Menulis Itu Kebiasaan

Suatu hari, saya bertemu dengan salah seorang sahabat, tepatnya senior karena beliau memang lebih dari saya. Lebih tua, lebih banyak pengalaman dan yang jelas, lebih banyak ilmunya dibanding saya. Seperti dua orang sahabat yang bertemu, meskipun tidak dimaksudkan berbasa-basi, kami saling menegur, lalu saling berbincang. Saya mengkonsultasikan beberapa hal kepada beliau, dan dijawab dengan tuntas, membuat saya puas! Maklum, deh ... saya orang yang selalu ingin tahu, jadi ketika mengeksplorasi 'narasumber' pasti penginnya detail, hehe.
Usai perbincangan, saya--seperti biasa jika bertemu orang yang berilmu--bertanya, "Mengapa Mbak nggak menuliskan apa yang Mbak ucapkan barusan?"
Jawab beliau--jawaban yang hampir sama yang saya terima dari sebagian besar orang, "Wah, saya benar-benar tidak punya waktu, Dik! Saya sebenarnya kepengin sekali, tetapi sungguh, sangat sulit mencari celah waktu."
Saya membatin. Sepertinya, berbicara dengan menulis itu tak memiliki selisih waktu yang lama. Beliau sudah menerangkan sesuatu dalam jangka waktu sekitar 30 menit. Jika saja ia menggunakan 30 menit itu untuk menuliskan apa yang ada di pemikiran beliau, saya yakin sudah tercipta satu paparan minimal 1 atau 2 halaman. Bahkan lebih!
Masalahnya, menulis seringkali dipandang sebagai momok oleh beberapa kalangan. Menulis sepertinya sebuah pekerjaan elitis, yang membutuhkan waktu berjam-jam. Sampai-sampai, ketika dalam sebuah forum saya memaparkan sebuah makalah, dan saya berkata, "Wah, maaf ... makalahnya saya bikin ngebut, hanya 1 jam!" maka seorang peserta forum, sebut saja Mbak Ani  tampak kaget, "Wah, 1 jam? Kalau saya, bisa satu minggu bikin makalah seperti itu!" Nah, giliran saya yang kaget. Tetapi, tampaknya saya akan menjadi sosok narsis jika mencap saya ini luar biasa.  Dan memang narsis tulen, karena sebenarnya, bagi orang-orang yang akrab dengan dunia tulis-menulis, apa yang saya lakukan ini... sangat sangat biasa.
Jadi, apakah si peserta itu yang perlu dipermak? Tampaknya enggak juga. Menurut saya, Mbak Ani orang yang 'berbobot'. Pikirannya selalu memuntahkan ide-ide cling. Bahan bacaannya juga keren-keren. Aktivitasnya, jangan tanya! Dia juga terkenal sebagai singa podium, alias pembicara yang handal.
Jadi, apa masalahnya?
Kebiasaan! Ya, saya menuduh bahwa Mbak Ani, dan juga sahabat saya di atas, tidak atau minimal jarang, mencoba mengasah kemampuan menulisnya. Menulis ibarat senam, jika jarang berlatih, gerakan kita akan kaku. Ibarat otot yang tak pernah dipakai bekerja, lama kelamaan pasti akan lemah. Otot perlu terus digerakkan agar kuat dan lincah.
Maka, menurut sastrawan Budi Darma, sesungguhnya jurus menulis itu hanya ada 3: MENULIS, MENULIS dan MENULIS! Jadi, ayo kita menulis! Jangan tunggu kiamat datang, hehe.

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Menulis Itu Kebiasaan"

  1. wah terimakasih ni mbak afifah, dah membangkitkan jiwa menulis saya yang telah redup...............

    ReplyDelete
  2. Salam kenal mbak, senang baca artikelnya...
    semoga kita bisa saling berbagi melalui tulisan...

    ReplyDelete
  3. @ Ukie: ya, emang sengaja menulis ini untuk 'provokasi' :-)
    @ Mas Odjie: salam kenal kembali, mari saling berbagi :-)

    ReplyDelete
  4. Sepertinya ini cukup jadi motivasi buat aku untuk menulis. menulis. menulis. menulis.
    syukron, 'ammaty :)

    ReplyDelete
  5. Yup, Annisa... great comment!

    ReplyDelete
  6. Menulis pada awalnya memang sulit mbak... menulisnya sich gampang. cari ide dan inspirasi yang susahnya minta ampuuuuunnnn....

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!