Minggu, 27 November 2011

SBY Lecehkan Pecinta Buku? (Release FLP)

Apakah tanda tanya dalam judul postingan kali ini akan dijawab 'ya' atau 'tidak', tentu tergantung pada masing-masing. Yang jelas, pekan kemarin, presiden kita itu menyelenggarakan pesta pernikahan puteranya, Edhie Baskoro dengan Siti Rubi Aliya Rajasa. Nah, ada hal yang 'barangkali' tidak dipikirkan, atau justru sengaja diabaikan. Yakni pesta pernikahan yang diselenggarakan di JCC tersebut bersamaan dengan ajang pesta buku se-Indonesia, yakni Indonesia Book Fair. Karena acara 'kenegaraan' tersebut, pesta buku yang dinanti-nanti para pecinta buku itu pun diliburkan sehari.
Forum Lingkar Pena, sebagai organisasi yang sangat berkepentingan dengan kemajuan dunia perbukuan, tentu merasa prihatin. Nah, berikut ini, release FLP pusat yang langsung dikeluarkan oleh Ketua FLP Pusat, yakni mbak Setiawati Intan Savitri, alias Izzatul Jannah. Simak, yuk!

Release: FLP Tolak Pelecehan Terhadap Pecinta Buku

Acara Indonesia Book Fair (IBF), bagi penerbit dan pecinta buku telah
menjadi acara rutin tahunan. Ajang ini adalah momentum bagi bertemunya para
pecinta buku, penulis, sekaligus promosi bagi para penerbit buku untuk
secara langsung menyapa pembaca. Namun, tahun 2011 ini acara rutin tersebut
telah digeser secara semena-mena oleh penguasa (Presiden SBY) padahal
tempatnya jelas berbeda.

Dalam pengumumunnya, panitia IBF 2011 menginformasikan bahwa IBF yang
diadakan di Istora Senayan Jakarta tanggal 26 November yang jatuh hari
Sabtu, diliburkan karena pada hari/tanggal tersebut ada acara kenegaraan
yang berlangsung di Gedung JCC. Kita semua tahu, acara yang disebut acara
kenegaraan itu sebenarnya acara pribadi presiden yang menikahkan anaknya.

Atas dasar itu pihak istana menggeser acara pameran buku itu dengan
semena-mena sehingga banyak menimbulkan kekecewaan bagi para pengunjung dan
pecinta buku pada umumnya.

Alasan bahwa liburnya IBF 2011 pada tanggal 26 November telah
dikoordinasikan karena ada acara pernikahan tidak dapat diterima. Sebab, IBF
2011 merupakan acara rutin yang tanggal penyelenggaraannya biasanya sudah
ditentukan satu tahun sebelumnya.

Pihak istana mungkin berpikiran acara pameran buku bukan sesuatu yang
penting. Jadi enteng saja menggeser acara semaunya. Tapi, bagi dunia
perbukuan dan penerbitan, peristiwa ini adalah tragedi. Sebuah wajah nyata
pelecehan terhadap para pecinta buku telah dipertontonkan.

Mensikapi hal tersebut, Badan Pengurus Pusat (BPP) Forum Lingkar Pena (FLP)
Pusat yang membawahi 29 wilayah, 130 cabang dengan lebih dari 5000 anggota
di dalam maupun luar negeri, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap
tindakan semena-mena tersebut. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa
pemerintahan SBY lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan
rakyatnya. Juga menegaskan ketidakberpihakan pemerintah dalam memajukan
dunia literasi di Indonesia.

FLP berharap semua pemimpin bangsa baik dari tingkat bawah sampai atas,
benar-benar peduli pada dunia perbukuan, sebab hal ini adalah bagian dari
dunia pendidikan yang ikut menentukan nasib baik Indonesia ke depan.

Jakarta, 28 November 2011

Setiawati Intan Savitri
Ketua Umum FLP Pusat

CP: Humas FLP Pusat (Yons Achmad) 021 9487 1657 atau
redaksiflp(at)gmail.com

Artikel Terkait



13 comments:

  1. Sepakat banget itu mbak...
    Kelihatannya saja bagi pemerintahan sebuah indonesian book fair adalah masalah sepele yang bisa digeser karena orang nomer satu di negara ini sedang punya "gawe".
    Tapi jika punya "gawe" yang terjadi kemarin itu lebih condong pada "gawe"pribadi. saya kira kurang layak jika dilalukan.
    Apalagi yang digeser merupakan agenda yang terkait dunia literasi. Mau dibawa kemana wajah pendidikan negara ini jika agenda penting terkait peningkatan kualitas SDM bangsa justru sedkit kurang atau bahkan kurang dianggap penting bagi pemerintahan....
    Indonesia...Indonesia...tak habis pikir....

    BalasHapus
  2. Sebagai bagian dari dunia perbukuan, ikut merasa prihatin dengan hal ini...

    BalasHapus
  3. Semoga pernikahannya tetap diberkahi Allah, meskipun banyak yang kecewa dengannya, tetapi sebaiknya bapak SBY berhati-hati dengan segala keputusan yang diambil

    BalasHapus
  4. ya sudahlah...mereka yg punya kuasa kok

    BalasHapus
  5. sby dan kroninya kan dipilih ama temen2 flp sendiri (baca pks-tarbiyah), semestinya kalo udah tahu wataknya seperti itu napa gak dikritisi dari dalam. kan ada tuh anggota yang saya hormati dari partai dakwah, partai kita semua, ayoooo jangan hanya jadi duri dalam daging saja. salam

    BalasHapus
  6. SBY abuse the power!!!
    the JCC is public building, how SBY and the cronie es take force that place although there some event in there.

    this a prove our president not praise a public needed, he just care about his "fucking" desire.

    Nafoleon Bonafarte, he scare pen from an authors than soldier's sword. Ok! let kick out SBY from his throne... we (authors) believe that! let prove it...

    BalasHapus
  7. pelajaran buat saya nih.. barangkali kelak saya yang menjadi presiden :D

    BalasHapus
  8. sudahlah, toh SBY sudah mendapatkan hadiah terindah atas pernikahan putra bungsunya: runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara.... hal yang tak mudah dihapus dalam kenangan...

    BalasHapus
  9. @ Rusydi, baru dengar kalau FLP itu PKS-Tarbiyah?

    BalasHapus
  10. @Rusydi @ Anonim: kok arahnya jadi ke soal tarbiyah, PKS dan anggota dewan? Selama ini, FLP dan tarbiyah/ PKS memiliki kesamaan visi, jadi mungkin banyak aktivis FLP yang juga aktivis tarbiyah. Tetapi jangan lantas diidentikkan FLP dg tarbiyah / PKS. Ketemu berapa perkara tuh?
    Dan yang namanya Nahy munkar itu tak bisa didelegasikan. Meskipun anggota dewan mungkin sudah bersuara, sebagai LSM yang konsen di dunia literacy, tentu kritik semacam ini wajib dilontarkan.

    BalasHapus
  11. Jadi IBF diundur? Pdhl kemarin saya kecewa krn nggak bisa datang. Asyik ah.

    BalasHapus
  12. Itulah penguasa, seringkali mengorbankan sesuatu yang penting buat rakyatnya demi kepentingan pribadi atau golongan. atau kita berkhusnudzon aja, mungkin SBY punya pertimbangan lain demi kemaslahatan bersama. mengurus negara itu tidaklah mudah, banyak hal yang harus dipertimbangkan. mungkin dari sisi pengamanan atau hal lainnya. saya yakin beliau tidak bermaksud untuk tidak berpihak dalam memajukan
    dunia literasi Indonesia. buktinya dunia literasi kita cukup diberikan ruang untuk berkembang. berbuat adil itu susahnya minta ampun, saya teringat pas idul adha kemarin, saat jadi panitia pembagian daging kurban yang tentu cakupannya sangat kecil dibanding negara. membagi dengan betul2 adil bukanlah perkara mudah. tunjukkan bahwa anda2 ini adalah para cendekiawan yang bisa bijaksana dan sabar dalam menghadapi persoalan IBF ini. diluar itu tentu ALLAH SWT punya rencana indah yang kita sangat terbatas untuk mengetahuinya.

    BalasHapus