Berpesiar Ke Masa Depan Atau Masa Lalu, Mungkinkah?




By Yeni Mulati, S.Si

Pernah nonton film-film tentang mesin waktu? Mulai dari Doraemon hingga Time Line? Apakah film-film itu sekadar rekaan para penulis fiksi belaka? Oh, ternyata tidak. Berdasarkan hasil pemikiran para ahli fisika, ternyata waktu itu bisa dimolor atau dimampatkan lho? Artinya, sebenarnya kita bisa kok, ‘terbang’ ke masa yang akan datang atawa ‘melongok’ ke masa silam, walaupun—masih kata para pakar fisika—hal itu nggak kemudian membuat kita mampu merubah sejarah.
Jadi, gimana dong? Kita bahas yuuuk!

Kisah Ashabul Kahfi
Pernah dengar kisah Ashabul Kahfi? Ceritanya dahulu kala, di kota Afsus (Aphesus, di Turki, saat Islam bernama Tharsus), dikuasai oleh raja Persia yang bernama Diqyanius, seorang raja yang congkak, zalim dan menyembah berhala. Ia selalu membunuh orang-orang yang beriman kepada Allah. Nah, tersebutlah 6 orang pemuda beriman yang ingin meninggalkan raja yang zalim itu untuk mencari kebenaran yang haqiqi. Mereka adalah Tamlikha dan ke-5 kawannya, yang pergi bersama anjing mereka, Qithmir.
Tentu saja Diqyanius sangat marah. Ia memerintahkan pasukannya untuk mengejar Tamlikha dkk, yang ternyata berlindung di sebuah gua. Nah, peristiwa yang ajaib pun terjadi. Tamlikha dan teman-temannya tertidur, selama 309 tahun! Ketika terbangun, mereka dalam keadaan segar bugar, namun anjing mereka telah mati, dan sejarah telah berganti. Diqyanius telah mati, dan diganti oleh seorang raja yang adil.
Subhanallah!
Banyak orang yang nggak punya iman yang tertawa mendengar kisah itu. Nggak mungkin! Masak tidur 309 tahun. Tapi, tunggu dulu, ternyata, perkembangan ilmu pengetahuan memiliki jawaban yang gemilang serta ilmiah atas peristiwa itu, meskipun memang baru dalam taraf teori belaka.

Ruang dan Waktu Ternyata Nggak Absolut
Sekitar 100 tahun yang lalu, Albert Einstein meluncurkan satu teori yang membuat para fisikawan kalang kabut. Kata doski, ruang dan waktu itu tidak absolut, melainkan relatif. Artinya, ruang dan waktu berbeda untuk setiap orang. Bagaimana seseorang mengalami kejadian dalam ruang dan waktu bergantung pada dua hal: di mana posisi orang tersebut mengamatinya dan seberapa cepat ia bergerak bila dibandingkan dengan kecepatan cahaya.
Einstein mengamati bahwa kecepatan cahaya adalah konstan, yakni 299 ribu km/detik. Kecepatan cahaya itu tidak akan berbeda, meskipun diamati oleh dua orang dari dua titik pengamatan yang berbeda.
Kemudian muncullah sebuah teori yang dinamakan paradoks kembar. Sederhananya begini, misalnya Anton dan Andi adalah saudara kembar, yang lahirnya di hari—bahkan jam yang sama. Anton kemudian menjadi astronot yang mengendarai roket dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya, sementara Andi tinggal di bumi—menjajal profesi lain. Nah, ketika Anton sibuk menjelajah galaksi, maka ketika pulang ke bumi, ia masih segar bugar—sehat wal afiat, sementara Andi sudah meninggal.
Kok bisa?
Tahu kan rumus kecepatan? Kecepatan (v), diperoleh dari jarak (d) yang dibagi waktu (t). Jika v adalah konstan, t dan d-lah yang seharusnya berubah-ubah. So, salah satu konsekuensinya adalah, bahwa jam yang ada di dalam sesuatu yang bergerak selalu berdetak lebih lambat ketimbang jam yang diam di tempat.
Menurut Dr. J. R. Gott dari Princeton University, New Jersey, Amerika Serikat, seperti dinukil oleh Koran Tempo, 30 Juni 2005, "Jika Anda terbang dengan pesawat mengelilingi bumi ke arah timur, Anda akan lebih muda 59 nanodetik ketimbang jika Anda tetap berada di rumah.”
Masih menurut Pak Gott, kosmonot Rusia Sergei Krikalev, kembali ke bumi setelah tinggal di stasiun antariksa Rusia Mir selama 748 hari. Usianya menjadi lebih muda seperlima belas detik daripada jika ia tetap di bumi.
Nah, apa yang saat itu terjadi dengan para Ashabul Kahfi? Wallahu a’lam... namun jika ternyata—misalnya saat itu—mereka ternyata digerakkan Allah dengan kecepatan tinggi—melebihi kecepatan cahaya (299. 792.458 m/detik), maka teori Einstein tersebut bisa berlaku atas mereka.

Mesin Waktu
Teori relativitas khusus dari Einstein itu, membuka ruang diskusi yang menarik, bahwa dimungkinkan jika suatu saat tercipta mesin waktu, yang membuat kita mampu melihat masa depan atau masa yang telah lewat. Menurut Paul Davies dalam artikelnya, mesin waktu bisa dibangun jika kita mampu menciptakan sebuah worm hole (lobang cacing), di mana satu ujung diletakkan di bumi sedangkan ujung yang lain diletakkan di bintang neutron yang memiliki gravitasi yang lebih besar daripada bumi.
Menurut Paul Davies gravitasi yang lebih besar bisa memperlambat jalannya waktu, dan pada beberapa kasus seperti pada permukaan bintang neutron yang memiliki gravitasi yang sedemikian besar sehingga waktu berjalan lebih lambat 30% daripada bumi. Jika G!zolista berjalan melewati worm hole—misalnya ‘disetel’ dengan selisih waktu 10 tahun—ketika kamu berangkat dari bumi, maka kamu akan kembali ke masa 10 tahun yang lalu. Sedangkan jika berangkatmu dari bintang neutron, maka kamu akan lompat 10 tahun ke masa yang akan datang. Ingat, kamu kudu melewati worm hole tersebut dengan kecepatan cahaya.
Wah, kok ribet banget!
Eh, jangan marah dong! Namanya ilmu pengetahuan itu memang ribet. Namun keribetan itu justru bisa mengantar kita pada keimanan yang semakin mendalam. Mungkin—bisa jadi—keberadaan teori itu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, kenapa banyak hadist Rasulullah yang bercerita tentang masa depan atau masa lalu. Benar atau tidak, mari kita kembalikan kepada Allah, Sang Maha Benar dan Pemilik Kebenaran itu sendiri. [Afifah Afra. Dari berbagai sumber].



KETERANGAN: PERNAH DIMUAT DI MAJALAH GIZONE EDISI 4
SUKA ARTIKEL INI? Kunjungi yuk, LINK INI

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Berpesiar Ke Masa Depan Atau Masa Lalu, Mungkinkah?"

  1. Aku suka ini,Mbak

    Berhubungan dengan hobiku nonton film fiksi ilmiah hehe..ketauan seneng nonton film haha...
    Jazakillah tambahan ilmunya yah,Mbak..
    Sayangnya, Mbah Enstein kok gak terbuka keimanannya ya?

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah sdh punya Gizone edisi 1-18 (kapan kira2 Gizone go public lagi??)

    ReplyDelete
  3. Keren-keren mbak, artikelnya...

    ReplyDelete
  4. Pas banget sama yang sedang saya pelajari ... Terima kasih ...

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!