Tips Menulis Gaya Afifah Afra #11

Mengoleksi Nama-Nama Unik
Tips ini lebih tepatnya ditujukan pada para penulis fiksi. Salah satu daya tarik sebuah cerpen atau novel—paling tidak menurut saya—adalah pada nama tokoh-tokohnya. Coba Anda bayangkan, jika membaca sebuah novel dan nama pelakunya antara lain Wati atau Budi. Salah-salah malah dikira buku pelajaran membaca SD yang dulu sering kita pakai. Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi… dst. Ups, maaf banget buat yang namanya Budi atau Wati, ini bukan berarti saya sedang menghina nama Anda lho…
Bedakan jika pelakunya bernama Gie, Alyssa atau Cassandra. Eh, saya tidak sedang mengajarkan sesuatu yang kebarat-baratan. Oke, saya ajukan nama-nama yang meng-Indonesia. Kenya, Vidyadari, Anjasmara… dst, bagaimana komentar Anda? Sepertinya terasa lebih enak didengar bukan?
Tapi ingat, konteks cerita juga harus diperhitungkan. Jika Anda mengisahkan seorang khadimat (pembantu rumah tangga) yang berasal dari desa kluthuk (istilah Jawa untuk menyebut desa yang sangat terpencil) dan ia bernama Dyah Sekartaji, tentu Anda akan ditertawai pembaca.
 Intinya, cobalah koleksi nama-nama yang unik sebanyak-banyaknya. Dan usahakan ketika kita menulis, nama-nama itu kita pakai sebagai identitas tokoh. Jika kita menulis cerita dengan setting Indonesia, mungkin tak terlalu susah. Berbeda dengan ketika kita mencoba menulis tokoh-tokoh yang berlokasi di negara asing. Jepang tentu berbeda dengan China. Eropa Timur berbeda dengan Eropa Barat, dan sebagainya. Saya punya trik khusus untuk mengatasi hal tersebut. Biasanya saya akan browsing ke internet, kemudian membuka situs kedutaan besar negara yang bersangkutan. Biasanya di sana akan banyak terdapat contoh nama-nama orang-orang terkenal di negara tersebut. Nanti kita jadikan nama-nama itu sebagai keywoard saat men-search di Google. Nantinya, kita akan ketemu dengan semakin banyak nama-nama baru yang sebangsa dengan nama yang kita jadikan sebagai keyword tersebut.
Misalnya, saya hendak menulis tentang Ibu Suri Ci Xi (benar nih, saya sedang menyusun novel tentang wanita bertangan besi yang puluhan tahun memerintah Tiongkok itu). Maka saya akan browsing tentang Ci Xi. Di antara artikel yang saya temukan, pasti akan terdapat banyak nama-nama Tiongkok. Jangan lupa, catat nama itu. Buatlah dua kolom pada buku catatan Anda. Kolom untuk nama lelaki dan nama perempuan, awas jangan terbalik!
Untuk membuat sebuah novel, saya membutuhkan paling tidak 20 nama. Mungkin juga bisa lebih. Mengoleksi nama-nama tersebut terlebih dahulu dalam satu catatan khusus, akan sangat memudahkan kita dalam menyusun tulisan-tulisan kita.  Akan sangat bagus jika nama-nama itu adalah nama-nama yang unik dan indah didengar. Bahkan jika ada satu nama yang sangat bagus, kita bisa jadikan sebagai nama tokoh utama sekaligus judul tulisan kita. Jadi, tak perlu berkerut-kening untuk mencari judul yang eye catching.
Oke, selamat mencoba!

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Tips Menulis Gaya Afifah Afra #11"

  1. halo jumpa lagi

    waw tipsnya bagus ni, biasanya mengunakan budi,wati pas SD aja kok hhe, pas smp beda lagi. Trus pas SMA pake nama orang tuanya sendiri-sendiri ( wa namanya ngehina orang tua ya )

    ReplyDelete
  2. namamu juga bagus kok, Cahya Nugraha :-)

    ReplyDelete
  3. bagaimana dengan nama Layla Kirman, Zia Fahrun, Amir Khuttab dan Soya Akhra? Untuk novel seting Lebanon...

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!