Menjadi Dewasa Adalah Pilihan (2)

Bag. 2 dari 2 tulisan
By Afifah Afra

Remaja... dan Schook Culture
 Ada satu fase perkembangan manusia yang seringkali dibahas dengan cukup heboh, karena berbagai aktivitas yang terkait juga menghebohkan. Inilah usia teenager, alias remaja. Periode ini sangat singkat, tetapi efeknya bisa terasa hingga jangka panjang. Jika saat ini Anda berusia 25 atau 30 tahun ke atas, barangkali kita merasakan bahwa kita ini stagnan, tak ada liukan-liukan kehidupan yang menggoreskan kenangan begitu dalam, baik dalam artian positif maupun negatif. Ini terjadi--barangkali--karena Anda telah menemukan kemapanan. Tetapi berkacalah pada saat Anda berusia belasan tahun. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun... senantiasa menghadirkan begitu banyak kelak-kelok kehidupan yang seringkali tak mampu kita lupakan.
Seringkali usia remaja ini dikaitkan dengan berbagai apologi, seperti ‘mumpung masih remaja... santai sajalah!’ Pandangan ini dikuatkan dengan pendapat berbagai tokoh, di antaranya G. Stanley Hall, yang menyebutkan, bahwa masa remaja adalah masa stoorm and stress, masa penuh badai dan tekanan, dimana sah-sah saja seorang remaja bersikap angin-anginan alias tidak ‘nggenah’ dalam rangka pencarian jati dirinya.
Perasaan angin-anginan itu barangkali muncul karena adanya schook culture akibat perbedaan yang sangat mencolok antara culture seorang anak dengan seorang dewasa. Terkadang, seorang remaja telah memiliki fisik seorang yang dewasa, namun ia memiliki karakter kekanakan. Betapa anehnya jika seorang anak terperangkap dalam tubuh orang dewasa, tentu Anda bisa membayangkan.

Bagaimana Islam memandang?
Seorang psikolog kenalan saya menjawab dengan tegas, “Dalam Islam tidak ada istilah remaja.” Yang ada adalah ketika seseorang sudah menjadi mukallaf, maka ia sudah dikenai kewajiban dan tidak ada alasan lagi baginya untuk ‘bersantai-santai.’ Ia harus berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kematangan psikologis dan sosiologisnya. Bahkan untuk seorang laki-laki, begitu ia dewasa secara biologis, maka ia harus sudah dilepas oleh orangtuanya untuk mencari ma’isyah (penghasilan) dan berusaha untuk hidup mandiri, lepas dari tanggungjawab orangtua.
Dalam sejarah Islam misalnya, kita menemukan sosok Usamah bin Zaid yang diangkat menjadi panglima perang oleh Rasulullah—membawahi tokoh-tokoh senior sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khatab—dalam usia 18 tahun. Dalam usia semuda itu, ia telah memiliki kematangan secara psikologis... bahkan sosiologis.
Tentu saja, untuk mengkondisikan hal tersebut, dibutuhkan peran orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Akan menjadi sangat naif, jika orang tua yang semestinya ditugasi mempersiapkan anak-anaknya menjadi dewasa, ternyata juga belum dewasa.
Mungkin karena begitu banyaknya orang-orang tua yang ‘childish’ itulah, yang membuat bangsa Indonesia semakin hari semakin terpuruk dan terus menerus dilanda krisis. Anda sepakat?

Mengasah Potensi Diri adalah Kewajiban
Akan tetapi, jangan hanya menyalahkan lingkungan. Menuding lingkungan tanpa berbenah, adalah pekerjaan seseorang yang kekanak-kanakan. Mengapa ada orang yang sukses dan ada yang gagal? Mengapa ada yang bisa menggapai puncak prestasi, dan ada yang bertahan dalam taraf 'biasa-biasa' saja. Mengapa ada yang mampu melangkah dengan percaya diri, namun ada pula yang tunduk dalam kerendahdirian? APA YANG SALAH?!
Jangan salahkan Bunda yang mengandung. Jangan salahkan nasib yang tidak berpihak kepada kita. Jangan salahkan shio, zodiak, ataupun weton. Dan jangan juga pernah menyalahkan Sang Pencipta. SEMUA ITU SALAH ANDA! Tak ada pribadi biasa-biasa saja dalam jagad raya ini. Yang ada adalah pribadi yang GAGAL menjadikan dirinya luar biasa.
KARENA SEJATINYA... Ada bintang dalam diri Anda. Yang tersembunyi. Ia harus dicari. Diasah cerlangnya, dilejitkan cahayanya. Sehingga puncak kesuksesan, bukan lagi sekadar impian. Semua orang layak dan berhak menjadi bintang. Allah telah Mensetting Anda sebagai pribadi yang luar biasa dengan berbagai keunikan yang Anda miliki. Bagaimana menjadikan keunikan itu sebagai NILAI LEBIH ANDA, inilah tugas Anda! Namun, yang PERTAMA KALI, Anda harus menyadari, ada seekor macan yang sedang tertidur di dalam diri Anda. Ia harus dibangunkan, sehingga ia sanggup mengaum, dengan auman yang menggetarkan seluruh belantara. Sehingga ia sanggup berlari, mengejar mangsa, merontokkan nyali... dan oleh karenanya, ia menjadi raja.
Mari kita bersemangat menggali kuburan bintang itu, membersihkannya, mengasahnya, dan memancarkannya. Karena setiap pribadi itu sebenarnya luar biasa. Karena sukses itu memang hak Anda! 
Dan proyek penggalian 'kuburan bintang' itulah cara kita mendapatkan kedewasaan--baik sosiologis maupun psikologis. Pastilah ada cara-cara lain, insya Allah akan saya bahas di kesempatan lain. Tetap semangat!

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Menjadi Dewasa Adalah Pilihan (2)"

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Menjadi Dewasa Adalah Pilihan.Benar benar sangat bermamfaat jika kita dapat menjadi dewasa dengan pilihan kita sendiri.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Indonesia yang bisa anda kunjungi di disini

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!