Penulis yang 'Melahirkan Bayi Prematur'

Kiranya banyak yang salah paham dengan tulisan yang saya posting tempo hari, yang berjudul Bayi Rupawan Atau Kotoran. Ada beberapa yang menanyakan, "Mbak, tulisan saya masih kurang bagus, apakah itu berarti saya sudah menulis kotoran?"
 
Ada juga yang menulis, "Wah, saya jadi tersindir, karena saya sering memposting curhat-curhat saya. Takutnya itu berarti saya telah menulis kotoran."
 
Wah, saya tak memiliki kapasitas untuk menilai sebuah karya itu bagus atau tidak. Meskipun telah sekitar 10 tahun saya bekerja di penerbit, di bagian meng-acc naskah terbit pula, saya juga masih berlatih, sama seperti teman-teman yang lain. Karya-karya saya, juga masih perlu perbaikan di sana-sini.
 
Tetapi ingat, karya yang mungkin masih belepotan di sana-sini itu, sama sekali bukan kotoran, jika memang bukan kotoran yang hendak kita sampaikan. Kotoran adalah sesuatu yang penuh dengan bakteri pembusuk. Kotoran itu, tentu akan membuat orang sakit perut, mulas, muntah, dan sama sekali bukan sesuatu yang dianjurkan untuk diasup. Hanya Al-Jalalah (hewan pemakan kotoran) saja yang mau makan kotoran. Bahkan, daging Al-Jalalah ini, haram dimakan lho, dagingnya. Nah, masih ada yang suka makan lele goreng yang dibesarkan di kolam yang ingroup dengan WC?
 
Maka, dikemas seperti apapun, kotoran ya tetap kotoran. Mau yang nulis sastrawan kelas paus, mau yang nerbitin penerbit ternama, mau dipuja-puji setinggi langit, bagi saya, kotoran tetap jangan ditelanlah! Kalau sekadar mengamati cara pengemasannya, sih, oke-oke saja. Tetapi, hati-hati, jangan sampai kita lantas tergerak untuk menuliskan kotoran.
 
Adapun kata-kata yang kita tuliskan, dan itu adalah sebuah kebaikan, insya Allah bukanlah kotoran. Lebih tepatnya, ia adalah janin yang mengalami keguguran. Ada embrio yang gugur sebelum bisa disebut sebagai makhluk, karena belum 'ditiupkan' ruh kepadanya. Ada yang gugur ketika sudah ditiupkan ruh. Ada yang lahir dan hidup, tetapi tidak cukup bulan, atau sering kita sebut prematur.
 
Nah, karya-karya berupa kebaikan yang telah dilepas, tetapi sebenarnya masih bisa diperbaiki di sana-sini, dipoles sana-sini, dipertajam, diperkuat referensinya, bisa kita sebut karya yang terlahir dari proses kehamilan. Hanya saja, mungkin ia gugur atau lahir sebelum waktunya. Beberapa karya saya, barangkali juga masih banyak yang sebenarnya lahir prematur.

Bagaimana agar karya kita 'cukup bulan' untuk lahir? Jaga 'kehamilan' kita, agar kandungan kita cukup kuat. Asup dengan nutrisi yang baik. Jangan menyantap makanan-makanan yang memicu keguguran. Jangan loncat-loncat, jangan pencak silat. Hehe,malah ngelantur.

Jangan pula bersedia jika ada yang meminta kita 'membedah cesar' karya kita itu, dengan alasan tuntutan pasar. Biarkan ia hidup di dalam kandungan, sampai cukup umur untuk keluar. Nanti, jika 'bayi' kita memang telah 'matang', ia akan keluar dengan sendirinya.

Anda memiliki semangat menyebarkan kebaikan, dan ingin menebarkan dalam bentuk karya? Jangan biarkan embrio karya kita gugur sebelum waktunya.

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Penulis yang 'Melahirkan Bayi Prematur'"

  1. kunjungan gan .,.
    bagi" motivasi
    kegagalan bukanlah akhir .,.
    kesuksesan juga bukan akhir .,.
    tapi proses merupakan cerminan akhir .,.
    di tunggu kunjungan blik.na gan.,

    ReplyDelete
  2. kunjungan gan .,.
    bagi" motivasi
    kegagalan bukanlah akhir .,.
    kesuksesan juga bukan akhir .,.
    tapi proses merupakan cerminan akhir .,.
    di tunggu kunjungan blik.na gan.,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih atas kunjungannya... insyaAllah nanti kunjungan balik

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!