Melacak Akar Konflik Israel-Palestina (1)

(Refleksi Hari Al-Quds Sedunia)

Yeni Mulati, S.Si
(Ketua Forum Lingkar Pena Jawa Tengah)

Mungkin tak banyak publik Indonesia yang mengerti, bahwa selain hari kemerdekaan atau hari pramuka, di bulan Agustus kita mengenal suatu hari yang diperingati oleh sebagian penghuni planet Bumi ini, khususnya yang beragama Islam, yaitu hari Al-Quds sedunia, jatuh pada setiap tanggal 21 Agustus. 41 tahun silam, tepatnya 21 Agustus 1969, seorang warga Australia bernama David Michael melakukan aksi banal yang menggetarkan kemarahan seluruh umat Muslimin. Ia membakar Masjid Al-Aqsha atau yang biasa disebut sebagai Al-Quds. Lidah api meluluhlantakkan sebagian besar area masjid, termasuk mimbar Shalahudin. Di mimbar inilah Shalahudi al-Ayubi, pahlawan besar umat Islam, pada setiap Jumat berkotbah, membakar semangat kaum muslimin.

Kaum muslimin berjuang keras melawan api, sementara orang yahudi hanya berdiam diri dan bahkan mengharap agar seluruh masjidil Aqsha hangus tak tersisa. Akan tetapi, atas izin Allah, api dapat dipadamkan. Usai kejadian itu, Yahudi Israel menangkap Michael dan mengadilinya. Uniknya, atau anehnya, di dalam pengadilan,  David Michael mengatakan bahwa ia membakar Al-Quds karena perintah Nabi Zakaria a.s.. Atas keterangan ini, pemerintah Israel membebaskan Michael dengan alasan bahwa dia terganggu jiwanya alias gila.
Sejak peristiwa itu, kaum muslimin di seluruh dunia menetapkan tanggal 21 Agustus sebagai hari Al-Quds sedunia. Penetapan dimaksudkan untuk mengingatkan seluruh kaum muslimin, bahwa Al-Quds tak akan pernah sepi dari usaha-usaha boikot dalam rangka menjagal peran umat Islam di Palestina. Terbukti, tanggal 25 Februari 1994, seorang yahudi bernama Doktor Baruch Goldstein membantai puluhan orang Arab yang sedang bersembahyang subuh di Masjidil Aqsha. Lantas, pada 4 November 1995, Ytzhak Rabin dibunuh Ygal Amir, seorang yahudi militan, ‘atas perintah tuhan’ karena Ytzhak Rabin menyerahkan sebagian ‘tanah yang dijanjikan’ yakni Judea dan Samaria (Yordania) kepada orang Arab (Garaudy, 2000).

Mitos ‘Tanah yang Dijanjikan’
Untuk memahami mengapa hingga kini konflik antara Palestina dan Israel tetap membara, setidaknya mitos tentang ‘tanah yang dijanjikan’ harus menjadi bahan kajian. Dalam bibel disebutkan “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Euphrates.” (Kejadian, XV: 18).
Bangsa Yahudi mengklaim bahwa isi bibel itu menjadi semacam legitimasi suci dari tuhan, bahwa tanah yang terbentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat (Mesir hingga Persia (Iran), jadi seluruh timur tengah) itu sebenarnya hak orang Yahudi. Klaim ini setidaknya diwakili oleh ungkapan Jenderal Moshe Dayan, di Jerusalem Post, 10 Agustus 1969, “Jika Anda memiliki kitab bibel, dan jika kita semua menganggap diri kita sebagai bangsa bibel, kita seharusnya memiliki semua tanah bibel.”
Dengan kata lain, orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia menganggap, bahwa seluruh tanah Arab itu sebenarnya adalah hak mereka. Klaim ini diterjemahkan secara dangkal dan membabi buta. Maka, segala daya upaya pun ditempuh agar seluruh orang Yahudi bersatu dan mendirikan negara Israel Raya di tanah Arab yang telah ribuan tahun dihuni oleh Bangsa Arab.
Pada akhir abad 19, Theodore Hertzl mendirikan gerakan zionisme internasional. Zionisme berasal dari kata zion, yaitu nama sebuah bukit di Yerusalem, kota tempat Al-Quds berdiri. Konon, di bukit Zion itu terdapat Haikal Sulaiman (Kuil Solomon) yang menjadi bukti kejayaan kaum Yahudi di masa lampau, yakni ketika Nabi Sulaiman a.s. berkuasa dengan kekuasaan yang terbentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat. Agenda program zionisme ini disebut sebagai Protokolat Zionisme. Dalam mukadimahnya disebutkan bahwa bangsa Yahudi perlu dijaga agar tidak punah, oleh karenanya negara Yahudi harus tegak di tanah Arab.

Politisasi Bibel
Sebenarnya, ketika hendak menetapkan negeri Yahudi Raya, kalangan zionisme sendiri memiliki banyak gagasan. Alternatif yang muncul adalah, negara Israel akan didirikan di Argentina, Afrika Selatan atau Palestina. Gagasan Palestina sendiri pun bukan tanpa perlawanan. Kaum Yahudi dengan tradisi keagamaan yang kuat menentangnya dengan alasan bahwa Palestina berada di tengah kepungan negara-negara Arab yang memusuhi Yahudi. Akan tetapi kaum Yahudi yang orientasi politiknya lebih kuat, menganggap bahwa dengan posisi ‘terkepung’, maka simpati dari negara-negara barat justru akan muncul. Demikian juga, lebih mudah meyakinkan seluruh Yahudi di muka bumi untuk berkumpul di Palestina dari pada Afrika Selatan atau Argentina. Maka, berdirilah negara Israel Raya tahun 1948, dengan dukungan penuh dari negara adi daya saat itu, Inggris.
Dari uraian tersebut, terlihat bahwa yang paling mendukung gagasan berdirinya negara Israel Raya di Palestina adalah kalangan politisi, bukan agamis yang justru menolaknya. Dengan demikian, terciumlah aroma yang sangat kuat, bahwa isi bibel di Bab Kejadian, XV: 18 tersebut di atas telah dipolitisir demi kepentingan kaum zionisme.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melacak Akar Konflik Israel-Palestina (1)"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!