Upin-Ipin, Timnas dan Sinar Laser

PROLOG
 
Euforia sepak bola ternyata sampai juga di rumah saya yang damai. Bukan hanya saya yang sejak kecil memang penggemar bola. Ya, gara-garanya dulu saya terkenal tomboy. Saya suka main bola bersama anak lelaki di saat hujan turun deras. Nah, karena saya perempuan, teman-teman lelaki merasa kasihan jika saya maju ke depan. Jadi, posisi saya seringnya kiper. Rekor saya sebagai kiper, barangkali mengalahkan Markus :-D
Tetapi asli, saya tidak terlalu menggemari pesepakbola dengan posisi kiper, kecuali Iker Casillas.
 
Balik ke euforia tadi, ya?! Mendadak seluruh rumah jadi senang bola. Suami saya yang biasanya tak terlalu suka bola (aneh ya, justru berkebalikan dengan saya), jadi senang nonton pula. Mbak Ratna, yang biasa momong anak-anak, juga sangat suka dengan Irfan Bachdim. Suami, Anis (6 th) dan Rama (4th) kompak, menggemari Gonzales. Sedang saya sejak dulu tetap sama: Bambang Pamungkas. Kata Asri Istiqomah teman sekantor saya, dia itu cooool...
* * *
Sebenarnya, awal-awal tergelar piala AFF saya tak terlalu ngeh. Selain karena apriori terhadap permainan timnas, saya juga sedang sibuk momong si kecil yang baru 3 bulan. Tapi karena setiap hari, khususnya malam hari, kampung saya selalu ramai oleh teriakan suporter, lama-lama tertarik untuk ngintip juga. Ternyata, luar biasa permainan tim racikan Alfred Riedl ini. Baru kali ini saya melihat permainan timnas yang agresif dan kompak. Bravo timnas!
Maka final pun menjadi ajang yang dinanti-nanti. Saat final leg pertama, kami sekeluarga sedang berada di rumah eyangnya anak-anak di Purworejo, tepatnya di daerah Pituruh. Saat menyetel RCTI, Anis berteriak kecewa, "Yah, Bi... gambarnya nggak jelas!"
Maklumlah, rumah eyangnya anak-anak memang di desa. Kami semua tertunduk lesu. Namun suami akhirnya berinisiatif untuk memutar-mutar bambu tempat terpasangnya antena. 
"Alhamdulillah, gambarnya sekarang jelas, Bi!" teriak anak-anak.
 
* * *
Hujan deras mengiringi berjalannya final. Ooow... babak pertama terlewat, dan skor masih kaca-mata alias kosong-kosong.
Di babak kedua, terjadi serangan nuklir... eh salah, serangan sinar laser. Kiper Markus pun protes, pertandingan dihentikan sementara.
"Kenapa, Mi?" tanya Anis.
Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Anis manggut-manggut.
"Doooor!" terdengar suara petasan.
"Lho, kok pakai petasan?" Anis kaget.
"Iya, penontonnya nggak bagus tuh!" kataku.
"Curang ya Mi?"
"Iya. Besok kalau final di Indonesia, insya Allah nggak akan begitu."
Lalu terjadi hujan gol, bersama dengan hujan air mata Anis yang tak rela, timnas kesayangannya dibantai 3-0.
"Sudahlah, yang namanya pertandingan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang," hiburku.
"Malaysia menang tapi curang, ya Mi!"
Aku mengangguk. Tapi kemudian Anis nyeletuk. "Tapi Upin dan Ipin tidak curang, kan Mi?"
"Tidaaak!" tiba-tiba Rama nyeletuk. "Upin dan Ipin itu baiiiik..."
Aku hanya bisa tersenyum. Hm, seandainya semua suporter Malaysia seperti Upin-Ipin...

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Upin-Ipin, Timnas dan Sinar Laser"

  1. anak sekarang tidak kenal sosk unyil (dalam kisah unyil boneka produk pffi) malah beralih ke upin ipin. unyil vs upin ipin. unyil... riwayatmu kini......

    ReplyDelete
  2. Laptop si Unyil sebenarnya bagus, anak-anak juga banyak yang suka, sayang televisi tidak berani menayangkan di waktu prime time seperti Upin-Ipin

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!