Berbagi, cara kita memberi arti...

On 12:35 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments
Sebuah Puisi Afifah Afra

Di negeri pencitraan
Septictank tak lagi jadi tempat kotoran
Dekomposer tak dibiarkan menguraikan
Karena konon...
para Predator telah temukan cara
Membuat si kotoran berdaya guna

Kau ingin tahu?
Semoga kau tak jijik jika kuceritakan
Kotoran itu dikemas
Disimpan di dalam kulkas
Dengan pendingin berkelas
Kadang, kotoran itu diberi formalin
Sehingga awetnya terjamin

Suatu saat dibutuhkan
Kotoran akan dikeluarkan
Dijadikannya senjata
Menghantam musuh-musuhnya

Di negeri ini
Jika kau temukan kotoran
Tak usah susah payah membersihkan
Tak perlu repot-repot menyingkirkan
Cukup kau bungkus dan kau jual
Pada mereka
Kau akan kaya raya

Solo-25-01-2015
On 10:17 by Yeni Mulati Afifah Afra in    1 comment
* Sebuah Puisi Refleksi Diri
Oleh Afifah Afra



Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk sampaikan nasihat
Jadi, jangan berani-berani kau seru umat
Mungkin mereka akan kuliti tubuhmu
Menemukan hingga sel terkecil kesalahanmu
Untuk mereka siarkan sembari tertawa-tawa
Setiap kesalahan yang ditemukan
Responnya seperti ibu-ibu kurang kerjaan
Yang berhasil menemukan seekor kutu
Di lebatnya rambutmu

Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk jadi presiden
Jadi, jangan pernah berbuat kesalahan
Orang akan mengutukmu sepertinya kau setan comberan
Yang diturunkan untuk mengobrak-abrik negeri ini
Secabik-cabiknya

Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk masuk partai politik
Kau bahkan harus terbang melayang di atas lantai
Supaya kakimu tak tergelincir, tak terpeleset di jebakan licin
Karena, sekali kau jatuh terempas
Tak ada ampun bagimu!
Kau akan ditelanjangi di televisi-televisi
Semua jemari, akan tertuju kepadamu!
Tubuhmu akan berlumur kotoran dan kenistaan

Di negeri ini, harus jadi malaikat dulu untuk perjuangkan kebaikan
Sebab, kesalahan adalah benda haram
Yang dianggap lebih berbahaya dari bom atom
Satu sel kesalahan, akan berbiak jadi gunung kehinaan
Selama kamu masih manusia
Yang kata nabi adalah makhluk berbalut khilaf dan alpa
Jangan bercita-cita perjuangkan satu hal mulia
Sebab, ketika kau tunjukkan satu kebaikan
Sejuta manusia akan giat mencari-cari keburukan

Di negeri ini, manusia hanya ingin dibimbing malaikat
Padahal, usai penciptaannya, malaikat bersujud kepada manusia
Dan Tuhan memilih manusia, untuk mendapat tugas suci
Sebagai pengelola di muka bumi
Mungkin, di negeri ini, banyak orang merasa lebih tahu
Ketimbang Tuhan

--Puisi ini saya tulis sebagai dukungan dan bukti ukhuwah terhadap Ustadz Felix Siauw dan siapa saja para penegak kebenaran yang di-bully tanpa ampun di media sosial. Mari bermedia sosial dengan santun dan penuh tanggung jawab. Sesungguhnya, setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak--

On 08:27 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    No comments
Tulisan ini merupakan bagian kedua dari dua tulisan. Untuk lebih jelasnya, silakan baca Membangun Konflik Dalam Novel #1

KONFLIK DAN “GUNUNG PLOT”

Di bagian pertama, kita telah mengibaratkan Plot sebagai gunung, yang pada dasarnya disusun atas konflik. Berawal dari pengenalan tokoh, timbulnya masalah, mulai adanya konflik, klimaks, antiklimaks dan ending. Pengembangan konflik mirip balon yang selalu ditiup hingga kapasitas maksimum, lalu diledakkan. Jika kita tidak mampu membuat balon itu membesar sempurna, ledakan yang terjadi tentu kurang meyakinkan.
Dalam cerpen, yang plotnya tunggal, saya biasa menggunakan 3 kejadian konflik dengan dosis yang selalu meningkat. Misal, kisah seorang gadis desa yang merantau ke Jakarta. Kejadian pertama, dia merasakan berlari-larian mengejar bus kota dan berdesak-desakkan. Kejadian kedua, dosisnya naik, yakni dia dicopet saat gajian pertama. Kejadian ketiga, lebih parah lagi, kebanjiran sehingga pulang dalam keadaan basah kuyup, lalu ditolong seorang bapak tua hingga dengan sangat susah payah berhasil mendapatkan tempat yang aman. Antiklimaks saya tutup dengan ending bahwa bapak tua yang dia anggap sangat kebapakan dan baik hati itu, ternyata mengajak dia ngamar di hotel dengan mengedipkan mata sebelah, dan si gadis pun terpontang-panting berlari meninggalkan si bapak.
Dalam novel, karena karakternya banyak, konfliknya tentu lebih komplek. Sehingga kejadian demi kejadian bisa jadi membentuk plot yang majemuk. Tetapi, saya biasa membagi menjadi plot utama dan plot cabang. Tetapi, novel yang baik, adalah novel yang ada ketersambungan antara konflik cabang dengan konflik utama.
Adegan di film Paddington, salah satu film yang sukses menyedot perhatian saya dari awal hingga akhir
Saya contohkan lagi di plot film Paddington. Plot utama adalah si beruang Paddington yang meninggalkan rimba peru setelah pemukimannya hancur luluh terkena gempa. Paddington ingin mencari Tuan Montgomery Clyde, penjelajah yang pernah tinggal bersama mereka dan mengatakan, bahwa mereka akan disambut dengan hangat di kota London. Paddington datang ke London, namun ternyata terlantar dan ditampung oleh keluarga Brown yang baik hati, orang-orangnya aneh namun baik hati. Dibantu keluarga Brown, mereka berhasil menemukan keluarga Clyde. Namun, Tuan Montgomery Clyde sudah meninggal, yang ada justru anaknya, Millicent yang sangat bernafsu mengawetkan Paddington sebagai bukti bahwa ayahnya pernah menjelajahi Rimba Peru.
Selain konflik utama yang membangun plot utama, juga ada konflik-konflik cabang seperti saat Paddington sedang kelaparan, lalu memakan roti yang selalu dia simpan di bawah topinya. Saat itu, muncul seekor burung. Paddington memberinya secuil roti. Namun kemudian muncul ratusan burung serupa, sementara roti Paddington hanya sepotong. Ternyata, konflik cabang ini tidak “menganggur”, tetapi dikaitkan untuk menguatkan konflik utama. Yaitu, saat Paddington sedang dalam kesulitan karena hendak dibunuh Millicent, mendadak muncul ratusan burung-burung itu. Paddington pun melemparkan sepotong roti yang selalu dia simpan di bawah topi ke arah Millicent dan ratusan burung itu pun menyerang Millicent.
Saya harus jujur mengatakan, bahwa Maryamah Karpov, adalah novel terjelek dari tetralogi Laskar Pelangi. Penyebabnya, konflik-konflik di sana dibiarkan saling bertebaran tanpa terkait satu sama lain menyokong pohon plot yang kokoh.

BAGAIMANA MENCIPTAKAN KONFLIK YANG BAGUS?

Karena inti dari konflik adalah interaksi karakter, maka cara untuk membuat konflik yang bagus adalah dengan mengeksplorasi karakter si tokoh. Lalu, setelah memberi karakter, benturkan satu sama lain, dan carilah potensi permasalahan apa yang muncul. Untuk membuat solusi dari permasalahan tersebut, kita bisa memperdalam teori-teori karakter atau kepribadian. Kita mengenal berbagai teori kepribadian, misalnya Psikoanalisa Freud (banyak novel-novel bagus ternyata penganut aliran ini L). Ada juga Trait Theories, Behaviourisme atau juga Transpersonal. Tentu kita tak perlu jadi psikolog untuk bisa memahami teori-teori ini. Karena, kata Sastrawan yang juga Psikolog, Darmanto Jatman, sastra itu lebih psikologi daripada psikologi.
Cukup penting juga untuk membangun ketegangan demi ketegangan dalam dosis yang semakin meningkat. Dalam teknik penulisan novel, ini disebut sebagai suspense. Di Wikipedia disebutkan bahwa SUSPENSE adalah menyaran pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang menimpa tokoh yang diberi rasa simpati oleh pembaca. Sehingga, mendorong, menggelitik, dan memotivasi pembaca utuk setia mengikuti cerita hingga akhir. Teknik yang lazim dipakai untuk membangun SUSPENSE adalah foreshadowing. Teknik foreshadowing adalah teknik menampilkan peristiwa-peristiwa masa depan pada saat ini secara tidak langsung. Foreshadowing semacam pertanda bahwa di masa depan akan terjadi peristiwa-peristiwa besar yang akan dialami tokoh novel.

Deux ex Machine

Dalam mengembangkan dan menyelesaikan konflik, hindarilah deux ex machine (Tuhan keluar dari mesin). Ini adalah istilah yang merujuk pada teater Yunani Kuno dimana setelah penonton dijejali dengan konflik yang rumit, ternyata di akhirnya ujug-ujug para tokoh Dewa seperti Apollo turun dan menyelesaikan konflik begitu saja dengan karakter dewanya. Ini mirip dengan novel berkonflik panjang, berlika-liku, tetapi penyelesainnya gampang sekali: si antagonis tertabrak mobil dan mati. Atau, sedang tegang-tegangnya konflik berlangsung, ternyata semua hanya mimpi. Jadi, semua hanya mimpi?


On 08:18 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    No comments
Tanpa konflik, tak ada plot. Tanpa plot, tak ada cerita. Tak ada cerita, tak ada novel. Rangkaian kalimat ini tak bisa dianalogikan dengan sesuatu, semisal garam. Tak ada garam tak ada sayur. Tak ada sayur tak ada makanan. Tak ada makanan tak ada sarapan.
Konflik lebih dari sekadar garam. Meski orang tak bisa menikmati makanan tanpa garam, tetaplah semangkok sayur itu disebut sebagai makanan. Sementara, tanpa konflik, setumpuk kertas berjilid tak akan bisa disebut sebagai sebuah novel. Cukup jelas, ya! Tak ada ulangan.

Ya, without conflict, there is no plot! (Kok diulangi? :-D). The plot mountain is created around the conflict. Diawali dari perkenalan tokoh-tokoh, lalu munculnya permasalahan, klimaks, antiklimaks dan ending.

Penulis novel memang "tukang bikin gara-gara". Jika di kehidupan sosial, konflik itu dihindari, dalam menyusun sebuah novel, konflik malah dibutuhkan. Pada dasarnya, menyusun sebuah novel, adalah pekerjaan mencari konflik, mengembangkan konflik dan mengakhiri konflik. Eh, jangan ditambah kalimat: "Awas, penulis novel dilarang masuk area politik!" Sama sekali tidak perlu. Karena, sudah banyak yang lebih jago membuat konflik di sana #ehh...

TOKOH
Konflik muncul sebagai sebuah konsekuensi adanya tokoh. Masih ingatkah rumus plot ala Josip Novacovich, bahwa Plot adalah Tokoh ditambah Setting? PLOT = TOKOH + SETTING.
Josip Novacovich

Dalam menyusun sebuah cerita, tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh diberi ‘nyawa’ sehingga memiliki “LIFELIKENESS” alias “KESEPERTIHIDUPAN.” Tokoh juga diberi karakter sebagaimana manusia, dengan tiga dimensi karakter, meliputi fisiologis, sosiologis, dan psikologis
Si Rangga lelaki tampan, berambut ikal, bertubuh langsing, bermata cokelat dengan tatapan tajam setajam silet, berdarah campuran Spanyol-Eskimo-Madura-Somalia… ini adalah dimensi fisiologis. Banyak penulis dengan sangat pintar dan teliti menggambarkan dimensi fisiologis ini sampai-sampai tatanan sel-sel kulit arinya pun dengan jeli dipaparkan.
Sosiologis berkaitan dengan status dalam kemasyarakatan. Misal, Rangga lulusan teknik kimia ITB yang kabur ke Amerika dan dengan keberuntungan segede gunung berhasil tembus Harvard University. Lulus cum laude dan mendapatkan pekerjaan sebagai stuntmant di Hollywood. Lalu karena nasib sedang mujur, dia berhasil mendapat peran lumayan dan selanjutnya laris mendapatkan peran figuran.

Dimensi psikologis tak kalah penting. Bahkan seringkali, pengembangan karakter dalam dimensi ini cukup membangun greget tersendiri dibanding dengan dua dimensi yang lain. Mentalitas, moralitas, tingkat kecerdasan, kejiwaan dan sebagainya, jika dieksplor dengan unik, bisa menghasilkan konflik yang ‘elegan.’ Penjahat Millicent Clyde (diperankan dengan ciamik oleh Nicole Kidman), dalam film Paddington, mampu meraup simpati setelah karakter kejiwaannya dikuliti. Millicent sangat sedih karena ayahnya, Montgomery Clyde tidak diakui  sebagai Explorer yang berhasil menembus rimba Peru hanya karena tidak membawa spesies khas sebagai bukti. Clyde Senior menolak membunuh beruang-beruang yang cerdas dan “berbudaya”. Millicent pun berjanji akan membuktikan bahwa ayahnya adalah Explorer sejati sekelas Colombus atau Charles Darwin. Maka, ketika bertemu Beruang Paddington, Millicent sangat bernafsu menangkap Paddington untuk diawetkan.

Di tangan novelis yang pintar mengembangkan dimensi psikologis, pembaca bisa “jatuh cinta” dengan penjahat, dan sebaliknya bahkan sebal setengah mati kepada tokoh protagonisnya. Karena itu, seorang penulis novel sejatinya sangat berbahaya, karena bisa "menginfiltrasi" pemikiran seseorang tanpa seseorang itu tahu bahwa dia sedang diinfiltrasi. Catatan penting pakai stabilo merah, nih ya... penulis novel kudu benar-benar menjadikan ketrampilan ini untuk kebaikan... misal ajakan untuk berbuat baik, memberikan pencerahan, dan bukan sebaliknya.

INTERAKSI TOKOH
Sebagaimana dalam sebuah masyarakat, dimana orang-orang yang ada saling berinteraksi, di dalam novel pun begitu. Rangga bertemu Ranggi, jatuh cinta para Rengganis, tetapi ditentang Roni dan didukung Rino.

Karena kita sudah memberi karakter kepada tokoh-tokoh tersebut, maka terjadilah konflik yang bersumber pada karakter yang berlawanan. Kita mengenal berbagai jenis konflik, misalnya:
  1. Human vs Human: karakter satu dengan karakter lain, antagonis melawan protagonist, “good guy” vs “bad guy.” Ini konflik yang paling lazim.
  2. Humaan vs Nature: misal, melawan bencana, kehidupan yang sulit, binatang buas dll.
  3. Human vs Society: misal, melawan adat-istiadat, lingkungan masyarakat, dll.
  4. Internal Conflict: Man vs Self
Ada juga konflik-konflik yang ‘tak lazim’, misal seperti manusia melawan mesin,  manusia melawan robot, manusia melawan kuman, bahkan juga manusia melawan kata-kata yang ditulisnya. 

BERSAMBUNG
Ke bagian dua Membangun Konflik Dalam Novel #2



On 07:31 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    5 comments
Oleh Afifah Afra

Maafkan jika judul postingan saya kali ini terkesan mengundang debat. Jatuh cinta pada orang yang tepat, dan kemudian berakhir indah dengan akad nikah sebagai pengikat, memang terasa begitu nikmat. Tetapi, nyata-nyatanya kita sering menjumpai kisah-kisah orang yang jatuh cinta pada orang yang tepat. Siapa yang disalahkan? Cintanya? Tentu tak bijak menyalahkan siapa-siapa. Karena, cinta itu memang sebuah perkara yang sangat misterius. Coba cermati syair dari Jalaluddin Rumi ini:

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang cinta),
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari cinta
adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan

Ya, kelit kelindan cinta itu memang sebuah rahasia yang (sering kali) tak terungkap. Pantas saja jika Baron dkk, dalam bukunya Psychology, Understanding Behaviour menyebutkan bahwa sulit sekali merumuskan cinta. Love is the most personal and most exciting emotions… tulisnya.
Dalam sejarah, kita mendapatkan berbagai fenomena “jatuh cinta yang tak tepat”, dan ternyata penyelesaian dari problem “berbahaya” itu berpengaruh terhadap kesuksesan si pecinta itu. Ada yang berhasil mengeksekusi dengan baik, ada yang jatuh bangun, bahkan ada yang akhirnya mentahbiskan diri sebagai pecundang sejati.
Jatuh cinta yang “tak tepat”, telah membuat Trium Virat—penguasa yang paling digdaya di negara adi kuasa saat itu, Imperium Romawi, porak-poranda. Gegara tergila-gila pada Cleopatra, Ratu Mesir yang terkenal sangat cerdas jelita, Antonius tega membunuh Lepidus, sahabat sejatinya. Antonius juga manut-manut saja ketika diminta Cleopatra untuk melawan Octavianus, yang juga sahabat Antonius. Persahabatan tiga serangkai itu—Lepidus, Antonius dan Octavianus, harus porak-poranda hanya karena seorang Ratu Mesir yang pesonanya juga pernah memikat Julius Caesar, pemimpin besar Romawi sebelum mereka bertiga berkuasa. Julius yang sudah punya permaisuri bernama Calpurnia, tetap nekad memburu cinta Cleopatra.

Jatuh cinta yang tak tepat, ternyata juga bisa menimpa orang-orang shalih. Umar bin Abdul Aziz misalnya, dia jatuh cinta kepada budak istrinya. Meskipun akhirnya berhasil melewatinya, Umar Bin Abdul Aziz harus melewati hal-hal yang tersulit dalam hidupnya: mengendalikan hawa nafsunya. Sang Khalifah ini awalnya terkenal memiliki ‘lifestyle’ yang ‘wow’. Dia pesolek, bajunya selalu mahal, gayanya menawan, dan dia jatuh cinta begitu mendalam kepada seorang budak istrinya, Fathimah bin Abdul Malik. Berkali-kali dia meminta kepada Fathimah agar budak itu diberikan kepadanya. Namun Fathimah menolak karena sangat cemburu.
Namun, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berubah total ketika telah menjadi khalifah. Beliau berubah menjadi sangat zuhud, adil dan begitu amanah dengan tugasnya. Seluruh kekayaan dia sumbangkan ke Baitul Maal dan menjadi milik masyarakat. Ketika dia sudah begitu kelelahan, sang istri jatuh kasihan, dan akhirnya menyerahkan budak perempuannya kepada Umar. Tetapi, apa yang dilakukan Umar? Dengan tegas Umar menolaknya. Bahkan, Umar menikahkan budak perempuan jelita itu dengan prajuritnya.
Sang budak, yang sebenarnya juga mencintai Umar, sangat sedih dan menangis di hadapan Umar, “Jadi, mana bukti cintamu padaku, wahai Amiril Mukminin?”
Jawab Umar, “Cinta itu tetap ada di dalam hatiku, bahkan jauh lebih kuat daripada yang dahulu-dahulu. Akan tetapi, kalau aku menerimamu, aku khawatir tidak termasuk dalam golongan orang yang “menahan dirinya dari keinginan hawa nafsu” sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Q.S. An-Nazi’at ayat 40 – 41.”
Beginilah bunyi ayat yang membuat Umar takut sekali menerima sosok yang sebenarnya sangat dirindukannya itu, “…dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (An-Nazi’at: 40 – 41).
Terus terang, saya benar-benar terenyuh membaca kisah Umar bin Abdul Aziz ini. Coba, renungi kalimat ini, Cinta itu tetap ada di dalam hatiku, bahkan jauh lebih kuat daripada yang dahulu-dahulu. Romantis sekali, bukan? Dan Umar memiliki kesempatan untuk mengekspresikan cinta itu secara halal. Istri pertamanya pun telah ridho. Namun, Umar tak mau melakukannya, karena dia tak mau dimasukkan dalam kategori orang yang tak mampu menahan diri dari hawa nafsunya.
Thalhah bin Ubaidillah, salah seorang sahabat Rasulullah yang utama, juga pernah mengalami jatuh cinta yang tak tepat. Tak tanggung-tanggung, yang dia cintai adalah Aisyah Binti Abu Bakar, istri kesayangan Rasulullah SAW.
Seperti ditulis oleh Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Kitab Lubabun Nuqul Fi Ashabin Nuzul, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Sa’d yang bersumber dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm, bahwa suatu hari seorang lelaki (yaitu Thalhah), bertemu mendatangi salah seorang istri Rasulullah Saw (Aisyah) dam bercakap-cakap dengannya. Laki-laki itu adalah anak anak paman beliau. Ketika Rasulullah melihat hal tersebut, beliau berkata kepada laki-laki itu, “Jangan sampai engkau mengulangi tindakaknmu itu untuk kedua kalinya!”
Laki-laki itu lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak paman saya. Demi Allah, saya tidak mengucapkan kata-kata yang tidak baik kepadanya, demikian juga ia.”
Akan tetapi, Rasulullah balik berkata, “Engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dibanding Allah, dan sesungguhnya tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu dibanding saya.”
Laki-laki itu kemudian pergi. Setelah agak jauh ia berkata, “Bagaimana mungkin beliau melarang saya berbicara dengan anak wanita paman saya. Saya sungguh akan menikahinya sepeninggal beliau kelak.”
Rasulullah tentu tahu, bahwa Thalhah diam-diam mencintai Aisyah. Padahal, Aisyah adalah salah satu istri Rasulullah yang paling beliau cintai. Secara manusiawi, Rasulullah merasa cemburu dan mencoba memperingatkan Thalhah. Namun Thalhah bahkan mengatakan bahwa dia kelak akan menikahi Aisyah jika Rasulullah telah wafat.
Tentu ini sesuatu yang bisa dinalar. Thalhah lebih muda sekitar 25 tahun dibandingkan dengan Rasulullah, sementara Aisyah juga masih sangat muda. Akan tetapi, Allah SWT tak meridhai hal tersebut. Peristiwa inilah yang akhirnya menjadi asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) Al-Quran Surat Al-Ahzab: 53 yang berbunyi: “…Dan tidak boleh kamu menyakiti hati Rasulullah dan tidak boleh mengawini istri-istrinya sesudah dia wafat untuk selamanya….”
Begitu ayat ini turun, Thalhah sangat terpukul dan segera bertaubat. Ibnu Abbas berkata, “Sebagai bentuk penyesalan dan tobatnya terhadap ucapannya di atas, laki-laki itu (Thalhah) pun kemudian memerdekakan seorang budak, menginfakkan hartanya di jalan Allah seberat yang bisa diangkut sepuluh ekor unta, serta menunaikan haji dengan berjalan kaki.”[1]
Kita bisa mengukur berapa kira-kira harta yang diinfakkan oleh Thalhah, yang jumlahnya bisa diangkut 10 ekor unta!
Akan tetapi, rasa cinta yang mendalam itu tak juga pergi dari Thalhah. Salah satu puteri Thalhah, dia beri nama Aisyah. Dan sang puteri itu, Aisyah binti Thalhah, dikenal sebagai seorang gadis yang sangat cantik jelita. Dia berguru pada bibinya Aisyah binti Abu Bakar, dan terkenal sebagai salah satu tabi’in dan periwayat hadist yang terpercaya.
Jadi, jatuh cinta pada orang yang tak tepat itu adalah sesuatu yang wajar terjadi. Permasalahannya adalah bagaimana pengendalian diri kita. Orang-orang beriman, akan menganggap hal tersebut sebagai suatu ujian yang harus diatasi. Lihatlah, bagaimana sikap yang diambil oleh Umar bin Abdul Aziz dan Thalhah. Luar biasa! Cinta tak harus membuat mereka terhina sebagai hamba Allah yang ekstrim mengumbar keinginan. Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Antonius yang justru tega mengkhianati kawan-kawannya.
Anda pernah jatuh cinta pada orang yang tak tepat? Tinggal pilih, mau jadi Umar, atau jadi Antonius. Hidup adalah pilihan. Tetapi, siap-siap saja dengan risiko yang harus Anda tanggung.




[1] As-Suyuthi hal: 407-408
On 07:44 by Yeni Mulati Afifah Afra in , ,    No comments
Pernahkah Anda melihat seseorang yang secara akademis sangat cerdas, tetapi ternyata jalan hidupnya penuh lobang yang menggembosi kesuksesannya? Iya sih, nilai pelajaran dan kuliahnya sulit bergeser dari angga 9-10, atau A dan paling sial B. Tetapi kok, mencari kerja tak dapat-dapat. Ataupun kalau akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan, karirnya tidak naik-naik. Di situ-situ aja. Stagnan. Kopral macet.
Mengajari kakak sayang pada adik juga bagian melatih soft skill sejak dini (Model: Rama dan Ifan)
Apa sebab? Ya, orang tersebut mungkin memiliki hard skill yang bagus. Tetapi, soft skill dia mungkin lemah. Padahal, dalam menempuh rimba-raya kehidupan, kita memang membutuhkan keduanya. Apa itu hard skill dan soft skill?

Hard skill, kalau diterjemahkan secara bahasa, berarti “ketrampilan keras”. Maksudnya, bukan ketrampilan mengunyah kerikil, yak! (kalau cokelat kerikil sih, enak kali hihi). Hard skill adalah penguasaan seseorang terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Misal, jika dia seorang ahli riset pemasaran, berarti kemampuan dia dalam mengumpulkan data yang berkualitas, menganalisis dan memetakan pasar. Atau, jika kita desainer, maka hard skill-nya adalah kemampuan mengoptimalkan program-program desain untuk menghasilkan desain yang bagus.

Adapun ketrampilan lunak, alias soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal. Jenis-jenis soft skill antara lain attitude disiplin, tidak mudah mengeluh, ringan tangan (senang membantu), sabar, memiliki integritas, inisiatif, motivasi, etika, kepemimpinan, kemauan belajar, menghormati orang lain, mau bekerja sama, kepintaran berkomunikasi, rendah hati dll.

Banyak para ahli percaya, bahwa kesuksesan hidup kita, tak melulu dari hard skill, tetapi juga soft skill. Hard skills jelas sangat penting, karena terkait dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Tetapi, siapa sih, yang betah kerjasama dengan partner yang cerdasnya mengalahkan Einstein misalnya, tetapi galaknya juga mengalahkan Fir'aun? Karena itu, saat proses rekruitmen dan seleksi pada sebuah institusi, selain tes-tes tertulis dan sebagainya yang berhubungan dengan keahlian yang spesifik, juga ada tes-tes yang berfungsi mendeteksi kemampuan soft skill-nya, semisal psikotes dan wawancara.

Kenyataannya, banyak orang dengan soft skill bagus, akhirnya bisa lebih sukses ketimbang yang menyombongkan nilai IPK gue nih, nyaris empat koma. Soft skill membuat kita lentur, tahan banting, sehingga karenanya kita mampu bertahan saat menghadapi dinamika kehidupan. Setiap hari, jutaan manusia melatih hard skill. Rela bersekolah hingga belasan tahun demi mendapatkan keahlian tertentu. Sementara soft skill terabaikan. Pantas saja masyarakat kita banyak yang mudah marah, 'mutungan' alias gampang patah, dan labil.

Mau melatih soft skill? Bersosialisasi di masyarakat, aktif di organisasi, banyak merenung, membaca buku-buku terkait, sampai pada berusaha keras untuk menjadi pemeluk ajaran agama secara taat, adalah bagian dari melatih soft skill. Percayakah Anda, bahwa di dalam curiculum vitae yang Anda tulis saat melamar pekerjaan, daftar riwayat organisasi Anda bisa jadi lebih dahulu dibaca ketimbang daftar nilai di ijazah Anda.
On 13:09 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Anda pernah merasakan suasana seperti ini? Saat sedang enak-enaknya istirahat di rumah, membaca buku sembari tiduran setelah lelah bekerja, mendadak bel rumah berdering. Mengira ada tamu penting, kita pun harus tergopoh-gopoh membuka gerbang. Namun, yang kita hadapi ternyata hanya beberapa anak muda, terkadang tampil “keren” dengan dasinya, yang ngotot ingin memeriksa kompor gas kita.



Saya pernah. Awalnya, saya merasa kasihan untuk "mengusir" mereka. Saya pun mengizinkan mereka "mengobrak-abrik" kompor gas saya sembari terus bicara tanpa memberi kesempatan saya untuk menyela. Lama-lama, saya jadi kapok menerima mereka. Bayangkan, kita mendadak dibuat seperti “kambing congek” yang tak tahu apa-apa setelah diterpa badai kecerewetan mereka yang sok tahu.

Eh, ternyata bukan hanya saya. Mayoritas ibu-ibu di komplek saya juga sebal menerima sales yang door to door menawarkan aneka jualan "ajaibnya." Malah, kisah mereka lebih ajaib lagi. Ada yang begitu kelebatan para sales itu datang, langsung berakting jadi pembantu, "Maaf, Mas... Ibu tidak ada. Saya cuma pembantu." Ada juga yang langsung galak mengusir mereka dari halaman rumah.

Ada banyak catatan tak mengenakan dari interaksi sales vs calon konsumen ini, tampaknya membuat banyak anak-anak muda merasa mendadak derajatnya menjadi sangat rendah jika terpaksa harus menjadi sales, atau marketing. Saya sering dimintai informasi lowongan pekerjaan, dan belum-belum mereka telah memberi batasan, “Apa aja deh, mbak… asal jangan sales.”

Nah, jadi, menurut Anda, sales itu hantu atau justru pahlawan? Jika paparannya seperti itu, mungkin sales memang seperti hantu.

Eh, tunggu! Baca dulu konsep marketing terbaru di bawah ini!

Menurut Pak Kotler dan Pak Keller (2009:58), dalam memasarkan produk/jasa, memang ada berbagai konsep atau filosofi yang menjadi lanjarannya.

Pertama, konsep produksi. Konsep ini menandaskan, bahwa sebuah usaha itu prinsipnya ya produksi atau operasi. You mau bisnis? Pikirkan harga yang semurah mungkin, dan semudah mungkin didapat. Karena, konsumen memang maunya beli sesuatu yang gampang diperoleh dan murah. Jadi, mari kita melakukan efisiensi semaksimal mungkin. Jika perlu, bakso yang mestinya butuh daging sekilo, cukup satu ons saja. Cukup diberi perasa kuat, biar rasa dagingnya tetap ada. Waduuuh!

Kedua, konsep produk. Bedanya dengan konsep pertama, dalam filosofi ini, produsen beranggapan bahwa konsumen lebih menghendaki produk-produk yang memiliki kualitas, kinerja, fitur atau penampilan yang lebih superior. So, jika Anda adalah manajer, Anda kudu memusatkan perhatian untuk menghasilkan produk yang unggul dan memperbaiki mutunya dari waktu ke waktu. Tak apa duit diguyur habis untuk hal ini.

Ketiga, konsep penjualan atau promosi. Anda mau bisnis? Anda sudah punya produk atau jasa. Dan Anda yakin, bahwa jika Anda diam saja, mana mungkin barang Anda terjual. Anda harus berkoar-koar, bila perlu berorasi di pasar menggunakan pengeras suara. Kalau Anda capek, bisa Anda rekam suara Anda, lalu Anda putar sehari 24 kali! Yep, intinya, Anda harus membuju konsumen selihai mungkin agar mereka tertarik membeli produk Anda.

Keempat, konsep pemasaran. Ini dia, cikal bakal konsep marketing modern. Konsep pemasaran berorientasi pada pelanggan. Kita berbisnis karena kita tahu bahwa ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi oleh produsen. Kita beranggapan bahwa konsumen hanya akan bersedia membeli produk-produk yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya serta memberikan kepuasan. So, jika kita ingin sukses berbisnis, selidiki apa mau konsumen, apa kebutuhan mereka.

Kelima, konsep pemasaran holistik. Sebenarnya, ini hanya pengembangan konsep keempat. Konsep ini menitikberatkan pada tanggungjawab sosial. Ya, ada unsur lain selain produsen dan konsumen, yaitu lingkungan. So, konsep pemasaran holistik pada intinya adalah sebuah  sistem pemasaran yang mencoba mengakui dan mendamaikan lingkup dan kompleksitas kegiatan pemasaran. Pemasaran holistik mengakui bahwa segala sesuatu bisa terjadi pada pemasaran dan pemasaran perspektif yang luas dan terpadu sering dibutuhkan empat komponen dari pemasaran holistik yaitu relationship marketing, integrated marketing, dan social responsibility marketing.

Mari kita jelaskan satu persatu!

Kita menyadari, bahwa dalam marketing, perlu dibangun hubungan jangka panjang yang saling memuaskan dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan utama (pelanggan, pemasok dan distributor). Tujuannya agar bisnis bisa terus berlanjut. Inilah inti dari konsep relationship marketing. So, dalam marketing holistik, kita tidak boleh mengecewakan pihak manapun demi sekadar meraih keuntungan jangka pendek. Misal, penerbit, nggak boleh bikin penulis frustasi dengan cara mengobral buku tulisan mereka yang baru saja terbit beberapa bulan, hanya demi tercapainya likuiditas demi kesehatan rasio keuangan penerbit.

Dalam marketing holistik, perusahaan kudu bisa merekrut, melatih dan memotivasi karyawan yang mampu untuk bisa menjadi “pelayan” pelanggan yang baik. Jangan lupakan pula, bahwa semua divisi di dalam sebuah usaha itu harus saling menyatu, karena marketing terlalu penting untuk diserahkan hanya kepada satu divisi khusus. CEO yang baik, harus berorientasi marketing. Manajer produksi, keuangan, SDM, dan divisi lain, harus berintegrasi dengan divisi khusus marketing. Inilah konsep integrated marketing.

Terakhir, social responsibility marketing. Intinya, kalau kamu punya usaha, kamu tidak tinggal sendirian di dunia ini. Ada pihak-pihak yang terkait di luar jejaring konsumen-agen-produsen. So,  konsep pemasaran holistik menuntut para pemasar untuk memasukkan pertimbangan sosial dan etis ke praktik pemasaran mereka. Para pemasar harus menyeimbangkan dan mengatur-atur kriteria yang sering bertentangan dengan laba perusahaan, pemuasan keinginan konsumen dan kepentingan publik.

Nah, menurut Kotler dan Keller, sesungguhnya konsep pertama hingga ketiga, adalah konsep marketing purba. Orientasi konsep tersebut bukan asumsi konsumen, tetapi asumsi produsen. Malah, dosen marketing saya menyebut, jika Anda berbisnis dengan tiga konsep pertama tersebut, sesungguhnya kita sama derajatnya dengan pemain judi.

Mari menjadi marketing yang dirindukan konsumen. Marketing yang memahami kebutuhan mereka, lalu memberikan penawaran yang sesuai (atau bahkan lebih) dari ekspektasi mereka. Percayalah, Anda bukan lagi menjadi hantu, tetapi justru pahlawan.