MAKHLUK MANIS DI PANGGUNG POLITIK


Di dalam sebuah talkshow yang disiarkan dari sebuah stasiun TV swasta, seorang pesohor cantik berhadapan dengan presenter tampan. Penuh keyakinan, selebritas perempuan yang sering tampil dengan gaya sensual itu, menjawab pertanyaan-pertanyaan sang presenter. Jawaban-jawabannya mantap, percaya diri, meskipun banyak yang tidak nyambung dengan pertanyaannya. Perempuan itu sedang meyakinkan pemirsa, bahwa ia layak mencalonkan diri sebagai wakil bupati di sebuah kabupaten! Seluruh publik terhenyak. Pasalnya, selama ini sang perempuan lebih dikenal karena sensualitasnya.
Selain artis tersebut, ada juga satu artis yang pernah menghebohkan jagad pemberitaan negeri ini beberapa waktu silam karena dikabarkan berselingkuh dengan salah satu politisi, yang juga hendak maju mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah. Masyarakat takjub, bukan karena kagum, namun geleng-geleng kepala. Dalam bahasa Jawanya memberi penilaian, ‘ora ngilo githok’e’ alias tidak tahu diri.

Paradoks Demokrasi
Tak pelak, beberapa kalangan pun bereaksi keras. Salah satunya adalah Mendagri Gamawan Fauzi yang bereaksi keras, dan melontarkan pernyataan untuk membuka kemungkinan diciptakannya aturan pemerintah tentang latar belakang calon-calon anggota legislatif dan eksekutif.
Tetapi, inilah dunia, dan inilah paradoks demokrasi! Sebagaimana yang dikhawatirkan Plato, alih-alih menjadi vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan), jika terjadi pemilihan orang-orang yang tak berkompeten, demokrasi akan menjadi vox populi vox diaboli (suara rakyat suara setan). Saat kran kebebasan dibuka penuh, maka tak hanya potensi-potensi kebaikan yang menyeruak, namun juga berbagai kejadian menggelikan. Dalam logika manusia, tak mungkin seorang bekas pembuat sepatu menjadi wakil gubernur, namun nyatanya hal itu terjadi di New York (Gonick: 2008). Padahal, Amerika Serikat bisa dikatakan sebagai kampiun demokrasi. Bagaimana dengan negeri yang penduduknya masih belum ‘matang’ seperti Indonesia?

Perempuan dan Ranah Politik
Perempuan, memang makhluk dengan segala daya tarik. Ia diciptakan sebagai sosok yang indah, sehingga sejak dahulu kala, bertaburlah kisah-kisah politik dengan perempuan sebagai pelaku utamanya. Dalam sejarah, kita mengenal Theodora si jelita, yang pernah menjadi Ratu di Byzantium sekitar tahun 500-an. Theodora ini pelacur jalanan, yang kemudian menjadi artis di panggung-panggung sandiwara erotis, dan memikat seorang putera mahkota dan akhirnya menikah dengannya. Karena ia berkepribadian kuat, ia justru lebih mendominasi sang suami dalam memimpin Byzantium.
Kita juga mengenal Ibu Suri, Tsu Zhi, Janda Kaisar Xian Feng, yang semula hanya perempuan kebanyakan dan diangkat menjadi selir Kaisar. Kekuatan yang dimiliki membuat ia mampu berkarir dengan cepat, dan ketika suaminya meninggal, ia tampil menjadi Kaisar Perempuan pertama yang diktaktor, meskipun hanya bekerja di balik layar.
Ada banyak perempuan yang berkarir di politik, seperti Ratu Shima dari Kalingga, Ratu Cleopatra dari Mesir, Ratu Bilqis dari Shaba’, hingga para Sultanah yang memimpin Aceh saat Aceh masih berdaulat sebagai sebuah kerajaan seperti Ratu Ilah Nur, Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu Nahrasiyah.

Fenomena Artis Perempuan Masuk Dunia Politik
Jadi, perempuan berkarir di bidang politik sebenarnya bukan cerita baru. Perempuan, dengan berbagai latar belakang, telah menggoresi layar sejarah dengan berbagai kiprah mereka. Sehingga ketika saat ini banyak perempuan naik ke panggung politik, tentunya bukan sesuatu yang luar biasa.
Namun, bagaimana dengan artis perempuan?
Paling tidak, para artis memiliki satu modal yang sangat kuat, yaitu popularitas, yang sangat dibutuhkan seseorang untuk maju dalam kontes pemilihan umum, baik untuk anggota legislatif maupun eksekutif. Sebagai contoh, para calon pemimpin kita ternyata mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk sosialisasi. Sehingga beberapa tahun terakhir ini, jalan-jalan sering diramaikan dengan gambar-gambar tokoh yang hendak berlaga. Tak jarang untuk menghasilkan gambar yang baik, karismatik, dan menawan publik, mereka harus mencari fotografer yang handal, dan bergaya mirip foto model.
Jadi, jika ada artis mencalonkan diri, salah satu biaya sosialisasi bisa lebih dihemat. Kita bisa melihat, bagaimana reaksi media masa ketika artis-artis mencalonkan diri, tanpa harus membayar, bahkan televisi-televisi dan media lainnya dengan gencar menayangkan. Semakin kontroversial si calon, pemberitaannya semakin gencar. Dalam bahasa marketing, ini bisa menjadi salah satu ajang promosi gratis.
Jika artisnya kebetulan perempuan, biasanya akan semakin menarik masa, karena sebagai artis ia telah populer, dan sebagai perempuan, ia memiliki keunikan tersendiri. Parpol yang mencalonkan para artis, sangat menyadari potensi ini. Dan karena orientasi mereka adalah kemenangan dengan cara yang instan, maka segala pro dan kontra pun mereka abaikan. Dan inilah potret sebagian jagad perpolitikan negeri ini. Kegagalan parpol dalam mendidik kadernya, membuat mereka tak memiliki pilihan lain untuk tetap eksis. Maka, memilih para artis sebagai calon aleg ataupun eksekutif mewakili partai mereka, menjadi jalan pintas yang paling realistis.

Masyarakat Harus Cerdas
Sebagai manusia, ‘syah-syah’ saja mereka memiliki keinginan untuk terjun di dunia politik. Para artis perempuan, dengan berbagai latar belakangnya, memiliki hak berkarir di ranah politik. Ketika ada cap artis pun, bukan berarti hak itu menjadi hilang. Kita tidak boleh terjebak pada stereotip, bahwa artis itu pasti buruk, bahwa artis itu tidak kapabel dan sebagainya. Syarat untuk masuk di dunia politik, adalah komitmen, kredibilitas dan kapabilitas. Jika mereka memang memiliki ketiganya, tentu tak ada masalah, artis perempuan mencalonkan diri sebagai anggota parlemen, misalnya.
Hanya saja, panggung politik kita bukanlah arena bermain sandiwara. Seorang artis, yang telah terbiasa dengan kepura-puraan, dunia imajinasi serta fiksi, harus berani menanggalkan kepintarannya berseni peran. Dunia politik membutuhkan integritas moral dan kejujuran. Kita tentu tak mengharapkan jika para artis kemudian terjun ke dunia politik, dan ikut-ikutan terciprat ‘kotornya lumpur politik’ lantas mereka menjadi koruptor-koruptor yang pintar bermain peran.
Kita juga tak ingin para artis, khususnya yang perempuan, maju ke kontes pemilu/ pemilukada hanya dengan mengandalkan popularitas, kecantikan, apalagi sensualitas. Bangsa kita sudah terlalu banyak disihir oleh pesona-pesona, dibuai oleh harapan-harapan dan janji-janji kosong. Sosok yang berdedikasi, mampu bekerja keras, berkorban dan benar-benar berjuang untuk rakyatnya, tentu lebih diharapkan menduduki tampuk kekuasaan, daripada sekadar sosok yang terbiasa dengan dunia glamour, senang berfoya-foya dan tak memiliki sense of crisis karena terlalu seringnya tenggelam dalam gebyar-gebyar kehidupan.
Untuk pertimbangan-pertimbangan semacam itu, jika parpol memang sudah ‘mengabaikannya’ tentu masyarakatlah yang harus lebih cerdas menganalisa. Jangan terpikat kepada seseorang hanya karena dia populer dan memiliki pesona fisik yang menarik.

(Dimuat di Harian Joglosemar)

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "MAKHLUK MANIS DI PANGGUNG POLITIK"

  1. assalamu'alaykum
    mba, saya paling suka yg ini "Jangan terpikat kepada seseorang hanya karena dia populer dan memiliki pesona fisik yang menarik."
    sempurna!

    ReplyDelete
  2. Nah, inilah masalah krusialnya... orang Indonesia senang dg sesuatu yang bersifat fisik. Coba, 3 presiden yang awet di kursi istana, semua good looking: Bung Karno, Pak HArto, Pak SBY...

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!