Alam Metafisika Dalam Pandangan Islam

  
oleh Yeni Mulati Ahmad
Metafisika adalah falsafat tentang segala sesuatu yang di luar alam biasa.[1] Ini bisa dimaknai sebagai segala sesuatu yang sifatnya ghaib, yakni keberadaan makhluk yang berada di sebuah alam yang tidak masuk dalam batas-batas dunia materi yakni yang unsur-unsurnya bisa dideteksi dengan indera. Inilah yang di dalam Al-Quran di sebut sebagai ruh[2]. Dalam KUBI, ruh atau roh didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak berbadan jasmani. Roh yang berada di dalam tubuh manusia disebut jiwa (nafs). Allah berfirman, “Aku telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku” (QS. Al-Hijr: 29).
Selain ruh pada manusia, Allah juga mengabarkan tentang keberadaan malaikat dan jin. Ini menegaskan bahwa sesuatu yang bernama ruh itu memang ada. Namun ia adalah semata urusan Allah. Keterangan yang diturunkan sangat sedikit, karena memang tidak ada manfaat yang bisa diperoleh dengan kita mempelajari masalah ruh, padahal Al-Quran diturunkan sebagai manfaat.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberikan pengetahun melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85).
Bagi orang-orang beriman, apa yang terdapat dalam ayat tersebut sudah cukup menjadi pegangan, bahwa kita tak perlu terlalu memperbincangkan keberadaan ruh, karena memang tak akan ada manfaat yang akan kita peroleh. Imam Hasan Al-Banna mengatakan bahwa menjelaskan masalah ruh ini sama dengan kita menceritakan tentang hakikat berbagai benda kepada orang yang buta sejak dilahirkan. Meskipun kita telah menjelaskan sejelas-jelasnya, mana mungkin orang buta tersebut paham akan penjelasan kita.
Akan tetapi, di masyarakat kita, rasa penasaran kalangan awam terhadap dunia yang satu ini ternyata telah dimanfaatkan betul untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Berbagai tayangan mistik seperti ‘Gentayangan’, ‘Memburu Hantu’ atau juga film-film yang laris manis di pasaran seperti ‘Jailangkung’, ‘Pocongan’, ‘Lantai ke-13’ bahkan juga pada sinetron-sinetron yang mengaku sebagai sinetron religi, membuat pemahaman masyarakat tentang ruh menjadi simpang siur. Sebagai seorang da’i, kita perlu menjelaskan konsep ‘makhluk halus tersebut’ sesuai dengan dalil-dalil yang syar’i.

MALAIKAT
Malaikat adalah ruh yang diciptakan Allah dari nuur. Malaikat tidak memiliki nafsu, sehingga ia tidak makan-minum, tidak melakukan hubungan seksual dan berbagai kegiatan syahwati lainnya. Malaikat merupakan makhluk yang menjadi utusan Allah  (yang mengurusi berbagai urusan) sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
“Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (yang mengurusi berbagai macam urusan) yang memiliki sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga atau empat.” (QS. Fathir: 1).
Allah telah memberi keterangan bahwa jumlah malaikat itu banyak, (dalam QS. Ali Imran: 124 disebutkan bahwa Allah telah menurunkan 3000 malaikat untuk membantu kaum mukminin), akan tetapi yang dikenal hanya ada 10, sebagaimana kita semua telah hapal.

JIN
Jin adalah  makhluk yang diciptakan Allah SWT dari api yang sangat panas (QS. Al-Hijr: 27) dan mampu menampilkan dirinya dalam berbagai bentuk. Sama dengan manusia, jin juga makan-minum, melakukan hubungan lawan jenis, serta beranak.Allah berfirman,
“Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Quran) dan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak. Dan bahwasanya orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta kepada Allah. Dan bahwasanya ada beberapa laki-laki dari manusia meminta perlindungan pada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu akan menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana persangkaan kamu bahwa Allah sekali-kali tidak membangkitkan seorang (rasul) pun. Dan sesungguhnya kami mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu mendengar-dengarkan, tetapi sekarang, barangsiapa yang (mencoba) mendengarkan-dengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai. Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. Dan sesungguhnya di antara kami ada yang shaleh dan ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami yang menempuh jalan yang berbeda-beda.”
Dalam Surat Al-Jin ayat 1-11, ada beberapa keterangan yang bisa kita peroleh, yakni:
1.      Terdapat sekumpulan jin muslim yang telah mendengarkan Al-Quran dan mereka kemudian beriman kepada Allah SWT.
2.      Namun ada pula dari jin-jin tersebut yang mendustakan Allah, inilah yang disebut sebagai iblis (lihat bagian Iblis!).
3.      Ada beberapa di kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada jin, maka jin-jin itu semakin menambah dosa dan kesalahan manusia tersebut. Jin-jin itu berpandangan bahwa mereka memiliki keunggulan atas manusia karena mereka meminta perlindungan pada jin. Jika jin melihat manusia takut kepadanya, maka jin itu akan semakin menambahkan kejahatan terhadap manusia dan menambahkan rasa takut kepada mereka.[3]
4.      Para jin mencoba mengetahui rahasia langit, maka mereka mendapati penjagaan yang kuat dari panah-panah api. Ketika mereka mencoba mencuri dengar dari langit, maka mereka akan terbakar oleh panah api tersebut. Dan apa yang mereka peroleh hanyalah sedikit saja. Ramalan, nujum dan sebagainya berasal dari jin-jin yang mencuri dengar berita dari langit. Dikuatkan dalam QS. Ash-Shaaffaat ayat 6-10, bahwa ada suatu tempat di langit yang disebut al-mala’ul a’la, yaitu tempat di mana para malaikat dan penghuni lainnya memperbincangkan hal-hal yang telah diwahyukan Allah berupa syariat dan kudrat-Nya. Para jin itu ada yang mencoba mencuri-curi dengar, lalu mereka diusir dan dilempari dengan sejenis bintang (atau pecahan bintang, bukan bintang itu sendiri—lihat tafsir Ibnu Katsir tentang QS. Al-Mulk: 5) dan dikejar suluh api hingga terbakar. Namun ada juga jin yang berhasil mencuri satu kalimat lalu disampaikan kepada setan yang lain, atau kepada para dukun.[4]

IBLIS DAN SYETAN
Allah berfirman, “Dan bahwasanya orang (jin) yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (QS. Al-Jin: 3). Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang mereka maksud dengan orang (jin) yang kurang akal dari kami, adalah iblis. Iblis merupakan pembesar dari golongan jin yang mendustai Allah.
Adapun tentang syetan, Allah secara tegas berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari golongan manusia dan dari golongan jin...” (QS. Al-An’am: 112).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat itu menunjukkan bahwa setan merupakan segala sesuatu yang menyimpang dari tabiatnya, berupa kejahatan. Sesungguhnya manusia itu memiliki setan dari kalangannya sendiri. Setan dari golongan manusia ini disebut sebagai al-khonnas.
Jadi, setan itu hanyalah sebuah sifat yang menjerumuskan kepada kekafiran. Yang menjadikan indah segala macam tindakan keji bagi pandangannya. Menurut Mujahid saat menafsirkan QS Al-An’am: 112 tersebut, “Jin-jin yang kafir adalah golongan dari setan. Mereka membisikkan perkataan-perkataan yang indah sebagai tipuan kepada setan-setan manusia berupa manusia yang kafir.”
Wallahu a’lam bish-showab.



[1] KUBI, hal. 766
[2] Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna, hal 75
[3] Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir IV hal 828
[4] Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir IV hal 18

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Alam Metafisika Dalam Pandangan Islam"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!