Ke Seroja Aku Kan Kembali ...

Beberapa waktu terakhir ini, ada yang menyedot perhatian saya. Seroja. Apa yang terbayang di benak Anda saat saya mengucap kata Seroja? Nama sebuah operasi militer di Timur Tengah? Atau nama sebuah tanaman air dengan bunga berwarna biru mirip teratai? Ah, Anda tak salah. Tetapi, Seroja yang saya maksud di sini bukan seroja itu.

Seroja yang ingin saya share dengan Anda adalah sebuah cuplikan dari semesta mimpi besar saya. Inilah yang pernah menyita waktu saya cukup lama di sekitar pertengahan tahun 2000-an. Ada sebuah masa, ketika hidup saya tertuju pada dua hal. Kerja, lantas Seroja. Berangkat kerja dari aktivitas Seroja, dan pulang kerja kembali ke aktivitas Seroja. Hal yang memungkinkan, karena saat itu saya masih berstatus lajang. Dan perantauan, pula! Lambat laun, setelah menikah dan diamanahi anak-anak, frekuensi itu melambat, dan kian pudar, bahkan sampai pada titik nyaris vakum. Nyaris? Ya. Karena saya tidak berani menyebut benar-benar vakum. Sebagai bagian dari semesta mimpi besar, Seroja senantiasa berkelindan di dalam benak saya.
Apa itu Seroja? Ia adalah nama sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan anak pinggiran. Nama lengkapnya, Lembaga Pemberdayaan dan Perempuan Anak Pinggiran (LPPAP) Seroja. Sejak tahun 2002, embrio LPPAP Seroja ini telah disuburkan oleh nutrisi dari pemikiran para pendirinya. Retno HP (yang masih istiqomah dan sekarang menjadi ketuanya), Wahyuni Panca Wardani, Dewi Zulaikhoh (almarhumah), Widi dan Estining Pamungkas. Juga ada nama-nama lain, sederetan panjang, yang jika disebutkan, catatan ini nantinya akan menjadi daftar panjang begitu banyak nama. Jadi, maaf, saya sebutkan tim intinya saja.

Menyuburkan embrio, untuk kemudian berkembang dan lahir sebagai jabang bayi, jika kami kenang, rasa-rasanya begitu heroik. Masih teringat dengan Retno, yang saat itu menjadi seorang guru di sebuah SDIT, yang gajinya ludes padahal baru tiga hari menerima slipnya. Juga teringat betapa para pemilik motor: Dewi dan Esti alias Engki, rela menyumbangkan benda itu untuk wara-wiri, hilir-mudik, bolak-balik, dari indekos ke lokasi binaan, para anak jalanan di sektor-sektor yang tersebar. Saat itu, kami memiliki beberapa sektor: Terminal Tirtonadi, Panggung, Nayu, dan Banyudono. Jumlah binaan mencapai hampir 300-an. Sebuah jumlah yang besar, jika dibandingkan dengan relawan yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Masa-masa itu, sungguh menggairahkan. Energi muda kami yang terkuras, seakan tak kami rasakan. Kami bergerak di jalanan, mengadvokasi anak-anak jalanan, mencari keringanan biaya pengobatan di rumah sakit (saat itu bangsal kelas 3 belum digratiskan), mencarikan sekolah yang bersedia menampung pendidikan mereka, hingga bersengketa dengan agen trafikking yang hendak menjual anak-anak jalanan itu ke luar jawa untuk dijadikan sebagai penjaja seks di bawah umur. Na'udzubillah.

Dan, masa yang membutuhkan totalitas itu (sampai-sampai saya bersedia mengundurkan diri dari jabatan sebagai manager di sebuah penerbit), tak terasa memudar bersama waktu. Betapa idealisme itu memang butuh pembuktian. Saya terbentur pada berbagai pilihan, dan saya akhirnya memilih terjun di dunia kepenulisan dan perbukuan. Saya 'secara tak bertanggung jawab', meninggalkan Seroja. Dan, aksi saya ini, ternyata diikuti oleh teman-teman yang lain, sehingga hanya Retno yang tertinggal sendirian.

Kabar Duka
Begitulah, saya beberapa kali memantau Seroja dari kejauhan. Senang rasanya, karena Retno, dengan ketekunannya, terus mengembangkan LSM itu. Bahkan, akhirnya Seroja mendapatkan berbagai pendanaan, yang membuat mampu mengontrak sebuah kantor yang cukup besar, dan bahkan mendapatkan bantuan mobil. Meskipun statusnya LSM, Seroja tak ingin hanya bergerak di ranah wacana. Mereka mendirikan sebuah PAUD yang spesifik melayani anak-anak jalanan, dan beberapa kaum dhuafa yang tinggal di sekitar lokasi kantor. Mereka juga mendirikan LPK (Lembaga Pelatihan Kerja), koperasi, usaha laundry, dan sebagainya.
Ingin rasanya kaki bertolak menuju tempat itu, dan kembali menceburkan diri dalam dunia itu. Tetapi, rasa-rasanya saya memang telah tertahan pada sebuah dunia yang begitu banyak menyita waktu. Indiva, FLP, keluarga ... belum berjubel aktivitas lain, seakan menjadi rantai superkuat yang membelenggu kakiku.
Sampai datang berita duka itu. Dewi Zulaikhoh, salah seorang pendiri Seroja, meninggal karena kecelakaan. Aku terpana. Dewi, sahabatku, meninggal? Ada yang berputar di benakku. Masa-masa 'romantis' saya dengan tim pendiri Seroja, berkelindan di layar batinku. Memanggil-manggilku, mendesak-desakku. 

Kembali Ke Seroja
Namun, aku belum juga berhasil mematahkan rantai yang membelenggu kakiku. Sampai suatu hari, Retno mengirimiku SMS. "Mau nggak, membantu Seroja membikin majalah."

Majalah? Seroja akan membuat majalah? Ini sungguh sebuah titik singgung, sebuah irisan yang sangat lebar dengan dunia yang kutekuni saat ini. Tanpa pikir panjang, aku membalas SMS-nya. Mengiyakan.

Maka, hari Rabu, 22 Februari kemarin, jam 9 pagi, aku memasuki markas Seroja, dan disambut dengan hangat oleh wajah-wajah yang jarang kujumpai, bahkan beberapa sama sekali belum pernah bersua. Akan tetapi, semangat keserojaan mereka, semangat relawan yang idealis sangat kukenali. Kujabat erat tangan mereka erat-erat, kecuali tentu saja, dua lelaki yang ada di situ. Kukatakan kepada mereka, bahwa aku merasa salut, jika ada lelaki yang bersedia beraktivitas di dunia perempuan dan anak-anak.

Pembicaraan tentang majalah dimulai. Ya, baru sebatas pembicaraan. Akan tetapi, aku merasa, aku telah kembali ke dunia ini. Dan, aku bertekad untuk tak meninggalkannya lagi, meskipun barangkali, aku tak akan sefokus dahulu, saat pertama-tama mengasup nutrisi untuk membesarkan embrio Seroja. Semampuku saja. Karena, tentu saja, aku telah berbeda dengan diriku yang dahulu.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Ke Seroja Aku Kan Kembali ..."

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!