Kejutan Untuk Ifan


Malam itu, aku sedang menidurkan Hanifan (17 bulan), anakku yang bungsu. Sementara, kedua anakku yang lain, Anis (7th) dan Rama (5th), sibuk berkarya di ruang tengah. Entah apa yang tengah mereka kerjakan. Mereka menutup pintu kamar, dan berpesan kepadaku.
“Jangan keluar dulu, ya Mi!” kata Anis, sebelum menutup pintu kamarku.
“Kenapa?” tanyaku, heran.
“Ada kejutan buat Ifan,” sahut Rama.
“Kejutan apa?”
“Pokoknya!” Rama, dengan sepasang matanya yang selalu bersinar cerdik, tersenyum misterius.

Okelah, anak-anakku yang baik. Akhirnya aku biarkan mereka menutup pintu. Dan, aku pun mulai mencoba menidurkan Ifan, nama panggilan si bungsu.
Akan tetapi, si bungsu yang mendengar suara berisik kakaknya, tak juga mau tidur. Bahkan, ia kemudian melorot, menuruni bed setinggi kira-kira 75 cm dengan lincah. Lantas ia menggedor-gedor pintu, minta agar pintu kamar dibuka. Maklum, ia tak bisa membuka sendiri, karena tinggi tubuhnya masih terlalu mungil untuk bisa menggapai pegangan pintu. Bisa ditebak, Ifan ingin bergabung bersama kakak-kakaknya.
“Jangan dulu, Fan!” teriak Rama, dari luar.
“Iya, tunggu kejutannya,” timpal Anis.
“Kejutan apa, sih?” tanyaku lagi, penasaran.
“Ada, deh!”
“Tat … taaa … Ammmaaaa! Ammaaaa!” teriak Ifan, sambil terus menggedor-gedor pintu. Satu-satunya nama yang bisa diucapkan si bungsu itu memang baru Rama. Kepadaku sendiri, baru sekedar panggilan ‘Miiiih!’
“Cepetan, bikin kejutannya. Nih adik pengin keluar.”
“Sebentar!”
Ifan mulai ribut. Karena ingin agar para kakak itu ‘sempurna’ dalam memberikan kejutan, aku mencoba mengalihkan perhatian Ifan. Kuajak ia bermain box tempat pakaian. Setelah ia asyik bermain, aku tinggalkan ia sejenak untuk membaca buku.
Tiba-tiba …
“Waaaaa!!!”
Terdengar jeritan disusul tangisan yang keras. Ifan terjatuh, bibirnya membentur lantai. Pecah. Darah berceceran cukup deras. Cepat aku meraih selembar kain bersih, kulap darah yang terus merembes. Kain putih itu berubah warna menjadi merah.
Anis dan Rama menghambur ke kamar.
“Ya Allah, Ifan!” Anis memeluk Ifan, demikian pula Rama.
“Biar Ifan digendong Umi dulu, ya!” ujarku, sambil mengangkat tubuh Ifan. Lalu membawanya ke tempat tidur. Memberinya ASI. Hanya sebentar ia menangis, lantas Ifan pun terlelap.
Kudengar, Anis dan Rama sibuk meneruskan pekerjaannya. Membuat ‘kejutan’ buat Ifan.
Biasa, ibu-ibu kalau menidurkan anak, 90 persen ikutan tertidur. Demikian pula aku. Baru sekitar jam 10 malam aku terbangun, dan mendapatkan suasana telah senyap. Anis dan Rama sudah tertidur, ditemani ayahnya.
Mendadak, aku teringat dengan ‘kejutan’ yang dibuat oleh Anis dan Rama. Pelan aku bangkit, berjalan ke ruang tengah, dan menyalakan lampu.
Aku terpana melihat ‘kejutan’ itu. Sebuah ‘miniatur’ pesawat berbahan kardus yang digunting lalu dibentuk kerucut, dan dilekatkan dengan lakban. Ada dua buah sayap di kanan dan kiri, yang terkulai karena lakbannya kurang kuat.
Di badan ‘pesawat’ itu, terdapat tempelan kertas putih dengan tulisan tangan Anis yang rapi.
Untuk Hanifan, adik tersayang.
Hanifan, kasihan sekali kamu.
Ini kakak hadiahkan LION Airplane buatmu.
Cepat sembuh, ya?
Dari kakak-kakakmu
Syahidah D. Nissa
Ramadhan Faidlurahman
Rasa haru menyeruak. Bukan kali ini mereka berdua menunjukkan kasih sayang nan tulus antar sesama saudara. Ya, aku harus bersyukur. Jarang sekali anak-anakku bertengkar, berebut, ataupun saling menyakiti. Tampaknya, rasa sayang yang ada di hati, melebihi keinginan untuk memiliki sesuatu.
Sering ketika aku menjemput Anis, dan kulihat di tasnya ada makanan. Biasa, snack jatah dari sekolah. Ketika kutanya, mengapa tak dihabiskan? Ia mengatakan, ini untuk Rama. Begitu pula sebaliknya. Ketika Rama bersamaku, lantas membeli sesuatu di warung, pasti Rama membeli dua, satu untuk Mbak Anis, katanya. Itu ketika Ifan belum lahir. Tatkala si bungsu hadir di dunia, baik Rama dan Anis, akan membagi segala sesuatu yang mereka miliki menjadi tiga. Ya, ada kalanya mereka juga berebut, tetapi frekuensinya termasuk jarang.
Sering juga ketika sore, Anis dan Rama mengajak Ifan jalan-jalan di jalanan depan rumah, yang Alhamdulillah jarang dilewati kendaraan. Ifan berada di tengah, diapit dua kakaknya, dengan tangan tergandeng. Mereka berjalan dengan tertawa-tawa.
Makanya, saya sering heran jika melihat kakak adik yang tak henti-hentinya bertengkar.
Resep saya sederhana saja. Limpahi anak-anak dengan kasih sayang yang cukup, serta berkualitas. Peluklah mereka, bisiki mereka dengan kata-kata yang indah. Beri mereka senyum, ajari mereka menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih besar.
Sebab, kata Dorothy Law … 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesal diri

Jika anak dibesarkan dengan motivasi, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan kekasih dalam kehidupannya..


Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "Kejutan Untuk Ifan"

  1. Its nice story. Dik Ifan cepat sembuh ya?
    http://www.anjarbaik.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. terharuu...
    jadi inget adekku waktu masih kecil dulu. dia pernah terbentur ranjang kayu, bibirnya kegigit, jadi deh berlumuran darah. innalillahii..
    Ifan cepet sembuh yaa...

    ReplyDelete
  3. @ Anjar: alhamdulillah, sudah baikan, meski sisa jontornya masih terlihat
    @ Syifa: Amiin... makasih doanya, salam buat adiknya yaa...

    ReplyDelete
  4. ifan hmpir seumuran dgn syauqi anak sy, bututh perhatian ekstra klw lagi main. maukah mbak afifah berbagi tips mendidik anak seusia itu agar bisa diarahkan?

    ReplyDelete
  5. ifan hampir seumuran dgn syauqi anak sy. sm aktifnya n butuh perhatian khusus apalgi klw lagi main. ada tipskah mbak agar anak bisa lebih diarahkan dr umur segitu?

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!