Pesona Ramadhan: Up Grade Cinta Kita Yuk! (1)

Subhanallah, akhirnya kekasih yang tahun lalu kita hantar dengan sepenuh keharuan dan kecintaan, kini mendatangi kita. Luruh sudah kerinduan, diganti dengan keriangan yang begitu indah terejawantah.
Di mana-mana, ramadhan memang romantis. Jadi teringat masa kecil, ketika masih bersama dengan orang tua. Begitu sahur tiba, saya langsung bersemangat menyantap hidangan, lantas sikat gigi, shalat subuh, dan mengaji. Setelah sinar matahari keluar dari balik lazuardi, kita dan teman-teman jalan-jalan, menghirup hawa pegunungan yang sejuk. Aaahhh… rasanya indah sekali.
Ramadhan memang penuh keelokan. Namun, akan sia-sia saja jika kita just melewati bulan nan meriah dengan amal ibadah ini, jika kita tidak bertekad meng-up-grade cinta kita selama bulan ini. Emang apa sih, kaitan antara Ramadhan dengan peningkatan kualitas cinta? Trus, emang cinta itu punya kualifikasi?


Punya dong! Jelas. Cinta itu memiliki stratifikasi. Namun, jenis pengkelasan cinta itu beda-beda antara satu umat dengan umat lainnya. Karena, cinta memang bagian dari akidah. Misalnya, menurut para filsuf Yunani, cinta itu meliputi eros, felia dan agape. Eros adalah cinta terendah, berasal dari kata erotika, jadi lebih mengarah kepada syahwat alias nafsu. Di atas eros, ada felia, yakni cinta kasih sayang—seperti cinta antara kakak dengan adik, antarteman dan sebagainya. Di atas felia ada agape, cinta yang sudah pada taraf persahabatan sejati, take and give dan relative ‘nggak bersyarat’. Jika kita pengin hidup dalam naungan kebahagiaan, kita kudu meng-up grade cinta kita, dari erotica menjadi felia, felia menjadi agape, begitu kata filsuf Yunani.
Nah, kalau sebagai seorang muslim, bagaimana sih grade dari cinta kita? Menurut para ulama, cinta bisa dibagi menjadi dua, yakni cinta syahwati dan cinta imani. Cinta syahwati berarti cinta yang berasal dari syahwat atau nafsu, sedangkan cinta imani adalah cinta yang didasarkan pada keimanan. Cinta imani adalah cinta yang haq, cinta yang wajib dimiliki oleh seorang muslim. Memang betul, manusia itu punya nafsu, coz manusia kan bukan malaikat. Tetapi, dalam pengimplementasiannya, nafsu kudu tunduk sama iman, dikendalikan iman, alias nggak diumbar seenaknya.
Dari sinilah kita mulai bisa mengkaitkan dengan Ramadhan! Ternyata, Ramadhan memiliki fungsi yang superduper penting lho. Yaks, ramadhan bisa membikin cinta kita ter-up-grade. Dari cinta syahwati menjadi imani. Dan jika kita memang sudah mampu menjadikan iman sebagai dasar cinta kita, dengan ramadhan, cinta kita jadi semakin pure, semakin enggak biasa, semakin murni… Dahsyat deh, kalau kita bisa meraih cinta yang haq, yakni kecintaan kepada Allah SWT, menjadikan Dia sebagai Everything.
Lihat dong dalil pewajiban berpuasa ramadhan…
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Kalau dari ayat tersebut, kita bisa melihat adanya tiga unsur. Pertama, orang-orang yang beriman. Kedua, berpuasa. Ketiga orang-orang yang bertakwa. Orang beriman menjalani puasa agar menjadi orang yang bertakwa. Berarti puasa adalah proses up grading, yang membuat derajat seseorang naik, dari ‘sekadar’ beriman menjadi bertakwa.
Proses up grading, alias kenaikan kelas, memang sesuatu yang sangat ditekankan lho, di dalam agama Islam. Oleh karenanya, sebagai ummat Islam, kita sangat dianjurkan untuk memperhatikan apa-apa yang kudu kita lakukan selanjutnya. Misalnya, Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Tuh kan, kita disuruh memperhatikan apa-apa yang akan dilakukan untuk hari esok. Bahkan, ketika kita telah mengerjakan sesuatu, telah menyelesaikan satu urusan, Allah akan menyuruh kita mengerjakan urusan lainnya. Seperti dalam firman-Nya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7).
Dan tentu saja, urusan yang dikerjakan kemudian, harus lebih baik dari sebelumnya, coz, dalam firman yang lain disebutkan, “Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.” (QS. Adh-Dhuha: 4).
Jadi, sudah jelas kan, bahwa orang Islam itu, semakin hari harus semakin baik. Semakin hari semakin naik tingkat, termasuk dalam masalah kecintaan kepada Allah SWT. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pesona Ramadhan: Up Grade Cinta Kita Yuk! (1)"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!