Pornografi, Oh Pornografi (1)

Sebut saja Miss D, dia adalah seorang artis terkenal yang gambarnya kerap menghiasi layar kaca maupun media-media lainnya. Suatu hari, dengan pede ia berlenggak-lenggok dengan busana yang sangat minim, sementara sebuah kamera ‘jeprat-jepret’ merekam gambarnya. Beberapa kali sang fotografer mengacungkan jempol, puas dengan aksinya yang ‘oke punya.’ Beberapa hari kemudian, hasil jepretan tersebut menghias cover sebuah tabloid. Sebuah gambar yang ‘berani’.
Ketika beberapa kalangan melontarkan kritik pedas atas ‘kehebohan’ posenya, dengan santai Miss D berkilah, “Saya berani tampil dengan pose seperti itu karena saya tahu, lekak-lekuk tubuh saya indah. Kalau tubuh saya tidak indah, tentu saya tidak akan berani berpose yang neko-neko!”

Dalam kata lain, karena ia punya tubuh yang indah, maka sah-sah saja ia memamerkan keindahan tubuhnya itu kepada orang lain. Artinya, ia memandang bahwa tubuh yang indah adalah ‘karunia Tuhan’ oleh karenanya, sebagai bentuk kesyukuran atas karunia tersebut, maka ia pun mengumbarnya dengan harga yang begitu murah.
Seorang artis cantik lainnya, sebut saja Miss K, dengan lantang malah berseru, “yang kami lakukan ini bukanlah pornografi, tetapi seni!”
Sementara itu, di ajang kontes ‘wanita super’ yang konon mengandalkan 3B, Brain-Beauty-Behaviour, ternyata juga tak luput dari pornografi. Misalnya pada pemilihan Miss Universe. Para kontestan yang berlenggak-lenggok di depan kamera TV dengan hanya menggunakan pakaian renang! Tak pelak lagi, ketika Artika Sari Devi, Putri Indonesia 2004 diberangkatkan untuk mengikuti kontes tersebut, banyak kalangan yang memprotes keras. Sayangnya, protes itu ternyata tidak digubris. Untuk kesekian kalinya, Putri Indonesia, ‘performance’ perempuan nusantara itu pun mempertontonkan auratnya di depan ratusan juta penonton. Ironisnya, selama ini Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Virus Bernama Pornografi!
Ketika buka-buka kamus bahasa Indonesia, kita bisa mendapati bahwa padanan dari kata porno adalah “cabul” atau “tak senonoh”. Sedangkan dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary, pornography means: “books, films etc. that show sexual activity in order to cause sexual excitement.”
Ibu saya pernah bercerita, bahwa di tahun 70-an, pernah terjadi sebuah film dihujat habis-habisan gara-gara terdapat adegan ciuman. “Hanya” adegan ciuman! Sementara, adegan yang lebih berani sekarang digeber dengan begitu vulgar di sinetron-sinetron yang ditayangkan saat prime time, yaitu jam 19.00-20.00, saat dimana anak kecil tengah asyik-asyiknya ‘berjamaah’ di depan TV.
Semenjak reformasi 1998, ketika kran kebebasan pers dibuka seluas-luasnya, informasi memang membanjir nyaris tanpa kontrol. Media-media tumbuh bak jamur di musim hujan. Kebebasan berpendapat memang bermakna positif, namun dalam satu sisi juga bisa berarti negatif, terutama bagi yang keblinger dan memanfaatkan peluang tersebut untuk keuntungan dirinya sendiri.
Maka, serbuan virus pornografi pun tak terbendung lagi. Menurut aktivis Media Watch, virus yang menyergap Indonesia bahkan lebih parah dibanding yang terjadi di negeri paling bebas sekalipun macam Amerika Serikat. Jika di Amerika Serikat untuk mendapatkan media porno harus melalui serangkaian aturan tertentu—yang dimaksudkan agar tidak mudah jatuh ke tangan anak-anak di bawah umur, maka di negeri kita, mudah saja anak-anak SD bahkan TK membeli tabloid bergambar ‘manusia kera’ karena selain harganya begitu murah, juga dipajang begitu saja di tepi-tepi jalan.
Di Inggris pun begitu. Dalam sebuah diskusi di cyberspace, seorang teman yang tinggal di negerinya Lady Diana itu pernah terkejut, ketika tahu bahwa film Dr. Zhivago diputar di sebuah stasiun televisi nyaris tanpa sensor pada jam tayang pukul 20.00-an. “Padahal di Inggris, film itu diputar waktu tengah malam, karena dikhawatirkan akan ditonton oleh anak-anak,” tulis teman saya tadi. 

BERSAMBUNG ke Pornografi Oh, Pornografi Bagian 2.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pornografi, Oh Pornografi (1)"

  1. Bisnis yang menggiurkan dan memberi banyak untung

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!