Berbagi, cara kita memberi arti...

On 09:08 by Yeni Mulati Afifah Afra in , , ,    No comments
"Ih, dasar cewek, cerewet!"

Pernahkah Anda 'diejek' lawan jenis Anda dengan kata-kata itu? Saya pernah. Dan saya tidak marah. Benar sekali kata senior saya, kandidat doktor bidang PAUD, mbak Mukti Amini Farid, bahwa karena cerewet itulah wanita bisa melakonkan perannya dengan baik. Ibu yang cerewet akan sangat membantu kemampuan komunikasi si anak. Kemampuan verbal si anak akan terasah dengan baik.

Sebenarnya, mengapa wanita relatif lebih cerewet daripada pria? Sebenarnya, ini hanya satu dari beberapa perbedaan pria dan wanita yang disebabkan oleh perbedaan struktur otaknya.


Menurut penelitian, ternyata terdapat perbedaan struktur otak antara perempuan dengan laki-laki yang terbentuk  sejak dalam kandungan. Perbedaan struktur otak ini sudah terlihat ketika bayi berusia 26 minggu. (Reuwen dan Anat Achiron, 2001). 

Michael Guriaan dalam bukunya What Could He Be Thinking? menjelaskan, bawah perbedaan mendasar antar kedua jenis kelamin itu adalah:

  1. Dibanding perempuan, otak laki-laki cenderung berkembang dan memiliki spasial yang lebih kompleks. Oleh karenanya, berbagai kemampuan spasial seperti perancangan mekanis, pengukuran penentuan arah abstraksi, dan manipulasi benda-benda fisik, relatif lebih dikuasai kaum lelaki.
  2. Korteks otak lelaki lebih banyak tersedot untuk melakukan fungsi-fungsi spasial dan cenderung memberi sedikit porsi untuk memproduksi dan menggunakan kata-kata. Hal sebaliknya terjadi pada perempuan, sehingga kemampuan verbal (berbahasa) pada perempuan relatif lebih baik.
  3. Kumpulan saraf yang menghubungkan otak kiri-kanan atau corpus collosum otak laki-laki lebih kecil dibanding otak perempuan. Bila otak pria hanya menggunakan belahan otak kanan, otak perempuan bisa memaksimalkan keduanya. Itulah mengapa perempuan lebih banyak bicara ketimbang pria. Dalam sebuah penelitian disebutkan, perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari, sementara pria hanya 7.000 kata.
  4. Kemampuan perempuan dalam memaksimalkan kedua belahan otaknya juga membuat perempuan rata-rata lebih mampu mengerjakan banyak hal sekaligus dalam satu waktu, sementara pada lelaki umumnya fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu.
  5. Otak perempuan lebih banyak mengandung serotonin yang membuatnya bersikap tenang. Tak aneh jika wanita lebih kalem ketika menanggapi ancaman yang melibatkan fisik, sedangkan laki-laki lebih cepat naik pitam. 
  6. Pusat memori (hippocampus) pada otak perempuan lebih besar ketimbang pada otak pria, sehingga relatif mudah lupa, sementara perempuan bisa mengingat segala detail.
  7. Sementara berdasarkan penelitian lain, ternyata amigdala (bagian otak yang mengatur emosi) pada perempuan lebih cepat bekerja saat menerima rangsang emosional dibanding lelaki.
Nah, sekarang sudah tahu kan, mengapa pada beberapa hal, pria berbeda dengan wanita? Jadi, tak usah marah-marah jika dibilang cerewet, karena itu memang normal-normal saja :-)
On 11:57 by Yeni Mulati Afifah Afra in , , ,    4 comments
Data-data perceraian yang dirilis oleh Pengadilan Agama Republik Indonesia benar-benar membuat saya tercengang. Sepanjang lima tahun terakhir ini, angka perceraian di negeri ini naik pesat. Dari sepuluh pernikahan yang terjadi, satu ternyata berakhir pada perceraian. Dan, dari semua gugatan perceraian, 70% dilakukan oleh pihak istri dengan alasan terbesar adalah ketidakharmonisan. Besarnya angka perceraian itu membuat Indonesia bertengger sebagai pemuncak, alias posisi pertama negara dengan perceraian tertinggi di Asia Pasifik.

Ya, saya benar-benar terkejut. Menjadi rangking pertama dalam hal prestasi tentu menyenangkan. Tetapi, menjadi yang terdepan dalam keburukan, sangat menyesakkan. Terlebih, mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. Artinya, kasus perceraian tersebut, tentunya kebanyakan terjadi pada kaum Muslimin.
Data itu membayangi saya, sampai-sampai, ketika saya mendatangi pesta-pesta pernikahan, sembari menatap pasangan yang tengah berbahagia di pelaminan, saya sibuk membatin dan berdoa, semoga pasangan ini awet. Maka, ketika satu per satu berita masuk ke memori saya, si A bercerai dengan si B, si C bercerai dengan si D, saya merasakan hati ini begitu sakit. Terlebih, jika kisah-kisah perceraian itu dahulu barangkali hanya menimpa orang-orang yang ‘jauh’, saat ini perceraian sudah terjadi di sekitar kita. Pada sahabat, famili, tetangga dan sebagainya.
Mayoritas Keluarga Tak Sakinah?
Fakta bahwa 70% gugatan dilakukan oleh pihak istri dengan alasan ketidakharmonisan juga membuat saya berpikir, ada apa dengan kaum perempuan kita? Tidak harmonis berarti karena ketidakstabilan. Tidak stabil berarti tidak mantap, tidak ‘cenderung’, alias goyah, yang berarti juga tidak sakinah. Saya kira, angka tersebut hanya fenomena gunung es. Artinya, pasangan yang memilih bertahan dalam ketidakharmonisan, hidup dalam ‘neraka dunia’, bahkan juga menerima perilaku tidak semestinya dari suami, jauh lebih tinggi lagi.
Seorang teman pernah mengajukan sebuah ulasan tentang kaitan semakin tingginya keterserapan tenaga kerja perempuan pada sektor-sektor strategis dengan tingginya angka perceraian. Teman saya mencontohkan sertifikasi guru. Para wanita yang rata-rata guru, memiliki penghasilan lebih tinggi, sementara sang suami yang pekerjaannya tak tetap, tersingkir dari posisi qowwam (pemimpin) yang mestinya memberi nafkah. Semakin tingginya tingkat pendidikan kalangan perempuan, membuat banyak perusahaan lebih memilih menerima tenaga kerja kalangan ini—yang konon lebih ‘menurut’ dan ‘tak banyak tingkah.’
Betulkah demikian? Ya, analisis teman saya bisa jadi ada benarnya. Tetapi, lepas dari itu, semua kembali pada visi dan komitmen dari sepasang lelaki dan perempuan saat memutuskan untuk menikah. Kita menikah untuk apa? Jika semata untuk pemenuhan (maaf) kebutuhan biologis, akan ada masa-masa kita mengalami kejenuhan. Jika hanya untuk sekadar mengejar status “Tuan dan Nyonya”, berbagai dinamika yang muncul tak akan cukup diselesaikan dengan status tersebut. Bahkan, ketika tujuan kita adalah bersatu dengan sosok yang kita cintai, akan ada kalanya cinta itu surut. Lalu, apakah ketika sudah tak ada cinta lagi kita memilih untuk berpisah? Lalu, bagaimana dengan anak-anak kita? Hampir semua penelitian menyebutkan bahwa anak-anak yang besar dari keluarga yang broken home, rata-rata mengalami permasalah dengan perkembangan psikologisnya.
Tetapi, jika tujuan kita menikah adalah untuk ibadah, karena kita memiliki visi besar mengkader keturunan-keturunan yang rabbaniyyah, berbagai kendala yang dihadapi, kita akan mencoba mencari solusi. Surutnya cinta, kebosanan, stagnasi, bahkan permasalahan finansial, akan lebih mudah diatasi jika kita memang memiliki semangat untuk menyelesaikan problem tersebut, bukan membiarkan terakumulasi, atau bahkan dijadikan kambing hitam untuk memuaskan ego pribadi.
Kita menikah, karena ingin sakinah. Bukan karena ingin bercerai di kemudian hari, bukan?
On 13:15 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments
Akhir-akhir ini, saya terus terang sedang sibuk berat! Sampai-sampai tidak sempat ngeblog, hehe. Adakah yang kangen dengan tulisan saya?

Biar kangennya terobati, yuk, kopdar saja di event ini! Saya copas dari posting admin Indiva Media Kreasi, nih...

Mana nih, yang sedang mengumpulkan bekal nikah? Bekal nikah yang paling penting itu… ilmu. Ya nggak, Fren?

Nah, setelah berkali-kali sukses menggelar berbagai event kopdar, Sayap Sakinah Center Penerbit Indiva Media Kreasi, bekerja sama dengan Kemuslimahan JAVA Sekolah Vokasi UGM, menggelar: BINCANG PRANIKAH DAN BEDAH BUKU “SAYAP-SAYAP SAKINAH” bersama:

AFIFAH AFRA (penulis buku “Sayap-Sayap Sakinah, CEO PT Indiva Media Kreasi)

Yuk, catat tanggal mainnya:
Hari/tanggal: Minggu, 7 Desember 2014
Waktu: Jam 08.00-12.00
Tempat: Hall Sekolah Vokasi UGM (eks. Perpustakaan)
HTM: Rp 15.000 (dapat snack, seminar kit, door prize, diskon khusus untuk pembelian buku “Sayap-Sayap Sakinah”)

Tempat Terbatas. Pendaftaran hub. 0857.9937.0336
On 13:56 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments
Apakah novel yang difilmkan harus novel yang best seller? Yang penjualannya mencapai ratusan ribu hingga jutaan eksemplar? Seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi dan sebagainya?

Ternyata tidak. Ada novel-novel tertentu yang menarik perhatian Produser untuk memfilmkannya. Novel yang seperti apa?

Indiva Media Kreasi, bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena dan Lazis UNS menyelenggarakan: WORKSHOP MENULIS NOVEL FILMIS

Pembicara: Gola Gong (penulis puluhan judul buku, mantan wartawan, penulis skenario, Presiden Forum TBM Republik Indonesia, Anggota Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena)

Moderator: Afifah Afra (CEO PT Indiva Media Kreasi, Sekjen Forum Lingkar Pena)

Hari/tanggal: Rabu, 19 November 2014
Waktu: Jam 12.30-16.00
Tempat: Ruang Seminar NHIC Universitas Sebelas Maret (UNS)
GRATIS

Dapatkan diskon menarik di Bazar Buku Murah Penerbit Indiva.


On 11:36 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    2 comments
Dunia kepenulisan belakangan ini semakin bergeliat. Semakin naiknya minat baca masyarakat, ditambah naiknya jumlah kalangan menengah terdidik, membuat kebutuhan akan bacaan semakin tinggi. Lepas dari berbagai problematika yang membelit usaha perbukuan (sebagaimana pernah saya bahas di blog ini), tetap saja kue penerbitan sesungguhnya cukup menjanjikan segenap pihak yang terlibat, mulai dari penulis, penerbit, percetakan, distributor dan bahkan konsumen.

Peluang tersebut ditangkap oleh kalangan pebisnis, sehingga kian hari, jumlah penerbit pun kian banyak. Sulit untuk membedakan penerbit yang benar-benar memiliki semangat dan idealisme memajukan dunia literasi dengan penerbit yang sekadar memandang buku sebagai sebuah komoditas yang menguntungkan.

Yang jelas, karena bahan baku dari sebuah penerbit adalah naskah, maka kebutuhan akan adanya penulis sebagai pensuplai naskah otomatis juga bertambah. Penulis menyusun buku, lalu diedit, didesain, dicetak dan didistribusikan oleh penerbit. Sebagai imbalannya, penulis mendapatkan royalti atau honorarium.

Berikut ini adalah proses yang biasanya terjadi di industri perbukuan dan bagaimana penulis terlibat di dalamnya.

I. Naskah (Penulis) -  II. Seleksi (Penerbit) - III. Perjanjian/Kontrak (Penerbit dan Penulis) - IV. Editing (Penerbit) - V. Pra Cetak (Layout, Desain, Plate, Film dll.) (Penerbit) - VI. Cetak (Percetakan) - VII. Buku Jadi (Gudang Penerbit) - VIII. Distribusi (Penerbit dan Distributor) - IX. Displai (Toko Buku) - X. Pembelian (Konsumen) - XI. Perhitungan Penjualan (Toko Buku dan Penerbit) - XII. Perhitungan Royalti (Penerbit) - XIII. Royalti (Penulis)

Ada beberapa tipe penerbit. Penerbit besar biasanya melakukan semua proses itu, termasuk memiliki percetakan sendiri. Atau, biasanya percetakan itu merupakan perusahaan tersendiri yang terpisah secara struktur dan memiliki badan hukum sendiri, tetapi masih dalam satu grup usaha dengan penerbit. Misalnya, PT Macanan Jaya Cemerlang adalah percetakan yang merupakan perusahaan terpisah, namun masih satu grup dengan Penerbit Intan Pariwara. Atau percetakan Gramedia, secara strutuk terpisah dengan penerbit Gramedia, tetapi masih tergabung dalam Kompas-Gramedia Grup.

Bahkan, ada juga penerbit juga memiliki jejaring toko buku tersendiri. Misal Toko Buku Gramedia (milik Kompas Gramedia Group) atau Toko Buku Tiga Serangkai (milik grup Tiga Serangkai).

Penerbit sedang, terkadang menyerahkan proses percetakan buku ke pihak luar (percetakan). Hal ini seringkali dilakukan karena pertimbangan efisiensi. Memiliki percetakan sendiri, berarti harus siap memproduksi sekian buku. Padahal, seringkali kapasitas percetakan dalam mencetak buku, lebih besar dari kemampuan penerbit itu menerbitkan buku baru. Sedangkan rata-rata penerbit memilih selektif menerbitkan naskah dan memperkuat promosi ketimbang over dalam memproduksi buku. Di sisi lain, percetakan lazimnya butuh terus beroperasi agar mesin tidak rusak. Maka, tak heran, penerbit yang juga memiliki percetakan, biasanya juga mengizinkan percetakannya untuk menggarap order-order lain.

Sementara, penerbit kecil, membutuhkan lebih banyak pihak luar. Tak hanya percetakannya, terkadang distribusi pun memilih distributor besar sebagai agen tunggal. Namun begitu, menurut saya, idealnya, semua penerbit baik besar, sedang maupun kecil, minimal memberlakukan proses seleksi naskah, editing dan pracetak sendiri. Karena, peran inti sebuah penerbit sebagai 'desainer buku', ada pada fungsi-fungsi tersebut. Saya sebut ‘idealnya’, karena memang saya beberapa kali menemukan penerbit yang hampir seluruh proses diserahkan ke pihak luar, termasuk seleksi naskah, editing dan pracetak.

Sebuah perusahaan, apalagi penerbit, idealnya menerapkan prinsip “sheng yi”, yang artinya “melahirkan ide.” Maksudnya, tugas dunia usaha adalah: “Mengandung ide, melahirkan ide, dan membantu ide tersebut untuk tumbuh.”[1] Jadi, ketika sebuah penerbit hanya menyerahkan segenap proses produksi pada pihak luar, bagaimana mungkin mereka akan mampu menjalankan prinsip tersebut?

Oya, hingga sekarang, masih banyak orang yang belum paham, apa itu perbedaan penerbit dengan percetakan. Jika dianalogikan dengan pembuatan baju, penerbit adalah desainer, pembuat pola, sementara percetakan adalah tukang jahitnya. Karena itu, percetakan sering menuntut penerbit untuk mencantumkan kalimat "isi di luar tanggung jawab percetakan."

Dan memang, penerbit dan penulislah yang sepenuhnya bertanggungjawab terhadap isi buku. Percetakan hanya membantu proses produksi. Tanggung jawab hanya sebatas pada packaging buku, misal kertas yang rusak, jilid yang mudah jebol dan sebagainya.

Jika melihat paparan di atas, penulis ternyata memiliki peran yang sangat signifikan. Bisa dikatakan, penulis merupakan ujung tombak dari industri buku, karena merupakan pensuplai bahan baku utama dari industri perbukuan. Karena itu, baik penulis dan penerbit, semestinya memiliki kesamaan perspektif dalam memandang dunia berbukuan, dan sama-sama menjalankan prinsip sheng yi. Bahkan, porsi penulis—sebagai pemilik gagasan, mestinya lebih besar lagi.

Bagaimana Menjadi Penulis Produktif?

Dalam website resminya, Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) menyebutkan bahwa per tahun 2013, ada 1.126 penerbit di seluruh Indonesia yang bergabung dalam organisasi tersebut.[2] Sebagai catatan, memang tidak semua penerbit bergabung di Ikapi. Jika dalam satu bulan masing-masing penerbit yang bergabung dalam Ikapi menerbitkan 5 judul buku saja, berarti dalam satu bulan, dibutuhkan 5.630 naskah. Padahal, ada penerbit yang dalam satu bulan membutuhkan lebih dari 100 naskah. Dan, kemampuan seorang penulis dalam menulis buku sangat beragam. Tetapi, rata-rata seorang penulis profesional membutuhkan waktu sekitar 1-2 bulan untuk menulis satu naskah buku. Ini belum dunia media, yang juga membutuhkan pasokan naskah dari para penulis. Pada akhir tahun 2010, jumlah media cetak 1.076 buah (Data Serikat Penerbit Surat Kabar, 2011). Media cetak selalu menyediakan ruang untuk penulis luar, baik kolom artikel/opini, cerpen, puisi, dan sebagainya.

Jadi, menjadi penulis sebenarnya menjanjikan. Idealnya, seorang penulis fokus dan total menceburkan diri dalam dunia kepenulisan. Tetapi, menulis tetap bisa dilakukan oleh siapapun, apapun profesinya. Saya punya kenalan penulis dengan profesi yang beragam, birokrat, dosen, pedagang, pengusaha, dokter, bahkan para pekerja buruh migran di sektor domestik, penjual mie ayam dan loper koran.

Menulis adalah pekerjaan “menuangkan ide” dalam bentuk tulisan. Pada prinsipnya, semua orang bisa menjadi penulis, asal dia punya bahan dan punya kemampuan menyampaikan secara tertulis. Bahan itu bisa dari pengalaman—baik diri sendiri ataupun orang lain, membaca, diskusi, dan sebagainya. Apapun yang kita dapatkan sehari-hari, asal itu fakta (bukan realita ataupun aneh tapi nyata), bisa dituang dalam tulisan. Sementara, untuk bisa prigel dalam menulis, menurut sastrawan Budi Darma, hanya butuh tiga jurus: menulis, menulis dan menulis. Alias rajin praktik. Seorang penulis buku-buku best seller dunia, Malcolm Gladwell says that it takes roughly ten thousand hours of practice to achieve mastery in a field. Ya, butuh 10 ribu jam terbang untuk bisa menjadi seorang yang ahli di bidang tertentu, termasuk kepenulisan. Bagaimana dengan Anda?

Bagaimana Menulis Buku “Marketable”?
Seorang penulis buku, seperti tersebut di atas, adalah “penjual ide”. Bagaimana agar ide tersebut mampu memikat pasar alias marketable? Tentu kita harus paham terlebih dahulu apa itu marketable. Dalam dunia marketing, yang menjadi orientasi adalah kebutuhan dari pelanggan, dan produk yang kita hasilkan harus memuaskan pelanggan, sehingga karena itu, terdapat laba yang berasal dari kepuasan pelanggan. Produk yang marketable bukan sekadar produk yang laku, tetapi juga membuat pelanggan puas dengan produk kita. Kepuasan itu bisa berefek domino, yakni dengan mudah mempengaruhi calon pelanggan lain.

Karena itu, dalam ilmu marketing dikenal istilah Word of Mouth, atau dalam bahasa Jawa sering disebut sebagai mekanisme getok tular. Pelanggan yang puas, akan menceritakn kepuasan itu kepada calon pelanggan lainnya tanpa harus dibayar. Bahkan, ketika si produsen (penulis) telah mencapai tingkat branding tertentu, tak hanya merasa puas, konsumen (pembaca) akan dengan senang hati menjadi fans berat dan punya gengsi tersendiri saat mengonsumsi produk tersebut. Dalam dunia pemasaran buku, mekanisme word of mouth ternyata dinilai sangat efektif dalam mencetak buku-buku mega best seller.

Bagaimana agar produk (tulisan) kita memuaskan pelanggan (pembaca)?
  •  Kita harus melakukan analisa pasar. Produk apa yang sebenarnya dicari dan dibeli oleh pasar? Untuk itu, kita perlu melakukan riset. Kita bisa menggunakan sarana yang murah meriah, misalnya akun Facebook, Twitter dan sebagainya. Kita bisa menulis status, misal: “Jika Anda butuh buku saat ini, buku apa yang akan Anda beli?”
  • Kita perlu memilih segmen pasar, yang sesuai dengan passion dan kemampuan kita. Sebab, fokus pada segmen tertentu akan membantu kita untuk bisa melakukan langkah-langkah yang efisien dan efektif.
  • Setelah memilih segmen, kita harus pintar menempatkan diri di pasar. Misal, sehari-hari kita berkutat di bidang sains, tentu akan mudah jika kita memilih menulis bidang sains. Tetapi, kita tahu, bahwa sains berat tidak segmen pasarnya terlalu sempit, maka kita bisa memilih sains populer untuk remaja, misalnya.
  • Bauran pemasaran (marketing mix) terkenal dengan istilah 4P (product, price, place dan promotion). Ranah penulis adalah product dan mungkin promotion. Tetapi, penulis sangat bisa memberi masukan kepada klien penulis, yakni penerbit, dalam menciptakan bauran pemasaran yang mampu merangsang calon pelanggan untuk memutuskan menggunakan produk kita.
  • Harus ada feedback ke pelanggan, apakah mereka puas dengan layanan/produk kita. Misalnya dengan membuat poling kepuasan pelanggan secara berkala.

Jangan lupa, kita juga harus senantiasa berinovasi. Inovasi adalah kunci dari kesuksesan. Sikap selalu mencari dan mencari tahu tentang segala sesuatu, akan memicu munculnya inovasi. Sebab kata Masaru Ibuka, “Jika yang dilakukan hanya berdasarkan pada apa yang telah diketahui, Anda tidak bisa mengharapkan adanya inovasi.”[3]




[1] Kotler, dkk. (hal. 1)
[2] http://ikapi.org/about
[3] Kotler dkk. (hal 1).
On 13:07 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments
[UNDANGAN]
 

Apalah arti sebuah karya tanpa publikasi? Apalah artinya jika karya kita hanya kita biarkan tersimpan di komputer kita, atau teronggok dan kita biarkan berdebu di almari kita. Keindahan kata, ketajaman makna, dan kekuatan pesan tak akan mampu tersampaikan kepada khalayak. 

Karena itu, mempublikasikan karya, terkadang sama pentingnya dengan menuliskan karya itu sendiri.

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (FS UM) akan menyelenggarakan Diskusi Sastra dengan tema 'Berkarya dan Memublikasikannya'. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Selasa, 18 November 2014, Pukul 09.00-12.00 WIB, di Aula FS UM Gedung E7 Lantai 2. 

Pemateri: Afifah Afra (Penulis dan CEO Penerbit Indiva Media Kreasi Solo). 

Moderator: Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. 

Pendaftaran peserta ke Bapak Samsul, kantor Tata Usaha FS UM, Gedung E6 Lantai 2, setiap hari pukul 07.30-15.00 WIB. Kegiatan ini terbuka untuk mahasiswa dan umum. 

Tempat terbatas. 

GRATIS.


Para pegiat dan penikmat sastra, khususnya yang berlokasi di kota Malang, yuk hadiri acara ini!
On 15:58 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    3 comments
Di sebuah acara lomba yang diselenggarakan untuk anak, saya tertegun melihat perdebatan sengit antara panitia dengan orang tua peserta lomba. Si orang tua komplain, karena ada aturan dari panitia yang dianggap merugikan anaknya. Karena rugi, si orang tua merasa bahwa peluang si anak untuk menang berkurang. Di lomba lain yang sejenis, saya juga pernah melihat kasus yang mirip. Jika kasus di atas adalah aturan panitia, di kasus yang lain, saya melihat seorang ibu ngotot memprotes keputusan dewan juri. Intinya, “Pokoknya gambar anak saya ini yang paling bagus!”

Pernahkah Anda melihat kasus-kasus sejenis itu? Kasus yang membuat kita mengelus dada dan akhirnya menggeleng-gelengkan kepala sambil berpikir, ini sebenarnya siapa sih yang ikutan lomba? Ibunya, atau anaknya? Kok nafsu banget sih, dapat juara? Apa yang sebenarnya dicari dalam lomba itu? Piala yang berjejer di rumah? Piagam yang dipasang bergantungan di dinding?

Bahwa pada ajang-ajang perlombaan kadang ada kecurangan, itu mungkin memang benar. Tetapi, percayalah! Apa tujuan sebuah sebuah institusi mengadakan perlombaan? Menjaring bakat. Mencari potensi. Untuk apa mereka rela berpayah-payah mengadakan lomba kalau tidak menginginkan yang terbaik? Semakin bonafid penyelenggara lomba, mereka tak akan ‘melacurkan diri’ dengan melakukan kecurangan-kecurangan.

Prinsip ini selalu saya pegang kuat-kuat, sehingga saya selalu legowo jika mengikuti lomba dan ternyata kalah. Alih-alih memprotes juri dan panitia, saya lebih memilih introspeksi diri. Sikap ini ditanamkan oleh ‘guru ideologi’ sekaligus bapak biologis saya, alias sang ayah tercinta. Saat kecil, saya memang wara-wiri ikut berbagai ajang perlombaan. Mulai dari baca puisi, menulis, cerdas cermat, hingga lomba mata pelajaran.Ya, jelek-jelek gini, saat masih bocah, saya pernah tiga kali mewakili kabupaten di event yang lebih tinggi hehe. Ayah saya tahu, bahwa beberapa kali ada indikasi kecurangan. Tetapi ayah lebih menekankan kepada saya untuk koreksi diri. Demikian pula yang akhirnya saya coba tanamkan kepada anak-anak saya. Pokoknya kalau karya kamu benar-benar bagus, pasti orang akan menghargai kamu. Kalah di satu lomba, jangan frustasi, kamu harus bangkit, move on dan semakin baik.

Ya, lomba sesungguhnya hanya sebuah momen. Tetapi, pelatihan diri untuk mengasah bakat tertentu adalah tradisi, kebiasaan. Momen dibutuhkan untuk tolok ukur, seberapa jauh tradisi kita mampu melahirkan prestasi. Sesungguhnya, tanpa momen pun orang bisa eksis dengan karyanya. Penghargaan tak selalu berujud piala, atau juara ini, juara itu. Ketika karya kamu terpakai, dimanfaatkan dan dipertahankan orang, itu juga bentuk penghargaan.

Jadi, saya benar-benar heran dengan para orang tua, yang alih-alih menentramkan perasaan si anak, mengajari legowo saat kalah dan sebagainya, justru memberikan ‘keteladanan’ berupa ledakan emosi, kemarahan dan kegusaran kepada panitia atau juri. Apakah orang tua ingin memperlihatkan kepada si anak, “Ini lho, aku, sang superhero? Aku siap membela hak-hak kamu. Pokoknya, apapun caranya, kamu harus menang!"

Awas, Bunda, Ayah, Papa, Mama… anak-anak adalah ‘mesin foto kopi’ paling canggih di dunia ini. Karakter mereka akan terbentuk berdasarkan respon dari lingkungan. Dan orang tua, adalah ‘role model’ paling dahsyat yang menjadi anutan mereka. Ketidaklegowoan kita dalam perlombaan, sikap “Pokoknya anakku yang terbaik”, justru akan menghancurkan karakter si anak. Karena, mereka akhirnya akan dibentuk oleh sikap “Siap Menang”, dan “Tak Siap Kalah.”

Apa sebenarnya tujuan kita mengikutkan anak dalam lomba? Ya, agar anak punya semangat kompetisi. Agar anak punya hasrat untuk memperbaiki diri. Bukan sekadar untuk menang, tetapi juga untuk merasakan, “Begini lho, kekalahan. Nggak papa kalah, karena dalam kompetisi, namanya kalah dan menang itu biasa.”

Jadi, mari kita stop mentalitas “Pokoknya Anakku Yang Terbaik.” Karena, mentalitas tersebut, percaya deh, justru akan menghancurkan karakter anak kita. Mari dampingi anak untuk berproses menemukan jati dirinya, membangun mental positif dan ‘mental juara’ yang antara lain adalah siap menang dan siap kalah.