Berbagi, cara kita memberi arti...

On 20:47 by Yeni Mulati Afifah Afra in    4 comments
Dear Pembaca, berikut ini adalah 18 pemenang esai "Afifah Afra dan Karyanya". Betapa menyenangkan, membaca tulisan-tulisan mereka, yang dengan begitu tulus memberikan berbagai pesan, kesan, kritik dan saran untuk perbaikan saya. Memiliki kalian, adalah hal yang indah dalam proses perjalanan saya sebagai penulis.

1. Tri Wahyuni
2. Arina Mabruroh
3. Yustiyani
4. Sri Hidayati Nur
5. Devi Novianawati
6. Siti Zulbaidah
7. SARTINI,S.Pd
8. Ratna Pratiwi
9. Een Nurhasanah
10. Khulatul mubarokah
11. Istri Utami
12. Yannah Akhras
13. Thomas Utomo
14. Mery Manaroinsong
15. Yurie Zhafiera
16. Dini Nurhayati
17. Arul Chandrana
18. Yun W Widhiatmi

Selamat ya, buat pemenang... terimakasih, telah membaca pembaca setia Afifah Afra. 
Mohon dikirim alamat dan no HP ke email afifahafra@yahoo.com ya smile emoticon
On 12:27 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    4 comments
Dear adik-adikku, di manapun kau berada....
Suatu hari, mungkin kau secara tidak sengaja bercermin di rumahmu. Kau terkejut melihat betapa kau telah berubah. Kau terlihat berbeda dengan sosokmu saat masih anak-anak. Kau terlihat tampan, gagah, dengan kumis tipis di atas bibir, serta suara yang semakin berat berwibawa. Dadamu bidang, kekar, kokoh, seakan telah sanggup memikul beban sebagai sang qowwam—pemimpin.

Kau, yang perempuan, terlihat cantik, anggun. Kulitmu semakin halus. Suaramu melembut manis. Bagian-bagian tubuhmu terlihat menonjol, menunjukkan bentuk yang indah.
Bagaimanakah perasaanmu melihat perubahan itu? Kaget? Terlebih, mendadak kalian merasakan sesuatu yang juga tak pernah terjadi sebelumnya? Kau mendambakan sesosok manusia yang dengannya harapan-harapan, fantasi-fantasi, mimpi-mimpi berlabuh? Kau… mulai jatuh cinta?

Jangan khawatir, cinta bukan sesuatu yang salah. Cinta itu fitrah. Seiring dengan kematangan organ-organ dan mulai berjalannya sistem reproduksi di tubuhmu, rasa tertarik terhadap lawan jenis pun mulai timbul. Kau akan merasakan detak jantungmu seperti terpacu lebih kencang saat bertemu dengannya. Dadamu berdebar, buncah oleh perasaan bahagia saat melihat kelebatan sosoknya. Aneh, perasaan rindu kepadanya, selalu berpadu dengan rasa malu yang sangat. Kau sering susah payah menyembunyikan perasaanmu itu, bukan hanya kepada orang lain, bahkan juga kepadanya. Uniknya, kau selalu saja sulit melupakan wajahnya.

Di langit-langit kamar, di layar ponselmu, di laptop, di lembaran buku, mendadak ada raut wajahnya. Kadang, tanganmu dengan gemetar meraih pena, dan menulis puisi cinta, atau menggambar wajahnya.

Ya, itulah rasa jatuh cinta. Tahukah kau, saat itu, bahwa saat cinta bertandang, terjadi perubahan komposisi hormon yang disekresi baik dari hipothalamus (bagian otak yang mengeluarkan hormon otak / neurohormon) maupun bagian tubuh kalian yang lain. Dopamin dan norepinephrin bertambah banyak, Phenylethylamine (PEA) dilepaskan dan Serotonin berkurang. Apa efek yang akan kau rasakan dengan perubahan komposisi hormone itu?

Kau akan mengidap euforia, tergila-gila, bahagia, memuja-muja, bergairah luar biasa, hiperaktif, overacting, excited (penuh semangat) serta obsesif. Ini adalah kondisi orang yang siap tempur melawan apapun yang menghalangi jalannya. Kalian siap melakukan apa saja untuk orang yang kamu cintai. Dalam sebuah syair lagu yang ngetop di tahun 90-an, “Karena cinta, lautan berapi, pasti akan kurenang jua.”

Tapi, adikku yang tampan dan cantik… ingat, di dalam ajaran agama manapun, kita diwajibkan untuk menjaga kehormatan diri. Terlebih, jika kamu beragama sama dengan saya, Islam. Di dalam Islam, tidak ada ekspresi cinta romantik atau asmara (dalam bahasa agama kita disebut mawaddah) antar dua orang berlawanan jenis yang halal tanpa ada pernyataan komitmen—berupa akad nikah.

Agama kita sangat menjaga kehormatan para lelaki dan perempuan, sehingga ekspresi cinta itu, harus berlangsung dengan sakral, tak seperti binatang yang dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, mengumbar syahwat secara bebas. Asmara harus sejalan dengan kehendak-Nya. Jauh sebelum Robert Stenberg mengeluarkan konsep segitiga cinta, bahwa cinta yang sempurna itu terdiri dari tiga unsur: passion (syahwat), intimacy (keakraban) dan ikatan commitment (tanggungjawab), Kanjeng Rasul sudah mengajarkan bahwa sepasang manusia harus mengarahkan khususnya syahwatnya, dengan ikatan yang sangat kuat: mitsaqon gholido.

Jadi, jika saat ini kau telah dewasa secara biologis, namun kamu belum mampu untuk berkomitmen membentuk keluarga, menafkahi, melayani suami, bereproduksi, mendidik anak, melindungi keluarga dan sebagainya… yang harus kamu lakukan adalah: menahan diri.
Niatkanlah untuk berpuasa. Ya, kau hendak berpuasa. Menjaga syahwat, sampai saatnya tiba, saat waktu berbuka. Saat puasa, godaan datang dari segala penjuru, tetapi karena kita ingat dengan niat kita, godaan itu akan mampu kita tepis.

Percayalah, menjaga kehormatan diri adalah sebuah jihad. Tahukah kau, satu dari tujuh golongan yang akan diselamatkan Allah di saat kiamat kelak, adalah seorang pemuda yang diajak berzina oleh seorang gadis jelita, namun dia menolaknya karena takut kepada Allah. Itupun berlaku sebaliknya jika kau seorang perempuan.

Ini hadisnya, adik-adikku sayang… coba cermati!

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah SWT pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya[Q1]. (1) Pemimpin yang adil; (2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Allah SWT; (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid; (4) Dua orang yang saling mencintai kerana Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah juga; (5) Seorang lelaki yang diajak berzina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi dia menolaknya sambil berkata ‘Aku takut kepada Allah’; (6) Seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; serta (7) Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga meleleh air matanya[Q2] basah kerana menangis.” (Sahih Bukhari, Hadis no. 620).
Apakah kau tak mau menjadi golongan yang mulia itu?

Ya dik… aku tahu, menjadi remaja di zaman ini, jauuuuh lebih berat godaannya, mungkin dibanding zaman saya saat masih remaja dahulu. Tetapi, aku yakin, kalian bisa! Bukankah semakin kuat tantangan, maka pahala yang didapatkannya akan semakin besar?
Ayo, dik, jaga dirimu! Aku akan sangat sedih jika mendengar berita-berita buruk terdengar tentang kamu. Aku ingin yang hadir padamu adalah kebaikan-kebaikan. Aku selalu berdoa untukmu.

Salam cinta
Kakakmu: Afifah Afra
On 15:22 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    No comments
Suatu hari, kacamata saya rusak, sehingga saya harus mendatangi salah satu optik langganan saya. Satu jam menunggu proses perbaikan, saya memilih duduk-duduk sembari memandangi koleksi kaca mata yang ada. Pada saat itu, seorang lelaki setengah baya datang, dan berbicara pada kasir optik. Kasir tersebut buru-buru membuka laci, menghitung segepok uang, dan disetorkan ke si bapak. Setelah bapak itu pergi, saya bertanya ke kasir, siapa bapak itu? Si bos, kata kasir. Owner dari optik tersebut.
“Jadi, bapak itu sendiri yang menarik uang hasil penjualan kacamata di optik-optiknya?” tanya saya, agak kaget. Si kasir mengangguk. Katanya, si bapak setiap hari akan berkeliling ke optic-optiknya, mengambil hasil penjualannya. Lumayan, pikir saya. Optik si bapak jumlahnya puluhan. Namun, diam-diam saya geleng-geleng kepala. Taruhlah jumlah optik milik si bapak ada 30, dan masing-masing punya 3 karyawan, berarti ada 90 karyawan. Dan, dia melakukan sendiri aktivitas yang sedemikian teknisnya. Efesienkah? Efektifkah?
* * *
Apa yang salah dari kasus tersebut? Nggak ada! Suka-suka si bapak, dong, mau memimpin usahanya dengan cara seperti apa. But, ingat ya… dalam  sebuah organisasi/perusahaan, kita mengenal apa yang disebut dengan 6M, yakni man, money, method, material, machine dan market. Akan tetapi, dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan, permasalahan yang dihadapi oleh manajemen bukan hanya terdapat pada bahan mentah, alat-alat kerja, mesin, uang dan lingkungan saja. Sumber Daya Manusia memegang peranan penting dalam mengendalikan aspek-aspek lainnya. Dan, makin besar sebuah perusahaan, makin banyak karyawan yang bekerja di dalamnya, sehingga permasalahan manusianya pun semakin banyak dan kompleks (Rivai & Sagala, 2013: 1). Karena itu, pengelolaan SDM sehingga bisa berfungsi secara produktif, efektif dan efisien sangatlah penting.
Dalam manajemen, SDM perlu digerakkan lewat sebuah organisasi. Akan tetapi, organisasi sendiri adalah sebuah alat atau wadah yang statis, sehingga perlu digerakkan dengan mekanisme pengorganisasian, yang oleh Hasibuan (2006: 118) didefinisikan sebagai “suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan berbagai macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.”
Kita mengenal berbagai tipe organisasi berdasarkan struktur organisasinya, antara lain:
1.       Organisasi Lini, yakni organisasi di mana manajer puncaknya dianggap sebagai sumber semua wewenang. Semua keputusan dan tanggung jawab berada pada satu tangan, dan tiap anggota hanya mengenal satu pimpinan langsung yang membawahinya (Saydam, 1993:92).
2.       Organisasi Staf, merupakan salah satu bentuk organisasi yang tidak mempunyai garis komando ke bawah. Para karyawan hanya berfungsi sebagai pemberi bantuan kepada  pimpinan puncak untuk kelancaran tugas. Organisasi bentuk staf merupakan organisasi sederhana. (Saydam, 1993:94).
3.       Organisasi Lini dan Staf, merupakan organisasi yang menggabungkan antara lini dan staf. Disebut organisasi garis dan staf disebabkan karena disamping adanya otoritas garis yang menjadi saluran perintah, ada juga otoritas staf. (Sukarna, 1992:70).
4.       Organisasi Fungsional, menurut Hardjito (2001:35) organisasi fungsional adalah suatu bentuk organisasi yang di dalamnya terdapat hubungan yang tidak terlalu menekankan kepada hierarki struktural, akan tetapi lebih banyak didasarkan pada sifat dan jenis pekerjaan yang akan dilakasanakan. Pada organisasi ini, menurut Hasibuan (2001: 156) pembagian kerja merupakan  masalah yang mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh, karena didasarkan pada spesialisasi masing-masing orang dalam organisasi.
5.       Organisasi Lini, Staf dan Fungsional. Organisasi memadukan tiga jenis organisasi sekaligus, yakni lini, staf dan fungsional. Hasibuan (1996:73) mengatakan bahwa gabungan dari ketiga jenis organisasi ini mengakibatkan struktur organisasi menjadi kompleks dan banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Selain susunan hirarki yang tegas, pembagian tugas yang baik dan bantuan staf sangat penting diterapkan dalam perusahaan tipe ini.

* * *
Dilihat dari tipe organisasi, menurut Anda, si bapak pemilik optik tersebut masuk dalam kategori apa? Pertama? Ya, mungkin lebih mirip ke organisasi lini, satu manajer membawahi semua aktivitas bawahan. Sangat flat. Tetapi, kalau menurut saya, sih, organisasi lini saja belum. Karena, si bapak masih mengerjakan tugas yang semestinya tak perlu dia kerjakan hehe. Mungkin, si bapak perlu belajar, bagaimana sih, sebuah organisasi berjalan.
Untuk mendeskripsikan bagaimana tugas, kewenangan, dan hubungan kerja dan kontrol terhadap orang di dalamnya dalam bertindak dan berkoordinasi untuk mencapai tujuan yang dinyatakan, biasanya organisasi digambarkan dalam sebuah chart yang disebut dengan Struktur Organisasi (Santoso, dkk., 2013: 23). Struktur organisasi merupakan sebuah konsep abstrak yang menunjukkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa yang melakukan tugas tugas yang telah ditentukan dan mekanisme koordinasi formal serta pola interaksi dalam organisasi.[1]
Pentingnya struktur organisasi yang berjalan dengan efektif dan efisien telah diterima luas di semua kalangan. Menurut Gibson dkk. (1997), sejarawan bisnis menyebut bahwa tahun 1980-an sebagai era reorganisasi. Untuk bisa menjadi bersaing secara efektif dalam pasar, perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat banyak melakukan reorganisasi.[2] Ini menunjukkan bahwa struktur organisasi yang berjalan secara efektif dan efisien, ternyata sangat berpengaruh terhadap kesuksesan sebuah organisasi. Karena, menurut Santoso dkk (2013: 24-25), sebuah organisasi dikatakan efektif biasanya diukur dari 3 indikator, yaitu kontrol, inovasi dan efisien dalam mencapai sasaran yang ditargetkan. 
Dalam sebuah struktur organisasi, kita mengenal tingkatan hirarki. Semakin “flat” sebuah hirarki berarti tingkatannya semakin sedikit, sementara, jika semakin banyak tingkatan, berarti hirarki itu semakin “tall”. Flat dan tall tentu sangat dipengaruhi oleh kebutuhan organisasi tersebut. Akan tetapi, menurut Santoso dkk (2013: 26-27), terdapat garis korelasi antara jumlah hirarki dengan jumlah tenaga kerja dalam sebuah perusahaan. Organisasi dengan skala 1.000 karyawan, jumlah hirarki tidak lebih dari 4 tingkat, yaitu CEO, manajer departemen, supervisor dan tenaga kerja operasional. Sedang untuk organisasi yang memiliki jumlah 3.000 pegawai, rata-rata memiliki 6-7 hirarki.
Tentu saja hirarki tak sekadar tingkatan jabatan, tetapi yang lebih penting lagi adalah pembagian tanggung jawab atau job. Menurut Santoso dkk (2013: 31-32), hirarki dan tanggungjawab yang lazim terjadi di sebuah organisasi bisnis adalah sebagai berikut:

Jabatan
Tanggungjawab
CEO
Keuntungan/kerugian sebuah bisnis (yang merupakan tujuan mendasar dari sebuah organisasi bisnis)
First Line Management
Strategi bisnis jangka panjang, aktif berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan perusahaan (penasihat CEO)
Top Management
Implementasi strategi fungsional
Middle Management
Distribusi aktivitas pekerjaan ke tingkat manajemen operasional
Supervisory
Sejenis junior managers yang bertanggungjawab melakukan pengawasan langsung kepada staf/tenaga kerja operasional
Badrudin (2013: 66), memberikan contoh salah satu pembagian tugas dalam perencanaan dalam tabel berikut ini:
Rencana
Jangka Waktu
Pembuat
Strategis
Panjang (> 5 tahun)
Manajemen puncak
Taktis
Menengah (1-5 tahun)
Manajemen puncak dan menengah
Operasional
Pendek (< 1 tahun)
Manajemen menengah dan bawah
Bagaimana dengan kasus bapak tadi? Dengan karyawan sejumlah 90 orang, menurut saya, si bapak perlu membagi minimal tiga level manajer. Pertama, top management, mungkin bisa beliau sendiri. Lalu ada level kedua, yang membawahi semua toko, dibagi minimal 4 fungsi: SDM, keuangan dan administrasi, pemasaran, dan operasional. Lalu, ada first line, yaitu supervisor masing-masing optik. Satu optik, ada satu supervisor yang melakukan aspek manajerial, minimal pengontrolan karyawan.






[1] Gibson, dkk. (hal. 18)

[2] Ibid (hal. 105)
On 20:58 by Yeni Mulati Afifah Afra in , , , ,    No comments
Waktu kepulangan masih beberapa jam lagi, tetapi Leo sudah gelisah setengah mati. Tempat kerja sudah sangat membosankan. Sesekali dia melirik supervisornya. Begitu sang supervisor terlihat keluar kantor dan mengendarai mobilnya entah kemana, Leo merasa sangat lega. Beban yang besar pun seperti hilang dari pundaknya. Dengan leluasa Leo membuka Youtube, menonton dengan asyik sebuah konser musik dari Boyband kesukaannya. Sampai waktu pulang tiba, tanpa merasa berdosa, Leo mengemasi peralatannya, mematikan komputer dan melakukan absen dengan menempelkan jarinya ke mesin finger scan.

Lain Leo, lain Sam. Dia tampak begitu bergairah dalam menyelesaikan pekerjaannya. Meski dia datang lebih awal satu jam dari karyawan lainnya, dan selalu pulang paling akhir, dia merasa tetap betah di kantor. Dia sangat menikmati pekerjaannya, sehingga selalu minta agar targetnya dinaikkan. Pekerjaan yang biasa dilakukan karyawan biasa dalam 8 jam, dengan sangat efesien dan efektif, bisa dikerjakan Sam hanya dalam waktu tak sampai separuhnya. Dia sangat konsentrasi dan menguasai bidangnya.

Jika kita melihat keseharian tempat kerja kita, tentu kita melihat orang-orang tipe Leo dan tipe Sam. Dalam Ilmu Manajemen SDM, kedua tipe tersebut disebut Tipe X dan Tipe Y. Teori ini dikeluarkan oleh Douglas Mc. Gregor. 

Leo adalah ilustrasi manusia dengan Tipe X. Mereka adalah manusia yang menganggap kerja sebagai beban. Ada bos dia kerja (dengan cemberut), tak ada bos dia kabur atau main game online atau asyik Facebook-an. Bekerja hanya jika ada perintah. Maunya kerja seenak-enaknya, gaji dan fasilitas sebesar-besarnya. Model motivasi dan pendekatan untuk Tipe X adalah: tekanan, kekuatan, mungkin juga punnishment. Manusia Tipe X sangat cocok dengan pendekatan leadership yang cenderung otoriter. Arahan, perintah, dan pengawasan harus terus-menerus. Jangan sampai alpa.

Manusia Tipe Y diilustrasikan dalam kasus Sam. Ya, manusia tipe ini sangat sadar dengan tugasnya, pekerjaannya, kewajibannya. Dan karena itu, tanpa disuruh, tanpa diawasi, tanpa dioprak-oprak, dia akan bekerja dengan baik. Model motivasi untuk dia adalah perhatian, penguatan dan jelas... reward.

Manusia Tipe Y sangat cocok dengan pendekatan leadership demokratis partisipatif. Jangan tekan mereka dengan gaya otoriter, karena potensi mereka justru akan terkubur. Jika Anda bos, atau atasan, jangan ajak karyawan dari Tipe X untuk duduk bersama memikirkan strategi, apalagi visi dan misi perusahaan. Mereka cukup diberi SOP yang ketat, kontrol yang kuat, dan tentu saja ketegasan. Tetapi, Anda tak akan rugi mengajak karyawan-karyawan Tipe Y untuk berbicara tentang konsep, strategi, bahkan grand design perusahaan. Suatu saat, karyawan-karyawan Tipe Y ini akan jadi anggota tim inti dengan kedudukan di top, middle atau minimal first-level management. Mereka adalah teman ngopi Anda yang bermanfaat.

Mengapa ada Tipe X dan Tipe Y. Bisa karena karakter asli (alias bawaan), pekerjaan yang sesuai/tidak sesuai passion, leadership yang kurang, ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan sebagainya. Lingkungan dan pola asuh yang tidak tepat, juga bisa membuat orang cenderung menjadi Tipe X.

Lepas dari itu, mari belajar untuk menjadi Manusia Tipe Y. Tanamkan dalam benak kita bahwa bekerja adalah sebuah ibadah. Sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan saja oleh bos, tetapi yang lebih penting lagi adalah oleh Allah SWT.

Nah, Anda termasuk tipe Y atau X?
On 12:35 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments
Sebuah Puisi Afifah Afra

Di negeri pencitraan
Septictank tak lagi jadi tempat kotoran
Dekomposer tak dibiarkan menguraikan
Karena konon...
para Predator telah temukan cara
Membuat si kotoran berdaya guna

Kau ingin tahu?
Semoga kau tak jijik jika kuceritakan
Kotoran itu dikemas
Disimpan di dalam kulkas
Dengan pendingin berkelas
Kadang, kotoran itu diberi formalin
Sehingga awetnya terjamin

Suatu saat dibutuhkan
Kotoran akan dikeluarkan
Dijadikannya senjata
Menghantam musuh-musuhnya

Di negeri ini
Jika kau temukan kotoran
Tak usah susah payah membersihkan
Tak perlu repot-repot menyingkirkan
Cukup kau bungkus dan kau jual
Pada mereka
Kau akan kaya raya

Solo-25-01-2015
On 10:17 by Yeni Mulati Afifah Afra in    1 comment
* Sebuah Puisi Refleksi Diri
Oleh Afifah Afra



Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk sampaikan nasihat
Jadi, jangan berani-berani kau seru umat
Mungkin mereka akan kuliti tubuhmu
Menemukan hingga sel terkecil kesalahanmu
Untuk mereka siarkan sembari tertawa-tawa
Setiap kesalahan yang ditemukan
Responnya seperti ibu-ibu kurang kerjaan
Yang berhasil menemukan seekor kutu
Di lebatnya rambutmu

Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk jadi presiden
Jadi, jangan pernah berbuat kesalahan
Orang akan mengutukmu sepertinya kau setan comberan
Yang diturunkan untuk mengobrak-abrik negeri ini
Secabik-cabiknya

Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk masuk partai politik
Kau bahkan harus terbang melayang di atas lantai
Supaya kakimu tak tergelincir, tak terpeleset di jebakan licin
Karena, sekali kau jatuh terempas
Tak ada ampun bagimu!
Kau akan ditelanjangi di televisi-televisi
Semua jemari, akan tertuju kepadamu!
Tubuhmu akan berlumur kotoran dan kenistaan

Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk perjuangkan kebaikan
Sebab, kesalahan adalah benda haram
Yang dianggap lebih berbahaya dari bom atom
Satu sel kesalahan, akan berbiak jadi gunung kehinaan
Selama kamu masih manusia
Yang kata nabi adalah makhluk berbalut khilaf dan alpa
Jangan bercita-cita perjuangkan satu hal mulia
Sebab, ketika kau tunjukkan satu kebaikan
Sejuta manusia akan giat mencari-cari keburukan

Di negeri ini, manusia hanya ingin dibimbing malaikat
Padahal, usai penciptaannya, malaikat bersujud kepada manusia
Dan Tuhan memilih manusia, untuk mendapat tugas suci
Sebagai pengelola di muka bumi
Mungkin, di negeri ini, banyak orang merasa lebih tahu
Ketimbang Tuhan

--Puisi ini saya tulis sebagai dukungan dan bukti ukhuwah terhadap Ustadz Felix Siauw dan siapa saja para penegak kebenaran yang di-bully tanpa ampun di media sosial. Mari bermedia sosial dengan santun dan penuh tanggung jawab. Sesungguhnya, setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak--

On 08:27 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    6 comments
Tulisan ini merupakan bagian kedua dari dua tulisan. Untuk lebih jelasnya, silakan baca Membangun Konflik Dalam Novel #1

KONFLIK DAN “GUNUNG PLOT”

Di bagian pertama, kita telah mengibaratkan Plot sebagai gunung, yang pada dasarnya disusun atas konflik. Berawal dari pengenalan tokoh, timbulnya masalah, mulai adanya konflik, klimaks, antiklimaks dan ending. Pengembangan konflik mirip balon yang selalu ditiup hingga kapasitas maksimum, lalu diledakkan. Jika kita tidak mampu membuat balon itu membesar sempurna, ledakan yang terjadi tentu kurang meyakinkan.
Dalam cerpen, yang plotnya tunggal, saya biasa menggunakan 3 kejadian konflik dengan dosis yang selalu meningkat. Misal, kisah seorang gadis desa yang merantau ke Jakarta. Kejadian pertama, dia merasakan berlari-larian mengejar bus kota dan berdesak-desakkan. Kejadian kedua, dosisnya naik, yakni dia dicopet saat gajian pertama. Kejadian ketiga, lebih parah lagi, kebanjiran sehingga pulang dalam keadaan basah kuyup, lalu ditolong seorang bapak tua hingga dengan sangat susah payah berhasil mendapatkan tempat yang aman. Antiklimaks saya tutup dengan ending bahwa bapak tua yang dia anggap sangat kebapakan dan baik hati itu, ternyata mengajak dia ngamar di hotel dengan mengedipkan mata sebelah, dan si gadis pun terpontang-panting berlari meninggalkan si bapak.
Dalam novel, karena karakternya banyak, konfliknya tentu lebih komplek. Sehingga kejadian demi kejadian bisa jadi membentuk plot yang majemuk. Tetapi, saya biasa membagi menjadi plot utama dan plot cabang. Tetapi, novel yang baik, adalah novel yang ada ketersambungan antara konflik cabang dengan konflik utama.
Adegan di film Paddington, salah satu film yang sukses menyedot perhatian saya dari awal hingga akhir
Saya contohkan lagi di plot film Paddington. Plot utama adalah si beruang Paddington yang meninggalkan rimba peru setelah pemukimannya hancur luluh terkena gempa. Paddington ingin mencari Tuan Montgomery Clyde, penjelajah yang pernah tinggal bersama mereka dan mengatakan, bahwa mereka akan disambut dengan hangat di kota London. Paddington datang ke London, namun ternyata terlantar dan ditampung oleh keluarga Brown yang baik hati, orang-orangnya aneh namun baik hati. Dibantu keluarga Brown, mereka berhasil menemukan keluarga Clyde. Namun, Tuan Montgomery Clyde sudah meninggal, yang ada justru anaknya, Millicent yang sangat bernafsu mengawetkan Paddington sebagai bukti bahwa ayahnya pernah menjelajahi Rimba Peru.
Selain konflik utama yang membangun plot utama, juga ada konflik-konflik cabang seperti saat Paddington sedang kelaparan, lalu memakan roti yang selalu dia simpan di bawah topinya. Saat itu, muncul seekor burung. Paddington memberinya secuil roti. Namun kemudian muncul ratusan burung serupa, sementara roti Paddington hanya sepotong. Ternyata, konflik cabang ini tidak “menganggur”, tetapi dikaitkan untuk menguatkan konflik utama. Yaitu, saat Paddington sedang dalam kesulitan karena hendak dibunuh Millicent, mendadak muncul ratusan burung-burung itu. Paddington pun melemparkan sepotong roti yang selalu dia simpan di bawah topi ke arah Millicent dan ratusan burung itu pun menyerang Millicent.
Saya harus jujur mengatakan, bahwa Maryamah Karpov, adalah novel terjelek dari tetralogi Laskar Pelangi. Penyebabnya, konflik-konflik di sana dibiarkan saling bertebaran tanpa terkait satu sama lain menyokong pohon plot yang kokoh.

BAGAIMANA MENCIPTAKAN KONFLIK YANG BAGUS?

Karena inti dari konflik adalah interaksi karakter, maka cara untuk membuat konflik yang bagus adalah dengan mengeksplorasi karakter si tokoh. Lalu, setelah memberi karakter, benturkan satu sama lain, dan carilah potensi permasalahan apa yang muncul. Untuk membuat solusi dari permasalahan tersebut, kita bisa memperdalam teori-teori karakter atau kepribadian. Kita mengenal berbagai teori kepribadian, misalnya Psikoanalisa Freud (banyak novel-novel bagus ternyata penganut aliran ini L). Ada juga Trait Theories, Behaviourisme atau juga Transpersonal. Tentu kita tak perlu jadi psikolog untuk bisa memahami teori-teori ini. Karena, kata Sastrawan yang juga Psikolog, Darmanto Jatman, sastra itu lebih psikologi daripada psikologi.
Cukup penting juga untuk membangun ketegangan demi ketegangan dalam dosis yang semakin meningkat. Dalam teknik penulisan novel, ini disebut sebagai suspense. Di Wikipedia disebutkan bahwa SUSPENSE adalah menyaran pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang menimpa tokoh yang diberi rasa simpati oleh pembaca. Sehingga, mendorong, menggelitik, dan memotivasi pembaca utuk setia mengikuti cerita hingga akhir. Teknik yang lazim dipakai untuk membangun SUSPENSE adalah foreshadowing. Teknik foreshadowing adalah teknik menampilkan peristiwa-peristiwa masa depan pada saat ini secara tidak langsung. Foreshadowing semacam pertanda bahwa di masa depan akan terjadi peristiwa-peristiwa besar yang akan dialami tokoh novel.

Deux ex Machine

Dalam mengembangkan dan menyelesaikan konflik, hindarilah deux ex machine (Tuhan keluar dari mesin). Ini adalah istilah yang merujuk pada teater Yunani Kuno dimana setelah penonton dijejali dengan konflik yang rumit, ternyata di akhirnya ujug-ujug para tokoh Dewa seperti Apollo turun dan menyelesaikan konflik begitu saja dengan karakter dewanya. Ini mirip dengan novel berkonflik panjang, berlika-liku, tetapi penyelesainnya gampang sekali: si antagonis tertabrak mobil dan mati. Atau, sedang tegang-tegangnya konflik berlangsung, ternyata semua hanya mimpi. Jadi, semua hanya mimpi?


On 08:18 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    No comments
Tanpa konflik, tak ada plot. Tanpa plot, tak ada cerita. Tak ada cerita, tak ada novel. Rangkaian kalimat ini tak bisa dianalogikan dengan sesuatu, semisal garam. Tak ada garam tak ada sayur. Tak ada sayur tak ada makanan. Tak ada makanan tak ada sarapan.
Konflik lebih dari sekadar garam. Meski orang tak bisa menikmati makanan tanpa garam, tetaplah semangkok sayur itu disebut sebagai makanan. Sementara, tanpa konflik, setumpuk kertas berjilid tak akan bisa disebut sebagai sebuah novel. Cukup jelas, ya! Tak ada ulangan.

Ya, without conflict, there is no plot! (Kok diulangi? :-D). The plot mountain is created around the conflict. Diawali dari perkenalan tokoh-tokoh, lalu munculnya permasalahan, klimaks, antiklimaks dan ending.

Penulis novel memang "tukang bikin gara-gara". Jika di kehidupan sosial, konflik itu dihindari, dalam menyusun sebuah novel, konflik malah dibutuhkan. Pada dasarnya, menyusun sebuah novel, adalah pekerjaan mencari konflik, mengembangkan konflik dan mengakhiri konflik. Eh, jangan ditambah kalimat: "Awas, penulis novel dilarang masuk area politik!" Sama sekali tidak perlu. Karena, sudah banyak yang lebih jago membuat konflik di sana #ehh...

TOKOH
Konflik muncul sebagai sebuah konsekuensi adanya tokoh. Masih ingatkah rumus plot ala Josip Novacovich, bahwa Plot adalah Tokoh ditambah Setting? PLOT = TOKOH + SETTING.
Josip Novacovich

Dalam menyusun sebuah cerita, tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh diberi ‘nyawa’ sehingga memiliki “LIFELIKENESS” alias “KESEPERTIHIDUPAN.” Tokoh juga diberi karakter sebagaimana manusia, dengan tiga dimensi karakter, meliputi fisiologis, sosiologis, dan psikologis
Si Rangga lelaki tampan, berambut ikal, bertubuh langsing, bermata cokelat dengan tatapan tajam setajam silet, berdarah campuran Spanyol-Eskimo-Madura-Somalia… ini adalah dimensi fisiologis. Banyak penulis dengan sangat pintar dan teliti menggambarkan dimensi fisiologis ini sampai-sampai tatanan sel-sel kulit arinya pun dengan jeli dipaparkan.
Sosiologis berkaitan dengan status dalam kemasyarakatan. Misal, Rangga lulusan teknik kimia ITB yang kabur ke Amerika dan dengan keberuntungan segede gunung berhasil tembus Harvard University. Lulus cum laude dan mendapatkan pekerjaan sebagai stuntmant di Hollywood. Lalu karena nasib sedang mujur, dia berhasil mendapat peran lumayan dan selanjutnya laris mendapatkan peran figuran.

Dimensi psikologis tak kalah penting. Bahkan seringkali, pengembangan karakter dalam dimensi ini cukup membangun greget tersendiri dibanding dengan dua dimensi yang lain. Mentalitas, moralitas, tingkat kecerdasan, kejiwaan dan sebagainya, jika dieksplor dengan unik, bisa menghasilkan konflik yang ‘elegan.’ Penjahat Millicent Clyde (diperankan dengan ciamik oleh Nicole Kidman), dalam film Paddington, mampu meraup simpati setelah karakter kejiwaannya dikuliti. Millicent sangat sedih karena ayahnya, Montgomery Clyde tidak diakui  sebagai Explorer yang berhasil menembus rimba Peru hanya karena tidak membawa spesies khas sebagai bukti. Clyde Senior menolak membunuh beruang-beruang yang cerdas dan “berbudaya”. Millicent pun berjanji akan membuktikan bahwa ayahnya adalah Explorer sejati sekelas Colombus atau Charles Darwin. Maka, ketika bertemu Beruang Paddington, Millicent sangat bernafsu menangkap Paddington untuk diawetkan.

Di tangan novelis yang pintar mengembangkan dimensi psikologis, pembaca bisa “jatuh cinta” dengan penjahat, dan sebaliknya bahkan sebal setengah mati kepada tokoh protagonisnya. Karena itu, seorang penulis novel sejatinya sangat berbahaya, karena bisa "menginfiltrasi" pemikiran seseorang tanpa seseorang itu tahu bahwa dia sedang diinfiltrasi. Catatan penting pakai stabilo merah, nih ya... penulis novel kudu benar-benar menjadikan ketrampilan ini untuk kebaikan... misal ajakan untuk berbuat baik, memberikan pencerahan, dan bukan sebaliknya.

INTERAKSI TOKOH
Sebagaimana dalam sebuah masyarakat, dimana orang-orang yang ada saling berinteraksi, di dalam novel pun begitu. Rangga bertemu Ranggi, jatuh cinta para Rengganis, tetapi ditentang Roni dan didukung Rino.

Karena kita sudah memberi karakter kepada tokoh-tokoh tersebut, maka terjadilah konflik yang bersumber pada karakter yang berlawanan. Kita mengenal berbagai jenis konflik, misalnya:
  1. Human vs Human: karakter satu dengan karakter lain, antagonis melawan protagonist, “good guy” vs “bad guy.” Ini konflik yang paling lazim.
  2. Humaan vs Nature: misal, melawan bencana, kehidupan yang sulit, binatang buas dll.
  3. Human vs Society: misal, melawan adat-istiadat, lingkungan masyarakat, dll.
  4. Internal Conflict: Man vs Self
Ada juga konflik-konflik yang ‘tak lazim’, misal seperti manusia melawan mesin,  manusia melawan robot, manusia melawan kuman, bahkan juga manusia melawan kata-kata yang ditulisnya. 

BERSAMBUNG
Ke bagian dua Membangun Konflik Dalam Novel #2