Dari Formula One Hingga ST 12


Ingin merasakan rasanya balapan ala Formula One yang bakal menyemburkan adrenalin, sekaligus mendengarkan konser life ST 12? Nggak usah jauh-jauh. Naik aja bus jurusan Yogyakarta-Surabaya. Lho, kok bisa? Hehe, ini sih bukan sekadar ironi yang saya taburkan, tetapi sebuah ungkapan kesebalan.
Jika di ajang F-1, Sebastian Vettel dkk melesat di arena yang sengaja dibentangkan untuk perlombaan, medan yang dilewati bus ini malah lebih seram lagi. Bayangkan, di jalan yang ramai bin padat, si sopir dengan lincah meliak-liuk, zig-zag, melewati pesaing demi pesaing. Ketika ada motor atau mobil yang bandel, tak minggir saat bus hendak lewat, klakson dipencet, lama dan keras sekali.
“Thoooooot.... thoooooooot!” dijamin, gendangan telinga sesiapa yang mendengar terasa digetarkan oleh gempa 9 SR (eh, lebay!).
Saya sendiri, selain merasa ngeri, plus mendadak mulas karena isi perut seakan tengah dikocok-kocok, juga diam-diam berpikir, dahsyat juga, nyali si sopir. Jangan-jangan mereka memang veteran F-1 beneran J.
Jika Anda pelaju yang sering melintasi jalan yang menghubungkan kota Yogyakarta dengan Surabaya, yang melewati kota-kota semacam Solo, Madiun, Nganjuk dll., barangkali akan setuju dengan saya. Bus-bus yang melintas di sana benar-benar disopiri dengan nyali superdebar menggelora. Bisa dibilang, ugal-ugalan. So, track record bus-bus jurusan tersebut, khususnya yang berinisial SK, benar-benar buram. Bus itu berkali-kali nabrak orang, kecelakaan, dan sebagainya. Saking seringnya kecelakaan, sampai-sampai nama belakang bus itu, ‘K’ dipelesetin jadi ‘B’, Bencono.
Saya juga punya pengalaman buruk dengan bus SK itu. Suatu hari, saya dan suami jalan ke timur, menuju Pondok Gontor Puteri 3 di Ngawi, mengisi pelatihan kepenulisan. Kami naik mobil avanza, disopiri suami. Mendadak, dari arah belakang, terdengar suara klakson yang memekakkan telinga. Si ‘raja jalanan’, bus SK, hendak lewat. Kami semua disuruh minggir.
Iseng, suami cuek. Tak mau minggir. Dan apa yang terjadi? Nyaris sepanjang jalan mobil yang kami naiki dipepet oleh si SK. Beuuuuh!
Sejak itu, saya jadi ilfil sama bus tersebut. Pokoknya, hindari deh, naik bus tersebut. Sebisanya.
Nah, di bulan September kemarin, saya diminta teman-teman IKIP PGRI Madiun untuk mengisi seminar. Karena acaranya di hari Sabtu, otomatis saya tidak bisa minta tolong diantar suami. Maka, pilihannya hanya satu, naik bus. Dan, bus yang lewat Madiun, semua ekonomi. Bus PATAS Solo-Surabaya, semua tidak melewati kota itu, tetapi langsung by pass lewat Caruban.
Persis beberapa hari sebelum perjalanan ke madiun, lagi-lagi terdengar berita seram tentang si SK. Doski tabrakan sama travel, sekian orang meninggal. Meskipun, konon, yang salah itu sopir travelnya, tetap saja cap negatif sudah diberikan oleh masyarakat. Maka, aku pun semakin anti naik SK. Pasalnya, bus SK itu jumlahnya buanyaaak banget, dan nyaris menguasai trayek.
Rada deg-degan juga ketika saya masuk terminal. Khawatir jika tak ada bus lain, dan terpaksa harus naik si SK. Maka, rasanya ploooong banget, ketika tatapan mata saya terantuk pada sebuah bus berinisial M. AC, pula. Meski ekonomi. Dengan perasaan lega, saya naik ke atas bus. Selang beberapa saat, bus M berjalan. Dan, ternyata nyaris berbarengan dengan si SK. Wah, pasti si SK bakal ngerjain si M, nih. Pikirku.
Ternyata? Olala... justru si SK tampak begitu kalem dan anggun. Bus yang kunaiki ini, si M, malah yang ugal-ugalan. Wah, saya benar-benar sport jantung. Apalagi, posisi duduk saya di bangku terdepan, jadi saya melihat jelas apa-apa yang terjadi di balik kaca depan yang kinclong. Beberapa kali bus meneror kendaraan-kendaraan di depannya dengan klakson yang panjang dan bising. Kendaraan-kendaraan itu pun sontak minggir, dan si bus melaju, menerabas jalan yang dibentuk dari sibakan kendaraan yang terpaksa ngalah itu, tanpa menurunkan kecepatan.
Beberapa kali, bus nyaris menabrak motor yang ada di depannya. Jalanan memang ribet dengan motor yang mendominasi. Ketika sebuah motor abai terhadap klakson si bus, dan nyaris terserempet, spontan si sopir berteriak, melotot dan mengacungkan kepalan tangan ke arah si pengendara motor.
Syerem!
Saya kira, suamiku sudah termasuk crosser mumpuni. Ternyata, dibanding pak Sopir bus M tadi, tak ada apa-apanya.
Eh, Ada ST 12!
Beruntung, di tengah jalan, ketegangan saya sedikit menurun. Sebuah group pengamen naik ke bus, lalu seorang kru bus sontak merendahkan volume audio bus yang sebelumnya memutar lagu-lagunya Iwan Fals. Suara musik berbunyi, dan sang vokalis pun beraksi. Saya sempat menegakkan kepala sejenak, melirik ke arah si vokalis. Sayangnya sulit, karena vokalis berposisi di tengah bus, sementara saya duduk di bangku terdepan.
Pasalnya, saya takjub dengan suara si pengamen saat membawakan lagu Isabella. Suaranya yang serak-serak basah, serta cengkoknya yang ‘Melayu’ sungguh mirip benar dengan Charlie, vokalis ST 12. Selanjutnya, konser ST 12 gadungan yang murah meriah pun berlangsung di atas bus yang melaju dengan kecepatan yang membikin adrenalin tersembur. Ya, murah meriah, karena saya cukup memasukkan selembar ribuan kumal ke kantong yang disodorkan salah seorang kru, pasca berakhirnya konser.
Maka, perjalanan kembali didominasi dag-dig-dug. Walhasil, sampai bus turun di terminal Madiun, rasanya tubuh ini begitu lemas.
Wahai, Bapak Sopir... jalan hati-hati ya? Kalian bawa nyawa banyak, lho!

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Dari Formula One Hingga ST 12"

  1. ah...teringat masa masa jadi perantauan kala maih mahasiswa...Yogya-Jember PP, alhamdulilah masih selamat...good deh tulisannya...

    ReplyDelete
  2. Bagaimanapun, saya berhutang budi pada Bus SK :-)

    ReplyDelete
  3. Kayaknya kalo supir bis itu di ikutkan balapan F1 sudah jadi juara dunia berapa musim mungkin ya...:)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!