Rama, Si Anak Laptop (1)

 
Bagian pertama dari tulisan ini sudah pernah saya publish di notes FB saya. Tapi tak ada salahnya jika dipublish lagi di blog saya. Secara, mungkin banyak yang belum sempat baca tulisan ini :-)

Ramadhan Faidlurrahman, anak saya yang kedua (alhamdulillah tidak bungsu, karena adiknya sudah lahir 20 September 2010 lalu). Usianya 23 Oktober yang lalu, genap 4 tahun. Anak yang ajaib, kata suamiku, jenius kalau menurutku. Kepalanya besar, dahinya agak nonong, ditambah rambut yang seringkali tegak (bahasa jawanya njigrak, tapi sama sekali tidak mirip Bob Marley, karena meski tegak, rambutnya lemas dan pirang. Kalau menurutku justru mirip kemoceng alias sulak ^_^). Tetapi sekarang, karena doski rajin keramas dan suka menuntut si abah untuk mengantarnya ke salon, rambutnya sudah lebih rapih, dan mirip Kevin McCallister, aktor Home Alone, yeaaah!
Saking besarnya kepala, banyak tetangga menggodanya mirip kecambah. Pernah lihat kecambah kacang ijo? Nah, kepalanya besar, dari biji kacang ijo, sedang bawahnya kecil. Apalagi kalau sedang pakai helm, mirip betul, haha… Sebagai ibu, saya tidak marah. Lha emang betul kok, kepalanya besar. Sampai-sampai topi ukuran anak kecil tidak ada yang muat, dan malah lebih sering memakai peci ayahnya, yang 30 tahun lebih tua usianya.

Tapi, dia memang sangat cerdas. Usia 1,5 tahun sudah bisa merangkai 4-5 kata menjadi kalimat, paham konsep warna dan mampu berkomunikasi dengan baik. Hapalannya juga cepat. Mungkin efek dari ASI eksklusif 6 bulan, dilanjutkan dengan ASI plus makanan hingga 2 tahun. Atau… juga karena gen. (Jieee….).

Dalam keadaan riang, ia sangat santun, ramah, murah senyum dan humoris (ini mirip saya). Tapi kalau sedang marah, ia akan menjatuhkan diri di lantai, berguling-guling sambil menangis keras-keras, dan tidak ada yang mampu menghentikan tangisnya kecuali jika sudah puas menangis (kalau ini mirip bapaknya, kaleee… hehe).

Karakter kolerisnya sudah tampak sejak kecil. Selalu ingin menonjol, keras kemauan dan ‘sok heroik’, sangat ingin melindungi orang yang ia cintai, terutama ibunya. Misalnya, pernah suatu hari, ketika ia masih berusia kira-kira 2 tahun, saat saya main game, tiba-tiba ia datang dan melarang saya main game itu. “Kenapa Ummi ndak boleh main game ini, Sayang?” Tanya saya.
“Ummi kalah telus, gim ovel (maksudnya game over) telus, kaciaaan! Main yang lain aja!”

Atau juga, suatu hari, ia sedang makan cemilan kesukaannya. Tiba-tiba cemilannya tumpah. Saya pun mengambili cemilan itu, seraya, tanpa sadar, memasukkan beberapa butir ke mulut. Tiba-tiba Rama berteriak marah-marah, memaksa membuka mulut saya dan meraih butiran kacang itu. Saya spontan agak tersinggung dan mencoba menghindar. Ia semakin marah dan menangis keras-keras, memaksa tangannya masuk ke mulut. Karena saya terus menghindar, ia pun menjatuhkan diri, menangis terguling-guling.

Setelah puas menangis, saya memeluknya, dan mencium pelupuk matanya yang basah. “Rama, Ummi sedih banget, kenapa Rama pelit sama Ummi? Kan Ummi juga pengin makan kacangnya.”
Apa coba jawaban lelaki kecilku itu? “Ummi, kacang itu kotol, tadi balu jatuh ke lantai, Rama ndak mau ummi cakiiit…”
Ya Allah… dengan penuh rasa haru kudekap tubuh itu.

* * *
Ketika usia Rama menginjak 3 tahun, Rama membuat keributan lagi. Tadi sore, ia tak mau pergi ke TPA. Saya pun bertanya, “Apa Dek Rama tidak mau masuk surga? Surga itu asyik lho, banyak mainan, ada sungai yang airnya adalah susu (Rama sangat suka minum susu), ada buah-buahnya, Dek Rama ndak kepingin?”
“Pengiiin…,” Jawabnya, dengan suara tingginya yang cenderung tenor (kayaknya Rama berbakat jadi penyanyi top nih…).
“Kalau begitu, sekarang mandi, trus berangkat ke TPA.”
Singkat kata, Rama pun mau mandi, dan berangkat TPA. Tetapi, pulang dari TPA, mendadak ia menghampiriku, menarik-narik tanganku. “Ayo Mi, sekarang kita masuk surga!”
Aku terus terang speechless. Terbata-bata kujelaskan. “Rama, masuk surganya nggak sekarang, tapi….”
Huwaaaa…!!! Ia keburu menjatuhkan diri, berguling-guling di tanah.
BERSAMBUNG

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Rama, Si Anak Laptop (1)"

  1. Subhanallah, anak pintar kebanggaan orang tua. salam kenal Mbak Afif, saya senang baca tulisan mbak Afif. pingin juga mahir nulis kayak mbak Afif. tapi susah ngatur mood yang so naik turun...:))

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!