Cinta Biasa vs Bukan Cinta Biasa (2)

By Afifah Afra
CINTA YANG ISTIMEWA?
Dari paparan di atas, kini kita tahu, bahwa memang nggak semua cinta itu luar biasa. Banyak sekali cinta yang sangat biasa, dan secara instingtif gampang banget menghinggapi manusia. Karena naluri yang muncul dari dua sosok yang berbeda jenis untuk mendekat itu memang dimiliki semua makhluk, tak hanya manusia, juga binatang. Tapi, apakah manusia juga akan ikut-ikutan gaya binatang.
Cinta itu ibarat energi nuklir. Jika dimenej dengan baik, dalam sebuah reaksi yang terkendali, ia akan bermanfaat sebagai pembangkit listrik yang sangat efisien. Tetapi jika tidak dimenej, reaksinya menjadi tak terkendali, dan energi yang keluar sangat dahsyat, sangat kuat, dan menimbulkan kerusakan yang sangat dahsyat.
Jadi, sebenarnya cinta awalnya putih, lalu akan berubah menjadi sesuai kecenderungan hati manusia. Dan cinta istimewa adalah cinta yang tetap putih dari awal sampai akhir. Mungkin dalam perjalanannya, ia akan mengalami terpaan angin yang merangkum debu, hembusan asap yang bisa menghitamkan, gempuran bakteri yang akan membusukkan, api panas yang menghanguskan, ataupun air dingin yang membekukan.

Tetapi, manusia yang istimewa akan mampu membersihkan, menjaga suhunya agar tak menguap ataupun mensalju, serta selalu menjaga kesegarannya agar tak busuk ataupun menguning dan layu.
Jadi, cinta itu sesuatu yang netral, manusianyalah yang membuatnya rusak, atau tetap istimewa. Jadi, tak ada cinta biasa ataupun luar biasa. Yang ada adalah, manusia biasa ataupun manusia luar biasa. Di jiwa manusia biasa, cinta akan menjadi biasa, dan di jiwa manusia luar biasa, cinta akan menjadi luar biasa.

AGAR MENJADI PECINTA YANG ISTIMEWA
Yeaah… kita telah bersepakat, bahwa cinta istimewa itu adalah sebuah hasil dari usaha. Kalau begitu, sebenarnya cinta yang tak biasa adalah sebuah kata benda, pemilik cintanya itulah yang membuat benda itu terus bersinar terang. Oleh karenanya, tepat sekali kata Mas Salim A. Fillah, cinta itu harus menjadi kata kerja. Kerja siapa? Ya kerja para pecinta itu.
Jadi, tak terlalu penting cinta istimewa itu. Yang paling penting adalah, sang pecinta yang istimewa. Dan yang terpenting lagi adalah, Dzat yang membuat sang pecinta itu menjadi istimewa.
Huhu, kok jadi bingung ya?
Gini, suatu saat kamu melihat sebuah novel yang bagus. Apakah kau akan kagum kepada novel itu sebagai sebuah novel? Tentu saja enggak. Kamu akan kagum kepada penulisnya. Dan, lebih dari itu, kagum kepada Dzat yang telah Menciptakan, Memberi ilham, dan Membimbing si penulis itu sehingga bisa menulis novel itu.
Masih bingung? Puter keran, ambil air wudhu!
Cinta istimewa inilah, yang jika telah kita miliki (yang berarti kita sudah menjadi manusia istimewa), akan mengantar kita kepada keberkahan hidup. Sehingga tak ada salahnya, justru dianjurkan, kita mengikuti syair Khalil Gibran berikut ini,
"...Pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..."
Jadi, puisi itu tak untuk semua cinta. Hanya cinta tertentu, yakni hakiki, cinta yang didasarkan kepada keimanan yang mendalam. Orang yang memiliki cinta semacam ini, akan menjadikan hidupnya sebagai sebuah pengabdian kepada Illahi. Bahkan kematian adalah sebuah persembahan terindah untuk sesuatu yang dicintainya dan Mencintainya.
Dialah sosok pejuang cinta sejati dan Allah akan menerima cintanya dan Membalasnya dengan surga nan tinggi.
“Tidak ada sesuatu yang dicintai Allah dari pada dua macam tetesan atau dua macam bekas : tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah; dan adapun bekas itu adalah bekas (berjihad) dij alan Allah dan bekas penunaian kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah” (HR. At Tirmidzi - hadits hasan).
Bagaimana agar kita bisa menjadi pecinta yang istimewa, yang akan mendapatkan cinta istimewa sebagai hasil dari ikhtiar istimewanya?

1.       Disiplin dan konsekuen pada hirarki cinta
Emang cinta ada hirarkinya? Ada. Hirarki ini nggak boleh dibolak-balik. Hirarki tertinggi ngak boleh ditempatkan di hirarki bawahnya, apalagi paling bawah. Bahkan, kebinasaan akan muncul karena adanya ketidakdisiplinan dalam menempatkan posisi objek yang kecintaan kita itu. Paham?
Nah, hirarki alias tingkatan itu, dari yang tertinggi hingga yang paling rendah adalah sebagai berikut:
  • Cinta kepada Allah, yang melahirkan konsekuensi berupa penghambaan.
  • Cinta kepada Rasulullah, yang memberikan konsekuensi berupa meneladani sunnah-sunnahnya.
  • Cinta kepada orangtua, anak, suami atau saudara sekandung, yang memberikan konsekuensi berupa sakinah, mawadah wa rahmah.
  • Cinta kepada sesama mukmin, yang memberikan konsekuensi berupa ukhuwah Islamiyah
  • Cinta kepada sesama manusia, khususnya yang terzalimi, yang melahirkan empati, atau yang memberikan kemanfaatan, konsekuensinya berupa dakwah Islamiyah
  • Cinta kepada benda-benda, yang memberikan konsekuensi berupa pemanfaatan dan perawatan sebaik-baiknya.
Nggak mudah lho, mendudukan jenis cinta sesuai dengan jenjangnya. Misalnya, kita sedang senang dengan laptop kita yang cakep, eh saking asyiknya ber-facebook ria, kita jadi lupa kewajiban shalat, jadi mengabaikan sunnah rasulullah dll. Kalau itu nggak sengaja, atau disebabkan karena lalai, barangkali belum sampai pada taraf musyrik. Tapi, ini juga sudah sebuah gangguan yang berbahaya. Bayangkan, jika kamu dicueki sama ortu yang sangat kamu cintai, pasti kamu merasa jengkel, meskipun ortu kamu mungkin nggak sengaja melakukan hal itu. Ya, kan?

2.       Mencoba mengenal objek cinta kita
Tak kenal, maka tak sayang, so … ta’aruf dong! Demikian juga, bagaimana cara mencintai Allah, cobalah kenali Allah, lewat ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat itu ada yang qauliyah, yaitu yang tertera dalam al-Qur’an, tetapi ada juga ayat-ayat kauniyah, yaitu yang terbentang di alam semesta. Pengin lebih mencintai Rasulullah, bacalah sirahnya, hayatilah mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah padanya, keteladanan hidupnya, dan sunnah-sunnahnya. Mengenal akan menyebabkan kita mengetahui sifat-sifat objek yang akan kita cintai. Jika sifat-sifat itu bikin takjub, tentu rasa cinta itu sedikit demi sedikit akan terbit, menguat dan mengurat akar hingga dasar lubuk sanubari, jieeeh ….

3.       Memperbanyak interaksi dengan objek cinta itu
Setelah mengenal, cobalah bangun interaksi yang lebih dalam. Jika objek cinta itu adalah sahabat, berarti kunjungilah dia, ngobrollah dengan dia, maen bareng, rekreasi bareng, saling bertukar hadiah dan sebagainya.

4.       Selalu berdoa agar Allah memberikan kita cinta
Hapal doa yang diucapkan Nabi Daud a.s. berikut ini? Allahumma inni as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka, wal ‘amalal ladzii yuballi ghunii hubbaka. Allahummaj -‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii, wa minal maa il baradi.”
”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu atas kecintaan-Mu dan kecintaan orang-orang yang Kau cintai dan aku memohon kepada-Mu atas amal yang menyampaikan aku kehadapan-Mu karena cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku pada-Mu lebih aku cintai daripada cinta pada diriku sendiri, keluargaku bahkan air yang sejuk (ketika aku sedang kehausan)” ( HR Tirmidzi).
Ucapkan doa itu di setiap waktu yang ijabah (dikabulkannya doa-doa). Insya Allah, cinta itu akan lahir, pelan-pelan, dengan aliran yang tak meluap seperti bah, tenang, namun indah dan lestari.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Cinta Biasa vs Bukan Cinta Biasa (2)"

  1. assalamualaykum, mba izin copas yak untuk blog saya. (sumber di cantumkan )..jazakillah khoir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan dicopas, dan dicantumin sumbernya :-)

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!