Tips Menulis Gaya Afifah Afra # 2


Membaca, Mengumpulkan Tenaga Dalam

Menulis ibarat aktivitas mengucuri tanaman dengan air. Apa yang terjadi jika gayung yang hendak kita tumpahkan itu kosong? Oleh karenanya, aktivitas membaca sangat penting bagi seorang penulis untuk bisa terus aktif menggerakkan penanya, atau mengetuk-ketuk keyboard komputernya, merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi wacana dan seterusnya. Ketika suatu saat kita merasa buntu, macet di tengah jalan, ibarat kendaraan, mungkin kita kehabisan bensin. Jika kendaraan yang macet itu lantas mencari bom bensin dan mengisi tangkinya penuh-penuh, maka seorang penulis harus mencari perpustakaan, melahap buku (terutama yang temanya sesuai dengan apa yang tengah ia tulis) dan mengisi otaknya penuh-penuh dengan informasi.
Bahkan menurut Prof. Ismail Marahaimin dalam bukunya, Menulis Populer, membaca ibarat tenaga dalam bagi seorang penulis. Seperti yang bisa kita lihat di film-film, seorang pesilat yang memiliki tenaga dalam, bisa melumpuhkan seseorang hanya dengan menotok jalan darah lawan menggunakan dua jarinya. Seorang penulis juga bisa dianalogikan demikian. Banyaknya bacaan yang ia lahap, akan tersimpan sebagai memori di otaknya, dan ini menjadi bahan yang sangat berharga untuk tulisan-tulisannya. Bisakah Anda bedakan antara tulisan seseorang yang hanya lahir dari angan-angan kosong dengan seorang penulis yang benar-benar memiliki referensi yang luas serta tajam? Tentu sangat beda. Tulisan seorang penulis yang luas pengetahuannya akan terasa segar, berbobot dan memberikan banyak hal baru bagi pembacanya.
Ada syair kuno yang saya kutip dari buku Prof Marahaimin:

Bayang-bayang sepanjang badan
Tulisan sepanjang bahan

Sebelum bahan habis, teruslah menulis
Begitu bahan habis, berhentilah menulis

Jika bahan habis Anda berhenti menulis
Tulisan Anda banyak bolongnya

Jika bahan habis Anda belum berhenti menulis
Tulisan Anda banyak bohongnya

Syair itu menunjukkan betapa bahan tulisan itu ternyata sangat berpengaruh terhadap tulisan kita. Nah, bahan itulah yang kita peroleh dari membaca. Jadi, membaca dan menulis itu ibarat dua orang saudara kembar. Prof Marahaimin juga menganalogikan kuatnya hubungan antara membaca dan menulis seperti mendengar dan berbicara. Banyak anak yang sebenarnya saat lahir tidak bisu, namun karena ia tuli, sehingga ia tak sepanjang hidupnya ia tak pernah mendengar suara, maka ia pun menjadi bisu. Maka, membaca benar-benar menjadi sarana utama menuju ketrampilan menulis.
Saya sendiri, sejak kecil adalah seorang ‘kutu buku’ (kalau kata Mbak Helvy Tiana Rosa, ‘predator buku’). Semua buku saya lahap. Dan kehausan saya akan bahan bacaan itulah yang kemudian mendorong saya untuk menulis. Jadi, awalnya saya menulis untuk saya nikmati sendiri. Lama-lama, karena bacaan saya banyak, maka bahan yang bisa saya ceritakan dalam tulisan-tulisan saya pun banyak. Maka membaca dan menulis pun menjadi sebuah tradisi yang tak lekang hingga kini.
Jadi, mari kita membaca!
SUKA DENGAN ARTIKEL INI?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tips Menulis Gaya Afifah Afra # 2"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!