Berbagi tak akan membuat kita kehilangan arti. Berbagi, untuk kebahagiaan hakiki...

On 08:25 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    2 comments
Pagi ini, sembari mencecap kopi susu yang harumnya menggelitik rongga olfaktori (ehm, saya tidak merokok... juga tidak bertatto ^_^, tapi insya Allah rajin bekerja dan tak korupsi—malah nombok sana-sini hihi), saya teringat pada sebuah hadist yang sudah lama dikaji, tapi terasa begitu relevan akhir-akhir ini.

Hadist tentang benci dan cinta. Pasti teman-teman juga sudah hapal di luar kepala. “Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.” (H.R. Tirmidzi dan dishahihkan oleh syaikh Al Albani).


Kekasih, berarti seseorang (atau sesuatu) yang dicintai. Tabiat dari manusia memang ekstrim. Kecenderungannya bisa ke kanan, atau ke kiri. Dalam bahasa agama, kita mengenal istilah ifrath (lebay, berlebihan), atau tafrith (abai, mengingkari). Ya, berlebih-lebihan atau mengabaikan selalu menjadi pilihan yang sama-sama menyesatkan. 

Terkadang, pilihan itu dipicu oleh kondisi. Misal, nih… saat kita sedang puasa, hari pun panas luar biasa, maka ketika waktu berbuka tiba, dengan ‘bernafsu’ kita pasti akan memilih menenggak segelas air es. Padahal, air hangat lebih bagus untuk tubuh kita. Kebalikannya, ketika kita sedang sangat kedinginan. Yang terbetik di benak kita adalah sesuatu yang panas. Saya lahir dan besar di daerah pegunungan. Saat SMP, saya suka main-main ke rumah teman saya yang lebih tinggi lagi posisi rumahnya di banding rumah saya. Menyeruput teh panas dari air yang baru mendidih, terasa begitu nikmatnya. Pulang-pulang, saya merasakan bibir dan mulut saya ‘jontor’ karena melepuh.

Nah! Seperti itu juga dalam masalah cinta dan benci. Ada yang saking cintanya, lalu memuja, menabikan, bahkan menuhankan. Itu terjadi karena saat kita mencintai seseorang (sesuatu), kita akan cenderung terbuai oleh kelebihan-kelebihannya. Sedangkan jika kita benci, maka kita akan cenderung terfokus pada kekurangan-kekurangan dan mengingkari segala kebaikan yang dimiliki sosok yang kita benci. Kita akan menggunakan segala cara untuk mengekspresikan kebencian kita.

Masalahnya, cinta dan benci itu tak menetap permanen di labirin hati. Apalagi, cinta dan benci kepada manusia. Pada prinsipnya, semua orang diciptakan dengan positif dan negatif. Jika kita terus-menerus mempelototi kebaikannya, lama-lama kebaikan itu akan habis, dan akhirnya dia akan melihat keburukannya. Demikian pula, jika kita terus-menerus menguliti keburukannya, lama-lama keburukan itu akan sirna, dan tinggallah kita yang tertegun-tegun karena yang kita lihat selanjutnya adalah kebaikan-kebaikan.

Kalau sudah begitu, malu, kan? 

Karena itu, Rasulullah menekankan kata SEWAJARNYA. Ya, sewajarnya saja saat kita berinteraksi dengan manusia. Jangan ‘gumunan’, jangan kagetan, jangan terlalu lugu, jangan terlalu apriori… dan seterusnya, lanjutin sendiri ya.

Karena itu pula, dalam masalah hak dan kewajiban, kita tidak boleh menjadikan benci dan cinta sebagai ukuran. Allah SWT, dalam Al-Quran berfirman, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap satu kaum, mendorong untuk kamu berbuat tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Al-Maidah: 8).

Salah satu cara berbuat adil, khususnya dalam masalah pemberitaan (termasuk citizen journalism lewat status-status kita di medsos), adalah cover both sides. Sudahkah kita berimbang dalam membuat opini? Janganlah ‘kecintaan’ kepada Prabowo membuat kita memeti-es-kan semua kebaikan Jokowi. Janganlah ‘kecintaan’ kepada Jokowi membuat semua kebaikan Prabowo seakan uap yang hilang tanpa bekas. Prabowo dan Jokowi sama-sama makhluk Tuhan dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Yah, jadi... begitulah. Mari kita nikmati kehidupan dengan sewajarnya. Seruput kopi lagi....
On 10:14 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    16 comments
Ketika saya membuka-buka statistika blog saya, lumayan kagetlah saya, karena ternyata saya sudah mulai ngeblog sejak bulan Mei 2006. Kaget karena terhitung dari 27 Oktober 2014, yakni saat tulisan ini dibuat, berarti sudah 8 tahun lebih saya jadi blogger. Eh, sebenarnya tidak juga. Sebelum membuat www.afifahafra.blogspot.com yang kemudian saya ubah menjadi custom domain www.afifahafra.net, sebenarnya saya juga sudah punya blog-blog lain, termasuk multiply yang kini sudah gugur di medan juang. Malahan, awal-awal nge-blog dulu, saya lebih aktif memoles Multiply saya. Jadi, kalau mau ditotal, mungkin sudah lebih dari 10 tahun saya ngeblog.

Apa tujuan saya ngeblog? Jujur, saya termasuk blogger yang ‘kurang gaul.’ Jadi, ada info apa tentang per-blog-an, saya sering tidak terlalu ngerti. Ketika beberapa rekan blogger memposting status soal job review, hiruk-pikuk fee dan sebagainya, saya hanya melongo. Malah saya baru ngerti, jika mesin blog kita ternyata bisa menghasilkan uang.

Tetapi, saya merasa tak perlu terlibat terlalu jauh. Semua orang punya alasan. Ada yang ngeblog karena alasan ini, ada yang alasan itu. Ada yang alasannya logis, ada yang bikin kening berkerut. Tetapi, buat apa saya menghabiskan waktu untuk berdebat. Hehe. Ketimbang berlarut-larut dalam kontroversi, saya memilih untuk menanyakan ke benak saya sendiri, “Buat apa sih, kamu ngeblog?” Karena basik saya adalah penulis, tentu saya memilih ngeblog sebagai sarana memosting tulisan-tulisan saya. Kadang, ada beberapa tulisan saya yang menurut beberapa teman yang berprofesi sebagai redaktur sebenarnya layak muat di media cetak, tetapi saya lebih memilih untuk saya posting di blog. Kenapa? Alasannya simple. Di blog, lebih cepat dan ‘pasti’ dimuat. Lha, redaksinya kan saya sendiri, hehe.

Toh tujuan saya nulis memang untuk menyebarkan pemikiran saya. Di blog saya, tulisan-tulisan saya ternyata dibaca oleh ribuan orang. Ya, saya ngeblog bukan karena blog itu sendiri. Tetapi karena blog adalah sarana saya beraktualisasi diri. Jari-jari saya ini akan kaku jika tidak digerakkan untuk menulis. Otak saya juga akan beku jika tidak menulis. Maka, jauh sebelum mengenal blog, saya sudah aktif menulis melalui media apapun. Kertas, bungkus makanan, bahkan juga daun pisang. Saya juga menulis di mading sekolah, majalah kampus, Facebook—dan apapun, yang penting bisa jadi sarana publikasi, meski sama sekali tak ada honor. Ketika satu per satu cerpen saya dimuat di media nasional saat saya remaja, saya juga tak lantas ‘matre’ sehingga harus selalu melepas tulisan saya dengan imbalan uang, meski cerpen saya pada tahun 1994 sudah laku Rp 70.000 (eh, tapi nggak semua tulisan saya laku hehe).

Menulis, bagi saya adalah kebebasan berekspresi. Saya akan menulis lewat media apapun. Dan karena setelah saya timbang-timbang blog ternyata punya banyak kelebihan, saya memutuskan untuk terus merawat blog saya. Paling tidak, seminggu sekali, blog harus saya update. Saya tak mau berpusing ria jika ternyata blog saya di-copas di sana-sini. Alhamdulillah jika menyebutkan sumber. Tidak menyebutkan pun, saya punya histori di blog sebagai senjata jika suatu saat saya menuntut si “copaser” itu di meja hijau. Tak tanggung-tanggung, saya sudah pernah berguru langsung dengan Bapak Agung Damarsasongko, Kasie Pertimbangan Hukum &Litigasi Ditjen HAKI, lho. Jadi udah tahu jurus ‘menghajar’ para plagiator. Haduuuh, galak nian!

Tenang, Sobat… sejauh ini, saya memilih untuk senyum-senyum saja, tatkala mencoba browsing di search engine dan mendapatkan kenyataan pahit bahwa tulisan saya dicopas mentah-mentah. Sesuatu yang pahit, tinggal dikasih gula dan susu, jadilah kopi susu yang lezat, iya kan?

Nah, kembali ke bahasan di atas, ya … segala sesuatu pasti ada alasan. Mengapa ada yang terkesan ‘mengomersialkan’ blog, pasti ada alasan. Dan sepanjang itu halal, why not? Kecuali yang di-review adalah produk-produk yang dilarang agama, big no-lah untuk yang seperti itu. Hanya saja, perlu dicatat oleh teman-teman Blogger, bahwa mengapa banyak para pebisnis melirik Blogger? Ya, karena Blogger dinilai ‘independen’. Mereka mencoba menggunakan teknik promosi Word of Mouth (WOM) atau yang dalam istilah awam disebut promosi dari mulut ke mulut. WOM sedang jadi primadona di kalangan marketer, lho. WOM digandrungi karena berbiaya kecil, dan dinilai efektif. Mengapa begitu? Ya, WOM dinilai sebagai opini yang jujur dan apa adanya. Jika yang membuat opini adalah perusahaan, lewat pernyataan-pernyataan resminya, jelas para konsumen tak akan langsung percaya. Semua penjual kecap pasti akan menilai bahwa kecapnya nomor satu!

Menyadari hal itu. perusahaan-perusahaan pun mencoba ‘merekayasa’ WOM ini dengan menggandeng para Blogger. Salahkah itu? Tidak! Saya sendiri, sebagai salah satu pelaku bisnis, juga menggunakan teknik WOM. Tetapi… tetapi nih… awas, Blogger harus waspada! Jika Blogger terjebak pada ‘rekayasa’ si perusahaan, kemudian bersikap tidak jujur dalam membuat opini, ya yang nantinya akan tereduksi adalah ‘kesaktian opini dari WOM’ itu sendiri. Lama-lama, konsumen yang cerdas juga akan tahu, “Lah, review si A mana bisa independen, kan doski dibayar.” Dst.

Saya sendiri, sebagai pelaku bisnis, memilih untuk jujur dalam mempromosikan produk-produk kami. Karena itu, kami malah lebih respek kepada seseorang yang mereview dengan apa adanya. Baik dibilang baik, buruk yang silakan kritik. Justru dengan cara itu, para pebisnis akan berupaya terus menerus melakukan perbaikan pada produk-produknya.

Silakan komersialkan Blog, tapi tetap jaga independensi dan kejujuran dalam beropini! Selamat Hari Blogger Nasional!
On 23:01 by Yeni Mulati Afifah Afra in    2 comments
Bersama suami saat beliau diambil sumpahnya sebagai dokter
Saat saya menuliskan catatan ini, kalender menunjukkan angka 24 Oktober. Jujur ya, sebelum suami saya memposting status di akun media sosialnya, saya tidak tahu bahwa 24 Oktober adalah Hari Dokter Indonesia. Biarin dibilang kudet, hehe. Nyatanya memang baru tahu, kok. Nah, karena mencari tahu detil-detil segala sesuatu adalah hobi saya sejak kecil, maka saya pun segera mengklik Google. Mungkin kata kuncinya keliru. Saya tulis Sejarah Hari Dokter Nasional, ternyata tak ada satu pun postingan yang bisa ‘menjawab’ dengan jelas. Saya sempat ‘mencurigai’ bahwa keyword ini kurang populer karena para insan medis mungkin tidak hobi ngeblog. Ternyata, lagi-lagi saya yang salah memasukan keyword. Buktinya, setelah keyword saya ganti dengan Hari Dokter Indonesia, saya bertemu dengan beberapa posting yang lumayan menjawab permasalahan.

Ternyata nih, pada tanggal tersebut, Dr. R. Soeharto atas nama Pengurus IDI menghadap notaries R. Kadiman guna mencatatkan pembentukan IDI yang disepakati berdasarkan Muktamar Dokter Warga Negara Indonesia yang diadakan tanggal 23-29 September 1950 di Deca Park, Jakarta. Selanjutnya setiap tanggal 24 Oktober ditetapkan sebagai hari ulang tahun Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Saya berpikir, semoga suatu saat, 22 Februari, yang merupakan hari lahir Forum Lingkar Pena diperingati sebagai Hari Penulis Indonesia.

Sepertinya, saya memang perlu diguyur dengan secangkir kopi (weleh-weleh!). Wong 35 tahun menghirup udara di bumi ini, ternyata saya malah baru tahu bahwa para dokter memiliki hari khusus. Padahal, napas kedokteran telah sebelas tahun membersamai hidup saya, khususnya setelah mendapatkan kekasih hati seseorang yang berprofesi dokter (ceile). Sebagai ‘tebusan’ rasa bersalah, maka tertulislah postingan ini.

Bagaimana rasanya menjadi istri dokter? Hm, apa ya? Yang jelas, karena menjadi istri dokter, saya akhirnya dipanggil sebagai Bu Dokter. Seorang penulis yang juga berprofesi sebagai dokter, Mbak Tunjungsari, pernah membuat tebak-tebakan kepada saya: “Apa beda saya dengan mbak Afra?” Tanpa menunggu saya menjawab, Bu Dokter (beneran) Tunjungsari sudah menjawab, “Kalau saya jadi dokter karena ijazah, kalau Mbak Afra jadi dokter karena ijabsah (maksudnya ijab/menikah dengan sah).” Yak, seratus!

Karena berstatus sebagai ‘Bu Dokter (Ijabsah)’, orang yang tidak paham suka mengira saya bisa mengobati orang sakit. Pernah suatu saat ada anak kecil datang ke rumah dengan berlumuran darah karena jatuh saat bermain bola. Saya bilang, suami sedang tidak ada, tetapi ibu si anak memaksa dengan air mata berlinangan. Akhirnya, saya pun membersihkan luka si anak, memberi betadin, lalu membalutnya dengan kain kasa. Pulang ke rumah, suami saya sempat marah, karena saya bisa-bisa melanggar undang-undang praktik kedokteran. Dengan hati dag-dig-dug saya pun mencoba menjawab, “Lho, ini kan pertolongan pertama pada kecelakaan, Mas! Gini-gini saya kan eks PMR dan Pramuka.” Alhamdulillah, jawaban saya diterima dengan lapang dada.

Tetapi, lama-lama akhirnya saya jadi hapal juga, kalau sakit kepala obatnya apa. Anti nyeri obatnya apa. Diare, sakit gigi, sakit hati… ops! Tapi saya tahu, tak semudah itu memberikan obat kepada orang sakit. Butuh keahlian dan pengetahuan khusus.

* * *
Bagaimana rasanya menjadi istri dokter? Sepertinya, mungkin rada gengsi ya? Itu penilaian orang. Tetapi, yang saya rasakan justru tuntutan untuk siap berkorban. Saya masih teringat ketika terjadi peristiwa tsunami di Aceh di akhir tahun 2004. Saya masih tercenung menatap kehancuran besar-besaran yang terjadi di bumi Serambi Mekah sambil menggendong anak pertama saya, Anis, yang saat itu baru berusia 40 hari di layar televisi. Air mata tak henti-henti mengalir menyaksikan betapa dahsyat bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh saat itu. Mendadak, sebuah panggilan telepon berbunyi. Suami saya segera mengangkat telepon selulernya, bercakap-cakap sejenak. Setelah panggilan berakhir, Mas Ahmad menatapku sejenak, dan berkata. “Ummi, nanti sore Abi berangkat ke Aceh.”

Beliau menyebut kata “Aceh” dengan begitu enteng, seakan-akan Aceh itu hanya beberapa kilometer dari Solo. Saya terkejut. Suami saya pun melanjutkan. “Jam empat rombongan akan berangkat.”

Tanpa banyak bicara, Mas Ahmad pun berkemas. Waktu yang singkat, sekitar 2-3 jam dia gunakan untuk menyiapkan segala sesuatu. Baju, alat-alat kesehatan, obat-obatan dan sebagainya dia packing dalam sebuah ransel besar. Jam empat tepat, beliau pun pergi meninggalkan rumah kontrakan kami saat itu. Saya sendirian di rumah tersebut, bersama seorang bayi yang baru berumur 40 hari. Saat itu kami tak punya pembantu, keluarga pun jauh, ada di luar kota.

Ya, menjadi istri seorang dokter, apalagi dokter tipikal relawan seperti suami saya, tentu harus disertai kesiapan mental. Tak hanya saat Aceh. Ketika gempa bumi di Yogya, sekitar 1 bulan beliau bolak-balik Solo-Klaten-Yogya. Saat itu, beliau memang menjadi penanggungjawab sebuah klinik yang dikelola oleh Bulan Sabit Merah Indonesia. Beliau jarang sekali di rumah. Kalaupun di rumah, paling hanya sejam dua jam untuk menyetor pakaian kotor dan mengambil pakaian bersih. Lantas, ketika musibah demi musibah terjadi di bumi pertiwi ini, saya pun harus merelakan suami melakukan tugas-tugasnya.

Kesiapan yang lain, sepertinya kecil saja, tetapi jika tidak dipahami dengan baik, akan jadi masalah juga. Misalnya, jatah libur yang minim. Beberapa kali suami saya mendapat jadwal jaga di rumah sakit pada hari raya Idul Fitri. Kalaupun dapat jadwal liburan, paling banter hanya tiga hari.

Jadi, apa asyiknya menjadi istri dokter? Banyak! Saya merasa harus lebih banyak mengalah kepada kepentingan orang banyak. Saya sangat menyadari, menjadi dokter adalah sebuah pengabdian. Termasuk digedor orang jam 2 malam, padahal jelas-jelas di papan nama tercantum jam praktek, itu juga bagian dari pelayanan. Kalaupun saya tidak terlibat dalam proses pengabdian tersebut, mengikhlaskan suami ‘direbut’ umat, saya kira juga bagian dari sebuah perjuangan bukan?

Baiklah, untuk suami saya tercinta, serta para sahabat dokter sedunia, Selamat Hari Dokter Indonesia! Semoga Allah memberkahi kalian semua. Amiin.
On 13:58 by Yeni Mulati Afifah Afra in    7 comments
Penayangan Serial Mahabharata di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu terakhir ini, disambut gegap-gempita oleh masyarakat Indonesia. Meski saya hampir tidak pernah nonton televisi, melihat status teman-teman saya di socmed yang sering sekali membicarakan serial ini, saya menyimpulkan bahwa demam Mahabharata sedang melanda bangsa kita. 

O, ya… Soal matinya televisi di rumah kami itu karena saya, suami dan anak-anak membuat kesepakatan bahwa TV hanya boleh menyala hari libur saja. Dan mungkin karena aktivitas kami semua di hari aktif sangat padat, liburan seringkali lebih dimanfaatkan untuk refreshing dengan melakukan aktivitas-aktivitas hobi ketimbang menekuri televisi. Anak saya yang pertama, Anis, sangat keranjingan membaca. Waktu luang bagi dia adalah saatnya melahap buku-buku kesayangannya. Sementara, Rama, anak kedua, sangat suka menggambar dan mendesain dengan komputer. Meski baru 8 tahun, Rama lumayan mahir menggunakan corel draw dan photoshop. Sedangkan si bungsu, belum terlalu terlihat kecenderungannya. Tetapi nimbrung dengan si kakak, atau terkadang main-main dengan puzzle, lego dan hotwheel, jauh lebih disukai daripada nonton televisi. Kadang, mereka juga nonton tivi atau video, tapi acaranya paling hanya film-film kartun sejenis Boboy Boy atau Upin-Ipin. 

Kembali ke Mahabharata, ya … jadi intinya, sekarang Mahabharata sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia. Khususnya ibu-ibu dan remaja putri. Alasannya … hm, oke deh, ada yang bilang kisahnya filosofis sekali. Banyak kebaikan yang bisa diambil. Tetapi, kayaknya banyak juga yang beralasan bahwa pemeran serial ini rata-rata good looking, bahkan untuk yang memerankan karakter antagonis. 

Maraknya serial ini, seperti biasa memicu kontroversi. Ya, apa sih, di Indonesia yang tak memicu kontroversi. Catet deh, mulai dari soal ASI vs Non ASI, ibu rumah tangga vs ibu karir, imunisasi vs non imunisasi, sampai capres ini vs capres itu, penentuan awal Ramadhan dan sebagainya. Bagi yang anti Mahabharata, tayangan ini dinilai banyak mengandung ajaran-ajaran paganisme, penyembahan dewa-dewi—yang bertentangan dengan aqidah keislaman, juga kontroversi poliandri yang dilakukan oleh Drupadi, tokoh sentral dari kisah ini. Sementara, bagi yang pro, mereka menganggap bahwa Mahabharata banyak sekali memberikan ajaran-ajaran yang baik. 

Sebagai orang Jawa, Mahabharata bukan sesuatu yang asing buat saya. Kakak saya ada yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit purwa. Ayah saya juga budayawan. Jadi, tanpa harus ikut menekuri serial itu di televisa, saya sudah sangat akrab dan bahkan hapal dengan kisah-kisah dalam Mahabharata, ataupun Ramayana. Hanya saja, Mahabharata yang saya kenal tentu versi Jawa. Saya ingat, bahwa pertunjukan wayang kulit adalah sesuatu yang sangat digemari di masyarakat saya dahulu. Zaman saya kecil dahulu, setiap ada orang menikah, biasanya akan menanggap wayang kulit semalam suntuk. Dalang-dalang yang kondang pada saat itu antara lain Dalang Sugino, Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono dan sebagainya. Ayah saya mengoleksi kaset-kaset rekaman dalang-dalang ini, kebanyakan produk Lokananta. 

Wayang kulit, yang mengisahkan lakon-lakon Mahabharata, adalah sesuatu yang sangat jamak dan menyatu dalam kultur masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini. Mungkin, faktor inilah yang sebenarnya membuat tayangan Mahabharata sangat booming, selain faktor-faktor yang saya sebut di atas. 

Wayang Kulit dan Penyebaran Islam 

Jika kita membaca sejarah, wayang kulit purwa (wayang yang mengambil kisah Mahabharata dan Ramayana), sebenarnya sudah dikenal dan marak di masyarakat Jawa sejak abad ke-10, yakni zaman Kahuripan, Kediri hingga Majapahit. Dominasi Hindu-Budha yang sangat kuat, memicu kreativitas para penyebar ajaran Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa, antara lain Walisongo. Salah satu teroboson kreatif yang dilakukan adalah menyebarkan ajaran Islam lewat wayang kulit. 

Tetapi, Mahabharata yang dimainkan dalam wayang kulit tersebut tentu saja disesuaikan dengan konsep Islam. Mulai dari pemilihan wayang kulit yang abstrak, sebenarnya didasari dari ajaran Islam, yang mana mayoritas ulama melarang aliran realisme dalam seni—seperti pembuatan arca-arca, patung dan bahkan juga penggambaran makhluk hidup. Bentuk abstrak yang dipilih merupakan keputusan cerdas, karena akhirnya wayang kulit bisa diterima oleh para ulama. 

Beberapa penyesuaian lain juga dilakukan oleh Walisongo. Drupadi, yang dalam Mahabharata versi India dikisahkan menjadi istri pandawa lima, dalam Mahabharata versi Jawa, dikisahkan hanya menjadi istri Puntadewa (Yudhistira). Ajian sakti milik Puntadewa, yakni Jamus Kalimasada, berasal dari kalimat syahadat. Di Mahabharata versi Walisongo, Siwa, Wisnu, Brahma juga hanya dewa-dewa biasa. Bahkan juga ada karakter Semar, yang dikisahkan menjelma jadi punakawan (pelawak), namun sesungguhnya dia lebih sakti dari Siwa. Sementara, peribadahan tertinggi ada pada Sang Hyang Wenang, yang tak lain adalah Allah yang Maha Tunggal. 

Luar biasa gebrakan Walisongo ini. Walisongo tahu, bahwa mengubah masyarakat tidak bisa begitu saja. Harus menggunakan pendekatan budaya. Alih-alih mendapat simpati, pendekatan konfrontatif pastinya hanya akan memicu penentangan. Karena itu, mereka mencoba menyusupkan pemahaman keislaman kepada kisah yang sangat dekat dengan masyarakat. Mereka menggunakan pendekatan yang soft, tidak frontal. Dan nyatanya, metode penyebaran Islam menggunakan wayang kulit purwa ini, terbukti sangat efektif. Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan cepat berkembang pesat dan mengalahkan Majapahit. Masyarakat pun berbondong-bondong masuk Islam. Meskipun banyak yang mengatakan islamnya sekadar islam abangan, bagi saya, jasa Walisongo sungguh luar biasa besar. Tinggal bagaimana kita saat ini berupaya meneruskan perjuangan Walisongo.

Jadi, bagaimana menyikapi Mahabharata? Saya yakin, Mahabharata menjadi booming, salah satunya tentunya karena kisah ini memang dekat dengan masyarakat Indonesia. Mengapa dekat? Karena sejarah yang sangat panjang itu. Maka, ketimbang kita mencela masyarakat yang menonton Mahabharata, mengapa kita tidak menempuh apa yang dilakukan Walisongo saja? Kita sisipkan pendekatan yang soft kepada masyarakat kita. Misal, dalam sebuah pengajian, ada seorang Ustadz yang untuk menarik simpati masyarakat, menggunakan kisah Mahabharata sebagai pintu masuk. Namun, kritik-kritik lembut dia sisipkan, sehingga akhirnya jamaah pengajiannya pun tahu apa-apa di dalam Mahabharata yang berbahaya. 

Adapun jika keluarga kita adalah keluarga muslim yang baik, saya anjurkan sebaiknya tidak menjadikan tayangan ini sebagai alternatif hiburan. Masih banyak hiburan-hiburan lain yang lebih lezat bergizi, kan? Misalnya, nulis novel setebal 1000 halaman. Ops! 

Keterangan: gambar dilihat di sini
On 11:07 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    2 comments
Alhamdulillah, buku perdana seri Sayap Sakinah, yang judulnya mirip dengan nama serinya, yakni "Sayap-Sayap Sakinah", mendapat respon positif dari pembaca. Saya tadinya agak heran, bukankah buku-buku pernikahan sudah begitu banyak, dan sebagian ada yang sangat booming? Tetapi, akhirnya saya bisa memahami, bahwa pernikahan adalah sesuatu yang memang akan dilakoni mayoritas dari kita. Selain itu, perspektif lain yang kami (saya dan Riawani Elyta) lambarkan di buku ini, ternyata terbaca juga oleh pembaca. Terbukti, beberapa testimoni bermunculan. Misal, ada yang mention akun Twitter saya, bahwa buku "Sayap-Sayap Sakinah" ini sangat perempuan. :-) ... banyak juga yang bilang, bahwa buku ini memang beda. Apa bedanya? Baca aja sendiri, hehe....

Cover buku "Sayap-Sayap Sakinah"

Nah, singkat kata, saat ini kami sedang mempersiapkan dua buku sekuelnya, yakni "Sayap-Sayap Mawaddah" dan "Sayap-Sayap Rohmah." Rencananya, dalam buku-buku Seri Sayap Sakinah, kami akan banyak melibatkan penulis luar untuk ikut meramaikan. Karena itu, di dalam buku "Sayap-Sayap Mawaddah", kami lewat Sayap Sakinah Center, mengundang 5 penulis tamu untuk ikut bergabung, dengan menyumbang bagian sisipan "True Story". Biar seru, maka kami adakan lomba ini.

Ikutan, yuk!

LOMBA MENULIS KISAH SEJATI
“MIRACLE OF LOVE IN MARRIAGE”

Mungkin Anda mengalami sendiri, atau pernah memotret sebuah pengalaman indah dari orang-orang di sekitarmu tentang indahnya sebuah kisah sejati yang melukiskan keajaiban cinta dalam sebuah pernikahan. Keajaiban yang melibatkan dua pelaku, suami dan istri, yang telah bertekad hidup bersama dalam ikatan yang diridhai-Nya.
Mari bagi kisah tersebut dalam lomba ini!

PERSYARATAN
1. Lomba terbuka untuk umum, baik yang sudah menikah maupun yang masih lajang (namun telah memasuki usia pernikahan/baligh)
2. Kisah harus inspiratif, penuh hikmah, based of true story, ditulis dengan gaya narasi/bercerita, diizinkan penambahan imajinasi secukupnya
3. Panjang naskah 4-7 halaman kertas A4, font 12, Time New Roman, margin normal
4. Naskah dilampiri dengan:
  • a. Biodata lengkap, nomor rekening, dan nomor telepon/HP yang aktif
  • b. Link upload foto diri bersama buku “Sayap-Sayap Sakinah” disertai dengan kutipan isi buku (boleh di Twitter, Facebook, Blog dsb.)
5. Naskah dikirim via email ke sayapsakinah@gmail.com
6. Wajib me-LIKE fanpage www.facebook.com/sayapsakinahcenter dan mem-follow akun twitter www.twitter.com/sayapsakinah
7. Batas akhir pengiriman naskah 15 Desember 2014
8. Pengumuman pemenang 1 Januari 2015 di web www.sayapsakinah.com
9. Naskah pemenang menjadi milik panitia dan akan dimuat di buku “Sayap-Sayap Mawaddah” yang ditulis oleh Afifah Afra dan Riawani Elyta

HADIAH
Juara 1 : Uang Tunai Rp 750.000,- + Piagam + Paket Buku Indiva
Juara 2 : Uang Tunai Rp 600.000,- + Piagam + Paket Buku Indiva
Juara 3 : Uang Tunai Rp 400.000,- + Piagam + Paket Buku Indiva

Dua Pemenang Harapan, masing-masing uang tunai Rp 250.000 + Piagam + Paket Buku Indiva

JURI
Afifah Afra
Riawani Elyta
On 11:24 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments

*Untuk A.S.*

Anda cinta adalah suara
Aku ingin menjadi pepohonan
Pantulkan gaungmu,
Dan kembali padamu
Lebih merdu

Andai cinta adalah cahaya
Aku ingin menjadi cermin
Pancarkan kembali
Bayang dirimu
Lebih cemerlang

Duhai, andai cinta adalah api
Aku ingin menjadi kayu
Kau bakar habis
Jadilah abu*)
Suburkan ladang kita

Kasihku
Andai cinta adalah ombak
Aku ingin menjadi karang
Percikkan kembali sapuanmu
Jadi kembang pelangi

Andai cinta adalah bebatang padi
Aku ingin menjelma sabit
Membabatnya kala panen tiba
Lalu menjadilah butiran nutrisi

Andai cinta adalah tanah tegalan
Akulah cangkul
Memecah kerasnya
Jadi hamparan gembur

Andai cinta adalah selembar kertas putih
Aku ingin menjadi tinta
Sekilas mengotorinya
Tetapi karenanya dia menjad ada

Andai cinta adalah bongkahan cadas
Aku ingin menjadi palu
Membelah batu-batu
Jadi bahan baku istanamu

Andai cinta adalah kamu
Ingin benar ku menjelma cabe pedas
Berada dalam sambal kesukaanmu
Agar kamu semangat selalu

Solo, 17-10-2014

*) kalimat tersebut terinspirasi puisi Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin Mencintaimu”
On 14:13 by Yeni Mulati Afifah Afra in    1 comment
Tema kecerdasan majemuk sebenarnya sudah sangat sering kita dengar, ya… saya sendiri sampai bosan, karena setiap saya membaca buku parenting dengan tema kecerdasan, hampir semua membahas tipe kecerdasan ini. Tetapi, ternyata masih ada sebagian orang tua yang berpikir kolot. Orang tua zaman sekarang, lagi! Saya mikir, ini orang tua baca buku, nggak sih? Kok masih ngotot bahwa kecerdasan itu ya Matematika, Fisika, atau Bahasa Inggris.
Eh, tapi jangan salah, ya… kadang, para orang tua yang sudah paham rumusan kecerdasan majemuk, juga masih terjebak pada pemikiran konservatif zaman Eyang Buyut kita. Ya, memang teori itu relatif lebih mudah diomongkan dan dihapal ketimbang diaplikasikan, ya… Makanya, saya sering prihatin kepada para orang tua yang masih saja berpikiran bahwa anaknya itu bodoh. Pas-pasan. Tak punya potensi.
Hello, Papa, Mama! Stop berpikiran demikian. Setiap anak, sesungguhnya terlahir jenius. Mereka manusia unggul. Proses penciptaan manusia sendiri melibatkan sebuah proses kompetisi yang luar biasa sengit. Bayangkan, jutaan sperma ‘berlomba’ memperebutkan satu sel telur (ovum). Jika Anda seorang dokter yang merasa bangga, karena berhasil menyisihkan ribuan pesain Anda saat ujian masuk perguruan tinggi, satu sperma excellent yang berhasil membuahi satu sel telur, jauuuh lebih hebat dari seorang dokter. Dan, jika akhirnya sperma dan ovum itu bersatu menjadi zygot, lalu zygot itu berkembang jadi janin, dan janin itu lahir jadi bayi, lantas, mengapa saat bayi itu sudah berbentuk seorang anak, Anda hinakan dengan makian: bodoh!
Well, tak ada anak bodoh. Yang ada adalah orang tua yang tidak peka dengan potensia anak. Apa saja tipe-tipe kecerdasan itu? Howard Gardner telah merumuskan 8 tipe kecerdasan sebagai berikut:
1.      Kecerdasan mengolah kata (word smart). Para penulis, penerjemah, diplomat, pengacara, pakar bahasa atau para pekerja di bidang public relation, wajib memiliki kecerdasan di bidang ini.
2.      Kecerdasan mempersepsi apa yang kita lihat (picture smart). Contoh bidang ilmu yang membutuhkan kecerdasan tipe ini adalah teknik arsitektur, desain komunikasi visual, para ahli tata kota dan sebagainya.
3.      Kecerdasan dalam hal musik (music smart). Anda pasti memahami, bahwa Bethoven, Mozart, sampai Mariah Carey bisa demikian mendunia… ya, itu semua berkat kecerdasan musical yang mereka miliki.
4.      Keterampilan dalam olah tubuh dan gerak (body smart). Menjadi olahragawan sekelas Roger Federer atau Maria Sharapova, atau menjadi penari handal tentu membutuhkan kecerdasan tipe ini.
5.      Kecerdasan dalam sains dan matematika (logic smart). Anda kenal Profesor Yohanes Surya? Pembina para peserta olimpiade Fisika ini bisa sedemikian hebat karena mampu mengoptimalkan kecerdasan logical yang ia miliki.
6.      Kecerdasan dalam memahami pemikiran dan perasaan orang lain (people smart). Para pemimpin besar, psikolog, manajer SDM yang handal, ataupun trainer kepribadian, jelas membutuhkan kecerdasan tipe ini.
7.      Kecerdasan dalam mengenali diri sendiri (self smart). Kecerdasan ini mutlak diperlukan agar kita bisa membuat langkah-langkah tepat, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita bisa menjadi diri sendiri, tak hidup dalam bayang-bayang orang lain. Profesi apapun, tampaknya membutuhkan kecerdasan tipe ini.
8.      Kecerdasan dalam mengamati alam (nature smart). Pernah menyaksikan film-film documenter tentang kehidupan satwa liar di rimba-rimba Afrika? Film-film yang menawan itu, tak akan mampu tercipta tanpa adanya sosok-sosok dengan kecerdasan natural seperti tersebut di atas. Menjadi seorang petani yang sukses, peternak atau pengusaha perikanan juga membutuhkan kecerdasan natural yang lebih dari orang kebanyakan.

Baru-baru ini, Gardner menambahkan tipe kecerdasan dengan satu jenis kecerdasan lagi, yaitu kecerdasan eksistensi, yakni kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Mengapa aku ada, untuk apa aku diciptakan, dan sebagainya.
So, jika kita merasa bodoh dalam bidang matematika atau bahasa, mungkin sebenarnya, kita memiliki kelebihan di bidang lain. Bahkan seorang anak yang mengalami kerusakan otak pun—menurut Thomas Armstrong dalam bukunya, ‘Setiap Anak Cerdas’—jika dididik dengan tepat sesuai potensi yang masih ia miliki, bisa saja menghasilkan prestasi yang spektakuler.
Masih menuduh anak kita bodoh? Jangan-jangan, kita sendiri yang ‘kurang ilmu’.


On 11:01 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    1 comment
sumber: www.nnnews.org 
Hmm, bahasan blog ini kok jadi serius, ya… jangan manyun gitu, dong! Kan hidup ini memang kompleks, jadi membutuhkan keseriusan. Kalau memang nggak paham dalam satu baca, ya baca lagi, baca lagi, baca lagi. Diulang-ulang. Gitu, ya, Cyiiin (ini khusus panggilan untuk para pembaca yang emak-emak, hehe).

Di bahasan Memaksimalkan Pertumbuhan Otak di Periode Golden Age Bagian 1, kita sudah mendiskusikan soal nutrisi dan apa pentingnya bagi proses pertumbuhan otak si bebi. Nutrisi ini ternyata tak hanya dibutuhkan saat hamil lho, tetapi jauh-jauh hari kita harus sudah mentradisikan mengasup nutrisi yang sehat. Bahkan, persiapan itu sudah sejak lajang, lho. Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh pernah bercerita, bahwa beliau mempersiapkan diri untuk memiliki generasi andal sejak beliau SMP, lho! Maka, beliau sangat anti terhadap makanan-makanan kategori ‘junk food’.

Nah, selain faktor nutrisi, stimulasi juga sangat penting. Stimulasi, atau pemberian rangsangan-rangsangan, akan berpengaruh setidaknya pada 2 hal, yaitu proses mielinasi dan pembentukan sinaps. Dengan stimulasi yang konsisten, mielinasi akan berlangsung dengan baik. Demikian juga dengan pembentukan sinaps.

Di posting terdahulu, saya telah memaparkan apa pentingnya mielinasi, ya… coba dibuka lagi deh J Sekarang, kita akan bahas soal pembentukan sinaps.

Sinaps, dalam bahasa sederhana, adalah hubungan antar sel otak. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, sel otak yang satu perlu berkomunikasi dengan sel otak yang lainnya. Komunikasi akan terjalin jika ada hubungan antar sel, persis seperti daerah yang satu dihubungkan dengan sambungan telepon dengan daerah yang lain. Sebanyak apapun jumlah sel otak, dan sebesar apapun ukurannya, tentu tak akan ada artinya jika tidak bisa saling berkomunikasi, bukan?

Nah, saat bayi lahir, sel-sel otak mereka masih berdiri sendiri-sendiri, belum saling menyatu. Proses stimulasi, akan membuat sel-sel otak itu saling berhubungan. Semakin banyak sinaps yang terbentuk, seseorang akan semakin cerdas.

Stimulasi, pada prinsipnya bisa dilakukan hingga usia berapa pun. Bahkan, jangan pernah berhenti menstimulasi otak, meskipun kita sudah menjadi orangtua yang sudah 'bau tanah'. Menghentikan proses stimulasi akan membuat sinaps yang sudah terbentuk menjadi lepas. Pikun, adalah salah satu efeknya. Stimulasi, pada prinsipnya adalah menjadikan otak senantiasa belajar. Senantiasa belajar, akan membuat otak senantiasa terasah, dan kita akan terhindar dari kepikunan.

Akan tetapi, pada masa golden age memiliki keistimewaan tersendiri. Pada saat itu, otak benar-benar sangat peka terhadap rangsangan dari lingkungan, sehingga inilah saat paling tepat untuk menstimulasinya. Pada saat tersebut, otak diibaratkan kaset kosong yang akan sangat cepat merekam segala sesuatu dan menyimpannya dengan sangat baik dalam memorinya.


Baca juga: 

Memaksimalkan Pertumbuhan Otak di Periode Golden Age Bagian 1