Tak Mengapa (Sebuah Syair)


Untuk seorang kekasih:
Tak mengapa kumenjadi lilin
Ia memang remuk dilahap cahaya
Yang ia pancarkan sendiri
Yang ia bagikan sendiri


Namun jangan kira ia telah hilang bentuk
Tidak, sama sekali tidak

Ia tak hilang
Ia tak musnah

Ia hanya menguar
Menjadi bentuk yang lebih lembut
Karbon yang menelusup ke sela-sela stomata
Menjelmalah ia senyawa
Yang kau hisab tanpa kau tahu
Bahwa aku telah memasukimu
Merasuk dalam detak jantungmu
Mengalir bersama urat nadimu

Aku menyayangmu
Lebih dari kumenyayang diri
Maka, usai kubagikan cahaya
Tak mengapa jika ragaku luluh
Karena dengan cara itulah
Aku menyatu dengan jasadmu
Meski tak kau sadari
Meski tak kau sadari

Aku ingin percintaan kita
Bak udara dengan manusia

: Bak udara dengan manusia

(Kemanfaatan itu mungkin tak dirasa
Baru ketika tiada menggusur ada
Manusia tiba-tiba kehilangan nyawa)

Dan tahukah, wahai engkau?
Jika kau anggap aku penebar cahaya
Aku tak mau menjadi lampu
Yang tak mau mengorbankan diri
Untuk ujud yang lebih lembut
Aku ingin menjadi lilin
Tak mengapa menjadi lilin
Karena keremukan itu
Akan membuatku
Menyatu dengan jasadmu
Tanpa kau tahu

Tanpa kau tahu
Tak mengapa kau tak tahu
Karena cukup bagiku
Yang Maha Tahu

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Tak Mengapa (Sebuah Syair)"

  1. mbak... keren...T_T
    Izin copas ya mbak

    ReplyDelete
  2. assalamualaikum. salam kenal mbak, saya dari FLP Sumut.
    keren banged mbak...
    izin copas juga ya....

    ReplyDelete
  3. kak...salam kenal, fans neh.......copas yak????????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan yang pada mau copas ... :-)jangan lupa cantumin sumbernya yaks?

      Delete
  4. Tak mengapa aku menjadi lilin...asal kamu yg muter.
    :-P hehehe.
    klo aja sy punya kekasih spt mba,hati saya bs melting

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!