Romansa Bulan Mati di Javasche Oranje (4)

Sejak kemarin, bicara soal latar belakang novel itu melulu. Bosan ya? Semoga tidak. Saya pernah satu forum dengan Benny Arnas, seorang cerpenis yang sedang naik daun, beliau dengan semangat mengatakan, bahwa ketika beliau membaca sebuah buku, justru yang pertama ingin ia baca adalah kata pengantar penulis. Ya, karena dari kata pengantar itu, kita akan mendapatkan berbagai pernik yang melatari sebuah buku itu terbit. Dari hal tersebut, kita bisa membayangkan, proses kreatif sang penulis saat menulis sebuah buku. Dan ini adalah sumber motivasi yang sangat dahsyat. Jadi, semoga Anda termotivasi ketika membaca tulisan saya kemarin-kemarin tentang novel Bulan Mati di Javasche Oranje.
Novel ini bersetting tahun 1930-an. Berkisah tentang seorang Mahmud Ali Syah, bangsawan blasteran Turki-Inggris, yang melarikan diri ke Hindia Belanda saat kondisi perpolitikan di Turki tidak kondusif baginya. Sebagai penentang Mustafa Kemal Pasya, mestinya ia memiliki semangat Islamisme yang kuat. Namun, ketika di Hindia Belanda, ia justru jatuh cinta kepada seorang Noni bernama Johanna Alexandra Rijkaard. Cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan, karena Johanna pun jatuh cinta kepadanya. Mereka kemudian menikah. Oleh mertuanya William Rijkaard, Mahmud ditugaskan untuk mengelola sebuah pabrik gula di daerah Banyumas, bernama Javasche Oranje.
Di pabrik itu, Mahmud bertemu dengan Hamzah Ikhwani, seorang pemuda tawadhu lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, yang ternyata anak tiri William Rijkaard. Ibu Hamzah diperkosa untuk William Rijkaard, dan lahirlah Hamzah. Dari Hamzah itulah, Mahmud kembali mendapatkan pencerahan, dan memutuskan untuk bercerai dengan Johanna yang sebenarnya sangat dicintainya. Mahmud kemudian tinggal di Pesantren Ayah Hamzah Ikhwani.
Konflik novel ini semakin meliuk dengan hadirnya beberapa tokoh, seperti Suparman, sahabat kecil Hamzah yang kini aktif di membela partai komunis. Suparman, selalu saja menebar fitnah yang menghancurkan banyak kalangan, termasuk musuh bebuyutannya, Hamzah dan keluarganya.
Bagaimana akhir kisah ini? Baca aja sendiri ya? Lebih asyik daripada membaca synopsis yang sederhana seperti tulisan ini, hehe.
O, ya … novel ini juga ada sekuelnya, lho… karena sejak awal memang sudah saya rencanakan sebagai trilogi. Sekuel pertama, berjudul Syahid Samurai, berlattar pendudukan Jepang. Ada tokoh baru yang muncul di sana, yakni seorang tentara Jepang yang membelot, bernama Akiro Fujiwara. Sekuel kedua, Peluru di Matamu. Di sekuel kedua ini, settingnya sekitar tahun 1960-an, saat menjelang pecahnya pemberontakan G 30 S/ PKI.

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Romansa Bulan Mati di Javasche Oranje (4)"

  1. Assalamu'alaikum... berkunjung ke blog mbak Afra...

    ReplyDelete
  2. Wahh..setting ceritanya ada di Pabrik Gula Kalibagor ya Mbak?kyaknya seru ni...menyusuri sudut2 kota kelahiran dalam bentuk novel...Salam ukhuwah mbak saking tiyang mbanyumas....

    ReplyDelete
  3. Iya... dalam bayangan saya, memang pabrik gula Javasche Oranje itu Pabrik Gula Kalibagor. So, lemes dan gemes melihat pabrik itu sekarang terbengkalai, nyaris ambruk dan mungkin jadi sarang jin, hiks...

    ReplyDelete
  4. mikum_
    mba afifah,sy cari novel Javasche Oranje,dan sahid samurai
    susahnya stgh mati..
    bs bantu ga mba (T_T)
    help me!


    14yunuscikupa@gmail.com

    ReplyDelete
  5. @Enuh: bisa pesan ke FB Toko Buku Afra, klik saja http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=219631564735708

    ReplyDelete
  6. Bulan Mati di Javasche Orange adalah novel pertama yg saya baca dan langsung membuat sya jatuh cinta.
    Karena novel itu saya jadi suka membaca,terima kasih mba Afifah.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!