Hutang, Kok, Bangga?!

Setelah melalui sebuah antre yang sangat panjang—hingga ratusan, euy!—akhirnya petugas menyebut urutan nomor saya. Tergopoh, saya yang sudah merasa pening dan mengantuk, bangkit dari kursi tunggu ruang pelayanan sebuah BUMN telekomunikasi ternama itu. Saya disambut seorang costumer service yang cantik dan rapi.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang CS, ramah. Entah, keramahan yang memancar dari dalam hati, ataukah sekadar tuntutan SOP. Saya sudah terlalu capek untuk menelisik, saking lamanya menunggu, dan memang apa sih urusan saya dengan rewel mendeteksi makna sebuah keramahan.

Saya pun mengajukan permasalahan saya kepada sang CS. Hanya dalam hitungan tak sampai semenit, sang CS pun memberikan solusinya. “Semua total sekian, Bu. Mohon Ibu membayar di sini.” Ia menyebutkan sebuah angka. Saya terkejut, karena tak menyangka saya harus membayar sebanyak itu. Masalahnya, saya tidak membawa uang cash sebanyak itu.
“Wah, saya tidak membawa uang cash sebanyak itu, Bu. Apa tidak bisa pembayaran dengan kartu debit?” Ada 3 buah kartu debit di dompet saya, insya Allah dananya mencukupi.
“Maaf, Mbak. Bisanya dengan kartu kredit.”
“Kalau saya tarik uang cash dari ATM terdekat, antrean bisa dipersingkat, Bu?”
“Oh, maaf… Ibu harus antre lagi.”
Singkat kata, akhirnya saya pun keluar, mencari ATM dan … antre lagi. Wiiih, seandainya saya punya kartu kredit, mungkin saya tidak harus berpayah-payah semacam itu.
Benarkah?
Berkali-kali, para petugas dari bank ini, bank itu, bank anu, menelepon saya, atau menemui saya secara langsung. Menawarkan kartu kredit. Entah dari mana mereka mendapatkan nomor telepon dan alamat saya. Seringkali teleponnya bikin saya geleng-geleng kepala. Misalkan begini, “Bu Yeni, ibu jadi ikut program kartu kredit dari bank x?”
Kapan saya kasih janji ke mereka? Bertemu saja belum pernah. Terkadang, mereka teleponnya di jam-jam yang ‘aneh’ pula. Misalnya jam 9 malam. Saya jadi berpikir, ini beneran petugas dari bank X, atau ada yang mau ngerjain saya.
Persoalannya, sampai saat ini saya nggak minat dengan kartu kredit. Selain karena penghasilan saya juga tak sebesar para golongan high class (ini jujur, hehe), bagi saya, kartu kredit itu sebenarnya sarana pemulus hutang belaka. Sementara, saya bukan tipikal orang yang bisa bersantai-santai dengan beban hutang. Jadi, jika ada orang yang kemudian bergaya dengan fasilitas kartu kreditnya, saya nggak habis pikir. Hutang kok, bangga?!
Jadi, sebenarnya life style seperti apa sih, yang sedang menjadi tren masyarakat kita. Seseorang yang bisa membawa sebuah mobil terbaru seharga 200 juta, meskipun hanya dengan membayar DP 20 juta, petantang-petenteng penuh gaya di depan seorang yang membeli mobil second seharga 70 juta tetapi dibayar cash. Bukankah mobil baru 200 juta itu belum lunas? Sedangkan mobil second itu, sudah resmi hak milik?
Demikian pula, betapa ia memamerkan rumah megah seharga 1 M, padahal masih harus menyicil sampai 15 tahun ke depan. Sementara, kepada seseorang dengan rumah seharga 1/5nya, namun sudah lunas, dia memandang rendah.
Mentalitas macam apa ini? Hutang, kok, bangga?!


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Hutang, Kok, Bangga?!"

  1. Betul sekali, tetapi jika kita kesulitan membayar, kita juga memohonkan keringanan kepada si pemberi hutang

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!