Anak Manja, Salah Siapa?

Afifah Afra
Pagi ini, hari hari terakhir kedua anakku, Anis (TK Besar) dan Rama (Playgroup) liburan. Hari senin, mereka sudah masuk sekolah, dan kembali ke aktivitas semula.
“Ayo dong, Mi… jalan jalan!” ujar Anis. “Kan belum liburan. Kita belanja yuk!”
“Lho, kan kemarin baru ke rumah Eyang di Purbalingga dan Purwokerto?” ujarku.
“Iya, tapi cuma sebentar, capek di jalan.”
Akhirnya, kami sepakat untuk main ke sebuah mall. Samiluwes Nusukan. Jika Anda tinggal di Solo, pasti tahu di mana letak dan keadaan mall tersebut. Yap, jangan bandingkan dengan Solo Grand Mall atau Solo Square yang peruntukannya memang cenderung kalangan menengah ke atas, baik dari segi kemegahan, interior, barang barang yang ditawarkan, termasuk harganya.
Samiluwes adalah mall untuk kalangan menengah ke bawah. Parkir mobil di sana sangat sulit, karena orang bermobil jarang singgah disana. Tak ada AC. Harga harga jelas murah meriah. Aneka permainan yang ada pun lumayan miring. Sebagai contoh, jika di arena game Solo Square hampir setiap permainan tiketnya minimal Rp 5.000/anak, di Samiluwes hanya Rp 1.000/orang. Yang agak mahal hanya permainan mandi bola, Rp 6.000/30 menit untuk satu anak. Akan tetapi, itu masih jauh lebih murah dari aneka permainan sejenis di mall lain yang bisa 2 atau 3 kali lipat harganya.
Di area belanja ritel, selain karena harga relatif murah dan mungkin karena barang yang disajikan juga tak selengkap hypermart atau carefour, saya jarang kebobolan. Tampaknya satu troli sudah nyaris penuh, tetapi jumlah rupiah yang dibayar tak seberapa besar.
Yah, selain mencoba lebih beririt ria, saya dan suami sepakat untuk tidak terlalu memanjakan anak. Meskipun begitu, kami tidak lantas meng’haramkan’ aktivitas belanja bagi anak anak. Bagaimanapun, menurut kami, memperkenalkan aktivitas perdagangan kepada mereka sedini mungkin itu penting. Sebagai contoh, saat anak anak saya ajak ke kantor saya di Penerbit Indiva, mereka selalu saya perkenalkan dengan aktivitas perdagangan buku.
“Hore, kita ke Samiluwes!” teriak anak anak, senang. Dalam hati saya membatin, sekadar Samiluwes saja sudah membikin mereka gembira bukan alang kepalang.
“Tetapi, nanti nggak boleh minta macam macam ya?” ujar saya. “Sekarang sebutkan, Mbak Anis mau minta dibelikan apa?”
“Ya, Mi! Anis minta buku gambar.”
“Rama juga.” Kata Rama. “Sama pensil warna ya?”
“Wah, kan pensil warna Rama masih banyak.”
“Ya sudah.” Rama mengalah.
“Sama boleh beli kue ya, Mi?” rayu Anis.
“Sama mandi bola ya?” kata Rama.
“Ya, baiklah. Ingat, cuma tiga yang boleh diminta ya? Buku gambar, kue sama mainan mandi bola. Setuju?”
“Setuju!”
Buku gambar harganya Rp 3.000. Kue paling banter Rp 2.000. Mandi bola Rp 6.000. Jadi per anak Rp 11.000. Untuk acara yang tak seminggu sekali, saya kira tak terlalu berlebihan. Dan ternyata, saat berada di mall, anak anak dengan senang hati menaati perjanjian tersebut. Memang betul, Rama terkesima saat melihat mainan kereta api yang harganya sebenarnya pun hanya sekitar Rp 30.000.
“Mi, kalau mau beli kereta seperti itu, harus nabung dulu ya?” tanya Rama, polos.
“Iya. Nanti kalau Rama diberi uang sama Eyang atau Tante, jangan dibuat jajan, tetapi dikumpulkan,” ujarku.
Anis pun sama. Ia terpana di depan sebuah sepatu berwarna pink. Harganya sebenarnya pun tak seberapa mahal, hanya sekitar Rp 25.000. Tetapi, perjanjian adalah perjanjian. Ketika Anis saja berusaha konsisten, apalagi saya? Hasrat untuk memanjakan anak sebenarnya ada. Tetapi, tak selalu rasa sayang itu diungkapkan dalam bentuk memenuhi apa yang diinginkan anak anak, bukan?
Perjanjian semacam itu, sudah kami terapkan untuk anak anak sejak dini. Saya tidak menjauhkan mereka dari uang. Saya bahkan mengajarkan, mana uang yang nilainya kecil, sedang, atau besar. Dan apa arti nilai uang tersebut ketika ditukar dengan barang. Oleh karenanya, tak heran jika sebelum meminta sesuatu, biasanya anak anak bertanya dahulu, “Umi, itu mahal atau murah? Umi sanggup beli atau tidak?”
Dan jika memang barang itu mahal, saya akan menjawab, “Barang itu mahal, Nak. Umi memang bisa membeli, tetapi jika Umi membeli barang itu, nanti Umi nggak bisa beli susu, beli beras atau bayar sekolah Mas Rama.”
Konsistensi, penyadaran yang terus menerus, akhirnya memberi bekas. Alhamdulilah, jarang sekali anak anak menangis meraung raung di toko atau mall untuk meminta barang barang yang mereka inginkan. Semoga hal tersebut terus berlanjut.
Tetapi, pernah ada hal lucu terkait dengan masalah tersebut. Suatu hari, Rama tampak mengagumi sebuah gedung yang di dalamnya terdapat air terjun buatan. Lalu ia berkata kepada abinya.
“Bi, nanti di rumah dibuatkan seperti itu ya?”
“Wah, itu mahal dik!” kata Anis.
“Kok mahal? Itu kan tidak beli, tapi bikin ya Bi?” kata Rama sembari mata bulatnya melirik Abinya. Sembari senyum sang abi pun mencoba menjelaskan. Iya, bikin. Tapi kan harus bayar ongkos tukang, beli semen, beli pasir, batu kali…

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Anak Manja, Salah Siapa?"

  1. jadi memang jika dari awal udah di cut, maka kemungkinan besar tidak akan terjadi bola salju. coba jika jalan2nya di persawahan atau di kebun. hehehe.... ya paling tidak di alun2 lah. makanannya juga murah to. asal sehat.

    ReplyDelete
  2. Betul... kami juga sering ngajak mereka jalan-jalan ke Stadion Manahan atau Taman Bale Kambang. Mainnya murah meriah, main bola, lari-lari dan main petak umpet sepuasnya. Cuma bayar parkir masuk aja. Anak-anak sebenarnya tak butuh sesuatu yang mahal2, cukup yang menyenangkan dan bikin mereka mendapatkan pengalaman baru

    ReplyDelete
  3. Jadi anak manja itu salah siapa, Bunda? Salah orangtuanya, atau salah para kapitalis yang rajin membangun mall?

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!