Mother How Are You Today?


Pernahkah engkau merasakan saat haru bertandang kuat? Pasti pernah. Kita manusia. Serasional apapun Anda, tetap ada belahan otak emosi di enchepalon kita. Justru jika rasa haru tak pernah hinggap, barangkali ada yang telah tercerabut dari kemanusiaan kita.
Saya juga sering merasakan haru. Sangat sering, malahan. Bahkan melihat sinar mata lembut seorang bayi saja, hati saya sudah seperti terelus. Apalagi tatkala harus berpisah dengan ibunda tercinta, rabu kemarin, saat pamitan usai lebaran. Maksud hati ingin terus menemani sang bunda, namun apa daya, waktu yang kami miliki sangat terbatas. Cuti suami hanya sampai Kamis, Jumat harus sudah berangkat bekerja. Sementara, kami masih harus mengunjungi orangtua kami yang lain, yakni bapak dan ibu mertua. 

Pembagian waktu adalah masalah sensitif, yang harus diatur dengan sangat detail, dengan bertenggang pada perasaan sepasang suami-istri. Banyak pasangan, yang karena tak arif menyikapi hal ini, terjebak pada perseteruan dalam berbagai skala. Ada yang sekadar memendam sebal dalam hati, menunjukkan muka cemberut, sampai ada yang memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja sendiri-sendiri. Hoho, childish, bukan?

Bagaimanapun, setelah saya memutuskan rela dinikahi suami, bilangan orangtua saya melipat dua kali. Ada sepasang ayah, dan sepasang ibu. Mereka semua membutuhkan perhatian dan birrul walidain kita. Satu yang harus digaris bawahi, sebagai anak laki-laki, tanggung jawab suami saya kepada orangtuanya tak lekang, meski saat ini ia telah menikahi anak orang. Berbeda dengan posisi saya yang perempuan. Pasca akad nikah, telah terjadi transfer perwalian dari ayahanda kepada suami saya. Sehingga tanggung-jawab saya kepada orangtua saya, tak sebesar tanggungjawab suami saya kepada orangtua beliau. Saya harus, wajib, kudu, memahami hal tersebut!

Yah, perpisahan di tepi jalan, saat ibunda mengantar kami sampai ke mobil, terasa basah. Alhamdulillah, bunda sangat memahami itu. Ia pun menjabat tangan saya erat, berpelukan, dan mencium pipi kanan dan kiri. “Hati-hati di jalan, ya?!” pesannya. Seperti biasa.

Ada nuansa biru yang kuat, saat saya menuntun anak-anak melangkah menuju mobil yang akan membawa kami pergi menuju tempat yang lain. Ah, sebenarnya ini suatu hal yang biasa, bukan? Telah delapan tahun aku menjadi istri orang, selama waktu itu, beberapa kali saya—baik sendiri maupun bersama keluarga, mengunjungi beliau. Kami bertemu, beberapa hari, bersukaria, namun kemudian berpisah. 

Ya, sangat biasa. Dulu, saat saya lajang, saya pun biasa hidup terpisah. Saya indekos di Semarang, pulang hanya saat liburan, dan begitu jadwal kuliah sudah hendak dimulai, saya akan dilepas ibunda dengan pelukan. Ah, ya... juga dengan kardus kecil berisi kue-kue, kering tempe pedas serta lauk yang akan sangat menghemat pengeluaran saya sebagai mahasiswa. Meskipun jatah biaya kuliah saya ditanggung kakak, beberapa lembar uang saku tambahan beliau selipkan juga di tanganku. “Buat tambah-tambah jajan,” kata beliau.

Ya, perpisahan, pamitan, itu biasa. Kami berpisah, bertemu, berpisah, bertemu ... terus-menerus. Tetapi,  memang ada yang berubah. Dimulai saat saya diboyong ke rumah mertua sesudah akad nikah. Bunda memelukku yang terisak sembari juga meneteskan air mata. “Kau sekarang istri orang,” kata beliau. Perkataan yang membuncahkan sebuah pemahaman baru. Ya, setelah itu beliau memang tetap ibundaku, dan aku tetap anaknya. Hubungan kami tak akan terpisah apapun yang terjadi. Meskipun terkadang jauh di mata, kami tetap dekat di hati. Cinta di antara kami tetap berkelindan, mengalun, gencar, dan manis. Akan tetapi, aku tahu, sejak saat itu, dan untuk seterusnya, status saya telah berubah. Saya istri orang. Sebentar lagi saya akan melahirkan anak-anak. Dan saya akan memiliki kehidupan sendiri.

Konsekuensi dari ‘kehidupan sendiri’ itu adalah, waktu yang harus saya lewatkan dengan beliau, menjadi lebih singkat. Jika saat masih lajang, liburan selalu menjadi saat mengarungi hari bersama bunda, maka sekarang saya telah memiliki pelabuhan lain. Bahkan, saya pun akhirnya menjadi seorang bunda pula, sama seperti beliau. Kehidupan berkeluarga tentunya menyerap konsentrasi saya, sehingga perhatian untuk ibunda pun melimit. Belum lagi berjibun kesibukan yang telah menyandera hari-hari kami. Membuat kami semakin sulit untuk berjumpa secara fisik.

Pertanyaannya, jika saya bisa tetap tersenyum karena berada di tengah hangatnya tawa canda suami dan anak-anak, bagaimanakah dengan ibunda di sana? Jika beliau masih berdua bersama ayahanda, tentu ia tak merasakan kesepian. Namun, ayahanda telah dipanggil Allah beberapa bulan silam. Jika beliau sehat dan terus beraktivitas, tentulah nyenyet itu akan terurai. Akan tetapi, bagaimana jika beliau dalam kondisi sakit? Siapa yang merawat beliau sebagaimana dahulu beliau merawatku saat aku masih kecil dan tergolek sakit?

Dada ini menjadi terasa ngilu saat membayangkan, saat-saat yang sama bergiliran akan menimpa saya kelak. Jika saat ini saya melewati hari bersama ketiga anak saya—dan mudah-mudahan bertambah—merawat mereka sejak bayi: memandikan, memberi ASI, memeluk,  menggendong, menyuapi, mengajarinya berbagai hal ... bagaimanakah perasaan saya jika satu persatu dari mereka kemudian meninggalkan saya, karena telah memiliki kehidupan sendiri?

Pernah saya berbincang-bincang dengan suami. “Bagaimana jika besok anak-anak sekolah di Solo saja. Kuliah di Solo, dan bekerja di Solo?”

“Mengapa harus begitu? Biarkanlah mereka melanglang buana untuk mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya. Anak-anak kita, bukanlah milik kita. Mereka milik zamannya ....”
Aku terkesima. Ya, anak-anak kita, kata penyair Khalil Gibran, bukanlah milik kita. Mereka adalah milik zamannya. Yang bisa kita lakukan, hanyalah mendidik mereka sebaik mungkin. Sehingga ketika mereka berdoa, “Robbighfirlii waliwalidayya warhmahuma kamaa rabbayani shaghiiro, Ya Rabb ampuni aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku saat kecil,” maka doa itu adalah refleksi dari bagaimana saya mengasihi mereka saat mereka kecil. Camkan kalimat kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku saat kecil ! Jadi, apakah jika saat ini saya merawat mereka dengan sekedarnya, bahkan zalim, apakah ketika mereka berdoa seperti itu, doa itu lantas tertolak? Wallahu a’lam.

Yang jelas, saya merasakan kasih yang begitu dalam pada cara bunda merawat dan mendidik saya sejak kecil. Kesabaran, kehalusan budi, pengorbanan yang luar biasa, dan kasih sayang yang melimpah ruah. Untuk itulah, tatkala saya membaca doa “Robbighfirlii waliwalidayya warhmahuma kamaa rabbayani shaghiiro”, sebentuk husnudzon menguar kuat. Saya percaya, Allah akan mengasihi ibundaku, sebagaimana beliau mengasihiku saat kecil.

Namun, apakah hanya sebentuk doa belaka yang terhadiahkan untuk Bunda? Tidak, Rabb... saya akan berusaha sekuatnya, dengan ikhtiar, agar beliau bahagia. Terutama setelah beliau kehilangan separuh jiwanya, yakni ayahanda tercinta. I Love You Bunda ...

Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?[i]
Peluk mesra untuk Ibunda Sri Wartuti Sutjipto nan jauh di sana ...


[i] Lirik lagu Mother How Are You Today, Maywood

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Mother How Are You Today?"

  1. really touching..... keep writing mba.. i'd love to read it...

    ReplyDelete
  2. I Love you Mom... *nangis*

    ReplyDelete
  3. Selagi bunda masih ada, mari kita bahagiakan mereka...

    ReplyDelete
  4. Subhanallah.. Refleksi diri. Sy selalu antusias membaca karya-karya mb afifah sejak SMA dulu sampai saat ini. Mengingatkan tanpa menggurui.. Jazakillah mba..

    ReplyDelete
  5. @Anggoro Padmi: Bagaimana bisa menggurui, saya kan bukan guru hehe... syukron sudah berkunjung ke blog saya yg sederhana ini

    ReplyDelete
  6. ikutan titip salam buat mamak saya di wonogiri ya mbak .. i love u, mom. *lnjut nangis lagi ..*

    ReplyDelete
  7. love u mam.... en' love u dad.... T.T

    ReplyDelete
  8. Subhanallah, saya ikut meleleh baca tulisan saya sendiri :'(

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!