Friday, 11 April 2014

Yang Terempas di Batu Cadas

Oleh Afifah Afra

Boleh aku mengagumimu, 
wahai yang terempas di batu cadas?

Luka yang menetes dari robekan kulitmu
Memar yang melapisi sekujur tubuhmu
Tak buat gegar elanmu

Malah, kau bangkit
Dan menjahit sendiri luka-lukamu
Dan mengompres semua memarmu

Tuesday, 8 April 2014

Yuk, Bermasyarakat Sehat di Media Sosial

Beberapa waktu terakhir ini, global warming melanda situs-situs jejaring sosial. Asap yang kebul-kebul membuat kita harus siap dengan kipas, agar hawa panas itu bisa kita buang tuntas. Maklum saja, ini musim politik. Siapa bilang musim di Indonesia cuma dua? Karena ternyata bukan hanya musim hujan dan musim kemarau. Ada juga musim duren, musim rambutan, musim mangga ... juga musim politik. Jika pada musim rambutan kita direpotkan dengan halaman yang dipenuhi buah rambutan busuk yang jatuh dari pohon, sampah-sampah kulit rambutan, atau sisa-sisa rambutan yang tak muat di lambung karena kekenyangan, maka di musim politik pun kita direpotkan dengan aneka ‘sampah informasi’ yang membuat beranda kita seringkali tak nyaman kita lihat. 
Beberapa kenalan mengaku merasa sangat terganggu dengan fenomena tersebut. Sebagian dari mereka memilih puasa socmed, karena merasa justru saat membuka socmed yang ada hanya hawa panas, hawa cekcok, berbantahan, dan sebagainya. “Bayangkan, pulang kantor dalam kondisi penat, capek, lelah, dan begitu buka Facebook, isinya cuma cekcooook melulu,” begitu kata seorang kenalan dengan nada emosi.

Sunday, 6 April 2014

Novel Mei Hwa: Pesan Untuk Para Penggagas Perubahan


Ahad malam barusan, saya, lewat akun twitter @afifahafra79 diajak bincang-bincang ‘livetweet’ di linimasa @penerbitindiva oleh admin akun tersebut. Poin-poin perbincangan itu di-chirpstory oleh Admin Penerbit Indiva. Tetapi, rasanya kurang mantap membaca dalam versi arsip per-140 karakter itu. Jadi, saya berupaya mengembangkan perbincangan itu serta mengeditnya hingga terbaca lebih rapi. Inilah hasilnya. Selamat membaca!
Penerbit Indiva
Sekarang, Mimin mau panggil Kak @afifahafra79 aja, buat bincang-bincang online seputar novel #MeiHwa_SPZ.  Apa sih, motivasi Kak Afra menulis novel #MeiHwa_SPZ  alias Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman?

Wednesday, 2 April 2014

Kisah Backpacker: Tanjung Bira Hingga Puncak Tertinggi Jawa


Sebuah Review Novel Altitude 3676 Karya Azzura Dayana

Oleh Afifah Afra

Lahirnya sebuah karya, memang cermin zamannya. Apa yang terjadi pada sebuah masa, terdokumentasi dari karya-karya yang tercipta di masa tersebut. Maka, pekerjaan seorang penulis, khususnya fiksi, sebenarnya tak sekadar menjahit kata menjadi lembaran cerita yang enak dibaca dan karenanya membuat kita terhibur. Tetapi, seorang penulis sejatinya juga pendokumentasi kehidupan.

Bahwa pernah ada sebuah masa saat anak-anak muda di negeri ini ‘keranjingan’ ber-bacpacker, salah satunya berhasil dijepret oleh Azzura Dayana, novelis muda yang tinggal di tepi Sungai Musi, Palembang, dan dicetak dalam sebuah potret karya bertajuk “Altitude 3676 (Takhta Mahameru)”. Tajuk tersebut adalah judul baru dari edisi lama “Takhta Mahameru”, sebuah novel yang berhasil memenangkan sayembara novel  yang diselenggarakan Harian Republika sebagai juara kedua. Ketika novel tersebut di-republish oleh Penerbit Indiva Media Kreasi, novel tersebut diganti judul menjadi “Altitude 3676”, dengan tetap menyertakan judul lama sebagai identitas, karena novel ini memang telah dikenal cukup luas di kalangan para pembaca novel Indonesia. Altitude artinya ketinggian, 3676 meter adalah ketinggian dari Gunung Semeru, alias Mahameru, puncak tertinggi di Pulau Jawa.

Friday, 21 March 2014

Bisnis Sang Caleg


Oleh Afifah Afra

Catatan: cerpen ini saya tulis 10 tahun silam, saat ramai-ramai jelang Pemilu 2004, dan dimuat di koran Solopos. Semoga masih relevan untuk saat ini. Selamat membaca!

Suminem, janda kaya yang barusan mendapat banyak warisan dari almarhum suaminya itu mendadak kebingungan ketika Parman, kemenakannya datang untuk pinjam uang. Sebenarnya bukan suatu hal yang aneh, karena selama ini, sang kemenakan memang sangat rajin pinjam uang, yang selalu ia acuhkan pengembaliannya—dan memang jarang kembali, karena jumlah yang dipinjam tidaklah besar. Setidaknya bagi dia. Meski ia tahu, uang itu larinya paling-paling ke bandar jap jiki atau kasir-kasir warung ciu yang remang-remang, atau malah dompet kumal pelacur murahan, namun ia tak terlalu ambil pusing. Wong lanang, masih muda, ganteng lagi... ya begitu itu adatnya, demikian komentarnya selalu. Suminem memang terlalu bangga dengan kemenakan yang telah puluhan tahun diasuh dan ia anggap sebagai anak sendiri, karena perutnya gabuk, tidak menghasilkan keturunan.

Monday, 10 March 2014

Stop Perang Dingin Perempuan Karir VS Ibu Rumah Tangga!


Perdebatan soal perempuan karir vs ibu rumah tangga, seperti tak habis-habisnya. Beberapa kali, saya melihat perdebatan itu telah keluar dari koridor, dan seperti menjadi ajang adu eksistensi. Kedua kubu saling beradu argumen, dan masing-masing menginginkan pengakuan sebagai yang terbaik.
Kubu ibu rumah tangga murni—saya sebut murni, karena perempuan karir pun rata-rata juga ibu rumah tangga—dengan argumen-argumennya, sering akhirnya ‘menyerang’ kubu perempuan karir. Sementara perempuan karir, di satu kesempatan, balas menyerang dengan amunisi yang tak kalah garang.
Maka, duduk permasalahannya pun menjadi rancu. Perempuan karir yang ‘kalah argumen’, akhirnya merasa nglokro, karena dianggap sebagai perempuan ‘durhaka’ yang tak memiliki kecukupan waktu untuk mengurusi rumah tangga. Padahal, contoh para perempuan karir yang memiliki putra-putri berprestasi, shalih-shalihah, dan suami yang ‘terpuaskan’ juga tak kurang-kurangnya.

Monday, 3 March 2014

Dulu Kuntilanak, Sekarang Monster

Hantu dari Masa ke Masa

Bagaikan Archimedes yang berteriak ‘eureka’ saat menemukan teori massa jenis, saya pun terhenyak saat anak (sementara) bungsa saya, Ipan, mendadak berlarian sembari memeluk saya. “Ada monster, Mi… Ipan takuuut.”

Well, saya terima jika Anda sebut saya terlalu over, menyamakan proses ‘eureka’ saya dengan Yang Mulia Tuan Archimedes. Tapi, boleh, kan… saya bercerita kepada Anda apa yang membuat saya ter-eureka sejenak bersamaan dengan kedua tangan mungil Ipan saat melingkari pinggang saya?

Mendadak saya teringat pada masa kecil saya. Pada saat kecil, saya pernah ditakut-takuti dengan berbagai macam hantu yang dengan kadar kehororan yang benar-benar mencekam. Misalnya, kuntilanak. Hantu itu berambut panjang menutup punggung yang ternyata bolong. Lalu ada genderuwo, makhluk menyeramkan bertubuh tinggi besar dengan wajah buruk. Dan, yang paling terkenal tentu adalah pocongan. Arwah gentayangan yang bangkit dari kubur dan masih mengenakan kain kafan. Ada pula jenis hantu-hantu lain, seperti Wewe Gombel, Sundel Bolong dan sebagainya.

Friday, 28 February 2014

Inilah Tiga Karakter Anggota FLP! (Catatan Milad 17 FLP)


Tak sekali dua kali saya mendapat curhat dari anggota FLP tentang kegundahan mereka dengan dinamika FLP. Sebenarnya, apa sih yang saya dapat dari FLP? Organisasi penulis, kok, rapat-rapat melulu? Kegiatan melulu? Karyanya mana? Kapan belajar nulisnya? Kapan personal branding-nya? Kapan buku-bukunya terbit dan dipromosikan? Kan, saya gabung dengan FLP karena ingin menjadi penulis yang sukses, bukan untuk pontang-panting cari sponsor. Bukan untuk jadi seksi konsumsi, atau malah sopir yang wara-wiri menjemput narasumber.

Wednesday, 12 February 2014

Ada Apa dengan Nama Pena Afifah Afra?

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa penulis sering menggunakan nama pena? Saya pun tak luput dari pernyataan tersebut. Dari sekian banyak acara workshop kepenulisan, bedah buku atau seminar-seminar yang saya isi, pertanyaan: “Mengapa mbak Afra menggunakan nama pena? Apa arti nama pena Mbak Afra?” dan berbagai pertanyaan sejenis termasuk jenis pertanyaan yang kerap dilontarkan.

Sebelum saya menjawab, saya ingin cerita dulu ya, sejarah penggunaan nama itu. Seorang penulis memakai nama pena, tentu merupakan sebuah hal yang tak asing bagi saya. Bahkan tak hanya penulis, seniman di bidang lain pun sering menggunakan nama alias. Ayah saya, meski hanya seniman lokal, punya nama alias, yaitu Aribowo. Ayah menulis naskah drama, ketoprak, cerpen dll. menggunakan nama itu. Beliau juga menciptakan banyak lagu keroncong dan langgam, dengan nama pena Aribowo. Terkadang juga Sucipto Aribowo, atau bahkan meniru nama seorang marsekal angkatan udara yang gugur saat revolusi fisik melawan Belanda dan menjadi nama bandara di Yogya, Adi Sucipto.