Apa Sih, Tulisan Itu? # 2



By Afifah Afra

Wacana
Setelah kita mahir membuat kalimat yang baik, maka kita akan mencoba menyusun kalimat-kalimat itu menjadi sebuah wacana, atau karangan yang utuh.  Kita mengenal beberapa jenis wacana sebagai berikut:
1.       Deskripsi
Deskripsi adalah penggambaran dengan kata-kata suatu benda, tempat atau keadaan. Menurut Ismail Marahaimin dalam buku ‘Menulis Secara Populer’, seorang penulis deskripsi mengharapkan pembacanya, melalui tulisannya, dapat ‘melihat’ apa yang ‘dilihatnya’, dapat ‘mendengar’ apa yang didengarkannya, ‘mencium bau’ yang diciumnya, ‘mencicipi’ apa yang dimakannya, ‘merasakan’ apa yang dirasakannya... dan seterusnya, karena deskripsi merupakan hasil observasi yang disampaikan dengan kata-kata.
Deskripsi yang baik, akan membuat pembaca seperti tengah melihat dengan mata kepala sendiri, atau mendengar dengan telinga sendiri, mencicip dengan lidah sendiri, bahkan mungkin bisa merasa mual ketika penulis menggambarkan sebuah aroma busuk yang memancar dari seonggok bangkai tikus, misalnya. Sehingga, deskripsi yang baik, masih menurut Marahaimin, bisa jadi akan menjadi ‘punggung’ tulisan, yang membuat sebuah tulisan menjadi ‘hidup’ dan ‘menawan’.
Secara prinsip, Marahaimin membedakan bentuk deskripsi menjadi 2 jenis, yaitu ekspositori dan impresionistis. Ekspositori adalah penggambaran menurut sebuah sistem atau urutan yang logis, yang biasanya merupakan daftar rincian dari suatu pengamatan. Misalnya, jika kita ingin menggambarkan sebuah ruang, maka kita akan paparkan mulai dari paling kanan, sebelahnya, sebelahnya... hingga paling kiri. sedangkan impresionistis (yang juga dinamakan deskripsi stimulatif) adalah deskripsi yang ditulis berdasarkan impresi (kesan) si penulis terhadap sesuatu yang ditangkap oleh panca inderanya, yang terkadang dilakukan untuk memberi stimulasi kepada pembacanya.

Contoh Deskripsi Ekspositori:
Gunung Slamet yang menjulang tinggi di sebelah barat menjadi latar indah, membatasi hamparan perkebunan tebu dengan pucuk-pucuk berbunga. Hempusan angin menjadikan barisan raksasa bunga-bunga putih kecokelatan itu mengangguk-angguk gaya penari-penari Bedaya di Istana Mataram. Di tengah hamparan tebu, sebuah bangunan berdiri megah dengan cerobong-cerobong asapnya. Suara bergemuruh menandakan aktivitasnya yang tiada henti-hentinya. Ratusan manusia sibuk berlalu-lalang. Antara bangunan dengan ratusan hektar perkebunan tebu itu dihubungkan dengan rel dan lori-lori yang penuh tumpukan batang-batang tebu siap giling.... (Dari Novel Bulan Mati di Javasche Oranje, Afifah Afra)

Wacana deskripsi tadi dibuat dengan urutan pengamatan. Mula-mula, saya mengawali pengamatan tersebut dengan gunung slamet di sebelah barat, lalu turun ke bawah, ke hamparan perkebunan tebu, yang kebetulan tengah dihembus angin. Setelah perkebunan diamati, pandangan di arahkan secara sistematis ke pabrik gula, yang dengan sendirinya akan memperlihatkan pula kesibukan pekerja-pekerjanya. Kemudian, baru bisa disaksikan, ternyata antara pabrik dan perkebunan itu, terdapat rel-rel dan lori-lori yang tengah mengangkut tebu-tebu siap giling.

Contoh Deskripsi Impresionistis
Villa Javasche Oranje adalah bangunan yang unik. Pilar-pilarnya yang putih menampakkan keanggunan khas Eropa yang klasik. Hamparan rumput yang hijau diselingi dengan pohon-pohon cemara menambah nuansa elegan berkepanjangan. (Novel Bulan Mati di Javasche Oranje)

Deskripsi impresionistis ditulis berdasarkan kesan penulis. Kesan alias impresi yang tergambar dari paragraf itu adalah perasaan unik sang penulis ketika melihat Villa Javasche Oranje. Apa yang membuat terlihat unik? Antara lain disebutkan dalam penjelasan berikutnya: pilar-pilar putih khas Eropa klasik, rumput hijau, pohon cemara. Jadi, hal yang demikian, menurut si penulis, adalah unik. Tentu saja hak para pembaca untuk mengatakan, “wah... itu sih biasa-biasa saja,” “di mana letak keunikannya?” dan sebagainya. Jika reaksi pembaca semacam itu, berarti penulis telah ‘gagal’ menstimulasi pembacanya dengan kesan yang ia pancarkan. 

(BERSAMBUNG)

Apa Sih, Tulisan Itu? # 1
Apa Sih, Tulisan Itu? # 2
Apa Sih, Tulisan Itu? # 3
Apa Sih, Tulisan Itu? # 4



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apa Sih, Tulisan Itu? # 2"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!