Siapa Berani Pacaran???

By Afifah Afra

Kehamilan di usia muda, yang sebagian besar terjadi karena ‘kecelakaan’, seringkali menjadi penyebab timbulnya pernikahan dini, alias ‘maried by accident.’ Sebagaimana digambarkan dengan sangat gamblang pada sebuah sinetron yang dibintangi oleh Agnes Monica dan Syahrul Gunawan, kita bisa melihat, betapa kacau balaunya sebuah pernikahan yang dibangun dengan landasan yang sangat rapuh tersebut. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi nyaris tiap hari. Ada masalah sedikit, maunya kabur dari rumah. Belum lagi jika kedua orang tua masing-masing ikut campur dalam permasalahan keluarga anak-anaknya, barabe! Kacau balau. Semua jadi berantakan.
Tetapi, meskipun hasilnya porak poranda, pernikahan dini yang disebabkan karena “accident” tersebut, ternyata ‘selangkah lebih maju’ dibandingkan dengan solusi mengerikan yang lebih banyak ditempuh oleh remaja yang hamil di luar nikah, yakni aborsi.
Menurut WHO, di Asia Tenggara setiap tahunnya ada 4,2 juta bayi yang digugurkan, 1,5 juta diantaranya terjadi di Indonesia. Sedangkan menurut data dari PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), tahun 1999-2000 diperkirakan dua juta orang telah melakukan aborsi, 750.000 di antaranya dilakukan oleh wanita yang belum menikah.[1] Na’udzubillahi min dzalik.
Yang jelas, tampaknya permasalah hamil di luar nikah akibat pergaulan yang kebablasan—yang kemudian ditempuh solusi dengan aborsi, sudah menggejala di mana-mana.
Seorang tetangga kampung kami menggugurkan kandungannya melalui praktek ilegal seorang dokter pada usia yang sangat belia, 16 tahun. Sementara di sekolah saya dulu pernah terjadi, anak kelas 1 SMP setiap beberapa menit izin ke kamar kecil. Sang guru pun jadi curiga. Usut punya usut, remaja yang masih pantas disebut sebagai bocah ingusan itu ternyata sedang emesis (muntah-muntah),  karena hamil 3 bulan.
Seorang  teman kami juga pernah bercerita, bahwa ia memiliki teman sekelas yang pernah aborsi 4 kali, pertama dengan cara memukul-mukul perutnya, kedua dan ketiga memakai obat-obatan keras, baru pada kehamilan keempat, ia menggugurkan kandungannya dengan pertolongan dokter (praktek ilegal tentunya). Ironisnya, keempat aborsi tersebut dilakukan pada saat ia duduk di bangku SMP dan SMU, dengan orang (pasangan) yang sama pula.
Pembaca mungkin juga memiliki cerita-cerita tentang hal tersebut, bahkan mungkin lebih mengerikan.
Apapun dampak dari hal tersebut, yang jelas banyak remaja yang masa depannya menjadi hancur karena permasalahan itu. Seperti seorang kakak kelas yang terpaksa harus drop out dari sekolah dan menjadi kondektur di sebuah bus pedesaan untuk menghidupi anak-istrinya, padahal ia memiliki kemampuan akademis yang bagus, selain bakat tulis menulis yang cukup menonjol.
Nah, permasalahan semacam itu menjadi sangat menggejala terkait dengan tren remaja saat ini, yaitu pacaran. Pacaran mungkin sudah ada sejak zaman bauhela, namun semakin hari, pacaran semakin menaikkan tingkat keberanian para pasangan-pasangan dalam berinteraksi. Mulai dari necking, petting hingga konseptus alias hubungan seks pranikah, telah menjadi hal yang sangat biasa terjadi di kalangan remaja saat ini.
Yang memprihatinkan, seringkali orang mengaitkan cinta dengan seks. Paradigma berpikir semacam itu tergambar dengan jelas di cerita film “Buruan Cium Gue” yang baru-baru ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Pada film tersebut digambarkan seorang remaja puteri yang merasa jengah, karena sudah lama berpacaran, tetapi sekadar cium pun belum pernah mereka lakukan. Akhirnya ia mendesak kepada sang pacar agar menciumnya. Seakan kalau ia belum dicium sama sang pacar, berarti mereka belum resmi berpacaran.
Sebagai ekspresi cinta? Wah... wah... wah!
Akibat dari pergaulan yang bebas itulah, penyakit seksual pun merajalela. AIDS sebagai salah satu penyakit mematikan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini, lebih dari 32,4 juta pengidap HIV/AIDS di seluruh dunia, 2,6 juta diantaranya telah meninggal dunia. Kalau di Indonesia sendiri, prediksinya yang terinfeksi HIV akan mencapai jumlah 2,5 juta orang. Menurut penelitian, meski AIDS bisa disebabkan oleh banyak faktor, tetapi 95,7% terjadi melalui perzinaan atawa pelacuran, termasuk seks bebas yang dilakukan oleh pasangan-pasangan di luar nikah tersebut.
Sampai saat ini, AIDS belum ditemukan obatnya! Hanya ada satu cara yang paling tokcer agar kita terhindar dari AIDS: hindarkan seks bebas!
Nah, siapa yang masih berani pacaran?!




[1] Sabili, No. 19 Maret 2000

Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "Siapa Berani Pacaran???"

  1. Ini data tahun berapa mbak? Data2 terbaru lebih mengerikan lho...

    ReplyDelete
  2. megerikan ya, apakah nikah muda dpt memberikan solusi terbaik?

    ReplyDelete
  3. Nikah muda klo tanpa persiapan juga repot :-)

    ReplyDelete
  4. WAH...INI ADIK-ADIKKU YANG CEWEK HARUS BACA INI......!!

    ReplyDelete
  5. @ all: maaf baru balas. nikah muda bagus, jika ada persiapan... nanti ya, ditunggu artikel berikutnya
    @ DOdy: Siiip, ayo disebarkan! Tapi jangan lupa, sebutkan sumbernya ya?!

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!