Romansa Bulan Mati di Javasche Oranje (3)

Yah, begitulah… meskipun launching buku Bulan Mati di Javache Oranje sepi pengunjung, Alhamdulillah sambutan dari para pembaca lumayan bagus. Yang membuat saya semakin bersemangat menulis, ternyata novel ini, tanpa kuduga-duga, berhasil masuk nominasi Pena Award 2002, kategori Novel terpuji. Wih, keren! Pikir saya, heran bin takjub. Soalnya, sebenarnya banyak juga novel-novel anggota FLP, baik dari yang seangkatan, maupun senior, yang saat itu telah beredar di pasaran. Jadi, apa sih yang membuat ‘Bulan Mati di Javasche Oranje’ bisa lolos sebagai nominator?
“Wah, jangan ge-er, toh baru nominasi, Non!” kata saya pada diri sendiri.
Baiklah, tak usah berharap terlalu banyak. Ya, ketika akhirnya saya berangkat ke Jakarta, itu karena posisi saya sebagai delegasi FLP Semarang. Saat itu, saya memang ketua FLP Semarang. Acara Silaturahim Nasional FLP 2002 memang mengundang semua wilayah dan cabang FLP se dunia. Saat itu, FLP telah berkembang menjadi organisasi besar dengan ribuan anggota. Tak hanya di Indonesia, FLP juga ada di Eropa, Amerika, Mesir, Hongkong dan sebagainya. Acara silnas itu juga seabreg banyaknya. Ada seminar, talkshow, workshop, sarasehan dan sebagainya. Pemberian Pena award hanya secuplik kecil dari serangkaian acara panjang yang digelar FLP Pusat, yang saat itu masih diketuai oleh Mbak Helvy Tiana Rosa.
Saya berangkat ke Jakarta bareng Rias Nurdiana, pengurus FLP Semarang yang juga adik tingkat saya di F. MIPA Undip. Untuk menghemat, kami naik kereta ekonomi, jadi bisa terbayang, begitu sampai di Stasiun Pasar Senen, badan sudah kucel bin bau keringat. Untungnya, saat kami naik taksi menuju daerah Kuningan (tempat acara di Gedung Rasuna Said), AC disetel cuku dingin. Jadi keringat lumayan menguap, hehe. Eh, sebenarnya kami ingin juga naik bus, biar lebih hemat, tetapi malah takut seharian putar-putar karena nyasar. Maklum, kami kan orang desa yang saba metropolitan.
Sesampai di lokasi acara, kami disambut oleh The Three Musketers, begitu kami menjuluki Mbak Sandra Dewi (yang bukan artis hehe, saat itu editor syaamil), Mbak Nanik Susanti alias Kinan Nasanti (sekarang kerja di Balai Pustaka) dan Mbak Luciana Monohevita (sekarang kerja di Perpus UI, kalau nggak salah kepalanya, betul nggak Mbak?). Mereka termasuk generasi tertua FLP. Sohib sejak kuliah di Sastra UI. Nah, ada juga yang tak kalah seru, yakni Sekjen FLP, Mbak Rahmadiyanti Rusdi. Karena ini silaturahim nasional pertama, jadi memang banyak yang baru bisa berjumpa secara fisik saat itu. So, serunya bukan main.
Keburu bertemu dengan banyak orang, kami langsung ngacir ke kamar kami. Mandi dulu, ganti baju, berbenah, biar rapi, lha yauuuw! Tengsin, ketemu orang dalam kondisi dekil. Memalukan FLP Semarang, yang telah menugasi kami sebagai delegasi.

Pemberian Award!
Puncak acara Silnas terjadi pada hari terakhir, Minggu. Subhanallah, rasa haru menguar ketika ternyata saya termasuk penulis yang mendapat award. Ya, novel saya, Bulan Mati di Javasche Oranje, dapat runner up Novel Terpuji. Runner up! Tapi lumayanlah, untuk sebuah awalan. Lagipula, posisi pertama diberikan kepada senior saya, Mbak Asma Nadia dengan novel Derai Sunyi. Selain untuk novel, ada juga Award untuk Kumcer terpuji, pemenangnya “Lelaki, Kabut dan Boneka”, tulisan Mbak Helvy Tiana Rosa, runner up-nya, lelaki sederhana asal Wonogiri, Mas Sakti Wibowo dengan “Satria Kurusetra dan Negeri Para Embun.”
Selain itu, juga ada penghargaan untuk FLP Wilayah berprestasi, yang kalau tak salah jatuh pada FLP Yogyakarta. Saat itu, ketuanya Galang Lufityanto. Ada juga penghargaan untuk tokoh sastrawan, diberikan kepada Pak Taufik Ismail.
Acara ditutup dengan doa, yang dipimpin Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah. Beliau berpesan, agar kami, para mujahid dan mujahidah pena, senantiasa menajamkan pena, dan meniatkan segala sesuatunya untuk Allah.
Sebuah acara yang sangat berkesan…

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Romansa Bulan Mati di Javasche Oranje (3)"

  1. tampang saya pas masih 'remaja' usia 22 th, culun, malu2 dan nggak berani tegak saat menatap orang, hehe... sekarang juga masih

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!