Asyiknya Mancing!



Tribute to My Father # 4
By Afifah Afra
Ayahku seorang yang sangat menyukai alam. Kebiasaan itu, ia tularkan ke anak-anaknya. Dan salah satu yang saat ini masih kukenang adalah: memancing. Anda pernah memancing? Jika Anda termasuk seorang pemancing ulung, tentunya Anda tahu, betapa indah saat-saat ketika mulut ikan mulai menggigit umpan yang kita tebar, sehingga tali pancing kita (kalau dalam istilah saya ‘kenur’) menegang. Oops, jangan dulu tarik, karena ikan pasti akan curiga dan segera melepaskan gigitannya. Tunggu sampai mata kail benar-benar mengkait mulut ikan, dan “tariiik!” Wah, kita pasti akan berjingkrak-jingkrak girang, meskipun ikan yang memakan umpan kita hanya ikan sebesar jempol tangan kita.
Kami biasa membikin sendiri pancing itu. Caranya mudah. Ayah langsung turun dan mengajari kami cara membuat pancing. Pertama, ambil sebatang bambu, potong kira-kira seukuran satu meter. Ya, saat itu kami masing anak-anak, jadi cukuplah semester saja panjang jorannya. Kalau ayah, jorannya lebih panjang. Nah, belahlah bambu itu, lalu rautlah dengan halus, meruncing ke atas. Kemudian, pasanglah tali pancing (kenur) yang bisa dibeli di warung-warung, jangan lupa, beri pemberat (biasanya gotri—semacam besi bulat yang ada lobang di tengahnya, sehingga bisa dimasuki tali pancing), dan tentu saja, mata kail alias pengait.
“Pak, aku bisa bikin pancing!” teriakku yang saat itu masih berusia kira-kira 8 tahun, girang. Sementara, Anang, adikku persis—berjarak usia 2 tahun—tampak masih menghaluskan joran bambunya. Ia tampak puas, meskipun buatannya tak sehalus punyaku.

Ih, Cacing!
Setelah kail siap, fase berikutnya adalah mencari umpan. Dan tahukah Anda, apa umpan alami yang sering digunakan untuk memancing? Cacing tanah! Bagi sebagian orang, cacing tampaknya menjijikkan ya? Dan lebih bikin jijik lagi, jika tahu bahwa lokasi yang ditemukan cacing dalam jumlah melimpah adalah … di balik tumpukan kotoran sapi (dalam bahasa banyumas—tlepong) atau kambing. Hoeeek! (eh, dilarang muntah ^_^). Memang sih, cacing tanah juga bisa ditemukan di balik pelepah pisang. Bentuknya jauh lebih ‘bersih’, tetapi relatif jarang, dan kalaupun ada, bentuknya kecil. Susah dimasukkan ke dalam pengait kail. Ayahku jelas tidak sabar.
“Ayo, cari di tumpukan kotoran sapi saja!”
Aku dan Anang mengiyakan. Maka, kami pun dengan santai, membongkar-bongkar kotoran sapi yang telah membusuk. Yihaaa!!! Kami mendapatkan banyak cacing yang gemuk, seperti mie, tetapi warnanya merah keunguan.
“Ayo, masukkan plastik!” perintah ayah. Tanpa merasa jijik, aku dan Anang memasukkan cacing-cacing itu, dengan tangan telanjang, ke dalam plastik.
Selain pancing dan umpan, kami juga telah siap dengan tempat ikan jika nantinya umpan berhasil memperdaya ikan sungai yang gemuk-gemuk. Ah, hari itu kami tidak membawa bekal makanan dan minuman, karena memang sedang puasa.

Memancing di Tengah Puasa
Ayah saya memang bukan seorang Ustadz, tetapi beliau pintar memotivasiku untuk puasa sampai bedug maghrib. Salah satunya adalah dengan mengajak anak-anaknya mancing sampai sore tiba. Maka, aku pun termasuk anak yang sejak kecil sudah berpuasa sampai maghrib tiba. Saat itu, aku kelas 2 SD. Anang yang belum sekolah (kebanyakan anak-anak bapak, jarang yang sekolah TK), tidak mau puasa. Katanya tidak kuat. Huh, aku pengin mencubit pipinya yang saat kecil tembem itu. Aku dulu, waktu seusia dia, sudah belajar berpuasa. Tidak full bisa sebulan penuh, tetapi lebih banyak puasanya daripada tidak.
O, ya … ngomong-ngomong soal puasa, ada salah satu kakak saya—Mbak Titik—yang motivasinya begitu ‘wah!’ Dengan wajah seram dan suara dibuat parau, beliau berbicara ke aku dan Anang. “Nanti … kalau kalian tidak berpuasa, kalian akan berubah menjadi ulat besar, sebesar guling!” Wah, tentu saja aku dan Anang takut bukan main.
Nah, kembali ke cerita mancing itu ya!
Setelah semua siap, kami pun berangkat. “Mendaki gunung, lewati lembah … “ Yeaah, saya boleh berbangga, bahwa alam tempat saya menikmati masa kecil, benar-benar sangat indah. Kami tinggal di lereng Gunung Slamet. Jika pagi tiba, dan langit cerah, gunung Slamet akan terlihat indah, meski hanya puncaknya saja, karena tertutupi oleh gunung-gunung lainnya yang lebih kecil dan berjajar membentuk pegunungan Slamet.
Sungai yang akan kami datangi, membentuk celah curam, yang membelah dua bukit. Ada beberapa air terjun yang terbentuk, dan yang akan coba kami pancing ikannya adalah Curug Jubaya. Untuk menuju ke Curug, kami harus masuk ke aliran air, tentu saja yang dangkal. Air mengalir deras, di antara batu-batu raksasa. Indah, tetapi menyeramkan.
Di Curug Jubaya, kami semua melempar kail. Aku dan Anang berkali-kali mengangkat joran, dan tentu saja tak mendapati apapun di ujung mata kail. Sementara, bapak terlihat tenang memandangi permukaan air yang bergelombang karena gempuran air terjun. Kami gelisah, wah, mancing ternyata susah. Aku pun berpindah, mendekati sebuah batu besar. Ada genangan air, dan beberapa ekor ikan kecil kulihat berenang-renang di situ. Aku tergoda untuk mencelupkan ujung kail di sana. Biar ikan-ikan itu tidak tahu keberadaanku, aku bersembunyi di balik batu.
Aha, ada seekor ikan kecil terlihat mengincar umpanku. Huuup! Ikan itu menubruk, dan wuuut … aku tarik kailnya. Hehe, si ikan kecewa, karena kuisengi. Aku nakal ya, hihi. Pelan, kumasukkan lagi ujung mata kailku. Si ikan mengincar lagi, kali ini kubiarkan ia memakan umpanku. Dan … “Horeeee … aku dapaaat!”
Anang berlarian mendekat, dan ikut berjingkrak. Kami girang, karena seekor ikan gabus sebesar jari tangan berhasil masuk ke tempat ikan yang kami sediakan.
“Pak, Bapake, aku dapat ikaaan!” teriakku.
“Pak, mbak Yeni dapat ikan!” Anang ikut-ikutan berteriak.
Ayahku menoleh dan tersenyum kebapakan. Namun, sepasang matanya mendadak terlihat waspada. “Sst … diam ya! Ada ikan makan umpan …”
Aku dan Anang ikut tegang. Tetapi Bapak tetap tenang. Pelan-pelan beliau mengangkat jorannya, dan …
Aaaps! Saking takjubnya kami tidak sanggup berteriak seketika. Bapak berhasil memancing seekor ikan lele yang besarnya nyaris selengan kami. Baru setelah rasa kaget itu hilang, pecahlah kegirangan kami. “Horeeee!!!!”
Anda bisa bayangkan, perasaan dua orang anak usia 8 dan 6 tahun ketika menghadapi hal semacam itu, bukan?

Bedug Maghrib Tiba
Ketika hari telah agak gelap, bapak mengajak kami pulang. Ketika jarak menuju rumah tinggal kira-kira seratus meter, terdengar suara adzan maghrib. Aku melonjak senang. “Wah, sudah buka!” Kami berlarian menuju rumah, dan segera menyantap hidangan yang sudah disediakan ibunda tercinta. Sebenarnya, asyik juga buka puasa makan ikan hasil pancingan tadi. Tapi, kan waktunya tidak cukup.
Ah, sebuah kenangan yang manis bersama Ayahanda tercinta, yang pada 5 april 2011 kemarin, telah dijemput Allah ke alam baka. I love you, Dad!

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Asyiknya Mancing!"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!