Cinta Casing, Cinta Ringtone, Cinta Fitur (1)


Bag. 1
By Afifah Afra

Ayu datang dengan air mata berderai. Mengadukan kisah cintanya yang tragis. ”Boy selingkuh lagi!” isaknya. ”Entah apa yang harus aku lakukan? Aku telah memberikan cintaku sepenuh hati. Tetapi, betapa sulit mendapatkan kesetiaan Boy. Apakah para lelaki itu memang tabiatnya suka selingkuh? Begitu ngelihat cewek cantik, matanya langsung ijo. Capek aku!”
Ia menelungkupkan wajah ke atas meja sekolah, membiarkan air mata membasahi buku-bukunya. ”Anehnya, meski aku tahu bahwa Boy ini seneng ngelihat cewek cakep, aku tetap luluh jika ia datang, memohon-mohon maaf sembari mengeluarkan rayuan mautnya.”
Kisah Ayu jelas, hanya rekaan belaka. Tetapi, saya yakin banget, jutaan cewek sedunia, mungkin merasakan hal yang sama dengan Ayu. Merasa telah memberikan cinta sejatinya, namun dibalas dengan air tuba. Namun, sakit hati serasa seperti tanah kering saja. Begitu disiram air, nyesss... jadi lumpur kembali. Jadinya, hubungan cintanya persis lagunya BBB, itu lho, Chelsea Olivia dkk. yang sedang ngetren, putus nyambung putus nyambung putus nyambung... lho kok?
Tidak. Kita nggak sedang membicarakan soal pacaran. Hukumnya sudah sangat-sangat jelas. Pacaran is haram. Sudahlah, enggak usah ada embel-embel lain!
Hanya saja, jika kita perhatikan, kisah si Ayu vs si Boy tadi menyisakan satu hal yang unik. Ada sebuah hipotesis yang secara enggak langsung diungkapkan oleh si Ayu. Cowok hobi selingkuh? Cenderung nggak setia, plus gampang jatuh cinta hanya dalam pandangan pertama. Is that true?
Trus, bagaimana dengan cewek? Nggak gampang membagi hati, sulit jatuh cinta pada pandangan pertama, sehingga relatif lebih setia, namun gampang dijinakkan dengan rayuan gombal. Is that true?
Ih ... jangan riang dulu. Itu kan baru hipotesis si Ayu. Bisa jadi benar, bisa jadi salah. But, apa sih pentingnya ngebahas yang kayak gitu. Ya pentinglah. Kan, makhluk hidup bernama manusia itu ada dua jenis, separuh cowok, separuh cewek. Ngebahas psikologi cowok-cewek dalam masalah cinta menjadi penting buat mengharmoniskan hubungan dua jenis makhluk ini. Jangan bilang kamu enggak butuh cowok, ya?! Meskipun kamu cewek, di sekitar kamu ada cowok yang dekeet banget sama kehidupan kamu. Kalau belum menikah, ada babe, abang, adek, om sampai kakek (lho, jangan salah, kakek-kakek juga bisa jatuh cinta lhoJ). Kalau sudah menikah, ketambahan lagi, suami. Jadi, bagaimana mungkin masalah spesifikasi cowok-cewek dalam masalah cinta enggak penting.
Bagaimanapun, cinta adalah kebutuhan mendasar bagi manusia. Menurut Abraham Maslow, belongingness and love needs (kebutuhan terhadap rasa ketergabungan dan cinta/ kasih sayang), menduduki peringkat ketiga setelah kebutuhan fisiologis (seperti makan, minum, udara), dan kebutuhan terhadap rasa aman. Di atas kebutuhan akan cinta, ada kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan eksistensi diri (diakui keberadaannya).  Jadi, kita enggak akan bisa mencapai proses kepercayaan diri yang matang (ditandai dengan self esteem—penghargaan terhadap diri sendiri yang kuat), apalagi mengaktualisasikan diri jika kebutuhan akan belongingness and love needs kita belum terpenuhi, ghetoo...

Cinta Casing
Balik ke kasus Ayu vs Boy tadi yach!
Ayu—karena pengalaman buruknya saat merenda cinta ’terlarang’ sama si Boy, kemudian menuding bahwa semua cowok memang seperti Boy. ”Kalau lihat cewek cantik matanya langsung ijo!”
Meskipun enggak semua cowok seperti Boy, pada umumnya, cowok memang senang ngelihat makhluk cantik. Bahkan, banyak yang langsung jatuh cintrong pada pandangan pertama. Isi hati, kelakuan, kepribadian... it’s number two. Yang penting cakep, seksi, bodi yahuud. Kalau diistilahkan, cinta gaya Boy adalah cinta casing. Casing artinya selubung. Jadi, bisa disebutkan, cinta casing ada cinta sama selubungnya doang, soal isi—nanti ajalah. Cinta model ginian juga sering dinamakan cinta fisik. Cinta sama fisik doang, soal hati... bisa diatur!
Sebenarnya, kalau dalam ilmu psikologi, tudingan Ayu nggak salah-salah amat. Menurut peraih cumlaude pascasarjana jurusan psikologi UGM, Setiawati Intan Savitri M.Si, yang juga dikenal sebagai Izzatul Jannah, secara fisik, ada beda yang cukup mendasar antara perempuan dan lelaki. Kaum Adam mayoritas lebih visual dibanding lawan jenisnya. Artinya, indra penglihatan cowok memang cenderung lebih dominan dibanding kaum Hawa. Jadi, cowok memang relatif lebih bisa melihat ’dengan baik’ dibanding cewek. Sementara, kaum Hawa yang auditory people—relatif bisa mendengarkan lebih baik dari lelaki. Ini juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa secara anatomis-fisiologis, penglihatan lelaki memang cenderung fokus pada satu titik, beda sama perempuan yang cenderung menyebar.
So, sebenarnya wajar jika lelaki cenderung suka pada lawan jenis yang mampu ’memuaskan’ pandangan mata, yakni yang cantik, enak dilihat, rapi, manis, imut, kalau senyum menawan... de-el-el. Rasulullah saw. sendiri tidak terlepas dari kategori ini. Beliau senang memandangi istrinya Aisyah yang cantik jelita, dan bahkan memberinya sebutan Humairah, sang (pemilik pipi) kemerah-merahan. Cermatilah, panggilan Humairah jelas berbasis pada visual. Kalau auditory, pasti bukan Humairah. Mungkin si suara merdu, si alunan serunai, dan sejenisnya.
Selain dari sistem indra yang bertipe visual, para cowok juga cenderung—lagi-lagi maaf, karena rada vulgar—gampang terangsang. Karena, menurut dr. Ahmad Supriyanto, konsultan kesehatan Girliezone, anatomi-fisiologi cowok memang ’dirancang’ begitu. Dengan demikian, enggak terlalu salah jika lelaki itu senang melihat sesuatu yang ’seksi’. ”Nah, inilah yang kudu dibatasi,” ujar dokter yang juga relawan Bulan Sabit Merah Indonesia itu. ”Makanya, para pemuda yang belum siap nikah kudu rajin-rajin puasa, karena dengan puasa, syahwat bisa lebih terkurangi.”
Kondisi semacam itu, akhirnya sering membuat cowok terjebak pada ’cinta casing’. Gampang tertarik sama lawan jenis yang secara visual ‘memuaskan’, baik dari paras, maupun bodi. Jadi, kalau kamu punya abang, adik, om—bahkan juga ayah dan kakek, nasehatin mereka ya, jagalah pandangan. Tundukkan pandangan pada objek yang enggak halal dinikmati! Biar rangsang-rangsang enggak menggemparkan saraf-saraf mereka. Karena, menurut Ustadz Dr. Muinudinillah Bashri, Lc., M.A., direktur Ponpes Ibnu Abbas Klaten, kalau kita sudah terjebak dalam cinta, susyeh banget buat keluar dari jebakan itu. Lebih enak menghindar. Itulah mengapa, di dalam Islam, tindakan preventif (pencegahan) sangat diutamakan. Misalnya, karena zina itu besar banget dosanya, maka pintu menuju ke sana ditutup rapat-rapat. BERSAMBUNG. 

SUKA DENGAN ARTIKEL INI? PLIIIS KUNJUNGI DAN KOMENTARI ARTIKEL SAYA, BACA DI SINI!


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Cinta Casing, Cinta Ringtone, Cinta Fitur (1)"

  1. SIIP DEH ARTIKELNYA. SALUT BUAT MBAK AFRA.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih... insya Allah saya akan aktif memeriahkan blog2 ini dengan tulisan2 yang semoga bermanfaat... ^_^

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!