Perempuan Dalam Masyarakat Islam (1)

Yeni Mulati Sutjipto
Bagian 1 dari 3 Tulisan
A. Kesederajatan Antara Lelaki dan Perempuan
Ada banyak pandangan ekstrim yang berlaku di masyarakat sebelum kedatangan Islam. Ada yang mendewakan perempuan, memuja-muja serta menjadikannya sebagai suatu yang sangat istimewa, namun sebaliknya, ada yang begitu merendahkannya dan menyamakannya dengan binatang. Dalam mitologi Yunani misalnya, kita mengenal ada seorang dewi yang bernama Hera, yang digambarkan memiliki kekuatan luar biasa. Demikian juga, di Mahabharata—yang lekat dengan ajaran Hindu—kita mengenal Dewi Durga yang profilnya kurang lebih mirip dengan Hera.

Sementara, di belahan dunia yang lain, perempuan diposisikan sebaliknya. Di Jazirah Arab sendiri, para lelaki merasa sangat hina ketika anak perempuan mereka lahir, sebagaimana firman-Nya, Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.” (QS. an-Nahl: 58). Mereka menganggap anak perempuan adalah sosok yang tak bisa dibanggakan, karena tak bisa diajak berperang, berburu atau berkuda. Oleh karenanya, mereka pun dengan tega membunuh bayi-bayi perempuan mereka.
Perempuan pada beberapa masyarakat non Islam, lebih banyak diposisikan sebagai pemuas hawa nafsu belaka. Orang-orang Yahudi misalnya, menganggap perempuan sebagai kutukan, karena Hawa—sebagai perempuan pertama—telah menyesatkan Adam as. untuk memenuhi godaan iblis dengan memakan buah pohon yang terlarang, sehingga mereka diusir dari surga oleh Allah SWT. Wanita dinistakan sebagai pangkal kejahatan, kesalahan dan dosa.
Di tanah Jawa sendiri, wanita telah lama dinisbatkan sebagai sekadar ‘konco wingking’ yang aktivitasnya hanya berkutat pada ‘3-ur’, yakni dapur, sumur dan kasur. Yakni memasak, mencuci (bersih-bersih) dan melayani suami di tempat tidur. Mereka tidak dilipatkan dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang sifatnya strategis. Eksistensi dan potensi ilmiah mereka dikebiri sedahsyat-dahsyatnya.
Dalam kondisi semacam itu, Islam lahir dengan membawa risalah yang moderat tentang perempuan. Perempuan bukanlah dewa, namun juga bukan budak belian. Perempuan bukanlah burung dalam sangkar emas, namun juga bukan anjing buduk yang ditendang-tendang. Perempuan adalah sama dengan lelaki, sama-sama hamba tuhan, dengan yang memiliki kewajiban menegakkan beribadah kepada-Nya. Keduanya mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi hamba Allah, dan diberikan pahala atau dosa seperti yang mereka usahakan.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13).
Adapun posisi yang paling pas untuk menggambarkan kesederajatan antara lelaki dan perempuan dalam Islam adalah sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya perempuan itu tidak lain kecuali saudara kandung laki-laki.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadist ini menegaskan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara…” (QS. al-Hujurat: 10). Sebagai saudara, maka lelaki dan perempuan merupakan penolong satu sama lain dalam rangka menuju jalan takwa. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 71). 

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Perempuan Dalam Masyarakat Islam (1)"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!