Menulis, Tradisi Pemimpin Sejati (1)

Ayat Al-Quran yang pertama kali turun adalah “Iqra’ bismirabbika ladzii khalaq. Bacalah dengan nama rabbmu yang telah menciptakan.” Makna ayat ini bagi tentu sangat dahsyat. Bayangkan, sebelum melakukan segala sesuatu, kita dianjurkan untuk menjadikan aktivitas membaca sebagai first action. Ini tentu saja terkait dengan tradisi ilmiah yang memang sangat lekat (semestinya) dalam kehidupan seorang Muslim. Begitu kuatnya penghargaan Islam terhadap ilmu, sampai-sampai amalan—terutama untuk ibadah yang bersifat khusus—yang  tidak dilakukan berdasarkan ilmu, adalah tertolak!
Saya kira, di agama-agama lain pun hal yang sama juga sangat ditegaskan.
Ketika Adam diciptakan dari segumpal tanah, dan Allah berkehendak mengangkatnya sebagai Khalifah di atas bumi, para Malaikat memprotesnya. “Ataj’alu fiihaa manyufsidu fiihaa wayasfiqud dimaawa nahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisulak? Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” (QS Al-Baqarah: 30).
Dan untuk menjawab protes Malaikat, Allah pun mengajari Adam nama-nama seluruh benda di dunia. Apakah Anda berpikir bahwa ketika Allah mengajar Adam nama-nama benda, seperti guru TK yang mengajari anak-anak didiknya. “Nak, ini bangku. Nak, ini meja. Nak, ini buku!”
Maha suci Allah dari segala sikap ‘ecek-ecek’ seperti itu. Saya berkeyakinan, ketika Allah mengajari Adam nama-nama benda, maka disertai dengan segala ilmu tentang benda tersebut. Misalnya, mengajari tentang air. Maka disertai dengan sifat-sifat fisika, kimia, biologi, potensi-potensi dan segala jenis ilmu yang baru tersingkap sebagian kecil oleh manusia pada masa kini. Jadi, mengapa Allah memilih manusia sebagai penguasa di muka bumi, dan ‘mendiskualifikasi’ malaikat? Karena Allah telah member Adam a.s. ilmu. Allah mengangkat dan memuliakannya dengan ilmu, inilah jabatan yang diberikan Allah kepada bapak para manusia tersebut, sehingga membedakannya dengan malaikat.
Pada sebuah atsar diterangkan, “Qayyidul ‘ilma bil kitaabah”, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Ilmu letaknya di memori, sedangkan memori seringkali tersimpan ‘begitu rapi’ di otak sehingga sulit untuk dikuak saat kita membutuhkannya. Ilmu butuh ditranslasikan dalam bentuk kitab, buku, yang mudah kita buka saat kita membutuhkan.
Apalagi, seperti yang kita tahu, pada otak kita terdapat bagian primitif yang jika kita sedang panik, biasanya akan menjadi aktif. Otak primitif ini mirip otak yang dimiliki reptil. Jika ia aktif, otak logis kita akan tertutup, dan sekian banyak pelajaran yang kita serap sejak bayi bisa saja tak ada maknanya, dan kelakukan kita jadi lebih mirip reptile. Sinyal ‘bahaya’ diterjemahkan pada dua pilihan sikap, menyerang atau kabur. Persis seekor ular yang tertangkap basah masuk ke rumah kita. Maka, tak heran jika ada orang yang ilmunya setinggi gunung, namun menjadi terlihat begitu tolol ketika sedang panik.
Jadi, ilmu butuh diikat, agar tidak ‘berlarian’ ke sana kemari. Dan cara mengikat ilmu yang paling tepat adalah dengan menuliskannya. Itulah, mengapa dalam ayat tersebut, kita disuruh untuk melakukan iqra’. Menulis menjadi bagian tradisi ilmiah yang sangat lekat. Maka, seseorang tak akan bisa melewati jenjang kesarjanaan tanpa menulis skripsi, jenjang master tanpa mengerjakan tesis dan jenjang doktor tanpa memungkaskan disertasi.

BERSAMBUNG Ke Menulis, Tradisi Pemimpin Sejati (2)

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Menulis, Tradisi Pemimpin Sejati (1)"

  1. wah mesinnya kayaknya lama

    ReplyDelete
  2. isnpiratis sekali mba. ilmu itu perlu diikat dengan menuliskannya

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!