Horison Oh Horison


By Afifah Afra
Kemarin, Sabtu sore, sembari belanja beberapa kebutuhan rumah tangga (maklum, emak-emak hehe), saya mampir ke Toko Buku Matahari, dekat palang sepur Joglo. Lumayan lengkap koleksi majalah, buletin dan koran-koran di sana. Nah, ketika sedang menelisik deretan majalah, saya melihat ada Horison di sana.
"Mas, beli satu ya? Berapa harganya?"
Si mas penjaga toko memicingkan mata. Mungkin heran melihat orang bertampang macam saya membeli Horison.
"Rp 12.500, Bu! Nggak beli majalah itu?" Ia menunjuk pada beberapa majalah yang 'perempuan banget'. "Ada resep-resep masakannya, lho!" katanya, promosi.

"Enggak," ujarku, tersenyum. "Horison saja!" Saya mengulurkan selembar uang limapuluhan ribu.
Sepulang dari toko, aku membuka lembar demi lembar majalah itu. Angan saya melayang pada saat saya SMA. Dari koleksi majalah Horison di perpustakaan sekolahku, tampaknya hanya beberapa gelintir orang yang mau membacanya. Saya termasuk di dalamnya. Tak sekadar suka membaca, saya berharap, suatu saat karya saya nampang di sana. Sebuah angan yang sampai kini belum jadi kenyataan, meskipun saya telah menulis puluhan cerpen dan puluhan novel. Bagaimana jadi kenyataan jika mengirimkan karya kesana pun belum pernah?
Namun, sebagaimana pegiat dunia tulis-menulis lainnya, angan itu tak pernah hilang. Tentu cukup bergengsi jika ada karya saya yang nongol di majalah khusus sastra itu. Saya kira, untuk membangun sebuah majalah yang memiliki nilai legitimasi tinggi, khususnya di profesi terkait, Horison sudah sangat sukses. Lihatlah sosok-sosok yang berada di balik 'dapur' keredaksiannya. Mulai dari almarhum Mochtar Lubis, Sapardi Djoko Damono, Hamzad Rangkuti, P.K. Ojong, Taufiq Ismail, Hamid Jabbar, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata dan sederet nama yang sangat diakui di dunia sastra. Artinya, ketika karya kita berhasil termuat disana, berarti karya kita telah melewati proses seleksi dari sastrawan-sastrawan sekaliber mereka.
Namun, bagaimanakah nasib popularitas majalah bergengsi ini? Entahlah! Tetapi betapa jarangnya saya melihat majalah ini dibaca oleh masyarakat Indonesia. Mas Joni Ariadinata sendiri, dalam sebuah diskusi dengan teman-teman FLP Jawa Tengah sekitar 3 tahun yang lalu mengakui, betapa sulitnya majalah ini merebut hati pembaca yang awam sastra. 
Mengapa demikian? Izinkan saya memberikan beberapa ulasan.
Pertama, majalah ini sangat elitis. Tak hanya sastra, ilmuwan-ilmuwan di bidang lain saat ini juga memiliki jarak yang cukup jauh dengan masyarakat awam. Mereka berada di atas menara gading keilmuwan, alias tidak membumi. Mungkin maksud dari Horizsn adalah ingin menjadikan majalah ini sebagai majalah sastra yang benar-benar nyastra. Namun dengan posisi yang demikian, maka Horison benar-benar berada di atas menara gading kesastraan, semakin menjauh dari kalangan awam. Baiklah, mungkin Horison telah menyadari hal ini. Paling tidak, adanya rubrik Kakilangit telah menjadi bukti. Tetapi sebagai penulis yang banyak berinteraksi dengan kalangan awam, saya 'menuntut' rubrik serupa untuk pembaca yang lebih 'berumur'. Bisakah, Horison?
Kedua, saya membuka-buka majalah ini, dan hanya bisa mengerutkan kening. Betapa sederhananya lay out/ desain majalah ini. Tampaknya, halaman dalam majalah ini bahkan tidak difilm, karena gradasi gambarnya terlihat sangat kasar. Sebagai orang yang setiap hari berkecimpung di dunia produksi perbukuan, termasuk memenej para desainer, tampaknya saya harus memberikan penilaian yang negatif untuk tampilan majalah ini. Dengan desain yang 'seadanya', bagaimana majalah ini bisa bersaing dengan majalah-majalah lain yang dikemas dengan begitu 'meriah' dan indah?
Semoga sedikit ulasan saya tentang Horison ini bermanfaat. Bukan hendak menjelek-jelekkan, saya hanya ingin majalah yang saya cintai ini tampil dengan indah, dengan tulisan-tulisan yang tidak terlampau elitis, mampu dicerna oleh orang awam sastra seperti saya.
Usia Horison sudah 44 tahun, bahkan 13 tahun lebih tua dari umur saya yang saat ini baru 31 tahun. Berarti sudah sangat senior. Bisakah kualitas Horison tak sekadar kontennya, namun juga penyajian, promosi, maupun gebrakan-gebrakannya dalam membumikan sastra?

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Horison Oh Horison"

  1. wah, mbak afra... saya sendiri malah gak tau ada majalah judulnya horison... di perpus skolah saya juga kayaknya gak ada deh...

    btw, kapan2 kalau beli majalah di sana lagi, silakan mampir ke rumah saya... =) Rumah saya masuk gang di utaranya TB matahari itu... hehe

    ReplyDelete
  2. @ Heraminerva: Gubraaks... toloooong Pak Taufiq Ismail, Mas Joni Ariadinata... ^_^
    wah, dekat dong dengan rumah saya. Ke utara dikit, kira2 1,5 KM (Lemah Abang)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!