Hantu Bernama FUTUR


By Afifah Afra

Tahukah Mbak, saat aku menulis email ini, aku mengurung diri di kabin warnet yang sempit, dan di luar sana, suara adzan terdengar lantang dari masjid. Shalat Jumat. Mbak tahu artinya shalat Jumat? Shalat yang wajib bagi seorang lelaki muslim semacam aku. Apakah Mbak akan menganggapku kafir karena aku masih berada di kabin warnet, bahkan hingga shalat Jumat itu selesai?!

Sarafku menegang membaca kalimat yang rupanya ditulis dengan PD oleh si Musafir. Aliran listrik yang berloncatan dari neuron satu ke neuron lain terasa lebih cepat, ditambah dengan adrenalin yang disekresi lebih melimpah dari biasanya. Jantungku seperti drum yang ditabuh oleh drumer grup heavy metal yang menggempur drum-drum malang itu sekuat energi.

Bagaimana tidak dibekam rasa aneh yang seketika menggergaji nalar? Musafir, adalah adik kelas saya. Saya mengenalnya tak hanya karena nyaris 6 hari dalam seminggu berjumpa dengannya. Namun kami juga sering terlibat dialektika dalam ruang-ruang maya. Dia bukan sosok bromocorah dengan rambut awut-awutan ala genderuwo. Dia juga bukan penggemar rock underground yang senang dengan gaya hidup yang juga underground. Apalagi Harajuku Style yang sedang ngetop… jauhlah!
Mari saya gambarkan gaya si Musafir. Kesehariannya, ia lebih senang membungkus diri dengan baju takwa, atau paling tidak, kemeja lengan panjang yang jarang sekali dimasukkan. Celananya sering terlalu cingkrang—maksudnya di atas mata kaki, tentu dengan maksud mengikut sunnah nabi, tidak isbal. Ia juga selalu berjalan dengan menunduk—bukan untuk mencari recehan yang terlontar dari saku—namun untuk menjaga pandangan. Hanya saja, aku pernah memergoki, bahwa sepasang mata Musafir ternyata memiliki sinar yang aneh. Sinar kejeniusan, namun juga sinar ketidakmapanan, sinar ketidakpercayaan—yang mencetak semburat paradoksal.
Mungkin inilah satu-satunya pertanda bahwa di tengah tenangnya kepundan, ternyata tersimpan lava yang menggelegak.

Inilah puncak pemberontakan saya. Saya ingin tahu, apakah dengan meninggalkan shalat, ada sesal yang tertinggal?

Sayangnya, saya tak tahu jawaban dari pertanyaan itu. Mendadak saja, dialektika dalam ruang maya terputus, saya tak terlampau memperhatikan, apa penyebabnya. Hanya saja, suatu saat saya terhenyak, karena seseorang dengan permasalahan yang mirip dengan Musafir, mengirimi saya email. Sebut saja namanya Abraham. Saat kemunculannya, dia adalah orang yang dibenci oleh ratusan anggota milis yang saya ikuti. Ia masuk ke milis, melontarkan caci-maki, serta berbagai kritik destruktif, yang ujung-ujungnya membuat para pembaca kritik menjadi kesal. “Semut saja kalau diinjak menggigit…” begitu alasan teman-teman miliser.
Akhirnya, suatu hari saya mencoba berkirim email secara japri. Saya tanyakan, apa maksud dia mengirimi email-email yang ‘sinis’ dan ‘apriori’ dalam milis kami.

Gue pengin kalian nyadar aja, bahwa kalian itu sebenarnya sok suci! Sok bicara sesuatu yang agamis, padahal sebagai seorang agamis, barangkali kalian ini agamis yang narsis.

Demikian jawab dia. Lantas, suatu hari, ia berkirim email lagi.

Gue dulu sama seperti kalian. Aktivitas keseharian di masjid. Bahkan gue lahir dalam suasana keluarga yang Islamnya sangat kental. Akan tetapi, lama-lama gue merasakan bahwa hidup gue monoton, nggak ada tantangan dan hambar. So, gue akhirnya ngedugem, mencoba merasakan, bagaimana sih rasanya bermaksiat.
* * *
Barangkali, semua orang sepakat, bahwa beristiqomah itu bukan perkara mudah. Bahkan jauh-jauh hari, Rasulullah pun telah memprediksinya. Ketika turun ayat Al-Qur’an yang berbunyi “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar…” (QS. Huud: 112), Rasulullah memikirkan hal tersebut hingga rambutnya beruban. Pertanda bahwa beliau dicekam rasa cemas yang luar biasa. Tabiat manusia adalah pembosan, mudah lalai, sedangkan Allah SWT memerintahkan untuk beristiqomah, tetap dalam kebenaran. Seperti anak kambing dipaksa masuk air.
Maka, ada banyak cara menuju ketidakistiqomahan. Di antaranya, diciptakanlah perasaan hambar, monoton, tak bersemangat… Disketsalah rasa malas, butek, bingung, resah, gelisah… Inilah yang disebut sebagai tanda-tanda FUTUR. Secara bahasa, futur berarti terputus setelah tersambung. Artinya, mandek setelah lama beraktivitas. Tiba-tiba mogok setelah sebelumnya aktif. Ini penyakit mental yang banyak terjadi pada ummat. Mungkin, kita juga termasuk orang yang menjadi pengidap kronis penyakit futur.
Sebelumnya, shalat terasa sangat nikmat. Berpuasa menjadi suatu hal yang dinanti-nanti. Pengajian senantiasa membuka mata hati. Dan beraktivitas menyeru ke jalan yang benar menjadi hobi. Namun—entah mengapa—ada suatu masa ketika shalat menjadi suatu hal yang sekadar ditunaikan untuk menggugurkan kewajiban. Berpuasa hanya ritualitas belaka. Pengajian lebih enak disambi SMS-an, dan menyeru ke jalan Allah menjadi sarana menggapai jodoh. Nah, Lho!
That is really big… big problem!
* * *
Bagaimana mengatasinya?! Memang tak gampang. Butuh keseriusan. Namun, paling tidak, ada sepuluh hal yang harus kita kerjakan.
Pertama, cobalah untuk selalu meluruskan niat. Berdialoglah dengan hati kita saat melakukan sesuatu, “Sebenarnya kamu itu mau ngapain sih, tujuannya apa, karena Allah, atau selain-Nya?” Lantas, berusahalah agar niat yang sudah bengkok menjadi lurus kembali.
Kedua, jauhkan sejauh-jauhnya diri kita dari maksiat, sekecil apapun, meskipun hanya dengan mendengarkan musik-musik dengan syair yang menyesatkan. Maksiat ibarat noda yang mengotori kaca bening bernama hati. Setiap bermaksiat, satu titik noda mengotori kaca bening itu, sehingga kaca itu lama-lama tertutup kotoran. Maka, hati pun akan mengeras. Hati yang keras tak mungkin menjadi sarana masuknya hidayah. Justru hidayah yang telah menyelusup dalam sanubari, lama-lama akan menguar, menguap dan lenyap.
Ketiga, bacalah Al-Qur’an dan tadaburi maknanya. Kata ulama, Al-Qur’an adalah obat. Al-Qur’an bisa menjadi obat hati yang kesat. Membaca Al-Qur’an adalah dialog kita dengan Sang Pemilik Kehidupan. Banyak bertilawah akan membuat beban hidup terasa lebih ringan.
Keempat, berusahalah untuk shalat dengan sebaik mungkin. Karena, jika zakat bisa menyucikan harta yang kita miliki, maka shalat akan menyucikan jiwa yang bersemayam di raga. Bukankah Rasulullah mengibaratkan shalat sebagai mandi? Jika dalam mandi kotoran-kotoran fisik kita berguguran, maka saat shalat, dosa-dosa pun kita tanggal satu demi satu.
Kelima, sempatkan waktu untuk memikirkan banyak hal tentang proses-proses kehidupan, seperti kehidupan, kematian, penciptaan alam semesta dan sebagainya. Para sahabat sering mencontohkan hal tersebut. Bahkan, ada seorang sahabat yang ketika terjerembab dalam kefuturan, ia akan berbaring di liang lahat yang ia gali sendiri. Ia akan memejamkan mata, dan membayangkan bagaimana jika suatu ketika, nyawanya dicabut secara tiba-tiba. Sempatkan jiwa untuk berekreasi dengan merenung di tempat yang tenang.
Keenam, berkumpullah dengan orang-orang shalih, orang-orang yang mukhlis, yang mampu memandang dengan mata hati. Ia akan mampu melihat diri kita dengan kejernihan bashirahnya, dan akan menasihati kita juga dari kalimat-kalimat yang keluar dari lubuk hati. Bukankah kata-kata yang mampu meresap dalam hati, adalah kata-kata yang keluar dari hati?
Ketujuh, membuat hidup menjadi dinamis. Jiwa ibarat air, jika diam di tempat, ia akan menjadi sarang penyakit, pusat endapan berbagai jenis kotoran bahkan sarana perkembangbiakan makhluk-makhluk yang menjijikan. Air harus bergerak, dan hanya dari air bergeraklah energi potensial dapat teroptimalkan. Jiwa pun harus bergerak. Ia harus mengalir bersama target-target, serta tantangan-tantangan. Maka, jangan berdiam diri. Petakan visi hidup kita, buatlah jalur-jalur pencapaiannya, dan sibukkan kita dalam agenda-agenda meraih prestasi.
Kedelapan, cintailah diri sendiri, karena kita tak akan mampu mencintai orang lain jika ego kita sendiri kelaparan. Bukankah sabda Rasul adalah, “Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi maa yuhibbu linafsihi (belum sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri)?” Jadi, agar kita yuhibbu li akhihi (mencintai saudara kita) kita harus yuhibbu linafsihi. Mencintai diri sendiri adalah dengan tidak menjerumuskan kita kepada kebinasaan—baik kebinasaan di dunia maupun di akhirat.
Kesembilan, asahlah empati terhadap sesama. Datangilah orang-orang yang menderita, resapilah bagaimana cara mereka memandang kehidupan. Banyak berpuasa juga merupakan sarana mengasah pisau empati, agar logam kukuh penyelubung hati yang mengeras, lama-lama terkikis dan kita menjadi peka terhadap sesama.
Kesepuluh, binalah persaudaraan yang hakiki dengan teman-teman sevisi, seideologi, senasib dan seperjuangan. Buah ukhuwah selalu manis. Dan kemanisan itu, akan menjadi penyedap untuk tetap di jalan yang benar.
* * *
Saya tersentak. Apakah sepuluh hal itu sudah saya kerjakan dengan baik? Tampaknya memang belum optimal. Buktinya—dalam skala yang lebih kecil—saya sering terjebak pada perasaan hambar, monoton bahkan jenuh yang terkayuh-kayuh. Ah, seandainya saya tidak segera bangkit, bisa-bisa nasib saya seperti Musafir atau Abraham. Na’udzubillah…
Tuhan hamba tidak layak ke surga-Mu
Namun tak pula aku sanggup ke neraka-Mu

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hantu Bernama FUTUR"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!