banner

24 Sep 2016

Menikmati Kebencian

Suatu hari, di sebuah kampung, ada dua gank yang selalu berkelahi. Kampung jadi panas, setiap hari warganya merasa tegang. Tetapi, alih-alih mencoba menyatukan dua gank tersebut, mereka justru terbelah menjadi dua kubu. Lama-lama, percekcokan tidak hanya pada si anggota gank belaka, tetapi juga pendukung-pendukungnya. Hal tersebut terjadi berlarut-larut.

Sampai kemudian muncul seorang lelaki paro baya yang bijak dan dewasa. Sebut saja namanya Pak Ahmad. Lelaki itu adalah guru mengaji yang sederhana. Melihat pertikaian yang terjadi, Pak Ahmad merasa sangat prihatin, dan berinisiatif mendamaikan mereka. Dia panggil dua pimpinan gank tersebut, diajak makan di saungnya yang sederhana namun nyaman. Ternyata, pimpinan gank itu terketuk dengan perdamaian yang diprakarsai ustadz bersahaja itu. Mereka sepakat untuk menghentikan permusuhan.
Tetapi, apa yang terjadi? Para pendukung marah besar. Bukan apa-apa, mereka ternyata ogah berdamai sebab telah begitu menikmati pertikaian, ketegangan, dan keleluasaan saling caci maki, serta pelampiasan amarah. Mereka menikmati kebencian.

“Nggak seru lagi ah, kalau nggak ada perseteruan.”
“Buat apa damai? Perang terus aja!”

Mungkin kita bertanya-tanya, ada ya, orang yang menikmati kebencian dan ogah damai? Tentu ada. Zaman ketika saya remaja dahulu, ada dua kelompok sepakbola yang merupakan musuh bebuyutan. Jika mereka bertanding, lapangan selalu penuh. Aha, ternyata tujuan para penonton, termasuk saya, bukan sekadar untuk melihat para pemain menggocek bola, tetapi juga melihat bagaimana nuansa perseteruan yang sengit. Jika terjadi baku hantam di antara pemain, rasanya hebat sekali.

Ternyata, hingga saat ini, kita juga sering melihat pertikaian antarsuporter sepakbola yang gila-gilaan. Bahkan, sepertinya ada pihak-pihak yang mengipas-ngipasi agar terus ada rivalitas panas yang membuat kedua kubu jadi musuh abadi.

Ya, sadar atau tidak sadar, kita menikmati kebencian. Menikmati keributan. Karena, keributan itu, lezat! Saya pernah menjadi barisan orang yang kecewa saat polisi merazia petasan sampai ke desa-desa. Lebaran jadi terasa sepi, tidak ada jedar-jeder, blam-blem, dor-dor yang bikin kaget, sekaligus adrenalin yang menyembur. Bising, ribut, hiruk-pikuk ... namun nikmat.

AGRESIVITAS
Para pakar berbeda pendapat mengenai apa yang menyebabkan munculnya sifat pembenci pada seseorang. Menurut perspektif biologis, manusia sebenarnya tak ada bedanya dengan hewan. Beberapa pakar meneliti tingkah laku para simpanse, ternyata agresivitas yang muncul pada mereka bisa terjadi karena alasan teritorial (wilayah yang diusik), lalu alasan kedua adalah karena masalah pasangan (berebut betina)[1]. Ada dua instink mendasar pada hewan, yaitu eros (kehidupan) yang kemudian menciptakan perasaan positif seperti cinta, kasih sayang, kedamaian; dan tanatos (kematian) yang menciptakan perasaan negatif seperti kemarahan, kebencian, dan agresivitas.

Dari teori ini, menunjukkan bahwa perilaku benci dan agresi, ternyata merupakan bakat alami setiap manusia, yang pada prinsipnya memang sama dengan binatang. Hanya saja, pada proses perkembangannya, manusia memiliki akal budi yang membuat “kebinatangannya” tertutup. Jadi, orang yang senang menikmati kebencian dan malah hobi melakukana agresi, bisa jadi memiliki IQ, EQ dan SQ yang rendah.

Adapun menurut Bandura, agresivitas itu bukan bawaan, tetapi hasil pembelajaran. Ingatkah Anda dengan eksperimen “Bobo Doll”? Sekelompok anak dibiasakan dengan tingkah laku orang dewasa yang senang menyerang, menendang dan memperlakukan boneka Bobo dengan agresif, dan ternyata anak-anak itu cenderung bersikap agresif. Sedangkan sekelompok anak lainnya dibiasakan dengan tingkah laku orang dewasa yang memperlakukan si Bobo dengan baik: mengelus, membelai, bercakap ramah—ternyata anak-anak itu kemudian tumbuh menjadi manusia yang ramah, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Agresivitas juga bisa dipicu dari rasa frustasi—terhambatnya upaya seseorang dalam mencapai tujuannya. Juga bisa merupakan karakter personal seseorang yang tidak sabaran, terburu-buru, tidak kooperatif, pencuriga, bahkan juga narsistik. Menurut Sarwono dan Meinarno (2009: 154), orang yang narsis—terlalu mencintai dirinya sendiri, memiliki tingkat agresitivitas yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan dirinya merasa terancam mana kala ada orang lain yang mempertanyakan dirinya: misal meragukan kapasitasnya, mengkritik, memberi masukan dan sebagainya.

Selain itu, kebudayaan, situasional (misal kondisi cuaca panas, kemarau panjang), ketidakcukupan sumber daya, tontotan kekerasan pada media masa, termasuk terbiasa melihat komentar-komentar buruk, hate speech, dan berbagai bentuk kekerasan verbal. Hati-hati jika Anda adalah buzzer yang dibayar oleh sebuah tim pemenangan kandidat politik tertentu. Kadang SOP mengharuskan Anda melakukan caci-maki, omongan buruk dan sebagainya guna menjatuhkan mental lawan politik. Jika it uterus Anda lakukan, lama-lama karakter agresivitas juga akan muncul pada diri Anda.

Bahkan, jika Anda seorang yang agamis, jangan sampai Anda terperdaya ketika mencoba "menghancurkan" lawan Anda. Apakah itu panggilan agama, atau memang sebuah pelampiasan karakter agresif Anda? Kisah Ali bin Abi Thalib bisa menjadi bahan perenungan kita bersama. Di perang Khandaq, hampir saja Ali hendak membunuh Amr bin Abd Wad, musuhnya. Namun dia mengurungkan membunuhnya, sehingga sahabat yang lain bertanya.

Jawab Ali, “Aku diludahinya, sehingga aku menjadi benci dan marah. Aku ingin menunggu sampai kemarahanku ini reda dan lenyap. Sebab aku ingin membunuh musuh semata-mata hanya karena Allah ta’ala”.

Ali sangat tahu isi hatinya, dan dia jujur. Dia tidak mau dinilai sebagai pahlawan agama karena menebas leher musuh demi agama, padahal sejatinya, itu hanya pelampiasan rasa amarahnya belaka. 

Wallahu a'lam bish-showwab.



[1] Sarwono, S.W. dan Meinarno, EA. 2009. Psikologi Sosial. Salemba Humanika. Jakarta.

20 Sep 2016

Kegagalan Itu Pedih, Jendral!

Suatu hari, saat membutuhkan jasa taksi, saya berjalan kaki sekitar 200 meter dari kantor ke pangkalan taksi. Ada tiga perusahaan taksi mangkal di sana, sebut saja taksi merah, taksi biru dan taksi putih. Taksi biru adalah best brand taxi di kota saya. Predikat best brand itu sudah saya buktikan berkali-kali lewat pelayanannya yang ramah dan profesional. Dua kali ponsel saya tertinggal di taksi biru, dan ternyata dikembalikan oleh sang sopir, adalah beberapa pengalaman berinteraksi yang membuat antara saya dan si taksi biru terbangun sebuah emotional attachment. Jadi, bisa Anda bayangkan, kan, taksi mana yang akhirnya saya pilih?

Ya, saya hampir melangkah menuju ke taksi biru, sampai sebuah pemikiran mendadak terlintas di benak. Haruskah saya selalu menaiki taksi biru? Tidakkah saya mencoba membangun pengalaman dengan taksi lain? Jika semua orang berpikiran seperti saya, maka taksi biru akan selalu unggul, uang mengalir ke mereka, keuntungan naik, dan mereka kemudian sejahtera. Tetapi, bagaimana dengan nasib taksi lainnya? Tak ada penumpang, pemasukan jeblok, lalu gulung tikar?

Sesaat saya termenung, sampai kemudian dibuyarkan oleh sapaan seorang bapak berbatik merah. “Monggo mbak, taksinya!” dia menawarkan taksi merahnya. Ramah, dan senyumnya tampak tulus. Tak banyak pertimbangan saya memutuskan naik taksi merah tersebut.

“Pakai argo, kan, Pak?” Tanya saya kepada sopir.
“Iya mbak.”
“Harus begitu,” ujar saya. “Dan argonya harus jujur. Saya pernah naik taksi yang argonya bergerak sangat cepat, hingga saya harus membayar ongkos dua kali lebih mahal daripada biasanya.”

Saya tidak bilang kepada si bapak bahwa brand taksi curang itu sama dengan taksinya. Namun si bapak langsung tanggap. “Ya itulah Mbak, ada sebagian dari kami yang suka ugal-ugalan. Mereka bikin jelek citra perusahaan. Sekarang sudah mulai ditangani manajemen, kok. Tapi, meski aturan sudah bagus, ya kami masih sulit bersaing.”

Sepanjang jalan, saya terus merenung, sembari sesekali berbincang dengan si bapak. Dunia usaha, seringkali memang merupakan sinonim dari sebuah kompetisi alias persaingan. Kadang persaingannya biasa-biasa saja, namun ada juga yang ketat, bahkan sangat ketat. Namanya persaingan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Yang menang bersorak, jaya, hidup dalam gelimang harta. Yang kalah terpuruk, bangkrut, tertimbun hutang.

Kita bisa saja mengatakan, ya… itulah bisnis.

Tetapi, jika kita pernah merasakan terpuruk, bangkrut, kehabisan modal—atau setidak-tidaknya menyaksikan orang-orang terdekat kita berjatuhan tak mampu bersaing, tentu kita tak bisa sekadar berkata, “memang begitulah bisnis.” Ada ceruk empati terbangun, mungkin kecil, mungkin besar.
Saya pernah menjadi “korban” bangkrutnya bisnis orang tua. Semuanya habis, ludes, bahkan rumah pun hendak disita oleh bank. Saat itu, hidup seperti mimpi buruk. Kuliah saja saya harus dibantu oleh kakak saya yang memilih tidak melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi karena bekerja di Jakarta. Karena itu, jika mendengar cerita-cerita kebangkrutan, hancurnya sebuah bisnis, gagalnya bersaing, saya suka merasa miris.

Kegagalan itu pedih, Jendral!

Gagal bersaing, bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama faktor eksternal, yaitu situasi yang memang tidak bisa diprediksi sebelumnya, seperti orang tua saya. Usai pensiun PNS, beliau beternak ayam, dan ayam-ayam itu mati terkena virus flu burung yang saat itu memang menggila. Kedua, bisa jadi faktor internal, seperti malas berinovasi, tak memiliki attitude baik—seperti taksi curang yang saya sebut di atas, atau memang faktor kelemahan diri yang tak juga diperbaiki. Seringkali, faktor eksternal berkombinasi dengan faktor internal. Ancaman tidak segera diantisipasi karena secara internal dia merupakan pribadi yang malas berubah.

Memang menyebalkan juga, melihat orang-orang terdekat kita yang tak segera memiliki usaha-usaha perbaikan diri saat mengetahui bisnisnya dalam masalah. Jangankan perbaikan, malah dia petantang-petenteng terus bergaya seolah-olah menjadi orang superkaya, memamerkan hutangnya yang berjibun, dan terus menipu diri sendiri dengan berbagai mitos bisnis yang keliru.

Tetapi, jika kita melihat adanya sosok-sosok yang berusaha keras mengendalikan bahtera bisnisnya yang nyaris oleh diterpa badai, tak salah kita ulurkan tangan untuk membantunya. Bukankah begitu semestinya?

“Mbak, sudah sampai,” ujar si sopir taksi merah. Saya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyerahkan kepadanya sambil berucap terimakasih. Taksi merah ini pelayanannya tak seburuk yang saya bayangkan. Jadi, tak mengapa jika suatu saat saya memakainya lagi. Bukan berarti saya meninggalkan si taksi biru. Saya tetap hormat pada usaha-usaha manajemen taksi biru untuk membuat usahanya berkelas dan profesional. Tetapi, saya juga merasa perlu membantu—sekecil apapun—perusahaan yang sedang berusaha keras untuk bangkit dengan berbagai perbaikan sistem manajemennya.

Itu saya. Bagaimana dengan Anda?

18 Sep 2016

4C, Empat Keterampilan Abad 21, Sudahkah Kita Punya?


Jumat malam, 16 September 2016 kemarin, saya mendapatkan kesempatan yang cukup langka, yaitu menghadiri talkshow khusus untuk para pimpinan penerbit se-Jateng plus para tamu undangan dari instansi terkait. Acara yang serangkaian dengan pelantikan Pengurus Ikapi Jateng periode 2016-2021 itu menghadirkan pembicara Ibu Sri Hidayati, S.Si, M.Si dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud RI dan Dr. I Ketut Astawa dari Ikapi Pusat. Temanya sih, tentang Kurikulum 13. Tetapi, yang ingin saya sorot dari talkshow itu adalah ucapan menarik dari Ibu Sri Hidayati.

“Sudahkah buku Anda mengandung konten berupa ketrampilan yang wajib dimiliki di Abad 21?” Tanya Ibu Sri Hidayati yang malam itu terlihat cantik dengan kerudung pink-nya. “Itulah 4C. Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation. Inilah yang sesungguhnya ingin kita tuju dengan K-13, bukan sekadar transfer materi. Tetapi pembentukan 4C.”

Saya terhentak mendengar pernyataan beliau. 4C, sebenarnya kata ini tidak terlalu baru untuk saya. Di berbagai kesempatan, saya sudah mendengar beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di Abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. Tetapi, malam itu, saya seperti diingatkan kembali, betapa penguasaan 4C itu super-duper-penting. 4 C adalah  jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauuuh lebih bermanfaat ketimbang sekadar jadi jagoan dalam penguasaan hardskill.


Jadi, mari kita bahas sejenak di blog sederhana ini.

Communication
Komunikasi, adalah salah satu kunci sukses dalam hidup ini. Banyak sekali problem bermunculan, baik di level keluarga, masyarakat, lingkungan kerja, kehidupan bernegara, bahkan antarnegara, ternyata berawal dari miscommunication. Saya pernah juga mengalami problem ini ketika berinteraksi dengan kawan lewat sebuah aplikasi chatting. Akhirnya saya menyadari, bahwa komunikasi itu memiliki 2 dimensi, yaitu dimensi verbal alias isi atau konten, dan dimensi non verbal alias cara penyampaian. Chatting memang bisa menjadi sarana penyampaian verbal, tetapi tidak non verbal. Misal, kata “kamu menyebalkan!” jika disampaikan dengan gaya bergurau, plus mata kedip-kedip, pasti akan dianggap sekadar gurauan belaka oleh orang yang kita ajak berkomunikasi. Tetapi, jika kata itu kita sampaikan via media chatting, bisa jadi masalah serius.

Tentu komunikasi tidak sesederhana satu paragraph yang saya sampaikan tersebut. Komunikasi itu ilmu yang sangat luas, dan merupakan disiplin ilmu tersendiri. Hanya saja, di abad ini, belajar bagaimana berkomunikasi yang baik, ternyata menjadi sebuah kewajiban. So, buat kita semua yang selalu punya problem dengan hal ini, segeralah berbenah.

Collaborative
Collaborative artinya kemampuan berkolaborasi, alias bekerjasama, saling bersinergi, menyatukan potensi kita dengan potensi orang lain demi tujuan tertentu. Sayangnya, alih-alih mampu bersinergi, banyak di antara kita justru trauma bekerjasama dengan orang lain. Menurut Stephen Covey, perkembangan kedewasaan seseorang ternyata harus menempuh 3 periodesasi, yaitu dependency, independecy dan interdependency.

Saat kita masih lemah, kita biasanya bergantung kepada orang lain. Seiring dengan menguatnya kapasitas, kita menjadi mandiri. Apakah stop di sini? Ternyata tidak. Kita harus mampu ber-interdependency alias saling bergantung dengan orang lain dalam bentuk kolaborasi. Jadi, kolaborasi yang baik, akan terbangun dari sekumpulan orang mandiri yang menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin hidup tanpa bersinergi. Kolaborasi akan bubrah jika yang bergabung masih belum memiliki level sama. Mungkin ada yang mandiri, ada yang masih bergantung dan sebagainya.

Critical Thinking and Problem Solving
Saya merasa sangat sedih ketika melihat ada orang tua yang meng-cut pikiran kritis anak dengan perkataan-perkataan yang cenderung “show of power”. Misal, “Diam, kamu ini ngeyel!” Atau, “Kalau dibilangi itu jangan membantah, Bapak ini lebih tahu dari kamu.”

Oke, jika maksud si ortu adalah ingin anaknya hormat kepada orang tua, tak perlu dengan kalimat skakmat semacam itu. Sebab, kalimat-kalimat semacam itu, apalagi ditambah dengan tekanan non verbal seperti mata melotot, tangan menggebrak meja dan sebagainya, justru akan mematikan daya “critical thinking” si bocah. Critical thinking adalah kemampuan untuk memahami sebuah masalah yang rumit, mengkoneksikan informasi satu dengan informasi lain, sehingga akhirnya muncul berbagai perspektif, dan ujung-ujungnya ketemulah sebuah solusi dari suatu permasalahan. Orang yang cerdas, sejatinya bukan yang nilainya selalu 100 atau A plus, tetapi yang mampu berpikir kritis dan menemukan solusi cerdas dari berbagai problem yang dia alami.

Creativity and Innovation
Kreativitas, menurut The Liang Gie didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menciptakan penggabungan baru. Kreativitas akan sangat tergantung kepada pemikiran kreatif seseorang, yakni proses budi seseorang dalam menciptakan gagasan baru. Kreativitas yang bisa menghasilkan penemuan-penemuan baru (dan biasanya bernilai secara ekonomis) sering disebut sebagai inovasi.


Nah, 4C ini, disebut-sebut sebagai “jurus sakti” menaklukkan kompetisi abad 21, di mana di abad ini, pertarungan bukan lagi berorientasi pada aku menang dan kamu kalah, tetapi aku menang dan kamu menang. Kita unggul bersama-sama.

Nah, sudahkah kita memiliki 4C tersebut?

Solo, 18 September 2016
____________________________

Mau berbulan madu bersama pasangan? Atau sekadar memanjakan diri di tengah aktivitas supersibuk? Klik sini yaa...

16 Sep 2016

Indiva Gelar Sayembara Cari Karya, Ikutan Yuk!

Zaman sekarang ini, ruang kepenulisan untuk para penulis pemula sudah semakin sempit. Berbeda dengan awal-awal karir kepenulisan saya dahulu. FYI ya, buku solo perdana saya "Genderuwo Terpasung", bisa cetak ulang dalam waktu tak sampai setahun dan cukup banyak mensupport pendanaan saya (yang saat itu masih anak kuliahan), sampai-sampai saya memutuskan untuk STOP minta subsidi dari ortu. Sekarang, jangankan pemula, yang sudah cukup punya nama saja, banyak yang nasib penjualan bukunya mengenaskan.

Itukah yang menyebabkan penerbit saat ini menjadi sangat selektif? Hm, bisa jadi. Tetapi, regenerasi penulis kan harus tetap ada. Untuk itu, Indiva Media Kreasi mencoba membuat terobosan dengan melakukan beberapa kali pembuatan buku antologi yang melibatkan banyak penulis pemula. Paling tidak, langkah ini menjadi salah satu cara penulis pemula bisa tampil berkarya, meski secara keroyokan.

Mau ikut event kali ini?

Sayembara Indiva Cari Karya
Tema: “Girls Talk Series, Jangan Jadi Cewek Cengeng”

Semua perempuan cerita. Cerita perjuangan, kejatuhan, kebangkitan, ketegaran. Dan kamu pasti juga punya sosok heroine yang menjadi panutanmu. Ayo sebar kisah inspiratifmu dengan menuliskannya dan berbagi inspirasi bersama Sayembara Indiva Cari Karya.

Syarat Kepesertaan
1. Terbuka untuk umum, baik laki-laki maupun perempuan.
2. Mengisi formulir. Formulir dapat diunduh di http://indivamediakreasi.com/sayembara-indiva-cari-karya/
3. Kirim karya kamu beserta formulir yang telah kamu isi ke email panitia smileindiva16@gmail.com dengan format email dan file: JJCC (spasi) nama (akun twitter).
4. Setelah mengirimkan karya jangan lupa mention di twitter Indiva (@penerbitindiva). Contoh: halo, Kak Admin @penerbitindiva aku ikutan sayembara JJCC dan udah kirim naskahnya.

Syarat dan Ketentuan Karya yang Disertakan
1. Karya berupa tulisan non-fiksi kreatif bertema motivasi dengan tagline “Jangan Jadi Cewek Cengeng”.
2. Karya tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
3. Lengkapi karya dengan biodata diri dalam bentuk narasi singkat (dicantumkan dalam satu file).
4. Naskah asli, karya sendiri, dan belum pernah diterbitkan/dipublikasikan di media apa pun.
5.Panjang tulisan 8-10 halaman A4.
6. Satu peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah.
7. Format penulisan: file doc atau .docx. (disimpan dalam Ms. Word Versi 97-2003 ya…), spasi 1.5 Times New Roman, margin standar atas 3 cm, bawah 3 cm, kanan 3 cm, kiri 3 cm.

Timeline
1. Sayembara dilaksanakan mulai 15 September dan ditutup 10 Oktober 2016 pukul 20.00 WIB.
2. Pengumuman 15 Oktober 2016.

Penjurian
1. Juri akan memilih 10 karya terbaik.
2. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Reward untuk Karya Terpilih
1. Karya terpilih akan diterbitkan dalam antologi Girls Talk Series: Jangan Jadi Cewek Cengeng. Antologi ini akan beredar dalam skala nasional.
2. Honor penerbitan.
3. Satu copy buku antologi Jangan Jadi Cewek Cengeng.
4. Diskon khusus untuk pembelian setiap produk Penebit Indiva Media Kreasi.

Informasi lebih lanjut hubungi
SMS/WA 082387457946 (Rida)

Catatan: Jika ada pertanyaan soal teknis, langsung hubungi CP tersebut yaa....

15 Sep 2016

Memanjakan Diri di Kota Sibuk Semarang

Hidup dalam rutinitas tanpa menyelinginya dengan penyegaran pikiran tentu sangat membosankan. Alih-alih kerja menjadi semakin efektif, yang terjadi justru pikiran yang selalu tegang dan lelah. Melepas penat adalah sebuah kebutuhan hidup, khususnya jika Anda memiliki ritme kerja yang tinggi. Berwisata bisa menjadi pilihan, namun sayangnya, terkadang merencanakan sebuah perjalanan wisata ke luar kota tidak mungkin Anda lakukan karena keterbatasan waktu libur dan pertimbangan-pertimbangan lainnya.
Apakah berwisata itu harus selalu ke luar kota, yang berarti kita harus melakukan berbagai persiapan yang merepotkan? Ditambah jika Anda harus menyetir sendiri. Macet di perjalanan, pula. Terbayang, deh, capeknya. Padahal, esok hari, Anda harus kembali prima dan menjalankan aktivitas profesional Anda secara rutin.
Memanjakan diri dengan suasana yang berbeda dengan menerima pelayanan-pelayanan yang ramah dan menyenangkan, adalah salah satu bentuk penyegaran yang mungkin bisa dilakukan. Masyarakat sibuk yang tinggal di kota-kota besar, biasanya melakukan penyegaran dengan memesan hotel yang bagus, dan menikmati segala fasilitas dan pelayanan yang disediakan.
SumberGambar : swiss-belhotel.com/en-gb/hotel-ciputra-semarang
Bagi warga Semarang dengan aktivitas tinggi yang butuh melakukan penyegaran, Hotel Ciputra Semarang di bawah manajemen Swiss-Belhotel International hadir dengan segala keramahan dan kemewahannya. Hotel yang terletak di jantung kota Semarang, tepatnya di Jl. Simpang Lima, ini memiliki fasilitas yang sangat memanjakan, terlebih aksesnya yang terbuka langsung ke Mal Ciputra, memungkinkan Anda untuk sekaligus berbelanja di pusat perbelanjaan terlengkap di daerah ini.
Untuk mendapatkan kualitas istirahat yang benar-benar nyaman, Hotel Ciputra Semarang menyediakan beberapa tipe kamar yang semuanya dirancang semewah dan senyaman mungkin untuk Anda. Sesuai dengan budget yang tersedia, Anda bisa memilih dari tipe standar hingga suite-nya. Kamu juga bisa langsung cek di traveloka.
Belanja
Mungkin di hari Sabtu, Anda bisa langsung membuka kamar di Hotel Ciputra Semarang, lalu turun ke bawah menghabiskan waktu untuk berbelanja atau sekedar cuci mata, dan duduk santai mengobrol di kafe-kafe dalam mal. Terkadang di akhir pekan banyak counter yang menyediakan diskon khusus yang begitu menggoda. Barangkali Anda perlu membeli tas, sepatu, atau baju kerja baru. Tentu menyenangan bisa bertukar pikiran dengan pasangan mengenai outfit yang bagus dan up to date.

SumberGambar : swiss-belhotel.com/en-gb/hotel-ciputra-semarang
Makan Malam
Puas berbelanja dan memborong semua kebutuhan, Anda bisa kembali ke kamar sejenak untuk membersihkan diri dan bersiap dengan tampilan yang lebih segar dan rapi. Anda bisa mengenakan pakaian yang lebih formal jika Anda merencanakan sebuah makan malam yang istimewa dengan pasangan yang bisa menghidupkan kembali pernikahan yang terkadang terasa datar atau berpenampilan kasual jika Anda ingin berjalan-jalan santai menghabiskan malam tanpa memikirkan rumitnya pekerjaan.
Hotel Ciputra Semarang yang terletak di Jl. Simpang Lima memudahkan Anda untuk menemukan wisata kuliner dan keramaian malam, bukan? Ya, Simpang Lima memiliki kawasan kuliner yang sangat terkenal di Semarang. Aneka makanan khas Semarang seperti lunpia seafood akan sangat mudah ditemukan. Semakin malam, suasana semakin meriah.

SumberGambar : swiss-belhotel.com/en-gb/hotel-ciputra-semarang
Jika Anda belum puas, The Gallery Restaurant hotel akan siap memanjakan lidah Anda dengan aneka sajian lezat ala Timur maupun Barat. Selain The Gallery, ada Lounge Bar dengan desain interiornya yang menggoda di lantai dasar yang akan menemani Anda bersantai dengan suguhan musik Jazz secara langsung.
Berolah Raga
Setelah terbangun dari tidur lelap kelelahan karena aktifitas kemarin lalu menikmati paket sarapan pagi, Anda bisa segera menuju pusat kebugaran yang sudah disediakan Hotel Ciputra Semarang. Namun bisa jadi Anda lebih tergoda untuk berenang saat melihat jernihnya air yang siap menyegarkan badan Anda.

SumberGambar: swiss-belhotel.com/en-gb/hotel-ciputra-semarang
Berenang adalah orah raga yang baik untuk meningkatkan masa otot serta melatih kekuatan otot. Selainitu, berenang juga merupakan jenis olah raga aerobik yang berfungsi untuk memperkuat jantung dan membuat seluruh aliran darah di tubuh kita beredar secara sempurna. Saat Anda ingat bahwa berenang juga mampu membakar  kalori dalam tubuh Anda dengan baik dan Anda bisa mengontrol berat badan Anda supaya tetap ideal, Anda tentu akan tak ragu lagi untuk segera berganti dan meluncur masuk ke dalam air.
Body Spa
Nanggung, dong, kalau hanya menyegarkan badan dengan berenang. Apalagi jika Anda jarang memiliki akhir pekan yang damai seperti ini. Hotel Ciputra Semarang hadir untuk Anda dengan menyediakan kamar sauna dan ruang pijat yang mampu memanjakan tubuh dan mengendorkan urat syaraf yang tegang akibat bekerja dan berpikir terlalu berat. Anda akan segera merasakan nikmatnya pijat refleksi dan paket perawatan tradisional dengan harum rempah-rempah yang begitu khas.

Yaiy... Indiva Kembali Gelar Lomba Cerpen PECI 2016


Setelah sukses dengan 2 kali lomba menulis cerpen PECI (Penulis Cilik Indonesia), Penerbit Indiva Media Kreasi kembali menggelar Lomba Menulis Cerpen PECI 2016. Buat Sobat sekalian yang punya adik, keponakan, murid, atau malah putera-puteri yang berusia maksimal 14 tahun, yuk, ajak ikut lomba ini ramai-ramai.

Berikut ini saya copaskan ketentuan lomba tersebut:

Syarat dan Ketentuan Lomba
  1. Peserta berusia maksimal 14 tahun.
  2. Tema bebas, asal bukan cerita fantasi (peri, sihir, dll.)
  3. Tidak mengandung unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), kekerasan, dan pornografi.
  4. Panjang cerpen maksimal 10 halaman, kertas A4 (kuarto), spasi 1,5, font 12 Times New Roman. 
  5. Cerpen dikirim bersama:
  • Fotokopi akta kelahiran.
  • Biodata lengkap (nama, alamat sekolah, alamat rumah, nomor telepon, akun email, nomor rekening orangtua atau penanggungjawab).
  • Foto dengan pose bebas ukuran postcard.
  • Struk pembelian serial PECI terbitan Lintang Indiva.
Ke alamat:
Panitia Lomba Penulis Cilik Indonesia 2016
PT Indiva Media Kreasi
Jl. Slamet Riyadi 612 B, Surakarta, Jawa Tengah
Telp: 0271 – 731584

Lomba dibuka pada 1 Oktober 2016 dan ditutup pada 31 Desember 2016.

Pengumuman Pemenang 16 Januari 2017 di:
• Fanpage Indiva Media Kreasi
• Twitter @penerbitindiva
• Instagram @penerbitindiva

Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Hadiah Lomba
Juara 1 : Rp 1.500.000,00
Juara 2 : Rp 1.250.000,00
Juara 3 : Rp 1.000.000,00
5 juara harapan : @ Rp 500.000,00 

Bagi naskah kalian yang belum juara namun layak terbit, akan diberikan kesempatan untuk terbit juga. Ayo, ikutan ramai-ramai.

9 Sep 2016

Sejuta Pesona Terpancar dari Jawa Tengah

Candi Sukuh, Karanganyar
Suatu pagi, di Ngargoyoso, Lereng Gunung Lawu, saya menatap hamparan panorama yang segar menghijau. Angin sejuk berhembus dari arah Taman Hutan Raya (Tahura) Mangkunegara I yang lokasinya berdekatan dengan candi. Gesekan dedaunan seperti tengah mengkisahkah bagaimana Bhre Pajang yang dititahkan Sri Suhita, Ratu  yang berkuasa di Mahapahit saat itu (1429-1446), memerintahkan warganya untuk menata satu demi satu bebatuan membentuk arsitektur yang menarik.

Sejenak nafas panjang saya terhela, merasa takjub, tatkala menyadari, bahwa saya tengah berada di sebuah tempat yang telah eksis sekitar enam abad silam. Candi Sukuh adalah candi yang dibangun di zaman Majapahit, dan sejak 1995 telah didaftar sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO. 

Sukuh hanya salah satu candi yang tak terlampau besar. Selain Sukuh, kita mengenal Borobudur yang dibangun sekitar tahun 800 Masehi. Ketika menapakkan kaki menaiki tangga demi tangga Borobudur, yang juga lebih dahulu ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage, kita seakan sulit mempercayai bahwa umur bangunan megah tersebut telah lebih dari seribu tahun, dan menjadi satu dari sekian keajaiban dunia. 

(Candi Borobudur, Foto Koleksi Ummu Sasa)
Borobudur dan Sukuh, adalah beberapa ikon sejarah kebanggaan Jawa Tengah. Namun, Jawa Tengah tidak hanya Borobudur atau Sukuh. Provinsi seluas 32.548 km² ini memiliki bentang alam yang beraneka ragam. Pegunungan, dataran tinggi, laut, sungai, kepulauan, hingga bentang alam karst dengan jenis-jenis keindahan yang menjadikan surga bagi para pelancong. Jawa Tengah memiliki ratusan bahkan ribuan objek wisata yang menawan, lengkap dari wisata alam, wisata bahari, wisata sejarah, wisata kuliner, wisata budaya (culture tourism), wisata petualangan (adventure rourism), dan juga wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).

Saya merasa menjadi orang yang bejo, alias sangat beruntung, karena terlahir, besar dan hidup di Jawa Tengah. Salah satu hobi saya adalah traveling, dan prinsip saya, sebelum yang di dekat saya selesai dijelajahi, saya tidak terlalu tertarik untuk pergi ke lokasi yang jauh. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah semua telah saya kunjungi. Demikian juga, hampir semua objek wisata yang terkenal di daerah-daerah tersebut juga telah saya datangi.

Di blog ini, saya ingin membagi gambaran sekilas tentang pesona Jawa Tengah yang harus Anda ketahui. Ya, seperti saya sebut di atas, ada ratusan, bahkan ribuan objek wisata yang memancarkan berjuta pesona di Jateng, dan pada kesempatan ini saya akan mencoba membagi berbagai objek wisata tersebut dalam beberapa kelompok.

Wisata Prasejarah dan Sejarah

Fase prasejarah dan sejarah dibedakan dengan adanya budaya literasi (aksara/tulisan) di sebuah masyarakat. Saya pernah guyon dengan teman-teman, bahwa di masa kini pun, jika kita tidak akrab dengan budaya literasi, sejatinya kita masih fase prasejarah. Kita tidak layak menyebut diri kita sebagai Homo sapiens, tetapi jenis Pithecanthropus erectus.

Jawa Tengah memasuki fase sejarah pada sekitar abad 6 Masehi, dengan ditemukannya Prasasti Tukmas, Prasasti Sojomerto dan Prasasti Upit yang dibuat pada masa pemerintahan Ratu Shima di Kalingga. Namun, sebelum itu, berbagai artefak sejarah ditemukan, sebagai bukti bahwa sejak sebelum itu, di Jawa Tengah juga telah hidup manusia prasejarah dengan berbagai pranata sosialnya. Adalah Eugene Dubois, seorang ilmuwan Belanda yang memulai melakukan eksplorasi di kawasan ini, lalu dilanjutkan ilmuwan lain seperti Von Koenigswald. 
Fosil-fosil dan artefak prasejarah hasil penggalian tersebut sekarang bisa Anda lihat di Museum Sangiran, yang berlokasi di Kabupaten Sragen, sekitar 17 KM dari Pusat Kota Solo. Museum ini telah dibangun dengan megah, indah dan modern, di lokasi yang disebut sebagai Situs Sangiran, dan juga telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage. Di situs ini, terdapat berbagai jejak prasejarah yang telah berusia dari 2 juta tahun hingga 200.000 tahun. Saya sangat merekomendasikan tempat ini, dan sebaiknya Anda datangi bersama anak-anak. Kita bisa berwisata sembari belajar arkheologi. Sst, jangan lupa, kalau mau ke Sangiran, mampir ya, ke rumah saya, karena pasti kelewatan jika Anda datang dari arah Solo, hehe.

Jawa Tengah, bisa dikatakan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki perabadan tertua. Bisa dimaklumi, Jawa Tengah merupakan pusat beberapa kerajaan besar. Sebut saja Kalingga yang diperintah Ratu Sima, yang oleh sebagian sejarahwan diperkirakan berlokasi di Pekalongan atau Jepara. Demikian juga Kerajaan Medang/Mataram Kuno yang diperintah oleh Dinasti Syailendra, berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa kerajaan ini berpusat di sekitar daerah Magelang/Kedu. Karena erupsi Gunung Merapi yang dahsyat, dan juga ancaman serangan Sriwijaya, di masa pemerintahan Empu Sindok, ibu kota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur. Namun, jejak sejarah kejayaan dinasti ini bertebaran di berbagai lokasi di Jawa Tengah, di antaranya Candi Pawon, Candi Plaosan, candi-candi di Gedongsongo serta Dieng, dan juga Candi Borobudur yang terkenal seantero dunia dan menjadi salah satu dari keajaiban dunia.

Pada masa Islam, Jawa Tengah juga menjadi pusat pemerintahan kerajaan Islam yang berkuasa, yaitu Demak, Pajang, dan Mataram Islam. Awalnya, Mataram Islam memang berpusat di Mentaok (Yogyakarta), namun oleh Sultan Amangkurat II, ibu kota Mataram Islam kemudian dipindah ke Kartasura. Lalu, setelah terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Sunan Kuning dan didukung pasukan China, keraton dipindah dari Kartasura ke Solo. Mataram Islam, hingga kini masih eksis dalam wujud Istana Kasunanan dan Mangkunegaran di Kota Solo, dan Kesultanan Hamengkubuwono dan Pakualaman di Yogyakarta. 

Meski tidak beribu kota di Jawa Tengah, Majapahit pun meninggalkan banyak peninggalan bersejarah yang sangat penting, misalnya komplek Candi Sukuh dan Candi Cetho di lereng Gunung Lawu. Pajang, yang berlokasi di sekitar Surakarta, adalah salah satu kadipaten penting di masa Majapahit.


Beberapa kota di Jawa Tengah juga telah eksis sejak berabad-abad silam. Magelang, adalah kota tertua di Jawa Tengah, berdiri pada 11 April 907. Selain itu, kota-kota lain juga sudah termasuk tua, misalnya Semarang berdiri pada 5 Mei 1547, Pemalang pada 24 Januari 1575, Tegal pada 12 April 1580 dan Solo pada 17 Februari 1745.

Peradaban yang tua itu masih meninggalkan begitu banyak peninggalan bersejarah, baik fisik maupun budaya yang merupakan warisan yang tak ternilai. Hingga kini, peninggalan bersejarah itu sebagian besar masih terawat baik, dan bahkan telah menjadi objek wisata berkelas internasional yang diminati para turis asing. Sebut saja Borobudur, Candi Dieng, Candi Gedongsongo, Candi Sukuh, Candi Cetho, Masjid Demak, Keraton Kasunanan Solo, Keraton Mangkunegaran dan sebagainya. Demikian juga peninggalan sejarah zaman kolonial seperti Lawang Sewu Heritage Complex di Semarang, Little Netherland (Kota Tua Semarang), Kota Lama Tegal, Museum Kereta Api Indonesia di Ambarawa dan sebagainya.

Jika Anda ingin menyelami aroma sejarah dan juga mencerap salah satu peradaban khas nusantara yang tertua, datanglah ke Jawa Tengah. Anda tidak salah pilih. Kalau Anda kesulitan mencari guide, saya bersedia, asal pas ada waktu saja, hehe.

Kota Lama, Tegal (Foto Koleksi Pribadi)

Wisata Petualangan (Adventure Tourism)

Selain sejarah, Jateng memiliki banyak objek wisata yang sedang ngehit di kalangan anak muda: adventure tourisme. Jenis wisata yang mampu memicu adrenalin ini tersedia dalam berbagai bentuk. Mulai dari pendakian gunung, di mana Gunung Slamet, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu atau Lawu telah sejak lama menjadi gunung-gunung favorit bagi para pendaki gunung.

Selain pendakian gunung, saat ini di Jateng juga marak olahraga arung jeram (rafting). Lokasi rafting di Hulu Sungai Progo (Magelang), dengan jarak tempuh sekitar 12 KM, selalu ramai didatangi pengunjung, khususnya dari kalangan pemula hingga level menengah. Sedangkan untuk pemula hingga mahir, ada lagi lokasi rafting lainnya yang lebih menantang adrenalin dan jarak tempuh lebih jauh (hingga jarak sekitar 26 KM) dan lebih menantang berada di hulu Sungai Serayu, Banjarnegara. Di daerah kelahiran saya, Purbalingga, juga telah dibuka jalur rafting Sungai Klawing dengan jarak sekitar 10 KM, dan ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam.
Rafting di Hulu Sungai Progo (Foto Koleksi Ummu Sasha)
Sedangkan sejenis olahraga mirip rafting untuk pemula, seperti tubing (menyusuri sungai dengan ban-ban yang diikat), juga banyak didapatkan di daerah Ngargoyoso dan Tawangmangu, Karanganyar. Anak-anak banyak yang menyukai kegiatan wisata ini. Apalagi, biasanya penyedia paket tubing juga dilengkapi dengan flying fox, dan juga kegiatan outbond lainnya. Anak-anak saya, jika diajak ke Tawangmangu, pasti memilih bermain di area-area jenis ini. "Pokoknya, main ke Tawangmangu dan nggak basah-basahan, itu nggak seru!" begitu 'semboyan' mereka.

Persiapan Tubing di Ngargoyoso, Tawangmangu
(Foto Koleksi Pribadi)

Jangan lupakan olahraga caving (susur gua). Gua Barat, Gua Jatijajar dan Gua Petruk di Kebumen adalah destinasi caving yang cukup banyak digemari. Sementara, untuk gua tipe lava, bisa dicoba deh, menyusuri Gua Lawa di Purbalingga. Sangat menarik, karena di Indonesia, gua tipe lava (lava tube), hanya ada di Purbalingga dan Bali. Selain menikmati keindahan dalam perut bumi, kita juga bisa belajar geologi.

Wisata Bahari
Jateng memiliki dua garis pantai, yaitu Pantai Utara dan Pantai Selatan. Keduanya memiliki pantai-pantai yang indah. Pantai yang sangat saya sukai adalah jenis pantai di bentang alam karst (bentang alam yang disusun oleh batu gamping), karena biasanya memiliki karang-karang dan gua-gua yang indah. Pantai karst ditemui di sepanjang garis pantai Kebumen, misal Logending, Karangbolong, Ayah, Menganti dan sebagainya; juga pantai di Wonogiri seperti Nampu dan Sembukan di Kecamatan Paranggupito.

Pantai-pantai di Wonogiri, bisa dikatakan merupakan pantai kelas internasional. Sebab, tujuh situs di Wonogiri, saat ini termasuk dalam 33 situs Geopark Gunung Sewu, yang sejak September 2015 ditetapkan sebagai International Geopark oleh UNESCO dan masuk dalam jaringan GGN (Global Geopark Network). Geopark Gunung Sewu adalah lokasi untuk menyebut ekosistem karst yang terbentang di tiga kabupaten, yaitu Gunung Kidul (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), Wonogiri (Jawa Tengah), dan Pacitan (Jawa Timur). Selain Geopark Gunung Sewu, hanya ada satu geopark berkelas internasional di Indonesia, yaitu Geopark Gunung Batur di Bali.
Pantai Sembukan, Wonogiri, salah satu situs International Geopark Gunung Sewu
Foto: koleksi pribadi
Berbicara soal Wisata Bahari, jangan lupakan Karimun Jawa yang eksotis. Kepulauan Karimun Jawa terletak di Laut Jawa, termasuk dalam Kabupaten Jepara. Taman Nasional Karimun Jawa ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut. Meski harus menempuh perjalanan laut yang lumayan panjang, yakni 83 KM dari Pantai Jepara, kita akan disuguhi keindahan alam yang luar biasa. Kita bisa dengan leluasa melakukan berbagai olahraga air seperti berenang, snorkeling atau diving. Saat ini banyak biro perjalanan pariwisata membuat paket wisata ke Karimunjawa dengan biaya minimal sekitar satu setengah juta.

Wisata MICE

Anda adalah pengurus dari sebuah organisasi nasional? Jangan sungkan ajukan beberapa kota di Jawa Tengah, khususnya Solo dan Semarang sebagai tempat penyelenggarakan kegiatan organisasi Anda, seperti Munas atau Rakernas. Sebab, Solo dan Semarang memang memiliki daya dukung yang kuat sebagai kota MICE alias Meeting, Incentive, Convention, Exhibition. Kota Solo, merupakan kota pontensial MICE yang menduduki rangking 8 setelah Bali, Jakarta, Surabaya, Jogja, Makasar, Bandung, dan Medan. Selain Solo, Semarang juga merupakan andalan Jawa Tengah sebagai kota MICE. Indikator kota dikatakan potensial sebagai kota MICE antara lain aksesibilitas, dukungan stakeholder, ketersediaan tempat-tempat menarik, fasilitas akomodasi, fasilitas meeting, fasilitas pameran, citra destinasi, keadaan lingkungan dan profesionalitas sumber daya manusia.

Di Solo terdapat berbagai pergelaran internasional yang diakui eksistensinya, di antaranya SIPA (Solo International Perfoming Arts), Solo Batik Carnival, World Military Parachuting Championship (WMPC), Solo City Jazz dan sebagainya. Sedangkan di Semarang ada Jateng Fair dan Festival Kota Lama, di Magelang ada Pameran Warisan Dunia, di Pekalongan ada Pekan Batik Nusantara dan sebagainya.
Sumber Foto: http://sipafestival.com/


Wisata Alam

Wisata alam termasuk dalam objek wisata yang konvensional. Meski begitu, peminatnya masih sangat banyak. Jawa Tengah merupakan lokasi dengan aneka wisata alam yang memanjakan mata kita dengan panorama menawan, udara yang sejuk dan pelayanan yang ramah. Di Jawa Tengah bagian barat, ada Objek Wisata Baturaden di lereng Gunung Slamet, Telaga Ranjeng di Brebes, Guci di Tegal, Pemandian Owabong dan Gua Lawa di Purbalingga. Di bagian tengah, kita disuguhi keindahan Dieng Plateau yang terkenal dengan Golden Sunrise-nya yang terlihat dari Puncak Sikunir, Ketep Pass (dengan ciri khas wisata kegunungapian), Kopeng, Bandungan dan sebagainya. Sementara, ke arah timur, jangan lewatkan lereng Gunung Lawu yang eksotis. 
Berkuda di Bumi Perkemahan Sekipan, Tawangmangu
(Foto Koleksi Pribadi)
Kecamatan Tawangmangu dan Ngargoyoso di Karanganyar memiliki keindahan alam yang mempesona. Terlebih setelah dibangun jalan tembus Karanganyar-Magetan, akses transportasi menjadi kian lancar. Sekadar berkendaraan melalui jalan tembus tersebut dari Tawangmangu hingga Sarangan saja sudah merupakan keelokan, karena di kanan kiri jalan, kita akan disuguhi pemandangan alam yang membuat kita seakan tengah berada di negeri di atas awan. Jika lelah, kita bisa menepi, dan menikmati hidangan sate kelinci yang banyak dijual di tepi jalan di Cemoro Sewu.

Wisata alam lain yang terbilang unik dan memiliki nilai pendidikan yang tinggi terdapat di Grobogan, yaitu Bleduk Kuwu dan Sumber Api Mrapen. Bleduk Kuwu adalah sebuah kawah lumpur (mud volcano) yang secara periodik meletupkan lumpur-lumpur dengan kandungan garam yang tinggi. Sedangkan di Api Abadi Mrapen, terdapat fenomena geologi yang menarik, di mana terdapat api abadi yang tak pernah padam. Api itu berasal dari gas alam terus menerus keluar dari dalam bumi dan tersulut api. Api abadi dari Mrapen ini pernah menjadi api yang digunakan untuk menyalakan obor PON X/1989, PON XVI/1996, Pesta Olahraga Ganefo tahun 1963 dan berbagai kegiatan lain.

Wisata Budaya

Bicara Jateng, jangan lewatkan yang satu ini, wisata budaya (culture tourisme). Mengusung tag line: The Spirit of Java, kota Solo mencoba memposisikan diri sebagai "ibu kota" budaya Jawa. Pada kenyataannya, kota ini memang cukup aktif memposisikan diri sebagai "spirit of Java". Tak sekadar turis, kita pun bisa belajar budaya Jawa di jurusan Sastra Jawa UNS, atau jurusan Pedalangan, Tari, Karawitan, Etnomusikologi, dan Teater di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta.

Menurut informasi yang saya peroleh, jumlah penutur bahasa Jawa adalah 84,3 juta jiwa[1]. Hal ini menunjukkan kultur Jawa merupakan potensi wisata yang luar biasa besar. Di Solo dan Jawa Tengah pada umumnya, terdapat aneka budaya yang sangat menarik perhatian, misalnya pagelaran wayang kulit, ketoprak, seni membatik dan produknya, dugderan di Semarang, calung banyumasan, dan sebagainya, termasuk juga makanan tradisional yang beraneka ragam.

Makanan Tradisional Jawa (Foto Koleksi Pribadi)
Dengan sedemikian banyaknya destinasi wisata di Jateng, sepertinya Anda harus menjadikan Jateng sebagai lokasi yang tepat untuk rehat. Saya sendiri, sebagai orang Jateng, pernah berkomitmen bersama suami, “Pokoknya kalau Jateng belum selesai diubek-ubek, nggak usah keluar dulu deh.”

Beberapa keuanggulan berwisata di Jateng, selain pilihan objek wisata yang melimpah, harga-harganya murah, SDM profesional, masyarakatnya ramah, fasilitas akomodasi dan transportasi juga nyaman. Di Jateng ada dua bandara internasional, yaitu Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Internasional Adi Sumarmo Solo, juga dekat dengan Bandara Internasional Adi Sucipto, Yogyakarta. Dua jalur kereta api melewati Jateng, yaitu Pantura dan jalur selatan, dengan pilihan kereta api mulai kelas ekonomi hingga eksekutif. Jalur darat terbagi tiga, yaitu pantura, tengah, dan selatan, bahkan kini sudah proses finishing jalur pantai selatan yang menghubungkan Cilacap-Yogyakarta-Pacitan.

Sejuta pesona memancar dari Jawa Tengah, sebagaian berkelas internasional, baik sebagai World Heritage ataupun International Geopark. Bagaimana mungkin Anda tidak memburunya?



[1] http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1343

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

8 Sep 2016

Indonesia Berhutang Budi Pada Ulama #1


Saya kurang tahu, mengapa para penulis sejarah di negeri ini begitu “inferior” untuk memaparkan dengan jelas peran ulama dalam proses pendirian, pertahanan kemerdekaan, hingga bagaimana mereka menyumbang segalanya agar republik ini benar-benar tegak. Padahal, founding fathers negeri ini, di antaranya Bung Karno, memiliki quotes yang sangat terkenal: JAS MERAH, jangan pernah melupakan sejarah. Demikian juga, ketika Pak Harto berkuasa dahulu, beliau sering berpidato, bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Kenyataannya, ada banyak ceruk yang tersembunyi, yang jika kita sibak ternyata berisi fakta-fakta luar biasa. Maka, khasanah fakta itu bukan lagi sebuah ceruk, tetapi lautan, bahkan samudera.
Pertama, ceruk pendidikan. Mari kita sibak. Ada dua lintasan sejarah yang direkam sepanjang bulan Mei. Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Keduanya memiliki korelasi yang sangat kuat. Karena terdidik, sebuah bangsa bisa bangkit, mungkin begitu sederhananya.

Selalu ada latar belakang dari sebuah peristiwa. Namun, mengkritisi sebuah peristiwa demi terpahatnya perspektif yang lebih luas tentu bukan kesalahan.

Hadiknas dinisbatkan dari kelahiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, pelopor pendidikan dengan Taman Siswanya. Tanpa menanggalkan jasa beliau, sejatinya ada figur-figur lain dengan andil tak kalah agung dalam proses pendidikan negeri ini. Sebutlah KH Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani atau yang lebih dikenal sebagai KH Sholeh Darat. Dari murid-muridnya, kita bisa tahu kualitas beliau. Siapa saja murid beliau? Syaikh Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Bisri Syamsuri,  KH Idris, juga RA Kartini.


Murid-murid beliau  berhasil membangun pesantren dengan tradisi keilmiahan yang kuat. KH Hasyim Asy’ari, mendirikan Ponpes Tebu Ireng dan Nahdhatul Ulama. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang hingga kini telah memiliki puluhan ribu sekolah. KH Idris mendirikan Ponpes Jamsaren Solo. Sosok-sosok tersebut memiliki kiprah cemerlang dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan berbasis keagamaan.

Nahdhatul Ulama akhirnya menjadi ormas islam terbesar di Indonesia. Jumlah anggota ormas ini mencapai 85 juta, atau sekitar sepertiga rakyat negeri ini.  Ribuan pesantren, yang merupakan ciri khas sistem pendidikan ormas ini bertaburan di seluruh persada negeri ini. Saya mendapat informasi bahwa jumlah ponpes yang dimiliki ormas ini mencapai hampir 4.000 pesantren.

Muhammadiyah sendiri juga berkembang tak kalah pesat. Sebagai ormas terbesar kedua, Muhammadiyah memiliki lebih dari 10.000 sekolah. Perguruan tingginya, seperti UMS, UMM dan UMY bahkan termasuk perguruan tinggi swasta yang cukup bonafid dan bisa disejajarkan dengan PTN favorit lainnya.

Kalau demikian adanya, apakah salah jika saya menyebut bahwa peran ulama-ulama kita dalam pendidikan sebenarnya sangat dominan. Terlebih, sebelum bangsa ini merdeka, mereka malah sudah eksis dengan pendirian institusi-institusi pendidikan yang akhirnya melahirkan pemuda-pemuda dengan nasionalisme sangat tinggi, yang rela meregang nyawa saat berperang melawan penjajah.
Sekali lagi, saya tidak akan menafikan peran politik etis yang dengan sekolah-sekolah ala baratnya berhasil memunculkan tokoh-tokoh elit yang menduduki lingkar inti pergerakan bangsa ini. Tetapi, tanpa sumbangan para nasionalis sejati yang lahir dari pondok-pondok pesantren dan sekolah muhammadiyah, apakah negeri ini akan tegak hingga saat ini?

BERSAMBUNG

Sumber foto: www.inigresik.com

7 Sep 2016

Psikologi Pengantin, Buku Pernikahan yang Ilmiah dan Beda


Seakan ingin menguatkan eksistensinya sebagai USTADZAH CINTA, sekali lagi, Mbak Sinta Yudisia mengeluarkan buku dengan tema cinta. Apa? Ustadzah Cinta? Ops, ini sebenarnya panggilan privat (yang sangat mungkin menjadi panggilan publik, hehe). Ceritanya begini, dahulu, ketika baru menerbitkan buku "Kitab Cinta dan Patah Hati", saya dan kru penerbit Indiva Media Kreasi iseng-iseng mempelesetkan nama beliau, Sinta, menjadi Cinta, Mbak Cinta gitu, atau tepatnya: Ustadzah Cinta.

Setelah sebelum ini beliau juga menulis buku tentang cinta untuk remaja, "Cinta x Cinta = Cinta Kuadrat", kali ini yang beliau tulis adalah PSIKOLOGI PENGANTIN. Tema yang berat? Hmm, jika segala sesuatu yang penting kita anggap berat, apakah kita akan melewatkan hal-hal yang penting, termasuk hal yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari? (Ini pertanyaan retoris, nggak usah dijawab).

Sekilas memang berat, tetapi cara mbak Sinta menuangkan ilmu yang beliau miliki membuat buku ini nyaman dibaca, dan jika perlu diulang-ulang. Apa sih, yang beliau tulis sehingga perlu diulang-ulang? Coba resapi sinopsis yang terpampang di cover belakang buku ini.

Begitu banyak masalah seputar pernikahan.

Keuangan, karier, hubungan seksual, relasi dengan orang tua-mertua, anak-anak, juga program masa depan.

Buku ini mengupas masalah pernikahan berdasar penelitian psikologi dan sosial, serta jalan keluarnya dari segi agama dan dari sisi ilmiah. Permasalahan yang selama ini tabu dibicarakan seputar kehidupan seksual seperti honeymoon, visual sexual stimuli, online-offline infidelity, atau pasangan sexy; dibahas di buku ini. Apakah sesungguhnya permasalahan suami istri di 5 tahun pernikahan serta pada tahun-tahun selanjutnya? Benarkah money management adalah penyebab tertinggi pertengkaran? Apa yang harus dilakukan bila berselisih paham dengan pasangan? Dan oh, betapa menyedihkan bahwa hormon kortisol yang berfungsi sebagai euforia cinta hanya bertahan paling lama dua belas bulan

Ada temuan-temuan baru yang mengejutkan, bahwa pasangan suami istri –baik baru menikah ataupun lama- mengabaikan hal-hal penting yang sesungguhnya sangat krusial sekaligus sensitif untuk dibicarakan!

Begitu banyak masalah seputar pernikahan? Ya, sangat banyak. Sekitar 3 tahun terakhir ini, khususnya setelah menerbitkan seri buku Sayap Sakinah dan mengelola sayapsakinah.com, dan juga mengisi rubrik Harmoni Keluarga di radio MH FM Solo, biidznillah, saya cukup banyak berinteraksi dalam masalah ini. Mayoritas, kaum muda memasuki jenjang pernikahan dengan semangat tinggi, namun nyaris minim bekal pernikahan. Maka, ibarat seseorang yang memasuki rimba raya, mereka akan terkaget-kaget ketika melihat betapa medan yang mereka tempuh ternyata sangat jauh dari bayangan.

Keuangan, karier, hubungan seksual, relasi dengan orang tua-mertua, anak-anak, juga program masa depan.

Itu bagian dari segudang masalah. Banyak rumah tangga terancam bubar, karena secara finansial ada problem krusial. Demikian juga, permasalahan karier, terkadang malah jadi batu sandungan. Pun hubungan seksual, relasi dengan keluarga besar, anak-anak dan juga masa depan. Jika tidak diantisipasi, berbagai macam problematika itu berpotensi menjadi anak macan yang membesar dan suatu saat menerkam kita. Memporak-porandakan bangunan rumah tangga yang telah terbina.

Terkait dengan pembahasan soal seksologi, saya punya cerita sendiri soal buku ini. Saat buku ini masih berupa manuskrip dan dalam proses editing, mbak Sinta mengirim pesan via WA ke saya. "Mbak Afra (saya tidak tahu mengapa beliau memanggil saya 'mbak', padahal saya lebih muda dari beliau), apa yang mengedit naskah Psikologi Pengantin ini sudah menikah?"

"Belum mbak," jawab saya.
"Waduh. Buku saya ini ada beberapa hal yang blak-blakan, Mbak."
"No problem, mbak... mereka sudah 17 tahun ke atas," gurau saya.

Dan benar, dalam proses editing, Rida, sang editor memang beberapa kali berkonsultasi. "Ini masak begini, mbak... ini bagaimana mbak?" tanyanya, dengan muka memerah.

Vulgar? Begitu kesan yang terbaca dari buku ini? Tidak... ilmu memang butuh kejelasan. Begitu juga ilmu pernikahan. Termasuk di dalamnya soal... hmm... seks.

Permasalahan yang selama ini tabu dibicarakan seputar kehidupan seksual seperti honeymoon, visual sexual stimuli, online-offline infidelity, atau pasangan sexy; dibahas di buku ini.

Baiklah, saya jarang merekomendasikan buku, kecuali yang benar-benar saya acungi jempol. Maka, untuk Psikologi Pengantin ini, saya sempatkan menulis sedikit review di blog saya. Intinya, Mbak Sinta Yudisia telah menunjukkan kelasnya sebagai penulis nasional sekaligus psikolog di buku keren ini. Buku yang langsung cetak ulang meski belum ada sebulan edar.

Buku ini tidak hanya saya rekomendasikan untuk calon pengantin dan pengantin baru... tetapi juga pengantin lama. Ini buku pernikahan yang ilmiah dan BEDA. Silakan hunting buku ini di toko-toko buku terdekat, ya...

Judul Buku : Psikologi Pengantin
Penulis  : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
ISBN   : 978-602-1614-98-3
Harga   : Rp 40.000,-

5 Sep 2016

Pameran Buku Murah Solo 2016

Meski tak sebesar pameran-pameran buku di Jakarta, pameran buku di Solo termasuk event yang dinanti-nanti dengan antusias. Ada beberapa EO yang rajin menggelar pameran buku di kota Bengawan ini, di antaranya adalah Netral Organizer, dengan event rutinnya yang diberi tajuk: PAMERAN BUKU MURAH SOLO.

Kali ini, PAMERAN BUKU MURAH SOLO kembali hadir di Assalaam Hypermart (Eks Goro Assalaam), Jl. Ahmad Yani no. 308 Kartasura. Pameran berlangsung pada 2-11 September 2016. Penerbit INDIVA MEDIA KREASI merupakan salah satu penerbit yang aktif mengikuti pameran tersebut. Stand Indiva, cukup terlihat jelas, karena produk dan desainnya yang khas: cerah, segar dan bernuansa muda; cocok dengan segmen dari penerbit ini, yaitu anak-anak dan kalangan dewasa muda.

Meski lokasinya agak di luar Kota Solo, pameran di Assalaam Hypermart selalu dipadati pengunjung. Sebab, selain akses transportasinya sangat bagus, lokasi tersebut juga berdekatan dengan salah satu kampus terbesar di Jateng--bahkan Indonesia, UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), juga Ponpes Modern Assalaam.

Nyaman sekali berbelanja di lokasi pameran, sebab pameran memang menempati hall depan Assalaam Hypermart yang full AC. Sambil belanja kebutuhan keluarga, kita bisa borong buku. Dan jika lapar, foodcourt dengan aneka makanan yang lezat pun siap menanti. Harganya jelas terjangkau. Solo itu kota yang menyenangkan, kata teman saya. Sebab, fasilitas di kota ini fasilitas kota besar, tetapi harga-harga seperti di kota kecil--bahkan pedesaan.

Bagaimana dengan diskon pameran? Benar-benar dahsyat! Bukan sekadar buku-buku lama, yang memang didiskon sampai 70%. Novel-novel Tere Liye, Asma Nadia, Kang Abik dll, juga dapat diskon sangat lumayan. Apalagi buku-buku dari Indiva, wooow, pesta diskoooon!

Baiklah, masih ada kesempatan seminggu untuk berbelanja buku. Yuk, ajak teman-teman atau keluarga hang out di sana!


2 Sep 2016

Pemenang Kuis Spesial Agustus

Sumber foto: www.fanpop.com 
Dear Pembaca, alhamdulillah, setelah memilih 50 jawaban yang masuk dari Kuis Spesial Agustus, dan semua jawaban menarik (sampai rada pusing untuk menentukan pemenang), akhirnya saya memutuskan untuk memilih 5 nama ini sebagai pemenang:

Maria Ulfa
Dwitya Nadia Fatmawati
Sayekti Ardiyani
Hidayaty El Dina/eldinabonney
Nufa Zee/ Nurul Fauziah

Kok puteri semua? Ya kurang tahu, jangan-jangan yang minat dan tertarik dengan masalah perbukuan, kebanyakan memang kaum perempuan, hehe.

Atau, yang baca blog saya memang mayoritas kaum perempuan.

Ada beberapa hal yang saya catat dan menjadi bahan renungan bersama:
  1. Alih teknologi itu sebuah keniscayaan, termasuk di dalam dunia perbukuan. E-Book mungkin suatu saat akan mengganti buku cetak. Namun, buku cetak maupun e-book, sebenarnya hanya platform, jika minat baca sudah tinggi, platform seperti apapun tetap diminati.
  2. Buku fisik/cetak masih disukai, karena memang menimbulkan perasaan psikologis yang sulit untuk digantikan. Hanya saja, memang pasti harus ada pembaruan-pembaruan yang dilakukan penerbit agar buku cetak juga bisa pas dengan kehidupan masa kini yang dipenuhi teknologi tinggi.
  3. Hanya buku fisik/cetak dengan isi yang berkualitas tinggi yang akan terus diminati pembaca. Sehingga buku cetak akan "naik tingkat" dari shopping goods menjadi specialty goods, alias produk khusus dengan karakteristik unik. Sementara buku-buku dengan tema dan kualitas yang standard, umum, "biasa", tidak ada kekhasan dan kedalaman, mungkin akan lebih cocok dalam format e-book.
  4. Minat baca perlu dikembangkan sejak usia dini, jadi anak-anak perlu dilatih dan diperkenalkan dengan buku sejak kecil.
  5. Di setiap lapisan masyarakat perlu adanya dirangsang untuk terbiasa membaca. Baik di sekolah, di kantor, di lingkungan rumah, public space dan sebagainya. Maka, pengembangan minat baca bukan menjadi tugas individu belaka, tetapi harus menjadi gerakan massif yang melibatkan semua unsur masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lingkungan terdekat, hingga negara.
Selamat ya, kepada para pemenang.

Mohon alamat lengkap dan nomor HP diemail ke yenimulatiafra@gmail.com selambat-lambatnya sebulan setelah posting pengumuman ini.

Salam
Afra

31 Aug 2016

Jangan Jadi Suami “Ad-Dayyuts”

Sumber gambar: islamichub.net
Beberapa tahun silam, di dalam sebuah forum seminar, di mana saya ikut menjadi pembicara, saya termenung ketika salah seorang pembicara yang lain, seorang bapak dari Departemen Sosial memaparkan materinya. “Jangankan hanya sekadar membiarkan istrinya jadi pelacur, bahkan saya tahu persis, bahwa sebagian pelacur di kota ini malah dimanageri suaminya. Suaminya mengantar jemput istri yang telah “bekerja” menjual diri.”
Saya bergidik, jijik sekaligus hilang hormat hingga seakar-akarnya kepada para suami itu. Betulkah tumpukan rupiah telah menghilangkan rasa cemburu sampai-sampai dia bersikap semacam itu?

Rasa cemburu, terkadang dipandang negatif. Mungkin di antara pembaca sekalian ada yang merasa terbeban dengan sikap cemburu suami yang berlebihan? Ya, kalau lebay sih memang membuat kesal, ya… seolah-olah tak ada rasa saling percaya. Tetapi, sejatinya kecemburuan alias ghirah seorang suami kepada istri itu pilar penting dalam tegaknya sebuah rumah tangga, lho.

Suami yang tidak memiliki rasa cemburu kepada istrinya, oleh Rasulullah disebut sebagai “ad-dayyuts”, lawan dari ad-dayyuts adalah al-ghayur. Wahai para lelaki, Anda termasuk tipe ad-dayyuts atau al-ghayur?

Coba jawab beberapa pertanyaan ini, jika kebanyakan iya, mungkin Anda termasuk atau setidaknya punya potensi menjadi ad-dayyuts.

1.       Saya tak pernah atau jarang memikirkan bagaimana istri saya melakukan perjalanan pulang pergi ke kantor, pasar, mall, atau tempat-tempat lain.
2.       Saya tak pernah atau jarang mengecek apakah istri sudah pulang tepat waktu atau belum
3.       Saya merasa baik-baik saja melihat istri histeris saat bertemu aktor ganteng, atau memuji-mujinya
4.       Saya merasa no problem saat istri foto bareng dengan teman-teman cowoknya dengan gaya yang agak mesra
5.       Saya tidak pernah peduli dengan akun medsos istri, jarang stalking, dan malas ngecek HP istri
6.       Saya tidak keberatan istri pergi berdua saja dengan bos atau teman kerja cowoknya
7.       Saya tidak keberatan istri dibonceng lelaki lain

Well, mungkin Anda menganggap saya ini berlebihan, ya… Tetapi, ada sebuah hadist dari Rasulullah yang jleeeb banget dan wajib direnungi oleh para suami, Rasul bersabda, “Tiga orang yang Allah tidak melihat mereka pada hari kiamat, (yaitu) orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai lelaki dan ad-dayyûts [HR an-Nasâ`i, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah, 2/229].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya para sahabat, “…apa yang dimaksud ad-dayûts itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dia ialah (laki-laki) yang tidak memperdulikan siapa yang menemui istrinya”. [HR ath-Thabrani dan dishahîhkan Syaikh al-Albaani dalam Shahîh at-Targhib wat-Tarhib, no. 2071 (2/227)].

Ancaman berat kepada ad-dayyuts ini kemudian ditegaskan pada pengertian yang cukup jelas, “Ad-dayyûts, ialah yang membiarkan kemaksiatan dalam keluarganya”. [HR Ahmad dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jami’ ash-Shaghir, no. 5363]

Adapun menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan baginya masuk surga, sebab dia membiarkan perbuatan buruk terus terjadi dalam keluarganya, dan itu semua timbul karena hilangnya rasa cemburu (sifat ghirah) dalam hati pelakunya[1].

Sekali lagi, mari merenung, kaum lelaki. Misalnya Anda memiliki istri yang bekerja, sudahkah Anda cek bagaimana suasana kerja istri? Apakah banyak ikhtilat, alias campur baur dengan lelaki? Apakah istri Anda sering pergi berduaan dengan bosnya? Apakah istri ringan-ringan saja bercanda-canda mesra dengan lawan jenis? Jika anda cuek, minimal tidak muncul rasa gelisah dan cemburu, aduuuh jangan-jangan Anda punya potensi jadi ad-dayyuts.

Misalnya istri Anda biasa pulang jam empat sore, tetapi hingga jam enam belum pulang. Jika Anda tidak segera meneleponnya, menanyakan apa yang terjadi, dan jika perlu menawarkan bantuan, mungkin pula Anda punya potensi sebagai ad-dayyuts.

Terlebih, jika Anda nyaman-nyaman saja dengan ongkang-ongkang kaki di rumah, sementara istri sibuk membanting tulang, berinteraksi dengan sekian banyak lelaki, sementara Anda merasa no problem, alarm ad-dayyuts semakin berdering-dering di kuping Anda.

Ketika membaca otobiografi Umar At Tilmisani, Mursyid 'Am ketiga Ikhwanul Muslimin setelah Hasan Al Banna dan Hasan Al-Hudhaibi, saya sempat terbengong membaca narasi beliau. Syekh Tilmisani dengan lugas mengatakan bahwa dia adalah seorang lelaki yang sangat pencemburu. Saking cemburunya, dia tidak mau sinar matahari membelai kulit istrinya, sehingga dia selalu mengantar kemanapun istrinya dengan mobil. Beliau juga cemburu kepada suara para penyanyi pria, sehingga tak mengizinkan istrinya mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan para lelaki. Mantap, to! Bagaimana dengan para ibu sekarang yang suka berteriak-teriak histeris melihat aktor pria yang berwajah kece? Kaum suami wajar-wajar saja kok, merasa cemburu. Bahkan, jika suami membiarkan saja si istri mengoleksi poster lelaki tampan, saya khawatir lama-lama sensitivitas sang suami tergerus, dan akhirnya rasa cemburu terkikis.

Ayo, lelaki, jangan sampai menjadi ad-dayyuts, alias sosok yang tak peduli mau seperti apa sang istri. Mau jalan sama cowok lain, chatting berjam-jam dengan teman lelaki di medsos, hang out berdua, boncengan dengan non mahram, sibuk lembur sampai lupa waktu, dan berbagai aktivitas yang tak wajar yang semestinya Anda cut segera.

Ingat, Anda adalah qowwam, pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, lho. Ayo, segera ambil HP Anda dan segera telepon istri Anda, “Mama, kamu sedang apa? Hati-hati ya jaga diri, di sini Papa selalu berdoa untukmu. Kalau Mama butuh bantuan, segera telepon Papa ya…” 

Nah, ini baru suami teladan!

Yuk, Silaturahmi via Facebook!

Google+ Followers