Ck... Ck, Cewek Agresif! (2)

Cewek Nembak Cowok = Agresif?
Trus, apakah kalau cewek nembak cowok, bisa dikatakan bahwa cewek itu agresif? Kalau istilahnya nembak, mungkin juga ya... abis kesannya sangar gitu, hehe. Mungkin beda kalau istilah yang dipakai adalah ‘nembung’ atau ‘mengkomunikasikan perasaannya’ kepada cowok.


“Nggak salah,” ujar Kang Abik, penulis buku Ayat-Ayat Cinta, “Asal tetap pada koridor syar’i.” Koridor syar’i itu artinya tidak melanggar nilai-nilai agama, gitu. Jadi, kalau yang dilakukan sudah kelewatan, melewati serangkaian pemaksaan, teror, ancaman, bahkan melacurkan diri, itu sudah nabrak pagar syariah.
Senada dengan Ustadz yang akrab dipanggil Kang Habib, Ustadz Budiman Mustofa Lc (pengajar di Ponpes Assalam) juga mengatakan hal yang sama. Asal tidak melangkah sendiri, tetap menjaga diri (tidak mengumbar aurat), serta tidak berdua-duaan tanpa mahram, tidak ada masalah. Ketika seorang wanita merasa cocok dan mengharapkan seorang lelaki menjadi suaminya, ia bisa meminta pihak ketiga untuk ‘nembung’ kepada sang lelaki, agar sang lelaki mengkhitbahnya (melamarnya) menjadi istri. “Jadi, tetap yang mengkhitbah itu pihak lelakinya, bukan lantas perempuan mengkhitbah laki-lakinya. Dan saya sendiri agak keberatan dengan istilah ‘nembak’ kayaknya kok ganas banget, ya,” ujar Ustadz Budiman sambil tertawa.
Hanya saja, menurut Mbak Izzatul Jannah, perlu diperhatikan faktor psikologis sang perempuan. Perempuan itu kan cenderung emosional. Kalau si lelaki ditembung dan ternyata mau, it’s no problem. Tapi kalau cowoknya nolak? Kan malu tuh... Biasanya, kalau itu terjadi pada lelaki, cepat sekali dilupakan. Beda jika terjadi pada perempuan, bisa-bisa jadi ‘kenangan seumur hidup’. “Silahkan saja nembak cowok, asal berani malu jika ditolak,” kata Mbak yang aktif menulis sejak masih SD itu. Kamu berani?

Tidak Untuk Pacaran, Lho!
Satu yang perlu kamu garis bawahi, Sobat... ternyata ‘mengungkapkan perasaan’ kepada lawan jenis itu tidak berlaku untuk urusan pacaran. Nah, lho! Soalnya, pacaran dalam Islam sendiri itu tidak pernah dikenal. Bagaimana mau pacaran, orang berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram saja tidak boleh?
Bagaimana dengan pacaran Islami? Sama saja. Istilah pacaran Islami sendiri, maknanya sangat debatable. Pacaran sendiri dilarang, kalau dikasih embel-embel Islami, jadi persis dengan judi Islami, mabuk Islami or mencuri Islami, dong! 

Balada Cowok Pemalu
Fahri terpekur menatap lembaran surat dari Nurul, temannya sesama mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo. Beribu perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Apa pasal? Nurul menulis dalam suratnya, bahwa ia sudah lama menginginkan agar ia menjadi suaminya. Fahri sendiri, sebenarnya juga ada hasrat untuk mempersunting wanita sholihah itu menjadi istrinya. Hanya saja, ia tak berani. Ia hanya anak seorang petani miskin, sementara Nurul adalah anak seorang kyai kondang. Ia terlalu pemalu, tak berani mengungkapkan perasaannya.
Sekarang Nurul memberanikan diri mengungkapkan perasaannya. Namun, semua itu sudah terlambat. Seminggu lagi, Fahri akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita cantik berdarah Turki.
Aduuuh, tragis amat ya, kejadian itu. Untungnya, itu hanya terjadi di alam fiksi, di dalam buku “Ayat-ayat Cinta” yang ditulis oleh Ustadz Habiburahman El Sirazy (sudah baca kan, bukunya?). Tetapi, kisah yang demikian itu, bisa juga terjadi di zaman sekarang ini, lho! Banyak lelaki sholeh yang pemalu, yang kurang memiliki rasa percaya diri untuk memilih pasangannya. Seperti juga yang terjadi pada pasangan Toni dan Wahyu (bukan nama sebenarnya).
Toni, sejak SMU merasa bahwa dia bukan seorang yang memiliki kelebihan. Ia senantiasa terpuruk oleh perasaan minder, padahal, kenyataannya ia adalah seorang lelaki sholeh yang banyak ‘diminati’ akhwat, salah satunya adalah Wahyu. Beruntung, Wahyu memiliki kepercayaandiri yang tinggi. Maka, dengan perantaraan seorang Ustadz, Wahyu pun mencoba menjajagi kemungkinan menjadi istri Toni. Ternyata, Toni dengan senang hati menerima Wahyu, maka kejadian tragis yang menimpa Fahri dan Nurul dalam novel tersebut di atas pun tidak terjadi pada mereka. Kini mereka telah menikah dan sebentar lagi dikaruniai seorang anak.
“Saya pernah ditembak 4 kali, saya diajak nikah,” ujar Bayu (23, bukan nama sebenarnya). “Rasanya, duh... deg-degan banget! Apalagi, untuk ukuran lelaki, saya ini termasuk pemalu. Jadi pas dapat ‘kasus’ begitu, rasanya gimana... gitu, bertanya-tanya dalam hati, kok bisa gitu ya, hehe...”
Kalau melihat fisik Bayu, tampaknya cerita itu memang tidak mengada-ada. Bayu, ia berwajah tampan. Bodynya juga atletis, belum lagi penampilannya yang santun dan cenderung cool. “Cowok kayak gini tuh, yang bikin para cewek jadi gemes,” ujar Dea (bukan nama sebenarnya). 
Meskipun mengaku pemalu, Bayu merasa tidak kesulitan jika mengungkapkan perasaannya tentang perempuan yang ingin ia ajak membentuk keluarga samara. Ia tidak terjebak perasaan minder seperti Toni. Ia tetap memiliki kriteria untuk sang istri, dan tak segan-segan meminta pembimbingnya untuk nembung kepada gadis muslimah yang sesuai dengan kriteria tersebut.

Asertif Gaya Khadijah
Kesalehan lelaki itu telah memikat hatinya. Seorang pemuda yang digelari oleh segenap penduduk kota Makkah dengan sebutan Al-Amin. Seorang lelaki mulia yang memiliki nasab cemerlang, namun senantiasa tawadhu dan menjaga kesuciannya. Sudah beberapa lama pemuda itu menjadi salah seorang karwayannya, berdagang kesana kemari, dan hingga detik itu pula, Khadijah—sang konglomerat wanita pada zamannya, tak pernah sekalipun melihat cacat cela padanya.
Maka, ia pun menjatuhkan pilihan. Ia pun mengirim utusan untuk menyampaikan keinginanya menjadi pendamping hidup pemuda itu. Dengan cara yang santun dan terhormat—tanpa harus kehilangan izzah (kemuliaan, harga diri)nya, Khadijah pun berhasil mengkomunikasikan perasaannya kepada Muhammad, pemuda itu. Dan jadilah dia seorang istri sholihah yang sangat dicintai oleh Rasulullah, yang melahirkan 4 puteri yang juga sangat dicintai oleh insan mulia itu.
Marilah kita membahas karakter Zulaikhah, Khadijah dan Fahri (tokoh dalam novel Ayat-ayat Cinta). Dalam hal ini, Zulaikhah memiliki karakter agresif. Karena cintanya yang menggebu-gebu, ia tega memfitnah Yusuf, menyakiti hati orang yang sebenarnya ia cintai. Ia tak berhasil memiliki Yusuf, namun justru semakin menderita dalam penyakit cinta. Sementara Fahri, ia sebenarnya memendam perasaan ‘ingin meminang’ Nurul, namun ketidakpedeannya membuat ia harus menelan pil kekecewaan. Sifat ini disebut sebagai non asertif. Sebagai penengah dari kedua sifat tersebut, yang dimiliki oleh Khadijah, adalah sifat asertif.
Menurut Jacinta Rini dari e-psikologi.com, asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya.
Ada beberapa ciri-ciri seorang asertif, di antaranya adalah yang tersebut di bawah ini!
1.      Selalu berpikir panjang sebelum memutuskan segala sesuatu. So, keputusan itu ia lakukan dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Seperti yang dilakukan Khadijah. Sebelum ia ‘nembung’ kepada Muhammad, ia mengamati betul-betul karakter Muhammad. So, ia tahu betul bahwa Muhammad adalah sosok yang paling tepat buat beliau.
2.      Sering melakukan klarifikasi, alias tabayyun. Khadijah, setelah mengamati karakter Muhammad, beliau menanyakan kepada orang lain yang dekat dengan dia perihal Muhammad.
3.      Tidak takut menanggung resiko seperti kecewa, sakit hati ataupun malu karena ditolak oleh orang lain. Juga tidak merasa mutung karena penolakan tersebut. Tetap berbesar hati, gitu lho!
4.      Tetap menjaga kemuliaan diri, tidak merendahkan martabat diri sendiri di depan orang lain.
5.      Senantiasa tegas, tidak plitat-plitut apalagi cengengesan.
Nah, Fren... sifat asertif inilah yang dibolehkan dalam Islam, termasuk dalam masalah hubungan cowok dengan cewek. Tetapi, tentu saja, koridor syariah harus tetap dijaga lho.- 








Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Ck... Ck, Cewek Agresif! (2)"

  1. Kapan ya saya di tembung? hehe..

    ReplyDelete
  2. Siapa yang mau nembak FAhrie SAdah? :-D

    ReplyDelete
  3. @Fahrie Sadah: mungkin belum sekeren Fahri, xixi... (becanda)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!