Lebaran 1432H, Kemenangan Dua ‘Lelaki Sejati’

Sebuah Catatan Lebaran (1)

Sekitar seminggu yang lalu, seorang teman berkata, “Semalam bulan purnama. Jadi, kalau ditarik ke tanggal 1, tepatnya jatuh tanggal 30 Agustus, alias hari selasa,” katanya. “Maka, 1 syawal yang benar adalah yang ditentukan oleh Muhammadiyah.”
Saya tersenyum saja mendengar ucapan beliau. Saya sendiri, bersama keluarga, lebaran di hari Rabu, 31 Agustus 2011. Saya memohon ampun kepada Allah, jika apa yang saya lakukan ternyata salah. Tetapi, toh bukan karena hawa nafsu, saya dan keluarga memilih shalat Idul Fitri di hari Rabu. Semua berdasarkan berbagai pertimbangan, di antaranya mengikuti pemerintah, juga karena lingkungan di sekitar saya berhari raya di hari Rabu. Wallahu a’lam bish-shawwab. Kiranya tak baik mengungkit-ungkit hal tersebut, apalagi sekadar mendudukkan hal tersebut sebagai sebuah perlombaan, di mana ujungnya ada yang kalah dan ada yang menang.

Dan, memang bukan masalah itu yang ingin saya ceritakan di sini!
Saya akan bercerita tentang dua keponakan saya yang memiliki prestasi menakjubkan. Mereka adalah Naufal (7 th) dan Yafi (5,5 th). Yang pertama duduk di kelas 1 SD, anak dari Mbak saya, sehingga ia memanggilku bulik. Yang kedua di TK nol besar, anak adikku, dan memanggilku bude. Berbeda dengan anak lelaki saya, Rama (5 th) dan Ifan (1 th) yang cenderung ‘lembut’, bertipe saraf motorik halus yang lebih dominan, dan cenderung ‘feminim’, Naufal dan Yafi ini tipikal ‘lelaki sejati.’ Memanjat pohon, berlarian, melakukan aksi-aksi menegangkan ‘khas lelaki’ selalu membuat kami, parang orang tua merasa deg-degan dan seringkali harus rewel melarang ini, dan melarang itu. Saraf motorik kasar mereka begitu dominan, sehingga para orang tua seringkali kualahan menghadapi mereka, yang juga bertipikal kinestetik ataupun tactual learner (harus menyentuh, atau bergerak, untuk bisa insight—mendapatkan informasi baru).
Mungkin karena mereka itu ‘lelaki sejati’, mereka memang cenderung tatag, alias tidak gampang nangis. Saat perbedaan hari raya kemarin, mereka membuktikan ketatagan mereka. Ceritanya begini! Meskipun keluarga saya memilih berlebaran pada hari Rabu, mengikuti masyarakat di kampung, ternyata keluarga Mbah Buyut—beserta bulik, Om, Pakde dan Bude—yang rumahnya di kampung sebelah, berlebaran di hari selasa. Mereka shalat idul fitri di kota, yang terletak sekitar 8 KM dari desa kami, menggunakan mobil secara berombongan.
Nah, usai shalat Idul Fitri, Bulik mengajak kami untuk menengok seorang famili yang sakit di Purwokerto. Dua buah mobil yang sarat muatan, dan berbeda ‘hari lebaran’ pun beranjak ke Purwokerto. Ternyata, di lingkungan famili saya itu pun berlebaran di hari selasa. Walhasil, ketika sampai di rumah beliau, kami disuguhi aneka kue yang sangat eye cathcing, terumata untuk anak-anak.
Para anak dari mobil pertama, yakni dari keluarga Mbah Buyut, dengan asyik menikmati kue-kue lebaran. Rama yang belum puasa, dengan cepat bergabung dengan mereka. Anis, anak saya yang berpuasa, mulai berkaca-kaca dan mendekati saya. “Umi, kok mereka pada makan?”
“Mereka sudah lebaran, Nak!” ujarku.
“Kok, lebarannya beda?” Anis tak paham. “Aku ikut lebaran sama mereka saja ya, Mi? Aku buka puasa ya?”
Saya tergagap, bingung harus menjawab apa. Namun, mengingat Anis belum genap berusia 7 tahun, dan bisa berpuasa sampai maghrib meskipun tidak 30 hari penuh, sudah sebuah prestasi besar baginya, akhirnya saya dan suami mengizinkan Anis untuk berbuka puasa. Anis, dengan girang menyantap aneka hidangan yang disajikan.
Tinggal dua bocah lelaki tatag itu. Mereka ada di teras, duduk-duduk dengan tenang. Saya mendekati mereka. “Naufal dan Yafi, mau ikut buka puasa?”
Di luar dugaan, mereka menggeleng. Gelengannya mantap, bo! “Tidak, Bulik!” kata Naufal.
“Aku puasa terus, sampai maghrib!” ujar Yafi, mantap.
Lalu mereka saling pandang, dan tertawa girang. Tak ada beban terlihat di tatapan kanak-kanak mereka. Padahal, saat itu ada sekitar selusin anak kecil sebaya mereka, plus dua anak yang berusia lebih besar, yang asyik menyantap hidangan yang bisa dibilang lezat itu.
Ah, anak-anak yang hebat!
“Benar, nih, kuat puasanya?” goda saya.
“Kuat! Aku kuat puasa terus. Besok, besoknya, besoknya lagi aku akan puasa!” teriak Yafi, lalu tertawa keras.
Dasar anak-anak, batinku, geli. Yah, jika banyak kalangan, entah dari golongan apapun, saling bersikeras mempertahankan pendapat, bersikeras menganggap dirinya paling benar, silahkan saja terus berargumentasi. Namun, bagi saya, pemenang sejati yang berhak mendapatkan predikat juara, di antaranya adalah dua bocah tadi. Selamat, ya ... Naufal dan Yafi!

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Lebaran 1432H, Kemenangan Dua ‘Lelaki Sejati’"

  1. Di foto, Yafi yang berkaos biru, Naufal berkaos hijau. Yang berkaos merah, Rama. Nah yang cewek manis berbaju pink itu Anis. Foto ini diambil saat asyar, sepulang dari perjalanan menjenguk famili dari Purwokerto. Yafi dan Naufal tetap berpuasa sampai maghrib. Anis, setelah 'berlebaran', kembali puasa sampai maghrib. Namanya juga anak-anak, hehe

    ReplyDelete
  2. Oya, foto ini berlattar Masjid Muhammad Cheng Ho yang arsiteknya 'mandarin' punya :-)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!