Misteri Cokelat


Siapa sih, remaja yang nggak suka cokelat? Jangankan remaja, yang tua-tua saja sering tak melewatkan kesempatan mengudap makanan ini. Hanya saja, bagi si pengidap sakit gigi, tentu jadi masalah besar. Kebayang lah, ketika potongan cokelat yang manis itu ngumpet di giginya yang bolong. Rasanya seperti ditikam sembilu, jieeeh hiperbolik banget.
Cokelat, Dari Masa ke Masa
Jika Raja Aztec, Montezuma II, yang konon memiliki kebiasaan meminum lebih dari 50 cangkir cokelat per harinya, tidak memperkenalkan cokelat kepada Hernan Cortes sang conquistador (penakluk) dari Spanyol, mungkin saat ini kita belum bisa menikmati lezatnya cokelat. Yak, cokelat, yang berasal dari tanaman Theobroma cacao ini, awalnya memang tumbuh di daerah Amazon utara sampai  ke Amerika Tengah. Konon pula, cokelat sudah mulai diolah sekitar 1100 -1400 tahun SM!
Cortez sang conquistador inilah yang kemudian membawa cokelat ke Spanyol antara tahun 1502-1528. Tercatat pula dalam sejarah, bahwa pada 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala, mengunjungi istana Spanyol dengan membawa beberapa hadiah, di antaranya minuman cokelat. Cokelat pun akhirnya menjadi minuman yang ngetren di abad ke-17, khususnya di kalangan bangsawan Spanyol.
Nah, seiring dengan pertumbuhan ekonomi kalangan menengah, akhirnya cokelat pun jadi minuman yang bisa dinikmati semua kalangan, sampai sekarang ini. Bentuknya pun semakin bervariasi. Nggak hanya minuman, tetapi juga bisa disantap sebagai batangan cokelat yang nikmat banget. Cokelat juga sudah bisa dinikmati sebagai permen, kue, selai dan sebagainya. Yummmy … enak!
Awas, Lemak!
Katanya sih, sensasi rasa dari cokelat muncul karena titik leleh lemak cokelat ini sedikit di bawah suhu normal tubuh manusia. So, jika kita mengulum sepotong cokelat, lemak dari cokelat tersebut akan lumer di dalam mulut, menimbulkan rasa lembut yang khas di mulut. Ini nih, yang bikin kita selalu ketagihan ketika disodori batangan cokelat. Awas, boros memang nggak dilarang, tapi kalau cari duitnya dari nodong orang, bisa-bisa masuk bui, hihi.
Sayangnya, lemak pada cokelat memang lumayan tinggi. Sebagai gambaran, secara umum biji cokelat mengandung 31% lemak, 14% karbohidrat, dan 9% protein. Lemak tersebut terdiri dari asam stearat (34%) & asam palmitat (25%) yang merupakan asam lemak jenuh (saturated fatty acid), dan asam oleat (34%) yang merupakan asam lemak tidak jenuh (mono unsaturated fatty Acid/ MUFA), dan asam lemak lainnya. Selain itu, kadar gula pada lemak juga lumayan tuh! Makanya, jangan terlalu banyak mengonsumsi cokelat ya?
Cokelat dan Pengatur Mood
Apa yang terjadi jika cokelat dicerna oleh tubuh kita? Apa coba? Lebih semangat, lebih bergairah, lebih excited? Yup, ternyata hal itu disebabkan oleh senyawa alkaloid yang terkandung dalam cokelat, yakni teobromin. Alkaloid ini, ternyata mempengaruhi proses pelepasan serotonin dari otak.
Apaan lagi tuh, serotonin? Salah satu neurohormon (hormon yang dilepaskan oleh otak), yang berfungsi sebagai neurotransmitter (penghantar sinyal pada saraf). Serotonin, ternyata mengatur mood seseorang lho. Selain dipengaruhi oleh serotonin, mood juga disebabkan oleh hormon norepinephrine dan dopamin.
Bikin Racun Lebur!
Coklat dengan kandungan kakao (biji coklat) lebih dari 70%, atau juga sering disebut sebagai dark chocolate, juga kaya akan kandungan antioksidan yaitu fenol dan flavonoid. Fungsi dari antioksidan ini adalah untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh. Ini berarti bisa buat menetralisir racun, bahkan mencegah terjadinya kanker dan sebagainya. Dalam hal tertentu, antioksidan bisa juga buat mencegah penuaan dini, lho! Nah, pada cokelat, besarnya kandungan antioksidan ini bahkan 3 kali lebih banyak dari teh hijau, minuman yang selama ini sering dianggap sebagai sumber antioksidan.

Cokelat Tanda Cinta?
Sering merasa penasaran karena cokelat sering dihadiahkan sebagai tanda cinta? Kok bisa ya? Ini rahasianya! Ternyata pada cokelat juga terkandung phenyletilamine (PEA) yang sering disebut sebagai hormon cinta (jiaaah...). PEA ini akan mengaktifkan dopamin pada otak, yang membuat kita merasa gembira, bahagia … seperti perasaan ketika sedang jatuh cinta itulah!
So, kita semua kudu hati-hati, jangan sembarang ngasih cokelat, apalagi ke lawan jenis yang bukan mahram. Nanti bisa muncul rasa yang enggak-enggak lho! Bagusnya sih, cokelat dikasihkan aja buat sahabat-sahabat kita, tentu saja yang sesama jenis, okay? [AFRA].

Dari http://id.wikipedia.org dan sumber-sumber yang lain

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Misteri Cokelat"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!