Menulis & Kreativitas #1

Menulis dan kreativitas adalah satu hal yang saling memberi nyawa. Menulis membutuhkan charge kreativitas yang nyaris tanpa batas, sedangkan kreativitas tanpa dituangkan dalam bentuk tulisan, bagaikan mengolesi papan tulis dengan debu. Mudah tersapu angin—alih-alih memfosil bak prasasti.

Alex F. Osborn[1], membedakan 4 kemampuan berpikir pada manusia sebagai berikut:

  1. Kemampuan serap (absorptive), yaitu kemampuan dalam mengamati dan menaruh perhatian atas apa yang diamati tersebut.
  2. Kemampuan simpan (retentive), yakni menghapal dan mengingat kembali apa yang telah dihapal tersebut.
  3. Kemampuan nalar (reasoning), yakni kemampuan menganalisis dan menimbang.
  4. Kemampuan cipta (creative), yakni kemampuan membayangkan, menggambarkan di muka, dan melahirkan gagasan-gagasan.


Kemampuan tersebut, pada masing-masing orang berbeda. Ada yang hanya sekadar bisa menyerap dan menyimpan saja, namun tak bisa menalar dan mencipta. Ada yang bisa sampai tahap ketiga. Dan orang kreatif adalah yang memiliki keempat kemampuan berpikir itu.

Kreativitas, menurut The Liang Gie didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menciptakan penggabungan baru. Kreativitas akan sangat tergantung kepada pemikiran kreatif seseorang, yakni proses budi seseorang dalam menciptakan gagasan baru. Penggabungan baru itu dirumuskan oleh Haefele sebagai:

A + B   ------->   C

Hal ini disebut sebagai proses bisosiasi, yakni yang menurut Arthur Koestler[2] didefinisikan sebagai pengatuan dua alur pemikiran yang sebelumnya tidak berkaitan.

Suatu saat, Anda melihat lem dan serutan/ serbuk gergaji. Maka muncullah kreativitas untuk menyatukan serbuk gergaji itu dengan lem, jadilah produk kayu lapis. Anda melihat sepatu, lantas melihat sepeda. Maka terciptalah sepatu roda. Anda melihat sampah plastik, lalu Anda melihat api. Terciptalah sebuah mesin yang memproduksi plastik daur ulang. Anda melihat ceramah agama di masjid, lalu Anda melihat orang bersenang-senang di sebuah cafe, maka terciptalah metode berceramah ala cafe, yakni ceramah yang sekaligus untuk memasukkan nilai-nilai agama, namun sekaligus menghibur.

Anda melihat ada tanaman tomat, serta tanaman kentang. Lalu Anda menyambungnya. Akar hingga bagian tengah adalah tanaman kentang, sedangkan bagian tengah hingga daun-daun adalah tanaman tomat. Hasilnya adalah sebuah tanaman yang bisa menghasilkan buah tomat sekaligus umbi kentang. Selain akan menghemat lahan, Anda juga akan lebih efesien dalam merawat tanaman tersebut.

Kreativitas juga bisa berupa merangkai dari banyak hal menjadi suatu hal baru. Persis seperti seorang anak kecil yang merangkai keping-keping puzzle menjadi sebuah bentuk yang utuh dan berwujud. Dan hakekat dari penciptaan yang dilakukan oleh manusia memang hanya sekadar merangkai, menggabungkan materi dengan bentuknya, begitu menurut Ibnu Rusyd. Penciptaan oleh manusia, bukanlah berasal dari sesuatu yang tiada, is not creatio ex nihilo. Bahan-bahan sudah tersebar di alam semesta, imajinasi kitalah yang kemudian merangkainya menjadi sesuatu yang baru.

Akan tetapi, yang pasti, hasil dari suatu kreativitas semestinya adalah solusi dari sebuah permasalahan. Seorang ilmuwan yang tidak memiliki kreativitas, maka ia tak akan mampu memanfaatkan ilmunya untuk umat. Ia barangkali hanya akan duduk-duduk santai di atas menara gading, sembari mengotak-atik berbagai rumus yang menurutnya penting, tetapi sama sekali tidak ada gunanya bagi orang lain. Seorang ulama yang tidak memiliki kreativitas, ia akan bingung, bagaimana ia bisa mengajak manusia-manusia yang tersesat, untuk kembali ke jalan Allah. Seorang penulis yang tidak memiliki kreativitas tidak akan berkembang, tidak mampu menghasilkan karya yang berbobot, dan akan jalan di tempat, jumud bahkan mati dalam karya.

Kreativitas Bisa Dilatih
Banyak yang mengira—barangkali Anda juga—bahwa kreativitas merupakan bakat alamiah seseorang. Jadi, ketika Anda ternyata merasa tidak kreatif, maka Anda akan pasrah begitu saja, dan hanya bisa terbengong kagum ketika orang-orang di sekitar Anda memperlihatkan kreativitasnya dengan begitu dahsyat.

Akan tetapi, berdasarkan penelitian dan percobaan, ternyata kreativitas itu dapat dilatih. Dan berbagai penelitian telah menyebutkan, bahwa dengan proses latihan yang tekun, maka biokimia dalam tubuh kita ternyata bisa berubah, menyesuaikan dengan hasil latihan yang dilakukan secara tekun tersebut. Tentang perubahan akibat latihan—juga barangkali disertai atau disebabkan karena perubahan biokimiawi tersebut—saya telah mengalami hal tersebut. Dahulu, saya orang yang terkesan serius, sulit untuk memulai pembicaraan dengan orang lain, serta terkesan agak minderan. Setelah saya berlatih berinteraksi dengan orang lain—secara intensif—akhirnya saya bisa berubah menjadi lebih terbuka, lebih percaya diri dan mudah melalukan perbincangan dengan orang baru sekalipun. Saya merasa, bahwa struktur biokimia dalam diri saya tampaknya telah berubah.

Kreativitas pun demikian adanya. Meskipun ia bukan sebuah ketrampilan, namun benar-benar hasil imajinasi—oleh karenanya, salah besar jika seorang pekerja kreatif diatur dengan gaya pengaturan pabrik—kreativitas bisa diusahakan ada pada diri kita. Apalagi, pada dasarnya, menurut Charles Withing, sebenarnya setiap orang itu—dengan kadar yang berbeda-beda—memiliki kemampuan kreatif tertentu. Hanya saja, kemampuan itu seringkali terhalangi oleh berbagai hal. Cap yang diberikan oleh diri sendiri—bahwa saya tidak kreatif—akan membuat kita benar-benar tidak kreatif.

Demikian juga jika lingkungan sekitar kita memang telah membuat kita tercetak ‘demikian adanya’ dan menuntut kita untuk tidak berbuat ‘macam-macam’. Seseorang yang terlahir dari keluarga yang cenderung otoriter, biasanya tidak mampu mengembangkan kreativitasnya. Ia terbiasa mengikuti pola pikir orang yang mendominasinya—yakni orang tua—dan jarang dirangsang untuk memeras otak imajinasinya. Maka, siapa dia, kebanyakan adalah ‘duplikat’ dari orang yang telah sekian lama mendominasinya.

J. Stanley Gray memberikan 2 prasyarat utama yang diperlukan dalam upaya pengembangan kreativitas. Yakni motivasi dan informasi.

Motivasi—atau dorongan dari dalam diri sendiri yang muncul baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini berarti melatih kreativitas—akan membuat kita bergairah. Semakin kuat dorongan tersebut, kita akan semakin terangsang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Motivasi itu bisa diperoleh dari orang lain, apalagi sekarang ini banyak para motivator yang mampu membuat semangat kita untuk berhasil menjadi semakin dominan. Namun, motivasi yang berasal dari diri sendiri, yang muncul benar-benar dari pencarian jati diri, adalah motivasi yang terdahsyat.

Andrie Wongso, seorang motivator papan atas, mengatakan bahwa, “Nasib saya ada di tangan saya sendiri. Mau maju atau mundur, sepenuhnya tergantung pada diri sendiri.” 

Bandingkan ucapan beliau dengan firman Allah yang sepenuhnya kita yakini kebenarannya,
“...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’du: 11).

Prasyarat motivasi tersebut, muncul ketika ada suatu masalah, yang membuat kita terdorong untuk menyelesaikannya. Ketika ada kesulitan, lantas kita berkeinginan untuk memecahkannya. Jika masalah bertumpuk-tumpuk, kesulitan ada di mana-mana, akan tetapi kita tidak TERMOTIVASI untuk menyelesaikannya, maka kreativitas, selamanya tak akan ada. Karena kreativitas itu sendiri, adalah sebuah solusi dari berbagai macam problematika.

Adapun prasyarat informasi dibutuhkan sebagai penyokong dari kreativitas itu sendiri. Bayangkan jika Anda menghadapi berbagai macam problematika, Anda terdorong untuk menyelesaikannya, akan tetapi Anda tidak memiliki cukup pengetahuan, pemahaman tentang ilmu-ilmu yang terkait serta asas-asas kreativitas, bisa jadi Anda justru akan terbelit stress yang mendalam. Ingin berbuat, tetapi tak tahu dari mana.

Selain prasyarat tersebut, Abraham Maslow menambahkan dengan prasyarat kesehatan mental. Jangan selalu dikaitkan antara kesehatan mental dengan penyakit jiwa akut seperti gila. Orang yang di dalam batinnya terdapat konflik-konflik seperti dendam, sakit hati, patah hati—atau juga mengalami tekanan-tekanan atau dominasi dari orang-orang tertentu—ia juga bisa dikatakan sedang tidak sehat secara mental. Kondisi semacam itu akan menjadi penghalang munculnya kreativitas.

Sementara, waktu kerja, suasana tempat kita berada, serta kondisi badan—bahkan aktivitas-aktivitas pengkondisian tertentu, juga akan berpengaruh terhadap proses kreatif kita. Untuk hal ini, setiap orang biasanya memiliki spesifikasi sendiri-sendiri dengan tingkat subyektivitas yang tinggi dan biasanya sugestif. Ada seorang pelukis yang harus meminum secangkir kopi pahit terlebih dahulu sebelum berkutat dengan kanvas, cat dan kuas. Ada seniman yang harus menggondrongkan rambut—dan ide tidak akan muncul jika rambut tidak gondrong. Ada yang harus menenggak segelas alkohol dan mabuk terlebih dahulu. Ada juga yang harus melamun di atas kakus (maaf) berjam-jam. Kelihatannya memang konyol, namun itulah kenyataanya. Saya sendiri, hanya akan bisa melakukan pekerjaan kreativitas jika berada di sebuah tempat yang rapi, nyaman, bersih, kalau bisa wangi, ada musik lembut dan cemilan serta secangkir minuman, nah… Apalagi jika sesekali suami saya tercinta memijati punggung saya dari belakang, tanpa saya minta. Wah, ide-ide akan mengalir dengan begitu deras. Penciptaan-penciptaan baru akan memenuhi rongga imajinasi saya.

Baiklah, pengondisian semacam itu barangkali memang penting. Akan tetapi, sebagai seorang yang memiliki keyakinan agama, kita seharusnya bisa memilah, mana hal-hal yang sesuai dengan syariat, dan mana-mana yang bertentangan. 

BERSAMBUNG KE BAGIAN DUA

[1] Dikutip dari The Liang Gie, hal. 67
[2] Dikutip dari John Townsend & Jacques Favier, hal. 9

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menulis & Kreativitas #1"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!