Chemistry of Love: Awas Kesetrum Feromon!

By Yeni Mulati

Chemistry Of Love
Awas “Kesetrum” Feromon!!!
Jatuh cinta itu berjuta rasanya, ya! Mulai dari asem, asin, manis, sampai pahit getir. Sebenarnya, kenapa sih, jatuh cinta kok sebegitu meriahnya? Ternyata, ketika kita falling in love tuh, di tubuh kita terjadi ‘kemeriahan’ yang ditandai dengan pengaturan pelepasan aneka jenis zat kimia yang secara alami memang bisa dihasilkan oleh tubuh. Apa aja zat-zat tersebut? Dan bagaimana mekanisme kerjanya, dan mengapa bisa bikin cinta terasa begitu indah? Kita bahas, yuk!


Feromon
Feromon berasal dari bahasa Yunaniphero’ yang artinya ‘pembawa’ dan ‘mone’ ‘sensasi’. Memang, feromon ini sering diidentikkan sebagai semacam ‘parfum’. Dilepaskan oleh individu, dan menjadi sinyal kimia yang ‘mengundang’ individu lainnya untuk mendekat. Biasanya, individu itu berasal dari jenis yang berlainan. Jadi, emang sensasional kan, kerja si fero... (jangan lupa ditambahi ’mon’).
Tapi, jangan bayangkan bahwa bau feromon itu seperti parfum lho. Kadang, feromon malah enggak berbau, atau melekat pada bau badan yang khas—karena pada manusia, feromon dihasilkan oleh kelenjar endokrin pada kulit. Nah, lho... beda banget sama parfum, ya?! Biasanya, feromon dikeluarkan pada saat kita berkeringat dan dapat bertahan pada pakaian, meskipun enggak lama, karena sifat feromon yang gampang menguap. Selain di kulit, feromon juga dihasilkan di ketiak, wajah dan kemaluan, serta mulai dihasilkan ketika seseorang telah menginjak usia baligh (dewasa).

Dalam Ensiklopedi Bebas Wikipedia, feromon diartikan sebagai zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin, yang digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Pada manusia, Feromon pertama ditemukan di Jerman, oleh Adolph Butenandt, ilmuwan yang juga menemukan hormon seks pada manusia yaitu estrogen, progesteron dan testosteron.
Apakah feromon itu termasuk hormon? Ternyata agak beda. Meskipun sama-sama dihasilkan kelenjar endokrin, hormon merupakan mesenger kimia yang hanya bekerja pada sel ’target’ atawa sel tertentu yang memang menjadi sasaran, sedangkan feromon itu, setelah dilepas, akan menyebar ke luar tubuh. Namun, feromon hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies). Feromon akan ditangkap oleh organ vomeronasal yang terdapat dalam hidung spesies yang menjadi target.
Prinsip kerja feromon kurang lebihnya begini. Suatu saat kamu bertemu dengan sosok yang menarik hatimu. Secara natural, kelenjar endokrin dalam tubuh kamu akan melepaskan feromon yang memancar keluar tubuh, dan tercium oleh sosok itu. Nah, feromon itu, akan memicu hipotalamus otak gebetan kamu itu untuk melepaskan hormon-hormon otak yang selanjutnya akan memicu hormon-hormon lain, seperti hormon gonadotropin (hormon pemicu dilepaskannya hormon testosteron, estrogen dan progesteron—hormon-hormon seksual).
Jadi, hati-hati ya, deket-deket sama lawan jenis. Salah-salah kamu terpikat sama dia dan terjerumus dalam pelanggaran syariah gara-gara feromon. Yah, memang kebutuhan cinta itu sesuatu yang instinktif. Gak hanya pada manusia, feromon pun ternyata ditemukan pada hewan—misalnya semut dan kepiting. Ular jantan misalnya, kalau bertemu dengan ular betina, dari dalam tubuhnya akan keluar feromon, yang masuk ke indera penciuman sang ular betina, dan memicu hipotalamus untuk mengeluarkan hormon-hormon gonadotropin, yang menimbulkan hasrat ’pengin’ bercinta.
Yah, kalau ular sih, nggak ada aturan syariahnya dalam masalah interaksi ular cowok sama ular cewek. Kalau manusia, lain lagi Non! Jadi, jangan deket-deket lawan jenis yang belum halal, kesetrum feromon baru tahu rasa!

Zat-zat Lain
O, ya Sobat. Ternyata, senyawa kimia yang terlibat dalam ’gemah-ripah’ percintaan enggak hanya feromon. Ada sederet yang lain, yaitu dopamine, norepinephrin, phenylethylamine dan serotonin. Zat Menurut para ahli, ketika jatuh cinta, komposisi zat-zat tersebut berubah.
·         Dopamine bertambah banyak. Hormon ini dikeluarkan dari hipotalamus otak dan bereaksi membuat kita tergila-gila, memuja-muja, euforia dan bahagia.
·         Norepinephrin—disekresi di bagian atas ginjal—bertambah banyak. Hormon ini memicu hormon adrenalin dilepaskan, yang membuat jantung berdetak lebih kencang, bergairah luar biasa sehingga enggak bisa tidur, enggak enak makan, hiperaktif—bahkan overacting.
·         Phenylethylamine (PEA) dilepaskan dari otak juga. Zat ini berperan mempercepat aliran informasi antar sel saraf, sehingga tubuh menjadi sangat excited. Ah, ya... PEA ini ternyata kaya akan zat ini lho. Makanya, jangan sembarang ngasih cokelat ke lawan jenis yang bukan mahram, bisa diartikan lain lho!
·         Serotonin, senyawa yang juga dikeluarkan oleh otak berkurang. Ini menyebabkan orang yang sedang jatuh cinta seperti orang stres. Melamun berjam-jam, crazy, serta sangat obsesif. Dengarlah lagu orang yang sedang dilanda demam cinta, ”Karena cinta, lautan berapi, pasti akan kurenang jua...” Wah, kenapa enggak sekalian lautan bom di Gaza?

Yang perlu kamu pahami nich, mekanisme kerja senyawa-senyawa itu, ternyata berawal dari rangsang indera. Indera (mata, pendengaran, penciuman, kulit dan lidah), akan menerima rangsang dari luar, dan diteruskan ke otak. Otak akan merespon rangsang itu dengan melepas hormon-hormon otak yang juga akan memicu pelepasan hormon-hormon lain. Okay, kamu bisa berdalih, nggak pada ngelihat lawan jenis yang berwajah keren asal bisa menjaga diri. Menjaga diri gimana? Kalau gong sudah ditabuh, kamu akan kuwalahan sendiri menahan laju kerja senyawa-senyawa yang sama sekali enggak bisa kamu lihat itu. Emangnya kamu mau membedah tubuhmu, mengeluarkan pembuluh darahnya dan mensterilkan darah dari senyawa-senyawa itu? Lakukan aja kalau berani!
Jadi, jaga indera kamu! Wajib! Kalau enggak pengin kesetrum feromon dan konco-konconya. [Afra. Dari berbagai sumber].

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Chemistry of Love: Awas Kesetrum Feromon!"

  1. selain di semut feromon juga ada di manusia ya, mbak? apa mungkin dengan fungsi yang sama tapi dengan nama yang beda yak?

    ReplyDelete
  2. Iya, semua binatang sebenarnya punya feromon. Termasuk manusia. Tetapi pada manusia, semakin hari mungkin semakin berkurang daya 'tebar pesona'nya...:-)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!