Kusambut Amanah Itu Ya Allah...

Catatan Menjelang Kelahiran Anak Ketiga
Ahad, 19 September 2010,
Pagi-pagi, usai melakukan aktivitas rutin—antara lain jalan pagi, menyapu, cuci piring dll. (saat itu khadimat kami masih libur lebaran), mendadak ada yang bergejolak di perut saya. Kontraksi yang cukup kuat. Meskipun HPL (hari perkiraan lahir) masih sekitar seminggu lagi, saya segera mafhum, mungkin saatnya telah tiba. Karena, kedua kakak dari janin yang saya kandung ini, juga tak pernah ‘setia’ dengan HPL. Anis (sekarang 5 tahun 10 bulan), maju sekitar 2 minggu, dan Rama (3 tahun 11 bulan), maju 10 hari. Secara normal, kehamilan biasanya menempuh waktu 40 minggu, akan tetapi plus-minus 2 minggu merupakan sebuah kewajaran. Karena, ketika kandungan berusia 37 minggu, sebenarnya janin sudah matang dan siap dilahirkan.

Maka, aku pun bergegas menemui suamiku, Mas Ahmad yang sedang sibuk membersihkan rumah. “Kayaknya sudah terasa, Bi…” ujarku. Aku memang biasa memanggil suamiku dengan sebutan ‘Abi’.

Mas Ahmad menatapku tenang. “Benar? Jangan-jangan kontraksi palsu.”
Bagi teman-teman yang pernah belajar tentang proses persalinan, istilah kontraksi palsu (Braxton hicks) pasti bukan sesuatu yang asing. Kontraksi ini muncul sebagai sebuah proses ‘latihan’ dari rahim.
Biasanya tidak disertai rasa sakit, dengan durasi waktu sekitar satu menit, dan nantinya akan menghilang. Banyak yang ‘tertipu’ dengan Braxton Hicks, khususnya para ibu yang baru pertama kali hamil. Saya pun dahulu begitu. Empat hari sebelum persalinan, ketika ada kontraksi palsu, saya langsung tegang. Diantar suami, kami pun datang ke rumah sakit untuk diperiksa. Ternyata belum ada proses pembukaan.
“Kayaknya bukan, Bi… rasanya sakit, dan terus-menerus dan rasanya nyeri, perut mules.”
“Oke, sebentar ya? Ummi siap-siap saja dahulu. Abi mandi dulu.”

Saat itu sudah jam 8.30. Hm, jangan tuduh suami saya bolot ya, karena jam segitu baru mandi (hehe). Memang hari ini kami merencanakan untuk ‘kerja bakti’, bersih-bersih rumah, agar saat si kecil keluar, rumah terasa lebih longgar, bersih dan segar.
Beruntung, saya sudah bersiap sejak seminggu yang lalu. Sebuah tas sudah kuisi dengan berbagai perlengkapan untuk menginap di rumah sakit. Mulai dari kain jarik, stagen, pakaian ganti, alat-alat mandi sampai beberapa stel pakaian bayi. Jadi, sewaktu-waktu terasa kontraksi, langsung saja sambar tas tersebut, tidak harus ribet menyiapkan.

Jam 9.00 kami meluncur ke RSU PKU Muhammadiyah Surakarta. Si Rama kami ajak serta, sementara kakaknya, Anis kutitipkan pada buliknya, Tante Mei, adikku yang bungsu. Di jalan, kontraksi terus terjadi, disertai rasa nyeri, membuatku semakin yakin, ini bukan kontraksi palsu. Kata dokter, pada kontraksi palsu, rasa nyeri tidak dialami (atau paling tidak tak terlalu dirasakan), karena tekanannya masih kecil. Sementara pada kontraksi (his) yang sebenarnya, tekanan telah mencapai 40 mmH2O sehingga rasanya nyeri. Intensitasnya pun semakin lama makin kuat, durasinya makin lama makin panjang, intervalnya makin lama makin pendek (makin sering).
Tiba di RSU, aku langsung diperiksa oleh seorang bidan yang jaga. Ternyata baru bukaan satu longgar. “Langsung mondok, atau pulang dulu?” Tanya sang bidan, simpatik?
Kami memutuskan untuk pulang dulu. Proses pembukaan jalan lahir saat persalinan terdiri dari beberapa fase, yakni fase laten dan fase aktif. Pada fase laten, serviks membuka hingga 3 cm, dan biasanya menempuh waktu yang cukup lama. Masing-masing orang berbeda. Umumnya 8 jam, namun ada yang 12 jam, bahkan 24 jam. Setelah membuka sekitar 3 cm, masuklah ke fase aktif, dimana serviks membuka sampai 10 cm, dan biasanya berlangsung lebih cepat, tentu saja dengan tingkat kenyerian dan kontraksi yang lebih kuat, berdurasi semakin lama dan interval semakin pendek.

Warung Bakso, Sayur Lodeh dan Halal Bihalal
Pulang dari RSU, kami sempat mampir ke warung bakso. Maklum, si Rama sangat suka makan bakso. Sayang bakso langganan di depan RSU masih tutup, jadi kami pun meluncur ka daerah Mangkunegaran. Ada satu warung bakso yang lezat di sana (nggak usah sebut merk ya, nanti dikira promosi, hehe. Kalau RSU-nya saya sebut merk karena suami kerja di sana, jadi terkena kewajiban ‘promosi’ haha).
Di rumah, adikku masak sayur lodeh dan ayam goreng. “Hayo, makan yang banyak, biar ada tenaga saat partus nanti!” ujar suamiku. Alhamdulillah, suamiku seorang dokter, jadi bisa memberi tahu apa yang terjadi dan apa yang harus kulakukan setiap saat.
Habis makan, sambil merasakan kontraksi (yang belum terlalu hebat), aku sibuk mondar-mandir, pokoknya gerak, biar pembukaan semakin cepat.
“Mi, berkemas, kita mau datang ke acara silaturahim perawat bangsal Arofah di Nusukan!” ujar Mas Ahmad. Aku ternganga. Dalam keadaan inpartus, datang ke acara silaturahim? Yang benar saja?
Namun akhirnya aku kembali berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya (soalnya aku memang tak terlalu ribet dalam masalah penampilan).
“Nanti habis dari acara silaturahim, kita langsung ke RSU aja. Pesan kamar dan mondok. Biar tenang. Rama diajak saja, Anis biar sama Tante di rumah,” ujar suami.
Okay, Bos!
Di tempat silaturahim, mendadak rasa nyeri akibat kontraksi tersamarkan oleh keramahan insan paramedis yang datang ke sana. Suami saya penanggungjawab di bangsal Arofah, jadi memang cukup akrab dengan para perawat yang hadir dalam acara tersebut. Lagipula, beberapa dari mereka memang aku mengenalnya.
Usai dari acara halal bihalal, kami langsung ke RSU. Dicek lagi oleh bidan yang jaga, masih bukaan satu longgar. Ah, rasanya tidak sabar menunggu. Mungkin aku memang termasuk orang dengan fase laten yang lebih lama dibanding lainnya. Dulu, saat kelahiran anak pertama, saya juga menunggu cukup lama untuk masuk fase aktif. Tetapi, kelahiran bayi pertama mestinya berbeda dengan bayi kedua, ketiga dan seterusnya. Jangan-jangan karena saat hamil aku tak sering jalan pagi dan melakukan senam hamil.

Tranfusi Darah
Namun, ada deteksi yang membuatku sedikit kaget. Saat darahku dicek di laboratorium, ternyata HB-ku hanya 9, padahal normalnya 12. Menurut Dr. Anik Suryaningsih, SPOG, dokter yang membantu proses persalinanku, aku harus tranfusi darah. Seumur hidup, baru kali ini aku tranfusi. Maka, malamnya aku pun terbaring di ruang VK dengan tangan diinfus, dan tetes-tetes darah yang entah diambil dari siapa (karena darah diperoleh dari PMI), memasuki tubuhku. Kubuang jauh-jauh pikiran ‘tak bermutu’ seperti jangan-jangan darahnya tidak sehat, jangan-jangan … ufh, kuyakin RSU ini cukup teliti dan tak sembarangan memberi pelayanan kepada pasiennya.

Senin, 20 September 2010

Fase Aktif
Aku jelas tak bisa tertidur, karena pembukaan di serviks semakin lebar. Ketika pagi dicek, sudah masuk bukaan tiga. Yup, masuk fase aktif. Cukup lama juga fase latennya, lebih dari 12 jam. Padahal ini kelahiran bayi ketiga. Rasanya cukup membosankan. Apalagi aku sendirian di ruang VK. Tak ada yang menunggu, seperti pasien lain. Suamiku ada di kamar RSU, momong Rama yang kondisinya juga sedang demam.
Menjelang dhuha, pembukaan tak juga bertambah. Maka dokter pun menawarkan untuk diinduksi. Ufh, aku punya pengalaman dua kali diinduksi saat kelahiran Anis dan Rama. Saat kelahiran Anis, pembukaan sudah masuk 5, tetapi tak bertambah-tambah. Akhirnya aku diinduksi. Rasanya … haduuuh, sakiiit. Tapi saat kelahiran Rama, meskipun sama-sama diinduksi, rasanya tak sesakit ketika kelahiran Anis. Mungkin karena saat itu aku diinduksi dari awal. Ceritanya aku mengalami KPD (ketuban pecah dini). Saat diobservasi semalam, ternyata tak ada pembukaan, sehingga mau tidak mau harus diinduksi. Jam enam pagi oksitosin diberikan, jam 12 siang bayi lahir. Prosesnya begitu cepat, sehingga rasa bosan akibat menunggu tak terlampau kurasakan. Atau karena dari tubuhku belum disekresi hormon pemicu kontraksi (karena memang belum memasuki masa persalinan), sehingga ketika oksitosin ditambahkan, tak ada hormon yang dobel. Ah, aku tak tahu persisnya …

Induksi Lagi?
Kembali ke proses persalinan anak ketiga. Aku sudah sangat gelisah karena pembukaan kembali macet. Akhirnya aku pun menandatangani surat persetujuan diinduksi, demikian juga suami. Tak apa  sakit yang ‘hebat’ kembali kurasakan. Yang penting persalinan segera terjadi. Namun, baru saja hendak diinduksi, mendadak rahimku berkontraksi kuat dan lama.
“Wah, kontraksi sudah adekuat,” kata dokter Anik. “Diobservasi saja selama satu jam, kontraksi rutin tidak. Jangan dulu diinduksi.”
Ternyata kontraksi memang semakin kuat, semakin sering dan semakin rapat intervalnya. Dalam waktu singkat, sudah bukaan 7 cm. Nah, ketika memasuki bukaan 8, rasa sakit semakin kuat. Aku sempat bersikap konyol dengan merintih pada suami yang setia menungguku. Rama sudah diungsikan ke rumah budhe mantan pengasuhnya dulu—yang sudah kami anggap saudara sendiri. “Bi, Ummi ndak kuat! Ummi ndak kuaaaat.”
“Tenang, sudah hampir genap pembukaannya. Ummi pasti kuat! Pasti kuat!” suamiku terus menyemangati. Dan, memang suntikan motivasilah yang saat itu kubutuhkan. Aku telah menunggu sejak ahad pagi, dan rasanya hampir putus asa dengan proses yang begitu lambat.

Akhirnya …
Suara adzan berkumandang dari masjid rumah sakit, seperti embun yang menetes di dedaunan tanaman yang tumbuh di padang pasir.
Ah, akhirnya pembukaaan lengkap, setelah terjadi kontraksi yang sangat kuat dan cukup lama. Saat itu, aku genggam tangan suamiku kuat-kuat. Dokter Anik memimpin persalinan. Alhamdulillah, aku mampu mengejan dengan cukup kuat. Hanya 3 kali mengejan, si baby keluar.
Ufhhh… Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar!!!!
Seperti ada beban berat yang telah terlepas. Tubuhku terasa sangat ringan, namun juga lemas dan lunglai. Aku teringat tulisan Arlene Eisenberg, seorang ibu yang barusan melahirkan, tulisnya, lebih dari seorang petinju yang mati-matian bertarung di atas ring. Aku benar-benar kehabisan energi, sampai hendak menggerakkan kaki pun tak sanggup.
Hanya saja, rasa lega berbuncah, sangat! Suamiku menatap mesra, bahagia.
“Ah, anaknya gendut dan sehat!” ujar Ibu Dokter Anik Suryaningsih, yang untuk kedua kalinya menjadi pahlawan dalam proses persalinanku, riang. Dulu, saat melahirkan Rama, juga beliau yang menolongku. Ah,  ada juga pahlawan-pahlawan yang lain. Para bidan (Mbak Wahyu, Mbak Dian, Mbak Diyah, para perawat, Dokter Oktora SPA, dan terkhusus, suamiku Ahmad Supriyanto.
Ucapan selamat datang bertubi-tubi dari para karyawan di RSU. Maklum, suamiku bekerja di sana. Aku menjawab ucapan itu dengan senyum lega.
3,4 kilogram berat si baby. Rekor untukku yang berfisik mungil. Dulu Anis lahir 3 KG dan Rama 3,1 KG. Ini yang terbesar.
“Pantas prosesnya agak lama. Selamat ya, Mi!” ujar suamiku sambil menyuapiku makan siang. Aku makan dengan sangat lahap, karena seluruh sel dalam tubuhku benar-benar berteriak meminta suplai energi.
Terimakasih Allah… Hazbunallahu wa ni’mal wakiil ‘alaallahi tawakalnaa… Kusambut amanah itu, ya Allah. Beri aku kesanggupan untuk  mendidiknya, menjadikannya sosok mujahid yang tergabung dalam barisan para penolong-Mu.

Epilog
Si Baby pun kami beri nama Hanifan Shafiyurrahman. Hanifan artinya lurus, Shafiyurrahman bermakna pilihan Ar-Rahman (salah  satu asma’ul husna yang berarti Yang Maha Pengasih). Semoga ia senantiasa dalam keadaan dien yang lurus dan menjadi pilihan Allahurrahman. Amiin….
Kalau ditanya, pengin punya anak lagi tidak? Kapok nggak melahirkan? Ah, saat ini aku tak ingin menjawab. Tapi, rasa sakit saat bersalin itu begitu singkat, sementara rasa bahagia itu berusia sangat lama. Dan, aku ingin memiliki anak minimal empat. Lagipula, Anis belum-belum sudah merajuk, “Mi, nanti kalau Dek Hanifan sudah besar, Anis pengin adik perempuan.”
Serahkan saja semua kepada Allah.

Artikel Tentang Kehamilan:
Yuk, Menghitung Hari Perkiraan Lahir (HPL)!
Mengatasi “Morning Sickness” Saat Hamil Muda
Kusambut Amanah Itu Ya Allah

---------------------------------------
TIPS MUDAH HAMIL, KLIK SINI!


Subscribe to receive free email updates:

15 Responses to "Kusambut Amanah Itu Ya Allah..."

  1. subhanallah.. selamat ya mbak afifah afra atas kelahiran si kecil. hehe saya telat ngucapinnya:D
    tapi, semoga adik hanifan bisa menjadi seseorang yang sholeh dan dekat dengan Rabb-nya.. aamiin :)
    salam kenal mbak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diselamati sih, sepanjang masa juga selalu memicu berkah. Syukron jiddan ^^

      Delete
  2. barakalloh mba, semoga dik Hanifan menjadi generasi penerus pejrjuangan para nabi...aamiin :)

    ReplyDelete
  3. subhanalloh lucu banget mbak anaknya, semoga menjadi menjadi anak yg sholeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin... ini catatan 5 tahun silam. Alhamdulillah, saat ini saya sedang mengandung anak ke-4. Doakan semoga lancar, HPL-nya desember.

      Delete
  4. Masyaa Allah mbak... Tulisan mbak benar2 memberikan semangat untukku yang hampir padam. Aku saat ini tengah mengandung anak ke 3. HPL 28Agustus2015 besok... Minggu ini minggu ke 39, dan aku sudah jenuh menunggu hari persalinanku, karena kedua putraku lahir dengan bantuan induksi, jadi tidak pernah mengalami bagaimana rasanya mulas alami. Terima kasih sudah berbagi pengalaman mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sudah lahiran sekarang?

      Delete
    2. Oiya... bagaimana kabarnya? Ini sudah 4 september, semoga sudah lahir dengan selamat dan lancar :-)

      Delete
  5. MasyaAllah... kereeeen ya seorang ibu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, Ajie... jika kamu cowok, ayo hormati ibumu. Dan jika sudah beristri, sayangilah istrimu

      Delete
  6. Masya Allah, Mba Yeni. Saya membacanya sampai ikut meringis, tak terasa meleleh pula air mata. Begitu besar dan berat perjuangan ibu saat melahirkan.

    Laahaulawala kuwwata illa billah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu bagian dari kodrat perempuan yang harus dilewati...
      Pahalanya besar, surga disematkan di telapak kaki kita karena itu :-)

      Delete
  7. Kisah melahirkannya heroik mbk, aku juga 2 kali mengalami induksi yang terasa sakit hihijo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua kisah melahirkan dari ibu manapun adalah kisah heroik :-)

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!