Menulis Cerpen, Yuk! (2)


      By Afifah Afra      
      Unsur-Unsur Pembangun Cerpen
Sebagai sebuah narasi (cerita), cerpen memiliki unsur-unsur pembangun berupa tema, plot (alur), setting dan tokoh. Unsur-unsur intrinstik ini akan saling kait-mengkait membuat sebuah cerpen akan terasa enak dibaca, atau justru garing seakan tanpa polesan.
Tema adalah sesuatu yang ingin kita tulis. Dari tema inilah, kita akan memasukkan nilai-nilai yang ingin kita sampaikan kepada pembaca. Semakin unik sebuah tema, selain akan membuat bobot cerpen kita semakin bagus, juga akan membuat orang lebih tertarik untuk membaca cerpen kita. Bukankah sesuatu itu akan semakin bernilai mahal jika 'beda' dengan lain-lainnya? Tentu saja beda yang memuat kadar kualitas tertentu.
Sedangkan plot atau jalan cerita, akan terbentuk karena interaksi tokoh dengan setting.  Banyak yang merumuskan seperti ini: PLOT = TOKOH + SETTING. Maka, kedahsyatan alur cerita sangat dipengaruhi kedalaman penulis dalam mengeksplorasi tokoh maupun setting. Jadi, jika Anda ingin membuat cerita yang baik, dengan liukan-liukan konflik yang menarik, cobalah gali sedalam-dalamnya karakter tokoh, serta elaborasi sedetail-detailnya setting yang Anda tentukan.
Perbedaan yang paling mendasar antara cerpen dengan novel adalah, seperti yang disebutkan oleh Poe di atas, plot dalam cerpen harus tunggal, sedangkan untuk novel, bisa lebih fleksibel. Pada cerpen, begitu cerpen dimulai, biasanya langsung masuk pada konflik, tinggal bagaimana menyelesaikan konflik tersebut, itulah isi cerpen tersebut. Sedangkan pada novel, selain plot utama, kita bisa mengembangkan menjadi sub-sub plot yang satu sama lain saling mendukung.
Karena plot terbentuk sebagai interaksi antara setting dengan tokoh, efek tunggal itu juga berpengaruh terhadap keduanya. Sebaiknya, setting sebuah cerpen tidak terlalu banyak mengambil tempat. Penggambarannya pun tak perlu memakai deskripsi khusus, namun manfaatkan berbagai hal seperti dialog, perilaku sang tokoh, dan sebagainya.
Demikian juga, tak perlu banyak memunculkan tokoh, karena akan membuat kita kesulitan menciptakan efek tunggal tersebut. Menurut Marahaimin, sebaiknya tokoh dalam cerpen jangan lebih dari 4 orang. Kita tak perlu mengembangkan tokoh-tokoh tersebut sehingga terdapat perubahan nasib. Demikian juga, setelah cerpen berakhir, kita tak perlu tahu, bagaimana keadaan tokoh-tokoh itu setelah cerita memasuki ending.

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Menulis Cerpen, Yuk! (2)"

  1. terimakasih ilmunya mbak...

    ReplyDelete
  2. mbak, buku how tobe smart writernya kapan selesai revisi? sudah dinanti banyak pembaca lho...

    ReplyDelete
  3. Bagaimana caranya agar ketika menulis cerpen/novel bisa 'dalam'?

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!