Romansa Bulan Mati di Javasche Oranje (1)

Sesungguhnya, inilah novel pertama saya yang meluncur dari sebuah penerbit, dan terpajang di rak toko buku untuk dibeli pembaca. Karena novel pertama, dan termasuk novel FLP 'tertua', jadi covernya seperti seadanya, ya? Hiks. Salah seorang temanku malah bilang, "Hai Afra, kok covernya mirip buku Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa?"
O, ya ... buku pertama saya yang diberi kesempatan terbit dan beredar (sekarang sudah tak edar lagi), adalah kumpulan cerpen berjudul Genderuwo Terpasung (GT). Sama dengan GT, tentu 'romansa' menikmati awal-awal periode meniti kepenulisan profesional, cukup membekaskan kesan. Namun, biar tidak bias, saya akan tulis catatan khusus tentang GT. Kapan-kapan ya? Makanya, klik terus blog saya ini. Hihi... narsis abis!
Ya, sekali lagi, ini adalah novel saya yang pertama kali terbit. Tepatnya tahun 2001. Saya masih ingat, novel ini saya tulis di tengah-tengah kesibukan saya menyusun skripsi. Halaman belakang kost saya, 'Adzkiya' yang ntlesep di salah satu sudut jalan Ngesrep Timur IV Banyumanik, Semarang, menjadi saksi bisu ketika saya asyik mencorat-coret buku tulis saya, menuliskan rangkaian kisah imajinatif ini. Oya, pada awal-awal aktif menulis, saya memang menuliskan secara manual dengan tulisan tangan terlebih dahulu, baru kemudian mengetiknya dengan komputer. Alasannya, pertama saya belum punya komputer, sehingga harus ke rental, dan ketika di depan rental komputer saya harus bengong berpikir sementara biling terus berjalan, tentu kantong saya bisa jebol :-D
Kedua, ini benar-benar alasan yang idealis. Dengan menggunakan tulisan tangan, saya akan benar-benar meresapi tulisan saya. Di manapun tempatnya, saya bisa menulis, tak peduli ada atau tidak aliran listrik. Mau di rumah, di kost, di arena demo (pas mahasiswa saya rajin demo), di gunung (saya juga suka jalan-jalan ke pegunungan), di kampus, di kantin, bahkan di sela-sela kuliah, atau saat dosennya neranginnya bikin ngantuk, hehe. Ya, maklum saja, saat itu belum ada komputerportable dengan baterai yang tahan berjam-jam, juga bisa dijinjing kesana kemari seperti notebook atawa laptop di zaman sekarang.
Sekarang, saya masih mengakui, bahwa teknik menulis dengan tangan terlebih dahulu, baru dipindah ke komputer, sebenarnya banyak manfaatnya. Tetapi, gitu deh... malazz! 
Nah, ngelantur! Baik, mari kita kembali ke 'jalan yang benar'. Singkat kata, saya menuliskan manuskrip Bulan Mati di Javasche Oranje dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan sepenuh pengharapan (jiaaah). Maka, begitu saya menyelesaikan kalimat terakhir di rental langganan saya, 'Mulyo Com' yang hanya beberapa langkah jaraknya dari kost saya, sebuah napas lega saya hembuskan. Mari kita peragakan, "Haaaaah!"
Lalu, saya segera terbang ke warnet. Membuka email, dan mengirim file tersebut ke ... siapa ya? Jika buku pertama saya, GT, diterbitkan oleh Asy-Syaamil (sekarang Sygma), maka saya saat itu sedang 'jatuh cinta' dengan seorang senior saya, yaitu Mbak Izzatul Jannah. Karena beliau bekerja di Era Intermedia, maka dengan mengempos seluruh keberanian (maklum, saya suka grogi jika berhadapan dengan senior, meskipun hanya via dunia maya), saya pun mengirim naskah tersebut ke email beliau.
Kemudian, harap-harap cemas. Panas-dingin-demam tinggi-nggak bisa makan-nggak bisa tidur ... halah Lebay!!! Tak dinyana, respon Mbak Intan Savitri (nama asli mbak Izzatul Jannah), ternyata begitu cepat. Lebih cepat dari dosen yang mengoreksi skripsi saya, wkkk... Jawabnya adalah: NASKAHKU DITERIMA!
Horaaaaaayyy!! Yang bikin lebih hore lagi, Mbak Intan dengan jujurnya menulis: "Begitu membaca paragraf pertama, saya langsung jatuh hati, kesengsem dan teruuus membaca tanpa henti hingga ending!"
Gubrak! Pengin terbang ke langit!




Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Romansa Bulan Mati di Javasche Oranje (1)"

  1. wah novel na bagus . bacaanku waktu smp . hehe . ada 3 sekuel ya mb'?? hmm.. asik .asik .

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!