Pornografi Oh Pornografi (2)


Sambungan dari artikel Pornografi Oh, Pornografi Bagian 1.

“Kita adalah Apa Yang Kita Baca!”

Kalimat itu saya nukil dari ucapan Mbak Helvy Tiana Rosa, seorang sastrawati angkatan 2000 yang konsisten mencerahkan masyarakat melalui aliran sastra profetiknya. Identik dengan kalimat tersebut: “Kita adalah apa yang kita lihat, kita dengar, kita tonton, kita nikmati... dsb... dsb.” Pendapat itu sangat klop jika dikaitkan dengan salah satu ciri khas remaja, yaitu identifikasi. Seorang remaja cenderung akan meniru sesuatu yang disukainya.
Maka, jika setiap hari remaja dihidangi menu yang begitu ‘hot’ akan jadi seperti apa remaja kita? Bukan hal yang aneh, ketika yang ditonton adalah Britney Spears, maka tampang yang kemudian muncul adalah celana ketat juga baju ngatung yang kelihatan pusarnya. Gaya semacam itu menjadi sebuah trend yang menghinggapi sebagian besar kalangan muda. Kalau nggak ikut trend? “Itu sih, kuno!” begitu pendapat mereka.

Pornografi Merusak Mental Remaja

Bagaimana tidak? Masa remaja adalah masa “storm and drung,” masa di mana mereka sibuk mencari jati diri. Saat itu pula perkembangan alat-alat reproduksi ada dalam kondisi optimal-optimalnya. Sexual excitementnya sedang tinggi-tingginya. Jika setiap saat mereka dirangsang dengan pornografi (juga pornoaksi, semacam goyang ngebor, goyang kayang dsb), apa yang akan terjadi dengan mereka?
Fenomena kehamilan di usia muda, yang sebagian besar terjadi karena ‘kecelakaan’ pun menggejala dimana-mana, seringkali menjadi penyebab timbulnya pernikahan dini, alias ‘maried by accident.’ Gambaran kondisi tersebut dengan sangat gamblang bisa kita saksikan pada sebuah sinetron yang dibintangi oleh Agnes Monica dan Syahrul Gunawan. Kita bisa melihat, betapa kacau balaunya sebuah pernikahan yang dibangun dengan landasan yang sangat rapuh tersebut. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi nyaris tiap hari. Ada masalah sedikit, maunya kabur dari rumah. Belum lagi jika kedua orang tua masing-masing ikut campur dalam permasalahan keluarga anak-anaknya, barabe! Kacau balau. Semua jadi berantakan.
Tetapi, meskipun hasilnya porak poranda, pernikahan dini yang disebabkan karena “accident” tersebut, ternyata ‘selangkah lebih maju’ dibandingkan dengan solusi mengerikan yang lebih banyak ditempuh oleh remaja yang hamil di luar nikah, yakni aborsi.
Menurut WHO, di Asia Tenggara setiap tahunnya ada 4,2 juta bayi yang digugurkan, 1,5 juta diantaranya terjadi di Indonesia. Sedangkan menurut data dari PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), tahun 1999-2000 diperkirakan dua juta orang telah melakukan aborsi, 750.000 di antaranya dilakukan oleh wanita yang belum menikah.[1] Na’udzubillahi min dzalik.
Seorang tetangga kampung kami menggugurkan kandungannya melalui praktek ilegal seorang dokter pada usia yang sangat belia, 16 tahun. Sementara di sekolah saya dulu pernah terjadi, anak kelas 1 SMP setiap beberapa menit izin ke kamar kecil. Sang guru pun jadi curiga. Usut punya usut, remaja yang masih pantas disebut sebagai bocah ingusan itu ternyata sedang emesis (muntah-muntah),  karena hamil 3 bulan.
Seorang  teman kami juga pernah bercerita, bahwa ia memiliki teman sekelas yang pernah aborsi 4 kali, pertama dengan cara memukul-mukul perutnya, kedua dan ketiga memakai obat-obatan keras, baru pada kehamilan keempat, ia menggugurkan kandungannya dengan pertolongan dokter (praktek ilegal tentunya). Ironisnya, keempat aborsi tersebut dilakukan pada saat ia duduk di bangku SMP dan SMU, dengan orang (pasangan) yang sama pula.
Apapun dampak dari hal tersebut, yang jelas banyak remaja yang masa depannya menjadi hancur karena permasalahan itu. Seperti seorang kakak kelas yang terpaksa harus drop out dari sekolah dan menjadi kondektur di sebuah bus pedesaan untuk menghidupi anak-istrinya, padahal ia memiliki kemampuan akademis yang bagus, selain bakat tulis menulis yang cukup menonjol.

Pornografi, AIDS dan Perkosaan
Pornografi (dan juga pornoaksi) menyebabkan munculnya pergaulan bebas. Akibatnya, penyakit seksual pun merajalela. AIDS sebagai salah satu penyakit mematikan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini, lebih dari 32,4 juta pengidap HIV/AIDS di seluruh dunia, 2,6 juta diantaranya telah meninggal dunia. Kalau di Indonesia sendiri, prediksinya yang terinfeksi HIV akan mencapai jumlah 2,5 juta orang. Menurut penelitian, meski AIDS bisa disebabkan oleh banyak faktor, tetapi 95,7% terjadi melalui perzinaan atawa pelacuran, termasuk seks bebas yang dilakukan oleh pasangan-pasangan di luar nikah tersebut[2]. Sampai saat ini, AIDS belum ditemukan obatnya! Hanya ada satu cara yang paling tokcer agar kita terhindar dari AIDS: hindarkan seks bebas!
Pornografi juga seringkali menjadi penyebab munculnya perkosaan. Sedangkan perkosaan yang terjadi sekarang ini, seringkali bukan hanya menimpa para wanita dewasa yang cantik secara fisik, tetapi juga terjadi pada anak-anak di bawah umur. Pelaku perkosaan juga bukan hanya orang jahat yang tak dikenal, tetapi bahkan orang yang dikenal oleh korban, seperti tetangga, om, kakak, bahkan ayah kandung sendiri. Seorang kakek di sebuah tayangan kriminalitas TV swasta dikabarkan memerkosa cucunya sendiri karena terangsang akibat nonton VCD porno. Berita-berita semacam itu nyaris setiap hari menghias layar televisi, membuat kita seringkali harus mengelus dada.

Media, Biang Keroknya!
Menurut Syekh Muhammad Mahdi ‘Akif, seorang cendekiawan asal Mesir[3], bahaya besar yang tengah menerpa generasi muda sesungguhnya berasal dari kekuatan-kekuatan jahat yang ingin merusak mental anak muda, menjauhkan mereka dari ajaran-ajaran agama mereka. Salah satu cara yang dilakukan oleh kekuatan tersebut adalah peracunan melalui jalur media—antara lain dengan menampilkan produk-produk pornografi. Why? Karena anak muda adalah mangsa yang paling empuk untuk dijadikan sebagai obyek konsumerisme.
Kita tahu pasti, bahwa penguasa dunia kali ini adalah kaum kapitalis, yakni kaum yang memiliki modal. Keinginan kaum kapitalis adalah menjadikan uang yang mereka miliki senantiasa beranak-pinak. Kehidupan yang serba gemerlapan adalah ladang yang ‘oke punya’ buat mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.
Media pun tak lepas dari jeratan industri kapitalisme. Bahkan media adalah corong dari kapitalisme itu sendiri. Bagaimana tidak? Untuk bisa ‘hidup’, media membutuhkan iklan yang dipasang oleh kaum industri. Jadi serba repot, bukan?



[1] Sabili, No. 19 Maret 2000
[2] Dadang Hawari, 2002
[3] Saksi No. 9 Tahun VII 2 Februari 2005

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pornografi Oh Pornografi (2)"

  1. hmmm... iya mba, saya juga sangat prihatin dengan keadaan generasi muda saat ini. free sex merajalela. na'udzubillahi mindzalik... lalu bagaimana caranya mencegah dan mengatasi hal ini, sementara tantangan yang ada begitu berat.

    ReplyDelete
  2. Harus ada kampanye yang simultan, dilakukan secara berbarengan antar lembaga pemerhati, dan gerakannya bersifat jangka panjang.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!