Pesona Wisata Gunung Slamet (1)

Ketika ada rencana pulang kampung, selalu saja berjubel rencana memasuki korteks encephalon saya. Dari sekadar mencicipi masakan khas Purbalingga yang asin-pedas, silaturahim ke kakek-nenek-pakde-budhe-om-tante… yang jika dikumpulkan bisa jadi satu RW tersendiri, hingga menikmati keindahan alam Purbalingga yang menawan. Yaks, sejak mulai diberi kemampuan mencerap keindahan, saya memang telah jatuh hati pada lingkungan di mana saya lahir dan mencapai usia 18 tahun. Bisa dikatakan begitu, karena sejak lulus SMA hingga sekarang, saya telah merantau ke daerah lain dan hanya pulang saat ada kesempatan.

Purbalingga berada di lereng gunung Slamet. Kota yang pernah disebut Andrea Hirata dalam “Edensor” sebagai kota yang sepi-senyap ini, ternyata surga bagi para pelancong sejati. Lokasi wisatanya ada seabrek, dan setiap lokasinya, tak cukup dinikmati hanya satu-dua jam saja, tetapi bisa seharian. Oleh karenanya, menceritakan pengalaman menjadi backpacker di Purbalingga tak cukup hanya dari satu perjalanan. Maka, saya akan mencoba merangkum beberapa perjalanan pulang kampung menjadi satu tulisan. Tentu saja, yang jadi fokus adalah objek wisatanya, karena saya menulis artikel ini untuk rubrik backpackers, bukannya rubric kitchen zone (lho apa hubungannya?).

Goa Lawa
Kalau start melancongnya dimulai dari rumah saya, sekitar 19 KM dari kota Purbalingga, enaknya dimulai dari objek wisata Goa Lawa. Dari Purbalingga, goa ini bisa dijangkau dengan bus kira-kira 30 menit perjalanan, turun di ibukota kecamatan Karangreja dan ganti dengan angkudes. Pas saya kecil, bareng teman-teman sering berjalan kaki mendaki bukit yang terjal menuju objek ini, kira-kira 2 atau 3 jam perjalanan. Lumayan menguras energi, tapi kenangannya terekam hingga kini.
Objek wisata ini dipagari bebukitan dengan panorama yang indah. Di bagian barat, gunung Slamet menjulang megah, dengan gunung kelir yang lebih rendah, yang seolah menjadi bodyguard-nya. Dominasi hijau memeluk alam, menciptakan ketenangan, serta kesegaran.
Gua Lawa adalah gua terbesar di Asia Tenggara. Merupakan gua yang tercipta dari aliran lahar. Begitu banyak sumber mata air di dalam gua ini, sehingga ketika kita masuk ke dalam, rasanya mak-nyesss… dingiiin. Pas saya meraup air dan menyuci muka, terasa begitu sejuk dan segar. Yang aneh, ada satu bagian gua yang lekuk-lekuknya mirip lawa (kelelawar). Seakan-akan satu kelelawar raksasa telah memasuki tempat itu, kemudian terkubur oleh lahar, dan ketika lahar mengering dan tubuh kelelawar itu remuk, maka timbul satu rongga yang tercetak sedemikian rupa.
Oya, bagian atas Gua, menempati areal yang cukup luas, yang ditumbuhi pohon-pohon pinus yang rindang, serta taman-taman bunga. Hawanya yang sejuk membuat kita merasa nyaman berkontemplasi di sana. Sayangnya, banyak pedagang rese. Sedang asyik-asyiknya merenung, serombongan pedagang dengan tampah berisi aneka jajanan yang harganya nyaris 2 x lipat dari harga asli, menyerbu dan sering kelewat memaksa dalam menawarkan dagangannya. Sedikit merusak suasana.
BERSAMBUNG

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pesona Wisata Gunung Slamet (1)"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!