Obituari Sang Bidadari Biru (In Memorium: Nurul F Huda)

By Afifah Afra

Selasa, di siang yang terik, saya ditemani suami dan ketiga anak, melangkah menyusuri koridor RSU Dr. Sardjito, Yogyakarta. Dua orang akhwat berjaket ada di depan kami, tampak melihat ke kanan dan ke kiri, mencari papan petunjuk. Karena tujuan kami sepertinya sama, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti laju kedua akhwat itu. Dan ternyata betul. Baik kami, maupun akhwat itu memasuki ruang Bougenville 4.
Namun langkah kami tertahan, ketika melihat sebuah kesibukan di ruang tersebut. Banyak petugas medis dengan jas putih memasuki ruang, dan mengerubungi sebuah tempat tidur. Kami urung masuk, dan tertahan di pintu luar. Akan tetapi, karena pintu terbuka, dengan sedikit melongok, saya bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana. Sesosok tubuh kurus, yang terbaring pasrah, dengan alat bantu napas yang dipasang menutup mukanya, tersengal-sengal. Air mata merebak, nyaris hendak tumpah, namun kutahan sekuat tenaga.

“Sudah sejak tadi pagi, Nurul tidak sadar, tidak tahu siapa-siapa yang datang,” ujar seorang wanita berjilbab yang masih terlihat muda. Karena saya pernah bersilaturahim ke rumah Mbak Nurul beberapa tahun silam, saya segera mengenali sosok itu sebagai ibunda Mbak Nurul. Sang Ibunda tampak lelah, namun lincah dan tegar. Bolak-balik ia berjalan, mondar-mandir dengan wajah tegang.
“Mau dibawa ke ICU, Nak!” ujarnya, pada kami. Lalu ia bergerak lagi. Gesit. Kali ini memasuki sebuah ruangan, diikuti beberapa orang lelaki dan perempuan, saudara-saudari Mbak Nurul. Seorang petugas medis menyambut mereka, lalu dengan wajah serius mencoba menerangkan kepada mereka. Saya tak mendengar langsung percakapan mereka. Namun dari wajah-wajah tegang itu, serta obrolan suami dengan seorang residen yang ternyata adik kelas suami saat kuliah, akhirnya saya tahu, apa isi percakapan mereka.
Kondisi Mbak Nurul F. Huda kritis. Kedua paru-parunya telah mengeras. Mereka akan mencoba semampunya untuk mempertahankan jiwa mbak Nurul, tetapi harapan untuk sembuh sangat kecil. Mereka juga menerangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dialami oleh sang pasien.
Kemungkinan yang akhirnya terjawab pagi harinya, saat Intan, adik bungsu Mbak Nurul membalas SMSku yang menanyakan kabar Mbak Nurul. “Td meninggal.”
Debur jantungku terasa lebih kencang. Bayangan sosok yang tengah berjuang keras di akhir hidupnya kembali tergelar di sepasang mataku. Terasa perih. Kematian sebenarnya sesuatu yang normal. Akan tetapi, berita kematian Mbak Nurul F Huda ini terasa menghentak ….
* * *
Saya mengenal sosok penulis penuh semangat ini tahun sejak aktif di FLP awal tahun 2000-an. Pertemuan pertama terjadi saat saya mendatangi launching bukunya “Bayangan Bidadari” di kampus UGM. Saat itu, saya masih ketua FLP Semarang. Bersama Maya, sekjen FLP Semarang, kami naik bus pagi-pagi sekali dari Semarang menuju Yogyakarta. Dalam acara tersebut, Mbak Nurul, seperti biasa, dengan gayanya yang khas santai, agak cuek, lugas dan cerdas, menerangkan isi buku tersebut. Ada Mas Ali Muakhir dari Mizan yang ikut menjadi pembicara pendamping, serta Mbak Helvy Tiana Rosa. Acara ini sangat berkesan di hatiku.
Sejak itu, saya sering bertemu, berbincang dan berinteraksi secara lebih mendalam. Lebih-lebih, saya menikah dengan Ahmad Supriyanto, yang tak lain adalah rekan perjuangan Mbak Nurul saat sama-sama aktif di rohis SMA 1 Purworejo. Saya bahkan pernah diajak silaturahim ke rumah beliau di daerah Purworejo. Saat itu, Mbak Nurul sedang sakit, kakinya tertusuk paku dan terkena infeksi, dan untuk sementara, bersama suaminya, Mas Ipung, memutuskan untuk tinggal di rumah orangtua Mbak Nurul.
Suasana rumah orangtua mbak Nurul memang terasa nyaman. Bersisian dengan masjid dan bangunan sederhana tempat para santri kalong belajar agama kepada Ustadz Mufasirul Huda, ayahanda Mbak Nurul. Di depan masjid, ada sungai, tepatnya sebuah kanal yang mengalirkan air cukup melimpah. Ah, ada juga pohon besar dengan batang yang melengkung ke arah sungai, sehingga enak diduduki sembari menatap hamparan air di bawahnya.
Kata Mas Ahmad, kekritisan Mbak Nurul sudah terlihat sejak SMA. Dan, ketika saya balik bertanya kepada Mbak Nurul tentang mas Ahmad saat SMA, sembari tertawa beliau berkata, “Wah, Ahmad ini orangnya angker.” Maksudnya, suami saya ini katanya sangat menjaga jarak dengan akhwat, cenderung pendiam dan kalem. Ah, kalau yang seperti ini sih, masih terlihat bekasnya hingga sekarang.
Seiring dengan kesibukan beliau, dan juga kesibukan saya, akhirnya kami tidak lagi sering berinteraksi. Apalagi, beliau seperti ‘menghilang’ dari dunia kepenulisan. Kabarnya beliau melanglang buana. Dari Batam pindah ke Depok, dan sebagainya. Sampai akhirnya suatu hari saya mendapat permintaan pertemanan via FB dari Mas Ipung, suaminya. Setelah kami berteman, segera saya add FB mbak Nurul, yang dengan cepat beliau approve. Kami terhubung lagi.
Maka, saya pun akhirnya mengetahui beberapa kisah sedih yang beliau alami. Berbagai beban hidup yang beliau alami, seakan menggenapkan derita yang ia sunggi sejak kecil. Ya, Mbak Nurul mengalami kelainan jantung bawaan, yang membuatnya harus seumur hidup mengonsumsi obat pengencer darah. Kemudian, beliau pun harus mengalami cobaan demi cobaan yang sering membuat saya, yang sekadar mendengar, harus menghela napas panjang. Bisnis yang harus berujung pada kegagalan, hingga perceraian  dan … ah, tampaknya tidak elok jika kita bahas di sini, bukan?
Suatu hari, saya mendapat SMS dari Teh Pipiet Senja, bahwa beliau sekarang berada di Yogya. Saya langsung terpikir untuk mengajak beliau bergabung di Indiva. Setelah ditinggal Muhammad Nurul Furqon yang memilih berperan di KCB dan sekarang menjadi PNS di LIPI, serta Deasilawati yang memilih untuk berkarya di rumah setelah melahirkan puterinya, Indiva memang membutuhkan seorang penulis. Kami pun akhirnya bertemu di Indiva. Ini pertemuan pertama di dunia nyata, setelah bertahun-tahun kami tak bersua. Saya terpana melihat sosoknya. Begitu kurus, tampak lelah dan … tua.
Kami pun bercerita, berjam-jam. Intinya beliau sebenarnya tertarik bergabung, akan tetapi beliau tidak bisa full time, sementara Indiva membutuhkan tenaga yang full timer. Akhirnya, kami hanya bersepakat untuk kerjasama pemasaran. Indiva akan mencoba membantu memasarkan buku beliau yang diterbitkan oleh penerbit pribadinya, Bidadari Biru.
“Mbak mau langsung ke Yogya atau….?”
“Ke Wisma Assalam, dik. Besok pagi saya akan ke Karanganyar.”
“Diantar oleh Dik Ika ya, pakai motor nggak papa?”
“Ya nggak papa, biasa naik motor kok!” katanya sambil tertawa. Saya teringat, dulu beliau mengaku sering bolak-balik Gemolong (sebuah daerah di Sragen, kira-kira 30 menit dari rumah saya di Solo) – Yogya dengan naik motor, bahkan dalam kondisi hamil besar. Gemolong adalah rumah Mas Ipung, mantan suami beliau.
“Nggak usah pakai helm nggak papa, Mbak!” ujar Ika, salah seorang karyawan Indiva. “Wisma Assalam dekat kok, sama Indiva. Bisa lewat jalan kampung.”
Mbak Nurul tertawa. “Memangnya pakai helm itu kalau ada polisi saja?” Ia pun meminta helm. Ketika aku tunjukan deretan helm, dia memilih helm laki-laki yang besar, namun jelas lebih aman. “Saya tidak mau ambil resiko.”
Ah, Mbak Nurul, seorang yang benar-benar mengesankan.
Saya kembali bertemu dengan beliau secara fisik di Wisma Eden, Kaliurang, saat berlangsungnya Upgrading Nasional FLP, awal februari kemarin. Saya kembali terpana. Ia jauh lebih kurus dibanding saat bertemu di Indiva sekitar satu tahun silam. Kata beliau, ia mengidap tuberkolosis….
* * *
Keranda pembawa jenazah Mbak Nurul akhirnya lewat di depanku yang masih terpana dengan mata berkaca-kaca. Mas Ahmad dan Rama memutuskan untuk mengikuti jenazah itu ke makam, sementara aku tetap di rumah duka, bersama Anis dan si kecil Hanifan yang lelap dalam gendongan.
“Jantungnya malah nggak apa-apa, Mbak! Paru-parunya yang mengeras,” ucapan Intan, adik bungsu Mbak Nurul kemarin, terngiang-ngiang di telingaku.
Ada yang terasa hilang dalam hatiku. Aku berjalan terhuyung, menatap dua buah karangan bunga yang terpasang di depan masjid. Satu dari Forum Lingkar Pena, satu dari alumni SMA 1 Purworejo angkatan 1995. Karangan bunga tanda berduka cita, yang tak akan bisa mengekspresikan duka para sahabat yang beliau tinggalkan. Aku pun menuju tepi sungai, dengan aliran yang cukup deras. Melangkah menuju jembatan kecil terbuat dari bambu, dan menatap pohon besar yang batangnya melengkung ke atas sungai. Seakan-akan aku menyaksikan Nurul kecil tengah duduk bersantai di lengkungan batang pohon itu, sembari menulis buku ….
Selamat jalan, Mbak Nurul Fithorini ‘Aniyatil Azizah binti Mufasirul Huda, Sang Bidadari Biru …

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Obituari Sang Bidadari Biru (In Memorium: Nurul F Huda)"

  1. semoga Allah menempatkannya di tempat yang sungguh indah....

    ReplyDelete
  2. ...Setelah ditinggal Muhammad Nurul Furqon yang memilih berperan di KCB dan sekarang menjadi PNS di LIPI, serta Deasilawati yang memilih untuk berkarya di rumah setelah melahirkan puterinya, Indiva memang membutuhkan seorang penulis. Kami pun akhirnya bertemu di Indiva. Ini pertemuan pertama di dunia nyata, setelah bertahun-tahun kami tak bersua. Saya terpana melihat sosoknya. Begitu kurus, tampak lelah dan … tua...
    emh...furqon itu suaminya ya mb...?

    ReplyDelete
  3. @ Al Kautsar: setahu saya, suami dari Mbak Nurul adalah Pak Purwanto. Maksud mbak Afra, mbak nurul mau diminta menggantikan posisi Mas Furqon dan Mbak Deasilawati yang setahu saya dulu juga kerja di Indiva...

    ReplyDelete
  4. kami dari FLP mataram juga turt berduka... semoga semangat beliau tetap hidup dalam jiwa mujahid pena lainnya... amin..

    ReplyDelete
  5. masya allah..saya baru tahu nih mbak nurul.f huda sudah meninggal. soalnya, saya termasuk pembaca karya-karyanya di annida dan pembeli bukunya juga. makasih infonya, mbak.padahal dah lama ya kejadiannya..saya ketinggalan banget nih..

    ReplyDelete
  6. yang merawat anak2 mb nurul sekarang siapa?

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!