan serasa dihempaskan ke dalam sebuah tabung besi. Di bawah tabung itu, letupan-letupan nyala api melepaskan bahang nan bergelinjang. Aku melepuh seperti daging panggang.
Liar tak terkendali, jemari dalam layar imajiku terus bergerak. Halaman selanjutnya tersibak ...

Aku disumpah sebagai dokter dalam usia 24 tahun. Beberapa bulan kemudian, aku ditempatkan di sebuah rumah sakit daerah yang terpencil. Bulan pertama penempatan, lagi-lagi aku membuat keributan. Aku menggebrak meja direktur dan memakinya sebagai borjuis tak berperasaan. Pasalnya memang cukup kompleks. Di saat wabah malaria menyerang daerah tersebut, selama 2 minggu direktur berlibur ke Bali bersama seluruh keluarganya.
Aku adalah seorang dokter. Tak ada yang kubela selain kode etik seorang dokter. Apapun yang terjadi, aku akan terus idealis!

Kepada suara telepon yang berdering keras, rasa terimakasihku terlempar. Dering itu dengan sukses membuyarkan petala imajinasi yang sejenak membekapku dan menjerujiku dalam ‘dunia lain.’ Meski begitu, saat meraih gagang telepon, tanganku gemetar, seperti pengidap tremor.
“Pak Bupati memutuskan untuk opname, Dok! Ia barusan ditetapkan jadi tersangka korupsi oleh KPK. Dan, seperti skenario kita sebelumnya, dia akan dirawat di rumah sakit, dan divonis dengan penyakit itu ...”
Gigil dalam tubuhku semakin beringas. Skenario senilai lima milyar rupiah ini terasa begitu busuk.
Tarikan sangat kuat, yang seakan-akan dilakukan oleh tangan-tangan gaib, memaksa tatapanku untuk mengarah kepada buku tipis di atas meja itu. MEMOAR SEORANG DOKTER. Judul itu seperti api yang membakar gencar. Dan tulisan sang penulis, seperti dilingkupi gas busuk yang menyesakkan dadaku. Prahasta Karmaputera, nama penulis buku itu. Aku sendiri.
“Bagaimana dengan sembilan pasien korban bencana itu?” tanya Buntoro, stafku yang tengah meneleponku.
Keringat dingin mengucur saat tak sadar kuremas gagang telepon.“Biarkan sembilan pasien itu tetap di ruang itu. Kita tak akan melindungi seorang koruptor.”
Tuhan, betapa ingin kuucapkan kalimat itu.
“Dok?”
“Bangun tenda darurat. Pindahkan pasien miskin itu kesana. Siapkan VVIP 1 untuk Bupati.” Ya Tuhan, aku begitu benci dengan kalimat yang meluncur dari bibirku sendiri.
“Baik, dok!”
Kuletakkan gagang telepon.
Namun, tarikan itu kembali kurasakan begitu kuat. Sepasang tangan gaib itu bergerak ke arahku. Mencengkeram. Menjambak. Membanting-banting. Menampar. Meninju, menghantam....
Aargggh! Rasa-rasanya aku telah menjadi gila!

On 11:58 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments
Sobat Sakinah tentu tahu, bahwa beberapa minggu yang lalu saya dan Riawani Elyta telah merilis buku duet berjudul Sayap-Sayap Sakinah, yang diterbitkan oleh Penerbit Indiva Media Kreasi. Gambaran isi buku ini bisa Sobat baca di sini

Alhamdulillah, respon dari buku tersebut sangat bagus, terbukti belum ada satu bulan beredar, buku ini sudah dicetak ulang. Semoga buku yang kami dedikasikan untuk sahabat-sahabat yang masih berusia muda, sebagai bekal menikah untuk para lajang atau pengantin baru ini bisa sukses dan memberi manfaat. Doakan, ya... :-)

Nah, untuk semakin mengoptimalkan pemahaman atas isi buku tersebut, beberapa event kopdar sudah dirancang. Untuk itu, kami mengundang teman-teman sekalian untuk hadir dalam acara: 

Seminar Pranikah dan Kopdar Sayap Sakinah Club 
Tema: "Bekal Nikah Untuk Menggapai Sakinah" 
Minggu, 7 September 2014, Jam 08.00-12.00 
Tempat di Nurul Huda Islamic Center (NHIC) UNS, Solo

Selain saya, akan hadir ustadz muda penulis buku "Malam, Janganlah Cepat Berlalu" sekaligus blogger aktif Indonesia Optimis, Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., yang siap memberikan ilmu-ilmu dan kiat-kiat menggapai sakinah mawaddah wa rahmah.

Jadi, jangan lewatkan event ini, ya... pendaftaran bisa menghubungi Ayu (0819.0471.5588).

Mau Bikin Acara Serupa di Kotamu?

Anda aktif di organisasi semacam Rohis, Remaja Masjid, Karang Taruna dan sebagainya? Ingin membikin event semacam ini di kota Anda? 

Silakan saja kirim permohonan kalian (mewakili lembaga tempat kalian beraktivitas--misal Rohis atau Remaja Masjid) ke email sayapsakinah@gmail.com.

Cara Gabung Sayap Sakinah Club?

Sayap Sakinah Club adalah sebuah group yang difasilitasi penerbit dan penulis sebagai ajang komunikasi antara pembaca dan penulis buku Sayap-Sayap Sakinah.

Bagi para pemilik buku “Sayap-Sayap Sakinah”, baik yang membeli maupun mendapatkan secara gratis (misalnya menang kuis, diberi orang lain dll), kalian berhak bergabung dalam “SAYAP SAKINAH CLUB” yang dikelola oleh SAYAP SAKINAH CENTER. 

Apa saja aktivitas SSC? Antara lain:
  • Diskusi secara online di group Facebook SAYAP SAKINAH CLUB dengan aneka tema yang menarik tentang pernikahan dan rumah tangga.
  • Mengikuti acara-acara kopdar yang diselenggarakan oleh SSC.
  • Konsultasi pranikah dan pascanikah
TERTARIK BERGABUNG? Caranya sangat mudah!
  • Foto diri Anda bersama dengan buku SAYAP-SAYAP SAKINAH (sebagai bukti bahwa Anda memilikinya)
  • Upload foto tersebut di akun socmed Anda 
  • Add akun FB Sayap Sakinah dan Follow akun Twitter @sayapsakinah
  • Kirimkan URL/link foto tersebut bersama data diri Anda (minimal nama, alamat, tempat & tanggal lahir, akun FB dan Twitter (jika ada), No. HP, dll.) ke email sayapsakinah@gmail.com
  • Info detil: www.sayapsakinah.com 



On 11:36 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    5 comments
Suatu hari, seorang muslimah meminta komentar saya tentang fenomena Jilboobs yang sempat ramai diperbincangkan. Terus terang, saya akhir-akhir ini saya agak ‘kudet’. Bukan berarti saya tidak membaca, tetapi justru sedang getol ‘menghabiskan’ koleksi buku-buku tebal-tebal yang menggunung, saya jadi sering ketinggalan informasi terkini. Saya pun searching di internet, dan terkaget-kaget. Awalnya, saya mengira jilboobs ini adalah sebuah istilah yang diciptakan oleh mereka sendiri sebagai sebuah identitas. Ternyata bukan. Jilboobs (boobs = bahasa slank untuk—maaf—payudara) adalah istilah yang diciptakan sebagai sebuah sindiran terhadap fenomena perempuan berkerudung, namun bagian dadanya justru terlihat seksi.

Meski jilboobs jelas belum sesuai dengan aturan tentang jilbab (salah satunya adalah mengulurkan kerudung hingga dadanya (silakan cek QS. An-Nuur: 31), saya memilih untuk keluar dari polemik yang berkepanjangan, dan tetap berprasangka baik, bahwa para jilboober ini masih dalam proses untuk menuju hijab yang lebih syar’i. Seperti apa jilbab syar'i itu? Silakan baca di sini! Yuk, Berjilbab Syari'i!

Tetapi, ada baiknya teman-teman yang masih berproses ini mengetahui, bahwa perjuangan mengenakan jilbab yang syar’i ini luar biasa panjang. Di Indonesia sendiri, yang mayoritas muslim, perjuangan para jilbaber juga tidak mulus. Tante saya misalnya, yang memakai jilbab pada akhir tahun 1980-an, adalah salah satu sosok yang menjadi saksi sejarah, betapa tak nyamannya menjadi jilbaber kala itu. Dituduh aliran sesat, dituduh penyebar racun di pasar, dan sebagainya. Seorang guru mengaji saya juga bercerita, bahwa pernah saat dia sedang berjalan di trotoar, mendadak seseorang yang menaiki motor menjambret jilbabnya. Saat itu, tahun 1980-an, beliau masih SMA.

Saya sendiri baru memakai jilbab pada tahun 1996. Tahun pertama, jilbab saya masih berproses, sehingga saya masih suka memakai celana jeans, kemeja dan kerudung yang tak terlalu lebar. Baru saat masuk kuliah, saya memutuskan untuk memakai jilbab yang lebih syar’i. Saya sempat merasakan ‘intimidasi’ orang-orang di kampung saya, yang memandang saya dengan tatapan curiga. Bahkan sebagian keluarga saya pun ada yang ikut menyindir-nyindir saya. Tetapi, saya memilih tetap bersikap baik dan ramah terhadap mereka. Alhamdulillah, seiring dengan waktu, mereka akhirnya menerima saya, dan bahkan ikut mengenakan jilbab.

Perjuangan panjang ini menegaskan kepada kita, bahwa permasalahan jilbab bukan lagi sekadar selembar kain yang membungkus kepala. Mengapa mereka bersedia mengalami intimidasi karena mereka menyadari, bahwa jilbab adalah persoalan ketaatan sebagai muslimah kepada Rabb-nya, juga permasalahan identitas, bahkan juga ideology.

International Hijab Day

Jika perjuangan di Indonesia pun cukup panjang, di luar negeri, khususunya barat, perjuangan kaum muslimah lebih berat lagi. Pada awal tahun 2000-an, pemerintah Inggris di London mengeluarkan keputusan yang melarang mahasiswa untuk memakai simbol – simbol keagamaan. Sebenarnya keputusan ini berlaku untuk semua agama. Tetapi, kaum muslimin—khususnya yang muslimah, tentu paling terkena dampaknya. Tentu saja banyak kaum muslimin yang memprotes keputusan ini.

Sebagai reaksi atas keputusan yang tak berpihak kepada kalangan Muslim ini, sebuah konferensi digelar London pada tanggal 4 september 2004. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh muslim dan ulama, seperti  Syeikh Yusuf Al-Qardawi, Prof Tariq Ramadhan, dan lain-lain. Sekitar 300 delegasi dari 102 organisasi di  Inggris dan dunia hadir di acara tersebut.

Konferensi London tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut:
          Menetapkan Dukungan terhadap jilbab
          Penetapan 4 September sebagai Hari solidaritas jilbab Internasional(IHSD)
          Memberikan pembelaan kepada muslimah untuk mempertahankan busana takwa mereka

Alhamdulillah, Konferensi London telah membuka mata dunia. Saat ini, perlahan-lahan Barat mulai bisa menerima keberadaan hijab. Tentu kita sebagai umat muslimin perlu mensyukuri hal tersebut. Cara bersyukur yang paling utama, tentunya dengan menggunakan jilbab sesuai dengan apa yang diperintahkan Rasulullah.
Wallahu a’lam.

On 09:18 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Jembatan Comal yang ambles. Ini suasana beberapa waktu yang lalu. Karena saat lewat suasana gelap kemarin dan kamera juga tak di tangan, saya tak sempat memotret, dan ambil  foto ini dari tribunnews.com

Sop Buntut, Jembatan Ambles, dan Tol Gelap Bergelombang

Mari kita lanjutkan 'laporan perjalanan' ekspedisi 35 Kabupaten/Kota yang sempat terpending karena saya 'sok' sibuk, begituuuh. Buat yang belum sempat baca bagian awal, bisa meluncur ke link BAGIAN PERTAMA.

* * *
Akhirnya, setelah persiapan yang lumayan heboh, perjalanan pun dimulai. Mobil yang dikendarai suami, meluncur ke utara. Kekhawatiran saya mulai sedikit terkikis, karena ternyata anak-anak terlihat sangat bersemangat. Semoga semangatnya bisa terus berlanjut sampai nanti kembali ke Solo, lima hari ke depannya.

Saya sebenarnya agak 'curiga' karena suami ternyata tak makan sore terlebih dahulu, padahal kami berangkat habis shalat maghrib. Memang sih, hidangan juga tak tersedia, hehe. Tetapi, memang ada sesuatu yang melambai-lambai minta kami datangi. Nah, benar, kan... ketika mobil keluar dari kota Boyolali, suami saya berkata, "Kita makan di Warung Tegal dekat Ampel, ya...."

"Oke!" sahut saya, tanpa pikir panjang. Warung Tegal yang terletak di Jalan Raya Ampel ini, memang favorit kami sejak dulu. Jika bepergian ke daerah utara, misal Semarang, hampir dipastikan kami mampir di warung ini. Apa saja yang tersedia di sini? Ada pecel yang mantaaap pedasnya, sop buntut yang hangat-hangat nikmat, dan lidah sapi goreng yang bikin lidah bergoyang rancak (halah, lebay!). 

Perlu Sodara-sodara ketahui, Boyolali memang terkenal sebagai daerah peternakan sapi. Memang sih, kebanyakan sapi perah. Simbah saya dari pihak Bapak dahulu, setelah pensiun sebagai polisi, mengembangkan usaha beternak sapi perah di daerah Musuk, Boyolali. Simbah Kakung seorang pekerja keras dan sangat disiplin. Jam tiga pagi, beliau sudah bangun, dan bersama karyawan-karyawannya, memerah susu sapi segar. Karena usahanya yang tak kenal lelah, beberapa kali peternakan dan KUD yang Simbah pimpin, menjadi KUD terbaik tingkat nasional. Gubernur Ismail dan Presiden Suharto pernah berkunjung kesana. Ada tuh, foto Mbah Kakung sedang bersalaman dengan Pak Harto dipajang di ruang tamu rumah almarhum Mbah Kakung.

Baik, kembali ke kisah warung tegal spesial itu ya... jadi, kami pun akhirnya memesan beberapa menu kegemaran. Sayang, saat itu lidah goreng sedang habis, jadi kami pun hanya memesan sop buntut. Anis tadinya sempat komplain. "Ya Allah, Umiiii... kok makan buntut sih, nggak mau...." Kami pun mencoba menginvestigasi mengapa Anis berpikiran sebegitu negatifnya dengan sop buntut. Usut punya usut, Anis mengira bentuk buntut (ekor)nya itu semacam ekor tikus. Ealaaah! Nyatanya, setelah melihat seperti apa bentuk sop buntut, Anis langsung menyantapnya dengan lahap.

Tol Bawen dan GPS yang 'Rewel'

Usai kekenyangan, Rama tertidur di jok belakang, bersama Prita. Saya dan Ipan di jok tengah masih terjaga. Sementara, Anis yang berlagak jadi navigator, duduk di jok depan di samping ayahnya, masih sibuk berkicau.

Saya rasa, perjalanan ke Semarang saat ini memang relatif sangat nyaman. Terlebih perjalanan malam hari. Ketika masuk wilayah Salatiga, kami masuk ke ringroad Salatiga yang luas, mulus dan sepi. Mobil pun meluncur dengan kecepatan optimal tanpa terganggu macet. Begitu keluar dari Salatiga, memasuki Bawen, kami kembali merasakan 'kenikmatan' berkendaraan di tol Bawen-Krapyak yang baru selesai beroperasi. Perjalanan di jalur Solo-Semarang seperti dilipat menjadi lebih pendek, dan nyaman pula. Wah, ini sebuah kemajuan!

Saya masih ingat bagaimana dulu harus berdesak-desakan di bus jurusan Solo-Semarang, menembus kemacetan di jalan nasional yang sempit. Saat masih mahasiswa di Undip, saya memang sering melakukan perjalanan PP Boyolali-Semarang saat akhir pekan. Terkadang, saya tidak pulang ke rumah orang tua saat weekend, tapi pulang ke rumah Simbah yang saya sebut di atas.

Namun, ada yang unik ketika kami memasuki tol Bawen. Mendadak, si pemandu arah di GPS yang dipasang di mobil kami protes melulu. Dia mengatakan bahwa kami memasuki jalur yang salah, dan diminta berbalik untuk mengikuti jalur yang dia inginkan. Olala! Ternyata ini disebabkan tol Bawen yang memang baru saja beroperasi dan belum masuk dalam up date si GPS.

Jembatan Ambles

Sayangnya, kenyamanan kami menikmati jalan yang mulus harus terjeda oleh kemacetan yang panjang saat memasuki daerah Comal, Pemalang. Usut punya usut, ternyata jembatan yang ambruk sekitar dua minggu sebelum lebaran kemarin, belum juga membaik. Lihat tuh, di gambar yang saya upload di atas! Ada dua jalur jembatan di atas Sungai Comal. Nah, ketika kami lewat, jembatan yang dipakai tinggal satu, sementara satunya masih dalam perbaikan. Karena hanya ada satu jembatan, maka semua kendaraan yang lewat harus antre. Inilah yang menyebabkan terjadinya kemacetan yang sangat panjang. Ada sekitar 2 jam kami berkutat di daerah tersebut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saat arus mudik dan balik lebaran kemarin... hmmh....

O, ya... sedikit informasi untuk Sobat sekalian, amblesnya Jembatan Comal jelang lebaran itu ternyata sudah makan banyak korban, lho. Khususnya di jalur-jalur alternatif yang menjadi pengalihan. Salah satu jalur alternatif yang dipakai untuk mengalihkan arus lalu lintas adalah jalur Purwokerto-Purbalingga yang melewati depan rumah orang tua saya di daerah Karangreja, Purbalingga. Jalur tersebut, hanya sebuah jalan sempit dengan lebar sekitar 7 meter. Trek di situ juga 'serem': Naik turun, tanjakan terjal, tikungan tajam, kanan-kiri jurang! 

Bisa Sobat bayangkan, deh... dalam keadaan normal saja, melewati jalur tersebut harus ekstra hati-hati. Apalagi saat arus mudik yang begitu padat. Sering saya memandang arus mudik itu sembari menggeleng-gelengkan kepala. Bayangkan, ketika mobil-mobil di Jakarta disebar ke seluruh Pulau Jawa saja, macetnya sudah begitu luar biasa. Bagaimana jika sehari-harinya mobil itu ditumpuk di ibu kota negara Indonesia tercinta ini!

Nah, akibat pengalihan itu luar biasa. Kecelakaan beruntun, memakan korban jiwa yang tak sedikit. Di desa orang tua saya, yang memang kondisinya jalannya penuh tanjakan dan turunan curam, pernah terjadi belasan kecelakaan. Dan yang meninggal, khusus di desa saya ada 9 jiwa. Sementara, menurut data dari seorang kerabat yang menjadi polisi, total di jalur tersebut, korban meninggal hampir mencapai 30 orang. 

Ketika saya pulang kampung saat lebaran kemarin, Hingga kemarin, saya masih di-BBM oleh kakak saya yang tinggal di sana, bahwa kecelakaan masih saja terjadi. Truk yang terguling, tronton yang terperosok, dan sebagainya.

Sambil menunggu antrean melewati jembatan, saya sempat berdiskusi dengan suami saya dengan prihatin. Ya, faktor jembatan ambles, memang faktor alam. Tetapi, mestinya bisa lebih diantisipasi dengan membangun jembatan yang benar-benar berkualitas. Pantai Utara Jawa, adalah jalur inti--bisa dikatakan jalur darat terpenting di Indonesia. Jadi, penanganannya juga tak boleh setengah-setengah. Berbagai rumor (dan pernah dibuktikan di sebuah tayangan investigasi di TV One), menyebutkan, bahwa banyak kebocoran anggaran terjadi pada penanganan Jalur Pantura. Saya tak bisa berkata lain selain hanya bisa mengelus dada sembari berdesah perih.

Tol Gelap Bergelombang

Rasa ngenes usai berhasil melewati kemacetan selama 2 jam sedikit meleleh saat melewati jalur yang lancar di Pemalang-Brebes. Namun, ketika memasuki daerah Pejagan, Brebes dan kami memasuki jalan tol Pejagan-Kanci, kening saya kembali berkerut. Ini tol macam apa? Lampu-lampu mati, petunjuk jalan banyak yang dicoret-coret, dan jalan pun bergelombang mengerikan.

"Mas, kok seperti jalan mati, ya?" ujarku, sembari menatap penunjuk waktu di dasboard mobil. Jam 3 dini hari! Ya, melintas di tol yang gelap, dan hanya ada sesekali mobil yang lewat, entah mengapa menimbulkan rasa seram di hati. Saya berpikir, bagaimana jika di jalan ini ada sesuatu terjadi, misal ban bocor, dan sebagainya?

Walhasil, selama sekitar 35 KM, kami berjalan dengan was-was. Dan kami hanya bisa manyun, ketika keluar dari gerbang tol ini, ternyata kami dikenai biaya Rp 24.000,-

Baru ketika kami memasuki daerah Kanci dan menuju jalan tol selanjutnya, yakni Kanci-Palimanan, kami baru bisa menikmati sebuah jalan tol yang 'layak.'

Sambil terus menemani suami begadang (anak-anak dan Prita sudah tidur di pos masing-masing), saya membuka ponsel, dan mencoba browsing: "Ada apa dengan tol Pejagan-Kanci". Nah, ketemu nih, di wikipedia. Ternyata, tol ini milik swasta. Begini kutipan dari wikipedia:

Jalan Tol Kanci-Pejagan adalah jalan tol yang menghubungkan Kanci yang berada di Cirebon hingga Pejagan di Brebes. jalan tol ini melintasi Kota dan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Brebes. jalan tol ini dimiliki oleh PT Semesta Marga Raya, anak usaha Bakrie Toll Road yang juga memiliki Esia dan dibangun oleh PT. Adhi Karya dengan nilai investasi Rp 2,2 Trilyun, namun sejak November 2012, jalan tol ini telah menjadi milik PT MNC Infrastruktur Utama, anak perusahaan MNC Group yang bergerak di bidang pengelolaan jalan tol yang merupakan hasil dari kerjasama Indonesia Air Transport dan Bhakti Capital Indonesia. 

Naaah, ternyata setahun silam, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah mendefault PT MNC karena jalan tol tersebut belum memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM). Default adalah kondisi cedera janji dari kedua belah pihak baik pemerintah ataupun Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dalam perjanjian. Silakan Sobat baca di sini Investor Tol Kanci Pejagan Diberi Kesempatan Penuhi SPM

Ternyata, hingga sekarang, SPM belum juga terpenuhi. So, buat teman-teman yang ingin lewat jalan tol ini, sebaiknya harus sangat berhati-hati saat berkendaraan. Atau, kalau ragu, mending lewat jalan biasa aja, deh!

BERSAMBUNG



On 08:47 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Tiga tahun sudah, Bapak saya menutup usia dengan tenang. Kelegaan yang terpancar dari wajahnya saat beliau tiada, semoga merupakan salah satu tanda khusnul khatimah, amiin.

Masih teringat jelas, ketika suatu saat Bapak meminta agar diajari membaca Al-Quran. Ya, orang tua kami berasal dari keluarga yang awam dalam soal agama. Keluarga Bapak, bahkan banyak yang abangan. Mereka memang belum bisa mengaji Al-Quran secara baik bahkan hingga usia menjelang senja. 

Akan tetapi, hidayah selalu datang tanpa memandang usia. Melihat anak-anaknya satu per satu berjilbab, dan satu-satunya anak cowok--yakni adik saya persis mulai memelihara jenggot dan aktif di kajian-kajian, serta rajin memakmurkan masjid, termasuk mengurusi Taman Pendidikan Al-Quran di kampung, mereka pun tergerak hatinya.

Ibu belajar Al-Quran mulai usia 40-an tahun, dan Bapak malah usia 50-an. Alhamdulillah, dengan ketekunannya, Ibu sekarang sudah lancar membaca Al-Quran, dan sedang berusaha konsisten dengan satu hari satu juz. Sementara Bapak, hingga wafatnya, masih terbata-bata. Lidahnya yang 'Jawa' sangat sulit untuk mengucapkan huruf-huruf khas Arab seperti 'ain, 'ghain, qa, dan sebagainya. Akan tetapi, tekad beliau untuk belajar Al-Quran sangat kuat. Lebih dari sekadar baca, Bapak juga belajar makna dan kandungan Al-Quran secara lebih mendalam.

Sebelum itu, Bapak belajar terjemah Al-Quran dari Al-Quran terjemah biasa dengan posisi terjemah berjejeran dengan ayat Al-Quran. Bagi Bapak, hal itu akan menyulitkan. Apalagi, huruf-huruf di Al-Quran tersebut sangat kecil. 

Maka, ketika suatu hari saya menghadiahi Bapak dan Ibu hadiah berupa Al-Quran Terjemah Per Kata dari Syaamil Quran, mereka sangat tertarik. Ukurannya yang besar, 21 x 29,7 cm, kualitas cetakannya yang jelas, tentu sangat pas dengan usia mereka. Terjemah per kata, membuat mereka bisa sedikit-sedikit memahami arti dari Al-Quran. Dahulu, saya pernah membelikan mereka buku terjemah per kata dari penerbit lain, akan tetapi terjemah per kata dari Syaamil ini lebih praktis, karena hanya satu kitab, tidak berjilid-jilid. Saya melihat, baik Bapak maupun Ibu, secara bergiliran belajar Al-Quran dari Syaamil Quran Terjemah Per-Kata itu.

Sayang, saat itu Syaamil belum mengeluarkan Al-Quran Transliterasi latin sebagaimana Al-Quran Hijaz yang dikeluarkan Syaamil Quran saat ini. Padahal, saya masih teringat, ketika suatu hari Bapak berkata kepada saya, "Yen, tolong Bapak dicarikan Al-Quran yang memakai tulisan latin (maksudnya transliterasi--ed.), biar hapalan Bapak bisa lebih banyak."

Saat itu, saya mencari kemana-mana, tetapi saya belum menemukan produk yang dimaui Bapak. Akhirnya, sebagai jalan tengah, saya menuliskan ayat-ayat Al-Quran dari surat-surat pendek dan doa-doa dalam huruf latin, dan saya berikan ke Bapak untuk beliau hapalkan.

Jadi, dengan adanya Al-Quran Hijaz yang merupakan gabungan transliterasi latin, tajwid dan terjemah per kata dalam satu kitab, saya yakin banyak sekali generasi sepuh yang menyambut gembira. Sayang, Bapak saya telah tiada....

Wow, Al-Quran dengan E-Pen!

Rupanya, interaksi Ibu saya dengan Syaamil Quran terus bersambung. Rupanya, beliau juga mendapat informasi perkembangan produk itu dari orang lain. Masalahnya, jujur saja, saya termasuk tidak terlalu up date. Saya sendiri, sejak 5 tahun silam, masih setia dan merasa cukup tilawah menggunakan Al-Quran terjemah dari Syaamil Quranyang ukurannya A6 dan berkalep cokelat, serta terkadang bergantian dengan Al-Quran Terjemah warna biru Hardcover. Entah berapa kali saya khatam Quran menggunakan Al-Quran tersebut.

Namun, suatu hari, dengan bangga ibu saya memberi kabar, bahwa beliau sudah membeli satu set produk Syaamil Quran lengkap dengan E-Pen-nya. Wah, kalah deh, saya!