Patah, Amputasi, Membelah Diri

Artikel ringan ini saya tulis setelah terinspirasi dengan peristiwa pengunduran salah seorang staf saya di Penerbit Indiva. Beliau ingin berkonsentrasi mengurusi bisnis online yang beliau dirikan bersama suami. Jujur, saya terpukul dengan pengunduran diri tersebut. Karena, kinerja beliau selama hampir 4 tahun (seumuran Penerbit Indiva), sudah teruji. Taktis, disiplin dan rapi. 
Sekitar setahunan yang lalu, salah seorang tim saya juga mengundurkan diri, dengan alasan ingin mengembangkan usaha yang ia rintis. Saat itu, saya juga kaget. Ia keluar dari sebuah zona 'nyaman' dan hendak mencebur di sebuah lautan, yang luas dan menjanjikan hasil yang lebih besar, tetapi juga penuh dengan para predator.

Kedua kasus 'kehilangan' itu membuat saya merenung panjang. Dan hasilnya, saya coba share di blog saya yang sederhana ini.
Dalam interaksi antarmanusia dengan segala dinamikanya, tentulah sangat wajah jika suatu saat kita harus mengalami sebuah proses 'pemisahan.' Hanya saja, tak semua bentuk pemisahan itu elok adanya. Menurut saya, ada tiga jenis proses 'pemisahan' sebagai berikut:
Pertama, Patah. Ini terjadi saat perekat yang menyatukan antarelemen kehilangan daya rekatnya. Bisa jadi karena faktor ketidaksesuaian pendapat, ataupun perbedaan cara pandang--bahkan sampai pada tingkat ekstrim: ketidakharmonisan. Pisah karena patah, seringkali menyakitkan,dan tak sehat untuk keduanya. Ada penderitaan yang menyertai, terkadang sungguh nyeri. Hindari pisah karena patah dengan terus menerus menguatkan lem perekat.
Kedua, Amputasi. Ini menyakitkan, tetapi harus dilakukan, karena ada satu elemen yang membusuk atau berpenyakit. Jika tak segera kita potong bagian tersebut, penyakit akan merembet ke bagian lain. Amputasi penting untuk kita lakukan, meskipun tentu saja ada rasa nyeri teramat sangat yang akan kita rasa. Namun, sebelum amputasi menjadi sesuatu yang terpaksa kita lakukan, semestinya kita harus mengecek bagian dari elemen-elemen kita secara menyeluruh. Jangan sampai membiarkan satu bagian terinfeksi, lalu membusuk, sehingga akhirnya harus diamputasi.
Ketiga, Membelah Diri. Ini adalah proses pisah yang indah. Membelah diri adalah proses reproduksi yang berlangsung pada hewan bersel satu. Satu bagian tubuh berkembang, lalu tumbuhlah intisel. Ketika sudah ada bagian tubuh yang memiliki intisel, memang bagian tersebut harus lepas, untuk membentuk individu baru. Jika kita memiliki karyawan yang memang memiliki potensi yang lebih, dan memang harus berpisah dengan kita, tentu tak elok jika kita terus mempertahankan keberadaannya. Biarkan ia lepas, untuk kemudian bekerjasama sebagai klien yang sejajar. Kita dengan perusahaan kita, dan ia dengan perusahaan dia. Membelah diri adalah sebuah keniscayaan. Angkatlah topi, dan ucapkan selamat jika ada bagian dari elemen kita yang telah berhasil membelah diri!

Wallahu a'lam bish-shawab.

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Patah, Amputasi, Membelah Diri"

  1. terima kasih sharenya Mbak.. :)

    ReplyDelete
  2. apakah artinya hubungan yang baik haruslah mendorong masing-masing pihak untuk berani membelah diri :) nice blog. Thanks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung kesepakatan dan kecenderungan mereka, Mas :-)

      Delete
  3. @Agus Irkham: menurut saya bisa iya, bisa tidak. Tergantung karakter sahabat kita. Jika ia lebih baik menyatu dengan kita, mari didorong untuk bersatu. salam kenal dari kami, blogger pendatang baru :-)

    ReplyDelete
  4. @Agus Irkham: terimakasih atas kunjungannya...

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!