Yaaah, Aa Gym Kok Poligami!


Maaf, artikel ini saya tulis beberapa tahun silam, sehingga mungkin konteksnya sudah tidak terlalu pas dengan kondisi saat ini. Tetapi, karena soal poligami saat ini sepertinya kian santer saja dibicarakan—dalam aura yang pro maupun kontra, saya mencoba membuka file ini kembali, mengedit beberapa hal, dan saya upload di blog saya. Selamat membaca!
Suatu hari, seorang kenalan berkata, "Jika suami saya meminta izin untuk menikah lagi, mungkin saya akan mengizinkan. Tetapi, ketika mendengar bahwa Aa Gym menikah lagi, entah mengapa saya merasa kecewa."
Ucapan itu terlantun spontan seiring dengan gencarnya media memberitakan langkah yang ditempuh dai kondang tersebut. Kenalan saya kecewa, sama dengan apa yang dirasakan oleh banyak kaum perempuan. Padahal, sebagai seseorang yang cukup mengerti agama, ia cukup tahu bahwa poligami dalam Islam itu diperbolehkan.
Saya membatin, jika dia saja, yang berprofesi sebagai da'i saja merasakan desiran hati semacam itu, maka saya bisa memaklumi kegeraman para perempuan 'pengagum' ceramah-ceramah Aa Gym. Termasuk ucapan spontan seorang artis top saat diwawancarai wartawan sebuah acara infotainment, "Ingin sekali saya menarik jilbab wanita itu!" Yang dimaksud dengan 'wanita itu' tentu adalah istri kedua Aa Gym, yaitu Elfarini Eridani. Kesarkatisan artis tersebut, mencerminkan kedalaman rasa kecewa yang dialaminya.
Meskipun apa yang dirasakan itu barangkali tidak proporsional, apa yang terlontar secara spontan dari mulut kenalan saya kepada suaminya itu, bukanlah tanpa dasar. Saya melihat dahsyatnya pengaruh ketokohan Aa Gym terhadap masyarakat. Ya, Aa Gym adalah figure teladan. Kejernihan kalimat, kebeningan tutur kata, serta keteduhan tatapannya saat menyampaikan kalimat thayibah, telah membius qalbu sekalian jamaah pengajiannya, baik yang menyimak secara langsung, maupun yang sekadar menikmatinya di depan layar kaca.

Haus Keteladanan
Demikian juga, ekspos yang cukup gegap gempita akan keserasian pasangan Aa Gym-Teh Ninih, telah memunculkan ikon baru pasangan suami istri yang menjadikan Islam sebagai pijakan. Keluarga Aa Gym bagi masyarakat yang haus keteladanan (terutama karena tayangan infotainment yang begitu gencar menyiarkan kasus-kasus perceraian dan perselingkuhan), merupakan 'dongeng dari negeri antah berantah' tersendiri yang menawan. Melihat kemesraan Aa Gym dan Teh Ninih, bagi segenap jiwa yang mendambakan kerhamonisan, adalah hiburan tersendiri. Maka, jika kemudian Aa Gym melakukan suatu hal—yang bagi masyarakat Indonesia yang berkultur monogami merupakan sebuah penodaan terhadap harmoni itu—yakni poligami, efek yang muncul sungguh dahsyat.
Ada beberapa hal yang sebenarnya bagian ajaran Islam, namun masyarakat kita seakan tidak memberi ruang untuk dilakukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai teladan. Selain poligami, memasuki wilayah politik juga menjadi titik genting yang akan menurunkan popularitas seorang ulama. Kita bisa melihat beberapa komentar masyarakat saat Almarhum KH. Zainudin MZ memutuskan mendirikan Partai Bintang Reformasi, sebagian kalangan menilai dengan pandangan miring.
Politik dan poligami, yang merupakan bagian syariat Islam menjadi suatu hal yang tidak populer disebabkan banyaknya contoh miring para pelakunya. Jika poligami diidentikkan sebagai sikap 'mata keranjang', maka berpolitik dinilai sebagai sikap haus kekuasaan. Sikap Aa Gym yang memutuskan untuk tidak berpolitik praktis, menuai pujian dari berbagai kalangan, dan diyakini menjadi bagian dari alasan, mengapa Aa Gym menjadi begitu populer di berbagai kalangan masyarakat. Namun untuk masalah poligami, ternyata Aa Gym gagal untuk tetap berdiri di atas sanjungan-sanjungan tersebut.

Mari Berprasangka Positif !
Kembali ke reaksi masyarakat tentang poligami, seorang kenalan pernah menghujat Aa dengan emosi, "saya benar-benar gething sama Aa!" Gething dalam kosakata Jawa tidak sekadar dimaknai dengan benci. Gething adalah benci yang disertai rasa dongkol yang mendalam.
Apakah kenalan saya itu lebih baik kehidupan pernikahannya dibanding Aa Gym? Tidak! Justru karena kenalan saya tadi berkali-kali merasakan kekecewaan dalam berumah tangga, antara lain dikhianati suami dan pernah bercerai, maka ia bisa bersikap semacam itu.
Lepas dari itu, kita tentu harus berprasangka positif, bahwa poligami yang dilakukan Aa, tentu telah diputuskan dengan berbagai pertimbangan matang. Ucapan seorang ustadz kenalan saya, memayungkan sebuah pencerahan di tengah kelamnya emosi keperempuanan saya. Menurut beliau, apa yang dilakukan oleh Aa, adalah sebuah pembelajaran yang indah, bahwa kita tidak boleh mengharamkan sesuatu yang dihalalkan dalam Islam, apalagi atas dasar penghormatan terhadap tradisi.
Lantas, saya teringat pada kisah Rasulullah SAW ketika menikahi Zainab binti Jahsy. Zainab adalah mantan istri anak angkat Rasulullah, yakni Zaid bin Haritsah. Berdasarkan tradisi yang berlaku pada masyarakat saat itu (dan saat ini juga masih berlaku), menikahi mantan istri anak angkat jelas menyimpang dari norma yang berlaku. Namun mengapa Rasul justru tetap menikahi Zainab meskipun resikonya barangkali ia akan dicela masyarakat? Karena beliau ingin menegaskan, bahwa kita dilarang mengharamkan sesuatu yang halal, sekaligus beliau ingin menerapkan ketentuan bahwa dalam Islam, anak angkat bukanlah hubungan nasab. Istri anak angkat, bukanlah mahram yang haram dinikahi.[1]
Mungkin terlalu berlebihan jika membandingkan antara Aa Gym dengan Rasulullah, karena Aa Gym hanya manusia biasa, sementara Rasulullah adalah manusia yang dihindarkan dari dosa (maksum). Akan tetapi, terobosan yang dilakukan oleh Aa, adalah sesuatu yang patut kita hargai. Hanya saja, karena Aa Gym adalah seorang public figure, mungkin perlu sebuah upaya pencerdasan di kalangan masyarakat, agar apa yang beliau lakukan tidak lantas ditiru mentah-mentah oleh para lelaki. Poligami Aa Gym tidak boleh menjadi sebuah legitimasi, "Aa saja poligami, mengapa saya tidak?!"

Poligami = Emergency Door?
Jika kita melihat lebih dalam, meskipun poligami diperbolehkan dalam Islam, namun posisinya hanya sebagai emergency door. Ada syarat berat yang menyertai, yakni adil. Untuk bisa berlaku adil, seseorang harus mampu. Kata adil sendiri, sangat sulit didefinisikan, apalagi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun para ulama membuat batasan, bahwa adil yang dimaksud adalah dalam hal-hal yang bersifat lahiriyah, misalnya rumah, nafkah, penggiliran waktu, pakaian, biaya sekolah anak-anak dan sebagainya. Sementara untuk masalah kecenderungan hati, karena begitu sulit untuk dibagi, ulama sepakat untuk tidak memasukkan dalam persyaratan itu. Namun, pada kenyataannya, begitu sulit memisahkan antara keadilan lahiriyah dengan kecenderungan hati. Biasanya, kita akan lebih mengistimewakan orang yang kita cintai bukan?
Namun kecenderungan hati sendiri juga menduduki posisi yang istimewa. Buktinya, sebelum Khadijah meninggal, Rasul tidak berpoligami. Kecintaan Rasul kepada Khadijah yang 15 tahun lebih tua itu teramat besar. Bahkan ketika Khadijah telah meninggal pun, kecintaan itu tidak luntur, sehingga hal tersebut menyebabkan kecemburuan Aisyah. Demikian juga, ketika Abu Bakar dan Umar mencoba melamar Fathimah untuk menjadi istrinya, Rasulullah tidak mengizinkan. Apakah Rasul ragu bahwa 2 sahabatnya yang utama itu tidak bisa bersikap adil, karena mereka telah memiliki istri yang lain? Tentu tidak. Rasulullah yang begitu sayang kepada Fathimah lebih menginginkan seorang pemuda yang masih single untuk dijadikan pasangan hidup puteri kesayangannya itu. Pilihan itu pun jatuh kepada Ali bin Abi Thalib. Dan penghormatan Ali kepada Fathimah pun diimplementasikan, antara lain dengan tidak memadunya. Ali baru berpoligami setelah Fathimah meninggal.
Masya Allah, tentu saya tidak sedang 'menuduh' Aa Gym tidak mengistimewakan Teh Ninih sebagaimana Rasul mengistimewakan Bunda Khadijah atau Ali mengistimewakan Fathimah. Toh, banyak para perempuan mulia semacam Aisyah, Hafshah dan sebagainya juga menjadi obyek poligami. Lepas dari itu, Aa Gym berpoligami karena ia mampu secara, dan kita meyakini beliau bisa bersikap adil terhadap keduanya.
Lantas, bagaimana jika suami-suami kita ingin meniru langkah Aa Gym? Kita harus melihat dahulu, apakah suami kita mampu dan bisa bersikap adil? Kondisi finansial, keadaan fisik, bekal ilmu agama, serta sikap yang selama ini mereka tunjukan, bisa menjadi pertimbangan kita saat mengizinkan dia menikah, meskipun secara fikih tanpa izin istri-istri pun, poligami tetap syah dilakukan. Jika suami kita memang cukup kaya, fisik kuat, bertanggungjawab, shaleh, mengerti ilmu agama dan kita yakini bisa bersikap adil, mengapa kita tidak mengizinkannya?
Mungkin kita bisa mengatakan kepada suami kita, "Jika Aa Gym menikah lagi, tentu saya setuju. Namun jika Abang ingin mengikuti jejaknya, tolonglah Abiang memverifikasi kemampuan yang Abang miliki."
Psst, ini bukan sekadar retorika lho. Bukankah suami kita adalah orang yang paling dekat dengan kita? Orang yang tentunya sangat kita sayangi dan kita hormati? Tentu kita tak ingin beliau terlempar ke neraka karena bersikap tidak adil, bukan? Al Qur'an menyuruh kita menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka, bukan?
Yang jelas, meskipun pada prinsipnya saya mengizinkan suami berpoligami, asal bisa memenuhi syarat-syaratnya, saya akan berusaha agar suami saya cukup puas hanya dengan beristri satu, yakni saya sendiri. Kita coba, yuk!


[1] Silahkan dicek tafsir Ibnu Katsir QS Al-Azhab: 4-5

Subscribe to receive free email updates:

15 Responses to "Yaaah, Aa Gym Kok Poligami!"

  1. Hihii, retorika yang diakhir itu bagus...,
    tapi siapapun dia, tetap saja begitu mengidolakan sosok Khadijah dalam hal ini, lalu Fatimah..., padahal Fatimah adalah contoh 1:2 dari putri Rasulullah SAW dalam hal poligami.

    ReplyDelete
  2. 'KALAULAH LEMBUTNYA HATI SEORANG WANITA DAPAT MENYELARASKAN RUMAH TANGGA......TENTUNYA IA DAPAT MEMAHAMI PERASAAN SESAMA KAUMNYA.............OKE

    ReplyDelete
  3. Sayangnya para dai dan ulama yang gencar mempromosikan poligami sering 'lupa' akan resiko hukuman bagi para pelaku poligami yang tidak adil:

    Sabda Rasulullah SAW:

    "Barangsiapa mempunyai isteri dua, tetapi dia lebih cenderung kepada yang satu, maka nanti di hari kiamat dia akan datang menyeret salah satu lambungnya dalam keadaan jatuh atau miring."

    (Riwayat Ahlulsunan, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

    ReplyDelete
  4. @Anonim, sahihkah hadist tersebut?

    ReplyDelete
  5. yang nulis sepertinya setuju pada poligami tapi hakikatnya dia tidak setuju..

    ReplyDelete
  6. @Anonim: setuju jika begini ... tidak setuju jika begitu. Mari kita senantiasa memandang dari dua sudut pandang :-)

    ReplyDelete
  7. Sebagai istri dan wanita, saya secara pribadi tidak setuju dgn poligami. Walau ajaran Islam memperbolehkan tetapi tidak diharuskan/diwajibkan, dalam hal ini bukan berarti kita harus mengikutinya dan menjadi alasan utk melakukan poligami. Apalagi dgn dalih bilang mengharamkan yg halal dst.... nabi melakukan hal tsb pasti ada alasan mulia pada jamannya tsb. Banyak pelaku poligami jaman sekarang selalu beralasan dlm melakukan poligami tsb memakai alasan ikut sunah nabi dan ikut mengikuti ajaran agama, padahal kita tahu kenapa dan alasan nabi menikahi para wanita2 yg menjadi istri beliau. Apakah itu para pelaku poligami mau menikahi janda2 tua yg banyak anaknya? maaf aa Gym sendiri menikah dgn wanita yg lebih muda dari istri pertamanya. Silahkan diterka sendiri. Apakah dgn alasan daripada berjinah mendingan menikah saja? Oooh please.... jangan memakai alasan agama atau mensiasati agama utk melakukan kepuasan pribadi.

    Bagaimanapun juga, mana ada wanita yg mau diduakan oleh suaminya. Apalagi kalau kita cinta suami kita dan suami cinta kita. Kalau suami cinta istri, tentunya mereka tidak akan memadukan istrinya. Seperti penulis ceritakan diatas, bahwa nabipun tidak memadukan siti khadijah karena kecintaan beliau kepadanya. So kalau para suami cinta kpd istri, mereka tidak akan memadukan mereka dgn apapun alasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Faktanya, ada lho wanita yang ikhlas dan rela dimadu, karena ada hal-hal yang membuat dia merasa begitu. Wallahu a'lam. Kalau bicara perasaan, memang subyektif sekali sifatnya. Saya menghargai pendapat Anda, tetapi juga tidak setuju seluruhnya (tetapi ada yang setuju, lho) hehe

      Delete
  8. Replies
    1. Bukan berarti aku siap dimadu, kalau dibelikan madu sih, mauuuh :-)

      Delete
  9. hai para kaum hawa siapakah dari anda2 yang mau saya poligami.call me.he1000x justkidding.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya istri pertama aja belum dapat, ya... hehe

      Delete
  10. poligamikah nikah sirikah yang jelas itu pelembutan kata untuk pemuasan nafsu syahwat belaka bro...heran manusia....mengapa dulu Allah SWT tidak menciptakan 1 adam dengan 100 hawa saja ya? mengapa dia hanya mencitpkan sepasang saja? ada yang bisa bantu bro?

    ReplyDelete
  11. Setelah membaca tulisan diatas, mungkin masih ada yang perlu ditambahkan, seperti bahwa poligami dimungkinkan berdasarkan kondisi daerah sekitar, misalnya banyak perempuan / janda yang tidak memiliki nafkah (butuh biaya hidup), karena peperangan, (ditinggal mati suami, karena gugur di medan perang), mengangkat martabat perempuan itu sendiri (misalnya si perempuan terpaksa harus bekerja di tempat yang tidak layak demi memenuhi kebutuhan hidupnya), dll, (intinya tergantung kondisi daerah tersebut).

    Pada prinsipnya hampir sebagian perempuan adalah memiliki sifat dasar yang sama, yaitu egois, tidak mau "diduakan / di bagi rasa cintanya", maka pastinya tidak pernah mau untuk mereka di "madu"...:)

    Wallahua'lam

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!