Oh Indahnya Saling Membantu

Pagi ini, seperti biasa aku melangkah menyeberang rel kereta api menuju tempat biasa aku mencegat bus. Ya, aku memang salah satu penggemar angkot untuk pergi kemanapun. Selain aku tak mahir mengendarai motor atau mobil, naik angkot membuatku lebih banyak bersinggungan dengan masyarakat bawah. Membuat keringat mengucur lebih deras, yang dalam sebuah puisiku yang menjadi awalan novel Tersentuh Ilalang:
 
Ada yang telah terbunuh
Ketika tubuh tak mengucur peluh
Nurani
 
Aha, maaf kawan... aku sedang tak berceramah soal hubungan antara nurani dengan peluh yang mengucur. Tetapi aku sedang bercerita tentang aktivitasku pagi ini. So, lanjut ya?!
Sebuah bus melaju dengan kecepatan rendah. Bus kecil jurusan Sumberlawang-Solo. Bus yang menjadi layanan transportasi--kebanyakan pedagang dari dusun-dusun utara Solo yang ingin mencari rezeki di kotaku tercinta ini. Aroma yang khas menyambutku. Yeah, bukan parfum wangi atau minyak-minyak rambut yang mahal. Aroma para pekerja keras yang tetap menyungging senyum optimis, meskipun jelas-jelas sistem ekonomi negeri ini masih enggan memprioritaskan mereka.
Aku duduk di sebuah kursi yang sandarannya telah kumal. Untungnya aku memakai kerudung hitam, jadi tak terlalu terlihat bekas hitam yang pastinya tertinggal. Tak apa. Asal bukan najis, it's not problem!
Anganku ikut berlari bersama laju mikrobus yang melaju dengan kecepatan sedang. Di depan kami terlihat sebuah mikrobus lain dengan muatan yang bertumpuk di atasnya, dan melaju cukup kencang. Tiba-tiba...
"Braaak!" terdengar suara yang cukup keras. Kami semua menoleh. Ternyata sebuah kardus besar terjatuh dari atap bus yang ada di depan kami. Mendadak, sopir mikrobus yang kami tumpangi menginjak rem. Sang kernet dengan cekatan turun, dan mengambil kardus serta barang-barang yang berceceran itu. Isinya bungkusan-bungkusan kue ampyang. Sementara, mikrobus di depan kami tetap melaju, tak menyadari salah satu muatannya telah terjatuh.
"Ya ampuuun, kasihan sekali yang punya barang!" celetuk seorang ibu, yang dengan spontan membantu sang kernet mengambili ceceran barang-barang itu.
Seluruh penumpang, tampak begitu peduli dengan kejadian itu, termasuk melantunkan simpati terhadap 'si pemilik barang yang malang.' Sungguh kepedulian yang spontan, tanpa ada maksud apapun saya pikir.
Setelah kardus dan seluruh barang isinya terselamatkan, mikrobus yang aku naiki berjalan cepat, mengejar bus di depannya.
Sadar bahwa salah satu muatannya terjatuh, bus di depan akhirnya berhenti. 
"Makanya, hati-hati kalau bawa barang!" kata kernet bus kami sambil turun dan memanggul kardus itu.
Si kernet bus depan cengar-cengir dan meminta maaf.
Sebuah adegan yang sederhana, namun mampu menghapus rasa skeptis di hati yang selama ini membelenggu. Mungkin di negeri ini banyak koruptor, banyak maling, pembunuh, penipu dsb. Tetapi yang berhati emas seperti mereka, masih melimpah begitu banyak... Subhanallah... (AFRA)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Oh Indahnya Saling Membantu"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!