Begini Rasanya Jadi Penumpang Gelap

Asli, saya sebenarnya bukan orang yang bandel. Baik dari tampang fisik yang cenderung kalem, lembut dan rapi (jiaaah...) maupun isi dari otak dan hati. Intinya, saya ini baik hati, ramah dan tidak suka melanggar aturan (ehem!). Tapi, hari itu, Rabu 22 Desember 2010, bersamaan dengan peringatan hari ibu (dimana saya mendapat hadiah lukisan dan ciuman dari anak-anak dan... suami), saya membuat sebuah 'dosa' yang sangat berlawanan dengan tampang maupun watak saya.

Begini ceritanya. Hari Rabu, saya pergi ke Yogyakarta (ada perlulah...), dan rencana balik ke Solo dengan Prambanan Ekspres (Prameks) yang jam 14.45. Tak dinyana, sampai di stasiun Lempuyangan, begitu motor dari teman yang mengantar saya diparkir, terdengar pengumuman. "Kereta Api Prameks jurusan Stasiun Purwosari, Stasiun Balapan dan Stasiun Jebres, siap diberangkatkan!"
Waduuuh... ketinggalan Prameks? Tidaaak! Soalnya prameks yang akan berangkat selanjutnya kalau tidak salah masih sekitar jam 16-an. Mana saya meninggalkan seorang baby usia 3 bulan yang masih ASI eksklusif lagi. Akhirnya saya berlari, rencananya sih ke loket penjualan tiket. Tetapi seorang bapak berkata kepadaku dengan suara keras. "Solo ya Mbak?"
"Ya Pak!"
"Sudah cepat naik sana! Nanti keburu ketinggalan."
"Belum punya tiket, Pak!"
"Beli aja nanti di atas!"
Karena kereta benar-benar sudah bergerak, aku pun sprint, melewati petugas penjaga peron yang hanya senyum-senyum saja melihat atraksi ini.
Dan benar, begitu saya naik, kereta langsung berangkat. 
Masalah selesai? Tidak! Ingat, aku ini penumpang gelap, tanpa tiket. Waduh... betapa malunya jika nanti kondektur menanyai, "Mana tiketnya Mbak?" Dan saya tidak bisa menunjukkan. Tampangnya saja yang kayak orang baik-baik, tapi ternyata penumpang gelap. Memang sih, denda penumpang gelap relatif ringan, cukup membayar 2x dari harga tiket yang Rp 9.000, jadi Rp 18.000. Selisih 9 ribu tentu tidak ada artinya dibandingkan dengan harus menunggu sampai sekitar satu jam.
Tapi ya itu, rasa malu, dag-dig-dug dan segenap ketidakenakan mendominasi. Begini ya rasanya para 'pelaku dosa'. Mungkinkan Gayus and the gank juga merasakan apa yang kurasakan?
Sampai Klaten, kondektur belum juga terlihat. Aku berharap, mudah-mudahan kondektur memang tidak ada. Nah, harapan yang konyol kan? Nyatanya, kondektur memang datang. Dengan panas dingin, aku mengelurkan selembar Rp 20 ribuan. Dengan wajah memelas, aku berkata, "Maaf Pak, tadi tidak sempat beli karcis... tadi..." bla... bla. Dengan lemas aku pun mengulurkan duapuluhan ribu di tanganku.
Tak dinyana, Pak Kondektur malah tersenyum. Mungkin merasa lucu melihat gayaku yang salah tingkah. "Cuma Rp 9.000 kok, Mbak. Ada uang pas?"
Byaaar... leguaaa rasanya. Aku pun memberi uang pas sembari tersenyum.
"Kirain mau didenda," bisikku pada penumpang yang duduk di sampingku.
"Ah, itukan kalau jadi penumpang gelapnya tidak sengaja..." ujar penumpang itu, menenangkan hatiku.
Tapi, asli... saya tidak akan mengulangi kejadian ini lagi, kecuali jika nyaris terlambat lagi, hehe...

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Begini Rasanya Jadi Penumpang Gelap"

  1. Subhanallah... tdk bisa membayangkan mba yeni yg kecil, ibu2, n sdg menyusui, berlari2 spt mash abg. Gpp, mbak, sesekali melakukan kegiatan menantang seperti tokoh2 di novel mbak. kalo aku sih paling2 terpaksa nunggu kereta berikutnya.

    ReplyDelete
  2. @ Ela: Waduh... membaca tulisanmu ini seakan-akan saya menjadi orang termalang di dunia, haha

    ReplyDelete
  3. Wah, hari itu benar2 hari ibu ya mbak? :-)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!