Cinta Biasa vs Bukan Cinta Biasa (1)

By Afifah Afra
Masih ingat lagunya Afghan atau Siti Nurhaliza yang judulnya sama-sama "Bukan Cinta Biasa"? Tak ingin kalah, saya juga menulis artikel tentang "Bukan Cinta Biasa". Hanya saja, tentu cinta yang tak biasa tak akan kita pahami, jika kita tak sebelumnya memaknai cinta biasa, bukan?
Menurut Ibnul Qoyyiem al-Jauziyyah dalam buku Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin. cinta ternyata telah berkembang-biak sedemikian banyaknya, hingga sekitar 50 jenis. Jadi, cinta itu lebih dari sekadar pelangi. Kalau pelangi itu hanya ada warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu, maka cinta itu memiliki sekitar 50 warna. Trus, dari berbagai jenis warna itu, ada yang sangat biasa dan guampang sekali melekat pada manusia, ada pula yang begitu langka dan oleh karenanya muahal banget harganya.


Bayangkan jika kita berada di dasar lautan. Di mana terdapat begitu banyak kerang berserakan. Nah, kerang hijau misalnya, karena begitu melimpahnya, hanya dengan uang beberapa ribu rupiah saja, kita bisa mendapatkan satu kilogram. Namun, kerang mutiara, yang begitu langka, harganya bisa ratusan bahkan ribuan kali lipatnya.
Demikian juga cinta. Yang langka, adalah yang jarang didapati. Biasanya ia langka karena begitu istimewa, begitu indah, begitu menawan, dan begitu mempesona. Cinta semacam itu langka, karena sulit mendapatkannya. Oleh karenanya, harganya jadi mahal.
Nah, apa saja derivate cinta itu menurut Ibnul Qoyiem? Mari kita bahas beberapa di antaranya.
1.        Al-‘Isyqu (Cinta yang Lebay)
Artinya, cinta yang meluap-luap, yang berlebih-lebihan alias overdosis. Para ulama menyebutnya sebagai ‘puncak cinta’. Menurut Ibnu Sayyidah, orang yang mengalami al-‘isyqu ini, ia mengalami ketakjuban luar biasa terhadap orang yang dicintainya sehingga dia berada di suatu yang terhormat dan suatu yang hina. Ada ulama lain yang mengatakan bahwa kata ini berasal dari sejenis tanaman yang menghasilkan getah perekat. Jadi, setiap saat ia akan lengket kayak perangko.
Pernah lihat seseorang yang jatuh cinta dengan model kayak gini? Buanyak! Misalnya, kamu melihat ada seseorang yang rela mencium kaki cewek idamannya demi menyenangkan hatinya. Atau rela kehujanan dan kedinginan semalam suntuk hanya untuk melihat kekasihnya muncul dari balik jendela di pagi hari. Waduuuh!
Nah, cinta kayak gini, menurut para Ulama, adalah cinta yang paling buruk. Cinta ini enggak lestari. Menurut para ulama, cinta ini seperti pohon, yang tadinya hijau kemudian menguning. Jadi sifatnya enggak abadi, gampang berubah. Bener banget kata iklan, mau eksis, jangan lebay, pliiis. Mau cintanya tetap lestari, yang jangan lebay ….
Ada satu atsar dari Ali bin Abi Thalib, “Cintailah sesuatu sewajarnya saja, karena suatu saat engkau mungkin akan membencinya. Bencilah sesuatu sewajarnya saja, karena suatu saat, engkau mungkin akan mencintainya.” Top banget, deh!
Sayangnya, penganut cinta jenis ini tuh, buanyaaak banget. Lihat tuh, di reality-realty show, bagaimana seorang bintang dielu-elukan fansnya sampai fansnya pingsan. Jadi, emang cinta yang biasa banget tuh!
2.       Asy-Syajwu (Cinta yang Berakhir Tragis)
Kadang, cinta semacam ini akan membawa pada derita cinta (al-Washabu) yang berkepanjangan. Apalagi, jika cinta itu sengaja dipelihara, namun justru dipendam. Wah, jadi penyakit.
Ingat kalimat yang terkenal dari si Siluman Babi Ti Pat Kay dalam film Kera Sakti, “Sejak dulu, beginilah cinta, deritanya tiada akhir.” Aldi (bukan nama sebenarnya), bahkan dengan sinis berkata pada Gizone, “Cinta itu bullshit!”
Siapa yang sepakat sama Aldi, bahwa cinta itu seringkali berakhir tragis? Kayak kisah Romea dan Juliet. Sampek-Engtay. Khais dan Laila. Lho, kok banyak yang tunjuk jari. Kalau begitu, ini juga cinta yang biasa banget tuh!
3.       Al-Khilabah (Cinta Boong-Boongan)
Rasa-rasanya aku telah keliru
Memilih kamu sebagai kekasihku
Cintamu palsu sayangmu semu
Bermain dan permainkan aku
Seperti ular seperti ular
Yang sangat berbisa sangat berbisa
Suka memangsa suka memangsa
Diriku tergigit cinta
Hihi, ada yang pernah dengar syair lagu Ular Berbisa punya Hello ini? Siapa yang senasib dengan Hello? Ditipu sama sosok yang memesonamu? Inilah yang kata Ibnu Qoyyim disebut sebagai cinta yang mengecoh. Al-Khilabah berarti mengecoh, yakni mengecoh sosok yang sedang dimabuk cinta.
Pernah terkecoh? Seriiing! Hiks, kasihan deh, kamu!
4.       Al-Ghamarat (Cinta yang Bikin Oon)
Pernah jatuh cinta dan tiba-tiba merasa oon? Menjadi linglung, ngerasa bodoh, dan seakan hilang semua kepandaian yang pernah kita pelajari sejak bayi? Si dia bertanya, “Kapan hari jadi kota Jakarta?” Lalu kau jawab dengan terbata-bata, “Ngg … pas Jakarta lahir, daku belum lahir ….”
Hihi … inilah Al-Ghamarat itu. Cinta yang buanyak sekali menghinggapi hati manusia.
5.       Al-Wahl (Cinta yang Bikin Cemen)
Al-Wahl artinya ketakutan, yakni cinta yang membuat kita jadi merasa kecut, alias pengecut, alias cemen. Ada sebuah syair yang bunyinya begini,
Tiba-tiba dia melihat sang kekasih
Tak sepatah kata terucap dari lidah
Jika cinta datang, ada sesuatu yang kemudian membuatnya gemetar, yang menguasai jiwanya, dan kemudian menawannya. Inilah yang kemudian membuat doski merasa hilang seluruh keberaniannya.
6.       Al-Junun (Cinta yang Bikin Sinting)
Arti kata al-junun adalah ‘tutupan’. Cinta yang menggelora, akan menutupi akal, sehingga orang yang sedang diamuk cinta itu jadi terlihat nggak waras. Dia nggak tahu mana yang bermanfaat bagi dirinya, dan mana yang tidak bermanfaat baginya.
Pantas saja dia bisa nyanyi, “Kerana cinta, lautan berapi, pasti akan kurenang, jua ….” Itu sih lagu pop asal negeri jiran yang pernah ngetop di zaman Gizone SMP.

Jika kita melihat, sebenarnya cinta-cinta biasa macam itulah yang paling sering menghinggapi manusia. Ketika cinta mulai datang, ia sebenarnya suci murni, tetapi nafsu manusia kemudian menyampurinya, alias mempolusinya. Sayangnya, manusia kadang enggak mau dengan segera membersihkan cinta itu, dan bahkan membiarkan ia hanyut dalam nafsu, yang akhirnya akan mengantarkan pada rasa dahaga yang sangat (al-huyam), serta jika terus diperturutkan, maka akan terjadi maksiat dan kebinasaan.
BERSAMBUNG

Cinta Biasa vs Bukan Cinta Biasa (1)
Cinta Biasa vs Bukan Cinta Biasa (2)

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Cinta Biasa vs Bukan Cinta Biasa (1)"

  1. interesting !

    saya tunggu kelanjutan artikel ini mbak... !

    ReplyDelete
  2. @ Hera: sudah dilanjutkan, semoga berkenan :-) @ Greenty: thanks :-)

    ReplyDelete
  3. keren buangeeeeeeet,,,
    :D

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!