Menulis Cerpen, Yuk! (1)

Oleh Afifah Afra

Apa Itu Cerpen?
Bagi saya, tak terlalu penting sebenarnya berkutat dalam definisi. Apa itu cerpen, apa itu cerbung, apa itu novel, apa itu puisi. Yang paling mendasar menurut saya adalah, ayo segera nulis cerpen, cerbung, novel ataupun puisi. Kebanyakan aturan justru membelenggu. Persis seperti pengakuan Haji Pidie Baiq, budayawan superngocol saat bersama-sama menjadi pembicara di talkshow Kepenulisan Science Fiction Kampus UNS kemarin, "Saya justru bisa nulis setelah memahami bahwa kita nggak perlu tunduk pada aturan-aturan (kepenulisan--pen.)."
Akan tetapi, baiklah... jika membahas definisi itu Anda butuhkan, mari kita nukil beberapa pendapat para tokoh di bawah ini. Dengan satu catatan, Anda tak perlu terlalu capek membuang-buang waktu untuk mempelototi definisi ini apalagi menghapalkannya. Di dunia nyata, meskipun Anda mungkin bisa menyebut di luar kepala, tidak akan ada orang yang terkesima ketika Anda melakukannya. Yang ditunggu oleh mereka, adalah karya nyata Anda.
Okay?!
Dalam buku ‘Menulis Secara Populer’, Ismail Marahaimin menegaskan bahwa cerpen itu bukan penggalan sebuah novel, juga bukan novel yang diperpendek. Cerpen dan novel,, adalah 2 buah karya dengan karakter sendiri-sendiri. So, salah besar jika ada yang mengatakan bahwa untuk bisa menjadi novelis, pertama belajarlah menulis cerpen. Cerpen bukanlah ajang latihan menuju novel. Kalau melatih napas panjang sih, mungkin ada benarnya. Tetapi yang jelas, banyak para novelis kesulitan menulis cerpen, sebagaimana banyak cerpenis sulit menulis novel. Karena keduanya memang sama-sama karya sastra yang butuh 'jam terbang' yang tinggi agar pelakunya bisa fasih menuliskannya.
Ada yang mengatakan bahwa cerpen adalah tulisan fiksi yang panjangnya sekitar 500-10.000 kata. Sedangkan Edgar Allan Poe, si Bapak Cerpen, mengatakan bahwa prose tale (cerpen dalam sebutan Poe), adalah narasi yang bisa dibaca dalam sekali duduk, dengan lama waktu setengah hingga 2 jam.
Akan tetapi, batasan yang paling primer, menurut saya adalah apa yang disebutkan oleh Poe bahwa sebuah cerpen itu harus unik dan berefek tunggal. Untuk membentuk efek tunggal itu, plot dan karakter harus langsung diwujudkan dalam tindakan, bukan dalam deskripsi atau komentar tulisannya. Karena pendek, maka cerpen memiliki ruang yang padat. Dengan sendirinya, seorang cerpenis harus ketat dalam memilih kata-kata.
Jadi, dalam sebuah cerpen, 'tidak diizinkan' untuk membuat konflik ganda. Misalnya Anda menulis tentang tertusuk jarum, ya sudah... ceritakan mulai dari kronologis tertusuk jarum, rasa sakitnya, infeksi yang disebabkan, sampai cara pengobatannya. Anda tidak perlu menambah konflik lain, misalnya saat Anda tengah mengobati sakit, tiba-tiba Anda disengat kalajengking dan akhirnya Anda pun bercerita tentang kalajengking, rasanya disengat kalajengking, pengobatannya dan sebagainya.
Konflik tunggal inilah, faktor yang membuat cerpen menjadi pendek dan disebut sebagai cerita pendek. Karena apa yang diceritakan memang terbatas, sehingga tidak membutuhkan ruang yang terlalu lebar.
BERSAMBUNG

Suka artikel ini? 
Yuk kunjungi dan komentari artikel saya yang diikutkan dalam Toyota SEO Award 2010. Caranya,  KLIK DI SINI



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Menulis Cerpen, Yuk! (1)"

  1. Bagaimana komentar Anda jika ada cerpen sepanjang 25 halaman?

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!