Berbagi tak akan membuat kita kehilangan arti. Berbagi, untuk kebahagiaan hakiki...

On 13:58 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments
Penayangan Serial Mahabharata di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu terakhir ini, disambut gegap-gempita oleh masyarakat Indonesia. Meski saya hampir tidak pernah nonton televisi, melihat status teman-teman saya di socmed yang sering sekali membicarakan serial ini, saya menyimpulkan bahwa demam Mahabharata sedang melanda bangsa kita. 

O, ya… Soal matinya televisi di rumah kami itu karena saya, suami dan anak-anak membuat kesepakatan bahwa TV hanya boleh menyala hari libur saja. Dan mungkin karena aktivitas kami semua di hari aktif sangat padat, liburan seringkali lebih dimanfaatkan untuk refreshing dengan melakukan aktivitas-aktivitas hobi ketimbang menekuri televisi. Anak saya yang pertama, Anis, sangat keranjingan membaca. Waktu luang bagi dia adalah saatnya melahap buku-buku kesayangannya. Sementara, Rama, anak kedua, sangat suka menggambar dan mendesain dengan komputer. Meski baru 8 tahun, Rama lumayan mahir menggunakan corel draw dan photoshop. Sedangkan si bungsu, belum terlalu terlihat kecenderungannya. Tetapi nimbrung dengan si kakak, atau terkadang main-main dengan puzzle, lego dan hotwheel, jauh lebih disukai daripada nonton televisi. Kadang, mereka juga nonton tivi atau video, tapi acaranya paling hanya film-film kartun sejenis Boboy Boy atau Upin-Ipin. 

Kembali ke Mahabharata, ya … jadi intinya, sekarang Mahabharata sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia. Khususnya ibu-ibu dan remaja putri. Alasannya … hm, oke deh, ada yang bilang kisahnya filosofis sekali. Banyak kebaikan yang bisa diambil. Tetapi, kayaknya banyak juga yang beralasan bahwa pemeran serial ini rata-rata good looking, bahkan untuk yang memerankan karakter antagonis. 

Maraknya serial ini, seperti biasa memicu kontroversi. Ya, apa sih, di Indonesia yang tak memicu kontroversi. Catet deh, mulai dari soal ASI vs Non ASI, ibu rumah tangga vs ibu karir, imunisasi vs non imunisasi, sampai capres ini vs capres itu, penentuan awal Ramadhan dan sebagainya. Bagi yang anti Mahabharata, tayangan ini dinilai banyak mengandung ajaran-ajaran paganisme, penyembahan dewa-dewi—yang bertentangan dengan aqidah keislaman, juga kontroversi poliandri yang dilakukan oleh Drupadi, tokoh sentral dari kisah ini. Sementara, bagi yang pro, mereka menganggap bahwa Mahabharata banyak sekali memberikan ajaran-ajaran yang baik. 

Sebagai orang Jawa, Mahabharata bukan sesuatu yang asing buat saya. Kakak saya ada yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit purwa. Ayah saya juga budayawan. Jadi, tanpa harus ikut menekuri serial itu di televisa, saya sudah sangat akrab dan bahkan hapal dengan kisah-kisah dalam Mahabharata, ataupun Ramayana. Hanya saja, Mahabharata yang saya kenal tentu versi Jawa. Saya ingat, bahwa pertunjukan wayang kulit adalah sesuatu yang sangat digemari di masyarakat saya dahulu. Zaman saya kecil dahulu, setiap ada orang menikah, biasanya akan menanggap wayang kulit semalam suntuk. Dalang-dalang yang kondang pada saat itu antara lain Dalang Sugino, Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono dan sebagainya. Ayah saya mengoleksi kaset-kaset rekaman dalang-dalang ini, kebanyakan produk Lokananta. 

Wayang kulit, yang mengisahkan lakon-lakon Mahabharata, adalah sesuatu yang sangat jamak dan menyatu dalam kultur masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini. Mungkin, faktor inilah yang sebenarnya membuat tayangan Mahabharata sangat booming, selain faktor-faktor yang saya sebut di atas. 

Wayang Kulit dan Penyebaran Islam 

Jika kita membaca sejarah, wayang kulit purwa (wayang yang mengambil kisah Mahabharata dan Ramayana), sebenarnya sudah dikenal dan marak di masyarakat Jawa sejak abad ke-10, yakni zaman Kahuripan, Kediri hingga Majapahit. Dominasi Hindu-Budha yang sangat kuat, memicu kreativitas para penyebar ajaran Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa, antara lain Walisongo. Salah satu teroboson kreatif yang dilakukan adalah menyebarkan ajaran Islam lewat wayang kulit. 

Tetapi, Mahabharata yang dimainkan dalam wayang kulit tersebut tentu saja disesuaikan dengan konsep Islam. Mulai dari pemilihan wayang kulit yang abstrak, sebenarnya didasari dari ajaran Islam, yang mana mayoritas ulama melarang aliran realisme dalam seni—seperti pembuatan arca-arca, patung dan bahkan juga penggambaran makhluk hidup. Bentuk abstrak yang dipilih merupakan keputusan cerdas, karena akhirnya wayang kulit bisa diterima oleh para ulama. 

Beberapa penyesuaian lain juga dilakukan oleh Walisongo. Drupadi, yang dalam Mahabharata versi India dikisahkan menjadi istri pandawa lima, dalam Mahabharata versi Jawa, dikisahkan hanya menjadi istri Puntadewa (Yudhistira). Ajian sakti milik Puntadewa, yakni Jamus Kalimasada, berasal dari kalimat syahadat. Di Mahabharata versi Walisongo, Siwa, Wisnu, Brahma juga hanya dewa-dewa biasa. Bahkan juga ada karakter Semar, yang dikisahkan menjelma jadi punakawan (pelawak), namun sesungguhnya dia lebih sakti dari Siwa. Sementara, peribadahan tertinggi ada pada Sang Hyang Wenang, yang tak lain adalah Allah yang Maha Tunggal. 

Luar biasa gebrakan Walisongo ini. Walisongo tahu, bahwa mengubah masyarakat tidak bisa begitu saja. Harus menggunakan pendekatan budaya. Alih-alih mendapat simpati, pendekatan konfrontatif pastinya hanya akan memicu penentangan. Karena itu, mereka mencoba menyusupkan pemahaman keislaman kepada kisah yang sangat dekat dengan masyarakat. Mereka menggunakan pendekatan yang soft, tidak frontal. Dan nyatanya, metode penyebaran Islam menggunakan wayang kulit purwa ini, terbukti sangat efektif. Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan cepat berkembang pesat dan mengalahkan Majapahit. Masyarakat pun berbondong-bondong masuk Islam. Meskipun banyak yang mengatakan islamnya sekadar islam abangan, bagi saya, jasa Walisongo sungguh luar biasa besar. Tinggal bagaimana kita saat ini berupaya meneruskan perjuangan Walisongo.

Jadi, bagaimana menyikapi Mahabharata? Saya yakin, Mahabharata menjadi booming, salah satunya tentunya karena kisah ini memang dekat dengan masyarakat Indonesia. Mengapa dekat? Karena sejarah yang sangat panjang itu. Maka, ketimbang kita mencela masyarakat yang menonton Mahabharata, mengapa kita tidak menempuh apa yang dilakukan Walisongo saja? Kita sisipkan pendekatan yang soft kepada masyarakat kita. Misal, dalam sebuah pengajian, ada seorang Ustadz yang untuk menarik simpati masyarakat, menggunakan kisah Mahabharata sebagai pintu masuk. Namun, kritik-kritik lembut dia sisipkan, sehingga akhirnya jamaah pengajiannya pun tahu apa-apa di dalam Mahabharata yang berbahaya. 

Adapun jika keluarga kita adalah keluarga muslim yang baik, saya anjurkan sebaiknya tidak menjadikan tayangan ini sebagai alternatif hiburan. Masih banyak hiburan-hiburan lain yang lebih lezat bergizi, kan? Misalnya, nulis novel setebal 1000 halaman. Ops! 

Keterangan: gambar dilihat di sini
On 11:07 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Alhamdulillah, buku perdana seri Sayap Sakinah, yang judulnya mirip dengan nama serinya, yakni "Sayap-Sayap Sakinah", mendapat respon positif dari pembaca. Saya tadinya agak heran, bukankah buku-buku pernikahan sudah begitu banyak, dan sebagian ada yang sangat booming? Tetapi, akhirnya saya bisa memahami, bahwa pernikahan adalah sesuatu yang memang akan dilakoni mayoritas dari kita. Selain itu, perspektif lain yang kami (saya dan Riawani Elyta) lambarkan di buku ini, ternyata terbaca juga oleh pembaca. Terbukti, beberapa testimoni bermunculan. Misal, ada yang mention akun Twitter saya, bahwa buku "Sayap-Sayap Sakinah" ini sangat perempuan. :-) ... banyak juga yang bilang, bahwa buku ini memang beda. Apa bedanya? Baca aja sendiri, hehe....

Cover buku "Sayap-Sayap Sakinah"

Nah, singkat kata, saat ini kami sedang mempersiapkan dua buku sekuelnya, yakni "Sayap-Sayap Mawaddah" dan "Sayap-Sayap Rohmah." Rencananya, dalam buku-buku Seri Sayap Sakinah, kami akan banyak melibatkan penulis luar untuk ikut meramaikan. Karena itu, di dalam buku "Sayap-Sayap Mawaddah", kami lewat Sayap Sakinah Center, mengundang 5 penulis tamu untuk ikut bergabung, dengan menyumbang bagian sisipan "True Story". Biar seru, maka kami adakan lomba ini.

Ikutan, yuk!

LOMBA MENULIS KISAH SEJATI
“MIRACLE OF LOVE IN MARRIAGE”

Mungkin Anda mengalami sendiri, atau pernah memotret sebuah pengalaman indah dari orang-orang di sekitarmu tentang indahnya sebuah kisah sejati yang melukiskan keajaiban cinta dalam sebuah pernikahan. Keajaiban yang melibatkan dua pelaku, suami dan istri, yang telah bertekad hidup bersama dalam ikatan yang diridhai-Nya.
Mari bagi kisah tersebut dalam lomba ini!

PERSYARATAN
1. Lomba terbuka untuk umum, baik yang sudah menikah maupun yang masih lajang (namun telah memasuki usia pernikahan/baligh)
2. Kisah harus inspiratif, penuh hikmah, based of true story, ditulis dengan gaya narasi/bercerita, diizinkan penambahan imajinasi secukupnya
3. Panjang naskah 4-7 halaman kertas A4, font 12, Time New Roman, margin normal
4. Naskah dilampiri dengan:
  • a. Biodata lengkap, nomor rekening, dan nomor telepon/HP yang aktif
  • b. Link upload foto diri bersama buku “Sayap-Sayap Sakinah” disertai dengan kutipan isi buku (boleh di Twitter, Facebook, Blog dsb.)
5. Naskah dikirim via email ke sayapsakinah@gmail.com
6. Wajib me-LIKE fanpage www.facebook.com/sayapsakinahcenter dan mem-follow akun twitter www.twitter.com/sayapsakinah
7. Batas akhir pengiriman naskah 15 Desember 2014
8. Pengumuman pemenang 1 Januari 2015 di web www.sayapsakinah.com
9. Naskah pemenang menjadi milik panitia dan akan dimuat di buku “Sayap-Sayap Mawaddah” yang ditulis oleh Afifah Afra dan Riawani Elyta

HADIAH
Juara 1 : Uang Tunai Rp 750.000,- + Piagam + Paket Buku Indiva
Juara 2 : Uang Tunai Rp 600.000,- + Piagam + Paket Buku Indiva
Juara 3 : Uang Tunai Rp 400.000,- + Piagam + Paket Buku Indiva

Dua Pemenang Harapan, masing-masing uang tunai Rp 250.000 + Piagam + Paket Buku Indiva

JURI
Afifah Afra
Riawani Elyta
On 11:24 by Yeni Mulati Afifah Afra in    No comments

*Untuk A.S.*

Anda cinta adalah suara
Aku ingin menjadi pepohonan
Pantulkan gaungmu,
Dan kembali padamu
Lebih merdu

Andai cinta adalah cahaya
Aku ingin menjadi cermin
Pancarkan kembali
Bayang dirimu
Lebih cemerlang

Duhai, andai cinta adalah api
Aku ingin menjadi kayu
Kau bakar habis
Jadilah abu*)
Suburkan ladang kita

Kasihku
Andai cinta adalah ombak
Aku ingin menjadi karang
Percikkan kembali sapuanmu
Jadi kembang pelangi

Andai cinta adalah bebatang padi
Aku ingin menjelma sabit
Membabatnya kala panen tiba
Lalu menjadilah butiran nutrisi

Andai cinta adalah tanah tegalan
Akulah cangkul
Memecah kerasnya
Jadi hamparan gembur

Andai cinta adalah selembar kertas putih
Aku ingin menjadi tinta
Sekilas mengotorinya
Tetapi karenanya dia menjad ada

Andai cinta adalah bongkahan cadas
Aku ingin menjadi palu
Membelah batu-batu
Jadi bahan baku istanamu

Andai cinta adalah kamu
Ingin benar ku menjelma cabe pedas
Berada dalam sambal kesukaanmu
Agar kamu semangat selalu

Solo, 17-10-2014

*) kalimat tersebut terinspirasi puisi Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin Mencintaimu”
On 14:13 by Yeni Mulati Afifah Afra in    1 comment
Tema kecerdasan majemuk sebenarnya sudah sangat sering kita dengar, ya… saya sendiri sampai bosan, karena setiap saya membaca buku parenting dengan tema kecerdasan, hampir semua membahas tipe kecerdasan ini. Tetapi, ternyata masih ada sebagian orang tua yang berpikir kolot. Orang tua zaman sekarang, lagi! Saya mikir, ini orang tua baca buku, nggak sih? Kok masih ngotot bahwa kecerdasan itu ya Matematika, Fisika, atau Bahasa Inggris.
Eh, tapi jangan salah, ya… kadang, para orang tua yang sudah paham rumusan kecerdasan majemuk, juga masih terjebak pada pemikiran konservatif zaman Eyang Buyut kita. Ya, memang teori itu relatif lebih mudah diomongkan dan dihapal ketimbang diaplikasikan, ya… Makanya, saya sering prihatin kepada para orang tua yang masih saja berpikiran bahwa anaknya itu bodoh. Pas-pasan. Tak punya potensi.
Hello, Papa, Mama! Stop berpikiran demikian. Setiap anak, sesungguhnya terlahir jenius. Mereka manusia unggul. Proses penciptaan manusia sendiri melibatkan sebuah proses kompetisi yang luar biasa sengit. Bayangkan, jutaan sperma ‘berlomba’ memperebutkan satu sel telur (ovum). Jika Anda seorang dokter yang merasa bangga, karena berhasil menyisihkan ribuan pesain Anda saat ujian masuk perguruan tinggi, satu sperma excellent yang berhasil membuahi satu sel telur, jauuuh lebih hebat dari seorang dokter. Dan, jika akhirnya sperma dan ovum itu bersatu menjadi zygot, lalu zygot itu berkembang jadi janin, dan janin itu lahir jadi bayi, lantas, mengapa saat bayi itu sudah berbentuk seorang anak, Anda hinakan dengan makian: bodoh!
Well, tak ada anak bodoh. Yang ada adalah orang tua yang tidak peka dengan potensia anak. Apa saja tipe-tipe kecerdasan itu? Howard Gardner telah merumuskan 8 tipe kecerdasan sebagai berikut:
1.      Kecerdasan mengolah kata (word smart). Para penulis, penerjemah, diplomat, pengacara, pakar bahasa atau para pekerja di bidang public relation, wajib memiliki kecerdasan di bidang ini.
2.      Kecerdasan mempersepsi apa yang kita lihat (picture smart). Contoh bidang ilmu yang membutuhkan kecerdasan tipe ini adalah teknik arsitektur, desain komunikasi visual, para ahli tata kota dan sebagainya.
3.      Kecerdasan dalam hal musik (music smart). Anda pasti memahami, bahwa Bethoven, Mozart, sampai Mariah Carey bisa demikian mendunia… ya, itu semua berkat kecerdasan musical yang mereka miliki.
4.      Keterampilan dalam olah tubuh dan gerak (body smart). Menjadi olahragawan sekelas Roger Federer atau Maria Sharapova, atau menjadi penari handal tentu membutuhkan kecerdasan tipe ini.
5.      Kecerdasan dalam sains dan matematika (logic smart). Anda kenal Profesor Yohanes Surya? Pembina para peserta olimpiade Fisika ini bisa sedemikian hebat karena mampu mengoptimalkan kecerdasan logical yang ia miliki.
6.      Kecerdasan dalam memahami pemikiran dan perasaan orang lain (people smart). Para pemimpin besar, psikolog, manajer SDM yang handal, ataupun trainer kepribadian, jelas membutuhkan kecerdasan tipe ini.
7.      Kecerdasan dalam mengenali diri sendiri (self smart). Kecerdasan ini mutlak diperlukan agar kita bisa membuat langkah-langkah tepat, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita bisa menjadi diri sendiri, tak hidup dalam bayang-bayang orang lain. Profesi apapun, tampaknya membutuhkan kecerdasan tipe ini.
8.      Kecerdasan dalam mengamati alam (nature smart). Pernah menyaksikan film-film documenter tentang kehidupan satwa liar di rimba-rimba Afrika? Film-film yang menawan itu, tak akan mampu tercipta tanpa adanya sosok-sosok dengan kecerdasan natural seperti tersebut di atas. Menjadi seorang petani yang sukses, peternak atau pengusaha perikanan juga membutuhkan kecerdasan natural yang lebih dari orang kebanyakan.

Baru-baru ini, Gardner menambahkan tipe kecerdasan dengan satu jenis kecerdasan lagi, yaitu kecerdasan eksistensi, yakni kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Mengapa aku ada, untuk apa aku diciptakan, dan sebagainya.
So, jika kita merasa bodoh dalam bidang matematika atau bahasa, mungkin sebenarnya, kita memiliki kelebihan di bidang lain. Bahkan seorang anak yang mengalami kerusakan otak pun—menurut Thomas Armstrong dalam bukunya, ‘Setiap Anak Cerdas’—jika dididik dengan tepat sesuai potensi yang masih ia miliki, bisa saja menghasilkan prestasi yang spektakuler.
Masih menuduh anak kita bodoh? Jangan-jangan, kita sendiri yang ‘kurang ilmu’.


On 11:01 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    1 comment
sumber: www.nnnews.org 
Hmm, bahasan blog ini kok jadi serius, ya… jangan manyun gitu, dong! Kan hidup ini memang kompleks, jadi membutuhkan keseriusan. Kalau memang nggak paham dalam satu baca, ya baca lagi, baca lagi, baca lagi. Diulang-ulang. Gitu, ya, Cyiiin (ini khusus panggilan untuk para pembaca yang emak-emak, hehe).

Di bahasan Memaksimalkan Pertumbuhan Otak di Periode Golden Age Bagian 1, kita sudah mendiskusikan soal nutrisi dan apa pentingnya bagi proses pertumbuhan otak si bebi. Nutrisi ini ternyata tak hanya dibutuhkan saat hamil lho, tetapi jauh-jauh hari kita harus sudah mentradisikan mengasup nutrisi yang sehat. Bahkan, persiapan itu sudah sejak lajang, lho. Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh pernah bercerita, bahwa beliau mempersiapkan diri untuk memiliki generasi andal sejak beliau SMP, lho! Maka, beliau sangat anti terhadap makanan-makanan kategori ‘junk food’.

Nah, selain faktor nutrisi, stimulasi juga sangat penting. Stimulasi, atau pemberian rangsangan-rangsangan, akan berpengaruh setidaknya pada 2 hal, yaitu proses mielinasi dan pembentukan sinaps. Dengan stimulasi yang konsisten, mielinasi akan berlangsung dengan baik. Demikian juga dengan pembentukan sinaps.

Di posting terdahulu, saya telah memaparkan apa pentingnya mielinasi, ya… coba dibuka lagi deh J Sekarang, kita akan bahas soal pembentukan sinaps.

Sinaps, dalam bahasa sederhana, adalah hubungan antar sel otak. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, sel otak yang satu perlu berkomunikasi dengan sel otak yang lainnya. Komunikasi akan terjalin jika ada hubungan antar sel, persis seperti daerah yang satu dihubungkan dengan sambungan telepon dengan daerah yang lain. Sebanyak apapun jumlah sel otak, dan sebesar apapun ukurannya, tentu tak akan ada artinya jika tidak bisa saling berkomunikasi, bukan?

Nah, saat bayi lahir, sel-sel otak mereka masih berdiri sendiri-sendiri, belum saling menyatu. Proses stimulasi, akan membuat sel-sel otak itu saling berhubungan. Semakin banyak sinaps yang terbentuk, seseorang akan semakin cerdas.

Stimulasi, pada prinsipnya bisa dilakukan hingga usia berapa pun. Bahkan, jangan pernah berhenti menstimulasi otak, meskipun kita sudah menjadi orangtua yang sudah 'bau tanah'. Menghentikan proses stimulasi akan membuat sinaps yang sudah terbentuk menjadi lepas. Pikun, adalah salah satu efeknya. Stimulasi, pada prinsipnya adalah menjadikan otak senantiasa belajar. Senantiasa belajar, akan membuat otak senantiasa terasah, dan kita akan terhindar dari kepikunan.

Akan tetapi, pada masa golden age memiliki keistimewaan tersendiri. Pada saat itu, otak benar-benar sangat peka terhadap rangsangan dari lingkungan, sehingga inilah saat paling tepat untuk menstimulasinya. Pada saat tersebut, otak diibaratkan kaset kosong yang akan sangat cepat merekam segala sesuatu dan menyimpannya dengan sangat baik dalam memorinya.


Baca juga: 

Memaksimalkan Pertumbuhan Otak di Periode Golden Age Bagian 1
On 10:32 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Jeruk, banyak mengandung asam folat alami
Kondisi otak seseorang, sangat dipengaruhi oleh faktor genetis dan lingkungan. Orang yang cerdas, akan memiliki kecenderungan besar untuk memiliki keturunan yang cerdas pula. Beberapa teman yang memiliki kompetensi keilmuan yang mendukung, pernah menyebutkan, bahwa secara genetis, kecerdasan diturunkan lewat jalur ibu. Ini mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi para lelaki saat memilih jodoh, hehe.
Tetapi, itu hanya soal genetis! Saat belajar genetika di kampus dahulu, berkali-kali saya dijejali teori, bahwa faktor genetis hanya menyumbang peran kecil dalam pembentukan fenotip (sifat-sifat yang muncul pada individu).  Maka, jangan abaikan faktor lingkungan (environment), karena perannya justru jauh lebih dominan.
Faktor lingkungan merupakan faktor yang bisa kita upayakan. Terkait dengan proses pertumbuhan otak, khususnya di masa golden age, kita bisa melakukan optimalisasi pada pemberian nutrisi yang tepat dan stimulasi. Ya, catat sekali lagi ya: NUTRISI dan STIMULASI.
Bahkan, pewarisan gen dari orangtua, juga dipengaruhi pula oleh faktor nutrisi, lho. Jika seorang bayi kekurangan gizi—yang sangat parah, misalnya pada kasus gizi buruk—maka gen-gen dari orangtua tidak akan diturunkan dengan sempurna. So, meski ortunya secerdas Profesor Habibi, kalau anak tidak mendapatkan nutrisi sesuai kebutuhan, transfer keajaiban genetis tak akan berjalan dengan baik. Maka, harus diperhatikan para ibu nih, khususnya yang sedang hamil dan menyusui, bahwa setiap suap yang Anda makan, sangat berpengaruh terhadap bayi Anda.

NUTRISI
Yup, jadi intinya, nutrisi berpengaruh besar pada pertumbuhan otak bayi. Beberapa zat yang sangat dibutuhkan antara lain adalah DHA, kolin dan asam folat.
DHA adalah asam lemak esensial yang merupakan salah satu komponen penyusun membran sel otak. DHA secara alami ditemukan pada ASI, juga dihasilkan dari makanan-makanan mengandung asam lemak omega 3. Minyak pada ikan, misalnya salmon, tengiri, juga telur, mengandung DHA yang cukup tinggi.
Asam folat diperlukan untuk membantu menurunkan resiko terjadinya kerusakan tabung syaraf (neural tube defect) pada bayi anda. Ibu hamil membutuhkan setidaknya 400 mcg - 600 mcg asam folat setiap harinya. Selain dari susu dan suplemen, asam folat bisa didapatkan di jeruk bali, papaya, alpukat, jeruk, stroberi, bayam, jagung, kentang, brokoli, wortel, seledri, bunga kol dan sebagainya.  
Adapun kolin, fungsinya terkait pertumbuhan otak adalah membantu mempercepat sintesis dan pelepasan asetilkolin yang merupakan suatu neurotransmiter. Kebutuhan harian kolin yang direkomendasikan untuk wanita hamil adalah 450 mg, sedangkan untuk wanita yang menyusui adalah 550 mg. Daging sapi, telur, hati ayam, kacang kedelai, kol dan bunga kol, kacang tanah, bayam, brokoli, dan sebagainya, adalah makanan-makanan yang secara alamiah mengandung kolin.
Protein juga sangat penting, karena merupakan nutrisi yang berperan sebagai zat pembangun sel-sel tubuh (termasuk sel otak) dan mengatur fungsi-fungsi tubuh lainnya. Juga jangan abaikan nutrisi-nutrisi lainnya, yang secara langsung maupun tidak langsung, akan sangat terlibat dalam proses pertumbuhan otak. Makanan apa saja yang mengandung protein? Tampaknya kita semua sudah tahulah… hehe. Ikan, daging, telur, kacang-kacangan dan sebagainya.
Gizi buruk, seperti disebutkan di atas, akan menyebabkan otak bayi kekurangan DNA (materi genetik) atau menurunnya kecenderungan genetik. Pewarisan gen dari orang tua kepada anak menjadi terhambat, yang tentu saja akan membuat si anak tidak secerdas orangtuanya secara genetis. Gizi buruk juga akan menyebabkan konsentrasi protein menurun, padahal protein adalah unsur penting dalam pembangun dan pengatur sel otak. Oleh karenanya, sangat wajar jika ukuran dan berat otak juga tidak akan maksimal. Proses mielinisasi pun mengalami hambatan yang serius, dan percabangan dendrit pun hanya terbentuk sedikit.
Tetapi, ingat! Saat kehamilan, bayi anda hanya membutuhkan tambahan kalori sekitar 300 kalori saja. Jadi, jangan terlalu banyak mengonsumsi gula atau karbohidrat. Konsumsi dalam jumlah besar justru akan menyebabkan penggumpalan sel, yang membuat darah sulit masuk ke kapiler pembuluh dalam tubuh, sehingga bayi beresiko kekurangan gizi dan oksigen. Juga, hindari sama sekali alkohol. Alkohol akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah serta merusak neurotransmiter dan berbagai keburukan lainnya.
BERSAMBUNG

BACA JUGA
On 07:21 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Ketika saya memposting artikel Awas, Kesalahan Konsep di Usia 'Golden Age'! ada beberapa teman yang ingin memahami lebih jelas, apa sih yang dimaksud dengan usia Golden Age? Hm, saya sih sebenarnya tahu, sebagian dari teman-teman itu sudah paham sekali. Malah mungkin lebih pintar ketimbang saya. Jadi, ceritanya cuma mau ngetes saya saja, gitu xixixi.

Tetapi, karena memang mungkin ada yang belum tahu, dan nyata-nyatanya, saya juga sering melihat para ibu seperti menyia-nyiakan begitu saja periode emas ini terlewat dari putra-putrinya, maka saya pun mencoba mengobrak-abrik koleksi artikel saya. Nah, ketemu deh, artikel ini. Selamat membaca!

Kapan Anak Mengalami Golden Age?

Usia emas, sering dialamatkan pada keadaan di mana otak seorang manusia tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat, yaitu usia 0-3 tahun. Kita semua tahu, apa fungsi otak bagi tubuh manusia bukan? Apakah anda bisa membayangkan, bagaimana jika seseorang tidak memiliki otak? Ya, otak berfungsi untuk mengkoordinasi seluruh fungsi tubuh sehingga bisa berjalan dengan baik. Otak adalah pusat kecerdasan, karena di dalamnya kita menyimpan segala memori. Otak orang dewasa berbobot sekitar 1,5 kg. Di dalamnya terdapat sekitar 10 hingga 15 milyar sel saraf yang mampu membuat 10800 jalur! Kesimpangsiuran jalan-jalan di kota Jakarta bukan apa-apanya dibanding  yang bisa ditemui di otak.

Saking dahsyatnya kemampuan otak tersebut,  Richard Restak M.D, seorang ilmuwan, mengatakan bahwa otak manusia dapat menyimpan informasi yang lebih banyak daripada seluruh perpustakaan di dunia.[1] Pun jika seluruh sambungan telepon di dunia dikumpulkan, ternyata masih kalah dibanding dengan otak. Dengan demikian, sesungguhnya, manusia itu bisa menjadi sangat cerdas ... kecerdasan yang barangkali tidak akan terbayangkan sebelumnya.

Coba anda pikirkan! Pada tahun 1944, ketika perusahaan komputer IBM membuat komputer pertama di dunia, yakni Harvard Mark I, beratnya mencapai 5 ton dan terbuat dari kabel sepanjang 500 KM. Anda tahu berapa ukuran komputer tersebut? 2,4 x 15,3 meter persegi. Hampir separuh lapangan badminton! Bahkan Taufik Hidayat pun bisa berlatih mensmesh bulu angsa di atasnya. Namun 'hebatnya', dengan ukuran sebesar itu, ternyata si komputer hanya mampu menyimpan 72 angka. Bandingkan dengan yang terjadi sekarang! Di zaman kiwari ini, para pakar teknologi informasi berhasil menciptakan komputer yang bisa dijinjing kesana kemari dengan satu tangan, berupa laptop, yang ukurannya jauh lebih kecil, namun bisa menyimpan hingga belasan milyar angka pada hard-discnya. Telah terjadi pelipatgandaan kecepatan hingga ratusan juta kali pada teknologi itu. Dan inilah perubahan yang sangat drastis pada perkembangan otak manusia![2]

Apakah anda pernah membayangkan, seperti iklan sebuah susu, bahwa orang yang berhasil menemukan teknologi sehebat itu... adalah buah hati anda? Satu abad silam, orang pun mungkin tidak pernah membayangkan, jika jarak antara Jakarta dengan Surakarta, ternyata hanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Coba bandingkan dengan kisah penyerbuan pasukan Sultan Agung ke Batavia yang hanya menunggang kuda dan memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu! Pesawat terbang yang dulu tak terbayangkan oleh otak manusia—kecuali hanya dalam cerita-cerita fiksi, kini telah menjadi sarana transportasi yang umum dan relatif terjangkau. Apakah anda pernah membayangkan, masih meniru sebuah iklan susu, jika salah seorang insinyur yang terlibat dalam penciptaan pesawat jet supercanggih itu—atau bahkan pesawat luar angkasa yang mampu membawa manusia terbang ke planet lain—adalah anak anda?!

Tak usah hanya membayangkan, karena anda sebenarnya bisa mengikhtiarkan agar anak anda memiliki level kecerdasan yang mengagumkan. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan kepekaan otak anak pada masa golden age seoptimal mungkin.

Anda perlu tahu, bahwa sejak pembuahan hingga usia 5 bulan saat kehamilan, sel otak terus diproduksi. Nah, pada usia 5 bulan kehamilan tersebut, banyaknya sel otak seorang manusia telah ditentukan. Setelah itu, tak ada lagi sel otak yang dibuat! Kemudian, pada usia 20 minggu kehamilan hingga bayi lahir dan mencapai usia 2 tahun, sel-sel otak mengalami proses isolasi (mielinisasi) yang berlangsung sangat pesat, untuk kemudian melambat dan sempurna pada usia 4 tahun. 

Selanjutnya, lewat usia 4 tahun hingga menjelang dewasa, proses yang terjadi pada sel-sel otak lebih banyak berupa proses pembentukan sinaps (hubungan antara satu sel otak dengan sel otak lain), yang juga terkait dengan proses kecerdasan. Kita akan bahas tentang mekanisme ini di lain kesempatan, ya....

Mielinisasi Sel-Sel Otak

Apa itu mielinisasi? Dalam buku How To Have A Smarter Baby, Dr. Sarah Ludington-Hoe dan Susan K. Golant membuat sebuah ilustrasi yang menarik, dengan menyamakan antara sel-sel otak tersebut dengan kabel listrik. Seberapa besar rasa frustasi para tukang listrik jika kabel-kabel listrik yang jumlahnya milyaran tersebut tidak dibungkus oleh isolator? Apa yang akan terjadi dengan kabel-kabel tersebut? Konsleting, tentu saja!

Ya, sel otak yang terdiri dari akson, badan sel dan dendrit itu memang diisolasi dengan semacam pembungkus yang disebut dengan myelin. Coba lihat gambar ini!


Selubung Myelin, diambil dari www.nnnews.org
Proses pembentukan mielin disebut dengan mielinisasi. Keberadaan myelin sheath (selubung mielin) tersebut, menyebabkan pancaran pesan pada sel-sel tersebut berlangsung segera dan efesien. Adanya selubung mielin memungkinkan adanya koordinasi dan pergerakan otot dengan cepat. Jika mielinisasi berlangsung sempurna, maka seseorang akan bisa berpikir lebih cepat, tidak 'lola' alias loading lama alias tulalit, alias oon. Dan, kita semua tahu, ya... bahwa berpikir cepat adalah salah satu bentuk kecerdasan.

Selain mengalami mielinisasi, sel-sel otak pada masa itu juga tumbuh cepat. Ukuran dan kompleksitasnya berubah. Dendrit terbentuk, membentuk percabangan di sana-sini, badan sel membesar, dan akson pun bertambah panjang. Percabangan sel otak, yang kemudian bersatu dengan sel otak lain  membentuk sinapsis. Adanya sinapsis ini memungkinkan sel otak (neuron) yang satu melewatkan sinyal listrik ke sel otak lain. Jadi, semakin banyak sinapsis yang terbentuk, seseorang juga akan semakin cerdas.

Pada usia 8 bulan kehamilan hingga kelahiran, berat otak bayi naik 2 kali lipat, dan mencapai 25% otak orang dewasa. Kondisi tersebut secara drastis terus berkembang, hingga pada usia 6 bulan, si bayi ternyata telah memiliki 50% otak orang dewasa. Usia 1 tahun, kapasitas otak telah mencapai 70% otak dewasa, dan pada usia 3 tahun, kapasitasnya telah mencapai 90% kapasitas maksimumnya. Inilah masa-masa yang disebut dengan nama golden age, usia emas. Pada masa ini, otak sangat peka dengan apa-apa yang terjadi di sekitarnya, sehingga baik rangsang negatif maupun positif, akan memberi andil yang sangat signifikan terhadap ‘cetakan’ yang di hasilkan.

Jadi, anda jangan heran, jika melihat ada anak usia 3 tahun, ternyata telah memiliki pemikiran yang mengalahkan orang dewasa, atau bisa menghafal sekian juz Al-Quran. Justru mulai mengajarkan anak sesuatu dari usia dini, sangatlah tepat, karena otak masih sangat peka terhadap stimulasi dari lingkungannya.

Tabel 1. Perkembangan Otak Manusia Pada Periode Emas

Usia
Kapasitas Otak
Saat lahir
25% otak dewasa
6 bulan
50% otak dewasa
1 tahun
70% otak dewasa
3 tahun
90% otak dewasa





[1] Wycoff, 2005 hal. 30
[2] Kompas, Minggu 13 Agustus 2006 hal. 18
On 08:36 by Yeni Mulati Afifah Afra in    6 comments
Anis Bukan Guguk, Anis Ikan....

Ketika anak saya yang pertama, Anis, berusia sekitar dua tahun, dia sangat menyukai sebuah lukisan bergambar ikan. Ada sembilan ikan, dengan ukuran yang beragam. Saking senangnya dengan lukisan itu, Anis, nama panggilan anak saya itu, sering memandangi lukisan itu melalui sepasang mata penuh binarnya. Lalu, dari bibir mungilnya, kalimat-kalimat cedalnya keluar.
Ni capa?” ia menunjuk ikan yang paling besar.
“Itu Ayah. Ayah ikan ...,” ujarku, asal. Bermaksud mencandainya.
“Ni, Bunda ikan?” tanyanya lagi, menunjuk satu ikan besar lainnya. Matanya membesar. 
Aku mengangguk sembari mengulum senyum. Merasakan betapa adegan ini sangat lucu. “Betul, Nak.”
“Ni ... Anis ikan?”
Kini aku mengerutkan kening. Anis ikan? O, o… Ya, aku paham. Dalam semesta pemikiran Anis, ketika ada Ayah, ada Bunda, pasti ada Anis.
“Ya, sayang ....”
“Ni, adek ikan?”
Anis saat itu belum punya adik, tetapi ia sudah tahu konsep adik. Bagi dia, anak yang lebih kecil darinya, adalah adik. Ia juga sering memanggil bayi-bayi tetangga dengan sebutan ‘adek’, mungkin ikut-ikutan para tetangga yang juga sering memanggil dengan sebutan itu. Ia juga tahu, bahwa ia tak punya kakak. Ia anak pertama.
“Ya, sayang,” aku mengangguk lagi.
Anis pun tertawa-tawa, sembari kembali menunjuk-nunjuk gambar tersebut. Mulutnya terus mengeluarkan suara kecil yang merdu. “Ni Ayah ikan, ni Bunda ikan, ni Anis ikan, ni … adek ikaaaan!” lalu ia bertepuk tangan saking senangnya.
Entah berapa kali  ia mengulangi hal tersebut.
Aku sungguh tak tahu, bahwa apa yang terjadi saat itu, ternyata tertanam di benak Anis, dan memasuki memori jangka panjangnya.
Ini terbukti pada beberapa hari berikutnya, saat Anis meminta ditemani buang air besar. Seperti biasa, ia menuju ke kamar mandi sembari menarik tanganku.
“Mi, ee’!” ujarnya. Aku pun mengantarkannya ke kamar mandi. Ia melangkah ke atas kakus dan buang air sembari berdiri.
“Anis, kok ee’-nya sambil berdiri?” tegurku. “Tahu ndak, yang ee’ sambil berdiri itu apa? Guguk itu ee’-nya berdiri, lho. Anis kan bukan guguk, Anis manusia, jadi ee’-nya sambil duduk, dong!”
Di luar dugaan, Anis menatapku dengan sinar mata menolak. “Bukan, Mi... Anis bukan guguk.”
“Iya, Anis kan manusia. Makanya ee’-nya jangan sambil berdiri.”
“Anis itu ikan Mi ... bukan manusia.”
Aku mengerutkan keningnya, bingung sesaat. Anis ikan ... mengapa bisa terucap perkataan itu dari bibir mungil itu.
Oh, aku menepuk jidat. Mendadak aku teringat dengan percakapan saat itu, tentang keluarga ikan. Tentang ayah ikan, bunda ikan, Anis ikan dan adek ikan. Semburat kesadaran seperti palu yang memukul kepalaku. Oh, ya Allah, ternyata apa yang kumaksud sekadar bercanda kemarin itu, telah membentuk sebuah logika yang keliru di benak Anis. Sesuatu yang kuanggap sebagai kelucuan anak kecil, telah menggoreskan pemahaman yang keliru. Celakanya, justru akulah yang menjadikan pemahaman itu salah.
Ketika Anis usai buang air kecil, cepat-cepat aku mencoba mengoreksi kesalahan itu. Kujelaskan bahwa Anis adalah manusia, bukan ikan. Kuperlihatkan gambar ikan, dan kujelaskan perbedaan ikan dengan manusia.
“Beda kan, antara ikan dengan manusia? Ikan tak punya tangan, tak punya kaki. Manusia punya.”
Otak anak, apalagi di usia-usia golden age seperti dia, ibarat kaset kosong yang menyerap berbagai informasi dengan sangat cepat. Kesalahan konsep yang terserap sejak dini, bisa menyebabkan ketersesatan di kemudian hari. Ibu yang bijak harus terus mendampinginya dan dengan sabar meluruskannya, bukan justru menjadikan sebagai sebuah komoditas humor belaka.
Menjadi ibu memang harus peka. Catat!

Baca juga artikel: 

Apa Itu Golden Age?
Memaksimalkan Pertumbuhan Otak di Periode Golden Age (1)